Berpikir Positif

Selamat pagi sahabat,

"Kalo teh sudah basi, mungkin lebih enak kalo kita ngopi."

Menurut neuroscientist, otak kita bekerja dengan keunikan yang mencengangkan, yaitu bahwa ia sangat terbiasa membesar-membesarkan berbagai hal yang negatif.

Bisa dimaklumi, sebab sejak lahir kita memang lebih sering mengaktivasi "mode survival" demi bertahan hidup dan lebih jarang mengaktivasi "mode damai-tenteram".

Kita tahu bahwa fokus dan pengulangan adalah penguatan, dan penguatan adalah pembelajaran. Maka dengan kecenderungan di atas, jadilah kita pribadi-pribadi yang lebih terampil dalam mengeksekusi pola-pola berpikir negatif.

Itu sebabnya, berpikir positif saat pikiran sedang negatif kadang-kadang hampir mustahil dilakukan, terlebih lagi jika pikiran negatif itu sudah terlanjur menjelma menjadi perasaan negatif.

Pola-pola berpikir negatif yang kita biasakan itu, berkembang dari kebiasaan merespon kenyataan negatif yang sesungguhnya (kebiasaan reaktif), menjadi kebiasaan meramalkan hal-hal yang belum nyata tapi sudah kita yakini seolah-olah pasti akan terjadi (kebiasaan preventif).

Maka, tantangan terbesar untuk membangun kebiasaan berpikir positif, bukanlah kebiasaan menyuntikkan pikiran positif melainkan kebiasaan membatalkan pikiran negatif.

Mengganti isi gelas dari teh menjadi kopi bukanlah mencampurkan kopi ke dalam teh, tapi membuang dulu tehnya barulah dituangkan kopinya. Bahkan, gelasnyapun perlu dicuci bersih dulu.

Kita tak tahu, berapa banyak dan yang mana yang negatif dari 60.000 pikiran yang akan lewat di kepala kita hari ini. Namun demikian, insya Allah kita langsung mengetahuinya jika ia datang.

Saat itu, yang perlu kita lakukan adalah menekan tombol escape.

Tetap semangat!

Ikhwan Sopa