Enam Sahabat Keberhasilan

Ada enam jenis manusia yang jika kita sikapi, antisipasi, dan urusi dengan bijak, maka mereka ibarat sparring partner yang insya Allah mengantarkan kita menjadi yang berhasil. Aamiin... aamiin...

1. Mereka yang MERAGUKAN dan ingin kita gagal entah kenapa.

2. Mereka yang MENGHISAP DARAH seperti lintah dan parasit yang menempel dan melekat erat.

3. Mereka yang MENGKRITIK agar rasa percaya diri ki ta terus jatuh yang mengguncang seperti gempa bumi.

4. Mereka yang MENDENGKI karena keberanian yang tak mereka miliki karena kitalah yang telah memperjuangkannya.

5. Mereka yang selalu MENUNTUT BELAS KASIHAN karena merasa mereka adalah korban kehidupan dan orang lain.

6. Mereka yang menjadikan dirinya ANGIN RIBUT tapi sekedar ingin membuat kekacauan tanpa jelasnya tujuan seperti pengembara yang numpang lewat dan berlalu.

Know yourself, know your enemies, know the weather, know the terrain.

Keraguan mereka adalah ujian bagi keyakinan kita.

Hisapan kuat mereka pantas kita anggap sebagai upaya mendonorkan darah.

Cerna kritik mereka SATU PER SATU dan jangan borong semua kritik sekaligus sebab mungkin kita belum siap dan itu sebabnya setelah SATU kritik jagalah jarak dari mereka sampai kita haus akan KRITIK selanjutnya.

Kedengkian mereka adalah ujian keberanian dan semangat juang.

Wajah memelas mereka adalah cermin untuk melatih keberdayaan.

Keributan mereka adalah tradisi pesta meriah yang segera usai sampai ada alasan baru untuk berpesta lagi.

Sekedar memahami dan mengerti mereka saja sudah lebih dari cukup untuk membuat kita berhasil jika kita bertahan mempertahankan cita-cita baik dengan berusaha keras mengejar skor kepantasan.

Sebab, pemahaman dan pengertian kita akan menjernihkan nilai-nilai kita, menguatkan sikap-sikap kita, menegaskan pilihan-pilihan kita, memastikan langkah dan tindakan kita ke sana.

Apa yang perlu kita sadari adalah keberadaan mereka di mana saja di sekitar kita sepanjang waktu sampai kita mati di dalam cinta karena Tuhan tak pernah menciptakan apapun untuk sia-sia.

Apapun dan siapapun yang didatangkan Tuhan ke dalam hidup kita adalah TAMU.

Hidupmu adalah RUMAHMU selama hidupmu.

Ketika kita berjalan, sungguh pantas kita berbahagia saat menemukan dahi-dahi di sekitar kita bertuliskan, 7, 8, dan 9. Merekalah tempat kita belajar menenteramkan hati. Sebab di dahi kita sendiri mungkin masih tertulis 1, 2, 3, 4, 5, atau 6.

Maka mulai sekarang, ada baiknya kita terus bertanya sambil menerawang ke dahi siapapun yang kita temui, "nomor berapa?".

Setiap angka adalah sahabat kehidupan, agar kita makin mendekat kepada Sang Pemilik angka 10.

Terjebak pada yang enam adalah mengaktivasi FORCE yang melelahkan. Mengurusi diri sendiri adalah melatih POWER yang menguatkan.

Maka mungkin inilah yang sebenarnya kita pelajari. Kita butuh terus dan terus belajar dan bermain dengan angka-angka di dalam sini dan di luar sana. Sampai suatu saat, yang kita temukan adalah huruf yang jumlahnya tiga. Selama itulah kita diminta terus belajar.

"Nilai adalah derajat keindahan yang diukur jaraknya dari nol."