Solusi Masalah Tidur (Sleep Disorder) - Latihan Mati


By: Ikhwan Sopa

Beberapa menit yang lalu saya terbangun di ujung sebuah mimpi. Dari mimpi itu saya mendapatkan pelajaran yang sangat berharga dan sekaligus solusi. Kapan-kapan saya ceritakan. Inti dari mimpi itu adalah, "do what ever it takes" dengan penuh tanggungjawab.

Mimpi telah sering menjadi tempat saya menemukan berbagai solusi dan peningkatan kecerdasan. Tentunya, tanpa saya sengajakan dan tanpa bermaksud menggantungkan nasib kepada mimpi. Ini adalah bukti mengapa selama ribuan tahun mimpi dianggap punya peran penting bahkan oleh dunia psikologi modern hari ini.

Sahabat, engkau boleh percaya ini.

Jika engkau memahami dua status terakhir saya sebelum ini plus pemahaman tentang lucid dreaming, insya Allah dengan bermimpi pun (harafiah) anda dapat menemukan pencerahan dan solusi. Syaratnya, bekerja keraslah dan bekerja lebih keraslah menata diri khususnya pikiran dan perasaan.

Silahkan direnungkan, saya mau ritual sesembahan dulu, yang malam ini kecepetan.

"Pak Sopa, emang lucid dreaming (mimpi terkendali) itu bisa?" - "Emang selama ini lu gak pernah apa, mikirin atau kepikiran sesuatu sampe kebawa ke mimpi? Lain kali, jangan cuma bawa gelisah gundah gulana, ubah semua itu menjadi proposal identifikasi masalah, lalu berdoa minta ilham. Satu lagi, jangan mimpi siang bolong, ntar kantong lu ikut bolong."

Lalu di sinilah menariknya lucid dreaming. Seringkali, jika engkau memang telah merumuskannya sebagai proposal identifikasi masalah, sebelum tidur dan ngiler pun engkau sudah mendapatkan solusi. Masuk akal kan? Jika engkau belum mendapatkan solusi, engkau cuma lelah, maka tidur dan pasrahlah, jiwamu di tangan-Nya yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. "Sleep is the best meditation." - Dalai Lama.

"Apa lucid dreaming itu ngajarin malas?" - "Ya nggak lah, yang penting seimbang. Kita mungkin terlalu sering mengandalkan diri sendiri dengan menuntut waktu lebih dari 24 jam untuk memerah fisik, pikiran, dan perasaan. Mimpi baik bisa diupayakan dengan doa dan berangkat tidur dalam suasana hati sedamai mungkin. Kita perlu malu ketika nyawa kita dipegang-Nya sementara (insya Allah) sementara segala kekisruhan pikiran dan perasaan masih melekat. Kita akan mati, kan malu mati gelisah? Dan tidur itu mati sementara. Siang dan malam itu ciptaan Allah SWT, tidur juga ciptaan-Nya. Adakah yang Ia ciptakan dengan sia-sia dan adakah buatan yang lebih baik daripada buatan-Nya? Semua ada takarannya dan semua ada waktunya. Wallahua'lam."

Maka pada akhirnya, inilah yang menjadi salah satu PR terpenting kita setiap malam. Menjelang tidur, adakah kita menyempatkan diri melongok kamar tidur anak-anak untuk sekedar mencari tahu bahwa mereka berangkat tidur di dalam damai? Alhamdulillah, sejak punya anak saya mewajibkan diri tentang hal ini. Dan adakah, kita juga mendamaikan diri sebelum tidur dengan dengan berdoa, memohon ampun, memaafkan orang, dunia, dan diri sendiri? Tak mengapalah rasanya tidur dengan mengorok keras atau iler membanjir-banjir... selama masih ada senyum di bibirmu. Cieeeee! (emang kalo ngorok bisa senyum?!)

Sebaik-baik pintu untuk sebaik-baik jalan keluar adalah melembutkan hati.

Foto: klikdokter.com