Motivasi Keras

MOTIVASI KERAS
Advanced Personal Development

"Manusia tidak bisa membentuk diri tanpa menderita, sebab dirinya yang memahat dan dirinya pula yang dipahat."
- Alexis Carrel

Bosan dengan yang manis-manis dan lemah-lembut? Grup ini untuk anda yang ingin lebih keras pada diri sendiri. Embrace the hard truths.

Catatan Penting:
No invitation dan dimohon untuk tidak melakukan add member tanpa persetujuan pihak yang terkait. 






Moment Versus Memory

Waktu, adalah properti keempat yang melengkapi kehidupan tiga dimensi.

Dimensi pertama adalah informasi yang diawali dengan kehendak. Dimensi kedua adalah ruang sebagai konsekuensi dari informasi. Dimensi ketiga adalah energi yang jika memadat disebut materi. Dimensi keempat adalah waktu yang mengartikan pergeseran kejadian.

Ilmuwan menyatakan bahwa waktu tidak lebih dan tidak kurang hanyalah sekedar persepsi. Persepsi itu adalah hasil dari bekerjanya jam internal manusia yang berlokasi di beberapa tempat di dalam otaknya.

Persepsi yang paling lumrah pada diri manusia adalah "waktu sebagai garis lurus", sehingga ada masa lalu, ada masa depan, dan ada sekarang.

Mengapa ada ada anugerah persepsi "waktu sebagai garis lurus" dan manusia bersama-sama menyepakatinya?

Semua itu adalah tentang "sabar" dan "syukur".

Sabar mendefinisikan tujuan di masa depan, tanpa sabar setiap tujuan kehilangan maknanya.

Syukur mendefinisikan titik berangkat saat ini, tanpa syukur setiap "sekarang" kehilangan nilainya.

Setiap jiwa sedang dalam penantian, setiap tindakan selayaknya adalah cerminan sabar dan syukur.

Value the most the moment, before it slipped away and becomes just a memory.

Bahagia Tanpa Syarat

"Bahagia tanpa syarat." - Teeeet !!!

Bahagia tanpa syarat itu punya syarat dan syaratnya adalah bersyukur tanpa syarat.

"Bersyukur tanpa syarat." - Teeet !!!

Syarat bersyukur adalah "ada yang disyukuri". Apa yang paling layak disyukuri adalah keberadaan. Apa yang paling pantas disyukuri adalah kehidupan.

Apapun yang mensyaratkan tanpa syarat adalah tentang "being" dan bukan sekadar "doing".

Doing is a skill, being is an identity.
Be, not just do.

Bukan cuman, "i am grateful for..."
Tapi, "i am grateful."

Ting-tung!

Apa yang Engkau Cari?

Status 1

Aku belajar menyelami dunia tanpa rasa. Hingga aku menghargai rasa bahkan yang tak enak atau tidak nyaman. Lalu aku berlatih menjaga rasa yang aku inginkan. Kemudian, aku kembali ke dunia nyata menyelaraskan rasa pilihanku dengan tindakan.

Status 2

Diperlakukannya emosi seperti sungai. Airnya dia jaga tetap jernih. Penghambat dan penyumbat aliran dia singkirkan. Setiap saat dia bisa merasakan kesegaran.

Status 3

Di status ketiga, ia datang padaku dan berkata, "Aku ikuti dua statusmu sebelum ini. Aku sudah jauh lebih tenang dan hidupku makin nyaman. Tapi, mengapa ibadahku menjadi berkurang dan aku makin sedikit mengingat Tuhan?" Aku berkata padanya, "Sadarilah, bahwa ibadah dan ingatmu selama ini adalah demi mencari nyaman. Engkau masih berburu surga. Ketahuilah, engkau telah tergoda alam malaikat, padahal engkau adalah manusia. Kembalilah, teruskan perjalananmu dengan tiga status ini. Jaga dan tingkatkan ibadah serta ingatmu. Misimu sekarang adalah mencari ridho."

Mata Uang Untuk Kebahagiaan

No wonder people can't buy happiness.

Turns out that happiness is the currency.

Bersyukur maka nikmat ditambah.

Tumbuh dan Membesar

Tumbuh dan membesar adalah kerelaan menyaksikan berlalunya berbagai hal yang tak lagi sesuai dengan kapasitas kita.

Ketika beranjak remaja, kita lepas segala mainan masa kecil kita. Kita mungkin tidak membuangnya, tapi kita simpan rapi di kotak-kotak kenangan kita.

Kita melanjutkan perjalanan demi makin bahagia dengan mempelajari ilmu produktifitas kebahagiaan, yaitu seberapa minim yang kita perlukan untuk makin bahagia.

Lalu kita menemukan, bahwa "nilai" adalah kekayaan yang sejati, sebab nilai selalu bisa kita ciptakan dalam segala episode kehidupan.

Dan kita kemudian menemukan juga, bahwa banyak hal yang sering menjadi tempat menitipkan nilai adalah bukan nilai yang sebenarnya.

Seperti pohon, tumbuh dan membesar itu dari dalam.

Kisah Empat Dioda

Kisah Empat Dioda

Tak mudah puas itu hanya diterapkan untuk tindakan. Puas hati itu harus disegerakan.

Hidup ini naik dan turun, yang artinya hidup ini tetap bergerak dan berjalan, diinginkan atau tidak diinginkan.

Manusia itu sulit puas, bahkan terhadap ketidaknyamanan. Ketika pintu nyaman dibukakan dengan meredanya berbagai ketegangan, banyak yang justru tidak segera memasuki dan menikmatinya. Alasannya sederhana, "belum puas".

Segera puas dengan ketidaknyamanan hati, hanya bisa dilatih dengan membiasakan berpuas hati saat merasakan kenyamanan.

Uniknya, puas hati saat nyaman justru memperpanjang kenyamanan.

Itu, seperti cara kerja konverter energi listrik yang mengkonversi arus bolak-balik (AC) menjadi arus searah (DC).

Siapa yang bisa mengubah arus bolak-balik menjadi arus searah akan mengalami tegangan rendah.

Hidup Modular

Samsung Galaxy Note 7 bermasalah gara-gara batere yang unremovable adalah contoh nyata masalah yang muncul akibat "kemelekatan".

Mendisain hidup yang mudah adalah dengan menerapkan konsep modular, sehingga apa yang tak permanen lebih mudah dilepaskan ketika sudah tak diinginkan atau karena diharuskan oleh keadaan.

Seperti membandingkan Windows dengan Unix (termasuk Andorid), Windows itu lebih sering bermasalah karena disain yang tidak modular yang ditandai dengan sentralnya peran dari sesuatu yang disebut dengan "registry".

"Registry" adalah program-program bawah sadar yang mengatur perilaku program Windows yang anda gunakan sementara anda tidak menyadarinya.

Saya sendiri selain menggunakan Linux juga masih menggunakan Windows Seven. Sebab, hobi saya antara lain adalah memang mengutak-atik "registry".

Mana Yang Lebih Mudah?

Mengapa ada persaingan bisnis, perlombaan olahraga, atau kompetisi kecerdasan dan keahlian lainnya?

Karena pencapaian setiap orang berbeda-beda. Kemampuan pikiran dan fisik setiap orang tidak sama. Lebih tinggi, lebih cepat, lebih kuat, cenderung dianggap lebih baik. Itu sebabnya mencapai sukses dan berhasil tidak bisa dilakukan dengan langsung meng-copy-paste keberhasilan dan kesuksesan yang sudah ada.

Mengapa tidak ada persaingan menderita, perlombaan bahagia, atau kompetisi suasana hati?

Karena setiap orang bisa mencapai hal yang sama. Kemampuan hati dan perasaan setiap orang adalah sama. Untuk mencapai yang dicapai orang lain, bahkan tidak perlu melakukan copy-paste melainkan tinggal memilih, memutuskan dan bersedia saja. Itu pun, selalu hanya untuk memilih satu dari dua keadaan.

Menurut anda, mana yang sebenarnya lebih mudah?

Memuji Kala Diuji

Memuji Kala Diuji

Bersabar ketika diuji, pahalanya satu kali, berlipat ganda, sampai tanpa batas.

Bersyukur ketika diuji, pahalanya mengalir seperti pahala amal jariyah.

"Sekiranya Aku uji salah seorang hamba-Ku yang beriman, lalu ia memuji-Ku atas ujian itu, berilah pahala yang bersambungan baginya, sebagaimana pahala yang biasa kalian berikan atas amal yang ia lakukan."
- Hadits Qudsi

Bersyukur nikmat ditambah; dalam situasi apapun.

Baik dan Buruk

Baik dan buruk secara mutlak adalah dari Allah SWT.

"Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami."
- QS-21:35

Baik dari Allah SWT dan buruk dari diri sendiri secara akhlak adalah pilihan.

"Ya Allah, kumohon Engkau tidak mengujiku kecuali dengan hal-hal yang lebih baik."
- Doa Rasulullah SAW.

Bukalah Hati


Apapun yang kau harapkan akan berakhir di sini.

Siapkanlah tempatnya dengan melupakan yang tak kau inginkan.

Engkau selalu bisa memiliki ruang tapi waktu yang kau miliki hanyalah sekarang.

Menurut eksistensinya, ia ada di dalam dada kita.

Menurut realitasnya, kitalah yang tinggal di dalamnya.

Hatimu adalah rumahmu.

Jangan Mudah Kaget - Ojo Gumunan

Gua udah denger cerita "bukan anaknya" sejak beberapa tahun yang lalu dari mereka "yang tahu" dan "yang dekat".

Seperti segala kehebohan yang lain, buat gua itu semua adalah tentang bagaimana "belajar dari tahu yang hanya sedikit".

Reaksi normal dari "tahu yang hanya sedikit" adalah kaget. Itu tanda bahwa kita perlu mencari tahu lebih banyak; bukan tentang apa yang mengagetkan kita tapi tentang kekagetan kita. Dengan begitu, kita tidak berlatih menilai yang di luar melainkan yang di dalam.

Lu yang dulu belum pernah ketemu gua trus ketemu gua, lumayan kaget juga kan? Padahal itu baru sedikit.

Makanya kita diajarin "jangan mudah kaget" pada apa yang di luar sana. Lebih baik kaget oleh diri sendiri dengan mengagetkan diri sendiri.

Percaya deh, yang langsung terlibatpun kini sedang mencari ke dalam. Udara permukaanlah yang menghembuskannya ke segala arah. Kitapun bijaknya kembali menyelam mencari mutiara hidup.

Jangan mudah kaget, biar aman kita.

Abundance Itu Cukup dan Dicukupkan

Abundance atau keberlimpahan tidak berarti berlebihan atau tanpa batas.

Abundance artinya "selalu cukup".

Apa yang berlebihan akan melimpah (tepatnya luber) tanpa diniatkan, tanpa kesadaran, tanpa kesengajaan, atau bahkan dipaksakan.

Apa yang selalu cukup, diniatkan untuk melimpahpun (tepatnya berbagi) akan selalu kembali tercukupi.

"Cukup" dan "dicukupkan" adalah kata yang tidak sedikit disebut dalam kitab suci dan sabda yang bijak.

Abundance itu qanaah dan berlimpah itu barokah.

Sebenarnya, kita tak perlu jauh-jauh mencari.

It's there. All that is.

Stream of Abundance - Receiving (2)

STREAM OF ABUNDANCE - RECEIVING (2)

Mari kita elaborasi dengan sebuah contoh yang kita ambil dari tulisan bagian pertama pada satu status sebelum ini.

CATATAN PENTING: Keterampilan atau keahlian, adalah sikap mental dan tindakan fisik yang otomatis, refleks, dan auto-pilot, yang dilatih dengan pengulangan atau repetisi. Fisik yang dilatih akan menguat dan mental yang dilatih akan yakin.

Tentang perlombaan.

Minggu depan anda berlomba dan hari ini anda berlatih. Informasi yang tersedia saat ini untuk anda olah adalah sebagai berikut:

1. Fakta bahwa pada hari ini perlombaan itu belum terjadi.

Jika informasi ini yang ada dalam mental anda selama anda melatih fisik anda, maka anda sebenarnya sedang melatih kerancuan mental. Pada hari H, fisik anda tidak mengalami bias karena yang dilatih dan yang menjadi fakta adalah sama. Tapi, mental anda yang juga ikut latihan justru terlatih meyakini "ini belum terjadi". Pada hari H, mental anda mengalami kerancuan karena merasa yakin "ini belum terjadi" padahal faktanya "sedang terjadi".

2. Mungkin anda kalah saat berlomba.

Jika informasi ini yang anda pegang dalam mental anda selama anda berlatih fisik, anda bisa menerka akan bagaimana akibatnya. Pada hari H, fisik anda berjuang, tapi mental anda sudah lebih dahulu percaya "mungkin akan kalah".

3. Mungkin anda menang saat berlomba.

Jika informasi ini yang anda pegang dalam mental anda selama anda berlatih fisik, maka pada hari H fisik anda akan berjuang dan mental anda akan mempercayai "mungkin menang".

Jika anda perhatikan, dengan ketiga informasi krusial di atas anda dapat menyimpulkan sesuatu, yaitu: Informasi mental yang terus diulang-ulang atau dilatih dengan repetisi, akan menguat menjadi keyakinan.

Maka, di sinilah abundance mindset itu bisa tumbuh. Dengan kesimpulan bahwa mental yang dilatih akan menguat menjadi keyakinan, anda bisa mengkreasi realitas baru yang berbeda (dan sesuai keinginan) dengan menyuntikkan informasi baru, yaitu:

4. Saya menang.

Jika informasi abundance ini yang anda pilih untuk anda masukkan ke dalam ruang mental anda selama anda melatih fisik anda, maka pada hari H, fisik anda akan berjuang sebagaimana ia telah dilatih, dengan mental yang juga sudah terlatih sehingga yakin bahwa anda adalah pemenang.

Anda pilih yang nomor berapa?

Abundance mindset is the key to creation; it is the art of deliberately collapsing the wave.

Stream of Abundance - Receiving (1)

STREAM OF ABUNDANCE - RECEIVING (1)

Bagian ini paling menarik.

Jika anda memutuskan mengikuti sebuah perlombaan dan anda ingin menjuarainya, apa yang anda lakukan?

Latihan. Sekarang.

Lalu, mereka yang mengerti bagaimana aliran abundance bekerja mengatakan, "janganlah berkompetisi".

Mereka yang mengikuti lomba dan mengerti ini tidak berlatih dalam mood "peserta" melainkan dalam mood "juara". Dalam mood itu, mereka tidak berkompetisi, sebab baru latihan saja dan belum berlomba, mereka sudah merasa juara.

Sungguh rugi berlatih untuk menjadi juara tanpa mental juara. Itu hanya membuang energi kecuali berniat ikut lomba hanya untuk berolahraga.

Untuk apapun bentuk kesuksesan dan keberhasilan yang kita inginkan, kitapun perlu mengikuti jejak yang sama, yaitu:

Latihan. Sekarang.

Para pakar menganjurkan kita merespon pertanyaan ini, "apa yang saya lakukan sekarang, jika apa yang saya inginkan sudah saya dapatkan saat ini?" Lalu, mereka meminta kita benar-benar melakukannya.

Itu sebabnya kita mendengar ini:
Ingin kaya? Berbagilah.
Ingin sehat? Berolahragalah.
Ingin bahagia? Berbahagialah.

Ingin ini? Lakukanlah sekarang apa yang bisa membuat kita merasakan "ini" sudah menjadi kenyataan sekarang.

Ingin itu? Lakukanlah sekarang apa yang bisa membuat kita merasakan "itu" sudah menjadi kenyataan sekarang.

Bagaimana anda berlatih menjadi penjual? Bagaimana anda berlatih menjadi public speaker? Bagaimana anda berlatih menjadi pemusik atau penyanyi? Bagaimana anda menjalani mentoring untuk menjadi the next leader?

Sama saja kan? Anda berlatih dengan perasaan seolah-olah "sudah menjadi".

Maaf, maksud saya, anda berlatih dengan perasaan "seolah-olah" sudah menjadi.

Be, do, have.

Pikiran dan Perasaan

Bisa jadi ada yang mengira begini:

Input: Pikiran
Output: Perasaan

Padahal begini:

Input: Pikiran dan Perasaan
Output: Pikiran dan Perasaan

Apa yang diinputkan oleh pikiran sebagai bahan baku kenyataan hidup adalah apa yang menjadi fokusnya. Apa yang diinputkan oleh perasaan sebagai bahan baku kenyataan hidup adalah sama, yaitu apa yang menjadi fokusnya.

Menikmati Kekinian

Ini yang sering dilupakan orang ketika ingin menikmati "saat ini".

"Di sini dan sekarang" atau "here and now" adalah sebuah titik di garis ruangwaktu (spacetime). Apa yang sering dilupakan orang adalah ini; ketika kita berbicara tentang "sekarang", maka waktu berhenti, ia keluar dari persamaan, dan apa yang tersisa hanyalah secuil ruang yang terbatas.

Maka, menikmati "sekarang" sesungguhnya adalah menikmati keluasan ruang. Lebih tepat lagi, menikmati ruang yang menjadi luas karena isinya dikosongkan.

Anggaplah setiap kita ini seperti komputer dan setiap kita dijatahi kapasitas ruang sadar atau RAM sebesar 32G. Ruang sebesar itu, disediakan untuk menampung memori. Di ruang memori itu, kita bisa memilih untuk menempatkan ingatan dari masa lalu (misalnya dokumen Photoshop yang diangkat dari harddisk) dan menempatkan proyeksi ingatan masa depan (misalnya dokumen MS Word yang sedang kita kerjakan dan belum kita save).

Semakin besar dokumen dan semakin banyak aplikasi yang terbuka, maka ruang itu akan semakin menyempit dan jumlah 32G itu akan semakin menyusut. Jika ini yang terjadi, maka kita sebenarnya justru sedang menjauh dari "sekarang", sebab notabene segala dokumen dan aplikasi yang mengisi ruang itu adalah ingatan masa lalu dan masa depan. Jika diteruskan, apa yang paling mungkin terjadi adalah hang atau bahkan BSOD.

Semakin kecil dokumen dan semakin sedikit aplikasi yang terbuka, maka kita semakin mengalami "sekarang". Dengan begitu ruang itu meluas mendekati atau mencapai 32G. Jika ada yang memang harus tetap ditempatkan di situ, maka itu adalah ingatan yang dianggap "paling penting untuk diingat" (cache memory) dan tidak lebih dari itu serta mengisi sesedikit mungkin ruang ingatan.

Itu sebabnya para pakar mengatakan, menikmati "di sini dan sekarang" dilakukan dengan "mengalami" dan bukan dengan "mengingat". Daniel Kahneman, seorang pakar penerima hadiah nobel mengatakan bahwa bahagia itu ada pada "pengalaman" dan bukan pada "ingatan".

Jika anda ingin menikmati "sekarang", nikmatilah dengan "mengalami" dan bukan dengan "mengingat". Bukankah, salah satu pengertian "to experience" menurut kamus adalah "to participate"? Dan bukankah, realitas hidup ini dikreasi dengan berpartisipasi dan bukan dengan berantisipasi? Bukan karena harus, bukan mau atau tidak mau, bukan pula suka atau tidak suka, tapi begitulah adanya; setiap kita berpartisipasi.

Jadi, realitas hidup yang lebih nikmat itu diciptakan dengan berpartisipasi dengan cara lebih banyak "mengalami" dan bukan dengan terlalu banyak "mengingat" kecuali yang paling penting untuk diingat. Selebihnya, nikmatilah ruang yang kosong dari dokumen dan aplikasi; terlebih lagi dokumen dan aplikasi yang buruk atau merusak.

Enakkan rasanya, jika aplikasi dan dokumen yang tidak kita perlukan, mengganggu, atau mengesalkan bisa kita uninstall dan delete dari Android kita? Apalagi, jika kita bisa mengakses root.

Yang Baik dari Tuhan Yang Buruk dari Diri Sendiri

Yang baik dari Tuhan yang buruk dari diri sendiri.

Jelas ya, setiap orang adalah co-creator yang berpartisipasi aktif mengkreasi hidupnya sendiri-sendiri; khusus bagian yang buruk-buruk.

Pasrahlah - karena apapun yang sedang mengalir ke dalam hidupmu adalah kebaikan - #Allowing 

Note: Pasrah itu di hati, bukan di badan.

Perdebatan tentang "apakah yang buruk itu dari Tuhan juga atau dari diri sendiri", sudah berlangsung lama. Mulai dari orang awam sampai orang berilmu terus memperdebatkannya selama ratusan tahun.

Saya sebagai orang awam, memandangnya dengan lebih sederhana, yaitu bahwa setiap kali manusia dibicarakan, pembicaraan itu selalu ada dalam konteks tujuan keberadaan manusia yaitu order, keteraturan, dan adab yang puncaknya adalah akhlak dan bukan tentang hakikatnya. Manusia itu bersifat tidak mutlak, fana, dan sementara.

Jika dikatakan "yang buruk adalah dari dirimu sendiri", maka itu adalah tentang order, keteraturan, adab, dan akhlak. Hakikatnya, baik dan buruk itu tetap dari Tuhan.

Jika anda memegang BPKB atau SHM dan nama anda tercantum di sana sebagai pemiliknya, itu artinya anda adalah pemilik sah kendaraan atau properti, tapi itu dalam konteks order, keteraturan, adab, dan akhlak, supaya manusia tidak saling menjarah dan saling mengambil atau saling memanfaatkan dengan cara yang buruk.

Pertanyaannya, apakah dengan memegang BPKB dan SHM, anda adalah pemilik mutlak kendaraan dan properti anda? Tentu saja tidak. Pemilik mutlaknya adalah Tuhan dan kita menyebutnya titipan.

Tuhan menyiratkan seperti ini, "Aku tidak menzalimi, tidak merugikan, tidak menganiaya manusia. Mereka sendirilah yang melakukannya kepada diri mereka sendiri." Banyak dalilnya, silahkan cari sendiri.

Makin jelas ya.

Jangan-Jangan Anda Takut Berhasil

Bukan takut gagal, tapi takut berhasil.

Penghambat terbesar keberhasilan adalah rasa takut. Pada puncaknya, orang sering tidak sadar bahwa dirinya justru takut berhasil.

Ikuti intuisi.

Lalu orang bertanya, "bagaimana jika aku menjadi pengikut hawa nafsu dan melanggar apa yang aku yakini?" Itulah yang ditakutkan kebanyakan orang.

Dan inilah sebenarnya ketakutan mereka; mereka takut keyakinan mereka gagal bekerja. Padahal, fungsi keyakinan adalah filter bagi pikiran, perasaan, dan tindakan, tapi justru inilah yang diragukan.

Keyakinan dibangun untuk melayani diri, dan keberadaan diri adalah untuk melayani higher purpose. 

Merasa punya keyakinan tapi tidak yakin ia akan bekerja melayani diri dengan menjadi pedoman adalah sama dengan tidak memiliki keyakinan.

Bersyukurlah Dengan Bermewah-Mewah

Bersyukurlah dengan hidup bermewah-mewah.


Dunia Ini Inklusif

Dunia ini inklusif.

Nyaman itu dimulai dengan berfokus pada yang ada.

Dengan begitu lebih mudah mensyukuri yang sudah ada.

Setelah itu, barulah ada tenaga untuk menghadirkan yang akan ada dengan makin nyaman dan makin mudah.

Macrocosmos - Microcosmos

MACROCOSMOS

Hukum kekekalan energi dan termodinamika menyiratkan bahwa segala pergerakan energi terjadi dalam sistem tertutup yang kita sebut dengan alam semesta.

Apapun yang bergerak dalam ruang tertutup cepat atau lambat akan memantul balik mengikuti lintasan yang menerpa titik asalnya dan bergerak dalam kecepatan cahaya.

Semuanya harmonis tapi memiliki awal dan memiliki akhir. Dimulai dengan Big Bang diakhiri dengan Big Crunch.

MICROCOSMOS

Pikiran adalah informasi yang dikonversi menjadi energi dalam bentuk perasaan.

Dengan pikiran dan perasaannya, setiap orang bukanlah transmitter melainkan receiver. Apa yang dibroadcastnya, memancar ke dalam semesta hidupnya, lalu memantul balik ke dalam dirinya.

Rasa tidak nyaman dari emosi negatif yang dirasakan seseorang, terasa tidak nyaman karena energinya mengalir dengan kutub yang terbalik. Energi itu sedang mencoba bergerak melawan arus, dan hukum alam tidak memperkenankannya.

Kesadarannya memancarkan kemurnian, tapi egonya membajak di tengah jalan, lalu pancaran itu kembali pulang sebagai energi yang tak diinginkan.

Izinkanlah Datangnya Keberlimpahan

STREAM OF ABUNDANCE - ALLOWING

Tuhan menciptakan alam semesta (QS-32:4).

- Lalu Dia menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya (QS-95:4).

- Dan Dia menaklukkan alam semesta bagi manusia (QS-45:13).

Keduanya adalah curahan rahmat bagi manusia, yang dijadikan pemimpin di muka bumi (QS-2:30), yang mewarisi bumi sebagai berkah dengan berbuat kebaikan (QS-21:105), dengan cara melimpahkan rahmat kepada alam semesta (QS-21:107).

Begitulah adanya, kecuali ada yang mengubahnya (QS-13:11).

It's a stream of abundance. Flowing into your life.

Allow it.