Blog Baru

Dear all,

Postingan ini adalah ternyata bukan postingan terakhir di blog ini. Blog saya pindah ke tempat yang baru lain di sini:

http://blog.qacomm.com

Thaaanks!

Tetap semangat!

Ikhwan Sopa

NLP States For Writing Dan Trance-Writing


Dear all.

Beberapa hari yang lalu saya mengisi sebuah sesi NLP bersama komunitas Neo NLP. Acara itu mengusung topik "The Essentials Of NLP". Di ujung acara saya menyampaikan konsep "Manajemen Pikiran Dan Perasaan" - sekedar perkenalan terkait dengan buku yang telah saya tulis dengan judul yang sama.

Ketika saya menerima tawaran kombinasi yang menarik ini, saya merasa senang, dan Saya berpikir,

"Peluang apa yang dapat saya manfaatkan untuk berbagi manfaat dan inspirasi bagi orang banyak, dengan sebuah event yang dikemas dan dikombinasikan dengan unik seperti ini?"

Saya kemudian memutuskan untuk berbagi inspirasi tentang bagaimana NLP dan hypnosis sangat membantu saya dalam setiap tahap dan proses penulisan buku tersebut. Saya sadari atau tidak saya sadari, dengan keterlibatan intensif saya dalam dunia NLP dan hypnosis, sedikit atau banyak, pastilah keduanya mewarnai proses kerja saya dalam menulis buku tersebut. Sesi NeoNLP beberapa hari yang lalu itu, ternyata tidak cukup menampung berbagai hal yang menurut saya menarik untuk saya sharing. Jadi, saya sharing di sini untuk makin melengkapi. Semoga bermanfaat.

NLP STATES FOR WRITING

States NLP ini menindaklanjuti usulan stances yang ditawarkan Stuart Tan, seorang Trainer NLP. State-state ini banyak saya gunakan dalam proses menulis "Manajemen Pikiran Dan Perasaan".

1. Outcome State

Saya membayangkan, "Manajemen Pikiran Dan Perasaan" menjelma menjadi sebentuk ilmu baru.

Saya membayangkan, buku "Manajemen Pikiran Dan Perasaan" menjadi sentral dari serentetan buku yang terkait. Dalam benak saya sekarang, sudah ada empat atau lima judul "Manajemen" yang siap meluap keluar menjadi buku-buku juga. Buku kedua yang mengikuti buku pertama ini, "Manajemen Pertanyaan" kini sedang dalam tahap pematangan setelah draftnya saya selesaikan beberapa hari yang lalu.

Saya membayangkan training-training terkait yang menindaklanjuti berbagai buku itu, yang semoga menjadi khasanah penambah kekayaan ilmu pemberdayaan diri dan manusia.

Saya membayangkan berseliwerannya para praktisi, para master practitioner, dan para trainer "Manajemen Pikiran Dan Perasaan" di seantero wilayah Indonesia dan bahkan di seluruh dunia. Saya tidak tahu persis tentang kapan saya dapat merealisasikan semua itu.

Saya membayangkan, bagaimana buku saya menjadi manual pemberdayaan diri di divisi HRD berbagai perusahaan dan organisasi.

Saya membayangkan, bagaimana buku saya menjadi rujukan di berbagai perguruan tinggi dan sekolah-sekolah.

Saya membayangkan, bagaimana buku saya menjadi pegangan sehari-hari setiap orang yang berkeinginan terus meningkatkan keberdayaan dirinya.

Outcome di atas, dari sudut pandang NLP masih terbilang sebagai outcome yang lemah (belum menjadi wellformed outcome khususnya dari segi timing, namun dari segi yang lain, sensory acuity dan imajinasi misalnya, insya Allah saya selalu hidup dalam state outcome ini).

Dengan hidup di dalam outcome state inilah saya:

- Menetapkan judul "Manajemen Pikiran Dan Perasaan"

Dengan harapan diberi kesempatan untuk merealisasikannya menjadi skill dan ilmu pemberdayaan diri yang bermanfaat bagi banyak orang dan bagi diri saya sendiri. Bagi saya pribadi, pengembangan diri dan pemberdayaan manusia, mestilah sedekat mungkin dengan fenomena manusia itu sendiri. Dan di mata saya, fenomena terdekat itu adalah pikiran dan perasaan.

- Mendisain cover buku dengan warna putih dan dengan gambar tangan wanita

Gambar yang saya pilih untuk dikontraskan dengan keseluruhan cover yang berwarna putih itu, adalah gambar sebuah tangan. Sebuah tangan yang menggenggam buku itu sebagaimana seseorang sedang memegangnya. Saya membayangkan efeknya ketika buku itu dipajang sendirian, dan saya membayangkan ketika buku itu dipajang berjejer.

Saya memilih gambar tangan seorang wanita. Kata "Manajemen" dan "Pikiran" cenderung bernuansa maskulin. Itu sebabnya saya memilih tangan wanita yang feminin, untuk mencerminkan "Perasaan".

Secara maknawi, saya pribadi menterjemahkan dan mengidentikkan "manajemen" dengan "kekuatan tangan yang mengatur". Menurut saya, itulah cerminan dan representasi yang paling sederhana dan paling mengena tentang "manajemen". Sebuah tangan adalah cerminan dari kekuatan untuk mengatur.

- Memilih judul bab

Saya menetapkan judul bab dengan model persuasi langsung dalam bentuk pernyataan-pernyataan yang menguatkan. Dalam hal ini, apa yang menurut saya menguatkan, adalah "menjawab" apa-apa yang sering ditanyakan oleh higher self dari rata-rata orang. Dengan kata lain, judul bab yang saya tetapkan adalah didasarkan pada bentuk-bentuk afirmasi yang sebenarnya disadari atau tidak disadari telah diyakini oleh rata-rata orang.

Secara redaksional, saya memanfaatkan pola-pola favorit saya, yaitu "yes factor" dan "wow effect", yaitu ungkapan-ungkapan yang secara langsung akan di-"ya"-kan oleh banyak orang, atau ungkapan-ungkapan yang secara langsung akan mengejutkan orang yang membacanya. Minimal, saya mencoba untuk mengaktivasi fenomena pembelajaran yang paling mendasar, yaitu munculnya pertanyaan "masak sih?" di kepala orang yang membacanya.

Dalam buku-buku selanjutnya, seluruh bab dalam buku "Manajemen Pikiran Dan Perasaan" saya geser persepsinya menjadi bentuk-bentuk "kecerdasan" sebagai konsekuensi intisari dari setiap skill dan ilmu. Saya bahkan membayangkan, bahwa suatu saat segala bentuk "kecerdasan" itu menjadi elemen-elemen yang terkuantifikasi alias dapat diukur dan dapat dihitung alias dimatematiskan. Ini juga telah saya seeding di sini: http://qacomm.com/docs/Manajemen-Pikiran-Dan-Perasaan.pdf

- Menuliskannya dengan writer's state

Di awal tahun 2010, saya mempublikasi sebuah resolusi bahwa saya akan menulis setidaknya satu buku pengembangan diri. Sampai dengan bulan September 2010 kalau tidak salah, saya belum berhasil menulis satu halamanpun dari buku ini. Saya berpikir, pasti ada yang salah.

Setelah saya telusuri, kesalahan saya adalah pada positioning diri. Sampai bulan itu, saya ternyata masih memposisikan diri sebagai trainer, pembicara, dan motivator. Dengan positioning seperti itu, saya menomorduakan proses menulis. Artinya, saya menomorduakan posisi saya sebagai seorang penulis.

Saya kemudian mengganti positioning saya untuk sementara. Saya menetapkan waktu sebulan untuk memasuki posisi sebagai seorang penulis. Permintaan-permintaan bicara dan training di bulan itu saya tolak, dan bahkan training publik yang rutin saya gelar pun saya hentikan sementara. Dengan positioning ini, saya Alhamdulillah berhasil menyelesaikan penulisan buku ini dalam waktu kurang lebih satu bulan.

- Memposisikan diri sebagai marketer

Saya menetapkan diri bahwa saya adalah bagian dari tim penjual buku ini. Tanpa bermaksud menggantikan posisi toko buku, saya menyadari bahwa ketika buku ini terbit, tugas saya selaku penulis bukan justru selesai, tapi malah baru mulai. Sejauh yang saya ingat, dari 3000 eksemplar cetakan pertama, saya pribadi Alhamdulillah telah menjual hampir 500 eksemplar. Pilihan ini sedikit berkontradiksi dengan konsep "best seller" yang benchmarknya adalah omzet toko buku. Namun demikian, outcome saya bukanlah semata-mata best seller.

- Menyiapkan situs http://pikiranperasaan.org

Sebagai wadah nasional bagi para praktisi, para master practitioner, para trainer, dan para provider training-training "Manajemen Pikiran Dan Perasaan" di masa depan. http://pikiranperasaan.org

- Menyiapkan situs http://thoughts-feelings-management.org

Sebagai wadah global bagi para praktisi, para master practitioner, para trainer, dan para provider training-training "Manajemen Pikiran Dan Perasaan" di masa depan.  http://thoughts-feelings-management.org

- Menggelar training pioneer

Info tentang ini telah saya note-kan di sini: http://blog.qacomm.com/2011/06/pendaftaran-certified-practitioner.html

2. Confrontational State

Jika kita cermati, berbagai persoalan yang terjadi di dalam kehidupan kita, cenderung dapat kita selesaikan ketika berbagai persoalan itu mencapai titik emosional tertentu. Di titik tertentu itu, berbagai persoalan akan mulai kita persepsi sebagai persoalan yang sifatnya pribadi. Apapun itu, ketika ia mulai memasuki wilayah pribadi, maka sesuatu itu akan mulai "ada rasanya".

Jika kita menganggapnya terlalu pribadi maka persoalan itu akan menjadi blunder akibat sikap dan perilaku kita yang terlalu emosional, dan jika kita menganggapnya kurang pribadi maka kita akan menjadi kurang emosional dan terlalu dingin dalam menanggapi berbagai hal. Jika seimbang, maka kita akan mendapatkan kekuatan emosional yang sangat besar.

Kondisi emosional yang intensitasnya "pas" ini, di sisi "kiri" akan semakin menajamkan kita dari segi konten penulisan, dan di sisi kanan akan semakin menghaluskan kita dari segi struktur penulisan.

Dalam banyak hal, state ini akan sangat membantu ketika kita mulai terjebak di dalam fenomena "writer's block".

Berbulan-bulan sebelum buku saya terbit, saya melakukan berbagai bentuk diskusi dan sharing dengan sebanyak mungkin orang. Saya menyiapkan diri untuk dihadapkan pada segala situasi yang mungkin emosional. Sampai pada tingkat tertentu, saya bahkan secara eksplisit meminta mereka untuk "membantai" saya. Thanks buat para sahabat yang sempat terlibat dengan proses ini bersama saya.

3. Curiosity State

Dalam banyak hal, state ini cenderung memberdayakan. Inti dari curiosity state adalah mengajukan pertanyaan-pertanyaan di seputar topik dan pokok-pokok pikiran dari bahan tulisan. Dalam hal ini, kita mempacing dan melakukan mind reading terkait dengan berbagai proses yang berlangsung di kepala para pembaca ketika membaca buku kita itu nantinya.

State ini sangat membantu kita dalam menciptakan aliran tulisan yang makin halus dan dalam mengkreasi berbagai "kejutan yang direncanakan".

4. Three Things Factual State

Kecenderungan dari rata-rata kita, adalah menuntaskan sesuatu yang menurut kita sudah cukup jelas. Dengan kata lain, ketika di hadapan kita sudah tersedia tiga hal penting yang faktual dan mendasar maka secara alamiah kita akan terdorong untuk melengkapi dan menyelesaikannya. Menyediakan tiga hal yang demikian, adalah ibarat memberikan clue dalam bentuk tiga potong puzzle untuk melengkapi seluruh koleksi puzzle. Ini berlaku bagi penulis dan sekaligus bagi pembaca.

5. Frivolity State

State ini adalah penguatan bagi sisi "kiri" dan sekaligus "kanan" kita. Kita mengkreasi hubungan-hubungan yang kurang serius tapi cukup menarik dan inspiratif. Misalnya hubungan antara pecel lele dan kualitas hubungan dengan pasangan. Hubungan antara pilihan minuman dengan tingkat kebahagiaan. Atau, hubungan antara jenis sepatu yang dipakai dan proyeksi keberhasilan. Intiya, frivolity adalah ketidakseriusan yang mampu menggelitik pikiran. Alias, keseriusan yang sudah berlevel meta. (Misalnya ungkapan-ungkapan a la Zen).

6. Polarity State

Ketika kita berharap bahwa tulisan kita menjadi faktor pengaya dari yang sudah ada, atau bahkan ketika kita berharap bahwa tulisan kita adalah sesuatu yang baru dan menyegarkan, maka kita perlu melengkapinya dengan segala sudut pandang yang secara argumentatif berpihak kepada pengayaan dan penyegaran itu. Dengan kata lain, kita perlu menyiapkan diri untuk segala bentuk kebutuhan argumentasi, yang akan muncul belakangan mengikuti lahirnya tulisan. Kuncinya, ada pada riset dan pemahaman yang semakin dalam. Bagi saya, sebuah buku adalah "jendela baru" di sudut tembok rumah dunia. Ini akan sangat sering dipandang dengan "jendela lama".

TRANCE WRITING

Note: Jangan gunakan channeling. Bisa-bisa, bukan Anda yang menulis.

Saya menggunakan teknik ini pada proses-proses yang sangat menuntut kinerja sisi "kanan" dari otak saya. Saya menggunakannya untuk menulis bagian-bagian story telling yang "ngarang banget" seperti cerita tentang Chu Wan Fei dalam Bab 16 buku saya. Cerita itu adalah cerita "penyempurnaan dendam" ala cerita silat Kho Ping Ho atau gaya-gaya film silat Hongkong.

Yang saya tahu, saya sudah sangat sering membaca komik silat dan sering pula menonton film silat. Film-film yang pertama kali saya tonton di antaranya film-film silat yang dibintangi oleh Chen Kuan Tay, Yasuaki Kurata, atau Ti Lung (he...he...he.. nyeplos aja nih, masih ingat padahal ketika itu saya masih TK. Saya sering diajak salah satu Om saya ke bioskop waktu itu.)

Dengan semua khasanah itu dalam memori saya, bagaimana saya dapat mengalirkannya keluar menjadi tulisan? Dengan trance!

Saya melakukannya dengan skrip yang sederhana. Berikut ini adalah skrip yang menurut saya jauh lebih baik. Dari Susan Gold.

"... dan kini setelah Anda sudah menyatu dengan sang penulis dalam diri Anda, Anda boleh membayangkan tentang pikiran bawah sadar Anda. Pikiran bawah sadar Anda adalah sebuah gudang raksasa dari segala pengalaman, ingatan, dan pengetahuan - atas segala hal yang telah pernah Anda dengar, lihat, cium, sentuh, dan rasakan. Bayangkan betapa lengkapnya semua itu sebagai sumber-sumber yang boleh Anda manfaatkan. Semua itu terakumulasi dan terus terakumulasi di gudang raksasa pikiran bawah sadar Anda...

... dan sekarang, entah bagaimana... potongan-potongan memori itu mulai mengambang dan muncul ke permukaan... memunculkan segala detil yang khas dan menarik perhatian, yang mengingatkan Anda betapa banyaknya detil yang selama ini nyaris terlupakan...

... dan jika Anda mengingat-ingat impian-impian Anda... Anda tahu persis bagaimana kreatifnya pikiran bawah sadar Anda melakukan pengolahan ulang atas berbagai pengalaman menjadi gambaran-gambaran baru yang kreatif, fantastis, dan orisinil....

... sekarang.. Anda dapat mengakses gambaran-gambaran yang boleh Anda manfaatkan ke dalam tulisan Anda...

... Anda boleh mengosongkan pikiran Anda untuk diisi sepenuhnya oleh gambaran-gambaran itu... atau Anda boleh membayangkan sebuah kanvas lukisan yang masih kosong yang boleh Anda lukis... atau Anda dapat membayangkan selembar kertas yang kosong...

... jika Anda telah siap, Anda membolehkan gambaran-gambaran itu mengalir. Semua gambaran itu bisa datang dari segala arah panca indera Anda dengan segala bentuknya. Gambaran itu juga bisa datang dalam bentuk aliran kata-kata... bolehkanlah semuanya mengalir sebagaimana adanya... izinkan rasa ingin tahu diri Anda semakin menguat dan semakin menguat... biarkan semuanya mengalir.. satu gambaran diikuti gambaran berikutnya... bolehkan semua itu mengisi pikiran Anda.

(120 detik)

Sekarang... biarkan semua gambaran itu memudar. Nanti Anda akan dengan mudah dapat memanggilnya kembali...

... Berikan waktu kepada pikiran Anda untuk merambah ke seluruh tubuh Anda dan menciptakan memori tentang apa yang Anda rasakan sekarang... rasakanlah bagaimana panca indera Anda terstimulasi dan bereaksi... rasakanlah kreatifitas Anda semakin meningkat... bawalah sensasi ini ketika Anda keluar dari perjalanan bawah sadar Anda... dengan rileks dan kreatif...

... pada hitungan kelima... Anda kembali ke tingkat kesadaran penuh dan membuka mata Anda. Dengan terbukanya mata Anda, Anda tetap membawa sensasi ini dan mulai memunculkan kembali segala gambaran yang baru saja terlintas... ketika Anda siap, Anda boleh mulai menulis non stop untuk beberapa menit menterjemahkan semuanya ke dalam kata-kata dan tulisan. Jika Anda merasa perlu mengambil jeda di dalam aliran ini, Anda boleh memilih suatu huruf atau kata sebagai huruf atau kata yang Anda tulis paling akhir.. dan membolehkannya menjadi awalan untuk kalimat Anda berikutnya...

...satu... dua.. tiga... empat.. lima...

1. Kembali ke "sini" dan membuka mata.
2. Menyadari dan merasakan tangan Anda dan ingin menulis.
3. Rileks dan tetap merasakan kreatifitas yang tinggi, penuh energi, dan fokus.
4. Mulailah menulis.

Dalam kondisi yang seperti itulah, saya memutuskan nama-nama yang menjadi pemeran dalam cerita saya, "Chu Wan Fei", "Paman Wei", "Bibi Wu", "Ur Guan Pat". Saya membayangkan panorama gurun "Than", mata air "Zum" dan seterusnya. Saya membayangkan kejadian-kejadian dan intrik-intrik. Saya membayangkan setting sejarah... dan seterusnya... Saya membayangkan keadaan dan situasi, iklim dan cuaca, suara angin dan riuhnya perang... dan seterusya.... Saya membayangkan fisik dan emosional mereka, saya mendengarkan kata-kata mereka... dan seterusnya...

Note: Beberapa pakar menganjurkan untuk menggunakan alat tulis tradisional seperti pulpen. Siapa tahu, Anda mungkin perlu menggambar - sesuatu yang sulit dilakukan dengan keyboard.

Semoga bermanfaat.

Ikhwan Sopa
Master Coach MPdP
Master Trainer E.D.A.N.
Founder, Penulis
"Manajemen Pikiran Dan Perasaan"
"Manajemen Pertanyaan"

The 35 Mental Intelligences


 The 35 Mental Intelligences

01. Kecerdasan Motif  - Motive Intelligence
02. Kecerdasan Peran - Role Intelligence
03. Kecerdasan Pola Pikir - Mindset Intelligence
04. Kecerdasan Fokus - Focus Intelligence
05. Kecerdasan Orientasi - Orientation Intelligence
06. Kecerdasan Kebahagiaan - Happiness Intelligence
07. Kecerdasan Pilihan - Choice Intelligence
08. Kecerdasan Integritas - Integrity Intelligence
09. Kecerdasan Kendali - Control Intelligence
10. Kecerdasan Fleksibilitas - Flexibility Intelligence
11. Kecerdasan Adversitas - Adversity Intelligence
12. Kecerdasan Idealisme - Idealism Intelligence
13. Kecerdasan Perubahan - Change Intelligence
14. Kecerdasan Zona Nyaman - Comfort Zone Intelligence
15. Kecerdasan Risiko - Risk Intelligence
16. Kecerdasan Kesempurnaan - Utopia Intelligence
17. Kecerdasan Proyeksi - Projection Intelligence
18. Kecerdasan Tindakan - Action Intelligence
19. Kecerdasan Kemauan - Willingness Intelligence
20. Kecerdasan Sukses - Success Intelligence
21. Kecerdasan Penerimaan Diri - Self Acceptance Intelligence
22. Kecerdasan Proses - Process Intelligence
23. Kecerdasan Keunikan - Uniqueness Intelligence
24. Kecerdasan Militansi - Militancy Intelligence
25. Kecerdasan Posisi - Position Intelligence
26. Kecerdasan Semangat - Passion Intelligence
27. Kecerdasan Stamina - Stamina Intelligence
28. Kecerdasan Belajar - Learning Intelligence
29. Kecerdasan Kesalahan - Mistake Intelligence
30. Kecerdasan Kegagalan - Failure Intelligence
31. Kecerdasan Waktu - Time Intelligence
32. Kecerdasan Jati Diri - Credibility Intelligence
33. Kecerdasan Nilai Dan Keterlibatan - Value and Involvement Intelligence
34. Kecerdasan Kepercayaan - Trust Intelligence
35. Kecerdasan Kepemimpinan - Leadership Intelligence

Taken from the book "Manajemen Pikiran Dan Perasaan"