Antara Jodoh dan Cinta

Selamat sore sahabat,

Ini untukmu yang sedang mencari jodoh dan cinta.

"Assalamu'alaikum Pak Sopa."

"Waalaikum salam wr.wb."

"Boleh saya mengajukan pertanyaan?"

"Boleh."

"Tentang kehidupan?"

"Boleh."

"Mengapa saya tidak tenang melihat sepupu saya yang sebentar lagi menikah? Saya jadi mondar-mandir saja di dalam rumah. Ibu saya bilang, itu karena iman saya kurang. Dalam hati saya bertanya, 'mengapa saya tak kunjung menikah?'"

"Berapa usiamu?"

"29 Pak. Hampir 30."

"Apa yang engkau khawatirkan?"

"Dia sudah mau menikah, mengapa saya belum juga."

"Energi yang engkau rasakan karena membandingkan dirimu dengannya, lebih baik engkau arahkan kepada Tuhan dengan berdoa. Menurutmu, satu ungkapan saja, Tuhan itu Maha apa?"

"Pengasih dan Penyayang."

"Begitulah Ia kepadamu. Mengapa engkau merasa lebih mengerti tentang apa yang baik bagimu ketimbang Dia? Bukankah Ia mengasihi dan menyayangimu? Mereka yang engkau anggap telah 'berjodoh'pun tak akan pernah tahu tentang keabadian cinta mereka. Bukankah itu yang berlaku?"

"Iya Pak, dan Allah juga tak memberi cobaan di luar kemampuan hamba-Nya ya Pak?"

"Janganlah engkau merasa sedang dihukum. Tuhan sedang mengasihi dan menyayangimu."

"(Maaf), Pak Sopa muslimkan?"

"Yoa. Jikapun nanti fitrahmu itu tak terpenuhi, hanya ada dua maknanya; Dia mengistimewakanmu atau Dia 'sedang menunggu' perubahan dari apa-apa yang ada pada dirimu. Dan perubahan itu, engkaulah yang harus melakukannya."

"Kenapa, kenapa, dan kenapa, selalu itu yang ada di pikiran saya. Jadi seperti tidak tenang."

"Engkau bertanya 'kenapa', artinya engkau bertanya tentang sesuatu yang tak akan pernah ada jawabannya. Bahkan, engkau tengah mempertanyakan. Ingat ini, jodoh di tangan Tuhan.

Ilmu pengetahuanlah yang menciptakan pertanyaan itu. Ilmu pengetahuan, hanya cukup akurat tentang masa lalu dan sedikit tentang masa sekarang, dan ia tak pernah benar-benar mengerti tentang masa depan. Jika menurutmu dua hari lagi rambutan di halaman depan akan matang, bagaimana jika ia disambar kelelawar nanti di tengah malam? Maka, jika masa depanmu memang tak pernah engkau ketahui, kemanakah lagikah engkau akan berpaling?

Jangan mempertanyakan apa-apa yang mutlak ada dalam genggaman-Nya. Lupakan caramu mempertanyakan seperti itu dan bertanyalah pada dirimu sendiri, 'apa saja yang dapat aku pilih untuk aku ubah pada diriku?'

Hadiah bagi cinta adalah cinta. Yang menghadiahkan cinta, akan dihadiahi cinta. Apa yang engkau pikirkan, menciptakan apa yang engkau rasakan. Maka, jiwa pertama yang perlu engkau beri hadiah adalah dirimu sendiri.

Mungkin, selama ini engkau telah terlalu keras pada dirimu sendiri dan melakukan berbagai hal karena engkau menganggapnya harus dan mesti terkait berbagai keadaan dan kondisimu. Maka kini, gunakanlah kekerasanmu itu untuk memilih.

Yang terpenting dan yang pertama adalah sikapmu yang,

1. Memilih menerima dengan ridha hingga posisimu tak lagi berseberangan dengan takdir Tuhan dan kenyataan, lalu

2. Memilih bersabar sebab hanya yang demikianlah yang akan membuka pintu-pintu kebaikan, dan

3. Memilih berdoa dan berupaya keras jika engkau memang sungguh-sungguh menginginkannya, dengan menyampaikan kepada-Nya apa arti jodoh dan cinta bagimu. Perjelaslah ini, jika engkau diberi jodoh dan cinta, apa yang akan engkau lakukan bersama jodoh dan cintamu?

Begitulah caranya engkau menciptakan ruang di dalam hidupmu untuk tempat berlabuh bagi cinta dan jodohmu yang tengah berlayar dari pelabuhannya demi menemuimu.

Engkau tak bisa pergi ke hutan di gunung untuk mencari cinta, dan engkau juga tak perlu kembali ke gua yang sunyi hanya untuk menjilati luka. Turunlah dari sana dan pergilah ke bibir pantai di tepi luasnya samudera kehidupan di mana orang beramai-ramai menikmatinya, lalu bangunlah pelabuhanmu di situ. Lakukanlah sesuatu yang engkau cintai di sana bersama mereka, di tempat yang memungkinkan cinta dan jodohmu juga hadir atau diperkenalkan di dermaga.

Jika tiba waktunya, Tuhan akan mempertemukan engkau berdua, dalam satu cinta di mana engkau berdua memang mencintai hal-hal yang sama. Bukankah nyaris setiap kisah cinta dan perjodohan seperti ini polanya? Indah sekali bukan? Tak maukah engkau keindahan seperti ini?

Sekarang, menangislah untuk Tuhanmu yang mengasihi dan menyayangimu."


Semoga bermanfaat.

Ikhwan Sopa