35 Cara Menghadapi Kenyataan Hidup

Selamat sore sahabat,

Yuk, kita belajar self-mastery.

Saya yakin, pastilah sulit menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini.

Jawablah dengan keyakinan bahwa segala sesuatu yang telah terjadi adalah takdir Tuhan dan segala sesuatu yang belum terjadi ada dalam kekuasaan-Nya.

Jawablah dengan kesadaran bahwa kita sebagai manusia, telah dianugerahi-Nya dengan fisik, pikiran, dan perasaan, yang dengan semua hal itu kita mengkreasi hidup kita selama ini, sekarang, dan di masa depan hingga akhir hayat kita.

"Apa yang membuatmu tetap hidup hingga hari ini?"

"Apa yang sebenarnya telah engkau lakukan sehingga engkau berhasil menyelesaikan berbagai persoalan selama ini?"

"Apa yang berlangsung di dalam dirimu, hingga akhirnya kini engkau berhasil mendapatkan apa-apa yang engkau inginkan?"

"Apa yang menjadikan berbagai hal tidak berlangsung sesuai dengan keinginanmu?"

"Apa yang menurutmu perlu engkau lakukan, jika engkau ingin mencapai berbagai hal dan keadaan di masa depan?"

"Bagaimana caramu mengkreasi hari esok dan masa depan?"


Jika kita mengalami kesulitan menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, maka hal itu terjadi karena kita selama ini kurang "MEMBACA" dan kurang MEMPERHATIKAN apa-apa yang berlangsung di dalam diri kita sendiri. Padahal, semua itu terkait dengan bentuk-bentuk perilaku yang baku dan terpola yang menjadikan "siapa kita" yang hari ini.

Jika kita mau lebih teliti, apapun yang kita rasakan, kita pikirkan, dan kita lakukan, sebenarnya adalah perulangan pola-pola yang selama ini kurang kita sadari. Dengan menyadarinya, kita bisa semakin mengenali diri - yang lalu dan yang sekarang, dan dengan menyadarinya, kita dimungkinkan menjadi lebih baik dalam membentuk diri kita yang di masa depan. Ini artinya hanya satu, menciptakan hidup dan realitas kita sendiri.

Yang berikut ini, hanyalah salah satu pendekatan dari berbagai pendekatan lain (meta program misalnya). Perhatikan bagaimana tulisan di bawah ini ditulis dengan gaya "disasosiatif" agar cara pandang ktia menjadi lebih jernih untuk memahaminya.

Setiap kita, berpeluang menerapkan 8 pola umum ketika berurusan dengan segala ke-ADA-an kita. Pola umum itu adalah:

1. Beradaptasi
2. Menyerang
3. Menghindar
4. Mengubah perilaku
5. Mengubah pola berpikir
6. Melakukan konversi
7. Mengaktivasi mode bertahan
8. Melukai diri sendiri

Pola-pola umum di atas, jika ditelusuri lebih jauh akan berkembang menjadi setidaknya 35 pola-pola spesifik yang kita eksekusi untuk berurusan dengan berbagai hal di dalam hidup kita (plus contoh sederhana yang bisa engkau modifikasi dan sesuaikan dengan kehidupanmu sendiri):

1. Mengeksekusi dorongan primitif.

Ketika "hal itu" kita persepsi sebagai soal hidup atau mati, atau soal exist atau tidak exist. Ini, terkait erat dengan mode survival di dalam diri kita.

Jika kita tak menyukai seseorang, kita cenderung menyerang.

2. Menurunkan teropong.

Ketika "hal itu" itu kita persepsi sebagai sesuatu yang terlalu berat dan terlalu kuat untuk kita hadapi, sehingga kita menurunkan "teropong" lebih rendah untuk membidik hal-hal yang lebih mungkin dicapai dengan lebih sedikit masalah.

Saat seseorang tak dapat menikahi orang lain karena sudah menikah, orang itu mungkin akan menjadikannya sahabat.

3. Menolong orang.

Ketika "hal itu" membawa bekas-bekas masa lalu yang sulit dihapus dan terus menghantui hidup kita, dan kita persepsi sebagai sesuatu yang tak akan pernah hilang dari hidup kita, sekalipun berbagai hal telah kita capai dan kita lakukan. Untuk mengobatinya, kita menolong orang lain demi menolong diri sendiri.

Mereka yang dulu miskin, ketika kaya cenderung menolong orang miskin.

4. Menyerang balik.

Ketika "hal itu" kita persepsi sebagai sebentuk ancaman atau serangan, sehingga kita melakukan ancaman atau serangan balik.

Ketika sebuah pertanyaan dipersepsi sebagai sebuah serangan, maka yang ditanya menjawab dengan serangan.

5. Menghindari konflik.

Ketika "hal itu" kita persepsi sebagai sesuatu yang tidak menyamankan atau berpeluang menciptakan konflik, lalu kita menghindarinya.

Ketika pertemanan di FB dipersepsi sebagai konflik, maka yang dapat dilakukan adalah me-remove.

6. Memainkan peran.

Ketika "hal itu" kita persepsi sebagai sebuah tanda bahwa kita perlu memainkan peran tertentu yang kita anggap lebih sesuai untuk "hal itu".

Ketika kita membedakan diri kita sebagai bawahan di kantor dan sebagai kepala rumah tangga di rumah.

7. Mengkompensasi.

Ketika "hal itu" kita anggap sebagai kelemahan diri, sehingga kita mengembangkan kekuatan dalam berbagai hal selain "hal itu" agar kemudian kita dapat menggunakan kata "tapi" sehingga kita dapat merasakan bahwa "hal itu" tidak ADA.

Ketika seseorang merasa lemah dalam menulis, maka ia mencoba menguatkan diri dalam berbicara.

8. Mengkonversi.

Ketika "hal itu" bergeser tempatnya dari wilayah mental dan memasuki wilayah fisik.

Ketika seseorang marah, suara, nafas, dan tangannya bisa bergetar.

9. Mengingkari.

Ketika "hal itu" sebenarnya sudah tidak ADA, tapi kita berperilaku seolah-olah "hal itu" masih ADA. Atau sebaliknya, ketika "hal itu" sebenarnya ADA, tapi kita berperilaku seolah-olah "hal itu" tidak ADA.

Ketika seseorang masih berduka karena kehilangan orang yang dicintainya, ia mungkin masih tetap membereskan kamar yang meninggal.

10. Mengalihkan.

Ketika "hal itu" tidak bisa atau tidak akan menerima perilaku kita, dan kemudian kita menerapkan perilaku itu terhadap hal yang lain.

Seseorang yang sangat senang karena lulus ujian, melakukan tos dengan orang terdekat di sekitarnya.

11. Disasosiasi.

Ketika "hal itu" memicu perilaku tertentu kita, tapi hal lain justru tidak memicunya atau memicu perilaku yang sama sekali berbeda.

Ketika kita menginginkan kebaikan bagi anak kita, tapi kita menjadi kasar dan keras kepada mereka karena keinginan itu.

12. Emosional.

Ketika "hal itu" memicu emosi kita secara berlebihan, sehingga emosi kita justru menggagalkan kita terkait "hal itu".

Ketika kita begitu ngotot menginginkan sesuatu, tapi karena emosi yang berlebihan alias memaksa, kita malah tidak mendapatkannya.

13. Berfantasi.

Ketika kita tak dapat berbuat sesuatu tentang "hal itu", kita berfantasi seolah-olah kita dapat berbuat sesuatu tentang "hal itu".

Ketika kita kecewa pada seseorang, kita membayangkan memukul orang itu.

14. Mengambek.

Ketika kita begitu kecewa tentang "hal itu" sehingga hal-hal yang lebih baik yang ditawarkan oleh orang lain atau keadaan, kita tolak dan kemudian kita kembali ke rasa kecewa kita.

Ketika kita menginginkan sesuatu tapi pemberiannya ditunda, dan ketika waktunya tiba kita diberi, kita malah menolak.

15. Melakukan idealisasi.

Ketika suatu bagian dari "hal itu" kita persepsi sebagai baik dan heabt, kita lalu menganggap bahwa seluruhnya baik dan hebat.

Ketika tulisan ini dianggap baik, pembacanya mengira bahwa yang menulisnya sungguh baik, padahal belum tentu.

16. Melakukan identifikasi.

Ketika menyamakan berbagai hal dalam diri kita dengan sifat dan karakter dari "hal itu".

Ketika kita terdorong untuk meniru karakteristik seseorang karena kita anggap baik, pantas, dan cocok untuk diri kita.

17. Melakukan intelektualisasi.

Ketika "hal itu" memicu kita untuk bergeser menjadi manusia yang lebih intelek, lebih cerdas, lebih pandai, atau lebih mengerti.

Ketika kita menyebut penyakit dengan gejala, ketika menyebut keburukan dengan kekurangan, ketika menyebut kebohongan dengan pembalikan fakta.

18. Melakukan introjeksi.

Ketika "hal itu" membuat kita meniru sifat, sikap, perilaku, atau karakter dari orang lain yang kita anggap pantas untuk "hal itu".

Ketika kita kesulitan melakukan sesuatu, kita bertanya, "bagaimana mereka yang berhasil dalam hal ini melakukannya?"

19. Melakukan agresi pasif.

Ketika "hal itu" membuat kita setuju, tapi kita tidak melakukan yang kita setujui.

Ketika kita menyetujui atasan, tapi tidak melakukan yang diminta atasan.

20. Melakukan ritual.

Ketika kita melakukan kebiasaan perilaku tertentu saat berurusan dengan "hal itu".

Ketika kita melakukan kesalahan, kita memukul kepala kita sendiri. Ketika kita kecewa, kita menggebrak meja.

21. Menumbuhkan diri.

Ketika "hal itu" kita persepsi sebagai sesuatu yang besar, berarti, dan penting sehingga setelah "hal itu" terjadi kita menjadi makin perhatian atau lebih memperhatikan.

Ketika sesuatu yang terjadi membuat kita menjadi lebih bijaksana.

22. Melakukan proyeksi.

Ketika "hal itu" memicu sesuatu pada diri kita, lalu kita menerapkan sesuatu itu pada "hal itu" dan menganggapnya benar-benar ADA di sana.

Ketika kita tidak menyukai seseorang, kita cenderung berpersepsi bahwa orang itupun tidak menyukai kita.

23. Memprovokasi.

Ketika "hal itu" tertuju kepada kita atau sebenarnya tentang kita, lalu kita memprovokasi subyek atau obyek lain, sehingga fokus dan persoalan teralih ke subyek atau obyek itu.

Provokator, biasanya adalah orang yang paling merasakan manfaat (positif) atau dampak (negatif) dari apa yang diprovokasikannya.

24. Melakukan rasionalisasi.

Ketika "hal itu" memicu perilaku yang sebenarnya tidak dapat kita terima, kemudian kita memberikan argumentasi agar perilaku itu bisa diterima.

Ketika kita memarahi anak atau bawahan dan kita memberikan alasan mengapa kita melakukannya.

25. Mereformasi.

Ketika "hal itu" terlanjur terjadi dan memicu sebuah sikap dalam diri kita, tapi kemudian kita berperilaku yang berkebalikan dengan sikap itu.

Ketika kita membenci seseorang, tapi justru mendekatinya agar diri dan lingkungannya tetap nyaman.

26. Melakukan regresi.

Ketika "hal itu" memicu perilaku kita di masa lalu, dan perilaku itu kita lakukan sekarang.

Ketika seorang mahasiswa masih tidur dengan memluk bonekanya.

27. Melakukan represi.

Ketika "hal itu" begitu besar atau begitu berat, sehingga kita menjadi sulit mengingat detil-detilnya.

Ketika suatu pengalaman begitu buruk atau berat, sehingga kita berusaha melupakannya.

28. Melukai diri sendiri.

Ketika "hal itu" memicu perilaku yang melukai diri sendiri, baik ringan atau berat.

Ketika sebuah blunder terjadi lalu kita menghukum diri sendiri.

29. Menciptakan somatisasi.

Ketika "hal itu" memunculkan gejala fisik pada diri sendiri yang sebenarnya tidak kita kehendaki.

Ketika terlalu sering marah menciptakan darah tinggi.

30. Melakukan sublimasi.

Ketika "hal itu" memicu energi dalam diri kita lalu kita melakukan perilaku tertentu yang tidak berhubungan dengan "hal itu" untuk menyalurkan energi itu.

Ketika kemiskinan di masa lalu menjadi salah satu sebab utama yang menjadikannya milyarder pada hari ini. (Mungkin ini pula, yang menyebabkan mereka yang dulunya biasa saja, sekarangpun tetap biasa saja, kek saya)

31. Melakukan substitusi.

Ketika "hal itu" sulit dilakukan, kita melakukan hal lain agar "hal itu" tetap bisa dilakukan.

Kalo email repot ya sms atau BBM aja.

32. Melakukan supresi.

Ketika "hal itu" memicu pikiran dan perasaan yang kita persepsi sebagai tidak tepat atau tidak pantas, lalu kita menghilangkan pikiran dan perasaan itu.

Ketika seseorang tertarik pada istri atau suami orang lain, lalu menekan pikiran dan perasaan itu agar tidak muncul lagi.

33. Melakukan simbolisasi.

Ketika "hal itu" menjadi sulit dijelaskan, lalu kita menciptakan simbol yang memudahkan.

Ketika kita mengatakan membela tanah air.

34. Melakukan trivialisasi.

Ketika "hal itu" sebenarnya serius, tapi kita menjadikannya tidak terlalu serius.

Seperti tulisan ini.

35. Melakukan pembatalan.

Ketika "hal itu" terlanjur terjadi, kita berupaya untuk "membatalkannya" dengan perilaku tertentu.

Ketika meminta maaf kepada seseorang.

Semoga, dengan semua ini kita menjadi semakin sadar tentang bagaimana kita telah, sedang, dan akan membangun hidup kita.

Apakah semua yang di atas itu kekuatan atau kelemahan? Positif atau negatif? Menguntungkan atau merugikan?

Kita permudah saja dengan menyebut semua itu sebagai "life tools". Jadi, tergantung bagaimana kita menggunakannya untuk mengkreasi hidup kita.

BACALAH!

Makin semangat!

Ikhwan Sopa