Membuang Limiting Beliefs


"From beliefs to knowledge."
"Knowledge is justified true beliefs."
 
Plato

Belief adalah keyakinan atau kepercayaan. Keyakinan dan kepercayaan, adalah sesuatu yang selalu ada di belakang setiap pilihan sikap, keputusan, dan tindakan. Keyakinan yang tidak tepat akan mengakibatkan pilihan sikap, keputusan, dan tindakan yang juga tidak tepat.

BAGAIMANA BELIEFS TERBENTUK 

Dari "Dalam"

- Pengalaman
Tercetak (imprinted) satu kali dengan kekuatan besar (anchor) atau tercetak berulang-ulang (conditioning).

- Eksperimen
Manusia dengan rasa ingin tahunya pada dasarnya senang bereksperimen.

- Refleksi
Setiap orang cenderung memantulkan segala pengalaman ke dalam dirinya dengan membandingkan berbagai pengalaman itu dengan informasi, data, dan ingatan yang telah tersimpan dalam dirinya.

- Generalisasi
Kemudahan yang telah diberikan oleh Tuhan, disalahgunakan. Kemudahan itu adalah kemampuan untuk melihat persamaan dan kesamaan, hingga kita mampu melakukan penggolongan dan pengelompokan tentang berbagai hal.

Dari "Luar"

- Pakar dan Ahli
Kita cenderung mempercayai orang yang dipersepsi sebagai pakar atau ahli.

- Otoritas
Kita cenderung patuh dan menaati orang yang kita anggap berkedudukan tinggi, terhormat, atau punya jabatan, baik formal maupun informal.

- Bombardir
Seperangkat atau sepaket keyakinan-keyakinan yang dikemas dengan logis, terstruktur, dan baik.

JENIS-JENIS BELIEFS

- Eksistensi (A)
Segala sesuatu dapat dipersepsi sebagai eksis atau "ada", baik untuk sementara waktu atau selamanya. Faktor bahasa sangat berpengaruh. Jika ada "sesuatu" bisa dilabel dengan kata, maka kita cenderung yakin bahwa sesuatu itu "ada".

- Asosiasi (A:B)
Kita meyakini sesuatu dengan meyakini sesuatu yang lain. Jika ada "siang" maka ada "malam", jika ada "atas" maka ada "bawah" dan seterusnya secara berpasangan (dua atau lebih) dan secara berseberangan atau berkebalikan.

- Ekuivalensi (A=B)
Segala hal pada dasarnya memiliki persamaan. Apa yang kita yakini tentang persamaan dan kesamaan, membentuk keyakinan tentang keberadaannya.

- Enaksi (A terjadi)
Ini terkait dengan proses yang terjadi di dunia. Misalnya "hal buruk terjadi". Ungkapan ini adalah sebentuk keyakinan.

- Kausalitas (A -> B)
Hubungan sebab akibat. Misalnya "tak ada asap tanpa api". Jika ada "sebab" maka ada "akibat" dan sebaliknya.

KEKUATAN BELIEFS

- Keyakinan Kuat
Dari sudut neuro logical level (NLL), letaknya adalah "identity" ke atas. Ini adalah tentang identitas dan spiritualitas.

- Keyakinan Buta
Keyakinan buta adalah keyakinan yang penuh. Kekuatannya sama dengan keyakinan kuat, namun di sisi yang lain juga sangat lemah. Keyakinan ini tidak disertai dengan "knowledge".

- Keyakinan Lemah
Keyakinan yang kurang "konwledge", terkikis oleh pengalaman, mengalami ketercampuradukan, atau mengalami pelemahan oleh keyakinan yang lain.

- Ketidak-yakinan
Keyakinan yang berseberangan dengan keyakinan lain.

LIMITING BELIEFS

Limiting beliefs adalah bentuk-bentuk keyakinan yang dalam satu atau berbagai cara menjadi penghambat kehidupan kita untuk maju, berubah, menjadi lebih baik, dan menjadi lebih pantas.

- Saya begini, saya begitu / saya tidak begini, saya tidak begitu.
- Saya tidak bisa..., saya tidak dapat...
- Saya harus... / saya tidak boleh...
- Saya adalah... / saya bukan...
- Orang lain adalah..., orang lain akan...
- Dunia ini... hidup ini...

Faktor Penggerus, Pembatas, atau Pemenjara Keyakinan

- Pengalaman
- Pendidikan
- Logika yang salah
- Pembenaran
- Takut dan khawatir

Semua itu menciptakan pola-pola berpikir dan pola-pola rasa tertentu yang mengakibatkan menguatnya suatu keyakinan di satu sisi dan melemahkan keyakinan lain di sisi yang lain.

MEMBUANG LIMITING BELIEFS

1. Isolasi Limiting Beliefs

Isolasilah limiting beliefs yang hendak dikikis atau dibuang. Limiting beliefs biasanya menciptakan pilihan sikap, keputusan, dan tindakan yang khas. Salah satunya adalah "keunikannya" terkait perbedaannya dengan apa yang terjadi dan dilakukan orang lain pada umumnya (tidak selalu, tapi ini bisa menjadi salah satu indikasi).

Ketika Anda merasakan ada semacam "keanehan" di dalam sikap, keputusan, dan tindakan Anda, itu mungkin terkait dengan sebuah limiting beliefs. Langkah Anda berikutnya adalah mencari tahu dan menggali informasi tentang beliefs itu.

Keyakinan apa yang membuat saya sampai pada pilihan ini (sikap, keputusan, tindakan)?
Keyakinan apa (lebih tinggi atau lebih rendah - chunkup atau chunkdown, core belief) yang mendasari keyakinan itu?
Apa yang saya takutkan atau khawatirkan? Keyakinan apa yang membuat saya takut atau khawatir?

2. Temukan Sumbernya

Kapankah pertama kali saya meyakini hal itu?
Apa yang terjadi dengan meyakini itu? Apa yang tidak terjadi?
Apakah orang lain yang membuat saya meyakini itu? Siapa?
Apakah keyakinan itu terbentuk oleh pengalaman? Apa?
Apakah saya telah mencoba tidak meyakininya? Berapa kali? Seberapa kuat upaya saya?

3. Kenali Blundernya

Jangan-jangan, limiting belief itu cuma menolong Anda sekali.
Temukanlah bagaimana keyakinan itu telah menjadi pembatas dan pemenjara Anda selama ini.
Bandingkan apa yang Anda peroleh dan rasakan dari keyakinan itu, dengan apa yang diperoleh dan dirasakan oleh mereka yang tidak meyakininya.
Mulailah mengerti bahwa Anda - seperti juga semua orang - adalah tidak sempurna.
Mulailah mengerti bahwa Anda sebenarnya sedang belajar.
Mulailah mengerti, bahwa Anda sebenarnya sudah siap untuk berubah.

4. Bentuklah Empowering Beliefs

Mulailah menguatkan diri. Membuang limiting beliefs berarti menggantinya dengan belief atau keyakinan yang lain yang lebih menguatkan diri Anda.

Berhati-hatilah membangun kekuatan keyakinan. Meyakini suatu kemampuan yang kemampuan itu belum ada pada diri Anda, mungkin akan menciptakan masalah baru. Adalah lebih baik, memulai semua ini dengan keyakinan yang paling mendasar (core beliefs), yaitu bahwa Anda mampu berpikir dan mampu belajar. Siapa yang mampu berpikir, sebenarnya mampu berubah.

Pahamilah bahwa meyakini "saya bisa..." adalah lebih powerful dari pada "saya adalah..."

5. Temukan dan Ciptakan Bukti yang Menguatkan

Anda tidak bisa berhenti di langkah ke-4 dengan hanya "meyakini". Tindakan adalah satu-satunya cara terbaik untuk menguatkan keyakinan. Tugas Anda sekarang adalah menemukan bukti-bukti dan menciptakan bukti-bukti bahwa keyakinan Anda adalah sudah tepat. Penemuan akan terjadi dengan melakukan tindakan.

Jangan lupa, berterimakasihlah kemudian, kepada diri sendiri, kepada orang lain, kepada dunia, dan kepada Tuhan yang telah menciptakan semua itu.

Selamat mencoba. Semoga bermanfaat.

Sumber: David Straker

Ikhwan Sopa
Master Trainer E.D.A.N.
Penulis Buku "Manajemen Pikiran Dan Perasaan"