Moment Versus Memory

Waktu, adalah properti keempat yang melengkapi kehidupan tiga dimensi.

Dimensi pertama adalah informasi yang diawali dengan kehendak. Dimensi kedua adalah ruang sebagai konsekuensi dari informasi. Dimensi ketiga adalah energi yang jika memadat disebut materi. Dimensi keempat adalah waktu yang mengartikan pergeseran kejadian.

Ilmuwan menyatakan bahwa waktu tidak lebih dan tidak kurang hanyalah sekedar persepsi. Persepsi itu adalah hasil dari bekerjanya jam internal manusia yang berlokasi di beberapa tempat di dalam otaknya.

Persepsi yang paling lumrah pada diri manusia adalah "waktu sebagai garis lurus", sehingga ada masa lalu, ada masa depan, dan ada sekarang.

Mengapa ada ada anugerah persepsi "waktu sebagai garis lurus" dan manusia bersama-sama menyepakatinya?

Semua itu adalah tentang "sabar" dan "syukur".

Sabar mendefinisikan tujuan di masa depan, tanpa sabar setiap tujuan kehilangan maknanya.

Syukur mendefinisikan titik berangkat saat ini, tanpa syukur setiap "sekarang" kehilangan nilainya.

Setiap jiwa sedang dalam penantian, setiap tindakan selayaknya adalah cerminan sabar dan syukur.

Value the most the moment, before it slipped away and becomes just a memory.