Untuk Yang Senang Berkata Tidak Bisa


Katakan, "kita pasti bisa!"

"Hati nurani diciptakan hanya untuk satu tujuan, yaitu agar kita mau mendengarkan."

Kita, tidak bisa tidak merasa sebab tak merasakan apa-apa adalah sebuah perasaan yang tanpa makna.

Kita, tidak bisa tidak berpikir sebab tidak berpikir adalah pikiran yang sedang mengamati.

Kita, tidak bisa tidak memilih sebab tidak memilih adalah juga pilihan.

Kita, tidak bisa tidak memutuskan sebab tidak memutuskan adalah sebuah keputusan.

Kita, tidak bisa tidak menginginkan sebab tidak menginginkan adalah keinginan yang menolak.

Kita, tidak bisa tidak berharap sebab tidak punya harapan adalah mengharapkan keajaiban.

Kita, tidak bisa tidak memiliki cita-cita sebab tidak memiliki cita-cita adalah mencita-citakan ketidakjelasan.

Kita, tidak bisa tidak merencanakan sebab tidak merencanakan adalah merencanakan kesimpangsiuran.

Kita, tidak bisa tidak bertanya sebab di hadapan pilihan demi memutuskan kita pasti bertanya.

Kita, tidak bisa tidak belajar sebab tidak belajar adalah pilihan belajar lewat penderitaan dan kepahitan yang direncanakan.

Kita, tidak bisa tidak bertindak sebab tidak bertindak adalah aktivitas menjalani penantian.

Kita, tidak bisa tidak bergerak sebab dalam diam kita digerakkan mundur oleh waktu.

Kita, tidak bisa tidak berani sebab ketakutan adalah keberanian untuk menjaga dan menyelamatkan diri.

Kita, tidak bisa tidak kuat sebab tidak kuat adalah kemampuan untuk menanggung kelemahan.

Kita, tidak bisa tidak tumbuh sebab tidak tumbuh adalah membesar dengan meluaskan karat dan menebalkan debu.

Kita, tidak bisa tidak maju sebab kemunduran adalah tetap maju ke arah yang salah.

Kita, tidak bisa tidak berhadapan dengan risiko sebab menghindari risiko 'di sana' membawa risiko yang sepadan 'di sini'.

Kita, tidak bisa tidak berhasil sebab kegagalan adalah hasil dari masa lalu kita.

Kita, tidak bisa tidak yakin sebab tidak yakin adalah keyakinan yang sedang bermain di seberang.

Kita, tidak bisa tidak menerima sebab menolak adalah menerima tawaran dari emosi dan ego kita.

Kita, tidak bisa tidak memiliki cinta sebab kebencian adalah jauhnya jarak antara sesuatu dan cinta kita.

Kita, tidak bisa tidak bersyukur sebab segala yang telah ada diciptakan untuk melayani kita dalam rangka menyembah-Nya.

Kita, tidak bisa tidak bersabar sebab waktu diciptakan untuk memisahkan akibat yang belum ada dari sebab yang kita adakan.

Kita, tidak bisa tidak beribadah sebab tidak beribadah adalah menolak adanya Tuhan.

Kita, tidak bisa tidak berdoa sebab tidak berdoa adalah menuhankan diri sendiri.

Kita, tidak bisa tidak berubah sebab tidak berubah adalah menua.

Kita, tidak bisa tidak bertanggungjawab sebab tidak bertanggungjawab juga ada konsekuensinya.

Semua itu adalah tanda bahwa kita:

1. Masih sadar, hidup, dan ada,
2. Masih diberi waktu, peluang, dan kesempatan,
3. Masih dimungkinkan merealisasi potensi menjadi kenyataan dan mengkreasi kehidupan yang membahagiakan.

Sungguh, Tuhan Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Makin semangat!

Ikhwan Sopa

Semua Terpulang Ke Diri Sendiri


Hidup adalah tentang menyadari kehadiran. Fenomena kehidupan dihadirkan kepada kita lewat pintu-pintu panca indera. Lalu dengan segala cara pemaknaan, kita mengubah kehadiran menjadi kenyataan. Siapapun kita, tentu berharap apa yang hadir dapat kita maknai sebagai keindahan, kebaikan, dan kebenaran menurut keyakinan kita. Dan jika semuanya terintegrasi dan selaras, kita menyebut kenyataan hidup kita sebagai hidup yang indah, baik, dan benar.

Mengapakah, bertemu dengan duri di tengah jalan dan lalu menyingkirkannya kita diimbali pahala? Bukankah kita bisa melewatinya tanpa menginjaknya dan lalu melupakannya? Sudah selesaikan urusan kita? Karena dengan melihatnya saja kita telah menghadirkannya ke dalam kehidupan. Lalu, pemaknaan kita memproyeksikan bagaimana orang lain yang mungkin tidak melihatnya tanpa sengaja menginjaknya dan menjadi celaka.

Cerdasnya akal dan pikiran kita memproyeksikan kemungkinan kenyataan buruk yang akan terjadi. Sekalipun itu terjadi pada orang lain, bayangan itu saja sudah menjadi sesuatu yang tidak indah, tak baik, dan tak benar sesuai keyakinan kita. Menyingkirkannya demi orang lain, bukanlah untuk orang lain, tapi untuk keindahan kenyataan hidup kita sendiri yang tak ingin mendengar kabar si Fulan menginjak duri. Artinya, kita telah berupaya mengindahkan, membaikkan, dan membenarkan apa yang akan menjadi isi dari kenyataan hidup kita.

Kita ingat, kita diajari tentang "kalimat yang baik". Mendengar musibah ber-innalillahi. Melakukan kesalahan ber-istighfar. Mendapat nikmat bersyukur. Merasa dengki meminta ampun. Melihat kedahsyataan ber-Masya Allah. Mencium bau busuk begitu juga. Hanya dengan mendengar, melihat, merasakan, mencium, dan dengan segala cara lain untuk bereaksi terhadap kehadiran yang mungkin ada, kita telah mendatangkan berbagai bentuk potensi kenyataan kehidupan. "Kalimat yang baik" adalah cara pemaknaan terbaik yang dapat kita lakukan dengan mengingat Yang Maha Menghadirkan. Sekali lagi, kita mencoba mengindahkan, membaikkan, dan membenarkan hidup kita.

Itu sebabnya (maaf saya harus mengatakan ini), terkait pesawat Sukhoi yang kemarin jatuh itu, setiap kita punya porsi tanggungjawab tentangnya. Kok bisa? Ya, sebab dengan hanya melihat di televisi, membaca di koran, atau mendengar dari radio saja, kita telah menghadirkan berita buruk itu ke dalam hidup kita. Sekalipun hanya berita, keburukan adalah keburukan. Maka sekali lagi, "kalimat yang baik", perasaan yang tepat serta proporsional, dan tindakan yang benar, adalah reaksi yang tepat demi tetap menjadikannya kenyataan hidup yang bermakna. Dan tanggungjawab itu, adalah tanggungjawab kita atas indah, baik, dan benarnya kenyataan hidup kita sendiri.

Itu sebabnya mereka yang bijak mengatakan, yang baik atau yang buruk, tentang pikiran, perasaan, dan perbuatan kita, tak pernah mengenai orang lain dan selalu terpulang kepada diri sendiri.

Si Fulanah mengalami musibah penjambretan. Benar bahwa dia berhak untuk bereaksi dengan membalas setimpal. Membalas setimpal adalah menegakkan keadilan, itu indah, baik, dan benar. Membalas melebihi porsinya, adalah memburukkan kenyataan hidup Fulanah sendiri sebanyak dua kali. Pertama, Fulanah mengklarifikasi kehadiran musibah itu menjadi kenyataan kehidupan yang mana musibah itu tak indah, tak baik, dan tak benar. Kedua, Fulanah membalas berlebihan adalah menghadirkan musibah untuk kedua kalinya, yaitu dengan menciptakan dendam dan dendam pastilah bukan sesuatu yang indah, baik, dan benar menurut keyakinan Fulanah.

Lepas dari siapa yang teraniaya dan siapa yang menganiaya, Fulanah tetap saja telah menghadirkan kenyataan buruk ke dalam hidupnya dengan pemaknaannya tentang kejadian itu sebagai "musibah". Maka, hal terpenting yang perlu dilakukannya adalah justru meminta maaf kepada diri sendiri atas pemaknaan yang tak indah, tak baik, dan tak benar itu. Semua itu memang tak bisa dihindari kehadirannya sehingga kita "terpaksa" memaknainya sebagai keburukan. Itu sebabnya pula kita mengatakan "tak ada manusia yang sempurna". Karena, di dalam koleksi makna hidup kita, kita juga tak bisa menghindari label-label buruk yang tak indah, tak baik, dan tak benar di mana setiap saat - kita sadari atau tidak, kita gunakan untuk memaknai (baca: menciptakan) kenyataan kehidupan.

Siapapun yang mengalami perampokan, lepas dari siapa yang dirampok dan siapa yang merampok, tetap saja si korban perampokan berhutang maaf pada diri sendiri, karena telah mengklarifikasi "telah terjadi perampokan di dalam hidup saya, dan itu bukan sesuatu yang indah, baik, dan benar". Siapa yang mengklarifikasi, siapa yang memaknai, dan siapa yang merasakan? Dan klarifikasi itu, akan menjadi isi dari file memori, dan isi file memori adalah dasar-dasar mengambil keputusan di masa depan. Manusia memang tak sempurna. Keputusan seperti apa yang didasarkan pada informasi yang tak indah, tak baik, dan tak benar, plus ia sama sekali belum berdamai dan menetralisir makna itu?

Kita mungkin bertanya, bagaimana mungkin Beliau SAW yang telah dijamin masuk surga, masih saja meminta ampun kepada Tuhan? Dan ketika ia ditanya, Beliau menjawab dengan lebih membingungkan, "tak bolehkah aku bersyukur?" begitu kata Beliau. Apa yang Beliau mintakan ampun dan apa yang Beliau syukuri?

Beliau mensyukuri kesadarannya yang masih mampu memberi makna tentang kenyataan kehidupan. Beliau menyadari bahwa dirinya telah dijamin masuk surga, tapi pada saat yang sama Beliau mengerti bahwa Beliau sendiri masih menghadirkan segala ketidakindahan, ketidakbaikan, dan ketidakbenaran ke dalam kenyataan kehidupannya lewat segala pemaknaan, dengan mengklarifikasi "ada manusia jahiliyah", "ada yang memusuhi saya", "kejahatan masih berseliweran", "kesyirikan merajalela", dan seterusnya. Dan Beliau, meminta ampun kepada Tuhan dan meminta maaf kepada diri sendiri atas segala pemaknaan yang mengkreasi segala kenyataan hidup itu.

Jika kita kecewa tentang apapun dalam hidup kita, kita punya sedikit hak untuk bereaksi sebagai manusia normal. Lepas dari itu, apa yang akan kita lakukan terkait kenyataan bahwa diri kita sendiri jugalah yang menciptakan kekecewaan itu dan kita menyakini bahwa "kecewa" bukanlah sesuatu yang indah, baik, atau benar?

Maafkan aku wahai diri, aku tak bisa memaknai lain selain "kecewa", dan aku tahu bahwa kekecewaan kuyakini tidak indah, tak baik, dan tak benar bagimu. Dengan terpaksa kuciptakan kenyataan hidup seperti ini bagimu. Maafkan aku, aku mencintaimu.

Jika engkau memusuhi orang, engkau memusuhi diri sendiri dengan mengklarifikasi (baca: menciptakan) permusuhan di dalam hidup. Bukankah "permusuhan" adalah musuh dari keyakinanmu?

Jika engkau menganiaya orang lain, engkau menganiaya diri sendiri, dengan menciptakan "penganiayaan" di dalam hidup, dan bukankah "penganiayaan" adalah sebentuk aniaya terhadap apa yang engkau yakini?

Jika engkau marah, bukankah dirimu sendiri mungkin marah atas kemarahan itu, sebab kemarahan itu mungkin tidak indah, baik, atau benar?

Jika engkau sinis, bukankah dirimu tak menyukai itu? Buktikan saja, dengan merasakan apa yang engkau rasakan saat orang lain sinis padamu.

Yang baik datang dari Tuhan dan yang buruk dari diri sendiri.
Yang baik dibalas kebaikan oleh Tuhan dan yang buruk akan terkena ke diri sendiri.

Tips Presentasi dan Public Speaking

Ada yang nanya, "Pak, mo presentasi nih, ada tips?"

Ya, "be present" aja.

Badan hadir di situ, kepala hadir di situ, pikiran hadir di situ, perasaan hadir di situ. Ngomongin yang terpaut dengan kepentingan orang-orang di situ.

Have fun-lah.

"Trus, gimana kalo di audience ada yang lebih dari saya, jabatannya, pangkatnya, lebih berpengalaman atau lebih pintar dari saya?"

Satu hal yang perlu dipastikan, kamu lebih mengerti yang kamu omongin daripada audience kamu, atau minimal kamu lebih banyak informasi. Presentasi jualan sendal jepit di hadapan presiden pun, kamu berpeluang lebih mengerti tentang sendal jepit (itu).

"Kalo di depan kelas deg-degan gimana Pak?"

Itu cuma detak jantung yang menjadi lebih cepat, terjadi karena 'mode survival' teraktivasi, padahal false alarm.

Kata orang medis, kelenjar keringat sebesar kacang yang nongkrong di atas ginjal membuka keran lebar-lebar menyuntikkan adrenalin ke dalam darah. Jantung lalu bereaksi dengan memompa lebih banyak darah ke seluruh tubuh, yang biasanya dilakukan untuk menjaga otot dan jaringan dari benturan. Itu semua adalah normal menandakan diri masih sehat wal afiat. Yang tidak normal adalah sinyal pikiran yang mengaktivasi itu.

Mindset kamu masih memaknai audience sebagai musuh padahal mereka teman. Oleh sebab itu datanglah sebelum audience berdatangan, supaya kamu merasa menjadi tuan rumah yang menerima tamu, lalu bersahabatlah dengan mereka lewat meet and greet.

Sedikit banyak, sesaat hendak menyeberang jalan jantung juga bergetar karena fenomena yang sama. Bayangkan tanpa itu, menyeberang jalan dengan kepala dan darah yang terlalu dingin tanpa khawatir sama sekali. Malah berbahaya kan?

Itu semua normal, hanya saja terjadi salah kaprah internal. So, tertuduhnya adalah mindset, dan jangan pernah lagi minta nggak deg-degan hilang, nanti jantungmu ngambek.

Perhatikan petinju yang siap tanding di sudut ring, pernah lihat mereka sedakep doang sambil cengar-cengir? Yang mereka lakukan adalah memberi kesempatan kepada adrenalin untuk memahami situasi dengan melompat-lompat ringan.

"Bagaimana cara mengendalikan audience?"

Rentang kendali di dalam kelas itu ada tiga,

1. Self Control

Bajaj lewat dengan berisik misalnya. Kamu terganggupun nggak banyak yang bisa kamu lakukan kecuali mengendalikan diri. Ini bahasa diam.

2. Shared Control

Ini kontrol TST alias tahu sama tahu. Mereka duduk, berarti berperan sebagai pendengar. Kamu berdiri di depan, berarti berperan sebagai pembicara. Detik mereka masuk ke ruang kelas, detik itu juga pada dasarnya mereka tahu bahwa misi mereka adalah mendengar. Itu artinya, detik kamu datang kamu juga tahu bahwa kamu adalah pembicara. I'm the voice, kata Anthony Robbins. Ini bahasa kode dan bahasa sinyal.

3. External Control

Ini juga kontrol TST pada skala yang chunk-up banget, misalnya moralitas. Misalnya, kalo ada yang mau buka celana trus pengen pipis di sudut ruangan, nggak usah pake dinasehati panjang lebar, panggil aja satpam. Hua...ha...ha. lebay.

"Ane di depan kelas lagi ngoceh, trus di pojokan ada yang ngoceh juga. Kan ngganggu tuh, gimana?"

Ini yang saya maksud dengan shared control tadi, gunakan bahasa kode dan sinyal.

Sambil tetap ngoceh, berjalanlah perlahan ke arah mereka yang ngoceh juga itu. Berhentilah di titik 'social distance' lapis ke tiga (sekitar tiga meter dari mereka) dan berharaplah mereka mengerti sinyal ini.

Kalo mereka tetap ngoceh, melangkahlah lebih dekat lagi dan berhenti di 'social distance' lapis kedua (sekitar satu setengah sampai dua meter dari mereka) dan berharaplah sekali lagi. Katakan sesuatu, lalu berpalinglah kepada mereka dan tembak, "Bukankah begitu?"

Kalo mereka tetap ngoceh setelah itu, lebih merapatlah ke mereka, berdiri menghadap mereka, lalu challenge mereka dengan bertanya, "Menurut Anda berdua gimana nih?"

Kalo setelah itu masih ngoceh juga gimana? Entahlah. Keplak aja kali. Hua...ha...ha.. nggak ding. Suruh aja ke depan jadi pembicara, "Sepertinya Mas X dan Mbak Y ini punya pendapat yang bagus, monggo silahkan ke depan sharing ke kita-kita."

Happy presenting and public speaking!

Pentingnya Berdoa

Kisahnya adalah yang terpanjang. Namanya paling banyak disebut. Kasih sayang Tuhan tercurah mengalir didemonstrasikan kepadanya. Tak lama setelah lahir diangkat menjadi pangeran kerajaan dan hidup di istana. Diberi kesempatan berbicara langsung dengan-Nya. Dianugerahi tubuh tinggi besar dan kuat. Dan ia tetap berdoa. Satu-satunya cara terindah mengasihani diri sendiri adalah dengan berdoa. Berdoa itu penting sekalipun pendek, sependek doa Nabi Musa.

Bahayanya Rutinitas

Tidak hanya terjebak rutinitas. Seperti APBN, hidup ini bukan cuma rutin tapi juga punya nilai proyek, sesuatu yang tak sering kita laksanakan dan bahkan kita jalani cuma satu kali. Perlu kita nikmati dengan rasa nyaman telah melakukan apa yang perlu dilakukan.

Tetap Teguh Berdoa

Kerja hari ini mungkin telah selesai tapi doa-doa masih jauh dari ujungnya. Mari tetap teguh di dalam doa sekalipun seperti mustahil yang kita pinta. Seperti doa Nabi Zakaria yang menyadari tiga kenyataan hidup yang akal sehat setiap manusia memustahilkan pencapaiannya. Ia meyakini bahwa Tuhan itu Maha adanya.

Magnet Keberuntungan

Namanya polarisasi, alias pengkutuban. Seperti di bumi ada kutub utara dan kutub selatan. Seperti adanya siang dan malam, seperti atas dan bawah, seperti terang dan gelap, seperti besar dan kecil, seperti panas dan dingin, dan seperti segala bentuk dualisme di alam semesta lainnya. Pada itu semua, polarisasi itu sudah dilekatkan 'dari sononya'. Pada kita, polarisasi itu kita bangun dengan kekuatan kehendak kita. Namanya kemampuan memilih.

Terpolarisasi dengan baik, artinya memiliki kemampuan memilih yang akurat. Kemampuan itu dibangun dengan membiasakan diri memilih dengan tegas dan jelas tentang segala pikiran, perasaan, dan tindakan (bukan cuma calon gubernur).

Hasil baik dari polarisasi diri yang baik, seperti menciptakan kutub magnet utara dan selatan di dalam diri. Ibarat kompas yang memanfaatkan polarisasi dan magnet bumi, dia yang terpolarisasi dengan baik memiliki 'kompas internal' untuk segala kepentingan hidupnya. Itu sebabnya, dia menjadi pribadi yang tajam intuisinya serta kreatif pikiran, perasaan, dan tindakannya.

Pribadi yang lain menyebut dirinya sebagai manusia yang selalu beruntung. Itu, karena dia memang memilih untuk selalu memiliki hidup yang beruntung. Ia menciptakan polarisasi itu, lalu hidupnya terbentuk menjadi magnet keberuntungan, dan terus berlanjut dengan segala keberuntungan berkat intuisi dan kreatifitasnya.

G-Law Alias Galau

G-LAW

Ini cuman artikel ngawur sak ngawurnya.

G-Law alias galau terjadi karena kekacauan gravitasi. Fenomena ini secara ngawur dinamakan "G-Law Effect". G itu mewakili gravitasi alias daya tarik. Apapun di alam semesta ini memiliki tingkat gravitasinya sendiri-sendiri. Ada yang kuat dan ada yang lemah. Keseimbangan semesta kehidupan tercipta dari kerjasama yang indah dari kekuatan-kekuatan gravitasi.

G-Law Effect yang berdampak menciptakan galau dapat terjadi jika keseimbangan gravitasional itu terguncang atau mengalami pergeseran. Sesuatu menjadi berdaya tarik lebih besar dan menarik sesuatu yang lain. Sesuatu yang lain itu bergeser dan mempengaruhi gravitasi sesuatu yang lain lagi. Ketika riak yang mengguncang ini terjadi liar dan berantai, terciptalah badai medan magnet dan kekacauan gravitasi.

Ciri paling khas yang menandakan sedang terjadinya kegalauan alias terguncangnya keseimbangan gravitasional tercermin dari bentuk-bentuk komunikasi yang tidak tegas, tidak jelas, dan tidak memberdayakan seperti ini,

"Iya sih... tapi..."

Sesuatu yang diiyakan awalnya memiliki daya tarik besar tapi kalah daya tariknya oleh sesuatu yang lain. Sesuatu yang lain itu menjadi lebih kuat daya tariknya karena terpengaruh gravitasinya oleh sebuah komet yang lewat sementara dan sebenarnya akan segera berlalu. Ibarat lautan yang menjadi bergelora ketika musim barat tiba, itu adalah pengaruh gravitasi bulan dan pergeseran rutin bumi 23 derajat. Karena memang rutin, yang diperlukan cuma pembiasaan dan pelan-pelan menyesuaikan diri. Dan bulan tetap saja mencorong di atas sana sampe kiamat.

Sesuatu yang gravitasinya paling kuat biasanya adalah harapan, impian, atau cita-cita. Sayangnya, pilot-pilot sering nggak sabaran memicu pesawat secepat-cepatnya untuk tiba ke planet impian. Tak ayal, mereka malah mengalami galau tingkat berat, namanya G-Loc (Loss of Consiousness). Kalo sudah begini, yang bersangkutan biasanya pingsan, karena pengennya kelewat gede dibanding badannya. Boro-boro masih mampu melihat planet harapan, pesawatnya malah keluar orbit membawanya entah ke galaksi mana.

Waspadai G-Law!

Terapi Galau

Galau itu badainya pikiran, geloranya perasaan. Pikiran sibuk berdebat dan saling mempertanyakan diri sendiri. Berasa seperti comberan diobok-obok anak muda pengangguran lagi nyari cacing lumbricus rubellus. Kayak meeting yang begitu ramai dan riuh rendah dan tak pernah berhenti. Telinga berdengung kepala berdenging. Tidur susah makan kagak enak. Di tempat rame kayak sepi, di tempat sepi serasa pengen ngejambak rambut sendiri. Nelen ludah aja susah, dada kek mau pecah, perut diplintir-plintir.

Nggak apa, it's ok. Galau itu emosi. Emotions are events, and events are meant to be short lived. Seperti bandul yang mengayun ke kanan dan ke kiri. Jangan nggelayut di bandulnya, tapi peganglah talinya.

1. Banyakin ibadah (tipsnya yang Maha Menciptakan, bapak, ibu, guru, ustadz, kyai, dan guru ngaji).

2. Lemesin otot dengan olah raga dan pijat urut.

3. Berbaik sangka dengan pikiran dan perasaan diri sendiri, mereka sedang bekerja keras menjawab pertanyaan dan tantangan hidup. Masih untung bisa mikir dan ngerasa. Berterimakasihlah pada mereka berdua dan niatkan keduanya bekerja sama dengan bawah sadar yang jauh lebih pintar. Masih galau berarti masih hidup. Tetap bertahan sampai hari ini sebagian besar adalah peran kecerdasan bawah sadar. Tanpa bersyukur galau menjadi-jadi.

4. Berbaring atau duduklah lalu bayangin langit yang mendung dan berawan, berangsur-angsur menjadi cerah biru terang (tipsnya NLP).

5. Sukai yang baik-baik dan yang bagus-bagus. Memilih sikap dan kecenderungan sangat membantu pikiran, perasaan, dan bawah sadar untuk mengerti apa yang sebenarnya kita inginkan (tipsnya pakar bawah sadar).

6. Urus peliharaan atau bercengkrama dengan mereka. Kucing, anjing, ikan, sapi, kebo, atau gajah barangkali. Ngobrollah dengan mereka dan curhat kalo perlu. Jangan keterusan, nanti gila (tipsnya Cesar Millan).

7. Ciptakan vortex. Kalo sulit menghentikan badai, bersahabat dengannya mungkin sangat membantu. Vortex itu mata badai, pusat badai yang kuat menyedot segala yang di sekitarnya. Ciptakan badaimu sendiri, bayangin aja dia menyedot habis segala kegalauan (tipsnya Storm Chasers).

8. Bayangin ombak yang bergulung balik kembali ke laut membawa semua kegalauanmu. Lebih bagus kalo pergi ke pantai aja sekalian dan bayangin yang sama saat deburan ombak menyurut balik ke arah cakrawala. Pantai Selatan kalo perlu. Berendamlah setinggi pinggang biar kerasa banget tarikannya. Jangan terlalu ke tengah, ntar klelep (NLP lagi).

9. Ingat ini, "di sini" dan "sekarang". Galau itu sering identik dengan terus-terusan menyesali masa lalu dan sadar atau tidak sadar berprasangka buruk tentang masa depan. Perhatikan, apa yang hadir di sini dan sekarang lewat lima panca indera adalah keindahan. Buktiin aja (tipsnya Echart Tolle pakar "di sini" dan "sekarang").

10. Bayangin diri jadi Sponge Bob menyerap semua kegalauan sembari menikmati Bikini Bottom. Hai Gary... hai Patrick... hai Sandy... hai tuan Krab... hai Squidward... (tipsnya Nickleodeon).

11. Sibuklah mengurus diri. Perhatikan dari ujung jempol sampe ujung rambut kepala. Motong kuku kek, nyukur bulu betis kek, ngorek kuping kek, nyari kutu atau nyerit kek. Note: Tidak termasuk ngupil dan mencet jerawat. Ngupil terlalu sedikit pengaruhnya karena menurut statistik kita sudah terlalu sering melakukannya. Mencet jerawat justru menaikkan level galau dua atau tiga tingkat (tipsnya Dr. Frank Hladky, pakar Bio Energetics Therapy).

12. Brentiin waktu. Caranya, luangkan waktu setengah sampai satu jam mengamati yang kecil-kecil kek semut atau ncuk alias jentik nyamuk. Kalo perlu yang lebih kecil lagi pake mikroskop (tipsnya Jiddu Krishnamurti - pakar anti badai / meditasi).

13. Jadi pengamat untuk kegalauan diri sendiri. Kalo konsisten, galau tau-tau sudah berada di luar kita. Tinggal buang ke tong sampah.

Prens, Bro, Sis, hidup ini indah loh... sueeeer!