Teaser Buku "Manajemen Pikiran Dan Perasaan"

Manajemen Pikiran Dan Perasaan, Ikhwan Sopa, Coaching, Buku, Pengembangan Diri, Motivasi, Komunikasi, Leadership, Kepemimpinan, Training, Pelatihan

Dear Prens, cukup banyak yang bertanya kepada saya tentang "apa sebenarnya" isi buku "Manajemen Pikiran Dan Perasaan".

Berikut ini adalah sekedar penggoda dan pembangkit selera baca Anda, terkait apa-apa yang disuguhkan dalam buku "Manajemen Pikiran Dan Perasaan".

1. Energi Kehidupan Primer

Setiap manusia, setiap kelompok, setiap suku, dan setiap bangsa, hidup di dalam pergerakan dan terlibat di dalam upaya untuk menggapai keinginan, tujuan, dan cita-cita.

Semua pergerakan dan upaya itu, tidak pernah lepas dari sikap, keputusan, dan tindakan yang diyakini sebagai tepat, akurat, efektif, efisien, pantas, baik, atau benar, alias diyakini akan mengantarkan diri mereka kepada keinginan, tujuan, dan cita-cita.

Alias, semua pergerakan dan upaya itu adalah tentang eksekusi dan implementasi dari berbagai keyakinan. Setiap menit dan setiap detik dari segala sikap, keputusan, dan tindakan di dalam kehidupan, adalah cerminan dari keyakinan-keyakinan. Begitu pula, segala bentuk pemikiran dan emosi, atau segala bentuk pikiran dan perasaan, baik yang berlangsung secara internal ataupun terekspresikan secara eksternal dengan berbagai bentuknya (perbuatan, kata-kata, dan bahasa), adalah juga cerminan dari keyakinan-keyakinan.

"Hidup, adalah tentang keyakinan-keyakinan."

Di tingkatan yang tertinggi, segala bentuk keyakinan akan terpulang pada yang Maha Tinggi, yaitu Tuhan yang Maha Esa dan Maha Kuasa. Kepada-Nyalah segala sesuatu bergantung. Bagi mereka yang tidak mempercayai Tuhan sekalipun, mereka juga meyakini ketergantungan kehidupan pada hal-hal atau segala sesuatu yang mereka anggap sebagai causa prima, atau kekuatan tertinggi, atau kesadaran tertinggi, atau bahkan alam semesta. Apapun itu, adalah segala sesuatu yang menentukan bagaimana kehidupan ini berjalan. Inilah yang sering disebut sebagai keyakinan vertikal, yaitu keyakinan akan adanya kekuatan terbesar yang mengatur bagaimana alam semesta bekerja (termasuk manusia di dalamnya).

Dalam bahasa yang lebih dikenal sehari-hari, kita menyebut keyakinan vertikal atau keyakinan dasar ini sebagai:

- Akidah,
- Theology,
- Spiritualisme,

...dan sebagainya.

2. Energi Kehidupan Sekunder

Pada tataran yang lebih horisontal, manusia diposisikan sebagai "penguasa", "khalifah", atau "perwakilan-Nya" di dunia. Dalam konteks horisontal ini, pada dasarnya setiap manusia, setiap kelompok, setiap suku, dan setiap bangsa, hidup saling berinteraksi dengan alam semesta dan dengan sesamanya. Segala bentuk interaksi ini, juga berlangsung di bawah kendali berbagai keyakinan yang menjadi miniatur atau perwakilan atau implementasi lanjutan dari "akidah", theology, atau "spiritualitas".

Dengan kata lain, kehidupan horisontal setiap manusia, setiap kelompok, setiap suku, dan setiap bangsa, adalah juga cerminan dari berbagai keyakinan primernya. Alias, kehidupan horisontal setiap manusia, setiap kelompok, setiap suku, dan setiap bangsa, adalah cerminan dari "akidah", "theology", dan "spiritualisme"-nya masing-masing.

Dalam konteks kehidupan yang horisontal ini pula, kita menemukan adanya sistem nilai dan sistem keyakinan yang bersifat universal dan dijalani bersama-sama. Kita sering menyebut hal ini sebagai "shared values" atau "belief system" yang diyakini berlaku demi kebaikan hubungan horisontal sebagai cerminan kebaikan hubungan vertikal.

Dengan mudah, kita dapat menemukan cerminan dari keyakinan-keyakinan ini dalam setiap vision dan mission statement setiap organisasi (negara, perusahaan, lembaga) dan pribadi. Terkait dengan pernyataan visi dan misi ini (organisasi dan pribadi), segala bentuk shared values dan belief system, diidealkan tertanam dalam keseharian kehidupan, melatarbelakangi setiap sikap, keputusan, dan tindakan (organisasi dan pribadi), dan menjadi the way of life, cara hidup, corporate culture, organisational culture, dan jalan hidup pribadi. Dalam bahasa ekonomi, manajemen, dan bisnis, hal ini sering diistilahkan dengan "credo".

3. "Manajemen Pikiran Dan Perasaan" Sebagai Belief System

35 poin keyakinan di dalam buku "Manajemen Pikiran Dan Perasaan" diposisikan sebagai "belief system" yang dianggap layak dan pantas untuk dijadikan keyakinan-keyakinan dasar yang melatarbelakangi segala sikap, keputusan, dan tindakan.

35 poin keyakinan ini, diekstraksi dengan memilih keyakinan-keyakinan dasar yang dianggap berlaku secara universal, mewakili keyakinan-keyakinan primer yang dikenal dalam kehidupan manusia. Semua itu, diharapkan dapat membangun belief system yang berdasarkan catatan sejarah kehidupan manusia dianggap telah memberhasilkan peradaban dan kemanusiaan.

Argumentasi di atas, sangat didukung oleh manusia-manusia yang telah terbukti berhasil dalam hidupnya, yang diungkapkan mereka dalam autobiografinya, dalam buku-bukunya, dalam berbagai literatur bisnis, pengembangan diri, dan sejarah mereka, dalam rekaman-rekaman wawancara mereka, dalam berbagai hasil riset mereka, dalam ajaran-ajaran mereka tentang kehidupan, kesuksesan, dan keberhasilan, dan dalam berbagai bentuk model yang mereka ajukan kepada kita hingga hari ini. Semua itu, mencerminkan keyakinan-keyakinan yang identik dengan 35 keyakinan yang disebutkan di dalam buku "Manajemen Pikiran Dan Perasaan".

35 keyakinan dalam buku "Manajemen Pikiran Dan Perasaan", diformulasikansebagai keyakinan-keyakinan dasar yang mudah dicerna dan mudah dipahami, yang jika dikembalikan ke dalam kelompok besarnya, akan membentuk tiga kelompok besar keyakinan dasar, yaitu:

- Keyakinan tentang diri sendiri,
- Keyakinan tentang keberhasilan, tujuan, dan cita-cita,
- Keyakinan tentang segala proses dalam perjalanan menuju tujuan dan cita-cita.

35 keyakinan dalam buku "Manajemen Pikiran Dan Perasaan", sangat erat hubungannya dengan pikiran dan perasaan.

Jika hidup ini adalah tentang keyakinan-keyakinan, maka segala hal yang terkait dengan manusia, kehidupannya, dunianya, dan tujuan serta cita-citanya adalah tentang keyakinan-keyakinan.

Jika apapun itu tentang manusia, kehidupannya, dunianya, dan tujuan serta cita-citanya adalah tentang keyakinan-keyakinan, maka apapun yang dekat dan jauh dari diri manusia adalah tentang keyakinan-keyakinan.

Dengan logika yang sederhana, demi segala keberhasilan dan kesuksesan, apa yang sangat penting bagi seseorang atau sekelompok orang dalam organisasi dlam meniti perjalanan menuju keinginan, tujuan, dan cita-cita, adalah terorganisir dan terampilnya mereka dalam pengelolaan berbagai hal yang terdekat dengan kehidupan mereka sehari-hari. Segala sesuatu harus dimulai dari dalam dan dari diri sendiri. Apa yang terdekat dengan seseorang atau sekelompok orang dalam keseharian kehidupan mereka, terekspresikan dalam segala bentuk pikiran dan perasaan mereka.

Maka pikiran dan perasaan, adalah cerminan dari segala bentuk keyakinan. Apapun pikiran dan perasaan seseorang atau sekelompok orang dalam organisasi, adalah cerminan dari berbagai keyakinan yang mereka yakini, baik disadari atau tidak disadari.

Dengan demikian, jika kita memposisikan pikiran dan perasaan - dua hal yang paling mudah diidentifikasi - sebagai bentuk-bentuk sinyal dan umpan balik yang dibutuhkan untuk mengendalikan perjalanan menuju keinginan, tujuan, dan cita-cita, maka menanamkan shared values dan belief system adalah hal yang terpenting dan paling utama.

35 poin keyakinan dalam buku "Manajemen Pikiran Dan Perasaan", adalah salah satu alternatif yang dianggap indah, baik, dan benar dari segala kacamata keyakinan.

Semoga bermanfaat, dan selamat membaca.

Ikhwan Sopa
Master Trainer E.D.A.N.
Founder, Penulis, "Manajemen Pikiran Dan Perasaan"