Telaten


Tahun 2006, saya mendirikan QA Communication.

Waktu itu, saya berupaya keras mendidik tim marketing saya yang terdiri dari dua orang yang putus sekolah, satu orang yang aslinya pengangguran, dan satu orang yang sebelumnya adalah seorang tukang batu yang pekerjaannya menyemen, menumpuk bata, atau menyusun keramik, dan pekerjaan sampingannya adalah sopir angkot.

Selama delapan bulan, kami melakukan street marketing.

Setiap pagi pukul enam, saya dan tim saya berangkat menuju lampu merah di perempatan Departemen Pertanian di daerah Ragunan. Jika lampu merah, kami mengetuk jendela dan menawarkan brosur Workshop E.D.A.N. dalam bentuk foto kopian.

(Salah satu EO kami di daerah, muncul dengan sebuah ide yang EDAN; apa jadinya jika saat lampu merah, dua orang bolak-balik menyeberang jalan mengusung spanduk - sekalian melindungi penyeberang jalan, sampai lampu menyala hijau kembali?)

Dalam aktivitas street marketing itu, saya sering ditanya, "siapa trainernya?"
Dengan tegas saya menjawab, "saya!"

Agak siang sedikit, kami bergeser ke pom bensin yang berada persis di depan Departemen Pertanian di tepi jalan TB Simatupang. Kami melakukan hal yang sama dan saya sering ditanya dengan pertanyaan yang sama.

Jam makan siang, kami meluncur ke segitiga kuliner di daerah Kuningan dekat Wisma Bakrie dan Setia Budi Building. Setiap meja kami hampiri untuk membagikan brosur training kami.

Kadang-kadang, kami juga melakukannya di mall-mall. Hasilnya, kami lebih sering diusir oleh satpam.

Di kelas training, saya sering bertanya kepada para peserta tentang bagaimana mereka mendapatkan informasi tentang training kami. Cukup banyak yang menjawab seperti ini, "kami sedang lunch, lalu saya lihat sesuatu di bawah sepatu saya, ternyata itu brosur Workshop E.D.A.N. yang sudah basah atau lecek tapi masih bisa di baca. Kami kemudian tertarik dan kami ikut training ini."

Sampai hari ini, jika memungkinkan, saya juga masih menjual buku "Manajemen Pikiran dan Perasaan" dengan cara door to door (walau cuma ke teman-teman dan hard selling).

Alhamdulillah, tahun 2010 sebuah lembaga rating besar menempatkan saya di peringkat 16 dalam Top Twenty Indonesian Motivator (unpublished, karena pesanan suatu pihak). Buat saya, ini sungguh luar biasa.

Saya sangat yakin dan percaya, bahwa bagi siapapun yang merasa "nobody", cara terbaik untuk mencapai tujuan dan keberhasilan adalah dengan satu kata: TELATEN.

Tetap semangat!

Ikhwan Sopa
Master Coach MPdP
Master Trainer E.D.A.N.
http://qacomm.com