Wewenang dan Tanggung Jawab untuk Berhasil

Selamat pagi sahabat,

Insya Allah, beginilah sebenarnya situasi pribadi yang disebut "tak berdaya".

Ketika pikirannya sedang lupa bahwa kewenangannya adalah sumber daya, atau ketika perasaannya sedang lalai bahwa tanggungjawabnya adalah juga sumber daya.

Pribadi itu bahkan bukan sedang tak berdaya, karena sesungguhnya ia adalah makhluk yang paling berdaya dan berpotensi menjadi pemakmur bumi.

Ia hanya sedang belajar keras menguasai kekuatan besar yang telah dianugerahkan kepadanya dan mengalami sedikit kesulitan dan sedikit ketakutan di sana-sini seperti biasanya.

Seperti pendekar muda yang sakti turun gunung dan melatih pedang besar yang berat dan tajam. Seperti prajurit gagah beramunisi lengkap yang berangkat ke medan perang dengan penuh tanda tanya. Seperti pilot handal yang dihadiahi jet tempur canggih dan kemudian sedikit bingung dengan kerumitan panel di kokpitnya.

Ia perlu selalu menyediakan ruang dan waktu bagi kesadarannya, supaya ia benar-benar selalu yakin dan mengerti bahwa jiwanya memang diciptakan untuk menjadi khalifah yang abdullah, alias menjadi menjadi raja yang menghamba.

Jiwa yang berwenang memberdayakan dirinya dengan memilih jalan, menggali potensi-potensi, dan menegakkan disiplin yang dipersyaratkan untuk mencapai keberhasilan.

Jiwa yang bertanggungjawab memberdayakan dirinya dengan menindaklanjuti pilihan, merealisasikan potensi-potensi menjadi kenyataan, dan menjalani hidup dengan memenuhi syarat disiplin yang memberhasilkan.

Pada jiwa yang telah diberi kewenangan besar untuk berhasil melekat tanggungjawab indah untuk berhasil.

Makin semangat!

Ikhwan Sopa