Praktisi Non-Sertifikasi "Manajemen Pikiran Dan Perasaan" (2)

"Anda harus memilih dengan ekstrem, mau ke kanan atau mau ke kiri. Anda tidak bisa berdiri di tengah dalam keraguan dan hanya diam mengelus-elus tiang."
-Ikhwan Sopa-

Dear all, note ini adalah lanjutan dari note sebelumnya:

Praktisi Non-Sertifikasi "Manajemen Pikiran Dan Perasaan":
http://blog.qacomm.com/2011/05/praktisi-non-sertifikasi-manajemen.html

Polarisasi Pikiran: Starting The Powerful Engine Of Life

Sahabat, tahukah Anda bahwa nyaris setiap orang yang sukses dan berhasil, adalah mereka yang dulunya menderita? Lebih dari itu, jika mereka lahir tidak dalam keadaan menderita, mereka bahkan menciptakan penderitaan mereka sendiri sebagai jalan menuju kesuksesan dan keberhasilan.

(Sekedar untuk memperjelas bedanya orang yang lahir kaya dan sukses dari orang yang lahir kaya tapi tidak sukses, silahkan bandingkan fenomena Ivanka Trump versus Paris Hilton.)

Bagi sebagian besar mereka yang pada akhirnya mencapai sukses dan berhasil, penderitaan mereka itu dulu, mereka persepsi sebagai penderitaan yang luar biasa. Dengan kata lain, bagi mereka, penderitaan mereka itu mereka golongkan sebagai situasi yang "ekstrem". Dengan ke-ekstrem-an itu, mereka lalu menciptakan fenomena ekstrem yang sebaliknya.

Jika Anda mendengar kata "ekstrem", apa yang terbersit di kepala Anda? Baik? Buruk?

Sadarkah kita, bahwa nyaris setiap mereka yang sukses dan berhasil, adalah mereka yang memposisikan dirinya sebagai ekstremis terhadap diri mereka sendiri?

Jika mereka ditanya apa resep kesuksesan dan keberhasilan mereka, mereka akan menjawab dengan ke-esktrem-an-ke-ekstrem-an yang berikut ini:

- Kerja keras
- Pantang menyerah
- Disiplin
- Siap menderita
- Tegas
- Militan
- Total
- Habis-habisan
- Mendahulukan orang lain
- Penuh semangat
- Tahan banting
- Taking massive action

...dan seterusnya...

Dan mari kita perhatikan, betapa ekstrem-nya ungkapan-ungkapan mereka yang sukses dan berhasil dengan kata-kata yang bold, dan italic di bawah ini.

"Sekiranya hari kiamat hendak terjadi, sedangkan di tangan salah seorang diantara kalian ada bibit kurma maka apabila dia mampu menanam sebelum terjadi kiamat maka hendaklah dia menanamnya."
(HR. Imam Ahmad 3/183, 184, 191, Imam Ath-Thayalisi no.2078, Imam Bukhari di kitab Al-Adab Al-Mufrad no. 479 dan Ibnul Arabi di kitabnya Al-Mu’jam 1/21 dari hadits Hisyam bin Yazid dari Anas Rodhiyallohu ‘Anhu)

"Always bear in mind that your own resolution to succeed is more important than any other."
-Abraham Lincoln-

"Flaming enthusiasm, backed up by horse sense and persistence, is the quality that most frequently makes for success."
-Dale Carnegie-

"Formula for success: rise early, work hard, strike oil."
-J. Paul Getty-

"I've failed over and over and over again in my life and that is why I succeed."
-Michael Jordan-

"Success consists of going from failure to failure without loss of enthusiasm."
-Winston Churchill-

"Success is falling nine times and getting up ten."
-Jon Bon Jovi-

"Try not to become a man of success, but rather try to become a man of value."
-Albert Einstein-

"What is success? I think it is a mixture of having a flair for the thing that you are doing; knowing that it is not enough, that you have got to have hard work and a certain sense of purpose."
-Margaret Thatcher-

"Winning isn't everything, it's the only thing."
-Vince Lombardi-

"Ambition is an idol, on whose wings great minds are carried only to extreme; to be sublimely great or to be nothing."
-Shakti Gawain-

"Be bold. If you're going to make an error, make a doozy, and don't be afraid to hit the ball."
Billie Jean King

"Extreme hopes are born from extreme misery."
-Bertrand Russell-

"Those who dare to fail miserably can achieve greatly."
-John F. Kennedy-

"If you set out to be liked, you would be prepared to compromise on anything at any time, and you would achieve nothing."
-Margaret Thatcher-

"If you are going to achieve excellence in big things, you develop the habit in little matters. Excellence is not an exception, it is a prevailing attitude."
-Colin Powell-

"You cannot expect to achieve new goals or move beyond your present circumstances unless you change."
Les Brown

"To turn really interesting ideas and fledgling technologies into a company that can continue to innovate for years, it requires a lot of disciplines."
-Steve Jobs-

"Mau jadi orang sukses harus cari kegagalan, karena kegagalan akan membuat kita belajar untuk masa depan."
-Bob Sadino-

"Bagi saya bisnis itu adalah survival mode."
-Sandiaga Salahuddin Uno-

"Orang yang tidak tegas memilih tindakan yang baik baginya, sesungguhnya sedang tegas membiarkan dirinya tersiksa dalam keraguan dan rendahnya rasa hormat terhadap diri sendiri."
-Mario Teguh-

"Jujur itu tegas, ya adalah ya dan tidak adalah tidak dan segeralah ."
-Mario Teguh- 

" Kalau mau berhasil menjadi leader, kita harus bisa menjadi hamba, melayani, dan memberi."
-Ciputra-

"We must all suffer one of two things: the pain of discipline or the pain of regret or disappointment."
Jim Rohn

Maka, mulailah kita menyadari, bahwa fenomena sukses dan berhasil adalah fenomena ekstremis. Secara khusus, mereka hendak mengatakan begini:

"Jika engkau ingin sukses dan berhasil, jadilah ekstremis bagi diri sendiri!"

Pertanyaan kita tentunya, se-ekstrem apa, ekstrem yang bagaimana, dan ekstrem dalam hal apa?

Sadarilah, bahwa setiap kita saat ini dan hari ini, adalah para ekstremis-ekstremis potensial. Sekali lagi, setiap kita.

Pilih, apakah Anda ingin bahagia atau sengsara?

Anda adalah ekstremis, sebab Anda tidak memilih untuk setengah bahagia atau malah setengah sengsara.

Pilih, apakah Anda ingin kaya atau miskin?

Anda adalah ekstremis, sebab Anda tidak memilih untuk setengah kaya atau malah setengah miskin.

Pilih, apakah Anda ingin senang atau menderita?

Anda adalah ekstremis, sebab Anda tidak memilih untuk setengah senang atau malah setengah menderita.

Pilih, apakah Anda ingin berhasil atau gagal?

Anda adalah ekstremis, sebab Anda pasti memilih yang pertama.

Pilih, Anda ingin surga atau neraka?

Anda adalah ekstremis, sebab Anda tidak memilih untuk berada di tengah-tengah dari keduanya, sebab itu hanya untuk orang gila.

Pilih, Anda ingin taqwa atau fujur?

Anda pasti menjawab dengan ekstrem.

Pilih, benar atau salah?

Jelaslah bahwa setiap cita-cita dan setiap tujuan Anda, adalah ekstrem. Dengan ke-ekstrem-an itu, Anda tidak punya pilihan lain kecuali menjadi ekstremis. Anda mau kemana, Jakarta atau Bandung? Anda tak akan bisa menuju ke keduanya di saat yang sama.

Itu sebabnya, "pilihan" adalah kekuatan. Dan, orang-orang yang sukses dan berhasil mengeksekusi ke-ekstrem-an di dalam meraih cita-cita dan menggapai tujuan, dengan bertanya secara ekstrem pula di sepanjang perjalanan:

"Apakah pilihan ini membuat aku sampai ke tujuan?"
"Apakah begini, sikap orang yang bahagia?"
"Apakah keputusan ini, adalah keputusan orang kaya?"
"Apakah tindakan ini akan membuat saya senang?"
"Apakah ini adalah keyakinan orang yang berhasil?"
"Apakah cara ini mengantarkan saya ke surga atau ke neraka?"
"Apakah ketegasan ini menjadikan saya manusia yang taqwa atau fujur?"
"Apakah dengan displin seperti ini, saya akan mendapatkan 25% atau 51%?"

Terhadap semua pertanyaan itu, mereka yang dipastikan akan sukses dan berhasil, adalah mereka yang dengan ekstrem menjawab pilihan, sikap, keputusan, tindakan, keyakinan, cara, ketegasan, dan displin dan lalu menindaklanjutinya dengan pilihan, sikap, keputusan, tindakan, keyakinan, cara, ketegasan, dan disiplin yang juga ekstrem di dalam kehidupan nyata.

Mereka tahu pasti, tanpa ke-ekstrem-an, mereka tak akan mendapatkan apa-apa. Mereka mengerti, tanpa ke-ekstrem-an, mereka tak beranjak dari tempat mereka berdiri. Mereka paham, tanpa ke-ekstrem-an, segala tindakan adalah pemborosan energi yang tersia-sia.

Itulah yang disebut dengan polarisasi alias pengkutuban. Sebuah upaya yang sederhana, untuk menyederhanakan urusan, dengan menyederhanakan pilihan, yaitu dengan mengembalikan segalanya ke fungsi utama dari akal dan pikiran; untuk memilih satu dari dua.

Dengan kenyataan bahwa jalan tercepat untuk mencapai tujuan adalah dengan meniti jalur yang terpendek, tak ada cara lain bagi mereka kecuali menciptakan jalan tercepat dan jalur terpendek itu dengan menjaga polarisasi. Polarisasi adalah bentuk-bentuk pengesktreman dari segala proses agar selalu konsisten berada di sisi jalan yang sama dengan tujuan dan cita-cita. Bahasa kerennya, aligned. Segala yang berjalan tanpa sifat ekstrem, akan memboroskan perjalanan atau bahkan menyesatkan. Semua ketidakekstreman tak akan berjalan dengan lurus menuju tujuan, atau bahkan tidak akan pernah menyampaikan.

Sadarkah kita, bahwa jika tujuan dan cita-cita kita adalah bentuk-bentuk ekstremitas dari dua pilihan, maka itu berarti bahwa tujuan dan cita-cita kita adalah fenomena pikiran? Sadarkah kita bahwa ketika segala hal dimaknai berbeda-beda, maka itu adalah agar semua itu memang berbeda?

Sebagaimana bedanya sukses dari gagal, bedanya bahagia dari menderita, bedanya senang dari sengsara, atau bedanya syurga dari neraka? Sebagaimana tajamnya perbedaan antara 50,99999999999% dan 51%? Sebagaimana sebutan bahwa 100% adalah tercapai dan 99,9999999999% adalah blunder, di mana "nilai" atau "value" adalah logika dan pikiran?

Itu sebabnya, mereka yang sukses dan berhasil selalu menasihatkan kepada kita,

"Untuk sukses dan berhasil, utamakan pikiran."

Tuhan pun, memberi prioritas untuk masuk ke syurga dan bertemu dengan-Nya kepada orang-orang yang berakal dan berpikir.

Jika pikiran - di mana fungsi dasarnya adalah untuk memilih secara ekstrem, adalah fenomena ekstrem, maka bagaimana dengan perasaan?

Nanti kita lanjutkan ke bagian 3.

Selamat kembali ke jati diri makhuk berpikir. Selamat berlatih mengembalikan diri menjadi ekstremis.

Semoga bermanfaat.

Note: Note ini tidak ada dalam buku saya.

Ikhwan Sopa
Master Trainer E.D.A.N.
Founder, Penulis "Manajemen Pikiran Dan Perasaan"