Kedewasaan

Selamat pagi sahabat,

Rencananya, insya Allah hari ini kami menghadiri undangan syukuran khitanan anak seorang teman.

Berkhitan atau sunat adalah tradisi simbolik sebagai tanda memasuki 'usia dewasa'. Waktu yang wajib untuk berkhitan adalah saat aqil baligh (alias dianggap sudah 'berakal') dan waktu yang sunnah adalah sebelumnya. Khitan adalah penanda bahwa sel-sel otak dan kemampuan berpikir seseorang telah mapan dan mulai menemukan pola-pola terbaiknya.

Idealnya, saat itulah seseorang secara sadar mengambil keputusan 'menjadi dewasa' dengan menyerahkan tampuk kepemimpinan diri dari sang perasaan kepada sang pikiran.

Setiap kita, dilahirkan dengan menangis dan tidak langsung bermain catur. Artinya, siklus hidup setiap kita selalu dimulai dengan rutinitas keinginan-perasaan. Sel-sel otak kita masih disusun dan kemampuan berpikir kita baru saja mulai belajar.

Untuk bertahan hidup, mendapatkan susu, makanan, perhatian, kenyamanan, kasih-sayang, dan segala hal lainnya, kita menggunakan bahasa awal perasaan yang paling sederhana, yaitu menangis, marah, atau berakrobat secara fisik demi berkomunikasi dengan kehidupan dan dunia.

Kekuasaan dinasti perasaan berlangsung cukup lama hingga kita mencapai usia 'mampu berpikir jernih dengan akal yang sehat'. Ketika usia itu dicapai, sudah sepantasnya tampuk kekuasaan kita serahkan ke tangan dinasti pikiran.

Uniknya, rata-rata kita tidak pernah melakukan 'kudeta kebaikan' dengan memutuskan bahwa diri kita 'telah dewasa' dan memilih untuk mengendalikan kehidupan dengan kekuatan pikiran.

Itu sebabnya, banyak sekali kita temukan manusia yang hidupnya sangat dikendalikan oleh perasaan. Alias, jiwa seorang anak kecil yang terperangkap dalam cangkang tubuh atau casing fisik orang dewasa.

Maka tak mengherankan, jika kita sering menemui fenomena di mana orang dewasa berkelakuan seperti anak kecil. Banyak sekali kejadian yang identik dengan seorang anak kecil yang menginginkan es krim dan untuk mendapatkannya merasa perlu berguling-guling di lantai dalam kemarahan, ketidakpuasan, dan rasa kecewa yang membakar. Semoga kita tidak termasuk di dalamnya, dan tak ada kata terlambat untuk memutuskan hari ini bahwa diri kita 'telah dewasa'.

Semua ini sungguh penting, sebab Tuhan lebih memilih berinteraksi dengan mereka yang 'berpikir' dan 'berakal'.

Bersyukurlah kita jika mulai menyadari bahwa kita telah pernah kehilangan sebuah KEPUTUSAN TERPENTING di dalam hidup kita di masa lalu, dengan segera mengoreksinya lewat sebuah keputusan yang tak bisa berlaku surut, yaitu menetapkan masa depan yang lebih baik di bawah kepemimpinan dinasti pikiran yang jernih dan tegas.

Untuk itu, kita perlu terus belajar.

Selamat berakhir minggu, sukses selalu!

Ikhwan Sopa