Daftar Isi Buku "Manajemen Pertanyaan"


Kata Pengantar

BAGIAN I - Pertanyaan Tentang Pertanyaan

BAB 1 - Mengapa Saya Selalu Bertanya?
BAB 2 - Mengapa Saya Tidak Boleh Berhenti Bertanya?
BAB 3 - Bagaimana Pertanyaan Menentukan Kualitas Hidup Saya?
BAB 4 - Pertanyaan Yang Bagaimana Yang Perlu Saya Jawab?
BAB 5 - Bagaimana Sikap Terbaik Saya Tentang Pertanyaan?

BAGIAN II - Pertanyaan Yang Meningkatkan Kualitas Kehidupan

BAB 1 - Kecerdasan Motif
BAB 2 - Kecerdasan Peran
BAB 3 - Kecerdasan Pola Pikir
BAB 4 - Kecerdasan Fokus
BAB 5 - Kecerdasan Orientasi
BAB 6 - Kecerdasan Kebahagiaan
BAB 7 - Kecerdasan Pilihan
BAB 8 - Kecerdasan Integritas
BAB 9 - Kecerdasan Kendali
BAB 10 - Kecerdasan Fleksibilitas
BAB 11 - Kecerdasan Adversitas
BAB 12 - Kecerdasan Idealisme
BAB 13 - Kecerdasan Perubahan
BAB 14 - Kecerdasan Zona Nyaman
BAB 15 - Kecerdasan Risiko
BAB 16 - Kecerdasan Kesempurnaan
BAB 17 - Kecerdasan Proyeksi
BAB 18 - Kecerdasan Tindakan
BAB 19 - Kecerdasan Kemauan
BAB 20 - Kecerdasan Sukses
BAB 21 - Kecerdasan Penerimaan Diri
BAB 22 - Kecerdasan Proses
BAB 23 - Kecerdasan Keunikan
BAB 24 - Kecerdasan Militansi
BAB 25 - Kecerdasan Posisi
BAB 26 - Kecerdasan Semangat
BAB 27 - Kecerdasan Stamina
BAB 28 - Kecerdasan Belajar
BAB 29 - Kecerdasan Kesalahan
BAB 30 - Kecerdasan Kegagalan
BAB 31 - Kecerdasan Waktu
BAB 32 - Kecerdasan Jati Diri
BAB 33 - Kecerdasan Nilai Dan Keterlibatan
BAB 34 - Kecerdasan Kepercayaan
BAB 35 - Kecerdasan Kepemimpinan

BAGIAN III - Pertanyaan Terakhir

Daftar Pustaka

Mohon doa restu sahabat semua! Semoga diberi waktu dan tiada daya serta upaya melainkan dengan kekuatan-Nya semata.

Ikhwan Sopa
Master Trainer E.D.A.N.
Founder, Penulis "Manajemen Pikiran Dan Perasaan"

Sound Familiar?


Sekedar inspirasi.

Ini mungkin sering terjadi. Suami pulang ke rumah. Istri melaporkan sesuatu. Suami membahasnya. Istri malah kesal. He...he...he... Istri hanya berbicara dengan "perasaan". Suami meresponnya dengan "pikiran". Padahal, istri cuma minta dielus. Sound familiar?

Ini juga sering terjadi. Atasan memberi nasehat dan perintah kepada bawahan. Ia mengkomunikasikan "pikiran". Lakukan ini lakukan itu. Bawahan merespon dengan "perasaan". Duh berat banget tugasnya. Kenape harus gue ya? Sound familiar?

Ketika kita mendengar seseorang berbicara, ada baiknya kita pilah dulu. Apakah ia sedang mengkomunikasikan "pikiran" atau "perasaan"? Bagian yang mana "pikiran" dan bagian mana yang "perasaan"? Tanpa ini, komunikasi sering berujung ketidaksepahaman yang merugikan.

Semoga menginspirasi,

Ikhwan Sopa
Master Trainer E.D.A.N.
Founder, Penulis
"Manajemen Pikiran Dan Perasaan"
"Manajemen Pertanyaan"

Iseng Ah

Mari saya isengin Anda.

"Syaraf" itu perasaan loh.
"Bahasa" itu pikiran loh.
"Pemrograman" itu manajemen loh.
Tetap semangaaaat!

Ikhwan Sopa

Berpikir Sebelum Bertindak



"Acting without thinking is shooting without aiming."
-Chuck Gallozzi-

"Menyesal itu datangnya belakangan."
-Ibunda saya Chairunnisa'-

"Puncak dari pengetahuan dan keahlian kita adalah ketika kita melakukan sesuatu dengan tidak tahu bahwa kita tahu. Untuk begitu, kita perlu latihan dulu."
-Ikhwan Sopa-

"Kita perlu tegas sebelum bergegas."
-Ikhwan Sopa

Dear all, siang tadi saya sempat mensharing tulisan ini:

http://blog.qacomm.com/2011/06/anda-pasti-pernah-mengalami-ini-lesprit.html

Pernahkah Anda pergi ke mall dengan tujuan membeli kaos dan pulang membawa panci?
Pernahkah Anda menyesali sesuatu yang Anda katakan beberapa waktu setelah ia terlontar?
Pernahkah Anda membeli alat olah raga dan kemudian malah tak pernah Anda gunakan?

Contoh-contoh di atas dan kejadian yang sejenis dapat terjadi ketika kita memutuskan sesuatu dalam rangka menenteramkan sebentuk emosi yang tiba-tiba muncul akibat terpicu oleh stimulus dari luar diri.

Dari sesuatu yang kita lihat, dengar, baca, sentuh, dan sebagainya yang memicu stimulus lanjutan di dalam diri kita, yang menciptakan respon dalam bentuk-bentuk emosi yang kurang nyaman dan mendorong kita untuk melakukan sebuah tindakan.

Dan tindakan yang akhirnya kita lakukan itu, sangat bisa jadi bukanlah tindakan yang terbaik untuk jangka panjang melainkan hanya terbaik pada saat itu. Atau lebih parah lagi, tindakan itu malah bukan tindakan terbaik bagi kita, atau yang paling parah malah menjadi tindakan terburuk bagi diri kita sendiri.

Dari uraian di atas, kita memahami bahwa titik kritis dari kejadian semacam ini adalah munculnya emosi tidak nyaman (positif atau negatif) yang akhirnya mengendalikan pikiran dan tindakan.

"Pikiran menciptakan perasaan, perasaan mengarahkan pikiran."

Bagaimana struktur dari kejadian semacam ini?

Pertama, sebuah kejadian memasuki kehidupan kita.

Kedua, kejadian itu memicu lintasan pikiran dalam bentuk kalimat dan kata-kata yang berseliweran di kepala kita.

Ketiga, pikiran itu memicu emosi, dan kita merasakan bahwa emosi itu tidak nyaman dan menuntut pemuasan. Uniknya, emosi itu tidak semata-mata muncul karena kejadian yang terjadi saat itu, melainkan juga muncul karena disadari atau tidak disadari telah memicu ingatan kita tentang kejadian di masa lalu atau di masa kecil yang strukturnya kurang lebih sama.

Keempat, kita memutuskan pilihan.

Kelima, kita melakukan tindakan.

Tindakan itulah yang kita sesali kemudian.

Titik kritis dari kejadian seperti contoh di atas justru ada pada pilihan tentang tindakan dan bukan pada tindakan itu sendiri.

Tindakan adalah sesuatu yang menghubungkan diri kita dengan dunia luar. Sebagai manusia yang normal, kita pasti menginginkan umpan balik dari dunia luar yang menenteramkan dan membahagiakan diri kita. Ketika umpan balik dari dunia luar itu bekerja sebaliknya, kita merasa tidak tenteram dan mungkin tidak berbahagia.

Saat bertindak, kekuatan kontrol kita sebenarnya sedang melemah sebab energi kita cenderung sedang kita kerahkan sepenuhnya untuk bertindak.

Pilihan adalah sesuatu yang menghubungkan diri kita dengan diri kita sendiri. Pilihan adalah sepenuhnya fenomena internal.

Saat dihadapkan pada pilihan, kita sebenarnya sedang berada di puncak kekuatan kontrol kita jika secara sadar kita mengerahkan seluruh energi kita untuk memilih.

Secara umum, di titik itu kita ditawari dengan dua pilihan, yaitu pilihan yang memuaskan diri kita dalam jangka pendek atau saat itu juga, atau yang menguntungkan kita di masa depan dan dalam jangka panjang.

Bagaimana kita melatih respon yang lebih baik saat berhadapan dengan pilihan? Dengan latihan W.A.I.T atau What Am I Thinking.

Kita butuh memberi jeda sejenak kepada diri kita, saat kita menyadari munculnya emosi yang kurang nyaman. Emosi adalah sinyal di pojok layar yang memberi tanda tentang masuknya "email informasi" ke dalam diri kita. Kita perlu membaca "email" itu terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk bertindak.

Emosi kita bukanlah musuh kita, namun demikian kita perlu mendidiknya agar menjadi bagian dari pasukan diri yang berdaya dan memberdayakan.

Di titik "ada sms masuk" itu, inilah yang perlu kita pikirkan.

1. Nyaris pasti, "email" atau "sms" yang masuk itu adalah perintah dari diri kita yang berbunyi, "bacalah!".

2. Lalu ketika "email" atau "sms" itu kita baca, isinya nyaris pasti adalah perintah lanjutan dari diri kita yang berbunyi, "bertanyalah!".

3. Tentu saja, kita perlu menindaklanjuti perintah itu dengan mengajukan pertanyaan.

Kita pun bertanya, "Apa yang saya putuskan untuk menindaklanjuti perasaan ini?"

"Antara stimulus dan respon ada jeda. Di dalam jeda itu tumbuhlah kedewasaan, kesadaran, dan kebjaksanaan."

Ciri dari orang yang makin dewasa, makin sadar, dan makin bijaksana, adalah kesediaannya untuk bertahan lebih lama di titik jeda ini. Bertahan lebih lama dalam rangka melakukan berbagai renungan dan refleksi. Dan di antara yang terpenting dilakukan di titik jeda ini, adalah terus bertanya semakin dalam. Pertanyaan terdalam adalah pertanyaan yang paling mendasar. Apa pertanyaan itu?

Pertanyaan yang paling tepat yang dapat kita ajukan, adalah pertanyaan yang mempertanyakan akurasi dari tindakan yang akan kita lakukan setelah memilih.

Jika kita terjebak pada "bertindak tanpa berpikir" sebenarnya kita bukan tidak berpikir sama sekali, karena hal itu sama sekali tidak mungkin terjadi. Bertindak tanpa berpikir adalah bertindak dengan hanya berpikir sedikit, yaitu hanya menjawap pertanyaan tentang apa yang perlu diputuskan dan ditindaklanjuti, dan kemudian langsung mengambil tindakan. Kita sering mengumpamakan ini dengan "sumbu pendek".

Bertindak dengan berpikir artinya berpikir secara berlapis hingga ke tingkat pemikiran yang mendasar. Untuk menuju ke sana, kita perlu bertanya juga.

Sebagai makhluk intelektual - disadari atau tidak disadari - kita selalu bertindak berdasarkan alasan (intention) yang selalu kita butuhkan dalam rangka menjaga agar pikiran kita tetap sehat dan tetap kuat, yaitu  agar segala sesuatu menjadi  masuk akal alias make sense bagi kita. Alasan itu adalah motivasi atau motif kita untuk bertindak.

4. Maka, pertanyaan yang perlu kita ajukan berikutnya adalah,

Apakah saya akan bertindak dalam rangka memenuhi:

- Keinginan?
 Sebab saya ingin memuaskan emosi yang tidak nyaman ini, yang penting tidak seperti ini rasanya. Saya ingin mendapatkannya. Mereka harus ingin memberikannya. Atau,

- Keperluan?
Sebab saya perlu mengklarifikasi dan memvalidasi emosi tidak nyaman ini dari dunia luar dengan mendapatkan sesuatu yang memberi nilai tambah bagi kehidupan saya, atau mendapatkan sinyal tentang pengertian dan pemahaman orang lain tentang apa yang saya rasakan. Atau,

- Kebutuhan?
Sebab semua ini adalah tentang hidup dan mati saya, atau tentang eksistensi saya, atau tentang baik dan buruknya kehidupan saya. Saya harus mendapatkan itu. Mereka benar-benar harus tahu. Tanpa ini hidup dan eksistensi saya terancam.

Setelah menjawab pertanyaan itu, insya Allah tindakan kita cenderung ekologis dan menguntungkan kehidupan kita sendiri dan kehidupan orang lain yang terlibatkan oleh tindakan kita.

"Idealisme perasaan adalah tentang kehalusannya. Melatih kehalusan perasaan adalah dengan membiasakan rasanya. Idealisme pikiran adalah tentang ketajamannya. Melatih ketajaman pikiran adalah dengan mengasah kemampuannya dalam memilih dan memilah."
-Kata Pengantar, "Manajemen Pikiran Dan Perasaan"-

Sedikit memanjangkan waktu jeda dengan merasakan emosi dan menstimulasi pikiran, akan menguntungkan diri kita. Ketika kita sudah makin terampil tentang hal ini, kita akan menjadi pribadi intuitif yang positif.

Note: Tentang "kecerdasan motif" di atas, dapat dibaca lebih lanjut dalam buku saya "Manajemen Pikiran Dan Perasaan."

Semoga bermanfaat.

Ikhwan Sopa
Master Trainer E.D.A.N.
Founder, Penulis
"Manajemen Pikiran Dan Perasaan"
"Manajemen Pertanyaan"

Anda Pasti Pernah Mengalami Ini: L'esprit de L'escalier


Satu hari lagi telah Bowo lalui dengan hiruk-pikuk dan riuh-rendahnya kota besar. Anak dan istrinya sudah berada di alam mimpi sejak sejam tadi. Bowo merebahkan diri di ranjang. Ia membenarkan posisi berbaringnya dan menarik selimut. Bowo mulai berdoa dan mulai memejamkan mata. Lalu, mulailah berseliweran lintasan demi lintasan itu di kepala Bowo...

"Tadi siang itu, mestinya saya katakan tidak pada Mr. Cheng, tapi mengapa juga ya kok saya sampai mengatakan ya..?"

"Duh Gusti, sepertinya perintah saya kepada Alex tadi siang salah. Apa ya dampaknya pada timnya? Seharusnya saya..."

"Walaah! Kok bisa-bisanya saya tadi hanya bisa diam diperlakukan seperti itu?! Kalo tahu dia bakal begitu, saya mestinya..."

"Duh, keknya gue salah omong tadi itu. Jangan-jangan dia jadi kecewa atau marah sekarang..."

Apa yang terjadi pada Bowo di atas, sangat mungkin juga terjadi pada diri kita. Sejalan dengan berlalunya waktu, kita menyadari telah terjadi berbagai hal yang tidak sebagaimana yang kita harapkan. Kejernihan pikiran dan perasaan, kemampuan dan kekuatan maksimal atau peak performance, justru muncul di saat yang tidak tepat. Malah, di saat yang sudah terlambat.

Fenomena di atas sebenarnya terbilang normal. Namun demikian, apa jadinya jika fenomena itu menjadi makin sering dan makin mengganggu diri kita?

Fenomena ini dikenal dengan sebutan l'esprit de l'escalier, atau staircase wit, atau treppenwitz, atau dalam bahasa Indonesia "kecerdasan yang terlambat".

Fenomena ini muncul karena ada kesenjangan antara pengetahuan dan keterampilan, antara knowledge dan skill. Bukan karena kurangnya knowledge tapi karena kurangnya skill.

Dari kasus Bowo di atas, apa yang terjadi pada dirinya adalah sebagai berikut:

1. Bowo sebenarnya tahu, tapi ia gagal mengoptimalkan pengetahuannya pada saat dibutuhkan.

2. Sebagaimana manusia normal lainnya, Bowo baru memanfaatkan sebagian kecil dari potensi yang ada pada dirinya.

3. Dalam empat tingkatan ilmu yaitu a)tidak tahu kalau tidak tahu, b)tahu kalau tidak tahu, c)tahu kalau tahu, d)tidak tahu kalau tahu, Bowo sebenarnya sudah berada di tingkat d. Itu artinya, Bowo sudah sangat dekat dengan puncak performanya. Apa yang belum dicapainya adalah sebuah kesadaran.

KNOWLEDGE IS POWER

Kata-kata itu diungkapkan oleh penggagas pendidikan modern, Sir Francis Bacon. Apa yang dikatakannya adalah benar, yaitu "pengetahuan adalah kekuatan". Belakangan, frase ini dikritisi oleh banyak orang dan mulai digantikan dengan "tindakan adalah kekuatan".

Apa yang dimaksud oleh Sir Francis Bacon dengan "knowledge is power", adalah kekuatan maksimal dari pengetahuan, yang bisa dicapai dengan memenuhi syarat, yaitu memiliki kemampuan dan keterampilan untuk menggunakan pengetahuan.

Sesungguhnyalah, setiap tindakan pasti didasari oleh pengetahuan, sebab setiap tindakan didasari oleh keputusan. Dan keputusan adalah pilihan dari pengetahuan-pengetahuan tentang alternatif-alternatif.

MANUSIA NORMAL BARU MEMANFAATKAN 10% POTENSI DIRI

Berbagai riset dan studi menunjukkan bahwa rata-rata orang baru menggunakan 10% dari potensi maksimal yang ada dalam dirinya. Dan terbukti, berbagai kendala dan hambatan pada diri rata-rata orang, tidak disebabkan karena kurangnya pengetahuan, melainkan karena tidak tahu cara untuk mengoptimalkan penggunaan pengetahuan.

Pengetahuan erat hubungannya dengan makna-makna. Dan makna, erat hubungannya dengan kata-kata dan bahasa. Segala sesuatu dimaknai dengan bahasa dan kata-kata.

Dalam bahasa Inggris, ditemukan tidak kurang dari 250.000 kata. Rata-rata orang yang menggunakan bahasa Inggris, hanya terbiasa menggunakan sekitar 30.000 hingga 50.000 kata di dalam kehidupannya. Dalam bahasa tertulis, mereka hanya terbiasa menggunakan sekitar 10.000 kata dan dalam bahasa lisan mereka hanya terbiasa menggunakan 2.000 sampai 3.000 kata saja.

Dalam bahasa Indonesia, ditemukan tidak kurang dari 100.000 kata. Pada awalnya, bahasa Indonesia hanya terdiri dari 28.000 kata, kemudian berkembang menjadi 62.000 kata pada tahun 1987, dan menjadi 72.000 kata pada tahun 1992, dan menjadi 80.000 kata pada tahun 2002, dan menjadi sekitar 100.000 kata di masa sekarang.

Dengan perkembangan kosa kata yang demikian pesat, berapa kata yang Anda gunakan setiap hari?

Maka sekali lagi: Tindakan dilatarbelakangi oleh keputusan, dan keputusan dilatabelakangi oleh pilihan, dan pilihan dilatarbelakangi oleh pengetahuan, dan pengetahuan dibangun dengan makna-makna, dan makna-makna, diorganisir dengan bahasa dan kata-kata. Knowledge is power.

PERFORMA BISA DIDONGKRAK BERKALI LIPAT TANPA MENAMBAH PENGETAHUAN

Sebab yang lebih sering terjadi, adalah bukan kurang pengetahuan melainkan kurang keterampilan. Kurang terampil dalam mengeksekusi dan memanfaatkan pengetahuan. Dan tentu saja, seperti yang Anda pikirkan, performa bisa didongkrak menjadi makin dahsyat jika dibarengi dengan menambah pengetahuan dan keterampilan sekaligus.

Sekarang kita berfokus saja pada potensi yang ada pada diri Anda saat ini.

Pengetahuan Anda bisa dipastikan telah sangat luas dan dalam, sebab Anda sudah sekolah dan belajar baik secara formal maupun informal selama Anda hidup. Pengetahuan itu sudah terhimpun demikian banyak di dalam diri Anda. Ketahuilah satu hal, kendala Anda lebih banyak disebabkan oleh kurangnya keterampilan dan bukan oleh kurangnya pengetahuan.

Bagaimanakah caranya kita bisa mendongkrak performa tanpa langsung menambah pengetahuan? Bagaimanakah caranya mendongkrak performa sekian kali lipat hanya dengan apa pun yang Anda miliki sekarang?

Untuk mengasah keterampilan ini, apa yang kita perlukan adalah menyelami berbagai hal yang menjadi sebab dari kurang terampilnya kita dalam mengeksekusi dan memanfaatkan pengetahuan. Dengan memahami berbagai sebab ini, kita akan memiliki gambaran tentang apa yang perlu kita lakukan mulai sekarang, untuk meningkatkan performa.

Berikut ini adalah sebab-sebab dari rendahnya performa, terkait dengan kurangnya keterampilan - padahal memiliki pengetahuan. Saya ambil dari materinya Ken Ward seorang Mind Techniques expert.

Sebab #1 - Terlalu Tegang atau Terlalu Santai

Terlalu tegang karena khawatir, takut, menghadapi sesuatu dengan tiba-tiba, atau berada dalam sebuah keterpaksaan, akan membuat Anda kehilangan keterampilan. Dampaknya tentu saja, penurunan performa.

Misalnya, jika Anda telah menguasai materi untuk presentasi, tapi kemudian Anda menyadari bahwa dalam audience Anda ada orang-orang yang "menakutkan". Anda bisa kehilangan kata-kata.

(Namun demikian, akan tetap ada event dan situasi, di mana ketegangan justru diperlukan untuk meningkatkan performa, misalnya dalam olah raga.)

Terlalu santai, mengantuk misalnya, juga bisa menurunkan performa karena kehilangan keterampilan. Penurunan performa juga bisa terjadi saat Anda berada di bawah pengaruh obat atau minuman.

Sebab #2 - Terdistraksi atau Tidak Fokus

Saat perhatian Anda terpecah, performa Anda akan turun. Distraksi seperti ini bisa terjadi secara internal atau karena pengaruh dari luar. Anda bisa terdistraksi jika pikiran Anda berfokus pada hal lain selain yang mestinya Anda kerjakan. Anda juga bisa terdistraksi karena suasana dan situasi yang tidak mendukung, misalnya terlalu ribut, hiruk-pikuk, atau suasana sedang kacau-balau. Distraksi juga bisa muncul karena pikiran-pikiran negatif Anda.

Sebab #3 - Terpengaruh Kritik

Kritik, baik oleh diri sendiri atau oleh orang lain, bisa sangat berpengaruh pada performa Anda.

Sebab #4 - Kurang Percaya Diri Atau Terlalu Percaya Diri

Kurang percaya diri, bisa sangat buruk pengaruhnya pada performa. Bahkan, kurang percaya diri bisa membuat performa Anda bernilai nol. Sebab, sampai tingkat tertentu, kurang percaya diri bahkan membuat Anda tidak melakukan apa-apa.

Terlalu percaya diri juga bisa berdampak menurunkan performa. Bahaya terlalu percaya diri bukan ada pada bagaimana Anda melakukan apa yang mestinya Anda lakukan, melainkan ada pada kemungkinan di mana Anda akan melakukan apa yang mestinya tidak Anda lakukan. Anda bisa menyimpang dari misi awal Anda. Gawatnya, saat Anda menyimpang itu, Anda justru memasuki wilayah di mana pengetahuan Anda justru kurang.

Sebab #5 - Self Handicap

Self handicap berasal dari berbagai kesimpulan negatif yang Anda tarik setelah melakukan berbagai tindakan.

"Ah, sepertinya saya tidak cocok di situ."
"Ah, kayaknya gue nggak bakat."
"Dah gue coba, tapi kok jelek kayaknya."

Anda masuk ke siklus buruk ini sekali lagi. Anda malah memperkuatnya. Padahal Anda bukan tidak bisa, Anda cuma perlu stamina untuk berlatih menaikkan keterampilan.

Sebab #6 Kurang Latihan

Ya. Anda tahu persis harus bagaimana, tapi sebagai keterampilan, letaknya baru di leher ke atas. Kata orang, belum holistik.

Saya selalu yakin, bahwa kita adalah manusia normal dan biasa. Tapi untuk menaikkan performa, Anda harus menjadi manusia luar biasa. Dan untuk mencapai performa yang lebih baik berkali lipat, investasi awal Anda adalah menjadi terampil dalam menggunakan pengetahuan yang sudah Anda miliki. Anda bisa mencapainya, dengan hanya tetap menjadi Anda dengan pengetahuan yang ada pada diri Anda sekarang.

Jangan mau jadi manusia biasa. Jadilah luar biasa!!!

Semoga bermanfaat.

Ikhwan Sopa
Master Trainer E.D.A.N.
Founder, Penulis "Manajemen Pikiran Dan Perasaan"

Buku Kedua - "Manajemen Pertanyaan"

Dear all,

Penulisan buku kedua sudah bisa dilanjutkan. Semoga tetap bisa selesai tepat waktu. Buku kedua ini berjudul "Manajemen Pertanyaan" - Tentang bagaimana memanage pertanyaan untuk memicu dan merangsang 35 macam kecerdasan sebagaimana yang sudah diungkap dalam buku pertama saya.

Tertarik?

Ikhwan Sopa

Hidup Adalah E(Y)=f(x)

E(Y)=f(x)

Hidup adalah tentang stimulus x dan respon y.
Apa yang hidup adalah apa yang dapat merespon stimulus.
Yang tak lagi mampu merespon stimulus adalah mati.

Kita hidup berjalan di atas waktu.
Di atas waktu diciptakan event dan kejadian.
Persamaan tetap berlaku selama waktu yang telah ditetapkan.

Segala stimulus dari dunia luar dan dari dunia dalam terjadi detik demi detik, saat demi saat.
Antara stimulus dan respon ada jeda waktu, pendek atau panjang.
Dalam jeda waktu ini tumbuhlah kedewasaan dan kesadaran.

Stimulus adalah segala event dan kejadian yang sedang menjalankan fungsi (f).
Setiap event dan kejadian diciptakan dengan maksud dan tujuan.
Yang hidup akan merespon dengan menciptakan expected value (Y).
Segala hal adalah tentang mengkreasi nilai dan makna.

Kualitas hidup kita adalah nilai dan makna yang kita kreasi mengikuti tujuan penciptaan event dan kejadian.

*Rumus di atas adalah rumus yang biasa digunakan untuk menjelaskan Stimulus-Response Model.

Semoga bermanfaat,

Ikhwan Sopa
Master Trainer E.D.A.N.
Founder, Penulis "Manajemen Pikiran Dan Perasaan" 

Teaser Buku Kedua

 Dear all,

Subhanallah, alhamdulillah. Insya Allah, buku kedua saya, erat hubungannya dengan muhasabah dan mujahadah. Semoga kita bisa belajar bersama tentang keduanya. Aamiin... aamiin...

Hidup adalah tentang keyakinan, dan keyakinan selalu dipertanyakan. Kita hidup di antara dua pertanyaan. Pertanyaan pertama diajukan ketika kita masih di dalam rahim. Pertanyaan kedua diajukan ketika kita sudah di liang lahat. Hidup adalah latihan menjawab pertanyaan.

‎"Kalaulah bukan karena adanya pertanyaan, sudah tentu ilmu pengetahuan akan menghilang dari peredaran."
HR Ad-Darami

Pertanyaan pertama: "Alastu Birobbikum?"
Pertanyaan kedua: "Man Robbuka?"

Tunggu terbitnya. Insya Allah bermanfaat.

Ikhwan Sopa
Master Trainer E.D.A.N.
Founder, Penulis, "Manajemen Pikiran Dan Perasaan"

Buku Kedua, Lanjutan "Manajemen Pikiran Dan Perasaan"

Dear all, 

Subhanallah, alhamdulillah. Insya Allah, buku kedua saya, erat hubungannya dengan muhasabah dan mujahadah. Semoga kita bisa belajar bersama tentang keduanya. Aamiin... aamiin...

Ikhwan Sopa
 
 

Pendaftaran Certified Practitioner "Manajemen Pikiran Dan Perasaan" - Angkatan I

Dear all,

Dalam rangka menciptakan percepatan bagi meluasnya skill baru "Manajemen Pikiran Dan Perasaan" dan sekaligus mencetak sebanyak mungkin praktisi bersertifikasi "Manajemen Pikiran Dan Perasaan", kami merencanakan tiga angkatan pertama Training Sertifikasi "Manajemen Pikiran Dan Perasaan" dalam bentuk training murah dengan biaya terjangkau.

Trainee hanya perlu memaksa diri untuk berkomitmen penuh. Training ini hanya ditujukan kepada peminat dan pembelajar serius.

Kami berharap bahwa skill ini dapat segera bergulir dan meluas, demi peningkatan kualitas dan pemberdayaan sumber daya manusia, khususnya sumber daya manusia Indonesia. Praktisi yang menguasai skill dan memegang sertifikat praktisi "Manajemen Pikiran Dan Perasaan", dapat memposisikan diri sebagai narasumber, coach, terapis, konsultan, mentor, atau fasilitator pemberdayaan diri (self help, self development, people helper, dan personal development) dalam bidang dan profesinya masing-masing.

Note:

1. Skill "Manajemen Pikiran Dan Perasaan" adalah content skill. Materi teknik presentasi, public speaking, coaching, terapi, consulting, mentoring, atau facilitating termasuk NLP dan Hypnosis tidak diberikan secara khusus dalam rangkaian training ini, melainkan di-utilisasi sebagai wahana dan metode untuk delivery training ini.

2. Training Sertifikasi "Manajemen Pikiran Dan Perasaan" juga diposisikan sebagai proses coaching bagi para trainee yang juga diposisikan sebagai coachee.

Outcome

Bagaimana profil seorang Certified Practitioner Manajemen Pikiran Dan Perasaan?
Silahkan mendownload ebook ini: http://qacomm.com/docs/Manajemen-Pikiran-Dan-Perasaan.pdf

Format Training

Untuk setiap angkatan dari tiga angkatan pertama, training hanya diikuti oleh maksimal 20 orang.

Training dilaksanakan dengan format marathon sebanyak 18 kali pertemuan. Masing-masing pertemuan memakan waktu kurang lebih 4 jam, dengan total jam training efektif mencapai 72 jam. Ini setara dengan 9 hari training full day.

Setiap trainee hanya diperkenankan tidak mengikuti sesi training sebanyak 2 kali pertemuan. Dalam hal ini terjadi, trainee yang bersangkutan dibebani dengan kewajiban tambahan untuk menyetarakan materi trainingnya. Dalam hal trainee tidak dapat mengikuti sesi training lebih dari 2 kali pertemuan, trainee yang bersangkutan dinyatakan gugur tanpa syarat.

Investasi

Investasi untuk tiga angkatan pertama training sertifikasi "Manajemen Pikiran Dan Perasaan" diupayakan semurah mungkin, dan dapat dibayar di tempat pertemuan setiap kali mendatangi sesi training. Setiap pertemuan, diupayakan berbiaya tidak lebih dari Rp 50.000,- untuk kepentingan tempat dan konsumsi.

Pendaftaran Angkatan Pertama

Pendaftaran angkatan pertama Training Sertifikasi "Manajemen Pikiran Dan Perasaan" dibuka sejak note ini dipublish dan ditutup tanggal 30 Juni 2011 pukul 21.00 WIB. Pendaftaran dilakukan dengan mengirimkan email ke alamat:

Praktisi-MPdP-subscribe@yahoogroups.com dan isi email sebagai berikut:

- Nama Lengkap:
- Nama Panggilan:
- Alamat:
- No HP:
- No Telepon Rumah:
- Posisi/Pekerjaan/Jabatan:
- Kantor/Organisasi:
- Tujuan/Target Mengikuti Training:

Selanjutnya, calon trainee akan didaftarkan ke dalam grup tersebut yang dibentuk khusus untuk training dan komunitas ini.

Rencana Timeline, Waktu, Tempat, Investasi

Pendaftaran dibuka: Sekarang
Pendaftaran ditutup: 30 Juni 2011 pukul 21.00 WIB

Pelaksanaan Training

01. 09 Juli 2011, Sabtu, 13.00-17.30 WIB, Rp 50.000,-, (+ Ground Rules, Practitioner Contract Signment)
02. 16 Juli 2011, Sabtu, 13.00-17.30 WIB, Rp 50.000,-
03. 23 Juli 2011, Sabtu, 13.00-17.30 WIB, Rp 50.000,-
04. 30 Juli 2011, Sabtu, 13.00-17.30 WIB, Rp 50.000,-
05. 06 Agustus 2011, Sabtu, 13.00-17.30 WIB, Rp 50.000,-
06. 13 Agustus 2011, Sabtu, 13.00-17.30 WIB, Rp 50.000,-
07. 10 September 2011, Sabtu, 13.00-17.30 WIB, Rp 50.000,-
08. 17 September 2011, Sabtu, 13.00-17.30 WIB, Rp 50.000,-
09. 24 September 2011, Sabtu, 13.00-17.30 WIB, Rp 50.000,-
10. 01 Oktober 2011, Sabtu, 13.00-17.30 WIB, Rp 50.000,-
11. 08 Oktober 2011, Sabtu, 13.00-17.30 WIB, Rp 50.000,-
12. 15 Oktober 2011, Sabtu, 13.00-17.30 WIB, Rp 50.000,-
13. 22 Oktober 2011, Sabtu, 13.00-17.30 WIB, Rp 50.000,-
14. 29 Oktober 2011, Sabtu, 13.00-17.30 WIB, Rp 50.000,-
15. 12 Nopember 2011, Sabtu, 13.00-17.30 WIB, Rp 50.000,-
16. 19 Nopember 2011 Sabtu, 13.00-17.30 WIB, Rp 50.000,-
17. 26 Nopember 2011 Sabtu, 13.00-17.30 WIB, Rp 50.000,-
18. 10 Desember 2011 Sabtu, 13.00-17.30 WIB, Rp 50.000,- (+ Wisuda)

Note:
- Silahkan persiapkan sebuah buku kosong khusus untuk mencatat materi dan alat tulis.
- Waktu dan tempat hanya berubah jika terjadi hal-hal khusus (libur khusus, ketentuan pemerintah, dsb).

Demikian, semoga bermanfaat.

Ikhwan Sopa
Master Trainer E.D.A.N.
Founder, Penulis "Manajemen Pikiran Dan Perasaan"

Buku Lanjutan "Manajemen Pikiran Dan Perasaan"

Dear all,

Mohon doa restu. Insya Allah, sebulan ini saya menulis buku kedua, lanjutan "Manajemen Pikiran Dan Perasaan". Idenya sederhana, dan semoga makin menguatkan.

Thaaaanks!
Tetap semangat.

Ikhwan Sopa

Teaser Buku "Manajemen Pikiran Dan Perasaan"

Manajemen Pikiran Dan Perasaan, Ikhwan Sopa, Coaching, Buku, Pengembangan Diri, Motivasi, Komunikasi, Leadership, Kepemimpinan, Training, Pelatihan

Dear Prens, cukup banyak yang bertanya kepada saya tentang "apa sebenarnya" isi buku "Manajemen Pikiran Dan Perasaan".

Berikut ini adalah sekedar penggoda dan pembangkit selera baca Anda, terkait apa-apa yang disuguhkan dalam buku "Manajemen Pikiran Dan Perasaan".

1. Energi Kehidupan Primer

Setiap manusia, setiap kelompok, setiap suku, dan setiap bangsa, hidup di dalam pergerakan dan terlibat di dalam upaya untuk menggapai keinginan, tujuan, dan cita-cita.

Semua pergerakan dan upaya itu, tidak pernah lepas dari sikap, keputusan, dan tindakan yang diyakini sebagai tepat, akurat, efektif, efisien, pantas, baik, atau benar, alias diyakini akan mengantarkan diri mereka kepada keinginan, tujuan, dan cita-cita.

Alias, semua pergerakan dan upaya itu adalah tentang eksekusi dan implementasi dari berbagai keyakinan. Setiap menit dan setiap detik dari segala sikap, keputusan, dan tindakan di dalam kehidupan, adalah cerminan dari keyakinan-keyakinan. Begitu pula, segala bentuk pemikiran dan emosi, atau segala bentuk pikiran dan perasaan, baik yang berlangsung secara internal ataupun terekspresikan secara eksternal dengan berbagai bentuknya (perbuatan, kata-kata, dan bahasa), adalah juga cerminan dari keyakinan-keyakinan.

"Hidup, adalah tentang keyakinan-keyakinan."

Di tingkatan yang tertinggi, segala bentuk keyakinan akan terpulang pada yang Maha Tinggi, yaitu Tuhan yang Maha Esa dan Maha Kuasa. Kepada-Nyalah segala sesuatu bergantung. Bagi mereka yang tidak mempercayai Tuhan sekalipun, mereka juga meyakini ketergantungan kehidupan pada hal-hal atau segala sesuatu yang mereka anggap sebagai causa prima, atau kekuatan tertinggi, atau kesadaran tertinggi, atau bahkan alam semesta. Apapun itu, adalah segala sesuatu yang menentukan bagaimana kehidupan ini berjalan. Inilah yang sering disebut sebagai keyakinan vertikal, yaitu keyakinan akan adanya kekuatan terbesar yang mengatur bagaimana alam semesta bekerja (termasuk manusia di dalamnya).

Dalam bahasa yang lebih dikenal sehari-hari, kita menyebut keyakinan vertikal atau keyakinan dasar ini sebagai:

- Akidah,
- Theology,
- Spiritualisme,

...dan sebagainya.

2. Energi Kehidupan Sekunder

Pada tataran yang lebih horisontal, manusia diposisikan sebagai "penguasa", "khalifah", atau "perwakilan-Nya" di dunia. Dalam konteks horisontal ini, pada dasarnya setiap manusia, setiap kelompok, setiap suku, dan setiap bangsa, hidup saling berinteraksi dengan alam semesta dan dengan sesamanya. Segala bentuk interaksi ini, juga berlangsung di bawah kendali berbagai keyakinan yang menjadi miniatur atau perwakilan atau implementasi lanjutan dari "akidah", theology, atau "spiritualitas".

Dengan kata lain, kehidupan horisontal setiap manusia, setiap kelompok, setiap suku, dan setiap bangsa, adalah juga cerminan dari berbagai keyakinan primernya. Alias, kehidupan horisontal setiap manusia, setiap kelompok, setiap suku, dan setiap bangsa, adalah cerminan dari "akidah", "theology", dan "spiritualisme"-nya masing-masing.

Dalam konteks kehidupan yang horisontal ini pula, kita menemukan adanya sistem nilai dan sistem keyakinan yang bersifat universal dan dijalani bersama-sama. Kita sering menyebut hal ini sebagai "shared values" atau "belief system" yang diyakini berlaku demi kebaikan hubungan horisontal sebagai cerminan kebaikan hubungan vertikal.

Dengan mudah, kita dapat menemukan cerminan dari keyakinan-keyakinan ini dalam setiap vision dan mission statement setiap organisasi (negara, perusahaan, lembaga) dan pribadi. Terkait dengan pernyataan visi dan misi ini (organisasi dan pribadi), segala bentuk shared values dan belief system, diidealkan tertanam dalam keseharian kehidupan, melatarbelakangi setiap sikap, keputusan, dan tindakan (organisasi dan pribadi), dan menjadi the way of life, cara hidup, corporate culture, organisational culture, dan jalan hidup pribadi. Dalam bahasa ekonomi, manajemen, dan bisnis, hal ini sering diistilahkan dengan "credo".

3. "Manajemen Pikiran Dan Perasaan" Sebagai Belief System

35 poin keyakinan di dalam buku "Manajemen Pikiran Dan Perasaan" diposisikan sebagai "belief system" yang dianggap layak dan pantas untuk dijadikan keyakinan-keyakinan dasar yang melatarbelakangi segala sikap, keputusan, dan tindakan.

35 poin keyakinan ini, diekstraksi dengan memilih keyakinan-keyakinan dasar yang dianggap berlaku secara universal, mewakili keyakinan-keyakinan primer yang dikenal dalam kehidupan manusia. Semua itu, diharapkan dapat membangun belief system yang berdasarkan catatan sejarah kehidupan manusia dianggap telah memberhasilkan peradaban dan kemanusiaan.

Argumentasi di atas, sangat didukung oleh manusia-manusia yang telah terbukti berhasil dalam hidupnya, yang diungkapkan mereka dalam autobiografinya, dalam buku-bukunya, dalam berbagai literatur bisnis, pengembangan diri, dan sejarah mereka, dalam rekaman-rekaman wawancara mereka, dalam berbagai hasil riset mereka, dalam ajaran-ajaran mereka tentang kehidupan, kesuksesan, dan keberhasilan, dan dalam berbagai bentuk model yang mereka ajukan kepada kita hingga hari ini. Semua itu, mencerminkan keyakinan-keyakinan yang identik dengan 35 keyakinan yang disebutkan di dalam buku "Manajemen Pikiran Dan Perasaan".

35 keyakinan dalam buku "Manajemen Pikiran Dan Perasaan", diformulasikansebagai keyakinan-keyakinan dasar yang mudah dicerna dan mudah dipahami, yang jika dikembalikan ke dalam kelompok besarnya, akan membentuk tiga kelompok besar keyakinan dasar, yaitu:

- Keyakinan tentang diri sendiri,
- Keyakinan tentang keberhasilan, tujuan, dan cita-cita,
- Keyakinan tentang segala proses dalam perjalanan menuju tujuan dan cita-cita.

35 keyakinan dalam buku "Manajemen Pikiran Dan Perasaan", sangat erat hubungannya dengan pikiran dan perasaan.

Jika hidup ini adalah tentang keyakinan-keyakinan, maka segala hal yang terkait dengan manusia, kehidupannya, dunianya, dan tujuan serta cita-citanya adalah tentang keyakinan-keyakinan.

Jika apapun itu tentang manusia, kehidupannya, dunianya, dan tujuan serta cita-citanya adalah tentang keyakinan-keyakinan, maka apapun yang dekat dan jauh dari diri manusia adalah tentang keyakinan-keyakinan.

Dengan logika yang sederhana, demi segala keberhasilan dan kesuksesan, apa yang sangat penting bagi seseorang atau sekelompok orang dalam organisasi dlam meniti perjalanan menuju keinginan, tujuan, dan cita-cita, adalah terorganisir dan terampilnya mereka dalam pengelolaan berbagai hal yang terdekat dengan kehidupan mereka sehari-hari. Segala sesuatu harus dimulai dari dalam dan dari diri sendiri. Apa yang terdekat dengan seseorang atau sekelompok orang dalam keseharian kehidupan mereka, terekspresikan dalam segala bentuk pikiran dan perasaan mereka.

Maka pikiran dan perasaan, adalah cerminan dari segala bentuk keyakinan. Apapun pikiran dan perasaan seseorang atau sekelompok orang dalam organisasi, adalah cerminan dari berbagai keyakinan yang mereka yakini, baik disadari atau tidak disadari.

Dengan demikian, jika kita memposisikan pikiran dan perasaan - dua hal yang paling mudah diidentifikasi - sebagai bentuk-bentuk sinyal dan umpan balik yang dibutuhkan untuk mengendalikan perjalanan menuju keinginan, tujuan, dan cita-cita, maka menanamkan shared values dan belief system adalah hal yang terpenting dan paling utama.

35 poin keyakinan dalam buku "Manajemen Pikiran Dan Perasaan", adalah salah satu alternatif yang dianggap indah, baik, dan benar dari segala kacamata keyakinan.

Semoga bermanfaat, dan selamat membaca.

Ikhwan Sopa
Master Trainer E.D.A.N.
Founder, Penulis, "Manajemen Pikiran Dan Perasaan"

Depok: Bedah Buku "Manajemen Pikiran Dan Perasaan"

Manajemen Pikiran Dan Perasaan

Bedah Buku dan Seminar Introduksi

"Manajemen Pikiran Dan Perasaan"

Bersama Ikhwan Sopa (Master Trainer E.D.A.N.)

Minggu, 19 Juni 2011
Pukul. 09.00-13.00 wib

RM. Mang Kabayan
Jalan Raya Margonda Depok
(Persis di depan apartemen Margonda Residence, 100 Meter dari gapura/gerbang selamat datang di kota Depok)
Terbatas... hanya untuk 50 orang.

Investasi
Rp. 50.000,- (Sewa tempat dan makan siang)

Pendaftaran
Transfer biaya seminar ke:
No. Rek. 0617135921 Bank Syariah Mandiri
No. Rek. 9118704899 Bank Muamalat Indonesia
capem Depok a.n. Nuryati El Salim.

Konfirmasi
Lakukan konfirmasi dengan mengirim SMS, ketik REG :
Nama Lengkap, Domisili, Jumlah Transfer, Tgl. Transfer. Bank Tujuan.
Kirim ke 0858-8020-0109

Wajib membawa bukti transfer pada hari acara sebagai tiket masuk.
Terimakasih.

Info
0858-8020-0109 / 021-8020-4095 (Bu Dede)

Rute ke tempat acara
Semua kendaraan yang melewati jalan raya Margonda, berhenti atau turun di Apartemen Mergonda Residence.

Organized by:
Better Mind For Better Life Center

Mungkin Bukan Takut Gagal, Tapi Takut Berhasil

"Procrastination is the fear of success. People procrastinate because they are afraid of the success that they know will result if they move ahead now."
-Denis Waitley-

"Saya takut ketinggian. Tapi di negeri belasan ribu pulau ini, demi keberhasilan saya harus mau naik pesawat kesana-kemari. Ketika masih muda, saya memaksa diri untuk menaklukkan banyak gunung di Nusantara. Di Gunung Gede dan Merapi, saya malah pernah merangkak secara harafiah. Sampai hari ini, sisa-sisa takut itu masih ada. Tapi, saya sangat ingin berhasil."
-Ikhwan Sopa-

Ini mungkin sering terjadi pada diri kita.

Kita menginginkan sesuatu, dan kita merasa sangat menginginkannya. Kita tahu dan kita yakin bahwa kita mampu. Kita paham betul bagaimana cara menuju ke sana dan mendapatkannya. Kita tidak mengkhawatirkan kegagalan.

Tapi, tak lama setelah kita memulai perjalanan, entah mengapa tiba-tiba kita berhenti dan kembali ke titik awal lagi. Kita kembali ke cara kerja dan kebiasaan lama. Terus begitu, berulang-ulang seperti lingkaran yang tak ada habisnya. Ciri khas dari fenomena ini adalah perilaku menunda-nunda. Kita menjadi penunda-nunda keberhasilan diri kita sendiri.

Kita perlu tahu, bahwa yang kita khawatirkan bukan lagi kegagalan. Justru, kita sedang takut akan keberhasilan. Kita takut berhasil.

Takut dan gagal mungkin bisa hidup bersama di dalam satu tubuh. Tapi takut dan berhasil, tidak bisa.

Kita tidak pernah memutuskan segala hal berdasarkan realitas yang sesungguhnya. Kita memutuskan segala hal berdasarkan keyakinan kita tentang dunia nyata. Begitu pula, ketika kita memutuskan untuk berhasil. Pertanyaannya adalah, apakah segala keyakinan kita memang telah mendukung kita untuk berhasil?

Takut gagal adalah fenomena yang mudah diidentifikasi. Takut berhasil, lebih sulit diidentifikasi sebab biasanya berakar pada berbagai bias konsepsi dan keyakinan di tingkat bawah sadar.

Bukanlah keberhasilan itu sendiri yang kita takutkan, tapi biasanya efek samping dari keberhasilan-lah yang kurang kita perhitungkan.

Takut gagal menyebabkan kita berupaya keras memenuhi syarat dan standar eksternal, yaitu syarat dan standar dunia luar yang bukan ditetapkan oleh diri kita. Takut sukses membuat kita terus berupaya menghindari syarat dan standar internal diri kita sendiri.

Takut gagal adalah tentang diri kita yang belum "doing the right things". Takut berhasil adalah tentang diri kita yang belum "doing the things right".

Takut gagal bermuara pada penghindaran tindakan. Takut berhasil lebih berbahaya, ia bermuara pada sabotase diri.

Apa penyebab dari ketakutan akan keberhasilan?

Berikut ini adalah bentuk-bentuk salah konsepsi dan salah keyakinan yang memunculkan ketakutan akan keberhasilan (dan ini, mungkin sekali jarang kita sadari).

1. Trauma dari masa lalu. Secara fisiologis, sangat mungkin rasa dari keberhasilan adalah sama dengan rasa kegagalan. Ini sering diungkapkan oleh para psikolog yang berkutat dengan fenomena traumatik.

2. Prinsip hidup. Bawah sadar kita terlanjur berlebihan dalam memegang prinsip "pantang menyerah" alias "pantang putus harapan". Tidak menyerah atau putus harapan, adalah prinsip positif yang pantas kita pegang erat-erat. Prinsip ini berlaku di sepanjang perjalanan kita menuju keberhasilan. Dan secara alamiah, ketika harapan itu tercapai, harapan itu kita anggap "otomatis" menjadi tidak diperlukan lagi. Maka, ketika kita membayangkan keberhasilan, pikiran bawah sadar kita dapat menjadi rancu dan mempersepsi keberhasilan di masa depan itu sebagai sesuatu yang identik dengan melepaskan harapan di hari ini. Padahal, harapan tak boleh kita lepaskan hari ini, dan ketika keberhasilan tercapai, maka harapan baru ditumbuhkan. Harapan lama tidak pantas hilang, melainkan tumbuh.

3. Orang tua dan yang dituakan. Rasa hormat kita kepada orang tua, dan kewibawaan mereka masih berpengaruh kuat pada diri kita yang telah dewasa, dalam cara yang masih sama dengan pengaruhnya ketika kita masih anak kecil. Rasa hormat dan kewibawaan itu, telah mencetak kita untuk selalu memposisikan diri sebagai inferior ketika dikaitkan dengan mereka. Ini, juga berlaku untuk kita yang mempunyai saudara yang lebih tua atau yang lebih kita hormati. Kita perlu mencari cara, agar rasa hormat kita dan kewibawaan mereka tetap bisa kita hidupkan, dengan cara yang lebih menghargai kedewasaan kita.

4. Pergeseran tanggung jawab. Sukses dapat menakutkan, ketika kita menimbang-nimbang beratnya tanggung jawab yang melekat pada keberhasilan. Kita mungkin mempersepsi keberhasilan sebagai pergeseran diri yang menjadi lebih pandai, lebih bijak, lebih cerdas, lebih mampu, dan sebagainya, yang langsung atau tidak langsung diikuti oleh makin besarnya tanggungjawab dan tantangan.

5. Prinsip Win-Lose. Kita mungkin berkeyakinan bahwa keberhasilan kita pastilah mengorbankan orang lain. Keberhasilan kita, kita yakini tercapai bersamaan dengan terjadinya kegagalan pada diri orang lain. Kita terlanjur meyakini bahwa sisi lain dari keberhasilan (diri), pastilah kegagalan (orang lain).

6. Proses kreasi. Kita mungkin berkeyakinan bahwa keberhasilan adalah hasil dari proses kreasi. Maka mungkin tanpa kita sadari, kita meyakini, bahwa jika sesuatu tercipta maka sesuatu yang lain dihancurkan.

7. Sisi gelap diri. Sebagaimana yang disinyalir para pakar, setiap keberhasilan akan memunculkan sisi gelap dari si pencapai keberhasilan. Apakah sisi gelap itu muncul oleh dirinya sendiri, atau ia muncul oleh fokus lampu sorot yang makin terang dan makin tajam diterpakan kepada dirinya dari segala arah.

8. Motivasi awal. Apa motivasi awal kita untuk berhasil? Mungkin itulah yang menjadi sebab bayang-bayang ketakutan akan keberhasilan. Misalnya, kita mungkin mematok tujuan keberhasilan sebagai sebentuk dendam atau kemarahan. Kita ingin menghukum orang lain dengan keberhasilan kita. Padahal jauh di dasar hati, setiap kita adalah manusia yang baik.

9. Efek samping cinta. Cinta orang tua dan lingkungan kita mungkin justru memunculkan dampak lain. Perlakuan mereka yang penuh cinta dan pemanjaan, tanpa kita sadari membangun keyakinan bahwa keberhasilan identik dengan kenyamanan.

10. Kompetisi. Kita mungkin mengejar keberhasilan dengan cara pandang berkompetisi dengan orang lain dan dunia. Padahal, kita mestinya berkompetisi dengan diri sendiri.

11. Keyakinan dasar. Kita mungkin berkeyakinan, bahwa menjadi berhasil adalah sama dengan masuk surga dengan merangkak. Semakin berhasil, maka semakin detil perhitungan dan pertanggungjawaban.

12. Beban lingkungan. Kita mungkin merasa bahwa jika kita berhasil, maka akan semakin banyak orang bergantung kepada kita, dan itu adalah sesuatu yang memberatkan.

13. Kesepian. Kita mungkin merasa takut kesepian, sebab orang yang berhasil jumlahnya selalu lebih sedikit dari jumlah orang yang kurang berhasil.

14. Kerja keras. Kita mungkin beranggapan bahwa sukses adalah kerja keras (dan kita tidak menyadari bahwa kita telah membuatnya lebih keras dari yang semestinya).

15. Proyeksi. Kita mungkin berkeyakinan bahwa mencapai puncak adalah mudah, tapi bertahan tetap di sana adalah susah, dan jatuh dari ketinggian pastilah sangat sakit.

16. Persepsi tentang dunia. Kita mungkin berlebihan dalam memandang bahwa dunia ini adalah permainan dan senda gurau. Padahal, di dunia ini kita tetap mempunyai tugas suci.

17. Ketergantungan. Kita mungkin telah terlanjur sangat tergantung pada orang lain. Kita kurang mandiri.

18. Medan perang. Kita mungkin merasa, bahwa dengan berhasil kita akan menambah jumlah musuh atau orang lain yang iri dan dengki.

19. Privasi. Kita mungkin merasa bahwa dengan menjadi berhasil privasi kita nanti akan terganggu.

20. Start all over again. Kita mungkin merasa, bahwa setelah berhasil kita akan diharuskan memulai segala sesuatunya kembali dari awal dengan lebih berat dan makin penuh tantangan.

21. Bawah sadar. Takut sukses adalah fenomena bawah sadar. Kita mungkin tidak pernah bertanya kepada bagian bawah sadar dari diri kita. Sebenarnya, ia banyak tahu tentang segala kekhawatiran kita.

Bagaimana mengurangi ketakutan akan keberhasilan?

Satu hal penting yang perlu kita pahami terkait kegagalan dan keberhasilan, adalah kenyataan bahwa keduanya adalah tentang perubahan. Gagal adalah kondisi perubahan, dan keberhasilan demikian juga. Ketakutan kita akan kegagalan dan ketakutan kita tentang keberhasilan, pada dasarnya adalah ketakutan akan perubahan. Bedanya, yang satu mudah diidentifikasi, dan satunya lagi lebih sering tersembunyi.

Maka, berikut ini adalah cara yang terbilang mudah untuk mengurangi ketakutan akan keberhasilan, sebagaimana yang sering dianjurkan oleh para pakar.

Mulailah dengan menyiapkan selembar kertas dan alat tulis untuk mengoret-oret. Tulislah tujuan, cita-cita, atau keinginan kita di bagian atas kertas. Lalu tuliskan pertanyaan-pertanyaan berikut ini dan sekaligus jawablah.

"Apa yang akan terjadi jika saya berhasil mencapainya?"

Tulislah sebanyak mungkin hal yang dapat kita proyeksikan alias mungkin terjadi, muncul, atau tercipta, dan bagilah menjadi dua kelompok besar (kita bisa melakukannya dengan membuat sebuah tabel dua kolom). Kelompok pertama adalah hal positif dan menyenangkan, dan kelompok kedua adalah hal negatif dan tidak menyenangkan.

Untuk masing-masing poin dalam dua kelompok itu. Mulailah mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini.

"Apakah saya yakin tentang hal ini?"
"Dari mana keyakinan saya ini muncul?"
"Dari siapa keyakinan ini datang?"
"Apa rasanya mengingat orang itu kembali?"
"Apa niat saya di ballik keyakinan ini?"
"Apakah niat itu valid dan dapat dibenarkan?"
"Terkait dengan proyeksi ini, harapan apa yang dapat saya hidupkan sebagai kelanjutannya?"

"Best way to predict the future is to create it."
-Peter F. Drucker-

Artinya, kita harus mengkreasi masa depan sekarang. Seperti juga ketakutan akan kegagalan, ketakutan akan keberhasilan adalah kekhawatiran yang berlebihan (meskipun tidak kita sadari) tentang masa depan. Kekhawatiran itu lebih pantas kita selesaikan sekarang, dengan meng-ekologis-kan segala konsepsi dan keyakinan.

Dan jika kita mesti bekerja keras untuk mencapai keberhasilan, maka kerja keras itu harus kita lakukan sekarang dengan menggali sedalam mungkin guna menemukan penghambat-penghambat yang tersembunyi.

Semoga bermanfaat,

Ikhwan Sopa
Master Trainer E.D.A.N.
Founder, Penulis Buku "Manajemen Pikiran Dan Perasaan".

3D Manajemen Pikiran Dan Perasaan

Manajemen Pikiran Dan Perasaan
Manajemen Pikiran Dan Perasaan
Manajemen Pikiran Dan Perasaan

Note:
Ini hanya materi internet.
Aslinya tidak hardcover.
Dapatkan di toko buku terdekat di kota Anda.

Rp 65.000,-
392 Halaman.

Semoga bermanfaat.