Pro dan Kontra Motivasi dan Pengembangan Diri

Selamat malam sahabat,

Aku pesankan ini untuk diriku sendiri, dan semoga bermanfaat bagimu yang membacanya.

Bahayanya motivasi dan pengembangan diri. Bahaya yang mengancam para motivator dan trainer pengembangan diri.

Penghambat terbesar untuk mengembangkan diri adalah ego. Lucunya, jika tak waspada pengembangan diri justru ikut mengembangkan ego.

Dengan mengembangkan diri, aku mendapatkan pengetahuan baru dan keahlian baru di dalam hidupku. Dengan pengetahuan dan keahlian itu, hidupku bertransformasi menjadi kehidupan yang baru. Lalu, aku mulai terasing dari mereka yang belum mengembangkan diri.

Dalam kehidupan yang baru, aku membangun belief system yang menurutku lebih baik dan lebih akurat dari sebelumnya. Dengan belief system itu, aku menjadi semakin terampil memprediksi dan mengkreasi masa depan.

Dengan akurasi dan keterampilan itu, aku cenderung merasa semakin "BENAR". Dengan akurasi dan keterampilan itu, aku semakin terampil pula memilah dan memilih pola-pola kehidupanku. Maka, aku pun menjadi merasa semakin "PANDAI".

Aku menjadi semakin mudah mengidentifikasi kelemahan dan kekurangan diri sendiri. Apalagi, kekurangan dan kelemahan orang lain.

Selanjutnya, aku semakin menemukan lebih banyak lagi kekurangan dan kelemahan di dunia ini.

Dan puncaknya, aku merasa semakin nyaman berada di sekitar mereka yang lebih lemah dan kurang dibanding aku.

Aku telah tertipu. AKU telah menipu.

Egoku yang makin membesar diam-diam, dengan menyeringai mengucapkan selamat datang di dunianya.

Mungkin ini saatnya, aku mulai perlu menggarap PR-ku yang ditugaskan dengan diam-diam. Aku harus terus belajar dan terus belajar. Aku perlu menjadi pribadi yang mengerti kelemahan orang lain, mengerti mengapa mereka gagal belajar dari kesalahannya, dan pada saat yang sama tetap mampu berempati dan menerima mereka apa adanya, sembari bersiap-siap jika bantuanku memang diperlukan.

Makin semangat!

Ikhwan Sopa

NLP - Perlunya Saling Menghormati

Selamat sore sahabat,

Setiap map adalah degradasi dari teritori. Setiap degradasi punya kelemahan. Artinya, setiap orang punya kelemahan.

Persamaan itu harus dihormati.

Setiap upaya meta bergerak dari map ke teritori. Setiap meta works dijamin akan gagal jika hanya mengandalkan map yang berusaha memahami teritori. Harus ada referensi tentang model of the world. Referensi ini bisa berbeda. Artinya, setiap orang punya pegangan.

Perbedaan ini harus dihormati.

Makin semangat!

Ikhwan Sopa

35 Cara Menghadapi Kenyataan Hidup

Selamat sore sahabat,

Yuk, kita belajar self-mastery.

Saya yakin, pastilah sulit menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini.

Jawablah dengan keyakinan bahwa segala sesuatu yang telah terjadi adalah takdir Tuhan dan segala sesuatu yang belum terjadi ada dalam kekuasaan-Nya.

Jawablah dengan kesadaran bahwa kita sebagai manusia, telah dianugerahi-Nya dengan fisik, pikiran, dan perasaan, yang dengan semua hal itu kita mengkreasi hidup kita selama ini, sekarang, dan di masa depan hingga akhir hayat kita.

"Apa yang membuatmu tetap hidup hingga hari ini?"

"Apa yang sebenarnya telah engkau lakukan sehingga engkau berhasil menyelesaikan berbagai persoalan selama ini?"

"Apa yang berlangsung di dalam dirimu, hingga akhirnya kini engkau berhasil mendapatkan apa-apa yang engkau inginkan?"

"Apa yang menjadikan berbagai hal tidak berlangsung sesuai dengan keinginanmu?"

"Apa yang menurutmu perlu engkau lakukan, jika engkau ingin mencapai berbagai hal dan keadaan di masa depan?"

"Bagaimana caramu mengkreasi hari esok dan masa depan?"


Jika kita mengalami kesulitan menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, maka hal itu terjadi karena kita selama ini kurang "MEMBACA" dan kurang MEMPERHATIKAN apa-apa yang berlangsung di dalam diri kita sendiri. Padahal, semua itu terkait dengan bentuk-bentuk perilaku yang baku dan terpola yang menjadikan "siapa kita" yang hari ini.

Jika kita mau lebih teliti, apapun yang kita rasakan, kita pikirkan, dan kita lakukan, sebenarnya adalah perulangan pola-pola yang selama ini kurang kita sadari. Dengan menyadarinya, kita bisa semakin mengenali diri - yang lalu dan yang sekarang, dan dengan menyadarinya, kita dimungkinkan menjadi lebih baik dalam membentuk diri kita yang di masa depan. Ini artinya hanya satu, menciptakan hidup dan realitas kita sendiri.

Yang berikut ini, hanyalah salah satu pendekatan dari berbagai pendekatan lain (meta program misalnya). Perhatikan bagaimana tulisan di bawah ini ditulis dengan gaya "disasosiatif" agar cara pandang ktia menjadi lebih jernih untuk memahaminya.

Setiap kita, berpeluang menerapkan 8 pola umum ketika berurusan dengan segala ke-ADA-an kita. Pola umum itu adalah:

1. Beradaptasi
2. Menyerang
3. Menghindar
4. Mengubah perilaku
5. Mengubah pola berpikir
6. Melakukan konversi
7. Mengaktivasi mode bertahan
8. Melukai diri sendiri

Pola-pola umum di atas, jika ditelusuri lebih jauh akan berkembang menjadi setidaknya 35 pola-pola spesifik yang kita eksekusi untuk berurusan dengan berbagai hal di dalam hidup kita (plus contoh sederhana yang bisa engkau modifikasi dan sesuaikan dengan kehidupanmu sendiri):

1. Mengeksekusi dorongan primitif.

Ketika "hal itu" kita persepsi sebagai soal hidup atau mati, atau soal exist atau tidak exist. Ini, terkait erat dengan mode survival di dalam diri kita.

Jika kita tak menyukai seseorang, kita cenderung menyerang.

2. Menurunkan teropong.

Ketika "hal itu" itu kita persepsi sebagai sesuatu yang terlalu berat dan terlalu kuat untuk kita hadapi, sehingga kita menurunkan "teropong" lebih rendah untuk membidik hal-hal yang lebih mungkin dicapai dengan lebih sedikit masalah.

Saat seseorang tak dapat menikahi orang lain karena sudah menikah, orang itu mungkin akan menjadikannya sahabat.

3. Menolong orang.

Ketika "hal itu" membawa bekas-bekas masa lalu yang sulit dihapus dan terus menghantui hidup kita, dan kita persepsi sebagai sesuatu yang tak akan pernah hilang dari hidup kita, sekalipun berbagai hal telah kita capai dan kita lakukan. Untuk mengobatinya, kita menolong orang lain demi menolong diri sendiri.

Mereka yang dulu miskin, ketika kaya cenderung menolong orang miskin.

4. Menyerang balik.

Ketika "hal itu" kita persepsi sebagai sebentuk ancaman atau serangan, sehingga kita melakukan ancaman atau serangan balik.

Ketika sebuah pertanyaan dipersepsi sebagai sebuah serangan, maka yang ditanya menjawab dengan serangan.

5. Menghindari konflik.

Ketika "hal itu" kita persepsi sebagai sesuatu yang tidak menyamankan atau berpeluang menciptakan konflik, lalu kita menghindarinya.

Ketika pertemanan di FB dipersepsi sebagai konflik, maka yang dapat dilakukan adalah me-remove.

6. Memainkan peran.

Ketika "hal itu" kita persepsi sebagai sebuah tanda bahwa kita perlu memainkan peran tertentu yang kita anggap lebih sesuai untuk "hal itu".

Ketika kita membedakan diri kita sebagai bawahan di kantor dan sebagai kepala rumah tangga di rumah.

7. Mengkompensasi.

Ketika "hal itu" kita anggap sebagai kelemahan diri, sehingga kita mengembangkan kekuatan dalam berbagai hal selain "hal itu" agar kemudian kita dapat menggunakan kata "tapi" sehingga kita dapat merasakan bahwa "hal itu" tidak ADA.

Ketika seseorang merasa lemah dalam menulis, maka ia mencoba menguatkan diri dalam berbicara.

8. Mengkonversi.

Ketika "hal itu" bergeser tempatnya dari wilayah mental dan memasuki wilayah fisik.

Ketika seseorang marah, suara, nafas, dan tangannya bisa bergetar.

9. Mengingkari.

Ketika "hal itu" sebenarnya sudah tidak ADA, tapi kita berperilaku seolah-olah "hal itu" masih ADA. Atau sebaliknya, ketika "hal itu" sebenarnya ADA, tapi kita berperilaku seolah-olah "hal itu" tidak ADA.

Ketika seseorang masih berduka karena kehilangan orang yang dicintainya, ia mungkin masih tetap membereskan kamar yang meninggal.

10. Mengalihkan.

Ketika "hal itu" tidak bisa atau tidak akan menerima perilaku kita, dan kemudian kita menerapkan perilaku itu terhadap hal yang lain.

Seseorang yang sangat senang karena lulus ujian, melakukan tos dengan orang terdekat di sekitarnya.

11. Disasosiasi.

Ketika "hal itu" memicu perilaku tertentu kita, tapi hal lain justru tidak memicunya atau memicu perilaku yang sama sekali berbeda.

Ketika kita menginginkan kebaikan bagi anak kita, tapi kita menjadi kasar dan keras kepada mereka karena keinginan itu.

12. Emosional.

Ketika "hal itu" memicu emosi kita secara berlebihan, sehingga emosi kita justru menggagalkan kita terkait "hal itu".

Ketika kita begitu ngotot menginginkan sesuatu, tapi karena emosi yang berlebihan alias memaksa, kita malah tidak mendapatkannya.

13. Berfantasi.

Ketika kita tak dapat berbuat sesuatu tentang "hal itu", kita berfantasi seolah-olah kita dapat berbuat sesuatu tentang "hal itu".

Ketika kita kecewa pada seseorang, kita membayangkan memukul orang itu.

14. Mengambek.

Ketika kita begitu kecewa tentang "hal itu" sehingga hal-hal yang lebih baik yang ditawarkan oleh orang lain atau keadaan, kita tolak dan kemudian kita kembali ke rasa kecewa kita.

Ketika kita menginginkan sesuatu tapi pemberiannya ditunda, dan ketika waktunya tiba kita diberi, kita malah menolak.

15. Melakukan idealisasi.

Ketika suatu bagian dari "hal itu" kita persepsi sebagai baik dan heabt, kita lalu menganggap bahwa seluruhnya baik dan hebat.

Ketika tulisan ini dianggap baik, pembacanya mengira bahwa yang menulisnya sungguh baik, padahal belum tentu.

16. Melakukan identifikasi.

Ketika menyamakan berbagai hal dalam diri kita dengan sifat dan karakter dari "hal itu".

Ketika kita terdorong untuk meniru karakteristik seseorang karena kita anggap baik, pantas, dan cocok untuk diri kita.

17. Melakukan intelektualisasi.

Ketika "hal itu" memicu kita untuk bergeser menjadi manusia yang lebih intelek, lebih cerdas, lebih pandai, atau lebih mengerti.

Ketika kita menyebut penyakit dengan gejala, ketika menyebut keburukan dengan kekurangan, ketika menyebut kebohongan dengan pembalikan fakta.

18. Melakukan introjeksi.

Ketika "hal itu" membuat kita meniru sifat, sikap, perilaku, atau karakter dari orang lain yang kita anggap pantas untuk "hal itu".

Ketika kita kesulitan melakukan sesuatu, kita bertanya, "bagaimana mereka yang berhasil dalam hal ini melakukannya?"

19. Melakukan agresi pasif.

Ketika "hal itu" membuat kita setuju, tapi kita tidak melakukan yang kita setujui.

Ketika kita menyetujui atasan, tapi tidak melakukan yang diminta atasan.

20. Melakukan ritual.

Ketika kita melakukan kebiasaan perilaku tertentu saat berurusan dengan "hal itu".

Ketika kita melakukan kesalahan, kita memukul kepala kita sendiri. Ketika kita kecewa, kita menggebrak meja.

21. Menumbuhkan diri.

Ketika "hal itu" kita persepsi sebagai sesuatu yang besar, berarti, dan penting sehingga setelah "hal itu" terjadi kita menjadi makin perhatian atau lebih memperhatikan.

Ketika sesuatu yang terjadi membuat kita menjadi lebih bijaksana.

22. Melakukan proyeksi.

Ketika "hal itu" memicu sesuatu pada diri kita, lalu kita menerapkan sesuatu itu pada "hal itu" dan menganggapnya benar-benar ADA di sana.

Ketika kita tidak menyukai seseorang, kita cenderung berpersepsi bahwa orang itupun tidak menyukai kita.

23. Memprovokasi.

Ketika "hal itu" tertuju kepada kita atau sebenarnya tentang kita, lalu kita memprovokasi subyek atau obyek lain, sehingga fokus dan persoalan teralih ke subyek atau obyek itu.

Provokator, biasanya adalah orang yang paling merasakan manfaat (positif) atau dampak (negatif) dari apa yang diprovokasikannya.

24. Melakukan rasionalisasi.

Ketika "hal itu" memicu perilaku yang sebenarnya tidak dapat kita terima, kemudian kita memberikan argumentasi agar perilaku itu bisa diterima.

Ketika kita memarahi anak atau bawahan dan kita memberikan alasan mengapa kita melakukannya.

25. Mereformasi.

Ketika "hal itu" terlanjur terjadi dan memicu sebuah sikap dalam diri kita, tapi kemudian kita berperilaku yang berkebalikan dengan sikap itu.

Ketika kita membenci seseorang, tapi justru mendekatinya agar diri dan lingkungannya tetap nyaman.

26. Melakukan regresi.

Ketika "hal itu" memicu perilaku kita di masa lalu, dan perilaku itu kita lakukan sekarang.

Ketika seorang mahasiswa masih tidur dengan memluk bonekanya.

27. Melakukan represi.

Ketika "hal itu" begitu besar atau begitu berat, sehingga kita menjadi sulit mengingat detil-detilnya.

Ketika suatu pengalaman begitu buruk atau berat, sehingga kita berusaha melupakannya.

28. Melukai diri sendiri.

Ketika "hal itu" memicu perilaku yang melukai diri sendiri, baik ringan atau berat.

Ketika sebuah blunder terjadi lalu kita menghukum diri sendiri.

29. Menciptakan somatisasi.

Ketika "hal itu" memunculkan gejala fisik pada diri sendiri yang sebenarnya tidak kita kehendaki.

Ketika terlalu sering marah menciptakan darah tinggi.

30. Melakukan sublimasi.

Ketika "hal itu" memicu energi dalam diri kita lalu kita melakukan perilaku tertentu yang tidak berhubungan dengan "hal itu" untuk menyalurkan energi itu.

Ketika kemiskinan di masa lalu menjadi salah satu sebab utama yang menjadikannya milyarder pada hari ini. (Mungkin ini pula, yang menyebabkan mereka yang dulunya biasa saja, sekarangpun tetap biasa saja, kek saya)

31. Melakukan substitusi.

Ketika "hal itu" sulit dilakukan, kita melakukan hal lain agar "hal itu" tetap bisa dilakukan.

Kalo email repot ya sms atau BBM aja.

32. Melakukan supresi.

Ketika "hal itu" memicu pikiran dan perasaan yang kita persepsi sebagai tidak tepat atau tidak pantas, lalu kita menghilangkan pikiran dan perasaan itu.

Ketika seseorang tertarik pada istri atau suami orang lain, lalu menekan pikiran dan perasaan itu agar tidak muncul lagi.

33. Melakukan simbolisasi.

Ketika "hal itu" menjadi sulit dijelaskan, lalu kita menciptakan simbol yang memudahkan.

Ketika kita mengatakan membela tanah air.

34. Melakukan trivialisasi.

Ketika "hal itu" sebenarnya serius, tapi kita menjadikannya tidak terlalu serius.

Seperti tulisan ini.

35. Melakukan pembatalan.

Ketika "hal itu" terlanjur terjadi, kita berupaya untuk "membatalkannya" dengan perilaku tertentu.

Ketika meminta maaf kepada seseorang.

Semoga, dengan semua ini kita menjadi semakin sadar tentang bagaimana kita telah, sedang, dan akan membangun hidup kita.

Apakah semua yang di atas itu kekuatan atau kelemahan? Positif atau negatif? Menguntungkan atau merugikan?

Kita permudah saja dengan menyebut semua itu sebagai "life tools". Jadi, tergantung bagaimana kita menggunakannya untuk mengkreasi hidup kita.

BACALAH!

Makin semangat!

Ikhwan Sopa

Pentingnya Sikap Tanggung Jawab

Selamat pagi sahabat,

"Kita tak lagi seperti dulu ketika baru lahir, seumpama kertas putih yang tanpa noda. Setiap kita yang masih hidup hingga hari ini, telah terlanjur dicacatkan oleh situasi-situasi kita sendiri."


Jadi, berhentilah menyesali dan menyesalkan keadaan. Ini sebabnya,

Kita lahir dari orang tua yang tak sempurna,
Dibesarkan di dalam keluarga yang tak sempurna,
Hidup di dalam komunitas yang tak sempurna,
Berteman dengan teman yang tak sempurna,
Bersekolah di sekolah yang tak sempurna,
Dididik guru-guru yang tak sempurna,
Bekerja di tempat kerja yang tak sempurna,
Berkarya bersama mereka yang juga tak sempurna,
Berkeinginan, berusaha, dan mendapatkan yang tidak sempurna.

Setiap kita, pada akhirnya adalah produk-produk kehidupan yang penuh cacat dan cela. Inilah dunia.

Terimalah.

Tak satupun yang di luar diri kita bisa kita kendalikan sesuai cara yang kita inginkan. Tak ada di dunia ini yang sungguh dan sejati kita kuasai. Kita lebih banyak bersepakat dengan kehidupan, dan kita lebih sering bermufakat dengan sesama manusia.

Hanya ini, yang bisa tetap selalu berada di dalam genggaman kita:

1. Pikiran kita,
2. Tindakan kita.

Maka, tak ada pilihan lain bagi kita untuk meyakini dengan pasti, bahwa hanya itu jugalah yang dapat kita andalkan dalam menciptakan keadaan diri dan kehidupan. Bukan tak disengaja bahwa kemampuan kendali kita diarahkan oleh Sang Pencipta lewat kehidupan ke pikiran dan tindakan. Selebihnya, adalah haq mutlak-Nya untuk membolak-balik hati.

Maka, bertanggungjawablah.

Satu-satunya maksud dari semua kondisi manusia yang serba tak sempurna ini, adalah agar setiap kita mau bertanggungjawab sebab hidup kita sedang mengandalkan diri kita.

Dan jika kita sedang berada di depan dari masa yang akan datang, maka bertanggungjawab bukan hanya sekedar menjawab pertanyaan tentang hasil-hasil di ujung-ujung dari setiap proses dan kejadian. Lebih dari itu, bertanggung jawab adalah menjawab tantangan dan merespon segala apa yang ditawarkan oleh kehidupan di setiap awal dari fase-fase yang kita lalui.

Bertanggungjawab itu di mulai dari depan.
Bertanggungjawab, selalu dimulai dari detik ini.

Apa, yang ingin engkau rasakan?
Apa, yang engkau pikirkan?
Apa, yang akan engkau lakukan?

Engkau masih diberi waktu sejumlah saldo usiamu yang batas akhirnya bukan engkau yang menentukan. Engkau harus bertanggung jawab sejak awal hingga akhir.

Maka, kembalilah ke rel jatidirimu,
Mulai sekarang.

Kamu itu, sudah dimampukan.

Makin semangat!

Ikhwan Sopa

4 Macam Kepribadian Manusia

Selamat malam sahabat,

Jika kepribadianmu adalah "kiri depan", maka ingatlah Umar bin Khattab r.a. - Seorang mulia yang keteguhan hati dan determinasinya tak tertandingi. Beliau adalah contoh manusia yang tegas dan tuntas.

Jika kepribadianmu adalah "kanan depan", maka ingatlah Ali bin Abi Thalib r.a. - Seorang mulia yang kecerdasan dan kreatifitasnya sungguh luar biasa. Beliau pernah ditantang untuk berpidato dengan cukup panjang, dengan syarat tidak satu kalipun menggunakan huruf alif. Beliau bisa melakukannya.

Jika kepribadianmu adalah "kiri belakang", ingatlah Abu Bakar Ash Shiddiq r.a. - Seorang mulia yang keberpihakannya pada kebenaran dan tata aturan tak pernah bisa disaingi oleh akumulasi kebaikan seluruh manusia.

Dan jika kepribadianmu adalah "kanan belakang", maka ingatlah Utsman bin Affan r.a. - Seorang mulia, khalifah berkuasa yang ketika dikepung pemberontak bersenjata di rumahnya sendiri justru berkata, "Aku tidak ingin berjumpa dengan Allah SWT sementara di leherku ada setetes darah seorang muslim."

Note: Untuk training 4 macam kepribadian ini, silahkan menghubungi kami.

Makin semangat!

Ikhwan Sopa

The Seven Habits of Highly Spiritual People

English? Use the Google Translate for this page - http://goo.gl/NQ4ev

Selamat pagi sahabat,

The Seven Habits of Highly Spiritual People

Dependence or Self-Slavery

1. Be Indifferent

Jika yang baik bisa tersembunyi dalam sesuatu yang tak kusukai, dan yang buruk bisa tersembunyi di dalam yang kusukai, untuk apa lagi aku masih mengandalkan rasa suka atau tidak suka?

2. Begin With The Beginning In Faith

Semuanya sudah tertulis di lauh mahfudz. Jika dunia dan kehidupan ini telah direncanakan, maka duniaku dan hidupku telah direncanakan. Jika aku sungguh tak tahu apa rencana-Nya, maka upayaku adalah berusaha maksimal mengikuti rambu dan tanda.

3. Put Last Things First

Sepenting apapun sesuatu, urgensinya haruslah ibadah. Untuk itulah aku diciptakan.

Intradependence

4. Think Lose-Lose

Aku ini hamba, bagaimana mungkin bisa menjadi tuan bagi sesama hamba? Aku ini makhluk, bagaimana mungkin menentang kekuasaan Khalik?

5. Seek First to be Understood, Then to Understand

'Yakinkan' Tuhan, dengan izin-Nya aku akan mengerti dunia. Yang mengejar bayangan tak akan pernah bisa memeluknya, yang berjalan menuju cahaya bayangan akan mengikutinya.

6. Be Selfish

Ingatlah selalu akan hari di mana manusia seperti orang mabuk, ibu yang mengandung keguguran dan yang menyusui tak menghiraukan bayinya lagi, gunung-gunung hancur lebur seperti debu yang bertebaran, langit terpecah, matahari digulung, bulan tak lagi di tempatnya, dan bintang-bintang berserakan.

Self Obsolescence

7. Soften the Saw

Aku harus mulai menumpulkan ego dan nafsuku, sebab kiamat kecilku makin dekat dan kiamat besar sedang datang. Sejalan dengan waktu, aku harus terus menyeimbangkan fokus di dalam kesementaraan demi keabadian. Aku harus memperhatikan bagaimana langit dan bumi diciptakan dan mengamati secara seksama dengan penuh kewaspadaan. Ya, selagi keduanya masih biru.

Sekedar mengingatkan diri dan sesama.

Makin semangat!

Ikhwan Sopa

Tujuh Strategi Dasar Kehidupan - Keyakinan (6)

Selamat sore sahabat,

"Pemberdayaan diri adalah kreatifitas taktik dari satu keadaan ke keadaan lain di dalam tujuh strategi dasar kehidupan."

6. Keyakinan

"Hidup adalah tentang keyakinan, dan keyakinan selalu dipertanyakan."

"Apa yang bisa dilekati dengan kata, ia menjadi ada."

"Jika yakin, seseorang bahkan tak perlu mengerti."


Keyakinan adalah pusat dari kehidupan. Segala hal yang ada, terjadi, dan melekat pada segala sesuatu adalah fenomena keyakinan.

Hanya untuk mengatakan bahwa diri ini sedang "lapar" kita butuh meyakini bahwa diri kita lapar. Untuk menyebutkan warna "hitam" kita harus meyakini bahwa warna itu memang hitam.

Karena seluruh isi kehidupan adalah tentang keyakinan, maka keyakinanlah yang pada dasarnya membangun kehidupan dan melahirkan keadaan. Termasuk, keadaan berdaya atau tidak berdaya.

Keyakinan bersumber dari:

1. Pengalaman
2. Eksperimen
3. Refleksi
4. Generalisasi
5. Pakar, otoritas, dan ahli
6. Bombardir

Bentuk-bentuk keyakinan:

1. Eksistensi, A itu ada.
2. Asosiasi, A berhubungan dengan B
3. Ekuivalensi, A sama dengan B
4. Enaksi, A terjadi
5. Kausalitas, A mengakibatkan B

Tingkat kekuatan keyakinan:

1. Kuat, biasanya tentang jati diri dan spiritual
2. Buta, keyakinan tanpa pengetahuan
3. Lemah, keyakinan yang kurang pengetahuan
4. Tidak yakin, keyakinan yang berseberangan

Proses penguatan keyakinan:

1. Yakin dengan mendengar
2. Makin yakin dengan melihat
3. Sangat yakin dengan melakukan atau mengalami sendiri

Peran utama keyakinan:

1. Menjadi sumber kekuatan yang terbesar dan menjadi penyebab perbedaan
2. Menjadi tiang penyangga segala bentuk penciptaan
3. Tidak seperti argumen dan logika yang terbatas, keyakinan nyaris tak terbatas
4. Membebaskan diri dari kekhawatiran dan ketakutan
5. Menciptakan rasa kepastian tentang segala keadaan
6. Menjadikan kita mampu melihat yang tak terlihat, mempercayai yang sulit dipercaya, dan menerima hal-hal yang tak mungkin
7. Menjadi pembebas dari beban untuk mengerti dan menjelaskan
8. Menjadi pemudah proses memilih dan mengambil keputusan
9. Menjadi hal yang paling berpengaruh terhadap kebahagiaan, kesehatan, dan kesejahteraan

Penghambat terbesar untuk meyakini sesuatu adalah:

1. Pengalaman
2. Pendidikan
3. Logika dan panca indera
4. Alasan
6. Takut dan khawatir
7. Karena keyakinan beroperasi di wilayah bawah sadar
8. Karena suatu keyakinan dianggap bertentangan dengan kebenaran

Di antara keyakinan-keyakinan yang memberdayakan adalah:

1. Segala sesuatu terjadi dengan alasan dan terjadi untuk melayani diri dan kehidupan kita
2. Tidak ada gagal, yang ada umpan balik
3. Tidak ada salah, yang ada pelajaran
4. Apapun yang terjadi, kita harus bertanggungjawab
5. Tidak perlu mengerti segala hal untuk mampu melakukan berbagai hal
6. Manusia adalah sumber daya terbesar
7. Waktu adalah sumber daya paling langka
8. Dunia ini permainan pikiran dan perasaan
9. Setiap kita bisa bermimpi sendirian, mencapainya tidak

Keyakinan penghambat atau limiting beliefs adalah keyakinan yang mencegah diri kita dari berdaya atau dari mampu merealisasikan potensi dan mengkreasi hasil-hasil.

Tanda-tanda keberadaan limiting beliefs pada diri:

1. Ketika seseorang mempercayai bahwa dirinya adalah masalah dan bukan diri yang sedang menghadapi masalah, ketika merasa masalah adanya di dalam dan bukan di hadapan
2. Ketika satu masalah menjadikan seseorang merasa bahwa seluruh kehidupannya menjadi bermasalah
3. Ketika seseorang mulai meyakini bahwa masalahnya tidak dapat diselesaikan dan akan menjadi masalah selamanya

Limiting beliefs yang muncul karena cara pandang dan definisi yang salah adalah:

1. Saya adalah... atau saya bukan...
2. Saya tidak bisa
3. Saya harus... saya tidak harus...
4. Saya sedang melakukan... saya tidak sedang melakukan...
5. Orang lain adalah... orang lain akan...
6. Dunia ini adalah... dunia bekerja dengan cara...

Limiting beliefs yang muncul karena cara pikir dan pola rasa yang salah adalah:

1. Bahwa kita butuh dicintai, disetujui, atau didukung oleh mereka yang penting, kaya, atau berkuasa, padahal sebenarnya kita butuh dicintai, disetujui, dan didukung oleh Yang Maha Kuasa
2. Bahwa kita harus mencapai dan mendapatkan apapun yang kita inginkan, dan tanpa itu kita merasa tidak bernilai
3. Bahwa seseorang adalah sebentuk keburukan karena perilakunya yang buruk, sehingga ia tak akan pernah menjadi lebih baik, padahal setiap perilaku masih mungkin berubah kecuali Tuhan yang menetapkan
4. Bahwa sesuatu itu buruk atau jelek jika tidak bersesuaian dengan keinginan
5. Bahwa sebab keguncangan emosi adalah semata-mata faktor luar sehingga tidak bisa dikendalikan
6. Bahwa tanggungjawab dan kesulitan adalah sesuatu yang harus dihindari karena dianggap lebih memudahkan kehidupan
7. Bahwa manusia adalah semata-mata individualistik, atau bahwa manusia adalah semata-mata sosialistik
8. Bahwa masa lalu adalah satu-satunya sebab untuk keadaan sekarang sehingga sekarang dan masa depan tak bisa diubah dan dianggap pasti sesuai prediksi dan pola-pola kebiasaan
9. Bahwa gangguan dari luar diri harus menyebabkan kekecewaan dan kemarahan
10. Bahwa setiap masalah harus selalu memilki solusi yang benar, tepat, dan sempurna sehingga tidak menemukannya adalah kegagalan dan ketidakberdayaan

Limiting beliefs bisa dikikis dengan cara:

1. Diisolasi
2. Diidentifikasi sumbernya
3. Dikenali blunder dan dampak buruknya
4. Membangun keyakinan yang memberdayakan sebagai pengganti
5. Dicarikan bukti pendukung dan penguat dari keyakinan pengganti yang memberdayakan itu

Cara terkuat untuk hidup di dalam keberdayaan, adalah dengan menjadi pemilik keyakinan dan bukan menjadi pengikut keyakinan. Itu sebabnya, dibutuhkan keinginan untuk memetik hikmah dan pengetahuan terkait suatu keyakinan. Itu sebabnya, yang yakin dengan berilmu dan berpengetahuan, lebih tinggi satu derajat dari yang sekedar meyakini.

Penguat keyakinan yang terkuat (bahkan termasuk termasuk keyakinan yang salah sekalipun) adalah tindakan.

Sebelumnya - "5. Motivasi"

http://milis-bicara.blogspot.com/2012/01/tujuh-strategi-dasar-kehidupan-motivasi.html

Makin semangat!

Ikhwan Sopa

Licensed Practitioner of MPdP

Selamat malam sahabat,

Insya Allah, hari Senin, tanggal 23 Januari 2012 yang akan datang, QA Communication selaku salah satu lembaga penyelenggara "Training Sertifikasi Manajemen Pikiran dan Perasaan" akan mewisuda "Licensed Practitioner of MPdP" angkatan pertama, bertempat di Graha Wisata TMII, Jakarta Timur.

Adapun untuk tingkat praktisi ini, kualifikasi keahlian minimum mereka terdiri dari tiga yaitu:

1. MPdP Knowledge

Yaitu pemahaman umum praktisi MPdP tentang Belief System versi MPdP yang terdiri dari "35 Kecerdasan Mental", yang dikelompokkan ke dalam tiga kelompok besar beliefs, yaitu:

- Beliefs tentang diri.
- Beliefs tentang upaya, ikhtiar, dan kerja.
- Beliefs tentang tujuan, target, visi, dan cita-cita.

Gambaran umum dari knowledge ini dituangkan ke dalam sebuah buku berjudul "Manajemen Pikiran dan Perasaan" yang dapat diperoleh di toko-toko buku terdekat, atau dapat dibeli secara online di situs penerbitnya di sini:

http://www.penerbitzaman.com/code.php?index=Katalog&op=tampilbuku&bid=118

Gambaran umum dari beliefs system ini juga dituangkan ke dalam sebuah ebook anak buku "Manajemen Pikiran dan Perasaan" yang langsung dapat sahabat download dari sini:

http://qacomm.com/docs/Manajemen-Pikiran-Dan-Perasaan.pdf

Untuk kepentingan Personality Assessment, "35 Kecerdasan Mental" MPdP dikelompokkan ke dalam empat macam personality yang berbasis model otak empat kuadran (otak kiri, kanan, depan, dan belakang). Kami menyebutnya sebagai "MPdP Inventory" yang dapat sahabat download dari sini:

http://qacomm.com/docs/Inventori-MPdP.pps

2. Therapeutic MPdP Skill

Yaitu kemampuan teknis praktisi MPdP untuk kepentingan terapi pemberdayaan diri dalam konteks 'cure and solutions oriented', alias dari masalah ke solusi dan dari ketidakberdayaan menuju keberdayaan.

Gambaran framework dan workflow dari model terapi ini bisa sahabat download dari sini:

http://qacomm.com/docs/Therapeutic-MPdP.pps

Salah satu teknik terapi yang kami standarisir untuk tingkat praktisi adalah "CTB Model" atau "Cara Terpendek untuk Berdaya" berbasis pola Re-Framing Pikiran dan Asosiasi Perasaan yang sangat sederhana namun memiliki kekuatan pemberdayaan yang sangat kuat.

Gambaran umum dari CTB Model ini dapat sahabat download dari sini:

http://qacomm.com/docs/CTB-Model.pps

3. MPdP Personal Transformation Skill

Yaitu kemampuan teknis praktisi MPdP untuk kepentingan pengembangan diri dalam konteks 'accelerated transformation oriented', alias dari kondisi keberdayaan saat ini menuju pengembangan diri ke arah keberdayaan yang memuluskan pencapaian tujuan dan cita-cita.

Salah satu model akselerasi pengembangan diri yang kami kembangkan adalah MPdP "Metaphoric Personal Transformation Model" atau disingkat "MPT Model" berbasis fakta bahwa seluruh kehidupan adalah tentang Makna dan Pemaknaan di mana setiap manusia memiliki "cara pandang tentang diri, kehidupan, dan dunia".

Gambaran umum dari MPT Model ini dapat sahabat download dari sini:

http://qacomm.com/docs/MPT-Model.pps

Sebagai tambahan, MPdP juga menawarkan "Cara Pandang MPdP Tentang Manusia dengan Pikiran dan Perasaannya". Gambaran umum tentang cara pandang ini dapat sahabat download dari sini:

MPdP Self Model
http://qacomm.com/docs/MPdP-Self-Model.pps

MPdP Emotional Roadmap
http://qacomm.com/docs/Emotional-Roadmap-MPdP.pps

Sebagai ringkasan, seorang "Licensed Practitioner of MPdP" diharapkan memenuhi kualifikasi standar setidaknya dalam tiga hal yaitu:

- MPdP Basic Knowledge
- MPdP Therapeutic Skill
- MPdP Personal Transformation Skill

Mohon doa restu dari sahabat, semoga bermanfaat.

Makin Semangat!
Ikhwan Sopa

Tujuh Strategi Dasar Kehidupan - Motivasi (5)

Selamat siang sahabat,

"Pemberdayaan diri adalah kreatifitas taktik dari satu keadaan ke keadaan lain di dalam tujuh strategi dasar kehidupan."

5. Motivasi

Motivasi adalah konsep-konsep motif yang dikembangkan dari dorongan jiwa manusia (hasrat atau desire) menjadi bahan-bahan baku yang diolah menjadi perilaku. Semua konsepsi motif ini kemudian berkembang menjadi teori-teori motivasi klasik dan modern sebagaimana yang kita kenal sekarang.

Hasrat-hasrat jiwa manusia itu adalah:

1. Dorongan untuk bertahan hidup dan menjaga diri
2. Dorongan untuk menjaga kelangsungan keturunan
3. Dorongan untuk memiliki
4. Dorongan untuk memusuhi
5. Dorongan untuk bersaing dan berkompetisi
6. Dorongan untuk ber-Tuhan, beragama, dan berkontemplasi

Pergerakan dan dinamika dari dorongan-dorongan jiwa inilah yang menjadi lahan dan ladang pemberdayaan diri kita, yang kita kelola menjadi sebentuk life skill yang kita sebut dengan "motivasi".

Dengan skill motivasi, semua dorongan ini kita olah selama hidup menjadi pilihan-pilihan perilaku fujur atau taqwa.

Maka, motivasi bukan hanya sekedar motivasi. Sebab, keadaan berdaya yang sesungguhnya insya Allah adalah keadaan di mana pengelolaan dorongan-dorongan jiwa tersebut menghasilkan pilihan ekologis berupa perilaku taqwa.

Sebelumnya - "4. Kreatifitas"

http://milis-bicara.blogspot.com/2012/01/tujuh-strategi-dasar-kehidupan_4037.html

Makin semangat!

Ikhwan Sopa

Tujuh Strategi Dasar Kehidupan - Kreatifitas (4)

Selamat siang sahabat,

"Pemberdayaan diri adalah kreatifitas taktik dari satu keadaan ke keadaan lain di dalam tujuh strategi dasar kehidupan."

4. Kreatifitas

Kreatifitas adalah kemampuan mengkreasi sesuatu dari "tidak ada" menjadi "ada". Sesuatu yang belum ada bukanlah kemutlakan, sebab nyaris apapun sebenarnya telah ada. Kreatifitas adalah menemukan hubungan-hubungan dari dua hal yang sebelumnya tak terlihat atau tak terasakan. Orang sering menyebut bibit-bibit ini dengan "benang merah".

Energi kreatifitas akan terpicu dan terpacu saat kita bisa membebaskan diri dari enam belenggu berikut ini.

1. Sikap negatif
2. Terlalu takut gagal
3. Tidak menyediakan waktu bagi kreatifitas
4. Terlalu patuh pada aturan
5. Terpenjara dalam asumsi
6. Terlalu tergantung pada logika

Padahal,

1. Sikap negatif bergerak mundur dan kreatifitas bergerak MAJU. Setiap situasi selalu melahirkan apa yang disebut dengan "peluang turunan". Di sinilah, ilmu "justru itu" adalah jurus penting di dalam kreatifitas.

2. Hanya ada dua hal tentang kegagalan. Yaitu kemauan dan kecukupan waktu. Gagal hanya ada jika kita berhenti. Itu artinya, BERHENTI BERKREASI. Sepanjang kita memiliki kemauan, dan terus melakukan dengan pemahaman pembelajaran (strategi sebelum ini), maka kehabisan waktu bukanlah kegagalan. Tidak cukup waktu, itu saja.

3. Kesibukan rutinitas yang seperti robot, kita ciptakan dan kita lakukan demi memudahkan pelaksanaan berbagai tugas. Kita sering lupa, bahwa menyediakan waktu untuk berpikir kreatif JUSTRU merupakan upaya terbaik untuk makin memudahkan segala rutinitas kita itu. Kreatifitas, adalah hal penting dalam ilmu GTD (getting things done).

4. Kita lupa bahwa peraturan, target, atau standar kerja, diciptakan JUSTRU untuk memicu dan memacu kreatifitas. Seseorang yang diterima bekerja, dan kemudian dipersilahkan sebebas-bebasnya bekerja, terserah apa yang mau dilakukan, terserah apa yang mau ditargetkan, terserah bagaimana caranya, dan bebas tanpa aturan, target, atau batasan, dijamin tidak akan kreatif. Dalam banyak hal, kita mengenal apa yang disebut dengan "the power of kepepet".

5. Inilah bahayanya asumsi. "When you assume, you make an ASS out of U and ME." Asumsi dibenarkan, tapi menjadi salah ketika ia menjadi penjara bagi kreatifitas. Menguji dan men-challenge asumsi adalah langkah awal untuk memasuki dunia kreatif. Asumsi seringkali hanya merupakan pendapat suatu pihak (termasuk semua ini!) yang terlanjur menjadi hukum yang dianggap pasti.

6. Logika, menyempitkan makna dari berbagai hubungan dan keterkaitan antara berbagai hal. Ilmu logika adalah ilmu berfokus. Kreatifitas adalah alasan-alasan terpenting untuk fokus. Kreatifitas bahkan menjadi sebab bagi fokus. Logika menjadi tak berarti tanpa luasnya kreatifitas. Logika adalah matematika, yang hidup sebatas simbol matematis. Dan di antaranya, ada simbol yang terkenal yaitu ~. Pikiran kita dan kemampuannya tidak bisa dibatasi oleh logika. Logika yang identik dengan matematika memiliki kepastian cukup tinggi, tapi itu bukan segalanya.

Dalam kenyataan hidup sehari-hari, tak semua persoalan berkarakteristik digital (ya atau tidak, benar atau salah, ini atau itu, dan sebagainya). Sebagian besar persoalan di dalam kehidupan, justru lebih banyak yang bernuansa analog dan tak melulu hitam dan putih.

Hal termudah untuk mengindentifikasi terbatasnya logika, adalah seringnya kita menggunakan ungkapan "tidak masuk akal".

Mendahului logika, ada yang disebut dengan "imajinasi". Simbol-simbol matematika pun, adalah hasil kreatifitas imajinasi.

Bagaimana jika begini? 2+2=<@>

Angka 1 dengan 24 nol di belakangnya disebut dengan "yotta". Jika nol itu 25 atau lebih, manusia dan matematika belum sempat menyepakatinya.

"Imagination is more important than knowledge. For knowledge is limited to all we now know and understand, while imagination embraces the entire world, and all there ever will be to know and understand."
- Albert Einstein -

Maka ingatlah ini,

"Imajinasi kita nyaris tak terbatas, tapi kapasitas yang menampungnya selalu lebih luas."

Berdaya, adalah mengaktivasi kekuatan besar anugerah Tuhan ini.

Sebelumnya - "3. Pembelajaran"

http://milis-bicara.blogspot.com/2012/01/tujuh-strategi-dasar-kehidupan_8207.html

Makin semangat!

Ikhwan Sopa

Tujuh Strategi Dasar Kehidupan - Pembelajaran (3)

Selamat pagi sahabat,

"Pemberdayaan diri adalah kreatifitas taktik dari satu keadaan ke keadaan lain di dalam tujuh strategi dasar kehidupan."

3. Pembelajaran

"Belajar adalah melakukan hal yang sama dengan cara yang berbeda."

"Insanity: Doing the same thing over and over again and expecting different results."

- Albert Einstein -

Berdaya adalah membedakan hasil yang lebih baik dari hasil sebelumnya.

Melakukan hal yang sama dengan cara yang sama, sungguh dapat diprediksi bahwa hasilnya adalah sama atau kurang lebih sama.

Melakukan hal yang sama dengan cara yang berbeda tapi dapat diprediksi hasilnya akan sama atau lebih buruk, adalah pembelajaran yang negatif.

Inti dari pembelajaran yang memberdayakan adalah "perubahan" dan "perbedaan".

Dari belum tahu menjadi tahu adalah perubahan, dan belum tahu jelas berbeda dari sudah tahu. Dari belum bisa menjadi bisa adalah perubahan, dan jelas sekali bedanya antara belum bisa dan sudah bisa.

Pembelajar yang berdaya adalah pembelajar yang lebih memilih untuk berubah dan berbeda, dan lebih memilih menggunakan "belum" ketimbang "tidak".

Ingat ini. "Tidak" membuatmu diam atau makin berkarat, "belum" membukakan pintu. Bukankah engkau ingin "makin" yang ke arah kanan dan sering disebut orang dengan "maju"?

"Hal yang sama" adalah apapun yang sudah pernah dihadapi, atau sudah pernah dikerjakan, atau sudah pernah dilalui sebelumnya. "Hal yang sama" adalah tentang perulangan.

"Cara yang berbeda" bisa merupakan tindakan mekanistis secara fisik maupun proses mental. Paling tidak, jika mekanisme fisiknya dipersyaratkan tetap sama, pembelajar yang berdaya selalu menggunakan fenomena mental yang berbeda dalam pengertian lebih baik.

"Hal yang berbeda" adalah apapun yang belum pernah dihadapi, atau belum pernah dikerjakan, atau belum pernah dilalui. "Hal yang berbeda" adalah segala sesuatu yang "pertama kali".

Pembelajar yang berdaya, bereaksi terhadap yang "pertama kali" dengan hanya satu sikap saja, yaitu "just do it!".

Dengan "just do it!" ia bahkan mungkin belum belajar, dan baru sekedar menciptakan alat pembanding yang mencerminkan keadaan "belum"-nya. Belum bisa, belum mampu, belum tahu, belum pernah. Langkah pertama diperlukan sebagai starting point untuk menjadi pembanding segala hasil.

Itu sebabnya, definisi "nilai" adalah "jarak tertentu dari nol". Nol, harus ada terlebih dahulu. Kurang lebih, "just do it!" adalah menciptakan titik nol itu.

Berdaya adalah menjadi pembelajar yang mengambil tindakan.

Sebelumnya - "2. Keputusan"

http://milis-bicara.blogspot.com/2012/01/tujuh-strategi-dasar-kehidupan_20.html

Makin semangat!

Ikhwan Sopa

Tujuh Strategi Dasar Kehidupan - Keputusan (2)

Selamat pagi sahabat,

"Pemberdayaan diri adalah kreatifitas taktik dari satu keadaan ke keadaan lain di dalam tujuh strategi dasar kehidupan."

2. Pengambilan Keputusan

Bekal utama kita adalah akal. Kata "akal" berasal dari akar kata "ikat" atau "akad" yang semuanya berarti "terikat". Akal dianugerahkan sebagai sesuatu yang bekerja di dalam ikatan atau sesuatu yang proses kerjanya terikat. Akal kita terikat pada pilihan. Itu sebabnya cara kerjanya yang paling mendasar atau fungsi dasar dari akal adalah "memilih".

Mengambil keputusan adalah menetapkan pilihan.

Kondisi tidak berdaya terjadi karena ketidakmampuan kita mengoptimalkan fungsi dasar akal atau karena keterjebakan kita dalam fungsi dasar dari akal dalam cara yang tidak memberdayakan.

Ketidakmampuan atau keterjebakan itu di tingkat yang paling mendasar adalah:

1. Ketika hanya tersedia satu pilihan, dan pilihan itu dipersepsi sebagai "tirani".

2. Ketika tersedia dua pilihan, dan pilihan itu dipersepsi sebagai "simalakama".

Keterampilan pemberdayaan diri adalah kemampuan untuk menciptakan persepsi pilihan yang terbaik, dan seringkali memerlukan kemampuan untuk menciptakan "pilhan ketiga".

Kemampuan menciptakan "pilihan ketiga" di sebut dengan "pengetahuan" yaitu dua pengetahuan yang menyatu menciptakan pengetahuan baru yang lebih maju.

- Senang atau susah?

Berdaya adalah senang, atau susah yang dipersepsi sebagai penyeimbang dari senang atau menjadi sebab bagi adanya senang. Tuhan menciptakan segala sesuatu secara berpasangan dan keberadaan yang satu adalah untuk pemahaman yang lain.

- Rugi atau untung?

Berdaya adalah untung, atau rugi yang mencerminkan keuntungan di sisi yang lain yang lebih baik, lebih tinggi, atau lebih berjangka panjang.

- Sekarang atau nanti?

Berdaya adalah sekarang, atau nanti yang ketika saatnya berubah menjadi sekarang adalah "sekarang" yang memberdayakan.

- Maju atau mundur?

Berdaya adalah maju, atau mundur selangkah demi kemajuan dua langkah atau lebih.

- Ini atau itu?

Berdaya adalah ini, atau itu yang memberdayakan ini.

Berdaya identik dengan "di sini" dan "sekarang" yang memberdayakan "di sana" dan "nanti".

Berdaya sering identik pula dengan kemampuan menciptakan pilihan ketiga.

- Bebas secara finansial, tapi tidak bebas waktu
- Bebas waktu, tapi di rumah sakit

Lalu kita menciptakan bebas finansial dan bebas waktu. Sayang, seringkali tidak bebas riba'. Apa "pilihan ketiga" berikutnya, yang bebas finansial, bebas waktu, dan bebas riba'?

Lalu kita menciptakan properti. Sayang, jika kita tidak berhati-hati seringkali tidak bebas dari tudingan "bermegah-megahan yang melalaikan".

Apa, yang bebas finansial, bebas waktu, bebas riba' dan tidak bermegah-megahan?

Jangan berhenti berdaya dengan terus menciptakan pilihan ketiga. Pilihan ketiga identik dengan merdeka. Itu sebabnya, "tiga" nyaris seperti angka keramat.

Sebelumnya - "1. Kenangan"

http://milis-bicara.blogspot.com/2012/01/tujuh-strategi-dasar-kehidupan.html

Makin semangat!

Ikhwan Sopa

Tujuh Strategi Dasar Kehidupan - Kenangan (1)

Selamat pagi sahabat,

"Pemberdayaan diri adalah kreatifitas taktik dari satu keadaan ke keadaan lain di dalam tujuh strategi dasar kehidupan."


1. Kenangan

Seperti file-file hasil kerja yang kita simpan di dalam harddisk komputer dengan jenis file, nama file, dan foldernya, tujuan terpenting menyimpan kenangan adalah agar kita dapat memanggilnya kembali untuk digunakan kembali terkait dengan suatu kepentingan.

Hidup yang kita jalani dari menit ke menit adalah proses-proses simultan penyimpangan kenangan dan pemanggilan kembali kenangan. Apa yang kita simpan itulah yang akan kita panggil dan menjadi isi dari kehidupan.

Kita perlu teliti tentang apa-apa yang kita simpan di dalam kenangan kita, agar apa-apa yang kita panggil menjadi isi atau realitas kehidupan, adalah apa-apa yang kita inginkan, kita perlukan, dan kita butuhkan.

Jika kita menyimpan lebih banyak virus, maka hidup kita adalah virus. Jika kita menyimpan lebih banyak penyakit, maka hidup kita adalah penyakit. Jika kita menyimpan lebih banyak kemarahan, maka hidup kita adalah kemarahan. Jika kita menyimpan lebih banyak dendam, maka hidup kita adalah misi balas dendam. Jika kita menyimpan lebih banyak ketidakpuasan, maka hidup kita adalah penyesalan.

Kenangan kita seperti arsip, gudang, dan sekaligus taman. Kita pasti ingin, perlu, dan butuh bahwa arsip kehidupan kita tertata rapi, terorganisir, efisien serta efektif di dalam keindahan, kebaikan, dan kebenaran.

Makin semangat!

Ikhwan Sopa

Keyakinan Menghemat Proses Berpikir

Selamat pagi sahabat,

"Keyakinan menghemat proses berpikir. Maka berpikirlah untuk menguatkan keyakinan, agar jarakmu dengan tindakan semakin pendek, sebab waktumu memang terbatas."


Makin semangat!

Ikhwan Sopa

Contoh-Contoh CTB Model (Cara Terpendek untuk Berdaya)

Selamat pagi sahabat,

Terkait dengan "Cara Terpendek untuk Berdaya" semalam - http://milis-bicara.blogspot.com/2012/01/cara-terpendek-untuk-berdaya.html, berikut ini adalah contoh-contoh kerja therapeutic yang semoga inspiratif.

Elemen dasar dari "Cara Terpendek untuk Berdaya" alias "CTB Model" adalah:

1. Re-Framing
2. Association

PIKIRAN melakukan re-frame dan kemudian PERASAAN ditenggelamkan dalam asosiasi yang sesuai re-frame.

Setiap kondisi tidak berdaya adalah kondisi yang sedang terpenjara oleh frame BERPIKIR tertentu dan PERASAANNYA masih dis-asosiatif dari kondisi berdaya.

Pemberdayaan adalah melakukan upaya forced/focused cognition terhadap PIKIRAN dan forced/focused affection terhadap PERASAAN.

Berikut ini adalah tiga contoh penerapan CTB Model dengan tiga style.

1. Ultimate Style - Satu Siklus

Memanfaatkan tingkat tertinggi dari Neuro Logical Level (NLL) yang sangat chunk-up dan 'mencakup segala'. Menerapkan hanya satu siklus Re-Frame dan Association.

Kondisi Tak Berdaya:

"Oh, hidupku kacau-balau..."

Re-Framing:

"Ini hidupmu. Di dalam hidupmu hanya ada Tuhan dan utusan-Nya, dirimu, dan dunia. Apa dan siapapun yang bukan Tuhanmu atau utusan-Nya dan bukan dirimu adalah tamu-tamu di dalam hidupmu sebagai bagian dari dunia. Engkau telah diberi kekuasaan dan kekuatan untuk mengatur dan mengelola duniamu itu sebagai 'wakil' dan saksi-Nya di dalam hidupmu ini."

Association:

"Apakah engkau mau merasa bahwa engkau telah kehilangan kekuasaan dan kekuatan sebagai 'wakil' dan saksi-Nya sehingga dirimu bukan lagi manusia, ataukah engkau mengerti bahwa engkau adalah makhluk yang paling berdaya di muka bumi?"

2. Soft Style - Siklus Berulang

Kondisi Tak Berdaya 1:

"Aduuuh, ane kehabisan duit nih. Pusiiiiing...! Bingung neh. Mentok, abis nggak tau lagi gimana harus mencari uang."

Re-Framing 1:

"Jika engkau punya pos-pos pengeluaran, maka biasanya engkau perlu menciptakan pos-pos penerimaan. Jika engkau masih mengeluarkan biaya, maka engkau masih perlu mendapatkan uang. Jika engkau masih menggunakan atau memanfaatkan, maka biasanya engkau masih perlu memelihara. Maka, engkau tetap perlu mencari uang."

Association 1:

"Bukankah, jika engkau mau menyediakan waktu untuk menyadari semua itu, maka berarti engkau masih mau menyediakan waktu untuk melakukan sesuatu tentang semua itu? Maka sadarilah, bahwa engkau masih punya kesempatan untuk mencari uang."

Kondisi Tidak Berdaya 2:

"Pan ane udah bilang tadi, gue nggak tau lagi gimana harus mencari uang!"

Re-Framing 2:

"Bisa jadi, sebab engkau masih menggunakan 'harus' dan 'mencari'."

Association 2:

"Bagaimana dengan ini? Engkau tetap 'mengharuskan', tapi bukan lagi 'mencari' melainkan 'dicari'. Bagaimana caranya, supaya uanglah yang 'harus mencarimu'?"

Dan seterusnya siklus Re-Framing - Association dilakukan sampai mencapai keberdayaan.

3. Extreme Style - Siklus Berulang - Garis Keras

Kondisi Tidak Berdaya 1:

"Aku tidak berbahagia."

Re-framing 1:

"Itu salahmu!"

Association 1:

"Apa rasanya menjadi manusia yang bersalah?"

Kondisi Tak Berdaya 2:

"Kampret luh! Bukannya nolongin malah nyalahin!"

Re-Framing 2:

"Ini salahmu! Masa kanak-kanakmu sudah berlalu."

Association 2:

"Apa rasanya menjadi manusia dewasa yang bersalah dan merengek seperti anak kecil?"

Kondisi Tak Berdaya 3:

"Lama-lama gue tonjok lu!"

Re-Framing 3:

"Ini salahmu! Kemarahanmu semakin tak memberdayakanmu."

Association 3:

"Apa rasanyanya, menjadi manusia dewasa yang bersalah, merengek seperti anak kecil, dan dipenuhi kemarahan pula?"

Kondisi Tak Berdaya 4:

...Gubraaak!

Re-Framing 4:

"Ini salahmu! Sudahlah, percuma saja engkau marah. Engkau semakin tak berdaya."

Association 4:

"Maukah engkau menerima kesalahanmu sebagai normalnya kesalahan manusia, yang masih selalu diberi kesempatan untuk berdaya, sepanjang ia berusaha tetap dewasa dan menjaga diri dari kemarahan?"

Kondisi Tak Berdaya 5:

"Tapi gue masih marah dan kesal nih!"

Re-Frame 5:

"Tetap saja ini semua salahmu! Marah dan kesalmu itu hanya tertuju pada dirimu sendiri."

Association 5:

"Ketahuilah, pagi ini dirimu sudah bukan dirimu yang kemarin. Maka maafkanlah dirimu yang telah bersalah dan kurang dewasa. Berhentilah marah dan kecewa, lalu bangkitlah sebagai manusia dewasa yang berdaya."

Dan seterusnya siklus Re-Framing - Association dilakukan sampai tercapai keberdayaan.

Note: Berhati-hatilah menggunakan teknik ini, dan saya tidak bertanggungjawab untuk segala efek penggunaannya.

Berikutnya, insya Allah saya sharing yang satu ini:

"Pemberdayaan diri adalah kreatifitas taktik dari satu keadaan ke keadaan lain di dalam tujuh strategi dasar kehidupan."

Makin semangat!

Ikhwan Sopa

Cara Terpendek untuk Berdaya

Selamat malam sahabat,

Berikut ini adalah cara terpendek bergerak dari "current state" ke "desired state". Dari keadaan "tidak berdaya" menjadi keadaan "berdaya".

1. Re-Framing
2. Association

Pikiran melakukan re-frame dan kemudian perasaan ditenggelamkan dalam asosiasi sesuai re-frame.

Sangat kuat dalam mengubah "sekarang", sehingga insya Allah sangat kuat dalam mengubah "masa lalu" dan "masa depan".

Dua cara ini sangat efektif dalam mengelola internal state. Jika terkait external state (di mana external state adalah segala internal state selain diri sendiri), maka diperlukan perulangan siklus cara di atas untuk menciptakan bridging state atau state antara sampai ke desired state.

Cara di atas adalah salah satu ajaran Neo Warrior dalam NeoNLP, memetik wisdom yang didemonstrasikan oleh goresan-goresan fenomena di sepanjang sejarah umat manusia.

Salah satu ajaran Neo Warrior dalam NeoNLP adalah memilih ATTITUDE untuk tidak sekedar menjadi "praktisi pengguna produk-produk NLP" melainkan juga "praktisi yang memproduksi jejak-jejak teknik NLP".

Contoh PALING EKSTREM dari ancient wisdom terkait teknik 'terpendek' ini adalah fenomena perang, jihad, nasionalisme, atau ideologi. Atau, perang antar suku atau antar bangsa, perang agama, perang antar negara baik klasik atau modern, dan perang ideologi seperti demokrasi versus sosialisme.

Pertama, pikiran mereka me-reframe bahwa perang terkait semua itu adalah 'suci' dan 'terhormat'.

Kedua, pikiran mereka me-reframe bahwa 'berangkat' dan 'pulang' terkait semua perang itu harus pula 'suci' dan 'terhormat'.

Ketiga, pikiran mereka me-reframe bahwa 'kalah' dan 'pulang' adalah 'kurang terhormat'. Lalu, mereka menciptakan sebuah pattern untuk mencapai cara 'mati yang terhormat'.

Keempat, perasaan mereka kemudian ditenggelamkan dalam asosiasi yang sangat kuat terkait semua itu.

Contoh yang paling mudah dipahami adalah fenomena Samurai.

Seorang samurai, selalu membawa dua buah pedang. Pedang yang panjang namanya samurai dan pedang yang pendek namanya tanto.

Dua pedang ini diciptakan untuk memfasilitasi pattern pemberdayaan diri seorang samurai yang diposisikan dalam kondisi double bind antara 'berperang dan menang dengan samurai' atau 'seppuku atau hara-kiri alias mati terhormat dengan sepucuk tanto merobek perut'.

Untuk kedua situasi itu, maka mereka memberdayakan diri dalam framing dan asosiasi bahwa mati yang manapun adalah 'terhormat'. Selama perang dunia kedua, mereka menciptakan pattern kamikaze.

Hal terpenting tentang semua ini, adalah segala bentuk dan jenis FILTER utama seperti sistem tata nilai yang mendasar atau beliefs system yang terstruktur, kuat, dan utuh. Hanya sistem tata nilai yang kuat dan beliefs system yang kuatlah, yang mampu memfasilitasi teknik pemberdayaan diri ini dalam kekuatan puncaknya.

Note:

Berhati-hati menggunakan teknik ini dan saya tidak bertanggungjawab untuk penggunaan teknik ini.

Dalam psikologi:

- Forced/focus cognition
- Forced/focus affection

Alias di-leading sedemikian rupa, sehingga sangat fokus.

Makin semangat!

Ikhwan Sopa

Cara Terpendek Menuju Desired State

Selamat malam sahabat,

Berikut ini adalah cara terpendek bergerak dari "current state" ke "desired state".

1. Re-Framing
2. Association

Pikiran melakukan reframe dan kemudian perasaan ditenggelamkan dalam asosiasi.

Sangat kuat dalam mengubah "sekarang", sehingga insya Allah sangat kuat dalam mengubah "masa lalu" dan "masa depan".

Dua cara ini sangat efektif dalam mengelola internal state. Jika terkait external state (di mana external state adalah internal state selain diri sendiri), maka diperlukan perulangan siklus cara di atas untuk menciptakan bridging state atau state antara sampai ke desired state.

Makin semangat!
Ikhwan Sopa

Miniatur Kekuatan Penciptaan

Selamat siang sahabat,

"Segala sesuatu diciptakan dua kali, yang pertama di dada, di kepala, dan di atasnya."

Tuhan yang Maha Berkehendak pun, menciptakan terlebih dahulu alat tulis dan buku induk untuk segala kejadian dan keadaan di alam semesta ciptaan-Nya. Namanya qolam dan lauh mahfudz. Semua itu adalah bagian dari keyakinan kita tentang hal-hal yang gaib.

Begitu pula, tentang gaibnya keadaan dan situasi kita di masa depan. Insya Allah dalam hal ini, Tuhan yang Maha Menciptakan menganugerahkan kepada makhluk yang namanya manusia, secuil kekuatan penciptaan agar mereka bisa menciptakan miniatur alam semesta menurut versinya masing-masing.

Itu sebabnya, kita perlu memilih keinginan, menuliskannya sebagai cita-cita, dan merancang rencana ke masa depan.

Kemudian, kita menyibukkan diri bekerja dengan segala sumber daya yang tersedia, dan tak pernah berhenti berdoa, semoga skenario terencana ini bersesuaian dengan ketentuan takdir-Nya.

Maka yang manapun hasil akhirnya, adalah persaksian bahwa Tuhan Maha Ada, Maha Esa, Maha Berkehendak, Maha Mengetahui, dan Maha Kuasa!

Makin semangat!

Ikhwan Sopa

Wewenang dan Tanggung Jawab untuk Berhasil

Selamat pagi sahabat,

Insya Allah, beginilah sebenarnya situasi pribadi yang disebut "tak berdaya".

Ketika pikirannya sedang lupa bahwa kewenangannya adalah sumber daya, atau ketika perasaannya sedang lalai bahwa tanggungjawabnya adalah juga sumber daya.

Pribadi itu bahkan bukan sedang tak berdaya, karena sesungguhnya ia adalah makhluk yang paling berdaya dan berpotensi menjadi pemakmur bumi.

Ia hanya sedang belajar keras menguasai kekuatan besar yang telah dianugerahkan kepadanya dan mengalami sedikit kesulitan dan sedikit ketakutan di sana-sini seperti biasanya.

Seperti pendekar muda yang sakti turun gunung dan melatih pedang besar yang berat dan tajam. Seperti prajurit gagah beramunisi lengkap yang berangkat ke medan perang dengan penuh tanda tanya. Seperti pilot handal yang dihadiahi jet tempur canggih dan kemudian sedikit bingung dengan kerumitan panel di kokpitnya.

Ia perlu selalu menyediakan ruang dan waktu bagi kesadarannya, supaya ia benar-benar selalu yakin dan mengerti bahwa jiwanya memang diciptakan untuk menjadi khalifah yang abdullah, alias menjadi menjadi raja yang menghamba.

Jiwa yang berwenang memberdayakan dirinya dengan memilih jalan, menggali potensi-potensi, dan menegakkan disiplin yang dipersyaratkan untuk mencapai keberhasilan.

Jiwa yang bertanggungjawab memberdayakan dirinya dengan menindaklanjuti pilihan, merealisasikan potensi-potensi menjadi kenyataan, dan menjalani hidup dengan memenuhi syarat disiplin yang memberhasilkan.

Pada jiwa yang telah diberi kewenangan besar untuk berhasil melekat tanggungjawab indah untuk berhasil.

Makin semangat!

Ikhwan Sopa

MPdP Preview and Personality Assessment Training

Selamat siang sahabat,

"MPdP PREVIEW and MPdP PERSONALITY ASSESSMENT TRAINING"

https://www.facebook.com/events/201534166606064/

Hari/Tanggal:
Senin/23 Januari 2012

Waktu:
08.00 - 17.00 WIB

Tempat:
Graha Wisata TMII, Jakarta Timur

Materi:
- MPdP Preview and Wrap Ups (08.00-12.00 WIB)
- Personality Assessment Training (13.00-17.00 WIB - full version)

Investasi:
Rp 150.000,-

Tempat terbatas hanya untuk 60 orang.

CATATAN:
Training yang akan diadakan ini bukan "Training MPdP" sebagaimana "Training Sertifikasi MPdP" yang kemarin dilaksanakan dengan lebih dari 20 kali pertemuan.

Training ini adalah "training penutupan Training MPdP" yang di dalamnya akan disampaikan sekelumit tentang MPdP (setengah hari) dengan tambahan "training personality" (setengah hari).

Dengan kata lain, terkait dengan MPdP-nya, training ini adalah semacam "preview" untuk training sertifikasinya, dan bagi para peserta training sebelumnya, ini adalah training "wrap up" alias penyimpulan dari proses keseluruhan yang telah mereka jalani selama lebih dari 20 sesi kemarin. Harap maklum dan mohon tidak salah persepsi.

Namun demikian, insya Allah TIDAK MENYESAL jika tetap ikut!

Jika berminat silahkan menghubungi nama-nama berikut ini:

https://www.facebook.com/hersalaanggunaipi
https://www.facebook.com/profile.php?id=1055990475
https://www.facebook.com/profile.php?id=1243070041
https://www.facebook.com/arif.dahsyat
https://www.facebook.com/irfandive
https://www.facebook.com/danang.flashteam
https://www.facebook.com/chepihkamal
https://www.facebook.com/ewink.kereaktif

Makin semangat!

Ikhwan Sopa

Jalan Terpendek Mencapai Bahagia dan Sejahtera

Selamat pagi sahabat,

Berikut ini adalah sependek-pendeknya jalan menuju bahagia dan sejahtera:

Bersabar dan bersyukur, berpikir positif, bekerja tekun.

Membuang alasan, tidak menyalahkan, berhenti mengkritik.

Mengambil tanggungjawab, membangun kepercayaan, menjaga semangat.

Tampil saat diperlukan, dengan senyum, dan percaya diri.

Semua itu termasuk ibadah.


Makin semangat!

Ikhwan Sopa

Ilmuwan dan Ulama

Selamat siang sahabat,

"Hidup adalah tentang keyakinan, dan keyakinan selalu dipertanyakan."

Ilmuwan psikolog freudian memperkenalkan tiga aparat psikis yang ada dalam diri setiap manusia. Tiga aparat itu adalah:

1. Id. Kecenderungan insting yang primitif, hewani, dan tak tertata.

2. Ego. Organisator yang realistik atas dasar pertimbangan akal.

3. Super-ego. Pemegang peran kritis dalam nilai-nilai dan moralisasi.

Ulama tadzkiyatun nafs mengangkat tiga jenis nafsu yang ada dalam diri manusia sebagaimana yang difirmankan Tuhan. Tiga jenis nafsu itu adalah:

1. Ammarah Bissu'. Kecenderungan seperti hewan atau lebih rendah dari hewan.

2. Lawwamah. Kecenderungan berakal jernih dan sehat, tapi lemah dan sering lalai. Pandai menyesali diri tapi juga mudah terpengaruh.

3. Muthmainnah. Kecenderungan yang tercerahkan dan dirahmati Tuhan, hingga ia menjadi tenang dan tenteram.

"Manajemen Pikiran dan Perasaan" alias MPdP, merumuskan bahwa kedua golongan ilmiah (ilmuwan dan ulama) ini bersepakat dalam tiga hal terkait keadaan mental manusia, yaitu:

1. Syubhat, yaitu penyakit yang muncul karena "pola pikir" yang blunder atau salah, yang mengakibatkan keragu-raguan alias tidak teguhnya keyakinan (cemas, takut, khawatir), karena pengaruh Ego atau Lawwamah (permainan logika) yang merusak idealisme Super-ego dan kecenderungan Muthmainnah (sistem tata nilai spiritual yang mendasar).

2. Syahwat, yaitu penyakit yang muncul karena "pola rasa" yang tak terkendal dan tak tertata, yang mengakibatkan tak terkontrolnya emosi (hilang akal dan kemanusiaan), karena pengaruh Id atau Ammarah (kecenderungan hewani yang primitif) yang mengacaukan atau merusak fungsi dasar Ego dan kecenderungan Lawwamah (kejernihan pertimbangan akal yang sehat).

3. Hakikat, yaitu keadaan yang tenang dan seimbang alias berbahagia dan sejahtera karena terbukanya tabir berbagai hikmah, yang mengarahkan manusia kepada pengenalan (ma'rifat) yang makin dekat kepada Tuhan.

"MPdP Self Model"
http://qacomm.com/docs/MPdP-Self-Model.pps

Wallahua'lam.
Ikhwan Sopa

Ilusi Sandal

Selamat pagi sahabat,

Semoga kita tidak terjebak pada "ilusi sandal".

Imam Ahmad bin Hambal (Imam Hambali) sedang duduk di masjid. Seorang sahabatnya menghampiri. Ia baru kembali dari menemui khalifah Al Mutawakkil.

Ia berkata, ”Di rumah amirul mukminin ada seorang budak perempuan yang kerasukan. Amirul mukminin mengutus saya supaya Anda memohon kepada Allah untuk kesembuhan budak itu.”

Imam Ahmad memberinya dua sandal kayu seraya berkata, "Pergilah kembali ke rumah amirul mukminin dan duduklah di dekat kepala budak itu. Katakan kepada si jin bahwa imam Ahmad berkata, 'mana yang paling engkau suka keluar dari budak ini atau dipukul dengan sandal ini tujuh puluh kali.'”

Ia bergegas membawa sandal itu ke rumah amirul mukminin, lalu duduk di dekat budak wanita itu seraya mengatakan apa yang diperintahkan oleh Imam Ahmad.

Melalui lisan budak itu si jin berkata, ”Aku mendengar dan patuh kepada Imam Ahmad. Bahkan seandainya beliau menyuruh aku keluar dari Iraq, aku pasti akan keluar. Sesungguhnya beliau itu orang yang taat kepada Allah. Siapapun yang taat pada Allah pasti ditaati segala sesuatu.” Jin itupun keluar dan pergi.

Tatkala Imam Ahmad telah wafat, jin itu kembali memasuki tubuh budak wanita tersebut. Kemudian amirul mukminin memanggil lagi sahabat Imam Ahmad tersebut. Ia pun datang kembali dengan membawa sandal yang sama.

Ia berkata kepada si jin, ”Keluarlah engkau, jika tidak aku akan memukul dengan sendal ini!”

Jin itu menjawab, ”Aku tidak akan patuh padamu, aku juga tidak akan keluar. Imam Ahmad bin Hambal itu berbeda, beliau benar-benar taat pada Allah, beliau menyuruh kami untuk taat pada-Nya.”

Insya Allah begitu sahabat, bukan sandalnya tapi orangnya.

Semoga bermanfaat.

Ikhwan Sopa

NB: Sebuah komentar di Facebook mengatakan begini,

"Jin pun mengakui, orang yang telah 'tiada' itu tidak memberikan manfaat/mudharat kepadanya. Lantas, kenapa masih banyak orang yang datang ke kubur dan meminta kepada sang penghuni kubur ya?"

Dan saya menambahkan:

Dan meminta syafaat Rasulullah SAW pun untuk nanti pada hari kiamat.

“Pada hari itu tidak berguna syafaat, kecuali (syafaat) orang yang Allah Maha Pemurah telah memberi izin kepadanya, dan Dia telah meridhai perkataannya.” (Thahaa: 109)

Fungsi Penderitaan

Selamat pagi sahabat,

"Perbedaan mestinya memicu motivasi, bukan emosi."

Engkau mungkin pernah mendengar ini, "cognitive dissonance" atau kita singkat saja di sini dengan CD.

Untuk mudahnya, CD adalah perbedaan antara yang engkau pikirkan dan yang engkau rasakan. Perbedaan antara apa yang ada di 'pikiran'-mu dan apa yang ada di 'perasaan'-mu.

CD-lah yang menjadi salah satu motivator terbesar manusia untuk maju, berubah, bahagia dan makin sejahtera.

Ketika engkau berpikir bahwa engkau perlu menyediakan pendidikan yang baik bagi anakmu, dan kemudian engkau merasakan bahwa yang sedang ia dapatkan masih kurang memadai, maka engkau termotivasi untuk memenuhi selisih itu dengan memberikan pendidikan tambahan.

Ketika engkau berpikir bahwa engkau perlu memasok makanan yang sehat ke dalam tubuhmu, dan kemudian engkau merasakan bahwa yang sedang menjadi kebiasaanmu adalah makanan yang kurang menyehatkan, maka engkau termotivasi untuk menyesuaikan tindakan dengan apa yang engkau pikirkan.

Ketika engkau berpikir bahwa kinerja dan produktifitasmu mestilah memenuhi standar yang telah engkau tetapkan, dan kemudian engkau merasakan bahwa yang engkau temukan adalah sebaliknya, maka engkau termotivasi untuk menselaraskannya dengan lebih baik dan lebih keras bekerja.

CD yang tak dikonfirmasi atau tak diharmoniskan, akan membuat bahagia menjauh dari hidupmu, sebab engkau akan selalu hidup di dalam kegelisahan dan rasa kekurangpantasan. Itu sebabnya, mungkin engkau mengatakan, "ada yang salah nih."

Jangan tertipu oleh keadaan, hidup ini adalah pelajaran. CD tak sepantasnya memicu amarah - kata 'emosi' di dalam kutipan di atas dimaksudkan untuk emosi jenis ini.

Perbedaan antara dirimu yang sekarang dan dirimu yang engkau cita-citakan adalah motivasimu untuk berupaya mencapai keberhasilan.

Perbedaan keadaanmu dengan orang di sekitarmu adalah pendorong bagimu untuk menciptakan harmoni.

Perbedaan pendapat dengan orang lain adalah peluang bagimu untuk melatih kemampuan persuasi.

Perbedaan pandangan dengan atasan atau bawahanmu adalah kesempatanmu untuk belajar bernegosiasi.

Perbedaan cara pandang dengan lain pihak adalah tantanganmu untuk meningkatkan kemampuan berkreasi dan menyajikannya dalam presentasi yang kuat dan akurat.

Konflik, adalah kesempatan bagimu untuk melatih kemampuan kepemimpinanmu.

Perbedaan harga adalah kesempatanmu melatih kemampuan menetapkan posisi dan keahlian tawar-menawar.

Perbedaan persepsi tentang dirimu antara orang lain dan dirimu adalah peluang bagimu untuk berlatih mengklarifikasi dan berargumentasi.

Perbedaan antara yang telah engkau capai dari yang 'semestinya' engkau capai adalah kesempatanmu untuk memperbaiki diri.

Itu maksudnya, kita diminta untuk hidup di dalam suasana saling berlomba di dalam kebaikan dan takwa.

Makin semangat!

Ikhwan Sopa

Menempatkan Akal, Pikiran, dan Logika

Selamat sore sahabat,

"Manusia merencanakan, Tuhan menentukan."

Jika kita mau menyederhanakan kehidupan, maka dinamika kehidupan bisa kita kelompokkan ke dalam enam proses menjawab pertanyaan.

1. Apa?
2. Siapa?
3. Mengapa?
4. Bagaimana?
5. Kapan?
6. Di mana?

Kita perlu menyadari, bahwa akal, pikiran, dan logika sangat berfokus pada pertanyaan 'bagaimana?'. Nyaris setiap upaya kita menjawab lima pertanyaan lainnya, kita lakukan dalam kerangka upaya menjawab pertanyaan yang sama, 'bagaimana?'.

Kita yang sangat berupaya menjadi terampil dalam hal 'bagaimana', cenderung berpotensi mencapai derajat yang lebih terhormat di dalam kehidupan.

Namun demikian, kita juga perlu memahami dan mengerti bahwa lima pertanyaan selain 'bagaimana?', sebenarnya lebih dekat kepada 'fakta' dan 'hasil akhir' ketimbang akal, pikiran, dan logika.

Fakta yang sudah lalu atau telah terjadi dan hasil akhir yang belum datang, lebih merupakan keyakinan kita akan kekuasaan Tuhan.

Makin semangat!

Ikhwan Sopa

Bahaya Nominalisasi

Selamat sore sahabat,

Mohon maaf ini hanya mengingatkan.

Banyak sekali garis batas yang perlu kita jaga, agar kita tak termasuk yang 'melampaui batas'.

Dua di antaranya terkait dengan Nabi Sulaiman a.s.

1. Kekayaannya.
2. Kemampuannya menaklukkan makhluk jin.

Mengingat Nabi Sulaiman a.s., Rasulullah SAW pun pernah membatalkan niatnya mengikat jin ke tiang masjid.

Makhluk jin dan setan itu ada dan ia diciptakan Allah SWT dengan maksud. Setiap kita, pun diberi 'satu yang selalu mendampingi' - qarin 'the administrator' alias 'the devil advocate'.

Mereka adalah musuh yang nyata. Namun demikian, pertempuran kita bukan di wilayah 'fisik' melainkan di wilayah 'strategi'.

Yang perlu kita kendalikan dan taklukkan dalam perang strategi ini, adalah 'senjata' mereka yaitu 'bisikan', 'godaan', 'kemasan', dan 'marketing'-nya.

Kecenderungan 'membendakan' sesuatu yang sebenarnya adalah 'proses' atau melakukan 'nominalisasi', seringkali menjadikan kita kurang berhati-hati. Hanya mereka yang berilmu khusus (dan mungkin hanya Allah SWT yang tahu siapa mereka), yang mungkin melakukannya.

Berprasangkalah, sangat mungkin manusia istimewa itu bukan kita. Dan jangan pernah merasa, bahwa kita telah diberi 'license to kill'. Apapun alasannya, hanya Allah SWT yang Maha Menghidupkan dan Maha Mematikan. Ia memberi lisensi itu, hanya pada kasus-kasus sebagaimana yang telah Ia firmankan.

Hati-hati dengan 'nominalisasi'.

Sekedar mengingatkan.

Ikhwan Sopa

Bahaya Nominalisasi

Selamat sore sahabat,

Mohon maaf ini hanya mengingatkan.

Banyak sekali garis batas yang perlu kita jaga, agar kita tak termasuk yang 'melampaui batas'.

Dua di antaranya terkait dengan Nabi Sulaiman a.s.

1. Kekayaannya.
2. Kemampuannya menaklukkan makhluk jin.

Mengingat Nabi Sulaiman a.s., Rasulullah SAW pun pernah membatalkan niatnya mengikat jin ke tiang masjid.

Makhluk jin dan setan itu ada dan ia diciptakan Allah SWT dengan maksud. Setiap kita, pun diberi 'satu yang selalu mendampingi' - qarin 'the administrator' alias 'the devil advocate'.

Mereka adalah musuh yang nyata. Namun demikian, pertempuran kita bukan di wilayah 'fisik' melainkan di wilayah 'strategi'.

Yang perlu kita kendalikan dan taklukkan dalam perang strategi ini, adalah 'senjata' mereka yaitu 'bisikan', 'godaan', 'kemasan', dan 'marketing'-nya.

Kecenderungan 'membendakan' sesuatu yang sebenarnya adalah 'proses' atau melakukan 'nominalisasi', seringkali menjadikan kita kurang berhati-hati. Hanya mereka yang berilmu khusus (dan mungkin hanya Allah SWT yang tahu siapa mereka), yang mungkin melakukannya.

Berprasangkalah, sangat mungkin manusia istimewa itu bukan kita. Dan jangan pernah merasa, bahwa kita telah diberi 'license to kill'. Apapun alasannya, hanya Allah SWT yang Maha Menghidupkan dan Maha Mematikan. Ia memberi lisensi itu, hanya pada kasus-kasus sebagaimana yang telah Ia firmankan.

Hati-hati dengan 'nominalisasi'.

Sekedar mengingatkan.

Ikhwan Sopa

Tiga Syarat untuk Hidup Bahagia

Selamat siang sahabat,

Orang bijak mengatakan bahwa untuk hidup berbahagia - setelah ber-Tuhan, kita perlu hidup di dalam sesuatu, menjalani sesuatu, dan melakukan sesuatu yang padanya melekat tiga ciri atau tanda berikut ini:

- Ada unsur kenikmatan panca indera.
- Ada tantangan realistik yang mungkin dicapai.
- Ada fenomena pembaktian diri untuk sesuatu yang mulia.

Atau sebaliknya, cari dan temukanlah tiga hal itu di dalam hidupmu atau dalam apa yang engkau kerjakan dan lakukan, maka insya Allah engkau berbahagia.

Mari kita elaborasi dengan contoh-contoh yang spesifik dan chunk down. Saya akan memulainya dan jika engkau berkenan silahkan tambahkan daftarnya.

1. Menikah dengan seseorang yang kita cintai dan sesuai dengan yang kita impikan.

2. Bekerja dalam sebuah profesi yang kita sukai, yang kita memiliki kemampuan untuk tumbuh di dalamnya, dan mampu menopang kehidupan kita dan keluarga.

3. Lanjutkan...

Makin semangat!

Ikhwan Sopa

Cinta dan Sabotase Diri

Selamat sore sahabat,

"Untuk apa mencari musuh, jika musuh terbesar adalah diri sendiri?"

Penggagal terbesar keberhasilan diri adalah diri sendiri.

01. Terus menunda rencana
02. Gaya hidup berlebihan
03. Bertindak impulsif dan gegabah
04. Kehilangan fokus, terseret arus, tidak konsentrasi
05. Mencurangi belajar dan latihan
06. Mengurus terlalu banyak hal
07. Mengabaikan dan meremehkan masalah
08. Berharap secara tidak realistik
09. Kritik dan penghakiman tak adil pada diri dan orang lain
10. Butuh pertolongan dan tak memintanya
11. Perlu belajar tapi tak melakukannya
12. Terburu-buru dan terburu nafsu
13. Terobsesi kesenangan atau belanja
14. Terlalu meninggikan risiko yang normal
15. Terlalu banyak mengkhawatirkan
16. Tak menyelesaikan yang dimulai
17. Gagal memilah keinginan, keperluan, dan kebutuhan
18. Menganggap sesuatu terlalu pribadi
19. Berkata dan berbicara dan kemudian menyesalinya
20. Menunda rasa senang secara keterlaluan

Di atas panggung sandiwara yang namanya dunia ini kita punya dua peran; peran pribadi dan peran sosial. Keduanya adalah satu kesatuan. Itu sebabnya nyaris setiap impian, cita-cita, target, dan tujuan, muaranya tak hanya tentang diri sendiri melainkan juga tentang keindahan hubungan dan cinta dengan orang lain.

Demi diri sendiri dan keluarga.
Demi diri sendiri dan masyarakat.
Demi diri sendiri dan bangsa.
Demi diri sendiri dan seluruh manusia.
Demi dunia dan akhirat.

Ketika sang penggagal terbesar beraksi dengan menyalahgunakan peran pribadinya, itu saatnya peran sosial menepatgunakan fungsinya.

Maka,

1. Kerusakan dan kekurangindahan hubungan dan cinta dengan orang lain dapat terjadi karena kebiasaan mensabotase diri sendiri.

Jika kita terjebak pada yang duapuluh di atas, maka mereka yang mencintai kita atau yang berhubungan dengan kita akan terganggu dibuatnya.

2. Sabotase diri dapat terjadi karena kekhawatiran terlalu dekat dengan orang lain, takut terlalu intim, atau tak ingin terlalu jauh berhubungan dengan orang lain.

Segala kekhawatiran tentang cinta dan hubungan, akan melatih kita dalam keterampilan mensabotase diri.

3. Obat untuk sabotase diri adalah memperbaiki hubungan dan makin mencintai mereka yang bukan diri sendiri. Obat untuk keburukan hubungan dan cinta adalah berhenti mensabotase diri.

Makin semangat.

Ikhwan Sopa

Dreams, Hopes, and Willpower

Selamat siang sahabat,

Saya belajar bahasa Inggris sedikit lalu menulis ini. Mohon maaf jika ada salah-salah. Ini, lebih untuk diri saya sendiri.

You've already have dreams and hopes.

The keys to your dreams and hopes are hardwork, commitment, and persistence.

The key to hardwork, commitment, and persistence is determination.

The key to determination is willpower.

Willpower is like a muscle.

How can you train your willpower if you do not train your muscle?

How can you train your muscle if you do not train your food and energy?

How can you train your food and energy if you do not train your daily habits?

How can you train your daily habits if you do not have willingness to do just that?

So, is it true that you've already HAVE YOUR dreams and hopes?

Maybe - just maybe, you have a will, yet with no power.

This is your life.

A will, is a CHOICE at the CONSCIOUS level.

Makin semangat!

Ikhwan Sopa

Instant Hypnosis - Bisa Sekarang Juga

Selamat sore sahabat,

Saya khawatir, hanya dengan note ini saja Anda langsung mampu menghipnosis seseorang.

Sambil berbicara kepadanya, lakukan sebanyak mungkin dari yang berikut ini. Urutannya terserah Anda dan kombinasikan semampu Anda.

1. Afirmasi Diri Mereka.

Kamu bisa..., kita adalah..., memang benar bahwa..., rileks itu mudah..., nyamankan diri Anda dengan..., duduklah yang tenang..., mari kita simak dan nikmati...


- Mereka menjadi nyaman -

2. Ciptakan Ambiguitas, Pengurangan Detil, Klasifikasi Umum, Ketidakpastian, Ketidakjelasan, Kemiripan, Kemungkinan, Keraguan, Fill in The Blank.

... bisa ya dan bisa tidak, mungkin benar juga..., sebagian orang mengatakan demikian..., entah bagaimana..., kadang-kadang..., seperti juga..., saya tidak tahu apakah Anda..., sepertinya..., apa yang akan terjadi bila..., bisa jadi sebentar lagi..., kata orang...


- Pikiran sadar mereka menjadi sibuk -

3. Konfirmasi dan Yakinkan Mereka.

Anda sudah benar..., tubuh Anda makin rileks..., ya itu bagus..., benar sekali..., luar biasa..., siiiip...


- Mereka percaya sesuatu telah terjadi -

4. Fokuskan Perhatian Mereka.

Denger nih..., coba begini..., ini menarik..., letakkan di sini... lalu..., perhatikan ini...


- Perhatian mereka terfokus tanpa banyak berpikir -

5. Hubungkan Pikiran Mereka.

Sembari..., sambil..., bersamaan..., sejalan dengan itu..., dengan ini..., maka..., mengetahui hal ini..., ini berarti bahwa..., sebab..., dengan demikian..., oleh sebab itu...


- Mereka makin percaya dan makin menerima -

6. Ingatkan Perhatian Mereka.

Sekarang Anda merasakan..., rasakan bahwa..., mendengar suara saya..., teringat akan hal itu..., setiap kali menarik nafas..., setiap melihat foto itu...


- Mereka makin larut -

7. Beri Jeda Bagi Pikiran Mereka.

Bayangkan... (jeda), ingatlah kembali...(jeda), Anda merasakan... (jeda)..., bagaimana...?(jeda) ...bukan?(jeda)...


- Mereka menguatkan bangunan pikirannya -

8. Ulangi Dan Tekankan Kembali Situasi Mereka.

Rileks..., nyaman..., bagus..., ya luar biasa..., ya begitu...

- Mereka semakin... semakin... -

9. Ajak Mereka Bervisualisasi.

Bayangkan Anda sedang..., lihatlah kamu sedang..., sore itu kamu sedang..., ingatlah kembali...


- Mereka memasuki sebuah dunia -

10. Leading dan Gunakan Siklus K, A, V (Kinestetik, Auditori, Visual).

- Sarankan hal baik bagi mereka -

Gunakan untuk keindahan, kebaikan, dan kebenaran.

Makin semangat!
Ikhwan Sopa

Mencintai Tuhan

Selamat pagi sahabat,

"Yang lebih sedikit kepentingannya, lebih besar kekuatannya."

Tuhan tidak berkepentingan dengan apapun yang bukan Dia. Itu sebabnya Dia memiliki sifat-sifat yang Maha.

Sebagai yang Maha Perkasa Dia tidak membutuhkan apapun penguatan dan penghormatan dari yang bukan Dia. Itu sebabnya Ia Maha Besar, Maha Kuasa, dan Maha Suci.

Sebagai yang Maha Memelihara Dia tidak membutuhkan apapun penjagaan dan penghidupan dari yang bukan Dia. Itu sebabnya Ia Maha Ada, Maha Hidup, Maha Awal, dan Maha Akhir.

Sebagai yang Maha Menciptakan Dia tidak membutuhkan sedikitpun dan apapun dari ciptaan-Nya. Itu sebabnya Dia Maha Kaya.

Kita telah memilih untuk mencintai-Nya sebagai hal yang paling indah, paling baik, dan paling benar menurut kadar kemampuan manusiawi kita.

Menyedikitkan kepentingan adalah mengupayakan sedekat mungkin kehidupan yang hidup di dalam mencintai-Nya. Memulainya, adalah dengan selalu menemukan percikan cinta-Nya di dalam segala ciptaan-Nya.

Makin semangat!

Ikhwan Sopa

Public Speaking Survival Tools

Selamat pagi sahabat,

Berikut ini saya sharing sesuatu yang semoga bermanfaat.

"The Speaker's Survival Tools"

Pendekatan-pendekatan yang menjadi penyelamat sesi bicara dan sekaligus penyelamat si pembicara. Ini adalah bagian dari persiapan sesi bicara yang perlu dipertimbangkan setiap akan menjalani sesi bicara.

1. Cerita.

Cerita adalah sesuatu yang berdaya hipnotik besar. Tak seorangpun mengatakan "tidak" pada cerita. Setiap orang akan duduk diam dan mendengarkan. Itu artinya, hikmah dan inspirasi cerita akan langsung masuk ke wilayah bawah sadar mereka dan menjadi ingatan yang berjangka panjang.

2. Audience.

Setiap sesi bicara adalah tentang audience. Pembicara tidak hanya berbicara "kepada" mereka, lebih dari itu sesi bicara adalah "tentang" mereka. Itu sebabnya, pembicara diminta untuk mengerjakan PR menyelami dan memahami seluk-beluk audiencenya.

3. Humor.

Seperti cerita, humor memiliki daya terobos yang kuat ke tempat-tempat terdalam dalam diri audience. Humor, menciptakan state rileks dan menyegarkan pada diri audience yang membuat mereka lebih siap untuk menjalani interaksi belajar di dalam waktu yang sempit yang disediakan untuk sesi bicara.

4. Analogi dan Metafora.

Manusia adalah makhluk yang menyukai simbol, lebih mudah memahami simbol, dan merasa senang memberi, melekatkan, atau menciptakan simbol. Analogi dan metofora akan mendorong audience terlibat secara sukarela dengan diri mereka sendiri dalam memaknai berbagai hal atau konsep. Kesibukan mereka ini menempatkan mereka pada posisi yang tepat untuk belajar.

5. Fakta dan Hal Aktual.

Fakta-fakta dan hal aktual, alias segala hal yang diasumsikan disepakati bersama sebagai 'kebenaran' akan memicu bergulirnya proses berpikir yang disebut dengan 'yes frame'. Setiap pembicara, berbicara untuk menyampaikan informasi, untuk mempersuasi, atau untuk meminta audience melakukan tindakan. Untuk semua itu, audience perlu bersikap menerima. Fakta dan hal aktual adalah dua poin yang paling mudah mereka terima.

6. Anekdot.

Anekdot adalah kisah yang nyata dan mampu menimbulkan senyum atau tawa. Hal terpenting dari anekdot adalah kebenaran yang disiratkan oleh cerita. Dengan senyum dan tawa, anekdot memprovokasi proses berpikir audience yang sedang senang agar bersedia memasuki proses berpikir yang lebih serius dan makin mendalam.

7. Current Events.

Berbagai peristiwa yang tengah berlangsung atau masih hangat, adalah pintu masuk yang bagus untuk membawa audience menjalani proses belajar. Learning state mereka pada dasarnya sudah terbentuk oleh kejadian-kejadian itu.

Makin semangat!

Ikhwan Sopa

Tauhid dan Aqidah

Hari ini aku belajar lagi.
Bertahan di dalam kelurusan.
Ketika menjawab pertanyaan.

Mengapa?
Niat yang ikhlas.
Hanya satu.
Bersih dari noda.

Kapan?
Sekarang yang sementara untuk nanti selamanya.

Di mana?
Di sini tempat yang rendah untuk di sana tempat yang tinggi.

Siapa?
Makhluk penyembah yang ingin bertemu Penciptanya.

Apa?
Amal soleh.
Itu kata bendanya.

Bagaimana?
Akhlak terpuji lagi mulia.
Itu kata kerjanya.

Dengan menjawab semua pertanyaan aku hidup ber-Tuhan. Dengan menjawab pertanyaan terakhir aku ber-Agama.

Tujuannya aku ber-Tauhid.
Caranya kuikatkan diri pada Aqidah.

Aku telah memilih dan aku telah ridha.

Makin semangat!

Ikhwan Sopa

Kerja dan Ibadah

Assalamu'alaikum wr.wb.
Selamat pagi sahabat, salam sejahtera.

Pagi ini sampe sore
Delapan jam sehari

Pagi ini sampe sore
Niatkan ibadah
Mulai dengan bismillah
Selesai dengan alhamdulillah
Capek nanti malam dihitung ibadah

Pagi ini sampe malam
Dari ibadah ke ibadah
Panjang seperti sajadah

Jika sempat, kejar bonusnya.

1. Sedekah sendi dan tulang.
2. Pelancar rizki dan penolak kefakiran.
3. Sebuah istana di surga.
4. Pahala setara haji dan umrah.
5. Pencukupan di sore hari.
6. Ampunan dosa-dosa.

“Ya Allah, aku memohon kepadaMu kebaikan pekerjaan ini dan segala kebaikan yang ada di dalamnya, dan aku berlindung kepadaMu dari keburukan pekerjaan ini dan segala keburukan yang ada di dalamnya. Sesungguhnya di atas segala sesuatu itu Engkaulah yang Maha Berkuasa menentukannya. Aamiin...”

Makin semangat!

Ikhwan Sopa

Mantra Sakti 2012

Selamat malam sahabat,

Jika engkau beranggapan bahwa tahun ini adalah tahun "tantangan", maka sadarilah bahwa engkau telah memilih "Ya" dan menyingkirkan "Tidak". Mantra saktimu tahun ini adalah "Siaaaap!"

Jika engkau beranggapan bahwa tahun ini adalah tahun "percepatan", maka sadarilah bahwa engkau telah memilih menginjak pedal "gas" dalam-dalam dan mengangkat kaki dari pedal "rem". Mantra saktimu tahun ini adalah "Kebuuut!"

Jika engkau beranggapan bahwa tahun ini adalah tahun "kebangkitan", maka sadarilah bahwa engkau telah memilih "naik" daripada "turun". Mantra saktimu tahun ini adalah "Angkaaaat!"

Jika engkau beranggapan bahwa tahun ini adalah tahun "kemajuan", maka sadarilah bahwa engkau telah memilih "depan" daripada "belakang". Mantra saktimu tahun ini adalah "Bergeraaaak!"

Sekalipun engkau beranggapan bahwa tahun ini adalah tahun yang "berat", sadarilah bahwa engkau telah memilih "kuat" daripada "lemah". Mantra saktimu tahun ini adalah "Bisaaaaa!"

Mungkin, engkau beranggapan bahwa tahun ini adalah tahun yang "tidak jelas". Tapi, sadarilah bahwa engkau telah memilih "jernih" daripada "samar". Mantra saktimu tahun ini adalah "Belajaaaaar!"

Istirahat? Lelah? Capek? Turun semangat? Perubahan situasi dan keadaan? Penyusutan modal? Ah, itu mah nggak usah direncanakan.

Insya Allah, tubuhmu, pikiranmu, perasaanmu cerdas. Nanti tahu kok, kapan dan harus bagaimana.

Sahabat, mantra sapujagat untuk semua itu adalah begini. Angkat tanganmu tinggi-tinggi, katakan yang berikut ini sambil menepok jidatmu.

"Masuuuuuuk!!!"

Ikhwan Sopa

Free Downloads - MPdP Series

Selamat malam sahabat,

Jika berkenan silahkan mendownload materi gratis berikut ini (ebook dan powerpoint). Sebagian besar adalah MPdP Series (Manajemen Pikiran dan Perasaan):

"Therapeutic MPdP"
http://qacomm.com/docs/Therapeutic-MPdP.pps

"MPdP Personality Inventory"
http://qacomm.com/docs/Inventori-MPdP.pps

"MPdP Emotional Roadmap"
http://qacomm.com/docs/Emotional-Roadmap-MPdP.pps

"MPdP Self Model"
http://qacomm.com/docs/MPdP-Self-Model.pps

"Manajemen Pertanyaan"
http://qacomm.com/docs/Manajemen-Pertanyaan.pdf
Password: qacomm.com

"NLP and MPdP"
http://qacomm.com/docs/NLP-MPdP.pptx

"Anak Buku Manajemen Pikiran dan Perasaan"
http://qacomm.com/docs/Manajemen-Pikiran-Dan-Perasaan.pdf

"100 Tips dan Artikel Public Speaking dan Presentasi"
http://qacomm.com/docs/QA-Tips.zip

"Etos Kerja Muslim"
http://qacomm.com/docs/Etos-Kerja-Muslim.pptx

Semoga bermanfaat.

Ikhwan Sopa

Antara Ngoyo dan Malas

"Jika engkau mau, kau bisa meletakkan kerja keras di antara ngoyo dan malas."

Berapa banyak, yang kau kejar dan kau tak mendapatkan?
Berapa banyak, yang tak kau kejar dan Tuhan merizkikan?

Makin semangat!

Ikhwan Sopa

Kerja Keras: Antara Ngoyo dan Malas

"Jika engkau mau, kau bisa meletakkan kerja keras di antara ngoyo dan malas."

"Ngoyo" itu perasaan dan "malas" itu perasaan.

Di tengahnya ada "pikiran". Jangan bekerja keras dengan perasaan tapi bekerja keraslah dengan pikiran.

Lalu, nikmatilah prosesnya dengan perasaan.

Makin semangat!

Ikhwan Sopa

Contoh Lain Ilmu "Entah Bagaimana"


"Jika engkau mau, kau bisa meletakkan kerja keras di antara ngoyo dan malas."
- Ikhwan Sopa -

Selamat pagi sahabat,

Yang berikut ini mungkin termasuk juga ilmu "entah bagaimana". Dengan sedikit modifikasi oleh pelakunya.

Istri saya mendapat kisah ini dari ibunya. Mertua saya itu menceritakan tentang perilaku 'aneh' dari salah seorang pekerja di konveksi kecilnya.

Beberapa minggu belakangan, pekerja ini sibuk membuat kandang kambing, berhari-hari mengutak-atiknya, dan bahkan menyiapkan rumputnya. Anehnya, kandang kambing itu masih saja terus kosong tanpa penghuni.

Lama kelamaan orang mulai bertanya, termasuk mertua saya. Ia penasaran, "Mang, kok kandangnya masih kosong terus?"

Pekerja itu mengatakan, bahwa sebelum menjadi tukang jahit ia senang sekali mengurus kambing. Ia membuat kandang kambing dengan harapan bisa menyalurkan kembali kesukaannya itu.

"Terus dari mana kambingnya?" Mertua saya bertanya.
"Nanti, insya Allah akan ada yang nitip kambing di kandang saya."

Entah bagaimana, mertua saya membeli dua ekor kambing dan lalu menitipkan ke kandangnya.

Sebuah kejadian yang logis dan mekanistis adanya, tapi kuat sekali menyemburatkan warna keyakinan. Dengan yakinnya ia berharap dan dengan yakinnya ia bertindak, dan dengan sedikit tak terlalu peduli pada hukum sebab akibat yang galibnya kita kenal.

Makin semangat!

Ikhwan Sopa

Waktu dan Ilusinya

Selamat malam sahabat.

Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Tadi pagi, salah satu sahabat saya meninggal dunia. Aneh sekali rasanya. Waktu begitu cepat berlalu.

Orang sering berkata,

"Perasaan, bulan kemarin masih ngobrol dengan saya, sekarang sudah meninggal."

"Tepat jam segini tanggal yang sama, saya masih bincang-bincang dengannya."

Begitulah time distortion negatif (sebab waktu, ujung-ujungnya adalah map atas dasar kesepakatan di antara kita juga - jam atom misalnya).

Time distortion positifnya begini,

"Bulan besok, apa ane masih hidup ya?"

Subhannallah.

Waktu...
Satu-satunya garis yang paling lurus,
Menjadi penghubung dunia dan akhirat,

Terhuyungkah aku,
Berjalan di atasnya?

Astaghfirullah hal adziim...

Makin semangat!

Ilmu "Entah Bagaimana"

Selamat malam sahabat,

Ini namanya ilmu "entah bagaimana".

Saya telah membuktikannya untuk hal-hal yang 'kecil', dan hal yang besar berikut ini menarik untuk kita kaji dan pelajari bersama supaya nggak 'klenik-klenik' amat.

(Astaghfirullah, mohon maaf, semoga tidak mengurangi pahala mereka yang berangkat.)

Kemarin, saya membukakan dua rekening untuk dua orang yang sangat ingin naik haji. Saat itu saya benar-benar tidak memiliki kejelasan tentang bagaimana mengisi rekening itu dan bahkan tidak tahu bagaimana memenuhi biayanya.

Saya hanya berkata, "entah bagaimana, insya Allah ini tercapai."

Dua bulan kemudian, kedua rekening itu Alhamdulillah terpenuhi sesuai standar biaya haji terakhir.

Dengan tetap takluk pada hukum "manusia merencanakan dan Tuhan yang menentukan", yang saya tahu hanya ini:

1. Naik haji itu terkait dengan keyakinan yang TERTINGGI, dalam hal ini adalah akidah.

2. Naik haji itu JELAS, FOKUS, dan chunk down alias SPESIFIK. 5W dan 1H-nya super jelas. Apa itu haji jelas, siapa yang mau berangkat haji dengan segala kriterianya jelas, mengapa naik haji itu jelas, bagaimana cara dan prosesnya itu jelas, kapan waktunya jelas, dan di mana tempatnya jelas.

3. Biaya, ternyata 'hanya' soal melengkapi apa yang sudah hampir utuh untuk menjadi nyata.

So, ini pelajaran yang saya tarik.

1. Perjelas, fokuskan, dan buat spesifik (minimal 5W dan 1H) apapun yang jadi tujuan.
2. Dongkrak keyakinan sampai maksimal.
3. Katakan, "entah bagaimana, insya Allah ini tercapai."
4. Nikmati hidup.

Upaya nyata (bukan hanya metafora atau visualisasi semata) untuk merealisasi porsi-porsi 'kenyataan fisik yang diinginkan' ternyata penting, sekecil apapun porsi itu yang penting real dan menjadi bagian tak terpisahkan dari hasil akhir.

Mau mobil, buatlah SIM.
Mau rumah, beli tanah, atau minimal tanya-tanya.
Mau rambutan, tanam biji rambutan.
Mau jadi pembicara, mulailah bicara.
Mau jadi penyanyi, mulailah bernyanyi.
Mau bisnis besar, ya buka bisnis kecil.

Note: Saya mengatakan beberapa bulan yang lalu sebagai 'kemarin'. Ini juga mungkin menciptakan semacam time distortion (yang ini mah kaleee...).

Makin semangat!

Ikhwan Sopa