Coaching Mindset

COACHING:

Membantu seseorang dengan pendampingan yang sejatinya adalah mengamplifikasi tingkat hasratnya tentang sesuatu, dan membangun interaksi tanya jawab dengannya berbasis ciri-ciri dan tanda, dan dilanjutkan dengan pembiaran-pembiaran positif. Membantu diri sendiri juga sama.

SELF COACHING:

The best way to create any breakthrough is simply to let it happen. Cara terbaik untuk menciptakan sebuah terobosan adalah dengan membolehkannya terjadi. Penghalang terbesar antara kita yang hari ini dan kita yang kita inginkan adalah diri kita sendiri.

Kebenaran Itu Tidak Relatif - Ia Hanya Bertahap

KEBENARAN ITU TIDAK RELATIF, IA HANYA BERTAHAP

Berjalan dengan hanya satu kaki mestilah pincang. Berperahu dengan hanya satu cadik mestilah oleng. Terbang dengan hanya satu sayap sungguh tidaklah mungkin.

Setan, hawa nafsu dan musuh kebenaran selalu bekerja dengan dua poin SOP yang memang sudah standar. Pertama, ia akan menahan dan mencegah dari kebenaran. Kedua, ia akan membablaskan dan menyelewengkannya. Siapa yang terlanda salah satunya tak pernah berdiri dengan tegak.


Dunia ini bisa rusak dan hancur, bukan karena manusia menjalankan syariat Tuhan tapi karena manusia meninggalkannya. Bagi manusia seperti ini, syariat Tuhan adalah penghalang kemerdekaan dan kemanusiaan.


Dunia ini juga bisa rusak dan hancur, bukan karena manusia tidak menjalankan syariat Tuhan, tapi karena berlebihan tentangnya. Bagi manusia seperti ini, syariat Tuhan adalah pembenaran untuk teror, pemasungan, dan pemenjaraan.


Syariat, artinya adalah "mata air yang tak ada habis-habisnya".


Tuhan menetapkan hukum-hukum-Nya sebagai Pencipta manusia:


1. Fardhu (Diwajibkan Tuhan)

2. Haram (Dilarang Tuhan)
3. Mandub, Mustahab, Sunnah, Nafilah (Dianjurkan Tuhan)
4. Makruh (Tidak Disukai Tuhan)
5. Mubah (Dibolehkan Tuhan)

Kemudian, Tuhan menetapkan batas-batas bagi manusia dalam mematuhi hukum-hukum-Nya itu:


1. Tidak Ekstrem (Tanaththu')

2. Tidak Memberati Diri dengan yang Tidak Dibebankan (Tasyaddud)
3. Tidak Melampau Patokan dan Pedoman (I'tidaa')
4. Tidak Memaksa Diri Jika Belum Mampu (Takalluf)

Sikap dan tindakan yang berlebihan disebut dengan "ghuluw" (melampaui batas). Siapa yang menjauhi "ghuluw" tidak pantas pula memasuki wilayah "taqshir" (sengaja lalai, melonggar-longgarkan, dan mencari celah demi jalan mudah).


Kemudian kita bertanya, kemana harus me-refer dalam menjalankan semua itu? Apa yang harus dijadikan rujukan? Apa referensinya?


Kita ini makhluk yang diciptakan, Tuhan itu khalik yang Maha Menciptakan. Setiap produk diciptakan dengan maksud dan tujuan. Tidak ada produk yang diciptakan tanpa maksud dan tujuan. Maksud dan tujuan dari diciptakannya produk adalah sebagaimana yang dimaksud oleh produsen.


Kita ini produk yang terbaik dan advanced. Setiap produk yang baik dan advanced selalu dilengkapi dengan manual. Manual tidak bisa dan tidak boleh dibuat oleh produk. Manual dibuat oleh produsen.


Manual yang mana?


Manual adalah aturan main. Aturan main ada hirarkinya. Ada aturan yang tertinggi dan ada aturan yang lebih rendah. Aturan utama adalah aturan yang tertinggi. Namanya Quran dan Hadits. Di bawahnya, ada aturan-aturan pelaksanaan yang disusun oleh mereka yang ahli dalam menyusunnya.


Quran dan Hadits yang mana?


Quran dan hadits yang diklarifikasi oleh Tuhan yang Berfirman di dalam Quran dan manusia yang memiliki kompetensi untuk mengklarifikasi hadits (sabda nabi).


Klarifikasi yang paling akurat untuk quran adalah klarifikasi yang didemonstrasikan oleh quran itu sendiri. Quran itu, jika satu huruf saja diubah (bahkan hanya sekedar letaknya saja yang diubah), maka mengikuti perubahan sekecil itu, quran itu akan menjadi sama sekali berbeda dan tidak konsisten lagi di antara isinya.

Klarifikasi yang paling akurat untuk hadits adalah klarifikasi integritas orang-orang yang menyusun dan merunutkannya. Integritas orang-orang itu mencerminkan integritas haditsnya.


Aturan pelaksanaan yang mana?


Ikutilah ahlus sunnah wal jamaah. Ikuti suara terbanyak (jamaah) tapi bukan sekedar suara terbanyak, melainkan suara terbanyak dengan catatan. Catatannya adalah suara terbanyak yang tetap selaras, mengacu dan memegang teguh aturan yang hirarkinya kedua tertinggi yaitu hadits (sunnah) yang bermata air quran.


Quran dan Hadits yang mana? Aturan pelaksanaan yang mana?


Mulailah lagi dari atas. Kebenaran itu di depan mata, tapi harus terus dicari sebab yang dapat menemukannya hanyalah iman.


Jika kita membatasi dan memenjarakan diri, itu karena hukum Tuhan. Jika kita tegas, itu karena hukum Tuhan. Jika kita keras, itu karena hukum Tuhan. Bahkan, jika kita berperang dan membunuh, itu juga karena hukum Tuhan.


Terlalu keras dan menakutkan? Mulailah lagi dari atas, lembutkan hati dan berpikirlah jernih, mengalahlah hanya kepada Tuhan yang menciptakan kekuatan sebagai penjaga perdamaian, keteraturan, cinta dan kasih sayang.


Jika kita memerdekakan dan membebaskan diri, itu karena hukum Tuhan. Jika kita lembut, itu karena hukum Tuhan. Jika kita lunak, itu karena hukum Tuhan. Bahkan, jika kita hidup penuh damai dan saling mencintai, itu juga karena hukum Tuhan.


Terlalu moderat dan lemah? Mulailah lagi dari atas, kuatkan hati dan berpikirlah jernih, mengalahlah hanya kepada Tuhan yang menjadikan perdamaian, keteraturan, cinta dan kasih sayang sebagai kekuatan.


Jadi aku ini "tak ada"? Bertanyalah, untuk apa aku "ada".


Saat merasa telah menemukan kebenaran, janganlah berhenti, lalu menuding ke sana dan ke sini dan mengatakan mereka salah dan kita benar. 

Benih iman itu ada di dalam dada setiap manusia. Tugas kita adalah terus membantu diri sendiri dan orang lain menumbuhkannya, agar kita semua mampu menemukan jalan untuk mencari dan mengumpulkan sepotong demi sepotong kebenaran. Itulah misi utama kita dalam ber-Tuhan. Mengadministrasikan dunia dan menegakkan kebenaran. Kita menyebutnya dengan satu istilah; "berdakwah", artinya menyampaikan.

Kebenaran itu tidak relatif, ia hanya bertahap. Semoga kita masih diberi waktu.

Sampaikanlah, sampai mulut kering dan lidah kehabisan kata-kata, lalu kembali kepada firman Tuhan.