Menghadapi dan Menciptakan Kenyataan

Selamat pagi sahabat,

Seorang petani desa mengeluh kepada sahabatnya,

"Kandang kambingku ini sudah terlalu sesak, dengan sepuluh ekor kambing rasanya sudah seperti sulit bernafas."

Sahabatnya yang bijak memberi nasehat, "Masukkan lima ekor ayam ke dalam sini." Petani itu mengikutinya, "Masih tetap sesak" katanya.

Sahabatnya berkata, "Sekarang masukkan dua puluh ekor sapi ke dalam sini." Ragu-ragu, tapi petani itu tetap menurutinya, setelah itu ia berkata, "Sekarang malah makin sesak."

Sekarang, "Masukkan dua belas ekor kerbau dan dua ratus ekor bebek." Dengan setengah marah, petani itu mengikutinya. "Sekarang makin sesak goblok!"

Mereka berdua lalu terdiam beberapa saat dalam hawa panas yang menyesakkan nafas.

Dalam basah kuyup oleh keringat dan kepanasan, sahabatnya lalu berkata, "Sekarang, keluarkan semua ayam, sapi, kerbau, dan bebekmu." Petani itu segera melakukannya.

Lalu sahabatnya bertanya, "Sekarang bagaimana?"

Sahabat, salah satu tertuduh utama yang sering kita anggap terlibat dan punya peran dalam segala persoalan kehidupan adalah hal-hal yang berasal dari dunia "bawah sadar".

Misalnya; kebiasaan-kebiasaan, perilaku-perilaku otomatis, emosi yang meledak-ledak, tindakan-tindakan yang tak dipikirkan matang-matang, masa lalu yang suram atau gelap, kekaburan tentang masa depan yang menjadikan penuntut yang menginginkan berbagai hal harus ada sekarang dan terjadi secepatnya, atau tentang sulitnya kita menerima kenyataan.

Apakah kita berprofesi dan bekerja dalam bidang yang tidak kita inginkan? Apakah kita terjerumus tanpa sengaja ke dalamnya? Apakah itu bukan cita-cita kita? Apakah yang kita lakukan hari ini kita kerjakan dengan terpaksa? Apakah itu semua bukan keinginan kita tapi kita kerjakan semata-mata demi keamanan dan kepastian?

Apakah jurusan kuliah kita bukanlah jurusan yang kita idam-idamkan? Apakah sekolah kita bukan sekolah yang ideal menurut kita? Apakah kita mengambil jurusan itu hanya karena orang tua kita yang menginginkannya?

Apakah pasangan hidup kita bukan pasangan hidup yang kita impikan? Apakah anak dan keluarga kita tumbuh dan berkembang dalam cara yang tidak kita harapkan?

Apakah rekan kerja kita bukan rekan kerja yang kita inginkan? Apakah mereka yang bekerja bersama kita bukanlah orang-orang yang kita ingin bekerjasama dengan mereka?

Apakah rasa kehilangan telah membuat kita kehilangan harapan? Apakah hasil yang tak kunjung datang sudah sedemikian melelahkan?

Inilah saatnya, untuk menyadari bahwa kita tidak bisa menolak kenyataan. Ini saatnya, menerima semua itu dengan sadar sepenuhnya, dan lalu menggesernya menjadi pilihan yang kita hadapi dengan penuh kesadaran. Beginilah kenyataannya. Ini saatnya menyadari tanggungjawab untuk apapun yang disodorkan kehidupan ke hadapan kita, dan menyadarinya sebagai tantangan untuk masa depan yang lebih baik.

Terus menolak dan tak mau menerima kenyataan, hanya akan mendorong kita melakukan blunder yang terus berputar-putar berkepanjangan dan membuat kita makin terjebak di dalam ketidaksadaran.

Menerima dengan sadar, adalah langkah maju yang jelas dan pasti.

"Baiklah, ini semua aku terima sebagai kenyataan hidupku. Aku siap menghadapi dengan penuh kesadaran dan tanggungjawab. Terus, aku harus bagaimana?"

Pertanyaan dalam satu kalimat terakhir itu adalah kunci yang akan membuka pintu.

Jika kita menemukan bahwa segala persoalan kita adalah akibat dari hal-hal yang "tidak kita sadari", maka langkah terbaik kita adalah merelokasi semua itu ke dalam wilayah "kesadaran" kita.

Makin semangat!

Ikhwan Sopa