Topeng Diri

Selamat siang sahabat,

Banyak sekali masalah dan persoalan di dalam hidup ini muncul karena kita kurang mengenali diri sendiri.

Mereka yang merasa dirinya begitu malas, sangat mungkin menjadi malas karena cinta mereka yang begitu besar telah menjadi penghalang bagi keberhasilan hidup mereka. Mereka harus merubah cintanya menjadi pemberhasil kehidupan. Mereka perlu merenungi kembali makna dari cita-cita.

Cita-cita perlu diperjuangkan dan mungkin perlu melalui jalan yang berliku dan keras. Sekedar ewuh pakewuh tak akan membuat mereka berhasil. Ketiadaan pergesekan hanya bisa terjadi di ruang hampa. Bersaing dan berkompetisi di dalam kebaikan bukanlah perang yang brutal dan memburukkan kehidupan.

Sebaliknya, semua itu akan menjadi peluas jalan bagi cinta mereka yang terus membesar untuk mereka bagikan ke seluruh dunia.

Damai... damai... cinta... cinta... itukan yang engkau cari?

Mereka yang merasa dirinya begitu ngoyo dan keras kepada diri sendiri, pada orang lain, dan selalu melihat hanya 'ujungnya' saja, sedang lupa bahwa segala hal dipastikan dicapai dengan tahapan, fase, dan detil-detil. Mereka perlu merenungi kembali tentang makna cinta kepada sesama manusia.

Hidup ini bukan semata perang yang hanya tentang menang atau kalah. Keegoisan mereka, nyaris tak pernah melihat manusia lain di dalam apa yang mereka kerjakan. Bagaimanapun, mereka harus mengerti bahwa setiap hasil memerlukan keberadaan orang lain yang selama ini tak pernah mereka lihat benar-benar sebagai manusia.

Padahal, apapun hasil yang sangat ingin mereka segerakan pencapaiannya dengan melupakan keberadaan orang lain, pada akhirnya justru akan mereka peruntukkan bagi orang-orang yang mengisi kehidupannya. Termasuk, diri mereka sendiri.

Hasil... hasil... untung... untung... menang... menang... itukan yang engkau cari?

Mereka yang menikmati hidup ini seperti pesta dengan kespontanan, sifat-sifat impulsif, dan keceriaan yang melenakan, sedang memboroskan segala sumber daya kehidupannya dengan menikmati segala hal yang sekedar menyenangkan. Mereka perlu merenungi kembali, tentang ketidakjelasan hasil dari segala keinginan mereka yang segunung itu.

Mereka perlu mengingat, bahwa lampu sorot suatu saat akan dimatikan dan setiap pesta ada waktunya untuk diusaikan. Kepedulian mereka pada pentas pribadi di panggung kehidupan, membuat mereka tak mampu menolak setiap tantangan atau membuat mereka tak mampu menolak setiap permintaan tolong dari orang lain.

Padahal jika mereka mau sedikit saja mengerem hidupnya, hidup ini sungguh akan menjadikan mereka sebagaimana yang mereka inginkan.

Enjoy... belanja... pesta... menolong orang... bertualang... itukan yang engkau cari?

Dan bagi mereka, yang membaca ini saja langsung mengernyitkan dahi, sedang lupa bahwa hidup ini bukan hanya tentang berpikir tapi juga tentang melakukan. Mereka perlu merenungi kembali tentang apa artinya menciptakan penjara bagi diri sendiri.

Hidup ini tidak hitam putih dan tak semuanya sesuai rencana, tak selalu mengikuti prosedur, dan tak selalu perlu takluk pada sistem dan tata kerja. Sebagian dari keindahan kehidupan justru terletak pada ketidakteraturan yang harmonis.

Menurut mereka, hidup ini harus terencana, harus detil, dan sepenuhnya harus memiliki aturan permainan yang sampai sekecil-kecilnya. Mereka menjadi terpenjara oleh kedisplinan yang menyakitkan. Mereka mengucil dan hidup hanya di sekitar alat dan teknologi. Mereka, sulit sekali mengambil keputusan.

Padahal, semua itu justru diciptakan untuk memerdekakan dan mengindahkan hidup ini. Tak semua tindakan perlu dipikirkan seperti akan berangkat ke bulan.

Harus begini... mestinya begitu... jam berapa harus pulang... saya perlu informasi lebih banyak... itukan yang engkau cari?

Sahabat, jika engkau bersedia untuk jujur secara total, siapakah dirimu? Yang manakah yang 'gue banget'?

Hiduplah di dalam keseimbangan yang memberdayakan.
Yang terus miring, biasanya akan jatuh.

Selamat berakhir minggu.

Ikhwan Sopa