Jika Engkau Takut dan Khawatir

Selamat malam sahabat,

Bila suatu saat engkau masih dalam cengkeraman resah dan gelisah diterpa rasa takut dan khawatir tentang sesuatu, maka engkau boleh bertanya begini,

"Apa sih, yang lebih penting dari rasa ini jika aku mengalami yang terburuk?"

Suatu sore di tahun 1984, saya bersama dua orang teman menyeberangi Teluk Lampung di kepala pulau Sumatera dari satu sisi ke sisi yang lainnya.

Hari itu, kami berpesta merayakan ulang tahun seorang teman di sebuah pantai yang masih alami dan tenang. Setelah acara yang menyenangkan bagi para remaja seperti kami itu usai kami berkemas untuk pulang.

Sambil berlenggang menuju tepi jalan raya tempat kami memarkir kendaraan, kami menyusuri pantai melalui jalan setapak. Di suatu titik, kami begitu tergoda melihat sebuah perahu bercadik tunggal diayun-ayun ombak yang ringan. Kami melirik ke arah seberang dan dalam hati kami bertanya, "Bisakah dengan perahu ini kami ke seberang situ?"

Kami memutuskan melakukannya dan keputusan itu menjelma menjadi sebuah pengalaman buruk bagi saya. Kami tersesat di tengah laut hingga jam tiga pagi dengan segala teror di dalam kegelapan. Di antara segala ketakutan saya, malam itu adalah adalah salah satu puncaknya. Di ombang-ambing ombak laut malam yang sama sekali tidak ramah, melihat tangan sendiripun kami tak bisa melakukannya.

Pengalaman itu begitu membekas, hingga saya tak sanggup lagi berlayar di malam hari apalagi naik pesawat setelah matahari tenggelam. Lucunya, di hari-hari sekarang saya malah justru harus banyak menjalaninya.

Ilmu dan keahlian yang saya pelajari sebagai trainer, pembicara, dan penganjur pengembangan diri, sebenarnya menawarkan cara-cara yang efektif dan cepat untuk mengatasi bekas-bekas luka jiwa saya itu. Tapi, saya memilih tidak menerapkannya pada diri saya sendiri sebab saya ingin mengerti apa yang sebenarnya terjadi.

Maka, di dalam perjalananlah tugas belajar terbesar saya untuk makin mampu memanajemeni pikiran dan perasaan saya. Di antaranya, di dalam pesawat udara.

Yang berikut ini saya sharing untuk sahabat semua, semoga memberi manfaat sebagaimana saya telah merasakannya.

Di langit yang luas dalam kesendirian, saya sering tergoda oleh kilasan-kilasan yang sama sekali tak memberdayakan. "Apa yang akan terjadi, jika sedetik lagi saya terjaga di dalam liang lahat?"

Ada sebuah cara yang sejauh ini terus memberhasilkan dan memberdayakan saya hingga tetap menjaga keberanian di dalam ketakutan. Saya terus bertanya,

"Apa yang lebih penting ketimbang segala pikiran dan perasaan yang sungguh menyiksa ini?"

Apa yang sungguh tidak penting bagi saya di saat-saat seperti itu adalah ketakutan saya sendiri.

Pikiran buruk saya tidak penting,
Perasaan buruk saya tidak penting,
Keringat dingin saya tidak penting,
Gemetar tubuh saya tidak penting,
Pelintiran-pelintiran di dalam perut saya tidak penting.

Yang penting adalah keadaan saya ketika hal terburuk yang saya khawatirkan benar-benar terjadi. Saya ingin sedang sangat mengingat Tuhan jika itu harus berlangsung. Saya perlu bekerja keras untuk tidak mengisi hati, pikiran, dan perasaan saya dengan segala hal selain mengingat-Nya. Jika fisik saya sedang terikat ke pesawat, maka yang selain itu harus sedang terikat kepada Pemilik pesawat, Pemilik diri saya, Pemilik kejadian yang saya khawatirkan, dan Pemilik kehidupan seluruhnya.

Sungguh, memang dengan hanya mengingat-Nya hati ini menjadi tenang. Alhamdulillah.

Maka sahabat,

Jika sedetik dari sekarang apa yang engkau khawatirkan memang harus terjadi, apa yang lebih penting dari rasa takut dan khawatirmu ketika engkau mengalaminya?

Jika cintamu kandas, apa yang lebih penting dari patahnya hatimu?
Jika bisnismu gagal, apa yang lebih penting dari segala kerugian usahamu?
Jika hidupmu merana, apa yang lebih penting dari penderitaanmu?
Jika engkau takut mati, apa yang penting setelah kematianmu?

Kita perlu berhenti, menjadikan apa-apa yang ada di dunia ini sebagai 'segalanya'. Sebab, dengan itu kita sedang merencanakan suatu saat akan menderita.

Ikhwan Sopa