Kekuatan Versus Kelemahan Persepsi

Selamat malam sahabat,

Waktu kuliah, saya dan teman sekelas sempat terprogram oleh perilaku beberapa dosen.

Jika dosen statistik mulai melepas kacamatanya, maka dengan akurat kami menyimpulkan bahwa ia akan mulai bertanya kepada kami satu per satu. Jika yang ditanya mampu menjawab, ia akan memberi tanda kotak di depan nama yang bersangkutan. Ia punya catatan detil tentang itu.

Jika dosen matematika mulai mendekati jendela dan menyentuh handle kuncinya, maka dengan akurat pula kami memprediksi bahwa ia juga akan mulai bertanya.

Itu semua bisa disebut sebagai anchor.

Manusia itu makhluk yang luar biasa. Ia bahkan bisa belajar dengan akurat hanya dengan sekali pembelajaran alias one time learning. Pelajaran itu, bisa jadi tak akan pernah dilupakannya seumur hidup. Misalnya saja kejadian traumatik atau terciptanya phobia.

Sahabat trainer, pernahkah engkau mencoba memanfaatkan fenomena anchor ini? Misalnya dengan spatial anchor, alias anchor ruang. Di manakah engkau berdiri jika akan bertanya? Di mana engkau mengambil posisi jika akan bercanda? Di mana tempatmu berdiri jika engkau akan serius? Audience pun sama, mereka punya kapabilitas one time learning.

Saya pernah menguji efektifitas one time learning ini. Saat coffee break pertama, saya perhatikan wadah tempat teh dan kopi. Jika terbuat dari aluminium sehingga tak kelihatan isinya, maka sebelum break kedua saya tukar saja labelnya. Hasilnya, cukup banyak yang menikmati teh krimer alias teh tarik dan banyak juga yang terpaksa ngupi-ngupi. (Sekalian, ane minta maaf buat yang pernah mengalami ini karena keisengan saya.)

Lucu ya? Kok bisa kita begitu saja langsung percaya pada huruf dan kata-kata? Dan seberapa sering fenomena orang lain menggoyah keyakinanmu, atau bahkan sekedar pendapatnya malah engkau telan menjadi keyakinan?

Jangan percayai status ini.

Saya jadi ingat waktu kecil bagaimana yang terjadi dalam diri saya jika melihat om atau tante saya mempertemukan jempol dan jari tengahnya. Reaksi saya adalah mewaspadai telinga saya, dan bahkan seolah sudah terasa seperti diselentik.

Sahabat, apa yang terjadi dalam dirimu jika engkau melihat orang berwajah ramah menjulurkan tangan? Maka program aplikasi 'bersalaman' akan terpicu secara lengkap sampai 'exit' bahkan sebelum tangan orang itu mendekatimu. Bagaimana jika ia mem-break-pattern-mu di langkah program ke 7 dari 14 langkah program (start s.d. exit) hingga engkau seketika trance?

Bagaimana pula, jika engkau melihat sebuah tangan yang jari-jarinya dilipat kecuali jari tengahnya yang tegak berdiri?

Lebih parah lagi, kita melakukan one time learning dengan segala hal yang 'katanya'?

Waspadai persepsi sebab ia sering melompat begitu saja setelah resepsi panca indera.

Makin semangat!

Ikhwan Sopa