Makna Bahagia

Assalamu'alaikum wr.wb. - selamat pagi sahabat,

"Bahagia adalah sebuah kesadaran tentang perasaan mengalami kemajuan."

Kemajuan apa yang engkau alami selama tahun 2011?
Dalam hal apa kemajuan terbesar terjadi?
Dalam hal apa kemajuan terkecil terjadi?

Besar atau kecil, untuk semuanya engkau pantas berbahagia hari ini.

Kemajuan apa yang engkau inginkan terjadi selama 2012 nanti?
Dalam hal apa kemajuan terbesar engkau inginkan?

Sadarilah, engkau juga berhak merasa berbahagia dengan kemajuan keinginanmu di hari ini yang tidak merencanakan kemajuan kecil untuk setahun depan.

Ada enam hal yang perlu engkau majukan secara seimbang,

1. Spiritual
2. Cinta, Keluarga, dan Hubungan
3. Karir, Bisnis, dan Finansial
4. Kondisi Fisik
5. Hubungan Sosial
6. Pengembangan Diri, Self Mastery, dan Self Growth

Begitulah, pagi ini saja engkau sudah berbahagia tiga kali.

Kira-kira, untuk apa Tuhan masih berkehendak engkau tetap hidup sampai hari ini?

Ups, sekarang jadi empat.

Tetap semangat di 2012!

Ikhwan Sopa

Berpikir Positif

Selamat pagi sahabat,

"Kalo teh sudah basi, mungkin lebih enak kalo kita ngopi."

Menurut neuroscientist, otak kita bekerja dengan keunikan yang mencengangkan, yaitu bahwa ia sangat terbiasa membesar-membesarkan berbagai hal yang negatif.

Bisa dimaklumi, sebab sejak lahir kita memang lebih sering mengaktivasi "mode survival" demi bertahan hidup dan lebih jarang mengaktivasi "mode damai-tenteram".

Kita tahu bahwa fokus dan pengulangan adalah penguatan, dan penguatan adalah pembelajaran. Maka dengan kecenderungan di atas, jadilah kita pribadi-pribadi yang lebih terampil dalam mengeksekusi pola-pola berpikir negatif.

Itu sebabnya, berpikir positif saat pikiran sedang negatif kadang-kadang hampir mustahil dilakukan, terlebih lagi jika pikiran negatif itu sudah terlanjur menjelma menjadi perasaan negatif.

Pola-pola berpikir negatif yang kita biasakan itu, berkembang dari kebiasaan merespon kenyataan negatif yang sesungguhnya (kebiasaan reaktif), menjadi kebiasaan meramalkan hal-hal yang belum nyata tapi sudah kita yakini seolah-olah pasti akan terjadi (kebiasaan preventif).

Maka, tantangan terbesar untuk membangun kebiasaan berpikir positif, bukanlah kebiasaan menyuntikkan pikiran positif melainkan kebiasaan membatalkan pikiran negatif.

Mengganti isi gelas dari teh menjadi kopi bukanlah mencampurkan kopi ke dalam teh, tapi membuang dulu tehnya barulah dituangkan kopinya. Bahkan, gelasnyapun perlu dicuci bersih dulu.

Kita tak tahu, berapa banyak dan yang mana yang negatif dari 60.000 pikiran yang akan lewat di kepala kita hari ini. Namun demikian, insya Allah kita langsung mengetahuinya jika ia datang.

Saat itu, yang perlu kita lakukan adalah menekan tombol escape.

Tetap semangat!

Ikhwan Sopa

MPdP Inventori

Resolusi Gaya Otak Kiri

Selamat siang sahabat,

Untukmu yang memilih ber-resolusi dengan gaya otak kiri, bersiaplah untuk ekstrem dan militan.

1. Resolusi adalah tentang mencapai hasil, bukan tentang menikmati perjalanan. Ini adalah keputusan untuk bekerja dan bukan untuk berjudi.

2. Resolusi adalah pilihan pribadi, yang ber-resolusi bersedia memikul tanggung jawab tentang apapun yang terjadi selama tahun resolusi.

3. Resolusi adalah tentang kekuatan kemauan alias tentang kesadaran. Musuh utama kesadaran berasal dari bawah sadar.

4. Resolusi adalah tentang self discipline. Penyakitnya adalah kebosanan.

5. Resolusi adalah tentang berlatih keras menggeser siklus-siklus dari "ingin", menjadi "perlu", dan menjadi "butuh".

6. Resolusi adalah kumpulan tindakan yang belum dilakukan. Merealisasi hasil identik dengan merealisasi tindakan-tindakan.

7. Rencana adalah peta untuk memperjelas penampakan perjalanan dan pencapaian hasil. Peta harus mutakhir.

8. Rencana mencakup juga rencana syukur untuk pencapaian dan rencana sabar untuk penundaan dan penggantian oleh-Nya.

9. Niat adalah utama, setiap niat langsung ditindaklanjuti dengan tindakan yang mencerminkan pencapaian secara nyata, bukan dalam bentuk simbol atau metafora melainkan realisasi porsi-porsi pencapaian, seperti yang ingin kendaraan langsung membuat SIM, yang ingin rumah langsung membeli tanah, yang ingin traveling internasional langsung traveling lokal, yang ingin nilai terbaik langsung belajar keras, yang ingin istri langsung mencari, yang ingin kaya langsung mengumpulkan uang, yang ingin punya bisnis langsung membukanya. Sudah terbukti mempersingkat waktu secara menakjubkan. Setiap penundaan adalah penggagal rencana, sebab setiap resolusi adalah tentang jangka waktu selama satu tahun.

10. Setiap upaya dan usaha selama tahun resolusi bukanlah pembelajaran melainkan perjuangan keras yang nyata.

11. Segala sesuatu lebih berat di kepala daripada di pundak.

12. Pencapaian hasil itu penting, sepenting itu pula segala tindakan. Setiap "Nilai" melekat pada "Keterlibatan". Nilai 100 melekat pada Keterlibatan 100. Nilai 100 dengan Keterlibatan 80 hasil akhirnya 80. Nilai 80 dengan Keterlibatan 80 hasil akhirnya 64. Diskon bukan untuk yang ber-resolusi.

13. Hasil akhir sudah harus jelas terlihat saat ber-resolusi, hanya ada dua; dalam bentuk gambar dan dalam bentuk angka. Batas akhirnya sudah pasti.

14. Hasil akhir selalu lebih penting dari segala keraguan dan kekhawatiran.

15. Penghenti terbesar resolusi adalah "HALT", Hungry, Angry, Lonely, Tired. Ketika sumber daya tersedot habis (oleh karena itu siapkanlah untuk setahun), ketika kemarahan merajalela (oleh karena itu rencanakanlah kesabaran), ketika kesepian (karena resolusi selalu bersifat sangat pribadi), dan ketika kelelahan karena semua itu.

16. Hasil akhir di tangan Tuhan.

Jika engkau merasa keberatan, pertimbangkanlah untuk mengambil gaya kanan, atau gaya campuran.

Tahun 2006-2010 saya cenderung bergaya kiri, tahun 2011 bergaya campuran, dan tahun 2012 saya memilih gaya kanan. Saya membuktikan, bahwa mengambil gaya kiri secara ekstrem, cenderung membuat saya dipersepsi egois dan tidak menyenangkan oleh lingkungan. Jika engkau siap, hadapi saja semua itu dengan tetap berniat positif dan mengukur diri agar tak membahayakan dan merugikan orang lain.

Gaya Kiri:
"Saya juara dan saya siap tempur!"

Gaya Campuran:
"Hanya ada dua isi kepala, mengantarkan kita ke cita-cita, atau menjauhinya."

Gaya Kanan:
"Setiap kita bisa bermimpi sendirian, mencapainya tidak."

Tetap semangat!

Ikhwan Sopa

Resolusi Versus Non Resolusi

Selamat pagi sahabat,

Yang terbiasa menggunakan otak kiri menyukai resolusi.

Pertama, karena memandang hidup ini adalah kompetisi sehingga hasil, menang atau kalah, dan tercapainya tujuan adalah soal penting baginya. Kedua, karena memandang memang semestinya begitulah hidup ini berjalan, dengan keteraturan, sistem dan organisasi yang rapi dan terencana.

Yang terbiasa menggunakan otak kanan kurang menyukai resolusi.

Pertama, karena menyukai petualangan yang intuitif, dengan jalur-jalur pendek yang tak merepotkan,dan lebih menyukai spontanitas. Kedua, karena lebih memilih untuk menjalani tahun depan dalam kedamaian dan ketenteraman.

Keduanya, sama-sama bisa menciptakan hasil maksimal dengan memaksimalkan sumber daya.

Yang berotak kiri, perlu segera beresolusi sebelum memasuki tahun baru agar tak tenggelam dalam kekhawatiran dan ketidakjelasan.

Yang berotak kanan, berikut ini adalah petualangan baru yang bisa dicoba di tahun depan. Tak perlu rencana, pilih, niatkan, dan lakukan saja yang terbaik. Mungkin juga, alternatif ini bisa menjadi sumbangsih untuk dunia yang lebih baik.

"Happy New Year With Happy New You"
(Inspired by Mogama - Liberian Refugee)

01. Menjadi lebih bijak.
02. Menerima koreksi.
03. Meningkatkan kapasitas spiritual.
04. Hidup di dalam sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri.
05. Menantikan halbaik terjadi di dalam hidup.
06. Lebih banyak membantu orang lain.
07. Naikkan standar perilaku pribadi.
08. Menjadi lebih santun.
09. Memutuskan rasa bersalah dari masa lalu.
10. Hanya memulai yang pasti diselesaikan.
11. Siap menghadapi tantangan kebenaran.
12. Lebih dermawan.

Silahkan pilih.
Tetap semangat!

Ikhwan Sopa

Resep Untuk Gagal

How To Fail.

http://www.unstructuredventures.com/uv/2008/09/23/how-to-fail-25-secrets-learned-through-failure/


Semoga bermanfaat.

Ilmu Tentang Kegagalan

Ini menarik, dari sebuah sebuah situs teknis.

Mengapa Gagal?

http://www.infometrik.com/2009/09/ilmu-tentang-kegagalan-sebuah-pengantar/

Semoga bermanfaat.

Sebab Utama Kegagalan

Selamat pagi sahabat,

Jika engkau berkenan, cetaklah ini lalu bacakanlah di hadapan orang-orang yang engkau cintai atau teman-teman seperjuanganmu, setiap Senin pagi setelah berdoa, selama mungkin, sebagai salah satu bentuk permainan kehidupan yang memberdayakan. Berkreasi dan bereksperimenlah dengan pertanyaan di bagian akhir dari tulisan ini setiap kali engkau memainkan permainan ini.

Sebenarnya, tak ada manusia yang pemalas, yang ada adalah manusia yang sedang bosan.

Setiap keberhasilan dan pencapaian yang besar selalu melewati tahap-tahap yang pasti.

1. Impian yang besar dicapai dengan tindakan yang besar.

2. Tindakan yang besar dilatih dengan perilaku dan kebiasaan bertindak yang membesarkan hingga memantaskan diri seseorang untuk hidup di dalam kebesaran impiannya.

3. Perilaku dan kebiasaan yang membesarkan itu harus didahului dengan keyakinan-keyakinan yang tepat dan memberdayakan.

4. Keyakinan-keyakinan yang tepat dan memberdayakan itu dihasilkan oleh pola-pola berpikir dan pola-pola merasakan yang memberdayakan.

Setiap kegagalan, hanya terjadi jika seseorang menghentikan langkahnya, dan berhentinya ia bukanlah terjadi saat ia harus melakukan tindakan yang besar melainkan saat ia mestinya membangun kebiasaan yang baik. Kegagalan besar terjadi karena kegagalan membangun kebiasaan kecil yang baik.

Setiap strategi yang mampu menjamin tercapainya keberhasilan, selalu ditandai dengan terbangunnya perilaku dan kebiasaan baik, yang suatu saat memungkinkan dilakukannya tindakan besar yang paling tepat untuk mendatangkan keberhasilan itu.

Setiap pembiasaan perilaku seringkali menjadi rutinitas yang membosankan dan memang tidak mudah menjadikan diri hidup di dalam keistiqomahan.

Jika istiqomah, persistensi, dan kerja keras adalah syarat terpenting untuk mencapai keberhasilan, maka kebosanan adalah musuh utamanya.

Rasa bosan adalah ancaman terburuk, sebab setengah dari dosa manusia dilakukan untuk menghindarinya. Rasa bosan adalah ancaman terparah, bagi pribadi yang kecil yang sedang terdampar di pulau terpencil.

Rasa bosan muncul karena kemampuan yang lebih besar masih tersembunyi ketika tantangan sudah menjadi nyata. Hukum Tuhan sudah menetapkan bahwa tantangan selalu sebanding dengan kemampuan. Rasa bosan juga muncul karena sadar merasa sudah tahu atau sebaliknya karena rasa belum tahu yang tidak disadari.

Maka, obat terbaik untuk rasa bosan adalah terus belajar di dalam rasa ingin tahu yang tak pernah surut, sebab rasa bosan sebenarnya adalah hasrat yang ingin menemukan hasrat. Kebosanan, adalah rasa ingin menemukan keinginan. Rasa bosan adalah perilaku fokus pada ketidakjelasan.

Pembelajaran dan rasa ingin tahu dibangun oleh dua hal terpenting, yaitu kemauan untuk mendengar dan kemauan untuk bertanya. Mendengar yang baik itu ada kendalanya dan bertanya yang tepat itu ada caranya.

Kendala terbesar pendengaran adalah ketidaktertarikan atau ketenggelaman di dalam kesibukan, dan cara terbaik untuk bertanya adalah dengan bertanya.

Mereka yang sedang tidak optimal dalam bekerja, menjadi tidak produktif karena malas bertanya pada diri sendiri atau kepada orang lain akibat ketidaktertarikan mereka pada sesuatu yang sebenarnya penting, atau mereka sedang terlalu sibuk tentang sesuatu yang lain yang mereka anggap lebih menarik.

Setiap kali bertanya, kita akan selalu menemukan cara baru dalam mengemas ulang sebuah misi yang teguh dan tetap demi sebuah tujuan yang pasti. Dengan terus bertanya, kita akan menjadi pribadi yang gigih dalam memperjuangkan keberhasilan.

Pertanyaan yang tidak memicu tindakan adalah pertanyaan yang salah diajukan. Pertanyaan yang tepat dan menarik, akan mendorong kita melakukan sesuatu. Pertanyaan yang baik, akan membangun kebiasaan yang baik.

"Sebenarnya, Timbuktu itu ada di negara mana?"

Sukses selalu!

Ikhwan Sopa

Kedewasaan

Selamat pagi sahabat,

Rencananya, insya Allah hari ini kami menghadiri undangan syukuran khitanan anak seorang teman.

Berkhitan atau sunat adalah tradisi simbolik sebagai tanda memasuki 'usia dewasa'. Waktu yang wajib untuk berkhitan adalah saat aqil baligh (alias dianggap sudah 'berakal') dan waktu yang sunnah adalah sebelumnya. Khitan adalah penanda bahwa sel-sel otak dan kemampuan berpikir seseorang telah mapan dan mulai menemukan pola-pola terbaiknya.

Idealnya, saat itulah seseorang secara sadar mengambil keputusan 'menjadi dewasa' dengan menyerahkan tampuk kepemimpinan diri dari sang perasaan kepada sang pikiran.

Setiap kita, dilahirkan dengan menangis dan tidak langsung bermain catur. Artinya, siklus hidup setiap kita selalu dimulai dengan rutinitas keinginan-perasaan. Sel-sel otak kita masih disusun dan kemampuan berpikir kita baru saja mulai belajar.

Untuk bertahan hidup, mendapatkan susu, makanan, perhatian, kenyamanan, kasih-sayang, dan segala hal lainnya, kita menggunakan bahasa awal perasaan yang paling sederhana, yaitu menangis, marah, atau berakrobat secara fisik demi berkomunikasi dengan kehidupan dan dunia.

Kekuasaan dinasti perasaan berlangsung cukup lama hingga kita mencapai usia 'mampu berpikir jernih dengan akal yang sehat'. Ketika usia itu dicapai, sudah sepantasnya tampuk kekuasaan kita serahkan ke tangan dinasti pikiran.

Uniknya, rata-rata kita tidak pernah melakukan 'kudeta kebaikan' dengan memutuskan bahwa diri kita 'telah dewasa' dan memilih untuk mengendalikan kehidupan dengan kekuatan pikiran.

Itu sebabnya, banyak sekali kita temukan manusia yang hidupnya sangat dikendalikan oleh perasaan. Alias, jiwa seorang anak kecil yang terperangkap dalam cangkang tubuh atau casing fisik orang dewasa.

Maka tak mengherankan, jika kita sering menemui fenomena di mana orang dewasa berkelakuan seperti anak kecil. Banyak sekali kejadian yang identik dengan seorang anak kecil yang menginginkan es krim dan untuk mendapatkannya merasa perlu berguling-guling di lantai dalam kemarahan, ketidakpuasan, dan rasa kecewa yang membakar. Semoga kita tidak termasuk di dalamnya, dan tak ada kata terlambat untuk memutuskan hari ini bahwa diri kita 'telah dewasa'.

Semua ini sungguh penting, sebab Tuhan lebih memilih berinteraksi dengan mereka yang 'berpikir' dan 'berakal'.

Bersyukurlah kita jika mulai menyadari bahwa kita telah pernah kehilangan sebuah KEPUTUSAN TERPENTING di dalam hidup kita di masa lalu, dengan segera mengoreksinya lewat sebuah keputusan yang tak bisa berlaku surut, yaitu menetapkan masa depan yang lebih baik di bawah kepemimpinan dinasti pikiran yang jernih dan tegas.

Untuk itu, kita perlu terus belajar.

Selamat berakhir minggu, sukses selalu!

Ikhwan Sopa

Bekerja Adalah Ibadah

Selamat siang sahabat,

Sekali lagi, saya mendapat orderan unik yaitu mengisi pengajian akhir tahun di sebuah perusahaan.

Saya katakan bahwa saya bukan ustadz dan mereka insist. Saya kemudian menyatakan bahwa pendekatan saya adalah motivasi, komunikasi, dan leadership. Apa yang terkait dengan keagamaan hanya saya sampaikan sebatas yang saya merasa cukup memahaminya.

Mereka meminta judul "Etos Kerja Muslim".

Etos atau ethos, adalah bagian tak terpisahkan dari tiga serangkai ethos, pathos, dan logos. Ethos adalah tentang karakter, yaitu label-label yang dilekatkan dengan tujuan membentuk karakter yang berdaya dan memiliki persepsi yang memberdayakan. Inti dari etos adalah kredibilitas, keterandalan, dan keterpercayaan.

Etos yang terpenting adalah "Bekerja Itu Ibadah".

Terkait dengan etos ini, ada dua hal yang perlu selalu kita ingat.

1. Niat.

Apa jadinya, jika kita keluar rumah paling tidak untuk delapan jam setiap hari, dengan total waktu setengah dari usia kita, dan kemudian kita tidak meniatkannya sebagai ibadah?

Hal pertama tentang beribadah adalah niat. Niat harus jelas, jernih, dan tegas, entah dinyatakan secara terbuka atau secara tersembunyi.

Cerita berikut ini tentang Mas Dani dan Mas Danu adalah sedikit inspirasi tentang bagaimana perbedaan niat dapat menciptakan perbedaan hasil akhir - http://goo.gl/fWPGa

2. Tangan Di Atas Selalu Lebih Baik Daripada Tangan Di Bawah.

Siapapun yang bekerja dengan sungguh-sunguh adalah lebih baik daripada yang meminta-minta.

Bekerja maksimal dengan apa yang ada, selalu lebih baik daripada bekerja seadanya karena merasakan ketidakmaksimalan.

Mereka yang bekerja setengah hati karena orang lain, sistem, atasan, bawahan, atau organisasinya belum mampu memenuhi segala hal yang disyaratkan olehnya untuk bersedia bekerja maksimal, sebenarnya sedang lupa bahwa mereka sedang meminta-minta.

Maka, insya Allah "Bekerja Adalah Ibadah" perlu diwarnai dengan niat untuk beribadah dan bekerja maksimal dengan seminimal apapun yang ada dan telah tersedia.

Tetap semangat!

Ikhwan Sopa

Cemas Atau Bosan?

Selamat siang sahabat,

Kita mungkin sering lupa, bahwa jika kenyataannya kita masih mampu bertahan hingga hari ini, sebenarnya kita telah begitu pandai dan ahli dalam mendemonstrasikan sebuah kemampuan, yaitu menjaga keseimbangan.

Itu sebabnya, jika selama ini kita pernah jatuh maka kita telah bangkit lagi, dan itu juga sebabnya jika selama ini kita telah seimbang, maka kita cenderung ingin belajar melangkah lebih jauh.

Kepandaian dan keahlian kita itu, adalah kemampuan untuk menyeimbangkan daya tarik dari dua hal fitrah yang telah dianugerahkan Tuhan kepada kita. Dua hal itu adalah 'Tantangan' dan 'Kemampuan'.

Mereka yang bertahan atau makin berhasil hingga hari ini, adalah mereka yang terus berupaya berada di tengah keduanya.

Mereka yang hidupnya sedang 'membosankan', sebenarnya merasakan betapa kemampuannya sedang lebih besar dari tantangan yang dihadapinya. Ini, mungkin sekedar persepsi atau memang sesuai kenyataan.

Mereka yang hidupnya sedang 'mencemaskan', sebenarnya merasakan betapa tantangan yang dihadapinya sedang lebih besar dari kemampuannya. Inipun, mungkin sekedar persepsi atau memang sesuai kenyataan.

Sahabat, yang manakah diri kita hari ini?
Apakah engkau sedang 'bosan' atau engkau sedang 'cemas'?
Apakah itu persepsi atau memang sesuai kenyataannya?

Membaca status ini, insya Allah engkau mulai mengerti harus bagaimana.

Sukses selalu!

Ikhwan Sopa

Bekerja Versus Berkarya

Selamat pagi sahabat,

Alangkah indahnya jika yang kita lakukan kita pandang dan kita rasakan sebagai 'berkarya' dan bukan 'bekerja'.

Ada perbedaan yang sangat jelas tentang dua sudut pandang ini.

Semua ini tidak semata-mata tentang 'life wisdom' dalam pengertiannya yang sempit. Sebab, life wisdom itu sendiri - di mana pun, adalah bentuk-bentuk keselarasan dan harmonisasi dengan alam dan fenomena kehidupan sebagai Sunnatullah.

Sejalan dengan perkembangan kehidupan yang alamiah, ketika seseorang telah mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhannya yang paling mendasar, tibalah saat bagi dirinya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang memiliki nilai spiritualitas lebih tinggi. Kebutuhan-kebutuhan ini di antaranya adalah 'self actualization' (Abraham Maslow) atau 'contribution' (Anthony Robbins).

Di sinilah letaknya perbedaan antara 'bekerja' dan 'berkarya'.

'Bekerja' adalah sebuah cara pandang memikul beban dan bagaimana menyelesaikan segala persoalan dan hambatan yang dilekatkan pada beban itu.

'Berkarya' adalah sebuah cara pandang kepemimpinan yang melihat 'the big picture' dan tentang bagaimana seseorang mempersepsi kontribusi dan sumbangsihnya pada gambaran besar itu.

Jika melukis dipersepsi sebagai 'bekerja', maka melukis adalah melaburkan kuas ke atas kanvas dengan pilihan warna-warna tertentu yang dilakukan dengan gerakan, coretan, dan tekanan tertentu.

Jika melukis dipersepsi sebagai 'berkarya', maka melukis adalah menciptakan keindahan bagi mata dan perasaan, atau menangkap fenomena dan memaknainya ke dalam warna-warni, atau menuangkan isi pikiran dan hati menjadi sesuatu yang bisa dilihat dan dirasakan. Mungkin, ada ratusan atau bahkan ribuan lagi kekayaan makna yang bisa dilekatkan pada proses 'berkarya'.

Yang satu adalah pilihan tindakan yang mekanistis dan teknis, dan yang satu lagi adalah mengoptimalkan segala potensi dengan pikiran dan perasaan, demi terwujudnya sesuatu yang lengkap, utuh, baik dan indah. Yang satu adalah sekedar upaya memenuhi syarat, dan yang satu lagi adalah pilihan untuk menjadi bagian dari impian yang lebih besar.

Ketika waktunya tiba, yaitu ketika seseorang memasuki 'usia kerja' yang identik dengan 'usia dewasa', maka jalan tunggal yang dapat ditempuhnya adalah memenuhi kebutuhan yang alamiah dan bernuansa spiritual ini. Saya yakin, waktu itu adalah sekarang.

Selamat berkarya!

Ikhwan Sopa

Makna Sikap Ramah

Selamat sore sahabat,

Esensi dari 'ramah' adalah 'memudahkan orang lain'.

Mudahkanlah mereka untuk tersenyum.
Mudahkanlah mereka untuk bekerja.
Mudahkanlah mereka untuk maju.
Mudahkanlah mereka untuk mengenali diri mereka sendiri.
Mudahkanlah mereka untuk mengenali diri kita.
Mudahkanlah mereka menyelesaikan berbagai persoalannya.
Mudahkanlah mereka untuk berbahagia.

Sukses selalu!

Ikhwan Sopa

Makna Belajar

Selamat sore sahabat,

Mari kita renungkan yang berikut ini untuk menyongsong 2012.

Jika engkau memutuskan untuk menjadi yang 'berbeda', insya Allah engkau akan menjadi 'sejajar' dengan yang lainnya. Setiap kita pada dasarnya sama tinggi dengan masing-masing peran yang saling mewarnai dan saling melengkapi.

Jika engkau memutuskan untuk tetap menjadi yang 'sama', maka sangat mungkin engkau akan masih terus berkutat dengan 'nomor satu', 'nomor dua', atau model-model 'urutan' yang lainnya. Engkau akan menjadi sangat ahli di dalam keminderan dan rasa rendah diri. Padahal, setiap kita punya peran yang pantas kita mainkan.

Kepada yang 'terdahulu' tugasmu adalah 'belajar', maka belajarlah kepada siapapun yang lebih dahulu darimu. Di tempat kongkow yang namanya Facebook ini, banyak sekali mereka yang mau membantumu.

Tugas belajarmu adalah menemukan bagaimana engkau menjadi 'berbeda'.

Perbedaanmu akan menjadi 'warna' yang mengayakan dunia.

Terus belajar dan mari kita warnai 2012 nanti!

"Belajar adalah melakukan hal yang sama dengan cara berbeda."
-Ikhwan Sopa-

"Insanity is doing the same thing again and again and expecting different results."
-Albert Einstein-

Sukses selalu buatmu!

Ikhwan Sopa
Master Coach MPdP
Master Trainer E.D.A.N.
http://qacomm.com

Bahagia dan Kebahagiaan

Selamat malam sahabat,

Mari kita renungkan yang berikut ini,

Sebelum kita mengejar bahagia, perlulah kita mendefinisikan apa itu bahagia.

Waspadalah terhadap 'hidden plans' yang tak sengaja kita buat dengan menitipkan rencana-rencana penderitaan di dalam arti kebahagiaan.

Jika bahagia adalah tercapainya segala yang kita inginkan, maka sadarilah kita sedang merencanakan penderitaan karena tak semua akan kita dapatkan.

Jika bahagia adalah mendapatkan kekayaan material yang berlimpah, maka bersiaplah untuk tidak berbahagia karena kita sedang merencanakan kemiskinan dan kehilangan.

Jika bahagia adalah bebas dari penderitaan, kita sedang berencana melepaskan kemerdekaan dengan memimpikan surga yang belum datang dan bersiaplah untuk hidup di dalam neraka dunia.

Bahagia adalah sebuah kesadaran tentang perasaan mengalami kemajuan, sekecil apapun kemajuan itu, bahkan kemajuan dari sedetik yang lalu.

Seperti hal kecil di pagi hari yang mampu merusak perasaan hingga petang, berilah kesempatan bagi segala hal kecil untuk menjadi sebab kebahagiaan hingga matahari tenggelam.

Temukanlah kemajuan sekecil apapun, rasakan, dan sadarilah betapa kita telah beruntung.

Di dalam waktu, misi kita adalah maju.

Ikhwan Sopa

Menjaga Mimpi dan Cita-cita

Selamat sore sahabat,

Semoga Sabtu dan Minggu ini menjadi hari yang ceria dan menggembirakan untukmu sekeluarga.

Hari libur dan ujung minggu, adalah saat di mana kita melakukan re-kreasi, mengkreasi dan menguatkan kembali mimpi-mimpi masa depan yang indah dengan mengindahkan segala hal sebagai bayang-bayangnya di hari ini.

Rasa frustrasi hanya terjadi karena mimpi yang awalnya begitu kuat mengkristal hari ini mungkin mulai meleleh dicairkan oleh panasnya rutinitas harian di dalam keringat dan nafas yang terengah-engah.

Mimpi yang berkilau layaknya berlian tidaklah bertitik didih terlalu tinggi hingga ia begitu mudah meleleh atau bahkan menguap hanya sekedar oleh hembusan hangat dari segala pergesekan di dalam hidup. Begitu pula, titik bekunya pun tak seperti es yang harus diisolasi dalam kedinginan yang membekukan. Cukup, segalanya hanya perlu dinyamankan dan diademkan mengikuti suhu ruang, dengan melapangkan yang ada di dalam dirimu yang akan mampu melapangkan segala hal di sekitarmu.

Jika hidupmu adalah tentang harapan, maka impianmulah yang sebenarnya menjadi kekuatan bagi masa depanmu. Mimpilah yang menciptakan kekuatan daya tarik hingga engkau tak perlu terlalu keras menciptakan daya dorong bagi dirimu untuk bergerak. Itu sebabnya, terputus dari impian adalah tanda-tanda frustrasi yang pasti mengarahkanmu kepada kehampaan karena lelah kehabisan kekuatan.

Untuk menghindarinya, lakukanlah yang berikut ini hari ini juga sebelum esok tiba.

1. Kembalilah ke pendengaran,

Dengarkanlah apa yang dikatakan hati nurani, jiwa, dan emosi yang murni. Simaklah apa yang dikatakannya tentang keindahan hidupmu, tentang keindahan kehidupanmu bersama pasanganmu, keindahan hidupmu bersama keluargamu, dan keindahan kehidupan bersama dengan segala orang yang setiap hari bersamamu mengejar cita-cita. Ingat, mendengar adalah memberi makna dari apa-apa yang disampaikan juga oleh empat teman dari telinga.

2. Temukanlah apa-apa yang menjadi kesenjangan,

Dari apa yang engkau harapkan bagi keindahan masa depan dengan apa yang sesungguhnya sedang terjadi hari ini. Selisihnya, adalah tugas perjuanganmu. Selisih itulah yang menjadi tanda-tanda tentang apa-apa yang perlu engkau kerjakan demi mengkristalkan kembali mimpi dan sekaligus membangun daya tariknya.

3. Penuhi apa yang menjadi kebutuhan,

Dari apa-apa yang kau temukan sebagai syarat prioritas bagi tercapainya impianmu. Berhentilah seperti anak kecil dan jadilah seperti remaja yang sedang menanjak dewasa dengan mulai membuang segala mainan yang tak cocok lagi dengan usia. Belakangkan keinginan, dahulukan keperluan, dan utamakan kebutuhan. Jika engkau melakukannya, maka engkau akan disampaikan kepada apa-apa yang engkau anggap perlu, dan kemudian engkau akan mempertemukan dirimu dengan segala hal yang engkau inginkan.

4. Ingatlah selalu,

Bahwa bahaya terbesar dari setiap perjalanan menuju mimpi, adalah godaan yang melenakan yang berasal dari kebaikan atau keburukan sesuatu. Semua itu, akan kita temui di sepanjang perjalanan agar impianmu tak mencair lagi hingga engkau kesulitan menjaganya di dalam wadah harapanmu yang selalu dibuat dengan teknik rajutan. Ya, segala teknologi modern tak akan pernah mampu menampung harapan seperti termos yang kedap udara dan kedap suara. Inilah bukti kekuasaan Tuhan.

“People often think that they're being demotivated by their situations. No, they're just being disconnected from their dreams.”
-Ikhwan Sopa-

Topeng Diri

Selamat siang sahabat,

Banyak sekali masalah dan persoalan di dalam hidup ini muncul karena kita kurang mengenali diri sendiri.

Mereka yang merasa dirinya begitu malas, sangat mungkin menjadi malas karena cinta mereka yang begitu besar telah menjadi penghalang bagi keberhasilan hidup mereka. Mereka harus merubah cintanya menjadi pemberhasil kehidupan. Mereka perlu merenungi kembali makna dari cita-cita.

Cita-cita perlu diperjuangkan dan mungkin perlu melalui jalan yang berliku dan keras. Sekedar ewuh pakewuh tak akan membuat mereka berhasil. Ketiadaan pergesekan hanya bisa terjadi di ruang hampa. Bersaing dan berkompetisi di dalam kebaikan bukanlah perang yang brutal dan memburukkan kehidupan.

Sebaliknya, semua itu akan menjadi peluas jalan bagi cinta mereka yang terus membesar untuk mereka bagikan ke seluruh dunia.

Damai... damai... cinta... cinta... itukan yang engkau cari?

Mereka yang merasa dirinya begitu ngoyo dan keras kepada diri sendiri, pada orang lain, dan selalu melihat hanya 'ujungnya' saja, sedang lupa bahwa segala hal dipastikan dicapai dengan tahapan, fase, dan detil-detil. Mereka perlu merenungi kembali tentang makna cinta kepada sesama manusia.

Hidup ini bukan semata perang yang hanya tentang menang atau kalah. Keegoisan mereka, nyaris tak pernah melihat manusia lain di dalam apa yang mereka kerjakan. Bagaimanapun, mereka harus mengerti bahwa setiap hasil memerlukan keberadaan orang lain yang selama ini tak pernah mereka lihat benar-benar sebagai manusia.

Padahal, apapun hasil yang sangat ingin mereka segerakan pencapaiannya dengan melupakan keberadaan orang lain, pada akhirnya justru akan mereka peruntukkan bagi orang-orang yang mengisi kehidupannya. Termasuk, diri mereka sendiri.

Hasil... hasil... untung... untung... menang... menang... itukan yang engkau cari?

Mereka yang menikmati hidup ini seperti pesta dengan kespontanan, sifat-sifat impulsif, dan keceriaan yang melenakan, sedang memboroskan segala sumber daya kehidupannya dengan menikmati segala hal yang sekedar menyenangkan. Mereka perlu merenungi kembali, tentang ketidakjelasan hasil dari segala keinginan mereka yang segunung itu.

Mereka perlu mengingat, bahwa lampu sorot suatu saat akan dimatikan dan setiap pesta ada waktunya untuk diusaikan. Kepedulian mereka pada pentas pribadi di panggung kehidupan, membuat mereka tak mampu menolak setiap tantangan atau membuat mereka tak mampu menolak setiap permintaan tolong dari orang lain.

Padahal jika mereka mau sedikit saja mengerem hidupnya, hidup ini sungguh akan menjadikan mereka sebagaimana yang mereka inginkan.

Enjoy... belanja... pesta... menolong orang... bertualang... itukan yang engkau cari?

Dan bagi mereka, yang membaca ini saja langsung mengernyitkan dahi, sedang lupa bahwa hidup ini bukan hanya tentang berpikir tapi juga tentang melakukan. Mereka perlu merenungi kembali tentang apa artinya menciptakan penjara bagi diri sendiri.

Hidup ini tidak hitam putih dan tak semuanya sesuai rencana, tak selalu mengikuti prosedur, dan tak selalu perlu takluk pada sistem dan tata kerja. Sebagian dari keindahan kehidupan justru terletak pada ketidakteraturan yang harmonis.

Menurut mereka, hidup ini harus terencana, harus detil, dan sepenuhnya harus memiliki aturan permainan yang sampai sekecil-kecilnya. Mereka menjadi terpenjara oleh kedisplinan yang menyakitkan. Mereka mengucil dan hidup hanya di sekitar alat dan teknologi. Mereka, sulit sekali mengambil keputusan.

Padahal, semua itu justru diciptakan untuk memerdekakan dan mengindahkan hidup ini. Tak semua tindakan perlu dipikirkan seperti akan berangkat ke bulan.

Harus begini... mestinya begitu... jam berapa harus pulang... saya perlu informasi lebih banyak... itukan yang engkau cari?

Sahabat, jika engkau bersedia untuk jujur secara total, siapakah dirimu? Yang manakah yang 'gue banget'?

Hiduplah di dalam keseimbangan yang memberdayakan.
Yang terus miring, biasanya akan jatuh.

Selamat berakhir minggu.

Ikhwan Sopa

Jika Engkau Takut dan Khawatir

Selamat malam sahabat,

Bila suatu saat engkau masih dalam cengkeraman resah dan gelisah diterpa rasa takut dan khawatir tentang sesuatu, maka engkau boleh bertanya begini,

"Apa sih, yang lebih penting dari rasa ini jika aku mengalami yang terburuk?"

Suatu sore di tahun 1984, saya bersama dua orang teman menyeberangi Teluk Lampung di kepala pulau Sumatera dari satu sisi ke sisi yang lainnya.

Hari itu, kami berpesta merayakan ulang tahun seorang teman di sebuah pantai yang masih alami dan tenang. Setelah acara yang menyenangkan bagi para remaja seperti kami itu usai kami berkemas untuk pulang.

Sambil berlenggang menuju tepi jalan raya tempat kami memarkir kendaraan, kami menyusuri pantai melalui jalan setapak. Di suatu titik, kami begitu tergoda melihat sebuah perahu bercadik tunggal diayun-ayun ombak yang ringan. Kami melirik ke arah seberang dan dalam hati kami bertanya, "Bisakah dengan perahu ini kami ke seberang situ?"

Kami memutuskan melakukannya dan keputusan itu menjelma menjadi sebuah pengalaman buruk bagi saya. Kami tersesat di tengah laut hingga jam tiga pagi dengan segala teror di dalam kegelapan. Di antara segala ketakutan saya, malam itu adalah adalah salah satu puncaknya. Di ombang-ambing ombak laut malam yang sama sekali tidak ramah, melihat tangan sendiripun kami tak bisa melakukannya.

Pengalaman itu begitu membekas, hingga saya tak sanggup lagi berlayar di malam hari apalagi naik pesawat setelah matahari tenggelam. Lucunya, di hari-hari sekarang saya malah justru harus banyak menjalaninya.

Ilmu dan keahlian yang saya pelajari sebagai trainer, pembicara, dan penganjur pengembangan diri, sebenarnya menawarkan cara-cara yang efektif dan cepat untuk mengatasi bekas-bekas luka jiwa saya itu. Tapi, saya memilih tidak menerapkannya pada diri saya sendiri sebab saya ingin mengerti apa yang sebenarnya terjadi.

Maka, di dalam perjalananlah tugas belajar terbesar saya untuk makin mampu memanajemeni pikiran dan perasaan saya. Di antaranya, di dalam pesawat udara.

Yang berikut ini saya sharing untuk sahabat semua, semoga memberi manfaat sebagaimana saya telah merasakannya.

Di langit yang luas dalam kesendirian, saya sering tergoda oleh kilasan-kilasan yang sama sekali tak memberdayakan. "Apa yang akan terjadi, jika sedetik lagi saya terjaga di dalam liang lahat?"

Ada sebuah cara yang sejauh ini terus memberhasilkan dan memberdayakan saya hingga tetap menjaga keberanian di dalam ketakutan. Saya terus bertanya,

"Apa yang lebih penting ketimbang segala pikiran dan perasaan yang sungguh menyiksa ini?"

Apa yang sungguh tidak penting bagi saya di saat-saat seperti itu adalah ketakutan saya sendiri.

Pikiran buruk saya tidak penting,
Perasaan buruk saya tidak penting,
Keringat dingin saya tidak penting,
Gemetar tubuh saya tidak penting,
Pelintiran-pelintiran di dalam perut saya tidak penting.

Yang penting adalah keadaan saya ketika hal terburuk yang saya khawatirkan benar-benar terjadi. Saya ingin sedang sangat mengingat Tuhan jika itu harus berlangsung. Saya perlu bekerja keras untuk tidak mengisi hati, pikiran, dan perasaan saya dengan segala hal selain mengingat-Nya. Jika fisik saya sedang terikat ke pesawat, maka yang selain itu harus sedang terikat kepada Pemilik pesawat, Pemilik diri saya, Pemilik kejadian yang saya khawatirkan, dan Pemilik kehidupan seluruhnya.

Sungguh, memang dengan hanya mengingat-Nya hati ini menjadi tenang. Alhamdulillah.

Maka sahabat,

Jika sedetik dari sekarang apa yang engkau khawatirkan memang harus terjadi, apa yang lebih penting dari rasa takut dan khawatirmu ketika engkau mengalaminya?

Jika cintamu kandas, apa yang lebih penting dari patahnya hatimu?
Jika bisnismu gagal, apa yang lebih penting dari segala kerugian usahamu?
Jika hidupmu merana, apa yang lebih penting dari penderitaanmu?
Jika engkau takut mati, apa yang penting setelah kematianmu?

Kita perlu berhenti, menjadikan apa-apa yang ada di dunia ini sebagai 'segalanya'. Sebab, dengan itu kita sedang merencanakan suatu saat akan menderita.

Ikhwan Sopa

Pengutuh Keyakinan

Selamat petang sahabat,

Jika engkau ragu-ragu, meragulah seperti para penemu, seperti detektif kawakan, dan seperti para perintis peradaban. Mereka meragukan sesuatu dengan tetap meyakini sesuatu. Tujuan mereka adalah menemukan.

Keraguan adalah tanda hilangnya sesuatu, dan sesuatu itu adalah sebagian dari porsi keyakinanmu.

Keyakinan itu seperti benih yang disemai ke dalam dirimu.

Sebagian ada di dalam hati,
Sebagiannya ada dalam pikiran dan perasaan yang menjadi kata-kata,
Dan sebagian lagi di dalam tindakan.

Pada bagian yang terakhir itulah,
Biasanya engkau terhenti di dunia fisik.

Tindakan, adalah pengutuh keyakinan.

Ikhwan Sopa

Keajaiban Tindakan

Selamat petang sahabat,

Bagaimana mungkin, kita yang menyadari bahwa keyakinan akan mencapai titik terkuatnya dengan melakukan tindakan, kita yang ragu-ragu justru diam sementara bagian diri kita yang lain begitu memahami bahwa ragu-ragu adalah tanda hadirnya keyakinan yang belum diutuhkan?

There's only one way to find out.

No action nothing happens.
Take action miracles happen.

Ikhwan Sopa.