Ilmu "Entah Bagaimana"

Selamat malam sahabat,

Ini namanya ilmu "entah bagaimana".

Saya telah membuktikannya untuk hal-hal yang 'kecil', dan hal yang besar berikut ini menarik untuk kita kaji dan pelajari bersama supaya nggak 'klenik-klenik' amat.

(Astaghfirullah, mohon maaf, semoga tidak mengurangi pahala mereka yang berangkat.)

Kemarin, saya membukakan dua rekening untuk dua orang yang sangat ingin naik haji. Saat itu saya benar-benar tidak memiliki kejelasan tentang bagaimana mengisi rekening itu dan bahkan tidak tahu bagaimana memenuhi biayanya.

Saya hanya berkata, "entah bagaimana, insya Allah ini tercapai."

Dua bulan kemudian, kedua rekening itu Alhamdulillah terpenuhi sesuai standar biaya haji terakhir.

Dengan tetap takluk pada hukum "manusia merencanakan dan Tuhan yang menentukan", yang saya tahu hanya ini:

1. Naik haji itu terkait dengan keyakinan yang TERTINGGI, dalam hal ini adalah akidah.

2. Naik haji itu JELAS, FOKUS, dan chunk down alias SPESIFIK. 5W dan 1H-nya super jelas. Apa itu haji jelas, siapa yang mau berangkat haji dengan segala kriterianya jelas, mengapa naik haji itu jelas, bagaimana cara dan prosesnya itu jelas, kapan waktunya jelas, dan di mana tempatnya jelas.

3. Biaya, ternyata 'hanya' soal melengkapi apa yang sudah hampir utuh untuk menjadi nyata.

So, ini pelajaran yang saya tarik.

1. Perjelas, fokuskan, dan buat spesifik (minimal 5W dan 1H) apapun yang jadi tujuan.
2. Dongkrak keyakinan sampai maksimal.
3. Katakan, "entah bagaimana, insya Allah ini tercapai."
4. Nikmati hidup.

Upaya nyata (bukan hanya metafora atau visualisasi semata) untuk merealisasi porsi-porsi 'kenyataan fisik yang diinginkan' ternyata penting, sekecil apapun porsi itu yang penting real dan menjadi bagian tak terpisahkan dari hasil akhir.

Mau mobil, buatlah SIM.
Mau rumah, beli tanah, atau minimal tanya-tanya.
Mau rambutan, tanam biji rambutan.
Mau jadi pembicara, mulailah bicara.
Mau jadi penyanyi, mulailah bernyanyi.
Mau bisnis besar, ya buka bisnis kecil.

Note: Saya mengatakan beberapa bulan yang lalu sebagai 'kemarin'. Ini juga mungkin menciptakan semacam time distortion (yang ini mah kaleee...).

Makin semangat!

Ikhwan Sopa