Praktisi Non-Sertifikasi "Manajemen Pikiran Dan Perasaan"

 
Dia menciptakan manusia. Mengajarnya pandai berbicara."
(QS-Ar-Rahman: 3-4)

Dear all, berikut ini adalah sekedar sharing tentang bagaimana menguasai buku dan skill "Manajemen Pikiran Dan Perasaan". Semoga membantu menjadikan kita pembelajar dan praktisi yang bermanfaat bagi diri sendiri, bagi orang lain, dan bagi ibadah kita.Kebenaran hanyalah milik Allah SWT, ini hanya pembelajaran. Saya bukan yang paling ahli dalam skill ini, saya hanya berbagi.

RESET POLARISASI

Setiap kita mempunyai tujuan. Setiap tujuan menentukan jalan. Setiap jalan mendefinisikan diri dan kehidupan. Kita mungkin kurang menyadari, hingga selama ini kita berjalan secara otomatis dan terseok-seok in-track, out-of-track, in-track, out-of-track, in-track, out-of-track dan seterusnya.

Adalah bijaksana jika kita melakukan reset, dengan menetapkan dan menegaskan kembali pilihan dasar kita, misalnya bahagia atau sengsara, senang atau susah, berhasil atau gagal, fujur atau taqwa, dan seterusnya. Begitu pula, tentang pilihan misi hidup kita. Kemudian, tetapkan dan tegaskanlah pada diri kita sendiri, bahwa dengan ini kita telah memantapkan diri untuk meletakkan fisik, pikiran, dan perasaan agar berjalan bersama secara harmonis di jalur yang kita pilih atau "the path" dalam rangka memenuhi harapan dan cita-cita dengan integritas internal.

Note:

1. Pertimbangkan ini, "fitrah" dan "kontrak awal dengan Tuhan".

2. Sebagian orang akan mengatakan bahwa ini adalah sebentuk "pemerkosaan". Bisa jadi, tapi inilah pilihan. Pilihan awal kita. "Manajemen Pikiran Dan Perasaan" adalah sebentuk pilihan untuk menjalani "the path". Dipilih atau tidak, tergantung setiap kita sendiri.

PENDEFINISIAN MAKNA

Setiap kita ingin hidup yang bermakna. "Pemaknaan" dan "memaknai" adalah kata kerja. Makna adalah hasil dari proses-proses. Proses kerja memerlukan alat dan perlengkapan untuk memaknai. Alat dan perlengkapan itu, di antaranya adalah "pikiran" dan "perasaan". Keduanya saling mempengaruhi.

Untuk menjaga kelurusan "the  path" kita butuh secara konsisten dan periodik keluar dan menjadi pengamat atas konsistensi keduanya terhadap "the path". "The path" di-ideal-kan sebagai sesuatu yang lurus. Sebab, waktu kita terbatas. Inilah yang disebut dengan "Manajemen Pikiran Dan Perasaan".

Kita telah lama terampil hidup dengan "perasaan yang mempengaruhi pikiran". Pilihan kita kini adalah berlatih untuk hidup dengan "pikiran yang mempengaruhi perasaan". Dengan keterampilan baru ini, kita bisa berharap bahwa kedua keterampilan ini akan menjadi seimbang. Dengan keseimbangan ini kita dapat berharap makna-makna hidup kita pun menjadi seimbang. Dengan keseimbangan, semoga kita tidak mudah menjadi gamang dalam meniti "the path".

Kita telah terbiasa dengan "perasaan menciptakan pikiran". Pilihan kita kini adalah berlatih membiasakan diri dengan "pikiran menciptakan perasaan". "Makna" adalah "pemaknaan". "Pemaknaan" adalah pelekatan pengertian-pengertian. Pengertian-pengertian kita definisikan secara terbatas dengan nama-nama dan kata-kata alias bahasa. Makna, dimulai dengan "nama" dan "kata".

"Ketika sesuatu bisa dilekati dengan kata, sesuatu itu menjadi ada."

Keberadaan adalah tentang perwujudan-perwujudan. Makna-makna di dalam hidup kita adalah tentang bentuk-bentuk manifestasi alias perwujudan. Dari "tidak ada" menjadi "ada". Dari "belum" menjadi "sudah". Dari "kini" menjadi "akan". Dari "belum tercapai" menjadi "tercapai". Dari "belum menjadi" ke "menjadi". Dari "belum memiliki" menjadi "memiliki". Semua itu, adalah esensi dari setiap tujuan dan cita-cita.

Note:

Pertimbangkan untuk memperbesar peluang ini, "hidayah" dan "ilham".

SIKLUS

Setiap tujuan dicapai dengan bertindak. Di belakang setiap tindakan ada keputusan. Di belakang setiap keputusan ada sikap. Di belakang setiap sikap ada keyakinan. Setiap yang kita pikirkan dan rasakan, disadari atau tidak disadari, selalu ditopang oleh bentuk-bentuk keyakinan. Pikiran dan perasaan adalah dua hal terdekat yang setiap saat berlangsung di dalam diri kita. Kedekatan ini, memungkinkan kita lebih mudah memahami berbagai sinyal terkait dengan kelurusan "the path". Kemudahan ini, dimungkinkan oleh sederhananya tuntutan untuk menangkap sinyal-sinyal tanpa harus berilmu tinggi dan tanpa harus berpengetahuan dalam. Cukup dengan "common sense", cukup dengan "hati nurani". Tuhan Maha Adil, Tuhan Maha Pemurah.

Praktek "Manajemen Pikiran Dan Perasaan" adalah praktek instalasi "belief system". Sebagai beliefs, 35 beliefs dalam ""Manajemen Pikiran Dan Perasaan" erat hubungannya dengan "perasaan" yang saling mempengaruhi satu sama lain. Sebagai "system", 35 beliefs dalam ""Manajemen Pikiran Dan Perasaan" erat hubungannya dengan "pikiran" yang saling mempengaruhi satu sama lain. Sebagai "belief system", 35 beliefs dalam ""Manajemen Pikiran Dan Perasaan" adalah struktur yang mendasari bangunan pikiran dan perasaan di mana kita hidup di dalamnya. Sistem ini idealnya kongruen dan holistik alias menyeluruh.

Satu keyakinan terkait dengan keyakinan yang lain, satu pikiran terpaut dengan pikiran yang lain, dan satu perasaan berhubungan dengan perasaan yang lain. Begitu pula, antar keyakinan, pikiran, dan perasaan itu sendiri. Setiapnya tidak dapat berdiri sendiri, melainkan harus bekerjasama saling mendukung dan saling menguatkan.

Note: Pertimbangkan ini, "iman" dan "akidah".

MODEL

"Manajemen Pikiran Dan Perasaan" dibangun oleh tiga "core beliefs" yang menjadi fondasi "belief system" yang akan diinstall secara keseluruhan, yaitu "diri", "proses, dinamika, dan dunia", dan "sukses, berhasil, dan cita-cita".

The Path: "Diri" --> "Proses, dinamika, dan dunia" --> "Sukses, berhasil, dan cita-cita"

1. Beliefs tentang fenomena "diri sendiri".

Bab 1,3,4,5,21,23,24,29,30 dan 32.

2. Beliefs tentang "proses, dinamika, dan dunia".

Bab 2,6,7,8,9,10,11,14,15,16,17,22,26,27,28,31,33 dan 34.

3. Beliefs tentang "sukses, berhasil, dan cita-cita"

Bab 12,13,18,19,20,25 dan 35.

Note: Pertimbangkan ini,

Asal: Jakarta, Tujuan: Bandung, Rute: Cipularang, Puncak, Purwakarta, atau Cikampek.

FLOW

"Pikiran" dan "Perasaan" adalah "content". "Keyakinan" adalah "energi". Seperti "siaran radio" yang berjalan di atas "gelombang elektromagnetik". Apapun keyakinan, ketika tertuangkan ke dalam kata-kata, ia menjadi produk dari "pikiran", ia menjadi penyederhanaan dari "energi". Itu sebabnya, "content" saja tidak cukup sebab "energi"-nya telah tereduksi ke dalam terbatasnya bahasa dan kemampuan melekatkan pengertian. "Energi" itu bisa diaktifkan kembali alias dikembalikan ke kekuatan asalnya, dengan kombinasi "pikiran" dan "perasaan". Kombinasi itu adalah "keyakinan". Energi itu adalah keyakinan.

Kita hidup di dalam sebuah tempat yang kita sebut dengan dunia. Bekerjasama dengannya-lah, kita menjalani "the path" untuk mencapai tujuan. Kerjasama itu, kita jalani semaksimal mungkin dengan "bahasa yang sama". Bahasa energi, bahasa keyakinan. Kerjasama itu, berbentuk aliran-aliran dan sinkronisasi berbagai hal dan komponen yang menjadi wahana dan jalan bagi kita untuk sampai ke tujuan.

Aliran-aliran keyakinan itu, dapat disederhanakan menjadi aliran keluar dan aliran ke dalam (inflows dan outflows, contoh outflows: "the power of giving", contoh inflows: "the power of doa") dan aliran ke atas dan aliran ke bawah (upstream dan downstream, contoh upstream: "the power of gratitude", contoh downstream: "Tuhan Maha Pengasih Dan Maha Penyayang, Tuhan Maha Adil").

Seluruh aliran itu dieksekusi dengan keharmonisan sikap, keputusan, dan tindakan, di dalam bentuk-bentuk keyakinan, yang identifikasinya adalah "pikiran" dan "perasaan".

Note: Pertimbangkan ini,

- Tuhan, "niat", dan "ibadah".
- "Iman itu setengahnya sabar, setengahnya lagi syukur." (Ibnul Qayyim)
- "Tugas khalifah adalah to uphold the religion and to administer the world." (Yusuf Qardhawi)

CONTOH

Seseorang menyuntikkan ke dalam dirinya keyakinan "saya bisa" (Bab 25 "Jika Kita Butuh Maka Kita Mampu"). Untuk mempermudah, ia menilai keyakinan itu dengan skala 9 (dalam 1-10). Kemudian, keyakinan itu diuji oleh kehidupan di dunia nyata. Keyakinan itu runtuh. Mengapa?

Sebenarnya, keyakinan itu tak pantas runtuh karena itu sama saja dengan mengganti keyakinan di polaritas yang berseberangan, yaitu "saya tidak bisa" (kecuali yang diinginkannya memang mustahil adanya, ingat lagi "common sense"). Keyakinan itu lebih patut dipertahankan, dengan mengaktivasi keyakinan yang menjadi pendukungnya, misalnya:

- Bab 18 "Mengapa Tindakan Dibutuhkan"
- Bab 27 "Sabar, Syukur, dan Menerima Adalah Stamina"
- Bab 29 "Tak Ada yang Salah, yang Ada Pelajaran"
- Bab 30 "Tak Ada Gagal, yang Ada Umpan Balik"

Orang itu lebih pantas mempertanyakan, apakah dalam hal keyakinan-keyakinan yang disebutkan itu, ia juga dapat menilai bahwa semua itu berskala 9 atau yang mendekati, atau malah bermagnitude 6 ke bawah? Dia cukup pantas bertanya, tidakkah cukup janggal, untuk berhadapan dengan segala hal di wilayah core beliefs "proses, dinamika, dan dunia" dan "sukses, berhasil, dan cita-cita", tapi dengan hanya mengandalkan modal dari core beliefs "diri"? Bukankah itu tidak nyambung dan terlalu lemah kekuatannya?

LATIHAN AWAL

Siapkan kertas dan tuliskan yang berikut ini:

- Urutkan berdasarkan tingkat keyakinan, dari yang "paling yakin" menuju yang "paling kurang yakin", setiap keyakinan di dalam masing-masing kelompok "core beliefs". Jika mungkin berilah skala kuantitatifnya, supaya lebih mudah dianalisis.

- Cerminkan ke dalam hidup kita, dan temukanlah refleksinya dalam berbagai bentuk "keberhasilan", "pencapaian", "kelemahan", "kendala", "hambatan", "masalah", dan sebagainya.

- Temukanlah hubungan-hubungan di antara berbagai keyakinan, yang saling menguatkan dan yang saling melemahkan karena intensitas energinya (kuat atau lemah).

END NOTE

Jika Anda mempertanyakan semua ini, keyakinan apakah yang ada di balik pertanyaan Anda?

"Feeling bad is a good thing. Negative feelings mean you’re going the wrong way." (SP)

Note ini tidak ada di buku saya.

Semoga bermanfaat.

Ikhwan Sopa
Master Trainer E.D.A.N.
Founder http://pikiranperasaan.org/
Penulis "Manajemen Pikiran Dan Perasaan"