Lima Hal Penting Dari Kegagalan


Kegagalan itu sederhana. Kita melakukan sesuatu, dan kemudian kita belum mendapatkan hasil sebagaimana yang kita iinginkan.

Segera setelah sebuah kegagalan menjadi kenyataan, reaksi alamiah dari mentalitas manusiawi kita adalah tidak langsung mempercayai kegagalan itu sebagai kenyataan kehidupan.

Reaksi ini membuat kita "melontarkan diri" keluar dari kenyataan untuk sementara, sebagaimana seorang pilot pesawat jet tempur melontarkan dirinya keluar setelah mengetahui bahwa pesawatnya akan jatuh.

Di fase ini, ada lima hal paling penting yang perlu kita pahami terkait dengan kegagalan. Lima hal ini adalah opsi-opsi terakhir dan sekaligus awal yang dapat kita pilih untuk memaknai kegagalan. Opsi-opsi ini menjadi titik-titik balik dalam siklus kreasi kehidupan yang kita lakukan selanjutnya.

Pertama, Menolak

Jika kita menolak kegagalan, maka kita telah menghilangkan gagang pintu untuk kembali ke dunia nyata. Kita akan terjebak membuang waktu di dalam ilusi-ilusi yang menyakitkan, dan kita menggeser realitas kehidupan keluar dari jalur yang kita tetapkan sebelumnya tentang arah hidup kita.

Ciri penolakan adalah tidak mengakui keberadaan kegagalan, dan terus berupaya dengan sia-sia. Kita membolos dari sekolah kehidupan, berkeliaran di luar pagar dan gerbang.

Kedua, Menghindar

Jika kita menghindari kegagalan, maka kita telah menyerahkan anak kunci pintu itu kepada orang lain. Kita akan menyerahkan pembentukan dan pembangunan realitas kehidupan kita selanjutnya kepada pihak-pihak yang bukan kita. Kita juga menggeser realitas kehidupan keluar dari jalur yang kita tetapkan sebelumnya.

Ciri penghindaran adalah berusaha melupakan kegagalan, tanpa membawa hikmah dan pembelajaran. Kita tidak membolos sekolah, tapi di luar kelas.

Ketiga, Menerima

Jika kita menerima kegagalan, maka kita telah secara langsung membuka pintu itu dan kembali masuk ke dalam realitas kehidupan kita. Kita menjadi manusia yang memiliki niat dan kemauan untuk bertanggungjawab dalam mengkreasi kehidupan kita sendiri, sesuai jalur yang kita tetapkan sebelumnya.

Setelah tiba di dunia nyata kembali, segala hal pada dasarnya telah kembali pula berada dalam genggaman tangan kita.

Dengan menerima, kita akan segera menyadari, bahwa hidup kita telah menjadi managable lagi.

Keempat, Diam

Menerima saja tidak cukup. Jika kita diam setelah mengalami kegagalan, maka kita membiarkan diri kita tenggelam di dalam kenyataan. Artinya, kita menciptakan realitas kehidupan yang tenggelam.

Kelima, Bertindak

Jika kita bertindak setelah mengalami kegagalan, maka kita langsung melatih kembali segala kekuatan dan kemampuan. Ini berarti, kita telah mengembalikan semangat kehidupan. Ini berarti, kita telah mengembalikan mentalitas yang sesuai dengan tuntutan jalur kehidupan yang telah kita tetapkan sebelumnya. Kita kembali di jalur dengan panel penunjuk energi yang "full" lagi.

Bisakah kegagalan dihindari? Tidak. Itulah caranya kita belajar. Tak ada manusia yang seratus persen berhasil dalam apapun yang dikerjakannya. Ini masih dunia, bukan surga.

Jika lima hal di atas masih cukup sulit untuk kita mengerti, mungkin kita perlu membaca ini:


Semoga bermanfaat,

Ikhwan Sopa
Master Trainer E.D.A.N.