Bekerja Versus Berkarya

Selamat pagi sahabat,

Alangkah indahnya jika yang kita lakukan kita pandang dan kita rasakan sebagai 'berkarya' dan bukan 'bekerja'.

Ada perbedaan yang sangat jelas tentang dua sudut pandang ini.

Semua ini tidak semata-mata tentang 'life wisdom' dalam pengertiannya yang sempit. Sebab, life wisdom itu sendiri - di mana pun, adalah bentuk-bentuk keselarasan dan harmonisasi dengan alam dan fenomena kehidupan sebagai Sunnatullah.

Sejalan dengan perkembangan kehidupan yang alamiah, ketika seseorang telah mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhannya yang paling mendasar, tibalah saat bagi dirinya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang memiliki nilai spiritualitas lebih tinggi. Kebutuhan-kebutuhan ini di antaranya adalah 'self actualization' (Abraham Maslow) atau 'contribution' (Anthony Robbins).

Di sinilah letaknya perbedaan antara 'bekerja' dan 'berkarya'.

'Bekerja' adalah sebuah cara pandang memikul beban dan bagaimana menyelesaikan segala persoalan dan hambatan yang dilekatkan pada beban itu.

'Berkarya' adalah sebuah cara pandang kepemimpinan yang melihat 'the big picture' dan tentang bagaimana seseorang mempersepsi kontribusi dan sumbangsihnya pada gambaran besar itu.

Jika melukis dipersepsi sebagai 'bekerja', maka melukis adalah melaburkan kuas ke atas kanvas dengan pilihan warna-warna tertentu yang dilakukan dengan gerakan, coretan, dan tekanan tertentu.

Jika melukis dipersepsi sebagai 'berkarya', maka melukis adalah menciptakan keindahan bagi mata dan perasaan, atau menangkap fenomena dan memaknainya ke dalam warna-warni, atau menuangkan isi pikiran dan hati menjadi sesuatu yang bisa dilihat dan dirasakan. Mungkin, ada ratusan atau bahkan ribuan lagi kekayaan makna yang bisa dilekatkan pada proses 'berkarya'.

Yang satu adalah pilihan tindakan yang mekanistis dan teknis, dan yang satu lagi adalah mengoptimalkan segala potensi dengan pikiran dan perasaan, demi terwujudnya sesuatu yang lengkap, utuh, baik dan indah. Yang satu adalah sekedar upaya memenuhi syarat, dan yang satu lagi adalah pilihan untuk menjadi bagian dari impian yang lebih besar.

Ketika waktunya tiba, yaitu ketika seseorang memasuki 'usia kerja' yang identik dengan 'usia dewasa', maka jalan tunggal yang dapat ditempuhnya adalah memenuhi kebutuhan yang alamiah dan bernuansa spiritual ini. Saya yakin, waktu itu adalah sekarang.

Selamat berkarya!

Ikhwan Sopa