Malu dan Sadar

Selamat malam sahabat,

Saya punya sedikit cerita.

Umar bin Khattab telah mengingatkan bahwa setiap kita keluar dari tempat keluarnya kencing sebanyak dua kali.

Umar bin Abdul Aziz juga telah mengingatkan bahwa setiap kali berjalan kita ini membawa bibit-bibit najis di dalam perut.

Salah satu bahasa tubuh terindah saya pelajari dari seseorang yang sudah tua.

Kerjanya adalah mencukur rambut saya atau anak laki-laki saya jika telah gondrong dan menggerahkan.

Gerakannya begitu lambat dan langkahnya tertatih-tatih tapi cintanya pada profesi begitu luar biasa.

Kursi yang biasa saya duduki, menurutnya adalah kursi yang ia beli tahun 1951 ketika ia memulai bisnis pangkasnya.

Hanya dengan itu, ia telah menjadikan salah satu anaknya sebagai pimpinan kelompok militer elit di negeri ini.

Ia tetap rendah hati.

Keindahan itu muncul ketika saya menyodorkan uang untuk membayar biaya cukur yang tujuh ribu untuk anak saya atau delapan ribu perak untuk saya itu.

Ia menyambutnya dengan menadahkan kedua tangannya yang dirapatkan seperti sedang berdoa, takzim dengan sedikit membungkuk.

Saya kadang-kadang malu ketika mencoba meniru keindahan itu.
Saya kadang-kadang menyadari, bahwa dagu saya masih terangkat ketika melakukannya.

Malu dan sadar saja saya ini masih kadang-kadang.

Ikhwan Sopa