How To Be A Mental-Preneur

Note ini terkait dengan status Facebook saya,

"Rencana nulis note "Menerjuni Dunia Mental-Preneur". Mo sharing pembelajaran dan observasi ane di sisi "entry strategy" dan "exit strategy"-nya. Cukup banyak yang terjun tapi lupa rencana "exit", akhirnya terkunci di spesialisasi, di positioning, atau tetap tinggal sebagai karyawan orang lain, dan tak segera full entrepreneur."

(Status di atas bukan sekedar provokasi atau intimidasi, melainkan - setulus mungkin - lebih mendorong setiap kita untuk memberdayakan pilihan. Artinya, mendalami dunia "mental-preneur" tetaplah pilihan. Dan saya meyakini, bahwa setiap orang memilih pilihan terbaik bagi dirinya.

Pertanyaannya adalah, jika Anda sebenarnya menyukai dunia "mental-preneur", TAPI, Anda menjadikannya sebagai sesuatu yang "sambilan". Sebenarnya, siapa sih yang Anda "sambili"? Jika Anda menganggap ini sebagai profesi "nomor dua" - siapa pula yang Anda nomor dua-kan? He...he...he... nothing personal. No offense. Gak usah tersungging, siapa tahu, dengan terjun total, Anda malah makin bahagia dan membahagiakan. Siapa tahu, Anda jadi "korban" saya berikutnya.

Buat Anda yang tetap memilih "sambilan", that's fine. Saya sungguh tetap menghargai dan mendukung Anda sepenuhnya. Saya tetap menghargai dan menghormati pilihan dan profesi Anda. Saya pasti akan banyak belajar dari Anda. Tulisan ini, kebetulan saja dipandang dari sudut entrepreneurship. Ini pun, hanya dengan kacamata saya saja. Peace!

Dengan kata lain, tulisan ini cocok untuk Anda - JIKA - Anda berminat terjun ke dunia "mental-preneur" secara total.)

Kata "entrepreneur" dan "entrepreneurship", berasal dari dua kata. Salah satunya, kurang lebih berarti "enter" atau "memasuki". Dalam konteks ini, "apa yang dimasuki" adalah sebuah wilayah "baru". Wilayah baru itu sering diacu sebagai "bidang", "lahan", "bisnis", "enterprise", atau "usaha". Dari situlah, entrepreneur dan entrepreneurship sering dipersamakan dengan "wirausaha" atau "kewirausahaan". Menjadi enterpreneur, kurang lebih adalah menjadi pengusaha di sebuah bidang dengan menjalankan sebentuk usaha atau perusahaan.

Belakangan, bermunculan berbagai istilah yang diberi akhiran "preneur". Biasanya, fenomena ini berkaitan dengan dua kelompok besar jenis usaha, yaitu "barang" atau "jasa". Termasuk pula "mental-preneur" yang bisnisnya adalah mental dan mentalitas manusia.

Sebagai sesuatu yang "baru", wilayah garapan seorang pengusaha bisa merupakan wilayah yang sebenarnya "lama" tapi menjadi baru karena orang itu baru pertama kali menjadi pengusaha dalam wilayah itu, misalnya perkebunan, pertanian, konsultan dan sebagainya. Atau, ia memang benar-benar merupakan wilayah baru yang diciptakan dengan kreatifitas dan antisipasi terhadap kebutuhan pasar, sehingga selain bahwa ia adalah pengusaha yang baru, wilayah itu sendiripun adalah wilayah baru.

Terkait dengan sesuatu yang "baru" inilah, biasanya entrepreneur atau entrepreneurship, sangat berhubungan dengan faktor risiko. Ibarat sebuah arena kolaborasi, kerjasama, saling mengisi, permainan, pertandingan, atau bahkan peperangan dan apapun yang dapat kita sebut tentang wilayah baru ini, apapun yang terjadi di dalam arena ini adalah fenomena proses untuk tampil sebagai yang pertama, terbaik, atau berbeda.

Pemanasan untuk note ini ada di sini: Bagaimana Menerjuni Dunia Entrepreneur - "Non-Mental-Preneur" - http://goo.gl/oNfVH.

Tidak dapat tidak, "pertama", "terbaik", atau "berbeda", jelas akan melibatkan kompetisi (dalam cara yang baik atau dalam cara yang buruk). Dengan kata lain, faktor risiko di dalam dunia bisnis adalah tentang bagaimana menjadi "pemenang" di arena. Itu artinya, akan ada peluang untuk menang atau kalah, berhasil atau gagal, timbul atau tenggelam, dan seterusnya. Dalam konteks inilah, faktor risiko pengusaha menjadi erat kaitannya dengan "entry strategy" dan "exit strategy".

Siapapun pengusaha, tak ingin menjadi kalah, gagal, atau tenggelam dan kemudian "mati" di arena. Risiko terburuk ini, bisa dikurangi dengan memperhitungkan dua hal, yaitu "entry strategy" dan "exit strategy".

"Entry strategy" diperlukan agar seseorang dapat masuk ke dunia barunya dengan mulus, mudah diterima pasar, atau bahkan secepat mungkin mencapai tingkat penetrasi sampai ke lapisan target pasarnya. Target pasar atau pilihan konsumen ini memang selalu dianggap penting, sebab akan sangat membantu growth atau percepatan, pemantapan positioning, dan efisiensi biaya demi efektif mencapai "pertama", "terbaik", atau "berbeda".

"Exit strategy" diperlukan agar seseorang dapat keluar dari dunia lamanya dengan mulus, mudah diterima pasar (apakah pasar itu akan ditinggalkan atau bahkan dibawa ke dunia barunya), dan secepat mungkin mencapai tingkat penetrasi sampai ke lapisan pasar berikutnya atau lapisan pasar baru yang dibidiknya, atau bahkan secara ekstrem bidang usaha baru yang hendak ditekuninya.

"Entry strategy" yang tidak tepat, akan berisiko melambatkan dan memboroskan perjalanan. Jika sumber daya yang ada padanya tidak mendukung sampai batas kuantitas dan jangka waktu tertentu, pelakunya akan "mati di arena". Begitu pula, "exit strategy" yang tidak tepat akan berisiko "kematian di arena" pula, karena di suatu titik, pelaku semestinya sudah bisa "keluar" dari sana dengan sisa-sisa kekuatannya, hingga sisa kekuatan itu bisa ia gunakan untuk membangun bisnis baru, tapi itu tidak bisa dilakukannya. Kedua risiko ini adalah risiko terburuk para pengusaha. Padahal, filosofi dasar seorang pengusaha adalah "going concern" alias maju terus pantang mundur. Sekali pengusaha, tetap pengusaha.

Bagaimana kedua strategy di atas bisa diutilisasi di dalam dunia "mental-preneur"?

ENTRY STRATEGY

Seorang pengusaha "non-mental", dapat berbagi keahlian dan pengalaman entrepreneurshipnya, dengan berbagai bentuk seminar dan pelatihan. Terlebih lagi, jika bisnisnya saat ini terbilang unik, menarik, dan dibutuhkan produknya oleh masyarakat banyak. Gelaran ini, dapat dimulai dengan gratis atau berbiaya. Dari sini, ia sebagai seorang pengusaha dapat memposisikan diri sebagai sekedar "infopreneur" (pembicara, inspirator, atau motivator), "social-preneur" dengan melibatkan masyarakat luas ke dalam bisnis tertentu yang ia kuasai, atau bahkan menjadi "franchise-preneur" untuk bisnisnya yang dianggap pantas diduplikasi seluas mungkin.

Seseorang bisa mengasah keahliannya di dalam profesi yang ia jalani, dengan terus belajar dan berlatih, sampai suatu saat ia merasa cukup pantas untuk menjadi pengusaha yang mandiri. Ia bisa membagi waktu kerjanya untuk mulai "bertelur di keranjang yang lain" dengan menyambi pekerjaan yang akan mengarahkannya menjadi seorang entrepreneur. Seorang profesional, bisa menjadi nara sumber, pembicara, trainer sesuai bidangnya di berbagai tempat di luar organisasi atau perusahaan di mana ia bekerja. Ia bisa melakukannya di luar jam kerja atau ia bisa melakukannya dengan membuat kesepakatan dengan atasan dan organisasi atau perusahaannya. Sambil berjalan, ia dapat mengembangkan networking dan memupuk sumber daya.

Seseorang yang profesional, dapat pula memulai upayanya dengan menelurkan produk-produk khusus yang mulai di-"branding" atas nama diri atau "perusahaan masa depan"-nya. Produk khusus ini dapat berbentuk event, produk jasa, sebuah buku, semata acara di radio atau televisi, atau rangkaian tulisan di media massa. Produk-produk ini akan menarik perhatian pasar yang menjadi targetnya. Sambil berjalan, ia juga dapat mengembangkan networking dan memupuk sumber daya.

Seorang pengangguran, bahkan dapat memulainya dengan belajar sebanyak dan sedalam mungkin tentang sesuatu dari guru atau mentor yang diinginkannya. Ia dapat memulai dengan menjadi asisten, dengan menjadi associate, atau menjadi trainee. Ketika ia merasa telah menguasai skill yang diinginkannya, ia dapat mulai bergeser menjadi entrepreneur sepenuhnya. Bagaimana dengan sumber dayanya untuk bertahan hidup? Jika ia mahasiswa, ia pasti masih disupport oleh orang tuanya. Bagaimana jika ia adalah seorang pengangguran tanpa ada yang menunjang kehidupannya? Ada seribu satu cara untuk bertahan hidup, dan pada saat yang sama berjalan mengupayakan pergeseran diri menjadi seorang entrepreneur.

Begitulah, ada banyak sekali "entry strategy" yang secara teknis dapat ditempuh seseorang untuk memasuki dunia "mental-preneur". Apa yang penting dari "entry stategy" dalam hal "mental-preneur" adalah faktor keberanian, rasa percaya diri, dan keyakinan. Dengan kata lain, ini berhubungan dengan passion dan misi kehidupan. Dengan kata lain, sedikit berbeda dari "non-mental-preneur" yang modal dasarnya adalah "hard" (uang, keahlian teknis, penguasaan pasar, produk, kantor, dan sebagainya), modal dasar untuk menerjuni dunia "mental-preneur" adalah "mental" itu sendiri. Di sinilah, perbedaan keduanya muncul, di antaranya dalam dua hal ini:

1. "Grow with your customer" adalah sesuatu yang real. Pelaku "mental-preneur" benar-benar tumbuh bersama dengan customernya. Ia memulainya dari diri yang masih kecil, dengan bisnis yang kecil, dengan pasar yang kecil, dan kemudian sama-sama mengarah ke besar sejalan dengan waktu. "Mental-preneur" tidak tumbuh berdasarkan skala ekonomis-nya melainkan mengikuti pertumbuhan ratingnya (rate fee-nya). Ia tidak tumbuh dengan membesarkan "potongan kue"-nya di pasar, melainkan dengan menaikkan level target pasarnya. Kecuali, yang bersangkutan sendiri lebih memilih menjadi "mental-preneur" yang non premium alias "industrial".

2. "Demand" dalam "mental-preneur" adalah sesuatu yang perlu ditumbuhkan. Bahkan, faktor inilah yang sedari awal memunculkan fenomena "mental-preneur" menjadi sebentuk industri. Dan jika perlu, seorang "mental-preneur" justru harus menciptakan dan kemudian membesarkan demand itu di pasar yang menjadi targetnya. Dalam hal inilah, dikatakan bahwa modal dasar "mental-preneur" adalah keberanian, rasa percaya diri, keyakinan, dan misi hidup.

EXIT STRATEGY

"Exit strategy" dalam "mental-preneur" idealnya adalah kelanjutan dari proses mental sang "mental-preneur" itu sendiri. Ia "keluar" dari wilayah lamanya dalam rangka "melanjutkan" dan "melengkapi" pengalaman atau keahliannya dengan faktor "passion". Ini sedikit berbeda dari "non-mental-preneur" yang cenderung "keluar" - untuk masuk - ke wilayah "baru" berbasis "demand" yang teridentifikasi di pasar yang menjadi targetnya.

Dalam hal inilah, seorang pelaku "mental-preneur" yang tidak berorientasi pada "grow with your customer" dan "demand creation" di atas, akan cenderung terkunci di posisinya yang sekarang. Syukur, jika ia telah mencapai level "pertama", "terbaik", atau "berbeda". Jika tidak, ia akan terjebak di dalam industri yang mulai "merah dan berdarah-darah".

Orientasi pada "grow with your customer" dan "demand creation", akan mendorong seorang "mental-preneur" memaksa dirinya untuk terus belajar memahami, mendalami, dan menciptakan pasarnya sendiri. Dengan demikian, ia akan tetap berada di track untuk menjadi yang "pertama", yang "terbaik", atau yang "berbeda".

Dalam hal seorang "mental-preneur" masih berada di wilayah lama yang "non-preneur" dan belum menjadi entrepreneur (masih karyawan orang lain atau masih bekerja untuk orang lain), apa yang dapat dilakukannya adalah terus mengembangkan "mental-skill"-nya sampai skill itu dapat diarahkan untuk menumbuhkan atau menciptakan demand. Artinya, ia perlu "menemukan" sesuatu, "memperbaiki" sesuatu, atau "membedakan" sesuatu.

Note: Masih banyak sekali yang ingin saya sharing di note ini, dan masih banyak sekali yang dapat kita diskusikan. Berhubung masih acak-acakan di kepala saya, monggo, dikomentari dan didiskusikan.

Semoga bermanfaat.

Ikhwan Sopa
Master Trainer E.D.A.N.
Penulis buku "Manajemen Pikiran Dan Perasaan"