Ilusi Sandal

Selamat pagi sahabat,

Semoga kita tidak terjebak pada "ilusi sandal".

Imam Ahmad bin Hambal (Imam Hambali) sedang duduk di masjid. Seorang sahabatnya menghampiri. Ia baru kembali dari menemui khalifah Al Mutawakkil.

Ia berkata, ”Di rumah amirul mukminin ada seorang budak perempuan yang kerasukan. Amirul mukminin mengutus saya supaya Anda memohon kepada Allah untuk kesembuhan budak itu.”

Imam Ahmad memberinya dua sandal kayu seraya berkata, "Pergilah kembali ke rumah amirul mukminin dan duduklah di dekat kepala budak itu. Katakan kepada si jin bahwa imam Ahmad berkata, 'mana yang paling engkau suka keluar dari budak ini atau dipukul dengan sandal ini tujuh puluh kali.'”

Ia bergegas membawa sandal itu ke rumah amirul mukminin, lalu duduk di dekat budak wanita itu seraya mengatakan apa yang diperintahkan oleh Imam Ahmad.

Melalui lisan budak itu si jin berkata, ”Aku mendengar dan patuh kepada Imam Ahmad. Bahkan seandainya beliau menyuruh aku keluar dari Iraq, aku pasti akan keluar. Sesungguhnya beliau itu orang yang taat kepada Allah. Siapapun yang taat pada Allah pasti ditaati segala sesuatu.” Jin itupun keluar dan pergi.

Tatkala Imam Ahmad telah wafat, jin itu kembali memasuki tubuh budak wanita tersebut. Kemudian amirul mukminin memanggil lagi sahabat Imam Ahmad tersebut. Ia pun datang kembali dengan membawa sandal yang sama.

Ia berkata kepada si jin, ”Keluarlah engkau, jika tidak aku akan memukul dengan sendal ini!”

Jin itu menjawab, ”Aku tidak akan patuh padamu, aku juga tidak akan keluar. Imam Ahmad bin Hambal itu berbeda, beliau benar-benar taat pada Allah, beliau menyuruh kami untuk taat pada-Nya.”

Insya Allah begitu sahabat, bukan sandalnya tapi orangnya.

Semoga bermanfaat.

Ikhwan Sopa

NB: Sebuah komentar di Facebook mengatakan begini,

"Jin pun mengakui, orang yang telah 'tiada' itu tidak memberikan manfaat/mudharat kepadanya. Lantas, kenapa masih banyak orang yang datang ke kubur dan meminta kepada sang penghuni kubur ya?"

Dan saya menambahkan:

Dan meminta syafaat Rasulullah SAW pun untuk nanti pada hari kiamat.

“Pada hari itu tidak berguna syafaat, kecuali (syafaat) orang yang Allah Maha Pemurah telah memberi izin kepadanya, dan Dia telah meridhai perkataannya.” (Thahaa: 109)