Cara Menemukan Keajaiban

CARA MENEMUKAN KEAJAIBAN

Jika ingin menemukan keajaiban, berpikiranlah terbuka.

Pikiran kita menjadi tertutup setelah selama hidup pikiran kita ditanami patok-patok dan pagar pembatas atas nama panca indera. Sesungguhnya, panca indera adalah alat untuk mereduksi realitas yang sebenarnya, yang kemudian bahkan kita reduksi lagi ke dalam kata-kata, lalu kita menyebutnya fakta imiah dan kenyataan. Dan sesungguhnya, berolah pikir adalah justru untuk mengurangi reduksi itu.

Tanpa melampaui batas-batas yang ditetapkan Tuhan, sebenarnya kita bisa lebih merdeka. Bukankah keajaiban hanya menjadi ajaib bagi panca indera yang terpenjara?

Padahal, jika kita memutuskan untuk lebih merdeka, maka kita akan menemukan secuil demi secuil lagi tanda-tanda kebesaran Tuhan.

Siapa yang mau berpikiran terbuka, pikirannya akan semakin terbuka.

International Healer Academy
http://www.healer-academy.com

Islamic Law of Attraction


THE LAW OF ATTRACTION VERSI ORANG YANG BERIMAN KEPADA TUHAN
I. Landasan Prinsip LOA
The Law of Attraction (LOA) berjalan di atas prinsip "sangkaan" di mana sangkaan yang baik akan menuai baik dan yang buruk akan menuai buruk. Bagi orang yang beriman kepada Tuhan, itu berarti bersangka baik kepada Tuhan dan Tuhan telah menjanjikan bahwa Ia sesuai dengan sangkaan hamba-Nya (Hadits).
Sangkaan baik kepada Tuhan adalah sangkaan tentang sifat-sifat baik-Nya yang dilekatkan pada nama-nama baik-Nya. Tuhan telah memperkenalkan setidaknya 99 nama-nama baik-Nya yang harus dijadikan dasar bagi sangkaan baik hamba-hamba-Nya (Quran).
Keharusan untuk menjadikan nama-nama baik-Nya sebagai dasar sangkaan hamba-Nya itu terkandung dalam sabda utusan yang dicintai-Nya untuk tidak menemui ajal kecuali dalam keadaan bersangka baik kepada-Nya (Hadits).
Seluruh sangkaan baik itu dijiwakan ke dalam dua elemen utama kehidupan yaitu keadaan senang dan keadaan susah yang mana hamba-Nya diperintahkan untuk memaknai keduanya sebagai ujian selama hidup sampai hamba itu mati, di mana setiap ujian adalah untuk menaikkan kelas yang diuji (Quran).
II. Outcome, Mekanisme, dan Target LOA
Outcome LOA adalah keadaan yang tanpa tergantung apakah keadaan itu diinginkan atau tidak, disukai atau tidak, diminta atau tidak, diharapkan atau tidak, dipikirkan atau tidak, akan menjadi ada dan terjadi, sepanjang target yang dipersyaratkan terpenuhi, sehingga memicu mekanisme penciptaannya secara otomatis. Outcome itu adalah: Menjadi makhluk yang diterima di muka bumi. Inilah keadaan akhir yang didambakan setiap praktisi LOA dengan apapun yang ingin didapatkannya di dunia ini.
Mekanisme LOA adalah sebagai berikut.
"Apabila Allah mencintai seorang hamba, Dia memanggil Jibril, lalu berkata, 'sesungguhnya Allah mencintai si Fulan, maka cintailah dia!' Kemudian Jibril mencintainya. Lalu, Jibril menyerukan kepada seluruh penghuni langit, 'sesungguhnya Allah mencintai si Fulan, maka cintailah dia!' Kemudian, penghuni langit pun mencintainya. Lalu, orang tersebut didudukkan sebagai orang yang diterima di muka bumi." (Hadits)
Target LOA adalah:
1. Dicintai Pemilik dan Penguasa Alam Semesta,
2. Dicintai Master Broadcaster Alam Semesta,
3. Dicintai Seluruh Jajaran Manajemen Alam Semesta.
Cinta, itu setingkat di atas sayang dan dua tingkat di atas kasih.
III. Pembatal LOA
Pembatal LOA adalah kemelekatan. Tujuh cara yang paling efektif untuk membebaskan diri dari kemelekatan adalah:
1. Berorientasi ke akhirat, sehingga tidak melekat pada dunia,
2. Berorientasi ke langit, sehingga tidak melekat pada bumi,
3. Berorientasi ke kematian, sehingga tidak melekat pada kehidupan.
4. Berorientasi ke spiritual, sehingga tidak melekat pada fisik.
5. Berorientasi ke jiwa, sehingga tidak melekat pada raga.
6. Berorientasi ke iman, sehingga tidak melekat pada pengingkaran,
7. Berorientasi ke pikiran, sehingga tidak terjebak oleh perasaan.
IV. State Pengaktivasi LOA
Delapanbelas state dalam vibrasi sangkaan baik yang mengaktivasi LOA, mencegah pembatalnya, mencapai targetnya, memicu mekanisme otomatisnya sehingga menciptakan outcomenya adalah:
01. Segera Bertaubat, mensucikan keseluruhan diri,
02. Menjaga Wudhu, mensucikan fisik,
03. Bersikap Adil, mensucikan akal,
04. Bertaqwa, mensucikan ketakutan,
05. Berbuat Baik, mensucikan tindakan,
06. Bertawakkal, mensucikan kepasrahan,
07. Bersabar, mensucikan kelemahan,
08. Mengikuti Sunnah Rasul, mensucikan keteladanan,
09. Menegakkan Ajaran Tuhan, mensucikan perjuangan,
10. Menghindari Berkata Keji, mensucikan perkataan,
11. Tetap Bersyukur di Saat Sedih, mensucikan perasaan,
12. Menjaga Sifat Malu dan Sopan, mensucikan hawa nafsu,
13. Beribadah Tanpa Dilihat Orang, mensucikan niat,
14. Saling Mencintai Di Jalan Tuhan, mensucikan cinta,
15. Mencintai Apa yang Diwajibkan, mensucikan tugas,
16. Tetap Santun saat Marah, mensucikan kekuatan,
17. Banyak Mengingat Mati, mensucikan batas waktu,
18. Mencintai yang Dicintai Tuhan dan Rasul-Nya, mensucikan penghambaan.
Dalam bahasa LOA, pensucian dikenal sebagai pengkutuban, keberpihakan, atau orbit, sebagaimana kutub utara dan selatan tidak pernah bertemu tapi selalu berseberangan dalam garis lurus, sebagaimana memilih A adalah tidak memilih B, dan sebagaimana bulan yang tak pernah lebih dekat dengan bumi dan tak pernah pula lebih jauh darinya. Pensucian adalah mencapai bersih dengan lebih dahulu mengakui kotornya. Bukan sok suci, tapi tak pernah berhenti mensucikan diri.
Seluruh state di atas berasal dari ajaran Quran dan Hadits. Beberapa versi menyatakan state-state yang berbeda tapi beresensi sama. Aktivasi state bisa dimulai dengan memilih salah satu state untuk dikuasai dan kemudian melatih state-state yang lainnya sebanyak mungkin dengan selalu mewaspadai pembatalnya.
Kita dimampukan memilih, tapi sebatas untuk menyangka.
Maka, pilihlah berbaik sangka.
Dan Allah Maha Tahu yang sebenarnya.
(Wallahu a’lam bish-shawabi).
*Tulisan ini terbuka untuk masukan dan koreksi.