"I" Inc.Ltd



Bersama Pak Yan Nurindra dan teman-teman, kemarin saya belajar banyak tentang VAP (virtual assistant program) dan ego state.

Di antaranya adalah bahwa dalam satu minggu kehidupan kita ada sekitar 5-15 ego state yang aktif dan maju ke depan secara bergantian. Itu, belum termasuk underlying ego states (ego-ego yang tidak termasuk lingkar dalam di istana hidup kita alias ego-ego yang terbenam jauh d
i bawah sadar).

Sampaii di rumah dan menjelang tidur pun, saya terus mengolah, menarik, dan mengekstraksi pelajaran-pelajaran yang berharga tentang ego. Bahkan pagi ini, saya jadi penasaran... terkait status ini saja entah berapa ego yang terlibat.

Berbicara ego memang menarixs dan salah satu sudut pandang yang rasional tentang ego state dan kaitannya dengan VAP itu mungkin begini.

Kita akan cenderung powerful alias berdaya jika kita dapat menselaraskan pikiran dan perasaan terkait sebuah fenomena, keadaan, atau kejadian. Sebaliknya, kita akan cenderung powerless alias tidak berdaya jika pikiran dan perasaan kita berkonflik, bergesekan, atau bertentangan. Dalam bahasa ego, jika ego-ego saling mensabotase, saling tidak memberdayakan, atau saling membatalkan keberdayaan. Contoh klasik tentang hal ini adalah "iya sih... tapi." Ego dapat menjadikan kita tdak merdeka dan tidak berdaya dan sebaliknya ego juga dapat menjadikan kita merdeka dan berdaya.

Yuk latihan.

Misalnya kita berhadapan dengan sebuah situasi A. Lalu, kita mengatakan (secara implisit atau eksplisit), "Duh... sepertinya ini memang sulit dilakukan, sebab saya memang tidak terlalu banyak tahu tentang keadaan ini." Ego kita sedang menjadikan kita tidak berdaya.

Bayangkan ini. Seseorang berhadapan dengan situasi yang sama yaitu situasi A. Kemudian, ia mengeluhkan situasi itu dengan keluhan yang sama seperti di atas kepada anda.

Jika ANDA di mata orang itu:

1. Disegani dan dihormati.
2. Layak didengar pendapatnya.
3. Dipercaya pendapatnya bijaksana.

Kira-kira, apa yang ANDA nasehatkan?

Mungkin begini. "Ah enggak kok. Nggak terlalu sulit. Informasinya gampang dicari loh. Keep trying aja. Entar juga pasti ada progressnya. Gue percaya dah, lu pasti bisa." Ego ANDA sedang bekerja memberhasilkan orang lain.

Maka kapanpun anda merasa tidak berdaya, anda merasa powerless, anda merasa bahwa situasi, keadaan, atau kejadian yang datang kepada anda sulit dibenahi, diselesaikan, atau diatasi, ANDA tahu toh harus bagaimana?

Gampang-gampang susah, tapi anda memang patut selalu mempercayai diri ANDA sendiri.

Maka, saya pun berpikir bahwa saya perlu selalu mengerti dan memahami, siapakah yang sebenarnya menulis artikel ini.

Si Amarah kah? atau
Si Lawwamah? atau
Si Mulhammah? atau
Si Mutmainah?

Si Shadr? atau
Si Qalb? atau
Si Luub?

Si Latifah? atau
Si Bashirah?

Sungguh, amat sangat tergantung pada saya selaku investor dan owner yang harus memilih siapa yang saya bina, saya angkat, dan saya jadikan pimpinan board of director.
Dan sungguh senang rasanya, ketika saia menyadari betapa saya diberi kesempatan begitu luas untuk membina, mengangkat, dan menempatkan middle-middle manajer yang begitu sungguh luar biasa.

Banyak, dan minimal saya bisa memposisikan setidaknya 99 middle-middle manajer untuk mengatur segala urusan organisasi kehidupan saya: - I Inc.Ltd -

- Abdul Malik
- Abdurrahman
- Abdul Muhaimin
- Abdussala
m
- Abdul Aziz
- Abdul Ghaffar
- Abdul Latif
- dan seterusnya

Bisnis I Inc.Ltd punya visi dan misi yang sebenarnya sederhana, yaitu semakin MENGENAL dan BERTANGGUNG JAWAB kepada SATU-SATUNYA yang bukan abdi. Mungkin ini sebabnya mengapa saya yang Abdullah diciptakan dan diposisikan sebagai Khalifah yang diberi modal untuk menjadi owner dan komisaris di I Inc.Ltd.

Mencari Kesalahan

Dua belas tahun, saya pernah punya profesi yang pekerjaannya adalah "mencari kesalahan". Menurut saya, itu pekerjaan yang paling mudah dilakukan di dunia.

Dan ternyata, menemukan kesalahan pada diri orang lain tidak lantas membuat apa yang ada pada diri saya menjadi benar.

Kemudian saya menyadari bahwa tugas saya adalah merefleksi.

Jika saya tak menemukan kesamaan, kewajiban saya adalah bersyukur dan bukan menyombongkan diri.

Jadi, semua itu adalah antara kesalahan mereka dan diri mereka, bukan antara kesalahan mereka dan saya.

Jika mereka meminta bantuan saya, tugas saya adalah membantu mereka merekonsiliasi diri mereka sendiri.

Sementara itu, saya sendiri mungkin seperti seorang pengembara menuju AA yang sedang tersesat. Lalu seseorang yang lain menuju A juga tersesat dan bertanya arah kepada saya. Siapa tahu, saya masih bisa mengingat arah ke A dan membantunya, dan siapa tahu ia pernah tahu arah ke AA dan membantu saya.

Enam Sahabat Keberhasilan

Ada enam jenis manusia yang jika kita sikapi, antisipasi, dan urusi dengan bijak, maka mereka ibarat sparring partner yang insya Allah mengantarkan kita menjadi yang berhasil. Aamiin... aamiin...

1. Mereka yang MERAGUKAN dan ingin kita gagal entah kenapa.

2. Mereka yang MENGHISAP DARAH seperti lintah dan parasit yang menempel dan melekat erat.

3. Mereka yang MENGKRITIK agar rasa percaya diri ki ta terus jatuh yang mengguncang seperti gempa bumi.

4. Mereka yang MENDENGKI karena keberanian yang tak mereka miliki karena kitalah yang telah memperjuangkannya.

5. Mereka yang selalu MENUNTUT BELAS KASIHAN karena merasa mereka adalah korban kehidupan dan orang lain.

6. Mereka yang menjadikan dirinya ANGIN RIBUT tapi sekedar ingin membuat kekacauan tanpa jelasnya tujuan seperti pengembara yang numpang lewat dan berlalu.

Know yourself, know your enemies, know the weather, know the terrain.

Keraguan mereka adalah ujian bagi keyakinan kita.

Hisapan kuat mereka pantas kita anggap sebagai upaya mendonorkan darah.

Cerna kritik mereka SATU PER SATU dan jangan borong semua kritik sekaligus sebab mungkin kita belum siap dan itu sebabnya setelah SATU kritik jagalah jarak dari mereka sampai kita haus akan KRITIK selanjutnya.

Kedengkian mereka adalah ujian keberanian dan semangat juang.

Wajah memelas mereka adalah cermin untuk melatih keberdayaan.

Keributan mereka adalah tradisi pesta meriah yang segera usai sampai ada alasan baru untuk berpesta lagi.

Sekedar memahami dan mengerti mereka saja sudah lebih dari cukup untuk membuat kita berhasil jika kita bertahan mempertahankan cita-cita baik dengan berusaha keras mengejar skor kepantasan.

Sebab, pemahaman dan pengertian kita akan menjernihkan nilai-nilai kita, menguatkan sikap-sikap kita, menegaskan pilihan-pilihan kita, memastikan langkah dan tindakan kita ke sana.

Apa yang perlu kita sadari adalah keberadaan mereka di mana saja di sekitar kita sepanjang waktu sampai kita mati di dalam cinta karena Tuhan tak pernah menciptakan apapun untuk sia-sia.

Apapun dan siapapun yang didatangkan Tuhan ke dalam hidup kita adalah TAMU.

Hidupmu adalah RUMAHMU selama hidupmu.

Ketika kita berjalan, sungguh pantas kita berbahagia saat menemukan dahi-dahi di sekitar kita bertuliskan, 7, 8, dan 9. Merekalah tempat kita belajar menenteramkan hati. Sebab di dahi kita sendiri mungkin masih tertulis 1, 2, 3, 4, 5, atau 6.

Maka mulai sekarang, ada baiknya kita terus bertanya sambil menerawang ke dahi siapapun yang kita temui, "nomor berapa?".

Setiap angka adalah sahabat kehidupan, agar kita makin mendekat kepada Sang Pemilik angka 10.

Terjebak pada yang enam adalah mengaktivasi FORCE yang melelahkan. Mengurusi diri sendiri adalah melatih POWER yang menguatkan.

Maka mungkin inilah yang sebenarnya kita pelajari. Kita butuh terus dan terus belajar dan bermain dengan angka-angka di dalam sini dan di luar sana. Sampai suatu saat, yang kita temukan adalah huruf yang jumlahnya tiga. Selama itulah kita diminta terus belajar.

"Nilai adalah derajat keindahan yang diukur jaraknya dari nol."

Mengapa Tuhan Menciptakan Sakit

Yang berikut ini semoga membantu kita menemukan jawaban.

Hidup ini mungkin sering menyakitkan. Sakit secara fisik dan merasa sakit secara mental. Kita diuji dengan sakit fisik dan merasa disakiti oleh orang, keadaan, dan kejadian.