4 Cara Mempersepsi dan 3 Cara Berpikir

Selamat malam sahabat,

Indah sekali, jika kita dapat benar-benar hidup di dalam realitas kehidupan sebagaimana yang kita inginkan. Jika kita menganggap bahwa realitas kehidupan kita belumlah 'sebagaimana mestinya', maka itulah tanda perlunya perubahan. Realitas hidup kita berubah, hanya jika kita mengubah apa-apa yang ada pada diri kita. Hidup kita berubah, jika kita berubah.

Pada dasarnya, setiap realitas adalah persepsi. Jika kita sedang menatap layar dan di dalamnya ada content fesbuk, maka fesbuklah realitas kita saat ini. Jika nanti kita bekerja dengan MS Word, maka MS Word-lah realitas kita saat itu. Jika kita sedang fesbukan lalu ingat pekerjaan di MS Word, maka itulah juga realitas kita. Sementara itu, komputer adalah tetap komputer, layar adalah tetap layar, dan pixel adalah tetap pixel.

Ada beberapa hal terkait dengan cara kita mempersepsi, yaitu:

1. Apperception, yaitu bagaimana kita mempersepsi apa yang berlangsung di dalam pikiran kita. Apa yang saya pikirkan? Mengapa saya demikian memikirkannya? Dan seterusnya.

2. Proprioception, yaitu bagaimana kita mempersepsi apa yang berlangsung pada tubuh kita, pada perasaan kita, pada sensasi, dan pada emosi kita. Mengapa kita marah? Mengapa dengan marah dada menjadi sesak? Dan seterusnya.

3. Subception, yaitu bagaimana kita mempersepsi berbagai hal yang sifatnya tacit alias sulit untuk diekspresikan ulang. Misalnya, bagaimana dulu kita bisa menjadi bisa berenang atau bagaimana kita berkembang menjadi orang yang 'cenderung tidak disukai'.

4. Projectoception, yaitu bagaimana kita mempersepsi berbagai hal yang tidak ada atau awalnya tidak ada di dalam suatu fenomena. Ada orang berkumpul, lalu kita menciptakan realitas baru yang disebut dengan kampung, organisasi, pemerintahan, negara, dan seterusnya.

Semua itu, kita mudahkan dengan menyebutnya sebagai persepsi.

Persepsi kitalah yang menentukan realitas kehidupan kita, dan persepsi kita sangat ditentukan oleh keyakinan-keyakinan yang ada dalam diri kita. Itu sebabnya, keyakinan sangat diperlukan.

Pertanyaannya,

1. Apakah cara kita mempersepsi telah akurat dan membangun realitas kehidupan sebagaimana yang kita inginkan?

2. Apakah keyakinan-keyakinan kita memang memberdayakan hingga memampukan kita membangun realitas kehidupan yang kita kehendaki itu?

Maka, perubahan pertama yang perlu kita lakukan adalah menggeser kesadaran. Kita perlu lebih menyadari bagaimana cara kita menyusun dan membangun persepsi dan kita perlu lebih menyadari bagaimana kita memilih dan mengolah keyakinan.

Menggeser kesadaran adalah sebuah upaya yang perlu diniatkan. Kita perlu mengarahkan pikiran kita ke arah kesadaran yang lebih tinggi, sebab segala hal sulit diolah, dimengerti, dan dinikmati dengan kesadaran yang menciptakan berbagai hal tersebut.

"We cannot solve our problems with the same thinking we used when we created them."
-Albert Einstein-

Alat persepi kita yang utama adalah pikiran kita. Hal pertama yang perlu kita sadari tentang pikiran kita, adalah bahwa ia bekerja dengan tiga pola:

1. Berpikir patologis, yaitu pola berpikir yang sangat dipengaruhi oleh emosi. Dengan menggunakan pola berpikir seperti ini, maka pikiran akan selalu kesulitan melihat dan mengamati dirinya sendiri, dan selalu kesulitan menemukan cara berpikir yang berbeda, akibat kabut yang diciptakan oleh emosi.

2. Berpikir logis, yaitu pola berpikir yang membebaskan diri dari emosi. Pola pikir ini mampu melihat dan mengamati dirinya sendiri. Namun demikian, kita adalah manusia bukan sekedar komputer dan bukan pula sekedar robot.

3. Berpikir psikologis, yaitu pola berpikir yang selalu mampu mengamati dirinya sendiri. Pola berpikir ini mampu melakukan refleksi dan mampu menemukan pola berpikir lain yang mungkin lebih memberdayakan persepsi kita.

Saringan bagi persepsi kita adalah keyakinan. Salah satu ciri keyakinan yang memberdayakan adalah jika keyakinan itu menjadi bagian dari kelompok keyakinan (belief system) yang terorganisir dan sistematis. Dengan kata lain, jika keyakinan itu menjadi bagian dari belief system yang terkodifikasi. Itu sebabnya kita cenderung membutuhkan agama dengan kitab sucinya dan dengan petunjuk rasulnya. Tanpa kodifikasi, keyakinan-keyakinan kita lumpuh karena mereka berdiri sendiri atau mereka saling bertentangan. Akibatnya persepsi kita tak berjalan akurat, dan akhirnya realitas kehidupan kita menjadi tak sesuai dengan yang kita inginkan.

Jika kita berharap bahwa diri kita menjadi mampu menciptakan realitas kehidupan sebagaimana yang kita kehendaki, hal pertama yang perlu kita lakukan adalah menggeser kesadaran.

Setelah semua upaya kita lakukan, maka pembentuk akhir dari realitas kehidupan kita adalah keyakinan kita yang mengatakan, "Tuhan Maha Berkehendak". Kitapun menyatu dengan realitas kehidupan yang sesungguhnya, mengikatkan diri di dalam naungan Tuhan.

Ya Allah ya Tuhanku, aku adalah kesadaran yang merindukan pertemuan denganmu. Terangilah hidupku dengan petunjuk-Mu, agar ketika aku meninggalkan dunia dan tubuh fisikku ini, aku berangkat dengan jiwa yang tenang. Aamiin... aamiin...

Makin semangat!

Ikhwan Sopa