Peran Penting Persepsi dan Keyakinan

Selamat malam sahabat,

Jika kita berbicara tentang realitas kehidupan, maka kita selalu berbicara tentang kualitas dan bukan kuantitas. Mereka yang berharta banyak bisa susah hidupnya dan mereka yang berharta sedikit bisa berbahagia.

Jika kita berbicara tentang realitas kehidupan, maka realitas kehidupan kita lebih didominasi oleh realitas mental ketimbang realitas fisik. Dia yang sakit bisa merasa tenang dan dia yang sehat bisa merasa tak karuan.

Semua itu hanya berarti satu hal, yaitu bahwa realitas kehidupan kita lebih ditentukan oleh persepsi yang kita bangun. Cara kita membangun persepsi adalah dengan mempekerjakan image diri, fokus perhatian, interpretasi, dan ego sehingga semua itu menciptakan hubungan-hubungan di antara berbagai hal.

Jika kita pernah melihat gambar lingkaran dan persegi, maka dengan mudah engkau mengerti gambar ini.

"Saya cukup pintar. Saya pernah melihat gambar seperti ini. Namanya lingkaran dan persegi. Ah, ini mah gampang!"

Jika kita belum pernah melihatnya, maka kita membangun persepsi dengan menghubungkan garis-garis dan ruang kosong menjadi sesuatu yang kita merasa mengerti dan memahami. Kita berusaha mengerti dan memahami dengan menghubungkan apa-apa yang saling berdekatan atau apa-apa yang 'seperti ada hubungannya'.


"Saya ini nggak ngerti. Entah apa namanya gambar ini. Kira-kira apa ya? Paling disambung-sambungin nih. (Atau, alah gini aja dipikirin! Atau, lebih baik nanya ah.)"

Saringan utama yang kita gunakan dalam membentuk persepsi adalah keyakinan kita, dan kita cenderung hanya memilih dan menerima apa-apa yang mendukung keyakinan kita, sekalipun keyakinan itu tidak memberdayakan.

Supaya realitas kehidupan kita makin indah, baik, dan presisi, kita perlu mewaspadai keyakinan kita agar persepsi yang kita bangun menciptakan realitas hidup (minimal realitas mental) yang memang indah, baik, dan presisi. Pada saatnya, realitas hidup kita akan menjadi umpan balik bagi segala keyakinan kita. Begitulah caranya kita membangun realitas kehidupan dari waktu ke waktu.

Maka, persepsi realitas kehidupan yang buruk akan makin memburukkan hidup kita, dan persepsi realitas kehidupan yang indah, baik, dan presisi akan makin mengindahkan, membaikkan, dan menepatkan hidup kita. Inilah yang dimaksud dengan, "kita menciptakan hidup kita sendiri."

Di masa sekarang, kita perlu menginventarisir berbagai keyakinan yang kita pegang (dan tentang keyakinan, kita jarang sekali membuktikannya, sesuai dengan definisi resmi dari keyakinan yaitu 'percaya yang tak perlu bukti'). Manakah keyakinan kita yang memberdayakan dan manakah keyakinan kita yang tidak memberdayakan?

Ke masa lalu, kita perlu memverifikasi keyakinan kita dengan mengidentifikasi sumber-sumbernya yaitu otoritas (misalnya orang tua, guru, dan teman), emosi, intuisi, logika, ilmu pengetahuan, dan panca indera. Adakah situasi dan karakteristik yang tidak memberdayakan terkait dengan semua sumber keyakinan itu?

Ke masa depan, kita perlu mewaspadai cara kita memilih bahasa yang kita gunakan kepada diri sendiri dan orang lain, lingkungan, dan pengalaman. Apa yang biasa kita katakan? Dengan siapa saya berkumpul dan bergaul? Pengalaman apa yang saya pilih?

Menguatkan keyakinan yang memberdayakan kita lakukan dengan mengambil tindakan, sebab tindakan akan memvalidasi keyakinan. Kita akan berkata, "Tuh kan?"

Melemahkan keyakinan yang tidak memberdayakan juga kita lakukan dengan tindakan, yang bertujuan membuktikan keyakinan yang sebaliknya. Kita juga akan berkata, "Tuh kan?"

Sahabat,

REALITAS kehidupan kita adalah PERSEPSI kita dan persepsi kita sangat ditentukan oleh KEYAKINAN kita.

Makin semangat!

Ikhwan Sopa