Lima Hal Penting Dari Kegagalan


Kegagalan itu sederhana. Kita melakukan sesuatu, dan kemudian kita belum mendapatkan hasil sebagaimana yang kita iinginkan.

Segera setelah sebuah kegagalan menjadi kenyataan, reaksi alamiah dari mentalitas manusiawi kita adalah tidak langsung mempercayai kegagalan itu sebagai kenyataan kehidupan.

Reaksi ini membuat kita "melontarkan diri" keluar dari kenyataan untuk sementara, sebagaimana seorang pilot pesawat jet tempur melontarkan dirinya keluar setelah mengetahui bahwa pesawatnya akan jatuh.

Di fase ini, ada lima hal paling penting yang perlu kita pahami terkait dengan kegagalan. Lima hal ini adalah opsi-opsi terakhir dan sekaligus awal yang dapat kita pilih untuk memaknai kegagalan. Opsi-opsi ini menjadi titik-titik balik dalam siklus kreasi kehidupan yang kita lakukan selanjutnya.

Pertama, Menolak

Jika kita menolak kegagalan, maka kita telah menghilangkan gagang pintu untuk kembali ke dunia nyata. Kita akan terjebak membuang waktu di dalam ilusi-ilusi yang menyakitkan, dan kita menggeser realitas kehidupan keluar dari jalur yang kita tetapkan sebelumnya tentang arah hidup kita.

Ciri penolakan adalah tidak mengakui keberadaan kegagalan, dan terus berupaya dengan sia-sia. Kita membolos dari sekolah kehidupan, berkeliaran di luar pagar dan gerbang.

Kedua, Menghindar

Jika kita menghindari kegagalan, maka kita telah menyerahkan anak kunci pintu itu kepada orang lain. Kita akan menyerahkan pembentukan dan pembangunan realitas kehidupan kita selanjutnya kepada pihak-pihak yang bukan kita. Kita juga menggeser realitas kehidupan keluar dari jalur yang kita tetapkan sebelumnya.

Ciri penghindaran adalah berusaha melupakan kegagalan, tanpa membawa hikmah dan pembelajaran. Kita tidak membolos sekolah, tapi di luar kelas.

Ketiga, Menerima

Jika kita menerima kegagalan, maka kita telah secara langsung membuka pintu itu dan kembali masuk ke dalam realitas kehidupan kita. Kita menjadi manusia yang memiliki niat dan kemauan untuk bertanggungjawab dalam mengkreasi kehidupan kita sendiri, sesuai jalur yang kita tetapkan sebelumnya.

Setelah tiba di dunia nyata kembali, segala hal pada dasarnya telah kembali pula berada dalam genggaman tangan kita.

Dengan menerima, kita akan segera menyadari, bahwa hidup kita telah menjadi managable lagi.

Keempat, Diam

Menerima saja tidak cukup. Jika kita diam setelah mengalami kegagalan, maka kita membiarkan diri kita tenggelam di dalam kenyataan. Artinya, kita menciptakan realitas kehidupan yang tenggelam.

Kelima, Bertindak

Jika kita bertindak setelah mengalami kegagalan, maka kita langsung melatih kembali segala kekuatan dan kemampuan. Ini berarti, kita telah mengembalikan semangat kehidupan. Ini berarti, kita telah mengembalikan mentalitas yang sesuai dengan tuntutan jalur kehidupan yang telah kita tetapkan sebelumnya. Kita kembali di jalur dengan panel penunjuk energi yang "full" lagi.

Bisakah kegagalan dihindari? Tidak. Itulah caranya kita belajar. Tak ada manusia yang seratus persen berhasil dalam apapun yang dikerjakannya. Ini masih dunia, bukan surga.

Jika lima hal di atas masih cukup sulit untuk kita mengerti, mungkin kita perlu membaca ini:


Semoga bermanfaat,

Ikhwan Sopa
Master Trainer E.D.A.N.

Nasehat Bijak Ayah Dan Ibu - Sebarluaskan!


Monggo silahkan kemari:

http://www.facebook.com/pages/Nasehat-Bijak-Ayah-Dan-Ibu/189264121126405

Praktisi Non-Sertifikasi "Manajemen Pikiran Dan Perasaan" (3)


"(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri, (yaitu) orang-orang yang kikir dan menyuruh manusia berbuat kikir. Dan barangsiapa yang berpaling (dari perintah-perintah Allah) maka sesungguhnya Allah Dia-lah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji."
(QS-57:23-24)

"Ketika kita lahir, kita menangis kencang dan bukan langsung bermain catur."
-Ikhwan Sopa-

"Pikiran mengkreasi rasa, dan rasa mempengaruhi pikiran."
-Ikhwan Sopa-

"Feeling bad is a good thing. Negative feelings mean you’re going the wrong way."
-Steve Pavlina-

Dear all, note ini adalah bagian ketiga dari dua tulisan sebelumnya. Setelah note ini, kita akan bersama-sama masuk ke wilayah seni alias art alias skill, yaitu dengan melakukan "putting it together" dalam kehidupan nyata. Ini bisa kita lakukan dalam bentuk diskusi, studi kasus, atau tanya jawab, sehingga kita dapat sama-sama belajar tentang "Manajemen Pikiran Dan Perasaan".

Kali ini, kita akan memasuki "Manajemen Perasaan". Sebelum itu, saya akan ringkaskan terlebih dahulu note dan sharing saya sebelumnya, tentang "Manajemen Pikiran".

1. Pentingnya Me-Reset Polarisasi Pikiran
http://blog.qacomm.com/2011/05/praktisi-non-sertifikasi-manajemen.html

2. Bagaimana Mengkreasi Polarisasi Pikiran
http://blog.qacomm.com/2011/05/praktisi-non-sertifikasi-manajemen_26.html

3. Bagaimana Melakukan Life Edit alias Mengoreksi Sejarah Kehidupan
Anak buku (pdf) yang bisa didownload di: http://pikiranperasaan.org

4. Bagaimana Mengkreasi Makna-Makna Kehidupan
Audio Talkshow (mp3) yang bisa didengar di: http://pikiranperasaan.org

5. Bagaimana Pikiran Mempengaruhi Perasaan
http://blog.qacomm.com/2011/05/bagaimana-pikiran-mempengaruhi-perasaan.html

Dan sekarang,

6. Bagaimana Melakukan "Manajemen Perasaan"

Secara sederhana, kita dapat mengatakan bahwa perasaan adalah bahasa pikiran yang sudah sampai ke dunia fisik. Dari sinilah, kita dapat mengatakan bahwa "pikiran mengkreasi perasaan". Maka, apa yang berikutnya berlangsung adalah "perasaan yang mengarahkan pikiran".

"Pikiran" adalah proses kreatif, yang dengan demikian kita dapat mengatakan bahwa "pikiran dapat dikreasi". Maka jika "perasaan adalah hasil kreasi dari pikiran", kita juga dapat mengatakan, bahwa dalam konteks manusia dewasa, yang memahami segala proses dalam poin 1 sampai dengan 5 di atas, "perasaan juga dapat dikreasi" alias kita dapat mengatakan tentang adanya "Manajemen Perasaan".

Dalam pemahaman tentang keberadaan siklus "pikiran mengkreasi perasaan dan perasaan mengarahkan pikiran", kita menemukan dua hal yang sangat mendasar, yaitu:

Pikiran Mengkreasi Perasaan Adalah Proses Aktif

Bahwasanya pikiran diposisikan sebagai sebab bagi adanya perasaan. Artinya, proses kreasi ini adalah sebentuk proses kreasi yang aktif sifatnya. Dengan kata lain, proses kreasi ini perlu ditempatkan sebagai proses yang berjalan di tingkat kesadaran. Dalam kenyataannya, kita sering lupa sehingga proses berpikir menjadi kebiasaan-kebiasaan berpikir yang membangun pola-pola pikir. Apa yang perlu kita lakukan, adalah secara konsisten menyadari segala proses pikiran ini.

Perasaan Mengarahkan Pikiran Adalah Proses Reaktif

Awalnya, perasaan muncul seolah "tanpa dipikirkan terlebih dahulu". Ini dapat terjadi karena kebiasaan berpikir dan kebiasaan merasakan yang kita kembangkan dan berjalan di bawah tingkat kesadaran alias otomatis. Kita tidak dapat menyalahkan sejarah alamiah kehidupan kita yang dimulai dengan "menangis". Itu sebabnya, segala agama, ideologi, dan budaya, memberikan permakluman dalam banyak bentuk tentang masa-masa awal dari kehidupan kita:

- Di bawah umur
- Belum akil baligh
- Masih belum berdosa
- Polos
- dan seterusnya

Pada suatu titik (mukallaf, sadar hukum, dewasa, dan sebagainya), sesungguhnyalah semua ajaran kebaikan meminta kita untuk mulai memasuki alam kesadaran tentang segala proses termasuk tentang proses "merasakan".

Itu sebabnya, kita menyebut proses "Manajemen Perasaan" sebagai sebuah proses yang reaktif di mana perasaan mengarahkan pikiran. Oleh sebab itu, apa yang penting bagi kehidupan seorang manusia dewasa yang telah menetapkan tujuan dan cita-cita dan sekaligus berkeinginan mencapainya di dalam waktu hidupnya yang terbatas, adalah mengembalikan proses itu ke wilayah kesadaran. Alias, mengembalikan kendali kepada pikiran.

Ketika perasaan muncul, pertanyaan penting yang perlu dilontarkan adalah:

- Mau dibawa kemana saya dengan perasaan ini?
- Hendak kemana pikiran saya diarahkan oleh perasaan ini?
- Adakah arah itu, akan tetap membuat saya menuju kepada tujuan dan cita-cita saya, yang dicapai dengan sikap, keputusan, dan tindakan, yang erat hubungannya dengan pilihan-pilihan, di mana "pilihan" adalah fenomena pikiran?

Tidak mudah untuk melakukan dan menjawab semua pertanyaan di atas, terlebih lagi jika selama ini, kita terlanjur menjadikan perasaan sebagai "sopir" bagi kehidupan kita. Kita tahu, "perasaan" hobinya jumpalitan. Itu sebabnya, pada saat yang sama, kita memerlukan "Manajemen Pikiran" dan sekaligus juga "Manajemen Perasaan", alias "Manajemen Pikiran Dan Perasaan".

Sikap Awal

Perasaan adalah respon terhadap pikiran, alias hasil kreasi pikiran. Kemudian, perasaan adalah umpan balik bagi pikiran. Dengan demikian, kelanjutan idealnya adalah pikiran yang mengkreasi perasaan, sehingga pikiran dan perasaan bergandeng tangan melenggang menuju cita-cita dan tujuan di dalam siklus harmonis yang saling mempengaruhi dan saling menguatkan, dan bukan sebaliknya saling melemahkan.

Perasaan tidak nyaman adalah sinyal, yang mengatakan tentang adanya kemungkinan bahwa kita tidak sedang berada di jalan dan arah menuju cita-cita dan tujuan. Dalam bahasa sehari-hari, perasaan adalah sinyal bahwa kita sedang tidak mendapatkan apa-apa yang kita inginkan. Sebaliknya, perasaan nyaman atau enak, adalah sinyal bahwa kita sedang berada di jalan dan arah yang benar, atau kita sedang mendapatkan yang kita inginkan. Itu sebabnya, perasaan perlu disikapi sebagai mekanisme umpan balik bagi pikiran.

Note: Validitas dari sinyal tidak nyaman atau nyaman itu, ditentukan oleh polarisasi pikiran yang telah memilih cita-cita dan tujuan atau yang telah menentukan apa yang kita inginkan.

Dengan kata lain, perasaan adalah sinyal bagi kita untuk menentukan tindak lanjut berupa sikap, keputusan, dan tindakan. Sebelum ditindak lanjuti, perasaan itu perlu divalidasi kesesuaiannya dengan cita-cita dan tujuan, atau dengan keinginan.

Kita berfokus pada perasaan tidak nyaman, karena perasaan semacam inilah yang sering menjadi persoalan di dalam kehidupan. Kita berlatih memvalidasinya. Hal ini dilakukan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan.

"Saya merasa seperti ini karena saya berpikir bahwa..."
"Saya berpikir demikian karena sebelumnya saya merasa..."
"Saya merasakan itu karena saya berpikir bahwa..."

Demikian seterusnya, hingga kita menemukan "pikiran awal" yang menjadi sebab bagi perasaan kita.

Langkah berikutnya adalah memvalidasi pikiran awal itu tentang kesesuaiannya dengan "polarisasi pikiran" yang menjadi skenario besar tentang tujuan dan cita-cita atau keinginan. Validasi ini dilakukan dengan bertanya,

"Apakah pikiran yang demikian adalah pikiran yang sesuai dengan tujuan, cita-cita, dan keinginan saya?"

Sangat mungkin, pikiran itu perlu dipikirkan ulang, alias dikreasi ulang menjadi bentuk-bentuk pikiran yang kita anggap menyampaikan kita ke tujuan, cita-cita, dan keinginan. Atau bahkan, pikiran itu perlu disingkirkan jauh-jauh dan digantikan dengan pikiran lain yang lebih selaras dengan skenario besar "polarisasi pikiran".

Di titik ini, diri kita mulai ter-disasosiasi dari perasaan yang membelenggu. Langkah selanjutnya adalah menggeser perasaan alias mengkreasi perasaan yang baru. Ini bisa dilakukan dengan menantang diri sendiri,

"Jika saya menindaklanjuti pikiran yang baru ini dengan bersikap... memutuskan... dan bertindak..., maka perasaan saya akan menjadi..."

Di titik ini, kita mengupayakan secara maksimal untuk menjadi ter-asosiasi penuh ke dalam perasaan yang baru, yaitu perasaan yang selaras dengan skenario besar "polarisasi pikiran". Maka setelah itu, sikap, keputusan, dan tindakan akan menjadi lebih mudah, efisien, dan efektif diimplementasikan.

Titik kritis kita ada pada konteks "asosiasi dan disasosiasi" ini. Tantangan terbesar kita ada di sini. Tanpa kita menjadi ter-disasosiasi dari perasaan yang tidak nyaman, akan sulit bagi kita untuk mengimplementasikan sikap, keputusan, dan tindakan yang sesuai dengan skenario besar "polarisasi pikiran". Dalam konteks inilah, para pakar mengungkapkan tentang "tegas", "ekstrem", "total", "tega", "keras", "ketat", "massive", dan sebagainya.

Di akhir note ini, saya sharing kesimpulan terpentingnya, yaitu "posisikan dan afirmasikan perasaan sebagai umpan balik bagi pikiran." Latihlah teknik W.A.I.T alias "What Am I Thinking", biasakan untuk menunda sebentar sikap, keputusan, dan tindakan yang diinspirasikan oleh perasaan.

Bagaimana hubungan semua ini dengan 35 poin keyakinan dalam buku "Manajemen Pikiran Dan Perasaan"?

Silahkan lanjutkan ke sini:

http://blog.qacomm.com/2011/06/teaser-buku-manajemen-pikiran-dan.html

Semoga bermanfaat.

Note: Note ini tidak ada dalam buku saya.

Ikhwan Sopa
Master Trainer E.D.A.N.
Founder, Penulis "Manajemen Pikiran Dan Perasaan"

Praktisi Non-Sertifikasi "Manajemen Pikiran Dan Perasaan" (2)

"Anda harus memilih dengan ekstrem, mau ke kanan atau mau ke kiri. Anda tidak bisa berdiri di tengah dalam keraguan dan hanya diam mengelus-elus tiang."
-Ikhwan Sopa-

Dear all, note ini adalah lanjutan dari note sebelumnya:

Praktisi Non-Sertifikasi "Manajemen Pikiran Dan Perasaan":
http://blog.qacomm.com/2011/05/praktisi-non-sertifikasi-manajemen.html

Polarisasi Pikiran: Starting The Powerful Engine Of Life

Sahabat, tahukah Anda bahwa nyaris setiap orang yang sukses dan berhasil, adalah mereka yang dulunya menderita? Lebih dari itu, jika mereka lahir tidak dalam keadaan menderita, mereka bahkan menciptakan penderitaan mereka sendiri sebagai jalan menuju kesuksesan dan keberhasilan.

(Sekedar untuk memperjelas bedanya orang yang lahir kaya dan sukses dari orang yang lahir kaya tapi tidak sukses, silahkan bandingkan fenomena Ivanka Trump versus Paris Hilton.)

Bagi sebagian besar mereka yang pada akhirnya mencapai sukses dan berhasil, penderitaan mereka itu dulu, mereka persepsi sebagai penderitaan yang luar biasa. Dengan kata lain, bagi mereka, penderitaan mereka itu mereka golongkan sebagai situasi yang "ekstrem". Dengan ke-ekstrem-an itu, mereka lalu menciptakan fenomena ekstrem yang sebaliknya.

Jika Anda mendengar kata "ekstrem", apa yang terbersit di kepala Anda? Baik? Buruk?

Sadarkah kita, bahwa nyaris setiap mereka yang sukses dan berhasil, adalah mereka yang memposisikan dirinya sebagai ekstremis terhadap diri mereka sendiri?

Jika mereka ditanya apa resep kesuksesan dan keberhasilan mereka, mereka akan menjawab dengan ke-esktrem-an-ke-ekstrem-an yang berikut ini:

- Kerja keras
- Pantang menyerah
- Disiplin
- Siap menderita
- Tegas
- Militan
- Total
- Habis-habisan
- Mendahulukan orang lain
- Penuh semangat
- Tahan banting
- Taking massive action

...dan seterusnya...

Dan mari kita perhatikan, betapa ekstrem-nya ungkapan-ungkapan mereka yang sukses dan berhasil dengan kata-kata yang bold, dan italic di bawah ini.

"Sekiranya hari kiamat hendak terjadi, sedangkan di tangan salah seorang diantara kalian ada bibit kurma maka apabila dia mampu menanam sebelum terjadi kiamat maka hendaklah dia menanamnya."
(HR. Imam Ahmad 3/183, 184, 191, Imam Ath-Thayalisi no.2078, Imam Bukhari di kitab Al-Adab Al-Mufrad no. 479 dan Ibnul Arabi di kitabnya Al-Mu’jam 1/21 dari hadits Hisyam bin Yazid dari Anas Rodhiyallohu ‘Anhu)

"Always bear in mind that your own resolution to succeed is more important than any other."
-Abraham Lincoln-

"Flaming enthusiasm, backed up by horse sense and persistence, is the quality that most frequently makes for success."
-Dale Carnegie-

"Formula for success: rise early, work hard, strike oil."
-J. Paul Getty-

"I've failed over and over and over again in my life and that is why I succeed."
-Michael Jordan-

"Success consists of going from failure to failure without loss of enthusiasm."
-Winston Churchill-

"Success is falling nine times and getting up ten."
-Jon Bon Jovi-

"Try not to become a man of success, but rather try to become a man of value."
-Albert Einstein-

"What is success? I think it is a mixture of having a flair for the thing that you are doing; knowing that it is not enough, that you have got to have hard work and a certain sense of purpose."
-Margaret Thatcher-

"Winning isn't everything, it's the only thing."
-Vince Lombardi-

"Ambition is an idol, on whose wings great minds are carried only to extreme; to be sublimely great or to be nothing."
-Shakti Gawain-

"Be bold. If you're going to make an error, make a doozy, and don't be afraid to hit the ball."
Billie Jean King

"Extreme hopes are born from extreme misery."
-Bertrand Russell-

"Those who dare to fail miserably can achieve greatly."
-John F. Kennedy-

"If you set out to be liked, you would be prepared to compromise on anything at any time, and you would achieve nothing."
-Margaret Thatcher-

"If you are going to achieve excellence in big things, you develop the habit in little matters. Excellence is not an exception, it is a prevailing attitude."
-Colin Powell-

"You cannot expect to achieve new goals or move beyond your present circumstances unless you change."
Les Brown

"To turn really interesting ideas and fledgling technologies into a company that can continue to innovate for years, it requires a lot of disciplines."
-Steve Jobs-

"Mau jadi orang sukses harus cari kegagalan, karena kegagalan akan membuat kita belajar untuk masa depan."
-Bob Sadino-

"Bagi saya bisnis itu adalah survival mode."
-Sandiaga Salahuddin Uno-

"Orang yang tidak tegas memilih tindakan yang baik baginya, sesungguhnya sedang tegas membiarkan dirinya tersiksa dalam keraguan dan rendahnya rasa hormat terhadap diri sendiri."
-Mario Teguh-

"Jujur itu tegas, ya adalah ya dan tidak adalah tidak dan segeralah ."
-Mario Teguh- 

" Kalau mau berhasil menjadi leader, kita harus bisa menjadi hamba, melayani, dan memberi."
-Ciputra-

"We must all suffer one of two things: the pain of discipline or the pain of regret or disappointment."
Jim Rohn

Maka, mulailah kita menyadari, bahwa fenomena sukses dan berhasil adalah fenomena ekstremis. Secara khusus, mereka hendak mengatakan begini:

"Jika engkau ingin sukses dan berhasil, jadilah ekstremis bagi diri sendiri!"

Pertanyaan kita tentunya, se-ekstrem apa, ekstrem yang bagaimana, dan ekstrem dalam hal apa?

Sadarilah, bahwa setiap kita saat ini dan hari ini, adalah para ekstremis-ekstremis potensial. Sekali lagi, setiap kita.

Pilih, apakah Anda ingin bahagia atau sengsara?

Anda adalah ekstremis, sebab Anda tidak memilih untuk setengah bahagia atau malah setengah sengsara.

Pilih, apakah Anda ingin kaya atau miskin?

Anda adalah ekstremis, sebab Anda tidak memilih untuk setengah kaya atau malah setengah miskin.

Pilih, apakah Anda ingin senang atau menderita?

Anda adalah ekstremis, sebab Anda tidak memilih untuk setengah senang atau malah setengah menderita.

Pilih, apakah Anda ingin berhasil atau gagal?

Anda adalah ekstremis, sebab Anda pasti memilih yang pertama.

Pilih, Anda ingin surga atau neraka?

Anda adalah ekstremis, sebab Anda tidak memilih untuk berada di tengah-tengah dari keduanya, sebab itu hanya untuk orang gila.

Pilih, Anda ingin taqwa atau fujur?

Anda pasti menjawab dengan ekstrem.

Pilih, benar atau salah?

Jelaslah bahwa setiap cita-cita dan setiap tujuan Anda, adalah ekstrem. Dengan ke-ekstrem-an itu, Anda tidak punya pilihan lain kecuali menjadi ekstremis. Anda mau kemana, Jakarta atau Bandung? Anda tak akan bisa menuju ke keduanya di saat yang sama.

Itu sebabnya, "pilihan" adalah kekuatan. Dan, orang-orang yang sukses dan berhasil mengeksekusi ke-ekstrem-an di dalam meraih cita-cita dan menggapai tujuan, dengan bertanya secara ekstrem pula di sepanjang perjalanan:

"Apakah pilihan ini membuat aku sampai ke tujuan?"
"Apakah begini, sikap orang yang bahagia?"
"Apakah keputusan ini, adalah keputusan orang kaya?"
"Apakah tindakan ini akan membuat saya senang?"
"Apakah ini adalah keyakinan orang yang berhasil?"
"Apakah cara ini mengantarkan saya ke surga atau ke neraka?"
"Apakah ketegasan ini menjadikan saya manusia yang taqwa atau fujur?"
"Apakah dengan displin seperti ini, saya akan mendapatkan 25% atau 51%?"

Terhadap semua pertanyaan itu, mereka yang dipastikan akan sukses dan berhasil, adalah mereka yang dengan ekstrem menjawab pilihan, sikap, keputusan, tindakan, keyakinan, cara, ketegasan, dan displin dan lalu menindaklanjutinya dengan pilihan, sikap, keputusan, tindakan, keyakinan, cara, ketegasan, dan disiplin yang juga ekstrem di dalam kehidupan nyata.

Mereka tahu pasti, tanpa ke-ekstrem-an, mereka tak akan mendapatkan apa-apa. Mereka mengerti, tanpa ke-ekstrem-an, mereka tak beranjak dari tempat mereka berdiri. Mereka paham, tanpa ke-ekstrem-an, segala tindakan adalah pemborosan energi yang tersia-sia.

Itulah yang disebut dengan polarisasi alias pengkutuban. Sebuah upaya yang sederhana, untuk menyederhanakan urusan, dengan menyederhanakan pilihan, yaitu dengan mengembalikan segalanya ke fungsi utama dari akal dan pikiran; untuk memilih satu dari dua.

Dengan kenyataan bahwa jalan tercepat untuk mencapai tujuan adalah dengan meniti jalur yang terpendek, tak ada cara lain bagi mereka kecuali menciptakan jalan tercepat dan jalur terpendek itu dengan menjaga polarisasi. Polarisasi adalah bentuk-bentuk pengesktreman dari segala proses agar selalu konsisten berada di sisi jalan yang sama dengan tujuan dan cita-cita. Bahasa kerennya, aligned. Segala yang berjalan tanpa sifat ekstrem, akan memboroskan perjalanan atau bahkan menyesatkan. Semua ketidakekstreman tak akan berjalan dengan lurus menuju tujuan, atau bahkan tidak akan pernah menyampaikan.

Sadarkah kita, bahwa jika tujuan dan cita-cita kita adalah bentuk-bentuk ekstremitas dari dua pilihan, maka itu berarti bahwa tujuan dan cita-cita kita adalah fenomena pikiran? Sadarkah kita bahwa ketika segala hal dimaknai berbeda-beda, maka itu adalah agar semua itu memang berbeda?

Sebagaimana bedanya sukses dari gagal, bedanya bahagia dari menderita, bedanya senang dari sengsara, atau bedanya syurga dari neraka? Sebagaimana tajamnya perbedaan antara 50,99999999999% dan 51%? Sebagaimana sebutan bahwa 100% adalah tercapai dan 99,9999999999% adalah blunder, di mana "nilai" atau "value" adalah logika dan pikiran?

Itu sebabnya, mereka yang sukses dan berhasil selalu menasihatkan kepada kita,

"Untuk sukses dan berhasil, utamakan pikiran."

Tuhan pun, memberi prioritas untuk masuk ke syurga dan bertemu dengan-Nya kepada orang-orang yang berakal dan berpikir.

Jika pikiran - di mana fungsi dasarnya adalah untuk memilih secara ekstrem, adalah fenomena ekstrem, maka bagaimana dengan perasaan?

Nanti kita lanjutkan ke bagian 3.

Selamat kembali ke jati diri makhuk berpikir. Selamat berlatih mengembalikan diri menjadi ekstremis.

Semoga bermanfaat.

Note: Note ini tidak ada dalam buku saya.

Ikhwan Sopa
Master Trainer E.D.A.N.
Founder, Penulis "Manajemen Pikiran Dan Perasaan"

"Manajemen Pikiran Dan Perasaan": Bedah Buku Dan Seminar Introduksi


Dear all, berikut ini kami informasikan event kami berikutnya.

Bedah Buku Dan Seminar Introduksi "Manajemen Pikiran Dan Perasaan"

Hari/tanggal :
Sabtu, 28 Mei 2011

Waktu :
15.00 WIB s/d selesai

Tempat :
Telaga Sea Food, BSD City (Dekat BSD Junction)

Kontribusi:
Rp 50.000,- per orang

Registrasi:
Novi atau Lisa - 021-5529959

Transfer:
BCA 7120 247 977 an. Agustinus Stephan Susanto atau
Mandiri 155 000 249 2158 an. Agustinus Stephan Susanto

 
Acara:
Bedah Buku dan Seminar Introduksi, bersama Ikhwan Sopa, penulis buku "Manajemen Pikiran Dan Perasaan".

Info tambahan.

Bagaimana Pikiran Mempengaruhi Perasaan:
http://blog.qacomm.com/2011/05/bagaimana-pikiran-mempengaruhi-perasaan.html

Format Bedah Buku "Manajemen Pikiran Dan Perasaan":
http://blog.qacomm.com/2011/05/format-bedah-buku-manajemen-pikiran-dan.html

Tips Membaca Buku "Manajemen Pikiran Dan Perasaan":
http://blog.qacomm.com/2011/04/tips-membaca-buku-manajemen-pikiran-dan.html

"Manajemen Pikiran Dan Perasaan" - Why?:
http://blog.qacomm.com/2011/04/manajemen-pikiran-dan-perasaan-why.html

Free ebook Anak Buku "Manajemen Pikiran Dan Perasaan" dan Audio Streaming "Manajemen Pikiran Dan Perasaan":
http://qacomm.com/docs/Manajemen-Pikiran-Dan-Perasaan.pdf

Demikian, semoga bermanfaat.

Terimakasih, tetap semangaat!

Ikhwan Sopa

Praktisi Non-Sertifikasi "Manajemen Pikiran Dan Perasaan"

 
Dia menciptakan manusia. Mengajarnya pandai berbicara."
(QS-Ar-Rahman: 3-4)

Dear all, berikut ini adalah sekedar sharing tentang bagaimana menguasai buku dan skill "Manajemen Pikiran Dan Perasaan". Semoga membantu menjadikan kita pembelajar dan praktisi yang bermanfaat bagi diri sendiri, bagi orang lain, dan bagi ibadah kita.Kebenaran hanyalah milik Allah SWT, ini hanya pembelajaran. Saya bukan yang paling ahli dalam skill ini, saya hanya berbagi.

RESET POLARISASI

Setiap kita mempunyai tujuan. Setiap tujuan menentukan jalan. Setiap jalan mendefinisikan diri dan kehidupan. Kita mungkin kurang menyadari, hingga selama ini kita berjalan secara otomatis dan terseok-seok in-track, out-of-track, in-track, out-of-track, in-track, out-of-track dan seterusnya.

Adalah bijaksana jika kita melakukan reset, dengan menetapkan dan menegaskan kembali pilihan dasar kita, misalnya bahagia atau sengsara, senang atau susah, berhasil atau gagal, fujur atau taqwa, dan seterusnya. Begitu pula, tentang pilihan misi hidup kita. Kemudian, tetapkan dan tegaskanlah pada diri kita sendiri, bahwa dengan ini kita telah memantapkan diri untuk meletakkan fisik, pikiran, dan perasaan agar berjalan bersama secara harmonis di jalur yang kita pilih atau "the path" dalam rangka memenuhi harapan dan cita-cita dengan integritas internal.

Note:

1. Pertimbangkan ini, "fitrah" dan "kontrak awal dengan Tuhan".

2. Sebagian orang akan mengatakan bahwa ini adalah sebentuk "pemerkosaan". Bisa jadi, tapi inilah pilihan. Pilihan awal kita. "Manajemen Pikiran Dan Perasaan" adalah sebentuk pilihan untuk menjalani "the path". Dipilih atau tidak, tergantung setiap kita sendiri.

PENDEFINISIAN MAKNA

Setiap kita ingin hidup yang bermakna. "Pemaknaan" dan "memaknai" adalah kata kerja. Makna adalah hasil dari proses-proses. Proses kerja memerlukan alat dan perlengkapan untuk memaknai. Alat dan perlengkapan itu, di antaranya adalah "pikiran" dan "perasaan". Keduanya saling mempengaruhi.

Untuk menjaga kelurusan "the  path" kita butuh secara konsisten dan periodik keluar dan menjadi pengamat atas konsistensi keduanya terhadap "the path". "The path" di-ideal-kan sebagai sesuatu yang lurus. Sebab, waktu kita terbatas. Inilah yang disebut dengan "Manajemen Pikiran Dan Perasaan".

Kita telah lama terampil hidup dengan "perasaan yang mempengaruhi pikiran". Pilihan kita kini adalah berlatih untuk hidup dengan "pikiran yang mempengaruhi perasaan". Dengan keterampilan baru ini, kita bisa berharap bahwa kedua keterampilan ini akan menjadi seimbang. Dengan keseimbangan ini kita dapat berharap makna-makna hidup kita pun menjadi seimbang. Dengan keseimbangan, semoga kita tidak mudah menjadi gamang dalam meniti "the path".

Kita telah terbiasa dengan "perasaan menciptakan pikiran". Pilihan kita kini adalah berlatih membiasakan diri dengan "pikiran menciptakan perasaan". "Makna" adalah "pemaknaan". "Pemaknaan" adalah pelekatan pengertian-pengertian. Pengertian-pengertian kita definisikan secara terbatas dengan nama-nama dan kata-kata alias bahasa. Makna, dimulai dengan "nama" dan "kata".

"Ketika sesuatu bisa dilekati dengan kata, sesuatu itu menjadi ada."

Keberadaan adalah tentang perwujudan-perwujudan. Makna-makna di dalam hidup kita adalah tentang bentuk-bentuk manifestasi alias perwujudan. Dari "tidak ada" menjadi "ada". Dari "belum" menjadi "sudah". Dari "kini" menjadi "akan". Dari "belum tercapai" menjadi "tercapai". Dari "belum menjadi" ke "menjadi". Dari "belum memiliki" menjadi "memiliki". Semua itu, adalah esensi dari setiap tujuan dan cita-cita.

Note:

Pertimbangkan untuk memperbesar peluang ini, "hidayah" dan "ilham".

SIKLUS

Setiap tujuan dicapai dengan bertindak. Di belakang setiap tindakan ada keputusan. Di belakang setiap keputusan ada sikap. Di belakang setiap sikap ada keyakinan. Setiap yang kita pikirkan dan rasakan, disadari atau tidak disadari, selalu ditopang oleh bentuk-bentuk keyakinan. Pikiran dan perasaan adalah dua hal terdekat yang setiap saat berlangsung di dalam diri kita. Kedekatan ini, memungkinkan kita lebih mudah memahami berbagai sinyal terkait dengan kelurusan "the path". Kemudahan ini, dimungkinkan oleh sederhananya tuntutan untuk menangkap sinyal-sinyal tanpa harus berilmu tinggi dan tanpa harus berpengetahuan dalam. Cukup dengan "common sense", cukup dengan "hati nurani". Tuhan Maha Adil, Tuhan Maha Pemurah.

Praktek "Manajemen Pikiran Dan Perasaan" adalah praktek instalasi "belief system". Sebagai beliefs, 35 beliefs dalam ""Manajemen Pikiran Dan Perasaan" erat hubungannya dengan "perasaan" yang saling mempengaruhi satu sama lain. Sebagai "system", 35 beliefs dalam ""Manajemen Pikiran Dan Perasaan" erat hubungannya dengan "pikiran" yang saling mempengaruhi satu sama lain. Sebagai "belief system", 35 beliefs dalam ""Manajemen Pikiran Dan Perasaan" adalah struktur yang mendasari bangunan pikiran dan perasaan di mana kita hidup di dalamnya. Sistem ini idealnya kongruen dan holistik alias menyeluruh.

Satu keyakinan terkait dengan keyakinan yang lain, satu pikiran terpaut dengan pikiran yang lain, dan satu perasaan berhubungan dengan perasaan yang lain. Begitu pula, antar keyakinan, pikiran, dan perasaan itu sendiri. Setiapnya tidak dapat berdiri sendiri, melainkan harus bekerjasama saling mendukung dan saling menguatkan.

Note: Pertimbangkan ini, "iman" dan "akidah".

MODEL

"Manajemen Pikiran Dan Perasaan" dibangun oleh tiga "core beliefs" yang menjadi fondasi "belief system" yang akan diinstall secara keseluruhan, yaitu "diri", "proses, dinamika, dan dunia", dan "sukses, berhasil, dan cita-cita".

The Path: "Diri" --> "Proses, dinamika, dan dunia" --> "Sukses, berhasil, dan cita-cita"

1. Beliefs tentang fenomena "diri sendiri".

Bab 1,3,4,5,21,23,24,29,30 dan 32.

2. Beliefs tentang "proses, dinamika, dan dunia".

Bab 2,6,7,8,9,10,11,14,15,16,17,22,26,27,28,31,33 dan 34.

3. Beliefs tentang "sukses, berhasil, dan cita-cita"

Bab 12,13,18,19,20,25 dan 35.

Note: Pertimbangkan ini,

Asal: Jakarta, Tujuan: Bandung, Rute: Cipularang, Puncak, Purwakarta, atau Cikampek.

FLOW

"Pikiran" dan "Perasaan" adalah "content". "Keyakinan" adalah "energi". Seperti "siaran radio" yang berjalan di atas "gelombang elektromagnetik". Apapun keyakinan, ketika tertuangkan ke dalam kata-kata, ia menjadi produk dari "pikiran", ia menjadi penyederhanaan dari "energi". Itu sebabnya, "content" saja tidak cukup sebab "energi"-nya telah tereduksi ke dalam terbatasnya bahasa dan kemampuan melekatkan pengertian. "Energi" itu bisa diaktifkan kembali alias dikembalikan ke kekuatan asalnya, dengan kombinasi "pikiran" dan "perasaan". Kombinasi itu adalah "keyakinan". Energi itu adalah keyakinan.

Kita hidup di dalam sebuah tempat yang kita sebut dengan dunia. Bekerjasama dengannya-lah, kita menjalani "the path" untuk mencapai tujuan. Kerjasama itu, kita jalani semaksimal mungkin dengan "bahasa yang sama". Bahasa energi, bahasa keyakinan. Kerjasama itu, berbentuk aliran-aliran dan sinkronisasi berbagai hal dan komponen yang menjadi wahana dan jalan bagi kita untuk sampai ke tujuan.

Aliran-aliran keyakinan itu, dapat disederhanakan menjadi aliran keluar dan aliran ke dalam (inflows dan outflows, contoh outflows: "the power of giving", contoh inflows: "the power of doa") dan aliran ke atas dan aliran ke bawah (upstream dan downstream, contoh upstream: "the power of gratitude", contoh downstream: "Tuhan Maha Pengasih Dan Maha Penyayang, Tuhan Maha Adil").

Seluruh aliran itu dieksekusi dengan keharmonisan sikap, keputusan, dan tindakan, di dalam bentuk-bentuk keyakinan, yang identifikasinya adalah "pikiran" dan "perasaan".

Note: Pertimbangkan ini,

- Tuhan, "niat", dan "ibadah".
- "Iman itu setengahnya sabar, setengahnya lagi syukur." (Ibnul Qayyim)
- "Tugas khalifah adalah to uphold the religion and to administer the world." (Yusuf Qardhawi)

CONTOH

Seseorang menyuntikkan ke dalam dirinya keyakinan "saya bisa" (Bab 25 "Jika Kita Butuh Maka Kita Mampu"). Untuk mempermudah, ia menilai keyakinan itu dengan skala 9 (dalam 1-10). Kemudian, keyakinan itu diuji oleh kehidupan di dunia nyata. Keyakinan itu runtuh. Mengapa?

Sebenarnya, keyakinan itu tak pantas runtuh karena itu sama saja dengan mengganti keyakinan di polaritas yang berseberangan, yaitu "saya tidak bisa" (kecuali yang diinginkannya memang mustahil adanya, ingat lagi "common sense"). Keyakinan itu lebih patut dipertahankan, dengan mengaktivasi keyakinan yang menjadi pendukungnya, misalnya:

- Bab 18 "Mengapa Tindakan Dibutuhkan"
- Bab 27 "Sabar, Syukur, dan Menerima Adalah Stamina"
- Bab 29 "Tak Ada yang Salah, yang Ada Pelajaran"
- Bab 30 "Tak Ada Gagal, yang Ada Umpan Balik"

Orang itu lebih pantas mempertanyakan, apakah dalam hal keyakinan-keyakinan yang disebutkan itu, ia juga dapat menilai bahwa semua itu berskala 9 atau yang mendekati, atau malah bermagnitude 6 ke bawah? Dia cukup pantas bertanya, tidakkah cukup janggal, untuk berhadapan dengan segala hal di wilayah core beliefs "proses, dinamika, dan dunia" dan "sukses, berhasil, dan cita-cita", tapi dengan hanya mengandalkan modal dari core beliefs "diri"? Bukankah itu tidak nyambung dan terlalu lemah kekuatannya?

LATIHAN AWAL

Siapkan kertas dan tuliskan yang berikut ini:

- Urutkan berdasarkan tingkat keyakinan, dari yang "paling yakin" menuju yang "paling kurang yakin", setiap keyakinan di dalam masing-masing kelompok "core beliefs". Jika mungkin berilah skala kuantitatifnya, supaya lebih mudah dianalisis.

- Cerminkan ke dalam hidup kita, dan temukanlah refleksinya dalam berbagai bentuk "keberhasilan", "pencapaian", "kelemahan", "kendala", "hambatan", "masalah", dan sebagainya.

- Temukanlah hubungan-hubungan di antara berbagai keyakinan, yang saling menguatkan dan yang saling melemahkan karena intensitas energinya (kuat atau lemah).

END NOTE

Jika Anda mempertanyakan semua ini, keyakinan apakah yang ada di balik pertanyaan Anda?

"Feeling bad is a good thing. Negative feelings mean you’re going the wrong way." (SP)

Note ini tidak ada di buku saya.

Semoga bermanfaat.

Ikhwan Sopa
Master Trainer E.D.A.N.
Founder http://pikiranperasaan.org/
Penulis "Manajemen Pikiran Dan Perasaan"

Audio: "Manajemen Pikiran Dan Perasaan" - DRadio 103,4 FM Jakarta

Dear all, berikut ini rekaman talk show "Manajemen Pikiran Dan Perasaan" dalam acara "Jakarta Pagi - Spirit Perubahan" di DRadio 103,4 FM Jakarta pada senin pagi yang lalu. Semoga bermanfaat.

Bagaimana Pikiran Mempengaruhi Perasaan


"Hal apa yang paling dekat dengan perasaan? - Pikiran."
"Untuk mengendalikan perasaan, kendalikan pikiran."
"Pikiran mengkreasi rasa, rasa mengarahkan pikiran."
"Ketika sesuatu bisa dilekati oleh kata, sesuatu itu menjadi ada."
- Ikhwan Sopa -

Kita mungkin kurang menyadari satu hal ini, pikiran mempengaruhi perasaan dan perasaan mempengaruhi pikiran. Sangat mungkin, kita telah lama hidup di dalam kendaraan yang sopirnya adalah rasa. Padahal, rasa senang sekali jumpalitan. Ini saatnya bagi kita, untuk belajar bersama menjadi pengendali rasa. Sulit, tapi tetap dimungkinkan. Menarik, karena kita menjadi dimungkinkan hidup dan berjalan di dalam kestabilan pikiran dan ketenangan perasaan. Kita tahu, apa makna dari dua fenomena itu.

Kita mungkin sering mengira, bahwa perasaan muncul dan sirna begitu saja. Kita mungkin selama ini yakin, bahwa perasaan timbul dan tenggelam tanpa kendali. Kemudian, pikiran kita ditarik-ulur olehnya dengan cara yang semaunya.

Padahal, ketika sebuah rasa telah bisa dilekati sebuah nama, rasa itu adalah produk pikiran, sebab "menamai" adalah proses kerja pikiran. Padahal, bahkan ketika rasa itu tak mampu kita namai, kita mencemplungkannya ke dalam kelompok "tidak jelas", dan "mengelompokkan" adalah juga proses kerja pikiran.

Menyadari bahwa pikiran mampu mempengaruhi perasaan, adalah sebuah penemuan yang menyenangkan. Jika pikiran mampu mempengaruhi perasaan, maka pikiran mampu menciptakan perasaan. Hmmm... ingin berbahagia? Ciptakan saja.

Untuk mampu mempengaruhi perasaan dengan pikiran, untuk menciptakan perasaan dengan pikiran, hal pertama yang perlu kita lakukan adalah mempercayai bahwa pikiran memang mampu melakukannya. Ingat kembali yang berikut ini:

- Kita sedang bersedih, dan sahabat kita menghibur lalu kita menjadi tersenyum atau tertawa.
- Anak kita sedang marah dan kecewa, lalu ia menjadi senang karena kita memberinya mainan.
- Kita dimarahi atasan, lalu kita membayangkannya sebagai badut, dan kita tersenyum dibuatnya.

Semua itu adalah pergeseran perasaan yang diciptakan oleh pikiran.

Setelah kita meyakini bahwa pikiran memang mampu mempengaruhi perasaan, langkah kita berikutnya adalah menggali berbagai kemungkinan dan pola-pola tentang bagaimana pikiran dapat mempengaruhi perasaan. Di antara pola-pola itu adalah yang berikut ini.

1. Jebakan Kebiasaan Berpikir

Jika kita berulang-ulang mengalami perasaan tertentu, maka itu berarti pada saat yang sama kita juga mengulang-ulang cara berpikir tertentu. Misalnya, kebiasaan menyalahkan orang lain terkait dengan ketidaknyamanan yang kita rasakan. Ketika kita belum menyadari bahwa pikiran mempengaruhi perasaan, maka perasaan yang muncul dapat mengarahkan pikiran ke wilayah tidak nyaman.

"Saya merasa tidak nyaman." - Ini perasaan.
"Saya terganggu olehnya." - Ini pikiran, produk dari perasaan.
"Dia mengecewakan saya." - Ini pikiran, produk dari perasaan.

Pikiran-pikiran itu terus diulang di bawah kendali perasaan tidak nyaman, lalu berkembang menjadi kebiasaan berpikir.

Perhatikan ini:

Jika ada yang "terganggu", maka ada yang "mengganggu".

Renungkan ini:

Benarkah dia "mengganggu" saya? Jika "gangguan" itu tidak bersifat fisik, benarkah dia secara ajaib dari jarak jauh telah mengganggu saya? Sehebat itukah dia hingga mampu mengendalikan saya dengan kekuatan magis atau telepatis? Benarkah dia telah "membuat" saya kecewa? Sedahsyat itukah kekuatan dia, hingga mampu "menjadikan" saya seolah seperti boneka mainannya?

Inilah yang terjadi:

Perasaan saya telah mengarahkan pikiran saya, masuk ke dalam lingkaran yang membuat saya makin tenggelam sebagai korban. Saya telah sepenuhnya menyerahkan kekuatan pikiran saya kepada orang lain. Saya telah secara resmi menyerahkan kunci kendali hidup saya kepada orang lain. Saya berada di bawah kekuasaannya. Saya tidak lagi merdeka. Bagaimana rasanya?

2. Labelling

Tanpa sengaja, kita mungkin terbiasa melekati pribadi orang lain dengan label-label dan atribut-atribut.

"Kamu ini brengsek."
"Kamu bangsat."
"Dasar tak tahu diri."
"Dasar kikuk."
"Kamu ini memang tak bisa apa-apa."
"Saya ini goblok."
"Saya ini pecundang."
"Saya memang selalu gagal."

Labelling dan atribusi menyedikitkan pilihan. Atau, bahkan menghilangkannya. Kita telah menyedikitkan kesempatan untuk tumbuh lebih pantas, dan kita telah meniadakan peluang untuk berkembang menjadi lebih baik. Kita menjadi semakin lemah dan helpless, mengidap stres dan depresi. Sekali kita menerimanya, kita tak berangkat kemana-mana. Kita telah terpenjara. Bagaimana rasanya?

3. Saringan Mental

Saringan mental kita yang utama adalah keyakinan atau belief. Kita cenderung lebih fokus pada segala informasi yang mendukung atau bersesuaian dengan keyakinan kita. Kita cenderung menghindari apapun yang bertentangan dengan keyakinan kita.

Dengan semua itu, kita terus "membuktikan" bahwa keyakinan kita benar adanya. Semakin lama, kita merasa semakin yakin dan semakin yakin. Bagaimana jika ternyata keyakinan itu salah? Salah karena tidak benar atau salah karena salah arah?

Agar keyakinan tidak salah, ia perlu disandingkan dengan yang benar.

Maka, kebenaran yang manakah yang kita jadikan acuan?

Bercerainya "tidak salah" dari "benar" akan menyobek dan mengoyak perasaan.

4. Generalisasi

Kita mungkin terbiasa begini. Ketika seseorang berperilaku buruk, dan lalu kita memutuskan untuk tidak menyukainya, kita mengatakan, "dia memang tak pernah berperilaku baik."

"Tidak pernah."
"Selalu."

Ketika kita salah menggunakannya, kedua kata itu hanya menegaskan hal-hal buruk yang berpengaruh buruk terhadap perasaan.

5. All or Nothing

Kenyataan, bukanlah semata-mata hitam atau putih. 0 dan 1 adalah logika. Itu namanya pikiran. Apa yang di antaranya adalah tentang perasaan. Ketika yang di antara itu dihilangkan, rasanya menjadi membingungkan. Seperti kebun yang bunga-bunganya hanya ada hitam dan putih. Seperti pilihan yang ditawarkan perampok, hidup atau mati. Seperti diharuskan memakan buah simalakama.

(Kecuali, jika kita menyadari bahwa pikiran memang sedang menyengajakan. Itu namanya memilih. Itu sebabnya, bingung memilih rasanya tidak enak. Itu sebabnya, jika memilih dan tetap merasa tidak enak, maka itu berarti pilihan belum tegas karena belum jernih.)

Apa rasanya ini?

"Saya bukan juara satu, ngapain repot-repot belajar."
"Saya juara satu, saya harus belajar sebelas jam sehari."
"Saya juara satu, ngapain repot-repot belajar."
"Saya bukan juara satu, saya harus belajar sebelas jam sehari."


"Kalo saya jarang sakit, ngapain saya menjaga kesehatan."
"Saya emang gak bisa kurus kok. Sikat aja semua."

Ke-lebay-an yang menciptakan harapan yang sulit atau bahkan tidak mungkin dicapai.

Sekarang, apa sih rasanya mempersulit diri? Dan nanti, rasa kecewa itu hampir pasti.

6. Pernyataan dan Keyakinan "Harus"

Hidup ini sederhana; intinya perbedaan. Maka sederhana saja, jika kita memegang "harus" yang tidak tepat, maka apa yang "berbeda" akan merusak perasaan.

7. Bagaimana Jika...?

Pikiran kita menerawang jauh ke depan, dan lalu perasaan kita mengartikannya seolah telah terjadi. Apa rasanya?

8. Membaca Isi Kepala Orang

"Dia tidak tersenyum. Dia benci saya."
"Dia tersenyum. Dia menyukainya."

Padahal, dia sedang menimbang apa yang terbaik untuk dipersembahkan kepada kita. Padahal, senyumnya kecut.

Ke-sotoy-an yang melenceng kemana-mana. Membaca tanda-tanda ada caranya. Jika tidak diklarifikasi, perasaan akan menyesal.

9. Pola Pikir Tak Terafirmasi Tak Terkodifikasi

Pikiran kita adalah template untuk bahasa subyektif kita. Mengenali cara kerja pikiran kita tidak langsung memampukan kita mengubahnya. Kita perlu menemukan proses-proses dan pola-pola yang tidak memberdayakan, lalu menggantinya dengan yang memberdayakan. Kita membutuhkan daftar pola-pola pikiran yang memberdayakan dan saling menguatkan. Tanpa itu, akan selalu ada elemen pensabotase keseluruhan pikiran kita. Itu, akan mensabotase perasaan.

Tanpa itu keutuhan daftar itu, sebuah keyakinan akan langsung roboh ketika ia diuji oleh kehidupan. Sebab ia mungkin berjalan sendiri dan kesepian. Ia butuh teman, ia butuh kelompok dan organisasi keyakinan. Ia juga mengerti "bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh". Daftar itu - 35 jumlah poinnya, ada di buku saya. Judulnya "Manajemen Pikiran Dan Perasaan". Cari di toko buku, cari di rak (mungkin di rak "buku baru", atau "buku laris" atau "psikologi" atau "pengembangan diri"). Atau, cari tahu di database komputer mereka. Atau, dapatkan secara online di sini. Semoga membantu.

Bagaimana menghibur perasaan?

1. Sadari pikiran dan pola pikir yang merusak perasaan
2. Berlatihlah mengabaikannya
3. Jika perasaan terlanjur terjebak dalam ketidaknyamanan, kembalilah ke no.1
4. Afirmasikan daftar "35" yang terkodifikasi di atas, hingga perasaan teryakinkan.

Semoga bermanfaat.

Note:
- Pointer by Jerry Waxler.
- Note ini tidak ada di buku saya.

Ikhwan Sopa
Master Trainer E.D.A.N.
Founder, Penulis, "Manajemen Pikiran Dan Perasaan"

Format Bedah Buku "Manajemen Pikiran Dan Perasaan"



Dear all, khususnya penyelenggara dan peminat bedah buku "Manajemen Pikiran Dan Perasaan".

Berikut ini kami sampaikan format bedah buku "Manajemen Pikiran Dan Perasaan". Kami berharap, audience tidak hanya mendapatkan informasi tentang buku, melainkan juga mendapatkan berbagai inspirasi untuk makin komprehensif dan holistik terkait fenomena "pikiran dan perasaan" dalam berhadapan dengan berbagai persoalan di dalam kehidupan. Semoga. Insya Allah.

1. Dimulai dengan "inventarisasi", problema, dan permasalahan audience.

Problema, permasalahan, kendala, dan hambatan audience diprediksikan berjumlah sekitar 5-20 topik atau kasus, tergantung durasi acara yang ditetapkan oleh panitia.

Di sesi ini ditampung berbagai persoalan, problema, dan permasalah audience, baik itu yang sifatnya pribadi, hubungan antar manusia, hubungan dengan diri sendiri, karir atau profesi, organisasi, bisnis dan entrepreneurship.

Kami sama sekali tidak menjanjikan solusi. Kami hanya menawarkan inspirasi dan berbagai sudut pandang tentang berbagai persoalan di dalam kehidupan. Semoga dapat memperkaya wawasan audience, dan semoga segala permasalahan audience mendapatkan kemudahan jalan untuk menemukan solusi. Lebih dari itu, sangat bisa jadi tidak seluruh persoalan di dalam kehidupan akan dapat diselesaikan dengan "Manajemen Pikiran Dan Perasaan".

35 poin di dalam buku "Manajemen Pikiran Dan Perasaan" hanyalah sekedar upaya kami untuk melakukan sebentuk kodifikasi beliefs yang kami anggap ideal untuk membangun belief system seseorang yang memiliki cita-cita dan berhasrat menggapainya. Semua ini tidak mutlak, dan kebenaran hanyalah milik-Nya semata.

2. Uraian tentang apa itu "Manajemen Pikiran Dan Perasaan".

Di sesi ini, kami menjelaskan tentang apa yang dimaksud dengan "Manajemen Pikiran Dan Perasaan" menurut versi buku ini dan menurut pendekatan penulis.

3. Uraian tentang pentingnya "Manajemen Pikiran Dan Perasaan".

Di sesi ini, kami menjelaskan urgensi "Manajemen Pikiran Dan Perasaan" untuk kepentingan penyelesaian masalah (problem solving), dan untuk kepentingan character building di masa depan.

4. Model "Manajemen Pikiran Dan Perasaan".

Di sesi ini, kami menjelaskan model "Manajemen Pikiran Dan Perasaan" dengan berbagai asumsi dan pendekatan yang dipilih oleh buku ini dan penulis. Untuk acara bedah buku, hanya disampaikan model-nya, dan tidak disampaikan cara memodelnya (modelling), mengingat terbatasnya waktu untuk acara semacam ini.

5. Contoh-contoh Inspirasi "Manajemen Pikiran Dan Perasaan".

Di sesi ini, kami sampaikan berbagai contoh pengelolaan (manajemen) pikiran dan perasaan, dengan pendekatan-pendekatan kognitif (pola pikir dan mindset). Sedapat mungkin, kami sampaikan juga berbagai keterkaitan dan pengaruh timbal-balik dari berbagai komponen "beliefs" sebagaimana yang dicakup oleh buku "Manajemen Pikiran Dan Perasaan". Ini sangat tergantung pada hasil "inventarisasi" berbagai persoalan, problema, permasalahan, hambatan, kendala sebagaimana yang dicakup dalam sesi pertama.

6. Kapan mengedepankan "pikiran" dan kapan mengedepankan "perasaan".

Di sesi ini, kami menguraikan tentang pilihan kapan mengedepankan "pikiran" dan kapan mengedepankan "perasaan". Tidak ada kemutlakan dalam hal ini. Setiap permasalahan, pada dasarnya hanya benar-benar dikenali dan ketahui oleh yang bersangkutan sendiri. Lebih dari itu, "pikiran" dan "perasaan" adalah dua hal yang berjalan sebagai proses tunggal yang simultan. Apa yang disebut dengan "mana yang lebih perlu dikedepankan" adalah "mana yang lebih pantas dibuat lebih dominan".

7. Kepemimpinan "Pola Pikir Dan Pola Rasa".

Di sesi ini, kami akan menyimpulkan tentang urgensi dan pentingnya menggeser kepemimpinan, dari "aku" ke berbagai pola pikir dan pola rasa yang dianggap ideal menjadi pemimpin. Misalnya visi, misi, dan impian atau cita-cita.

Note: Poin 3,4,5, dan 6 dimungkinkan disampaikan dengan urut-urutan yang fleksibel.

Demikian, semoga bermanfaat.

Ikhwan Sopa
Master Trainer E.D.A.N.
Founder, Pelatih Utama, penulis.

Daftar Alamat Dan Nomor Telepon TB Gramedia Dan Gunung Agung



Dear all, jika Anda masih ragu tentang ketersediaan buku "Manajemen Pikiran Dan Perasaan", Anda dapat langsung memastikan dengan menghubungi nomor telepon dari toko buku yang bersangkutan. Berikut ini adalah daftar alamat dan nomor telepon toko buku Gramedia dan Gunung Agung di seluruh Indonesia - saya dapatkan secara terbuka dari internet. Semoga bermanfaat.

Note: Untuk memudahkan Anda, kami mencetak tebal nama dan nomor telepon toko buku yang bersangkutan.

Toko Buku GRAMEDIA di Jakarta

Jl. Gajah Mada 104-107, Jakarta 11140
Telp. (021) 260 1234/1555 ext 4609
Fax (021) 633 7269
e-mail : gam00@cbn.net.id

Jl. Pintu Air 72, Jakarta 10710
Telp (021) 345 9257 & 345 9258
Fax (021) 384 3800
e-mail : gam01@cbn.net.id

Jl. Matraman Raya 46-48, Jkt. 13150
Telp (021) 858 1763
Fax (021) 850 5426
e-mail : gam08@cbn.net.id

Jl. Melawai III/12-18 & Jl. Melawai IV/13
Blok M, Jakarta Selatan
Telp (021) 720 3322 / 3445 / 739 7523
Fax (021) 726 0720
e-mail : gam10@cbn.net.id

Mal Kelapa Gading lantai 2
Jl. Klp. Gading Blv, Jakarta 14240
Telp (021) 452 6986 & 452 8606
Fax (021) 452 6977
e-mail : gam12@cbn.net.id

Mal Pondok Indah Blok D lt 1, Jkt 12310
Telp (021) 750 6997 & 750 6998
Fax (021) 750 6792
e-mail : gam15@cbn.net.id

Mal Ciputra Unit No. V-09
Jl. S. Parman, Grogol, Jakarta 11470
Telp (021) 568 1479 & 560 6363
Fax (021) 566 1061
e-mail : gam19@cbn.net.id

Mega Mal lantai 2
Jl. Pluit Indah Raya, Jakarta 14440
Telp (021) 668 3610 / 20 / 30
Fax (021) 668 3625
e-mail : gam31@cbn.net.id

Mal Puri Indah lantai 1
Jl. Puri Agung, Jakarta 11610
Telp (021) 582 2524 / 26 / 27
Fax (021) 582 2530
e-mail : gam34@cbn.net.id

Hero Gatot Subroto lantai 2
Jl. Gatot Subroto No 177 Kav 64, Jkt Slt
Telp (021) 831 7752/3
Fax (021) 831 7746
e-mail : gam38@cbn.net.id

Cempaka Mas Lower Ground Blok E No.3
Jl. Letjen Suprapto No. 1, Jkt. 10640
Telp (021) 4287 7708 -10
Fax (021) 4288 0671
e-mail : gam40@cbn.net.id

Mal Taman Anggrek Ground level G.05 16-19
Jl. Letjen S. Parman Kav 21, Jakarta 11470
Telp (021) 5699 9488 / 89 / 90
Fax (021) 5699 9577
e-mail : gam43@cbn.net.id

Mal Daan Mogot Lt. Dasar B1 SM
Jl. Daan Mogot Raya KM 16 Jakarta 11840
Telp. (021) 544 6065 - 66
Fax. (021) 544 1314
e-mail : gam46@cbn.net.id

Komplek Pertokoan Taman Kebon Jeruk
Blok A II No. 1 Lt. 2 - Jl. Meruya Ilir Raya
Telp. (021) 586 7005 / 9752
Fax. (021) 586 7003
e- mail:

Toko Buku GRAMEDIA di Tangerang

Plaza Bintaro Jaya Lt. 2
Jl. Bintaro Utama Sektor III-A
Tangerang, Jawa Barat
Telp. (021) 735-3774 / 735-3442
Fax : (021) 735-3173
e-mail : gam24@cbn.net.id

Mal WTC Matahari Lantai 2
Jl. Raya Serpong No. 39 KM 8
Telp (021) 5315 4091 - 3
Fax (021) 5315 4094,
e-mail : gam33@cbn.net.id

Supermal Karawaci Unit G 11-12
Lippo Karawaci, Tangerang Jawa Barat
Telp. (021) 547-5873 / 5876
Fax : (021) 554-3252
e-mail : gam17@cbn.net.id

Toko Buku GRAMEDIA di Bogor

Hero lt. Dasar Jl. Pajajaran, Bogor
Telp (0251) 356 341 ,
Fax (0251) 356 340
email : mailto:gam36@bogor.indo.net.id

Toko Buku GRAMEDIA di Depok

Mal Cinere Lt. 2
Jl. Raya Cinere, Limo
Depok, Jawa Barat
Telp. (021) 754-0663 / 754-5174
Fax : (021) 754-5095
e-mail : gam22@cbn.net.id

Jl. Margonda Raya Km 4, Depok
Telp. (021) 7720 1888
Fax. (021) 7720 1777
e-mail : gam50@cbn.net.id

Toko Buku GRAMEDIA di Bandung

Jl. Merdeka No. 43 Bandung, Jawa Barat 40117
Telp. (022) 423-3287
Fax : (022) 423-2041
e-mail : gam04@indo.net.id

Hero Kopo Lt. 2, Komplek Kopo Plaza
Jl. Peta 177, Bandung 40232
Telp. (022) 607-0886 / 607-0887
Fax. (022) 607-0887
e-mail : gam28@indo.net.id

Bandung Supermal Lt. I Unit A199
Jl. Gatot Subroto No. 289 Bandung 40232
Telp. (022) 910-1251 / 1252 /1255
Fax : (022) 910-1254
Email : gambsm29@mweb.co.id

Istana Plaza Lt. 3 Unit TF-C1
Jl. Pasir Kaliki 121-123 Pamoyanan
Telp. (022) 600-0624 / 601-3283
Fax : (022) 604-4177
e-mail : gamip@cbn.net.id

Toko Buku GRAMEDIA di Surakarta

Jl. Brigjen Slamet Riyadi No. 284
Telp. (0271) 741 888
Fax. (0271) 729 174
e-mail :gam53@indosat.net.id

Toko Buku GRAMEDIA di Semarang

Jl. Pandanaran 122, Semarang
Jawa Tengah 50241
Telp. (024) 844 8033
Fax: (024) 844 8035
e-mail : gam06@idola.net.id

Java Supermal Lt. 3 No. 312
Jl. MT. Haryono 992-994
Telp. (024) 841-0410 / 0412
Fax : (024) 841-0419
e-mail :gam21@indo.net.id

Toko Buku GRAMEDIA di Cirebon

Grage Mal Lantai 2 & 3
Jl. Tentara Pelajar No. 1 Cirebon Jawa Barat
Telp. (0231) 222-882 / 8
Fax: (0231) 222-885
e-mail : gam42@crb.elga.net.id

Toko Buku GRAMEDIA di Samarinda

Komplek Mal Lembuswana Blok B/2
Jl. S. Parman - M. Yamin, Samarinda 75123
Telp: (0541) 744 254 / 316
Fax: (0541) 744 306
E-mail : gam48@cbn.net.id

Toko Buku GRAMEDIA di Jember

Jl. Trunojoyo No. 85, Jember
Jawa Timur 68137
Telp. (0331) 489-360
Fax : (0331) 489-361
e-mail : gam18@binanusa.net

Toko Buku GRAMEDIA di Yogyakarta

Jl. Jend. Sudirman 54-56, Yogyakarta 56224
Telp. (0274) 512-621 / 564-846
Fax : (0274) 524-922
e-mail : gam05@indosat.net.id

Mal Malioboro
Jl . Malioboro 52-58, Yogyakarta 55001
Telp. (0274) 560-641 / 588-059
Fax : (0274) 588-059
e-mail : gam27@indosat.net.id

Toko Buku GRAMEDIA di Surabaya

Jl. Basuki Rachmat 95, Surabaya
Jawa Timur, 60116
Telp. (031) 534-5475 / 5574 / 0329
Fax : (031) 593-1399
e-mail : gam02@indosat.net.id

Jl. Manyar Kertoarjo 16, Surabaya
Jawa Timur 60116
Telp. (031) 593-0745 / 593-0746
Fax : (031) 593-0747
e-mail : gam11@indo.net.id

Plaza Tunjungan I Lt. IV No. 4.11 - 4.12
Jl. Basuki Rachmat 8-12, Surabaya
Jawa Timur 60261
Telp. (031) 531-4990 / 532-1390
Fax. (031) 531-8130
e-mail : gam39@indosat.net.id

Toko Buku GRAMEDIA di Malang

Jl. Basuki Rachmat 3, Malang
Jawa Timur 65119
Telp. (0341) 366-277 / 324-540
Fax : (0341) 324-540
e-mail : gam07@indo.net.id

Mitra II Lt. 2 & 3 Jl. Letjen. Soetoyo 32-34
Telp. (0341) 411-866
Fax : (0341) 411-385
e-mail : gam47@indo.net.id

Toko Buku GRAMEDIA di Bandar Lampung

Jl. Raden Intan No. 63, Tanjung Karang
Bandar Lampung 35118
Telp. (0721) 267-677 / 268-222
Fax : (0721) 267-916
e-mail : gam25@indo.net.id

Toko Buku GRAMEDIA di Palembang

Jl. Kolonel Atmo No. 45 Palembang
Sumatera Selatan 30125
Telp. (0711) 353-493 / 357-733
Fax : (0711) 374-212
e-mail : gam13p@indosat.net.id

Toko Buku GRAMEDIA di Padang

Jl. Damar No. 63 Padang
Sumatera Barat 25116
Telp. (0751) 37003 / 20461
Fax : (0751) 23-714
e-mail : gam14@indosat.net.id

Toko Buku GRAMEDIA di Batam

DC Mall
 Sei Jodoh Marina Center Lt. 3 Unit 1
Komplek Joduh Marina Batam
Telp. (0778) 430-965/430 966
Fax : (0778) 430-964
e-mail : gam45btm@indosat.net.id

Toko Buku GRAMEDIA di Medan

Jl. Gajah Mada No. 23, Medan
Sumatera Utara 20153
Telp. (061) 452-8776 / 453-5956
Fax : (061) 452-5917
e-mail : gam09@indosat.net.id

Medan Mal Lt. 4
Jl. MT. Haryono, Medan Sumatera Utara
Telp. (061) 415-4232 / 4422 / 4602
Fax . (061) 415-4265
e-mail : gam32@indosat.net.id

Toko Buku GRAMEDIA di Pontianak

Mal Gajah Mada Lantai 2
Jl. Terminal Gajah Mada No. 1
Telp. (0561) 741 224 / 082
Fax. (0561) 735 099
e-mail : gam49@pontianak.wasantara.net.id

Toko Buku GRAMEDIA di Banjarmasin

Jl. Veteran No. 45, Banjarmasin
Telp. (0511) 253-268 / 252-798
Fax : (0511) 253-268
e-mail : gam37@indo.net.id

Toko Buku GRAMEDIA di Balikpapan

Balikpapan Center Lantai 1
Jl. Jend. Sudirman Balikpapan 76113
Telp. (0542) 423-094
Fax : (0542) 423-089
e-mail : gam16@indo.net.id

Toko Buku GRAMEDIA di Banjarmasin

Jl. Veteran No. 45, Banjarmasin
Telp. (0511) 253-268 / 252-798
Fax : (0511) 253-268
e-mail : gam37@indo.net.id

Toko Buku GRAMEDIA di Makasar

Mal Ratu Indah Lt. 2 No. 260
Jl. Dr. Sam Ratulangi No. 35
Makasar, Sulawesi Selatan
Telp. (0411) 834-408/409
Fax : (0411) 834-402
e-mail : gam44@indosat.net.id

Mal Panakukang Lantai 3,
Jl. Boulevard Komp. Panakukang Mas, Makasar 90222
Telp. (0411) 423 601/2/4
Fax. (0411) 423 774
email : indosat.net.id

Toko Buku GRAMEDIA di Manado

Jl. Sam Ratulangi No. 45 Manado
Sulawesi Utara
Telp. (0431) 862-692 / 864-754
Fax : (0431) 847-147
Email : gammdo@indosat.net.id

Toko Buku GRAMEDIA di Kupang

Jl. Jend. Sudirman No. 163, Kupang
Nusa Tenggara Timur
Telp. (0380) 821-366
Fax : (0380) 821-466
e-mail : gramedia_kpg@plasa.com

Toko Buku GRAMEDIA di Pekanbaru

Jl. Jend. Sudirman No. 245
Telp. (0761) 849-177
Fax : (0761) 849-180
e-mail : gam26pku@indosat.net.id

Toko Buku GRAMEDIA di Bali

Duta Plaza Lantai Basement
Jl. Dewi Sartika, Denpasar, Bali 80114
Telp. (0361) 221-026 / 221-027
Fax : (0361) 221-027
e-mail : gam20@dps.centrin.net.id

Mal Bali Galeria Lt. 2 Blok D. Jl.Raya By Pass
Ngurah Rai Kuta Badung - Bali 80361
Telp. (0361) 758-072 / 082
Fax : (0361) 758-129

Toko Buku Gunung Agung

Atrium Plaza [atrium@tokogunungagung.com]   
Jl. Senen Raya No.135 Jakarta Pusat
Jakarta
(021) 386 2911
(021) 386 7831

Bandung Indah Plaza [bip@tokogunungagung.com]   
Jl.Merdeka No.56
Bandung
(022) 424 1217, 424 0710 Ext. 248
(022) 421 4378

Bekasi Cyber Park [cyberpark@tokogunungagung.com]   
JL. K.H. Noer Ali No. 177 Bekasi
Bekasi
(021) 8885.6633
(021) 8885.6632

Blok M Plaza [blokm@tokogunungagung.com]   
Jl.Bulungan Jakarta Selatan
Jakarta
(021) 720 9345
(021) 720 9344

Borobudur Plaza [bekasi@tokogunungagung.com]   
Jl.H.Juanda No.216 Bekasi Barat
Bekasi
(021) 881 2530
(021) 880 8346

BSD Plaza [bsd@tokogunungagung.com]   
Bumi Serpong Damai Jl.Serpong Sektor IV Lt.1
Tangerang
(021) 538 6047
(021) 537 1180

CBD Cileduk [cbd@tokogunungagung.com]   
JL. Hos Cokroaminoto No. 93 Lt. Ground Floor Block C
Cileduk
(021) 7344.8953
(021) 7344.8954

Cihampelas Walk [ciwalk@tokogunungagung.com]   
Jl. Cihampelas No.160
Bandung
(022) 206 1175
(022) 206 1135

City Mall [citymall@tokogunungagung.com]   
Jl. Moh. Toha KM 2 No. 1 Lt. UG City Mall Tangerang
Tangerang
(021) 5576.1303
(021) 5576.1311

Grand City [grandcity@tokogunungagung.com]   
JL. Walikota Mustahab, Kusuma Bangsa Grand City Lower Ground
Surabaya
(031) 5240 5781
(031) 5240 5782

Kwitang 38 [kw38@tokogunungagung.com]   
Jl.Kwitang No.38 Jakarta Pusat
Jakarta
(021) 310 2004, 310 2007
(021) 310 1846

Kwitang 6 [kw6@tokogunungagung.com]   
Jl.Kwitang No.6 Jakarta Pusat
Jakarta
(021) 391 9555
(021) 390 5247

Libbi Plaza [bali@tokogunungagung.com]   
Jl.Teuku Umar No.10
Denpasar
(0361) 263 387
(0361) 239 734

Mal Paragon 2nd Fl [paragon@tokogunungagung.com]   
JL. Pemuda NO.118 Semarang 50132
Semarang
(024) 8657 9201
(024) 8657 9202

Mall Arion [arion@tokogunungagung.com]   
Jl.Pemuda Kav.3, Jakarta Timur
Jakarta
(021) 471 3078, 471 3079
(021) 471 3079

Mall Bali Ramayana [ramayanabali@tokogunungagung.com]   
Jl. Diponegoro No.103
Denpasar
(0361) 234 898, 234 193
(0361) 234 193

Mall Ciputra [citraland@tokogunungagung.com]   
Jl. Arteri S.Parman Grogol Lt.5 Jakarta Barat
Jakarta
(021) 568 1513, 563 6744
(021) 568 1512

Mall Ciputra Lt.2 [semarang@tokogunungagung.com]   
Jl.Simpang Lima
Semarang
(024) 841 5973, 841 5974
(024) 841 5974

Mall Cirebon [cirebon@tokogunungagung.com]   
Jl. Bahagia No.115
Cirebon
(0231) 204 535
(0231) 206 519

Mall Sunter [sunter@tokogunungagung.com]   
Jl.Danau Sunter Utara Kav.7 Lt.1. Jakarta Utara
Jakarta
(021) 6583 2497
(021) 6583 2498

Margo City [margocity@tokogunungagung.com]   
Jl. Margonda Raya No.358
Depok
(021)7887 1013
(021)7887 1036

Plaza Jembatan Merah [bogorjm@tokogunungagung.com]   
Jl. Veteran Bogor
Bogor
(0251) 316 303, 316 305
(0251) 316 310

Plaza Pondok Gede Lt. 1 [pdgede@tokogunungagung.com]   
Jl.Pondok Gede Raya
Bekasi
(021) 8499 4875
(021) 8499 4876

Plaza Surabaya [sdp@tokogunungagung.com]   
Jl.Pemuda No.31-37
Surabaya
(031) 531 1764, 531 1765
(031) 531 1764

Tamini Square [tamini@tokogunungagung.com]   
Jl. Taman Mini Raya Pinang Ranti Tamini Square
Jakarta
(021) 8778.2777
(021) 8778.2778

Universitas Trisakti [trisakti@tokogunungagung.com]   
Jl.Kyai Tapa No.1 Jakarta Barat
Jakarta
(021) 566 2741, 566 3232 Ext.188/192

Gedung ANZ Square Podium Thamrin Nine [anz.square@tokogunungagung.com]   
Jl M.H. Thamrin No 10 Jakarta Pusat 10230
Jakarta
021-29937309
021-29937310

Mall Galaxy [galaxi@tokogunungagung.com]   
Jl.Husada Indah Timur 37, Lt.2 Surabaya
Surabaya
(031) 593.7160
(031) 593.7161

Mall Pondok Indah I Lt.2 [pim@tokogunungagung.com]   
Jl.Metro Pondok Indah Jakarta Selatan
Jakarta
(021) 750 6901
(021) 750 6899

Senayan City Lt. 3 [senayancity@tokogunungagung.com]   
Jl. Asia Afrika Lot 19 Jakarta Selatan 10270
Jakarta
(021) 727 81427,727 81428
(021) 72781428

Ikhwan Sopa

Tips Menulis Buku Versi "Saya"


"The best way to learn is to teach."
- Frank Oppenheimer -
Saya selalu berupaya, untuk tidak ragu memberi segera setelah saya menerima. Saya meyakini, rizki sudah ada tempat tujuannya. Dan keberkahan rizki, akan bersemi ketika ia telah sampai ke tempat-tempat yang memerlukannya. Lebih cepat lebih baik. Saya hanya perlu meyakini, bahwa saya sudah cukup menguasai, cukup komprehensif, dan cukup tuntas memahami sesuatu yang akan saya bagi itu. Segera berbagi, akan menyegerakan kesempatan belajar. Per note ini, saya baru menulis buku satu. Sesedikit apapun yang baik, selalu baik untuk diajarkan.
"Kesempurnaan itu punya kelemahan yang mendasar, yaitu ketidakmungkinannya untuk dicapai."
- Ikhwan Sopa - Bab 16 - Memaknai Kesempurnaan - Manajemen Pikiran Dan Perasaan
Saya tak perlu harus sampai maksimal tentang sesuatu. Ketika pikiran dan perasaan saya mengatakan cukup, maka saya meyakini cukup. Merasa cukup, adalah tanda untuk waktunya berbagi. Segera setelah berbagi, saya akan segera merasa kurang. Merasa kurang, adalah tanda untuk waktunya bekerja lagi.
"Semuanya sudah ada di sini dan di sana."
- Ikhwan Sopa -
Awal Januari 2010, saya membuat resolusi untuk menulis setidaknya satu buku pengembangan diri. Saya belum pernah menulis buku di bidang ini. Sampai akhir bulan September, tak sebarispun kalimat mulai bisa saya tuliskan sebagai isi buku.

Saya meyakini, apapun itu, setidaknya sejalan usia saya pasti telah belajar banyak hal. Hanya dengan tahu bahwa saya masih tetap hidup dan bernafas, saya menyadari bahwa saya mampu dalam banyak hal. Mampu, bahkan mungkin dalam banyak hal yang lebih dari "sekedar" menulis. Sebagai manusia yang masih hidup, saya tahu bahwa saya punya kebiasaan-kebiasaan baik yang selama ini menghidupkan dan menghidupi saya. Apapun yang baik, selalu baik untuk ditulis. Saya sadari, apa yang saya perlukan sudah ada di sini.

Saya menyadari, bahwa era ini adalah era informasi. Ada puluhan toko buku di dekat saya. Ada koran dan majalah bertaburan di mana-mana. Ada perpustakaan yang makin lengkap dan makin lengkap. Ada internet dan warnet. Ada komputer dan media digital. Ada telepon genggam multimedia. Ada televisi, radio dan media massa. Ada televisi kabel dan internet nirkabel. Ada benda-benda kecil mungil yang bisa menyedot ilmu dan berita. Ada banyak sekolah, kursus, dan pelatihan. Saya sadari juga, apa yang saya perlukan sudah ada di sana.
"Gather yourself - give the rest some rest."
- Ikhwan Sopa -
Saya hanya perlu mendongkrak semangat dan kemauan. Saya harus melakukan sesuatu. Di awal Oktober, saya merenung. Buku idaman saya tak jua menjadi nyata. Saya mencari tahu dan saya menemukan. Sampai saat itu, "menulis" dan "penulis" masih saya persepsi sebagai "sambilan" dan "nomor dua". Apa yang "total" dan "nomor satu" bagi saya adalah "berbicara" dan "motivator". Saya sampai pada kesimpulan.

Saya harus "tahu diri". Saya mempertanyakan, "Jika di masa depan saya adalah "menulis" dan "penulis" dan sekaligus merangkap "berbicara" dan "motivator", maka diri siapakah yang sesungguhnya saya jadikan "sambilan" dan saya "nomor dua"-kan pada hari ini?"  Ups. Itu mah saya sendiri. Dan nanti, akan cukup sulit, atau makin sulit bagi "saya" untuk "menyeberang jalan" agar "dia" tak lagi menjadi nomor dua.

Saya memutuskan. Di sepenuh bulan Oktober itu, saya menetapkan, "Dimohon kepada "dia" yang motivator untuk beristirahat selama sebulan. Mohon hentikan sementara bicaranya, satu bulan saja. "Saya" adalah penulis. Penulis kerjanya menulis. "Saya" total. "Saya" sungguh-sungguh ingin menulis. "Saya" benar-benar ingin menjadi penulis."

Sepanjang bulan itu, cukup banyak undangan bicara saya tolak. Training publik yang biasa saya gelar di akhir bulan saya tunda. Saya hanya menulis. Saya adalah penulis sejati. Saya tak ingin menomorduakan diri saya sendiri. Saya ini satu. Saya ini nomor satu. "Dia" yang di dalam sebagaimana kodratnya, mengerti dan memahami. Seperti alamiahnya ia diciptakan, "dia" patuh pada "saya". Saya berhasil menyelesaikan lebih dari tigaratus halaman dalam waktu kurang dari satu bulan.

Saya tidak tahu, apakah nanti saya akan menulis buku lagi. Bagi saya, satu kali saja sudah cukup untuk bisa menyimpulkan. Bahwa saya telah mengalami dari "tidak bisa" menjadi "bisa". Saya telah belajar. Di masa depan, saya hanya perlu menyadari, bahwa saya pernah "bisa". Dan saya tahu, di dalam "kebisaan", apa yang nanti saya lakukan hanyalah bermain dengan warna dan irama. Saya hanya perlu mencoba-coba banyak cara. Saya hanya perlu iseng sana-iseng sini. Saya, hanya perlu modifikasi dan variasi. Banyak hal nanti, yang pasti menjadi lebih mudah. Tak sedikit nanti, yang pasti menjadi lebih indah. Sebab saya sudah bisa. Sebab saya sudah punya portofolio-nya.
"Kita butuh menyadari betapa besar bobot yang kita kejar, supaya ringan segala upaya untuk mengejar.”
- Ikhwan Sopa - Bab 33 - Nilai dan Keterlibatan - Manajemen Pikiran Dan Perasaan
Saya ingat, saya mengharuskan diri untuk menyadari apa yang penting dan bernilai bagi saya tentang menulis. Saya mengukur diri.

Apakah saya ingin sekedar mencari kesenangan dengan menulis? Apakah saya menulis karena ingin mendapatkan rizki? Apakah saya ingin menjadi terkenal? Apakah saya ingin menjadi penulis hebat? Apakah saya ingin menggantungkan hidup pada menulis dan menjadi penulis? Apakah saya ingin makin bermanfaat? Apakah saya berniat bersumbangsih? Apakah saya ingin menjadi yang terbaik, yang berbeda, atau yang pertama? Apakah saya ingin melengkapi ibadah saya? Apakah saya ingin membuka pintu untuk menjadi trainer atau pembicara? Apakah saya ingin berbagi ilmu dan keahlian yang selama ini telah saya kuasai?

Apakah itu, yang saya anggap penting dan bernilai dengan menulis buku dan menjadi penulis?

Saya tahu, menulis harus punya tujuan.
"Jika memang bernilai, terlibatlah!"
- Ikhwan Sopa -
Saya menyadari, bertindak adalah bentuk terbaik dari keterlibatan. Saya tahu, jika ingin menjadi penulis, maka saya harus menulis. Saya tidak bisa menjadi penulis dengan hanya membaca. Saya tidak bisa menjadi penulis dengan hanya mendengar. Saya tidak bisa menjadi penulis dengan hanya berbicara. Saya tidak bisa melakukannya hanya dengan menonton. Saya sadar bahwa saya harus terlibat. Untuk menjadi penulis, saya harus menulis.
"Sampaikanlah walau satu ayat."
- Al-hadits -
Saya tahu, bahwa hidup di dalam semangat keimanan, saya mesti tetap selalu menjadi tempat titipan. Saya tahu, bahwa sebagai makhluk intelektual, apapun yang keluar-masuk lewat saluran komunikasi saya - baca, tulis, dengar, bicara, haruslah tetap menjadi corong amal kebaikan. Saya sadar, saya punya tugas kekhalifahan. Dalam tugas itu saya menyadari ajaran, bahwa apa yang masuk mestilah keluar. Supaya seimbang. Supaya tak menumpuk lalu membusuk. Agar tak dipertanyakan setelah mati dan agar mampu menjawab pertanyaan "dikemanakan?" Saya juga butuh menyadari keabdullahan diri.

Satu saja cukup. Satu saja cukup. Apa yang penting bagi saya, saya harus menyampaikan yang saya lakukan. Walk the talk.

Hmmm... yang satu ini menggelitik dan menggoda. Dihitung-hitung dipilah-pilah, saya bisa mencicil hutang dakwah.
"Jika seorang anak adam (manusia) mati, maka terputuslah semua amalnya, kecuali 3 perkara: 1. shadaqah jariyah, 2. ilmu yang bermanfaat. 3. anak shalih/ah yang mendoakan orang tuanya."
- Al-hadits -
Saya gembira. Sungguh, saya gembira. Saya sudah mulai bisa mengisi pundi-pundi kecil tiga dari tiga. Saya berdoa, nanti suatu saat, semoga menjadi gentong-gentong.

Syukur alhamdulillah. Mudahkan ya Allah mudahkan. Mudahkanlah perjalanan.

Semoga bermanfaat.

Ikhwan Sopa
Master Trainer E.D.A.N.
Founder, Pelatih Utama Manajemen Pikiran Dan Perasaan

eBook - Manajemen Pikiran Dan Perasaan

Note: Yang akan Anda download bukan buku di atas.

Dear all,

Dapatkan anak buku "Manajemen Pikiran Dan Perasaan".
Apa itu "Manajemen Pikiran Dan Perasaan".
eBook gratis (promotional pdf) di sini:

http://pikiranperasaan.org

Semoga bermanfaat.

Ikhwan Sopa
Master Trainer E.D.A.N.
Founder, Pelatih Utama "Manajemen Pikiran Dan Perasaan"