Hidup Dalam Kepastian

By: Ikhwan Sopa

Jika mati adalah pintu yang pasti, maka yang di balik pintu juga pasti.

Masuk surga itu semata-mata rahmat. Pastikan mendapat rahmat dengan menebar rahmat. Rahmat adalah "sesuatu yang berdasarkan logika sebenarnya tidak layak diterima".

Menebar rahmat dilakukan dengan memberi lebih dan bersikap abundance (berkelimpahan). Memberi lebih dalam pekerjaan.

Memberi lebih dari yang dibayar. Memberi lebih dari yang diminta. Memberi saat tak diharapkan. Memberi lebih di atas kewajiban. Most of all, "memberi lebih" kepada Tuhan dan Rasulullah.

Berhenti berspekulasi, berhenti berjudi, jangan buang waktu, ambillah yang pasti. Semoga kita tidak lagi pernah merasa rugi.

Bagaimana jika kehidupan setelah kematian itu tidak ada? Itu absurd, tidak logis, bertentangan dengan akal sehat dan hati nurani. Kehidupan dan dunia menjadi sia-sia dan tanpa makna tanpa kehidupan setelah kematian.

Saat menyaksikan seseorang mati dan kehidupannya dipenuhi kebaikan dan seseorang yang lain mati dan kehidupannya dipenuhi keburukan, akal sehat dan hati nurani akan bertanya, "Di mana itu keadilan?" "Apa artinya kebaikan tanpa imbalan?" "Apa artinya keburukan tanpa balasan?" Jika memang yakin, maka sudah saatnya kita membuang kata-kata "adil", "baik", "buruk", "benar", "salah" dari kamus hidup kita dan hidup melakukan apapun semaunya tanpa makna-makna itu. Lakukan semaunya kepada suami, istri, anak, ayah, ibu, dan orang sekitar kita (maka kita akan segera seperti mereka yang masuk koran). Kita tidak melakukannya.

Pergilah ke kuburan, dan lihatlah ke bawah sana semua orang yang sedang mati dan lihatlah ke diri kita sendiri yang berdiri dan sedang hidup. Kita tak tahu apa yang sedang terjadi di bawah situ dan sedang apa mereka di sana. Lalu di dalam ketidaktahuan kita justru memastikan bahwa kehidupan setelah mati itu tidak ada. Padahal, kita sedang mengalaminya. Jika masih yakin juga, ratakan saja semua kuburan dan batu nisan itu karena semua itu sudah tak ada artinya. Yang ini, kita mulai sering melakukannya.