Cara Meningkatkan Keberuntungan

Hari Sabtu dan Minggu yang lalu saya diundang mengisi sebuah acara Train For Trainer.

Di dalam acara itu salah satu sahabat saya mengisi materi tentang "choice". Intinya, hidup ini adalah pilihan dan ketegasan menindaklanjuti pilihan atau bertanggungjawab dengan pilihan adalah pilihan terbaik yang dapat kita lakukan.

Jam empat sore hari Sabtu, salah seorang peserta mengajak saya berdiskusi.

Ia berkata, "Mas, kalo saya sih sepertinya agak kesulitan mengikuti pola-pola pilihan seperti itu (seperti yang diungkap oleh materi sahabat saya di atas). Saya lebih senang hidup yang mengalir dan menikmati saja apa-apa yang berlangsung dan terjadi pada diri saya."

Saya bilang, "Jika kita bicara pilihan, maka ini bukan tentang benar atau salah. Artinya, jika itu engkau tetapkan sebagai jalan hidupmu, maka itulah pilihanmu."

Saya kemudian melanjutkan, "Dengan pilihan hidupmu yang cenderung 'malas' seperti itu, tetap saja engkau memiliki berbagai keinginan yang sama dengan mereka yang memilih untuk bekerja keras di dalam hidupnya. Apa yang penting, adalah bagaimana engkau bisa memberdayakan diri dengan pilihan itu."

Ia berkata, "Iya sih Mas."

Saya bilang, "Engkau perlu belajar sebuah ilmu khusus. Namanya The Law of Attraction (LOA)."

Ia bilang, "Apaan tuh Mas? Dari mana saya bisa dapat ilmu itu?"

Saya berkata, "Kalo kamu memang mau, ntar kamu dapat kok ilmunya."

Saya menutup diskusi sore itu dengan mengatakan bahwa syarat terpenting dari bekerjanya LOA, adalah tetap bekerja paling tidak di dalam pagar kemalasan yang kita bangun sendiri. Ini mutlak, sebab pelajaran inti dari LOA adalah tentang TANGGUNGJAWAB dan LOA adalah tentang pergerakan alias ACTION. Semalas-malasnya manusia, untuk malaspun ia sebenarnya perlu bekerja.

Jam sepuluh malam itu, salah satu sahabat saya yang lain datang menghampirinya dan menghadiahkan sebuah buku kepadanya. Judulnya "The Answer".

Mengetahui hal itu, saya hampiri dia dan saya berkata, "Ilmu yang kamu tunggu tadi sore itu, sekarang ada di tanganmu."

Menariknya, buku yang dihadiahkan itu sebenarnya telah dihadiahkan kepada seorang sahabat yang lain, dan 'entah kenapa' sahabat itu menolaknya. Maka dihadiahkanlah buku itu kepadanya.

Sahabat, jika kita mau berpatokan bahwa tidak ada sesuatupun di dunia ini terjadi secara kebetulan, apa sebenarnya yang telah terjadi?

"Kita tidak bisa tidak memilih. Karena setiap pilihan selalu diikuti dengan tanggungjawab, maka kita tidak bisa tidak bertanggungjawab."

Ikhwan Sopa