Mengapa Harus Ilmu Komunikasi


MENGAPA HARUS ILMU KOMUNIKASI

Nama saya Ikhwan Sopa, pendiri sebuah lembaga training dan coaching seputar motivasi, komunikasi dan leadership berbasis komunikasi. Namanya QA Communication. Saya adalah Trainer E.D.A.N. dan E.D.A.N. adalah singkatan dari Energy, Dignity, Anticipation, dan Nothing To Lose, sebuah metode pemberdayaan diri berbasis komunikasi yang dimetaforkan dengan public speaking. Di bagian "About Us" di situs kami, tercantum sebaris kalimat begini, "We believe that Human Resources is about human and the(ir) resources within." Hari ini, positioning saya adalah Coachability Trainer, sebagai pembahasaan ulang label dagang dengan harapan supaya lebih mudah dimengerti dan supaya tidak memberi kesan terlalu nyeleneh. Semoga.

Saya sangat menyukai dunia ilmu komunikasi karena menurut saya ilmu komunikasi adalah ilmu yang memenuhi kuota hukum pareto. Ilmu komunikasi adalah 20% ilmu yang menjanjikan keberhasilan 80% ilmu-ilmu yang lain.

Komunikasi itu memiliki magnitude besar. Berhasil berkomunikasi adalah tanda membesarnya peluang keberhasilan. Gagal berkomunikasi adalah tanda merosotnya peluang keberhasilan. Gap komunikasi, adalah sebuah jurang yang terlalu besar untuk diabaikan dan tidak dijembatani.

Perang, terjadi karena kegagalan mengeksekusi sebuah model komunikasi yang disebut diplomasi. Orang menjadi berkelahi, karena sudah tidak tahu lagi harus berkata dan berbicara apa. Karena telah gagal berkomunikasi. Lihatlah hari ini, bagaimana tokoh dan orang penting bisa bergeser-geser dari public idol menjadi public enemy dan sebaliknya. Itu karena komunikasi. Atau setidaknya, karena gayanya dalam berkomunikasi. Semua meme yang memuji atau membully seseorang atau suatu pihak adalah tentang komunikasi.

Saya telah menulis dua buah buku tentang komunikasi. Salah satunya berjudul Manajemen Pertanyaan. "QA" dalam nama lembaga saya QA Communication adalah simbol dari Question and Answer. Dua hal, yang menjadi intisari dari proses komunikasi. Tagline lembaga saya ini, juga menyitir pentingnya ilmu komunikasi, yaitu "Good question, better answer". Jika pertanyaannya baik maka jawabannya lebih baik.

Kualitas pertanyaan sebagai salah satu sisi dari koin komunikasi sangat menentukan kualitas jawaban. Itu sebabnya, pertanyaan perlu dikelola atau dimanajemeni dengan baik.

Dalam komunikasi verbal, manajemen pertanyaan dipusatkan pada lima kata tanya yang paling mendasar, yaitu who, what, when, where, why dan how atau sering disingkat dengan 5W1H. Dari lima kata tanya dasar itu, kata "why "adalah yang paling memiliki kekuatan, untuk memberhasilkan atau menggagalkan (baca lagi judul tulisan ini).

Jika seseorang ditanya, "mengapa pekerjaan ini belum juga selesai?" maka yang ditanya cenderung merasakan pertanyaan itu sebagai sebuah serangan. Tentu saja, model pertanyaan seperti ini cenderung menggagalkan karena bisa dipastikan bahwa jawaban si tertanya akan berbentuk pertahanan diri atau berbentuk alasan. Dengan kata lain, pertanyaan itu justru menjadikan yang ditanya menutup diri, membangun benteng, menghindar, atau menjadi kreatif untuk menemukan alasan.

Pertanyaan itu bisa dikelola dengan lebih baik dengan cara mengganti kata tanya "why" dengan kata tanya yang lain yang lebih rendah intensitasnya. Misalnya, "apa yang membuat pekerjaan ini belum selesai?" Atau, dibuat lebih halus lagi misalnya, "apa saja yang membuat pekerjaan ini belum selesai?" Keajaiban dari pertanyaan ini adalah sesuatu yang disebut dengan presuposisi. Apapun yang menjadi jawaban, hanya berarti satu, yaitu bahwa yang ditanya mengakui bahwa pekerjaan itu memang belum selesai. Pengakuan tentang eksistensi sebuah masalah, adalah bagian terbesar dan terpenting dari solusinya.

Buku saya yang lain, masih berkaitan dengan manajemen pertanyaan. Judulnya adalah "Manajemen Pikiran dan Perasaan".

Berkomunikasi, adalah bentuk interaksi antara dua entitas yang kelengkapannya adalah pikiran, perasaan, dan tubuh fisik. "Komunikasi fisik" atau perkelahian fisik, adalah bentuk dari gagalnya komunikasi di tingkat pikiran dan perasaan.

Dari sudut pikiran dan perasaan, pertanyaan bisa dikelola sebagaimana contoh berikut ini.

Konon, ini adalah sebuah kisah nyata di perusahaan Toyota. Suatu ketika, di dalam sebuah rapat, seorang manajer bertanya kepada anak buahnya, "bagaimanakah caranya supaya pekerjaan ini menjadi lebih produktif, efektif, dan efisien?"

Pertanyaan itu adalah pertanyaan yang diajukan kepada pikiran. Maka tidak mengherankan bahwa ketika itu seisi ruangan menjadi terdiam - untuk waktu yang cukup lama. Sebab, setiap orang di ruang itu diminta untuk berpikir semata. Mau menjawabpun sepertinya diperlukan sepaket informasi yang detil, lengkap, dan utuh yang cukup sulit dilakukan secara impromptu.

Beruntung sekali, manajer itu cukup memahami situasinya. Ia mengubah target pertanyaanya dari pikiran menjadi perasaan. Ia mengubah pertanyaannya menjadi begini, "bagaimanakah caranya supaya pekerjaan ini bisa diselesaikan dengan lebih cepat dan mudah?" Jawaban pun mengalir.

Menarik bukan, ilmu komunikasi?

QA Communication: http://qacomm.com
Training E.D.A.N.: http://goo.gl/jWyegL
Coachability Training: http://goo.gl/ZK3XW4
Manajemen Pertanyaan: http://goo.gl/oSV2iN
Manajemen Pikiran dan Perasaan: http://goo.gl/aX86j