Manajemen Pikiran Dan Perasaan - Why?

Info buku: http://www.penerbitzaman.com/code.php?index=Segera&op=tampilbuku&bid=118

"Hidup adalah tentang mengorganisasi pola pikir dan pola rasa, dan mengukur kemajuan keduanya menuju cita-cita."
-Ikhwan Sopa-

Bicara tentang manajemen adalah bicara tentang sesuatu yang memang manage-able. Adalah sebuah kerugian, jika ada sesuatu yang sebenarnya manage-able, tapi kita tak melakukan manajemen-nya. Pertanyaannya, "benarkah bahwa pikiran dan perasaan juga bisa di-manage?"

Sejarah setiap anak manusia adalah sama. Perjalanan kehidupan setiap kita adalah begini.

Segera setelah kita lahir, kita memasuki sebuah fase perjalanan dari "pola rasa". Kita menangis meminta susu, kita berteriak minta gendong, kita meminta ini dan itu. Kita hanya merasa - merasa nyaman atau merasa tidak nyaman. Otak kita masih setengah kepalan tangan. Sel-selnya belum banyak tersambung, dan pembelajaran kehidupan baru saja dimulai.

Kita terus tumbuh, dengan dominasi "perasaan" di atas "pikiran". Kita mengamuk tak dibelikan mainan. Kita menangis ingin jajan. Kita merengek ingin diajak jalan-jalan. Pikiran kita mulai berkembang. Kita mulai mampu memilih. Kita  mulai bisa memilah. Kita mulai bisa berpikir. Tapi, pikiran kita masih dikuasai perasaan. Cara berpikir kita masih lebih banyak menghafal, dan mengandalkan "otak kanan".

Lalu, kita sampai di suatu titik (lihat turning point pada gambar di bawah), di mana peradaban dan ajaran tentang keindahan, kebaikan, dan kebenaran, menyatakan bahwa kita dianggap telah seimbang dalam keadaan dan kemampuan "pikiran" dan "perasaan". Banyak sebutan untuk itu:

- Aqil baligh
- Mukallaf
- 17 Tahun Ke Atas
- Dewasa
- Sadar Hukum
- Dan sebagainya

Di berbagai belahan bumi, di seantero penjuru, titik ini diberi simbol dan makna.

- Di Afrika ada upacara menuju dewasa dengan men-tato tubuh
- Di tempat yang sama ada ritual menyantap hewan kesayangan
- Di berbagai suku ada inisiasi dengan memotong dan menajamkan gigi
- Di dunia hiburan ada rating 17 tahun ke atas
- Di hukum perkawinan ada batas minimum usia menikah
- Di hukum pidana ada ketentuan usia sadar hukum
- Di hukum agama ada sebutan akil baligh

Apa yang sebenarnya disimbolkan dengan semua itu?

Kita diasumsikan telah mampu membalik keadaan dan kehidupan. Dari kehidupan yang di-drive oleh perasaan, menjadi kehidupan yang di-drive oleh pikiran. Sejak saat itu, kita adalah kreator kehidupan. Sejak saat itu, kita ada pencipta perasaan.

Pernahkan kita, secara sadar melakukan "inisiasi" seperti ini? Telahkah kita secara sadar melakukan "pembalikan dominasi" dari perasaan ke pikiran? Sementara budaya kuno dan kebijaksanaan peradaban telah begitu kental memaknainya? Atau, kita masihlah tetap anak-anak yang hidup di bawah kendali rasa, di dalam tubuh orang yang dewasa?

Bisakah Anda bayangkan, seseorang, sebuah negara, sebuah organisasi, sebuah kehidupan rumah tangga, sebuah perusahaan, sebuah peradaban, yang berjalan dengan drive "perasaan"? Perasaan - yang dalam ajaran spiritual bahkan bisa bergeser menjadi "hawa nafsu"? Adakah kita masih manusia itu, adakah kita bangsa dan negara itu? Adakah kita, peradaban itu? Sampai kapan, dan mau kemana dengan segala kekanak-kanakan?

Kapankah, kita ingin membalik dominasi, memenangkan pikiran dewasa di atas segala rasa kekanak-kanakan?

Ketika kecil kita hidup dengan "pola rasa" yang mendefinisikan keseluruhan hidup kita. Ketika kita dewasa, sudah sepantasnya kita hidup dengan "pola pikiran" yang mendefinisikan "pola rasa". Dengan ini, kita benar-benar hidup sebagai manusia dewasa, yang menciptakan kehidupan yang bermakna. Sebab, "value" adanya di pikiran.

Mereka bilang, "ingin berbahagia, berbahagialah hari ini juga."
Mereka berkata, "setiap kita mengkreasi kehidupan kita sendiri."
Kitab suci menyebutkan, "tidakkah engkau berpikir?"
Kitab itu juga berkata, "bagi mereka yang berakal".

Kapankah, kita ingin membalik dominasi, menjadikan diri sebagai pemilik kehidupan dan peradaban?

Mari kita maknai gambar berikut ini. Mari kita pahami dan renungkan kedua persepsi ini. Sadarilah, mungkin kita belum pernah secara sadar, melakukan sesuatu di "turning point". Tak ada kata terlambat, sekarang adalah waktu yang tepat, untuk menjadi pemilik yang sesungguhnya dari pikiran dan perasaan. Kita perlu berhenti, dari destruktifnya segala kekanak-kanakan yang terbungkus baju kedewasaan. Kita pantas berhenti dari merengek, mengeluh, mengamuk, menyakiti karena tersakiti, kecewa hanya karena tak terpenuhinya keinginan, memaksakan kehendak, atau dari kesimpangsiuran ingin, perlu, dan butuh. Kita perlu belajar sekali lagi, hanya untuk sekedar berhenti menjadi anak kecil. Mari kita kembali, dari persepsi A ke persepsi B. Orang tua kita, mungkin belum melakukannya untuk kita. Tapi, ini hidup kita! Kitalah yang harus melakukannya.


Mari, kita bangkitkan kembali, ketinggian peradaban!

Semoga bermanfaat.

Ikhwan Sopa
Master Trainer E.D.A.N.
Penulis buku "Manajemen Pikiran Dan Perasaan"

Daftar Isi Buku:

Kata Pengantar
1. Mau Kemana? Mau Apa?
2. Cita-Cita Pribadi dan Cita-Cita Organisasi
3. Tentang Pola Pikir
4. Fisik Mengejar, Pikiran Menarik
5. Hanya Ada Dua Isi Kepala Kita
6. Definisi Bahagia
7. Kemampuan Memilih dan Kekuatan Pilihan
8. Manusia Paling Berpengaruh di Muka Bumi
9. Cara Aman Mengendalikan Kehidupan
10. Tak Ada Stabilitas Tanpa Fleksibilitas
11. Memaknai Masalah, Konflik, Keterbatasan, Kelemahan, dan Ancaman
12. Kita yang Ideal Bukan Kita Saat Ini
13. Sebab Perubahan Adalah Perasaan
14. Ilusi Zona Nyaman
15. Memahami Risiko
16. Memaknai Kesempurnaan
17. Bagaimana Jika ...
18. Mengapa Tindakan Dibutuhkan
19. Segala Sesuatu Diciptakan Dua Kali
20. Segala Sesuatu Telah Diciptakan
21. Kita Sudah Sukses Detik Ini Juga
22. Sukseskan Dulu Sesuatu di Luar Diri Kita
23. Kita Adalah Para Juara
24. Kita Selalu Siap Tempur
25. Jika Kita Butuh Maka Kita Mampu
26. Sesuatu yang Paling Menular Sedunia
27. Sabar, Syukur, dan Menerima Adalah Stamina
28. Hidup Adalah Belajar
29. Tak Ada yang Salah, yang Ada Pelajaran
30. Tak Ada Gagal, yang Ada Umpan Balik
31. Memuliakan dan Menghormati Waktu
32. Kredibilitas
33. Nilai dan Keterlibatan
34. Percaya kepada Orang Lain
35. Kepemimpinan
Penutup
Latihan Manajemen Pikiran dan Perasaan
Daftar Pustaka
Tentang Penulis