Renungan Akhir Tahun

By: Ikhwan Sopa

1. Aku yakin bahwa aku adalah pribadi yang baik. Aku yakin apa yang buruk asal-muasalnya dari luar. Aku lahir seputih kertas dan noda hitam datangnya belakangan. Tugasku adalah rajin mencuci bersih dan obat terbaik untuk setiap penyakit adalah pencegahan.

2. Aku tak suka dikritik, oleh karena itu aku tak boleh terlena oleh pujian. Keduanya adalah sisi kembar dari koin yang sama. Jika aku dipuji maka kuteruskan itu kepada Yang Maha Terpuji. Jika aku dikritik, resepku adalah menambahkan sejumput cinta.

3. Jika aku merasa tidak nyaman, itu datang karena aku menyesalkan yang sudah lalu atau aku terlalu mengkhawatirkan yang belum datang. Aku memilih untuk selalu hidup di sini dan di dalam sekarang agar aku punya ruang dan waktu untuk melakukan yang terbaik.

4. Jika aku takut melakukan kesalahan, kan kuingat bahwa tak semuanya harus benar dulu untuk bisa melakukan kebaikan.

5. Pencuri kedamaian perasaanku adalah pikiranku. Itu, seperti memarkir kendaraan tanpa memasang kunci pengaman. Kunci pengaman hidupku yang sedang parkir di dunia adalah kewaspadaan pikiran.

6. Jalan tercepat menuju tujuan selalu jalan terpendek. Jalan terpendek selalu jalan yang lurus. Cara tercepat itu adalah sabar dan syukur.

7. Hidup senang atau hidup susah adalah pilihan perasaanku. Jika aku memilih untuk susah, maka tak seorangpun bisa membantuku untuk senang.

8. Toleran kepada orang lain adalah berusaha mengerti bahwa mereka sedang melakukan hal yang sama dengan diriku, dengan cara mereka sendiri.

9. Senyumku hampir selalu mampu menghilangkan aspek ilusi dari masalah. Ia menjadi lebih jernih dan jelas hanya karena aku masih mampu tersenyum di dalam tangisan.

10. Yang bagus untuk kulakukan sangat bagus bila kulakukan sekarang.

11. Kesalahan terbesarku adalah selalu merasa benar sehingga aku menjadi malas belajar.

12. Jika aku kehilangan harapan, maka aku kehilangan masa depan. Kan, memang di sana tempatnya untuk apapun yang aku harapkan?

13. Menunda-nunda adalah penyalahgunaan kekuatan harapan.

14. Jika kemana-mana aku bertemu musuh, maka aku harus berhenti membenci.

15. Jika cintaku murni, maka mestinya tak ada tuntutan dan harapan yang berlebihan. Bukankah kami berdua telah menyatu?

16. Bahagiaku tak akan berkurang dengan dibagi-bagi. Ketika aku membahagiakan orang lain, aku merasakan kebahagiaannya di dalam diriku sendiri. Apa bedanya itu dengan kebahagiaan yang ku cari-cari selama ini?

17. Yang mengejar bayang-bayang tak akan pernah bisa memeluknya, yang menuju cahaya bayangan akan mengikutinya.

18. Merasa punya harapan dapat membahagiakan aku. Jika aku merasa punya harapan tapi tidak bisa berbahagia sekarang, maka aku bukan sedang berharap tapi sedang menuntut. Tuhan pasti tidak suka.

19. Hidup ini adalah tentang berjalan bersama orang-orang sulit di sekelilingku. Sejarah ini sudah dimulai sejak jaman Nabi Adam. Menghindari mereka sebelum waktunya hanya berpindah dari satu masalah ke masalah lain. Aku perlu tetap tersenyum dan menawarkan kebaikan. Mereka adalah tempat aku belajar.

20. Kan kujadikan apa yang baik dan apa yang buruk sebagai pengalaman berinvestasi untuk hidup yang nanti.

21. Kekayaan sejati sumbernya dari dalam. Jika aku bisa menilai tinggi bahkan hal-hal yang kecil di dalam diriku, maka aku sungguh sudah kaya raya.

22. Yang kaya itu bukan pemilik, tapi penilai. Jika rumah kecilku di desa begitu berharga dan aku menolak mereka yang ingin membelinya dengan harga milyaran, maka aku kurang kaya bagaimana? Aku akan merasa miskin, jika aku gagal menilai tinggi apa-apa yang telah dianugerahkan Tuhan kepada diriku dan ke dalam hidupku.

23. Kalau mau sekedar senang, itu gampang, tinggal ngawur aja kok. Lihat saja hiburan, lawakan, dan tayangan. Semua itu ngawur tapi menyenangkan. Untuk berbahagia, mungkin lain lagi caranya, yang pasti lebih berseni. Itu sebabnya bahagia itu gampang-gampang susah dan bukan susah-susah gampang.

24. Tanpa kusadari, aku belajar menemukan cara-cara lain selain dari menggunakan kekuatan perasaan. Dengan menenangkan pikiran, aku akan sampai ke balik dindingnya dan bersentuhan dengan intuisi. Yang jika jernih, hampir pasti merupakan cerminan dari nurani.

25. Mudah menerima dan sulit memberi itu egois. Mudah memberi dan sulit menerima itu juga egois. Lingkarannya harus utuh sebab siklus itu yang membuat aku tumbuh.

26. Hidup adalah belajar, belajar konsisten menjawab pertanyaan sebelum hidup dan pertanyaan setelah mati.

Pertanyaan pertama, saat aku masih di alam ruh, ditanyakan langsung oleh-Nya, "Bukankah Aku ini Tuhanmu?"

Pertanyaan itu diajukan sebagai tag question, yang jawabannya hanya tunggal karena pastinya situasi. Kujawab dengan "ya" dan karena begitu yakin kutambahkan "bahkan" ketika aku menyatakan akan bersaksi setelah lahir nanti bahwa Ia Maha Esa.

Pertanyaan kedua, saat aku sudah di liang lahat, ditanyakan oleh malaikat, "Nnnnaaah, kalau sekarang siapa Tuhanmu?"

Di antara dua pertanyaan itulah aku hidup untuk belajar, dengan doa belajar yang bunyinya "Radhiitu billaahi rabba..."