Menumbuhkan Harapan


Selamat pagi sahabat,

Tanda utama dari kehidupan adalah hidupnya harapan.

Pagi ini, seseorang mungkin sedang menunggu datangnya harapan yang menurut prasangkanya akan dibingkiskan oleh hidup baginya seperti hadiah berpita indah yang digeletakkan di depan pintu dunianya yang sedang sepi dari mimpi-mimpi.

Dirinya tak akan pernah tahu kapan akan bertemu dengan ujung dari penantiannya yang begitu panjang dan melelahkan. Ia sedang mengasihani dirinya sendiri hanya dengan berbekal sedikit sekali cinta. Saat matahari makin menyala, hidupnya justru makin meredup.

Dia sedang terbuai dan lupa bahwa harapan dikodratkan menitik setetes demi setetes persis seperti airmatanya yang mengalir saat ia menatap masa depan yang sungguh sulit untuk dipahami.

Padahal, harapannya justru tumbuh sejalan dengan kadar cintanya kepada atribut-atribut kemuliaan yang telah dititipkan oleh Sang Pencipta dalam dirinya.

Harapannya hanya bisa dihadirkan oleh keyakinan bahwa dirinya mampu menghadapi tantangan dan rasa percaya bahwa ia memang dibolehkan mencicipi keberhasilan.

Ia sedang salah mengisi waktu dengan mengira bahwa menunggu bisa dilakukan dengan melewatkannya bersama kekosongan tindakan.

Jika saja ia mau merenungkan, maka ia akan mengerti bahwa menunggu adalah menantikan datangnya akibat dari sebab-sebab yang mesti ia ciptakan sendiri.

Selain tentang yakin dan percaya, cinta adalah juga tentang pengorbanan.

Itu sebabnya ia perlu terus melatih dirinya agar makin mampu melakukan yang lebih baik lagi supaya ia tenteram dalam menuntut keberhasilan yang memang dipantaskan baginya. Ini, hanya dapat terjadi jika cinta itu telah diutuhkannya dengan menyemai keyakinan, rasa percaya diri, dan kemauan untuk berkorban. Ia tak boleh hanya berdiam diri sebab itu akan makin meletihkannya.

Dengan menyegerakan tindakan, ia sedang menumbuhkan harapan untuk nanti ia dipastikan akan menuai hasil-hasil.

Dia yang diam tak bekerja tidak menyukai dirinya sendiri, dan yang tak menyukai dirinya sendiri mungkin tidak mencintai Tuhan.

Dalam tindakanlah pantasnya ia menunggu dan dengan bekerjalah ia pantasnya menanti. Menunggu yang disukai namanya optimis, menunggu yang tak disukai namanya pesimis, tidak menunggu apa-apa namanya putus asa.

Begitulah, cinta adalah kata kerja.

Ikhwan Sopa
Master Coach MPdP
Master Trainer E.D.A.N.
http://qacomm.com