Tips Membaca Buku "Manajemen Pikiran Dan Perasaan"

ISBN 9789790242784 Manajemen Pikiran Dan Perasaan

Tips membaca buku "Manajemen Pikiran Dan Perasaan"

1. Pilihlah salah satu dari dua mode membaca:

- Mode Santai (Mulai Bab 6 ke atas)
- Mode Serius (Mulai Bab 1)

2. PENTING:

Jangan lewatkan KATA PENGANTAR. Di situ ada petunjuk membaca pola-pola tulisan yang tidak ada di buku lain.

Selamat membaca. Semoga bermanfaat.

Ikhwan Sopa
Master Trainer E.D.A.N.
Penulis Buku "Manajemen Pikiran Dan Perasaan"

Membuang Limiting Beliefs


"From beliefs to knowledge."
"Knowledge is justified true beliefs."
 
Plato

Belief adalah keyakinan atau kepercayaan. Keyakinan dan kepercayaan, adalah sesuatu yang selalu ada di belakang setiap pilihan sikap, keputusan, dan tindakan. Keyakinan yang tidak tepat akan mengakibatkan pilihan sikap, keputusan, dan tindakan yang juga tidak tepat.

BAGAIMANA BELIEFS TERBENTUK 

Dari "Dalam"

- Pengalaman
Tercetak (imprinted) satu kali dengan kekuatan besar (anchor) atau tercetak berulang-ulang (conditioning).

- Eksperimen
Manusia dengan rasa ingin tahunya pada dasarnya senang bereksperimen.

- Refleksi
Setiap orang cenderung memantulkan segala pengalaman ke dalam dirinya dengan membandingkan berbagai pengalaman itu dengan informasi, data, dan ingatan yang telah tersimpan dalam dirinya.

- Generalisasi
Kemudahan yang telah diberikan oleh Tuhan, disalahgunakan. Kemudahan itu adalah kemampuan untuk melihat persamaan dan kesamaan, hingga kita mampu melakukan penggolongan dan pengelompokan tentang berbagai hal.

Dari "Luar"

- Pakar dan Ahli
Kita cenderung mempercayai orang yang dipersepsi sebagai pakar atau ahli.

- Otoritas
Kita cenderung patuh dan menaati orang yang kita anggap berkedudukan tinggi, terhormat, atau punya jabatan, baik formal maupun informal.

- Bombardir
Seperangkat atau sepaket keyakinan-keyakinan yang dikemas dengan logis, terstruktur, dan baik.

JENIS-JENIS BELIEFS

- Eksistensi (A)
Segala sesuatu dapat dipersepsi sebagai eksis atau "ada", baik untuk sementara waktu atau selamanya. Faktor bahasa sangat berpengaruh. Jika ada "sesuatu" bisa dilabel dengan kata, maka kita cenderung yakin bahwa sesuatu itu "ada".

- Asosiasi (A:B)
Kita meyakini sesuatu dengan meyakini sesuatu yang lain. Jika ada "siang" maka ada "malam", jika ada "atas" maka ada "bawah" dan seterusnya secara berpasangan (dua atau lebih) dan secara berseberangan atau berkebalikan.

- Ekuivalensi (A=B)
Segala hal pada dasarnya memiliki persamaan. Apa yang kita yakini tentang persamaan dan kesamaan, membentuk keyakinan tentang keberadaannya.

- Enaksi (A terjadi)
Ini terkait dengan proses yang terjadi di dunia. Misalnya "hal buruk terjadi". Ungkapan ini adalah sebentuk keyakinan.

- Kausalitas (A -> B)
Hubungan sebab akibat. Misalnya "tak ada asap tanpa api". Jika ada "sebab" maka ada "akibat" dan sebaliknya.

KEKUATAN BELIEFS

- Keyakinan Kuat
Dari sudut neuro logical level (NLL), letaknya adalah "identity" ke atas. Ini adalah tentang identitas dan spiritualitas.

- Keyakinan Buta
Keyakinan buta adalah keyakinan yang penuh. Kekuatannya sama dengan keyakinan kuat, namun di sisi yang lain juga sangat lemah. Keyakinan ini tidak disertai dengan "knowledge".

- Keyakinan Lemah
Keyakinan yang kurang "konwledge", terkikis oleh pengalaman, mengalami ketercampuradukan, atau mengalami pelemahan oleh keyakinan yang lain.

- Ketidak-yakinan
Keyakinan yang berseberangan dengan keyakinan lain.

LIMITING BELIEFS

Limiting beliefs adalah bentuk-bentuk keyakinan yang dalam satu atau berbagai cara menjadi penghambat kehidupan kita untuk maju, berubah, menjadi lebih baik, dan menjadi lebih pantas.

- Saya begini, saya begitu / saya tidak begini, saya tidak begitu.
- Saya tidak bisa..., saya tidak dapat...
- Saya harus... / saya tidak boleh...
- Saya adalah... / saya bukan...
- Orang lain adalah..., orang lain akan...
- Dunia ini... hidup ini...

Faktor Penggerus, Pembatas, atau Pemenjara Keyakinan

- Pengalaman
- Pendidikan
- Logika yang salah
- Pembenaran
- Takut dan khawatir

Semua itu menciptakan pola-pola berpikir dan pola-pola rasa tertentu yang mengakibatkan menguatnya suatu keyakinan di satu sisi dan melemahkan keyakinan lain di sisi yang lain.

MEMBUANG LIMITING BELIEFS

1. Isolasi Limiting Beliefs

Isolasilah limiting beliefs yang hendak dikikis atau dibuang. Limiting beliefs biasanya menciptakan pilihan sikap, keputusan, dan tindakan yang khas. Salah satunya adalah "keunikannya" terkait perbedaannya dengan apa yang terjadi dan dilakukan orang lain pada umumnya (tidak selalu, tapi ini bisa menjadi salah satu indikasi).

Ketika Anda merasakan ada semacam "keanehan" di dalam sikap, keputusan, dan tindakan Anda, itu mungkin terkait dengan sebuah limiting beliefs. Langkah Anda berikutnya adalah mencari tahu dan menggali informasi tentang beliefs itu.

Keyakinan apa yang membuat saya sampai pada pilihan ini (sikap, keputusan, tindakan)?
Keyakinan apa (lebih tinggi atau lebih rendah - chunkup atau chunkdown, core belief) yang mendasari keyakinan itu?
Apa yang saya takutkan atau khawatirkan? Keyakinan apa yang membuat saya takut atau khawatir?

2. Temukan Sumbernya

Kapankah pertama kali saya meyakini hal itu?
Apa yang terjadi dengan meyakini itu? Apa yang tidak terjadi?
Apakah orang lain yang membuat saya meyakini itu? Siapa?
Apakah keyakinan itu terbentuk oleh pengalaman? Apa?
Apakah saya telah mencoba tidak meyakininya? Berapa kali? Seberapa kuat upaya saya?

3. Kenali Blundernya

Jangan-jangan, limiting belief itu cuma menolong Anda sekali.
Temukanlah bagaimana keyakinan itu telah menjadi pembatas dan pemenjara Anda selama ini.
Bandingkan apa yang Anda peroleh dan rasakan dari keyakinan itu, dengan apa yang diperoleh dan dirasakan oleh mereka yang tidak meyakininya.
Mulailah mengerti bahwa Anda - seperti juga semua orang - adalah tidak sempurna.
Mulailah mengerti bahwa Anda sebenarnya sedang belajar.
Mulailah mengerti, bahwa Anda sebenarnya sudah siap untuk berubah.

4. Bentuklah Empowering Beliefs

Mulailah menguatkan diri. Membuang limiting beliefs berarti menggantinya dengan belief atau keyakinan yang lain yang lebih menguatkan diri Anda.

Berhati-hatilah membangun kekuatan keyakinan. Meyakini suatu kemampuan yang kemampuan itu belum ada pada diri Anda, mungkin akan menciptakan masalah baru. Adalah lebih baik, memulai semua ini dengan keyakinan yang paling mendasar (core beliefs), yaitu bahwa Anda mampu berpikir dan mampu belajar. Siapa yang mampu berpikir, sebenarnya mampu berubah.

Pahamilah bahwa meyakini "saya bisa..." adalah lebih powerful dari pada "saya adalah..."

5. Temukan dan Ciptakan Bukti yang Menguatkan

Anda tidak bisa berhenti di langkah ke-4 dengan hanya "meyakini". Tindakan adalah satu-satunya cara terbaik untuk menguatkan keyakinan. Tugas Anda sekarang adalah menemukan bukti-bukti dan menciptakan bukti-bukti bahwa keyakinan Anda adalah sudah tepat. Penemuan akan terjadi dengan melakukan tindakan.

Jangan lupa, berterimakasihlah kemudian, kepada diri sendiri, kepada orang lain, kepada dunia, dan kepada Tuhan yang telah menciptakan semua itu.

Selamat mencoba. Semoga bermanfaat.

Sumber: David Straker

Ikhwan Sopa
Master Trainer E.D.A.N.
Penulis Buku "Manajemen Pikiran Dan Perasaan"

Manajemen Pikiran Dan Perasaan - Genre Baru Di Dunia Life Skill

Dear all, berikut ini informasi "Manajemen Pikiran Dan Perasaan"

1. Buku "Manajemen Pikiran Dan Perasaan"

392 Halaman, Rp 65.000,- klik untuk memperbesar gambar

2. Perbandingan Training "Manajemen Pikiran Dan Perasaan" tingkat "praktisi" dan tingkat "mastery". 

Klik untuk memperbesar gambar
NOTE:
Apa yang di atas, tidak ada di buku, melainkan hanya ada di training.

3. Perbandingan Outcome Skill  "Manajemen Pikiran Dan Perasaan" tingkat "praktisi" dan tingkat "mastery".

Klik untuk memperbesar gambar
NOTE:
Apa yang di atas, tidak ada di buku, melainkan hanya ada di training.

Klik untuk memperbesar gambar 
NOTE:
Apa yang di atas, tidak ada di buku, melainkan hanya ada di training.



4. Organisasi, struktur, dan jenjang pelatihan.
Klik untuk memperbesar gambar
NOTE:
Apa yang di atas, tidak ada di buku, melainkan hanya ada di training.

5. Positioning
Klik untuk memperbesar gambar
NOTE:
Apa yang di atas, tidak ada di buku, melainkan hanya ada di training

"Manajemen Pikiran Dan Perasaan" diposisikan sebagai genre baru dalam dunia pengembangan diri, self help, self development, life skill, team and organisation skill, leadership skill, intra personal dan interpersonal skill.

Semoga bermanfaat.

Ikhwan Sopa
Master Trainer E.D.A.N.
Founder, Pelatih Utama "Manajemen Pikiran Dan Perasaan" 

Training Sertifikasi Manajemen Pikiran Dan Perasaan


"From Beliefs, To Knowledge, To Life Skill. Dari Pembenaran, Menuju Kebenaran. Insya Allah."
Ikhwan Sopa

Dear all,

Terbitnya buku "Manajemen Pikiran Dan Perasaan" di atas, insya Allah pertengahan Mei 2011 nanti, bagi kami adalah sebuah pintu menuju perjalanan petualangan baru kami di dunia pengembangan diri. Buku di atas adalah sebuah "awal" dan bukan "akhir".

Selama proses penulisan dan penerbitannya, kami cukup intens berdiskusi, bertukar pikiran, belajar, dan meriset ke berbagai fenomena dan pihak di dunia training dan pengembangan diri. Terimakasih banyak kepada pihak-pihak berikut ini yang telah berbesar hati dan tulus ikhlas membimbing kami (langsung atau tidak langsung, dan bahkan mungkin yang bersangkutan tidak menyadari), hingga buku ini akhirnya bisa selesai dan insya Allah terbit:

- Pak Yan Nurindra
- Kang Asep Haerul Gani
- Mas Prasetya M Brata
- Mas Agung Webe
- Pak Jamil Azzaini
- Mas Prie GS
- Pak Syaiful Bachri (Kang Puhong)
- Mas Krishnamurti
- Mas Ronny Furqony
- Bang Zaki Makarim
- Bang Fathi Ridwan Basalamah
- Mas Ebes Supriyanto
- Mas Arif RH

Dan masih banyak lagi nama yang tak bisa kami sebut satu per satu di sini, yaitu para sahabat Facebook semua dan para guru virtual saya.

Di saat-saat mendekati proses penerbitan, persoalan judul "Manajemen Pikiran Dan Perasaan" sempat menjadi perdebatan hangat di antara kami.

Dengan segala kerendahan hati, kami menyampaikan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh pihak di atas, kepada seluruh sahabat Facebook, dan kepada segala pihak yang telah membantu kami, langsung atau tidak langsung, terkait dengan buku ini.

Sebagai "awal" - buku ini ditindaklanjuti dengan berbagai training sebagai pelengkap, sehingga buku ini tidak hanya terbatas sebagai bacaan atau inspirasi. Kami sangat berharap, bahwa buku ini benar-benar menjadi penerang, pencerah, perubah, dan pemakna kehidupan bagi sesiapa yang terlibat dengannya.

Patut dicatat, bahwa keberadaan buku di atas tidak diposisikan semata-mata sebagai sebentuk "preview" dari training yang kami gelar. Kami mengupayakan bahwa buku itu tetap dapat menjadi sesuatu yang mandiri dan lengkap dengan ketebalan 392 halaman, yang insya Allah semaksimal mungkin bisa menyampaikan apa-apa yang kami yakini baik, benar, pantas, dan indah bagi kehidupan.

Berbagai training itu, kami posisikan sebagai sebentuk sumbangsih kecil kami, bagi diri kami sendiri, bagi setiap individu yang memaknai hidupnya sebagai indah, baik, dan benar, bagi masyarakat luas, bagi bangsa dan negara yang kita cintai, dan bagi kemanusiaan dan peradaban. Semoga, "Manajemen Pikiran Dan Perasaan" dapat memberikan inspirasi yang menuju kepada "proses standarisasi" dari segala apa yang telah dikembangkan oleh berbagai pihak dalam dunia pengembangan diri, life skill, dan softskill.

Training-training yang mengikuti buku "Manajemen Pikiran Dan Perasaan" adalah sebagai berikut:

1. Training Sertifikasi Praktisi (Certified Practitioner) "Manajemen Pikiran Dan Perasaan",
2. Training Sertifikasi Praktisi Master (Certified Master Practitioner) "Manajemen Pikiran Dan Perasaan", dan
3. Training Sertifikasi Pelatih Praktisi (Certified Trainer) "Manajemen Pikiran Dan Perasaan".

Para praktisi, praktisi master, dan pelatih praktisi, akan kami wadahi dalam sebuah komunitas. Secara online, kami menyiapkan wadah itu di sini: http://pikiranperasaan.org/ (dalam pengerjaan). Dalam wadah ini, kami juga mengembangkan sebuah forum R&D dan think-tank, guna pengembangan, update skill, kurikulum, profesi dan organisasi praktisi ke masa depan. Jika Anda tertarik, Anda bisa terlibat dalam semua ini.

Insya Allah, Training Sertifikasi Praktisi (Certified Practitioner) "Manajemen Pikiran Dan Perasaan" angkatan pertama akan kami gelar pada tanggal 18-22 Juli 2011 mendatang.

Gambaran umum dari training tingkat dasar ini - Praktisi (Certified Practitioner) adalah sebagai berikut:

1. Disain Training

Training ini didisain untuk mengakomodasi dan melatih trainee dalam dua tahap, yaitu

- Menjadikan "Manajemen Pikiran Dan Perasaan" sebagai self skill.
- Menjadikan "Manajemen Pikiran Dan Perasaan" sebagai helping skill.

Di tahap self skill, para trainee akan dibimbing dan dilatih untuk memahami dan mendalami fenomena beliefs system-nya sendiri. Kemudian, mereka akan dibimbing melakukan assesment dan identifikasi sejauh manakah akurasi dan keandalan dari beliefs system mereka itu dalam menunjang keberhasilan kehidupan pribadi mereka. Pada dasarnya, mereka mengerjakan "pekerjaan rumah" alias PR mereka sendiri. Ini kami anggap sangat penting dan mendasar, sebab pada akhirnya, setelah mereka mengikuti training ini, mereka akan memposisikan diri mereka sebagai seorang "people helper" di berbagai bidang, misalnya terapis, konselor, konsultan, coach, mentor, fasilitator, atau nara sumber untuk bidang keahlian "Manajemen Pikiran Dan Perasaan". 

Di tahap helping skill, para trainee akan dibimbing dan dilatih untuk memahami dan mendalami berbagai hal terkait "people helper skill" di antaranya:

- Melatih kemampuan meta-cognition (berpikir tentang berpikir),
- Melatih basic intervention skill (teknik intervensi dasar) - mis. talk therapy atau brief intervention
- Melatih seni intervensi dengan pendekatan inspirational dan motivasional (metaphor, looping, seeding, dan sebagainya).

Tiga basic skill di atas adalah menjadi target utama dari training ini.


Terkait tiga target pelatihan di atas, para trainee tidak harus seorang psikolog atau yang memiliki latar belakang ilmu psikologi. Pada dasarnya, meta cognition dan basic intervention skill adalah keterampilan berkomunikasi. Namun demikian, adalah dianjurkan kepada para trainee, untuk mempelajari ilmu-ilmu psikologi terapan dasar dan ilmu-ilmu komunikasi seperti hypnosis dan NLP.

2. Keterkaitan training ini dengan buku "Manajemen Pikiran Dan Perasaan"

Buku "Manajemen Pikiran Dan Perasaan" adalah modul utama untuk training ini, yang dibahasakan ulang menjadi poin-poin pembelajaran. Oleh sebab itu, setiap trainee diwajibkan untuk selesai membaca keseluruhan buku ini, maksimal satu minggu sebelum training dilaksanakan. Buku ini didapatkan secara terpisah, dengan membeli atau meminjam, di luar biaya training itu sendiri.

3. Outcome Skill

Insya Allah, outcome berikut inilah yang kami harapkan setelah menyelesaikan training basic ini.

- Trainee telah memperbaiki beliefs system-nya sendiri, hidup di dalamnya, dan mengoperasikan kehidupannya dengan segala tools dan kelengkapannya.

- Trainee telah memiliki kemampuan untuk mengeksekusi seni "people helper" sesuai dengan profesi dan kepentingan baiknya masing-masing.

- Sebagai gambaran, skill yang dikuasai alumni dari training ini, insya Allah akan mengacu kepada overall beliefs system sebagaimana yang diungkap dalam buku "Manajemen Pikiran Dan Perasaan", seperti ini:

"Kenaikan target 200% itu luar biasa. Butuh sikap mental khusus menilik bagaimana mereka harus melakukannya di lapangan. Di antaranya, adalah tentang Bab 24 dan Bab 23. Ini krusial, sejauh ini mereka masih sangat mengandalkan Bab 27 dan 21 saja. Secara team, jika ini bisa dilakukan, insya Allah dalam beberapa bulan kita akan mengalami kemajuan pesat."

"Baiklah Pak Andri, anda bermasalah dalam Bab 2, Bab 17, Bab 19, dan Bab 29. Mari kita perbaiki."

"Kesimpulan saya, pasukan Pak Didin masih lemah dalam Bab 4, Bab 14, dan Bab 35. Mari kita telusuri, dan mari kita benahi."

"Pak ustadz, Anda bisa meng-utilisasi Bab 23, Bab 12, dan Bab 11. Bukankah itu identik dengan apa yang dikatakan oleh kitab suci?"

"Diagnosis: Bab 7, Bab 8, Bab 16, dan Bab 5. Prognosis: Bab 4, Bab 8, dan Bab 13.Rekomendasi : Bab 2 dan 4, Bab 16 dengan modifikasi, dan Bab 5 dengan penguatan."

"Dear Board Of Director, budaya perusahaan Anda, sangat lemah dalam Bab 12, Bab 28, dan Bab 35. Rekomendasi profesional saya adalah menyelenggarakan sebuah training tentang ilmu komunikasi dan kepemimpinan."

"Secara prioritas, apa yang perlu kita perbaiki di divisi ini, adalah Bab 32, Bab 24, dan Bab 28. Si A itu kirim saja ikut training NLP, si B ikutkan pelatihan Hypnosis, si C itu cukup dinaikkan saja targetnya. Si D, dicoach lagi deh sellingnya. Si E, si F, dan si G silahkan dibenahi customer service skillnya. Si H itu bekali dengan handling objection. Dan si I, OB yang potensial itu, silahkan tandemkan dengan satu atau beberapa temannya."

"Instansi ini, sedang melakukan perubahan. Sikap mental yang diperlukan menurut pucuk pimpinan, adalah sebagaimana yang dimaksud dalam Bab 1, Bab 2, dan Bab 33. Oleh sebab itu, apa yang paling efisien dan efektif untuk kepentingan ini, adalah membawa mereka ke suatu event outbound, dan di sana akan kita berikan sebuah sesi untuk menginternalisasi corporate values, corporate vision, dan corporate mission. Titik beratnya adalah tentang Bab 12, dan Bab 6."

"Ah elu. Gitu aja nggak bisa. Sini, kita future pacing lagi Bab 12."

"Hmmm... dia sedang berbicara dengan pikiran. Padahal tadi ngomongnya pake perasaan."

Note: Kami menyadari, bahwa mengutak-atik kehidupan, dunia profesi, dan dunia bisnis tidaklah semudah membalik telapak tangan. Namun demikian, kami meyakini bahwa perjalanan menuju target, cita-cita, dan tujuan, akan menjadi jauh lebih mudah, jika kita dapat menciptakan model-model yang sederhana dan terukur. Kita, jelas tak ingin mempersulit.

Gambaran skill outcome ini dapat lebih dipahami dengan menengok daftar isi dari buku ini di sini:

http://blog.qacomm.com/2011/04/daftar-isi-manajemen-pikiran-dan.html

4. Siapa yang pantas mengikuti training ini

- Pribadi untuk kepentingan pribadi
- Manager HRD
- Para manager divisi atau departemen lain dalam organisasi dan perusahaan
- Terapis, konselor, konsultan, coach, mentor, fasilitator, atau nara sumber
- CEO, company owner
- Leader di segala bidang
- Dosen, guru, praktisi Pendidikan
- Dai, penceramah, ulama, dan penasehat spiritual
- Praktisi lapangan, salesman, dan sebagainya.

5. Training tingkat mastery dan pelatih, pengembangan profesi praktisi, dan organisasi

Dijelaskan dalam training.

Demikian, semoga bermanfaat.

Tertarik?

Ikhwan Sopa
Master Trainer E.D.A.N.
Founder, Pelatih Utama "Manajemen Pikiran Dan Perasaan".

Daftar Isi - Manajemen Pikiran Dan Perasaan


http://www.penerbitzaman.com/code.php?index=Segera&op=tampilbuku&bid=118

Mengapa perlu "Manajemen Pikiran Dan Perasaan":
http://blog.qacomm.com/2011/04/manajemen-pikiran-dan-perasaan-why.html

Daftar Isi Buku

Kata Pengantar
1. Mau Kemana? Mau Apa?
2. Cita-Cita Pribadi dan Cita-Cita Organisasi
3. Tentang Pola Pikir
4. Fisik Mengejar, Pikiran Menarik
5. Hanya Ada Dua Isi Kepala Kita
6. Definisi Bahagia
7. Kemampuan Memilih dan Kekuatan Pilihan
8. Manusia Paling Berpengaruh di Muka Bumi
9. Cara Aman Mengendalikan Kehidupan
10. Tak Ada Stabilitas Tanpa Fleksibilitas
11. Memaknai Masalah, Konflik, Keterbatasan, Kelemahan, dan Ancaman
12. Kita yang Ideal Bukan Kita Saat Ini
13. Sebab Perubahan Adalah Perasaan
14. Ilusi Zona Nyaman
15. Memahami Risiko
16. Memaknai Kesempurnaan
17. Bagaimana Jika ...
18. Mengapa Tindakan Dibutuhkan
19. Segala Sesuatu Diciptakan Dua Kali
20. Segala Sesuatu Telah Diciptakan
21. Kita Sudah Sukses Detik Ini Juga
22. Sukseskan Dulu Sesuatu di Luar Diri Kita
23. Kita Adalah Para Juara
24. Kita Selalu Siap Tempur
25. Jika Kita Butuh Maka Kita Mampu
26. Sesuatu yang Paling Menular Sedunia
27. Sabar, Syukur, dan Menerima Adalah Stamina
28. Hidup Adalah Belajar
29. Tak Ada yang Salah, yang Ada Pelajaran
30. Tak Ada Gagal, yang Ada Umpan Balik
31. Memuliakan dan Menghormati Waktu
32. Kredibilitas
33. Nilai dan Keterlibatan
34. Percaya kepada Orang Lain
35. Kepemimpinan
Penutup
Latihan Manajemen Pikiran dan Perasaan
Daftar Pustaka
Tentang Penulis

Semoga bermanfaat. Insya Allah pertengahan Mei 2011 beredar.

Ikhwan Sopa
Penulis

Manajemen Pikiran Dan Perasaan - Why?

Info buku: http://www.penerbitzaman.com/code.php?index=Segera&op=tampilbuku&bid=118

"Hidup adalah tentang mengorganisasi pola pikir dan pola rasa, dan mengukur kemajuan keduanya menuju cita-cita."
-Ikhwan Sopa-

Bicara tentang manajemen adalah bicara tentang sesuatu yang memang manage-able. Adalah sebuah kerugian, jika ada sesuatu yang sebenarnya manage-able, tapi kita tak melakukan manajemen-nya. Pertanyaannya, "benarkah bahwa pikiran dan perasaan juga bisa di-manage?"

Sejarah setiap anak manusia adalah sama. Perjalanan kehidupan setiap kita adalah begini.

Segera setelah kita lahir, kita memasuki sebuah fase perjalanan dari "pola rasa". Kita menangis meminta susu, kita berteriak minta gendong, kita meminta ini dan itu. Kita hanya merasa - merasa nyaman atau merasa tidak nyaman. Otak kita masih setengah kepalan tangan. Sel-selnya belum banyak tersambung, dan pembelajaran kehidupan baru saja dimulai.

Kita terus tumbuh, dengan dominasi "perasaan" di atas "pikiran". Kita mengamuk tak dibelikan mainan. Kita menangis ingin jajan. Kita merengek ingin diajak jalan-jalan. Pikiran kita mulai berkembang. Kita mulai mampu memilih. Kita  mulai bisa memilah. Kita mulai bisa berpikir. Tapi, pikiran kita masih dikuasai perasaan. Cara berpikir kita masih lebih banyak menghafal, dan mengandalkan "otak kanan".

Lalu, kita sampai di suatu titik (lihat turning point pada gambar di bawah), di mana peradaban dan ajaran tentang keindahan, kebaikan, dan kebenaran, menyatakan bahwa kita dianggap telah seimbang dalam keadaan dan kemampuan "pikiran" dan "perasaan". Banyak sebutan untuk itu:

- Aqil baligh
- Mukallaf
- 17 Tahun Ke Atas
- Dewasa
- Sadar Hukum
- Dan sebagainya

Di berbagai belahan bumi, di seantero penjuru, titik ini diberi simbol dan makna.

- Di Afrika ada upacara menuju dewasa dengan men-tato tubuh
- Di tempat yang sama ada ritual menyantap hewan kesayangan
- Di berbagai suku ada inisiasi dengan memotong dan menajamkan gigi
- Di dunia hiburan ada rating 17 tahun ke atas
- Di hukum perkawinan ada batas minimum usia menikah
- Di hukum pidana ada ketentuan usia sadar hukum
- Di hukum agama ada sebutan akil baligh

Apa yang sebenarnya disimbolkan dengan semua itu?

Kita diasumsikan telah mampu membalik keadaan dan kehidupan. Dari kehidupan yang di-drive oleh perasaan, menjadi kehidupan yang di-drive oleh pikiran. Sejak saat itu, kita adalah kreator kehidupan. Sejak saat itu, kita ada pencipta perasaan.

Pernahkan kita, secara sadar melakukan "inisiasi" seperti ini? Telahkah kita secara sadar melakukan "pembalikan dominasi" dari perasaan ke pikiran? Sementara budaya kuno dan kebijaksanaan peradaban telah begitu kental memaknainya? Atau, kita masihlah tetap anak-anak yang hidup di bawah kendali rasa, di dalam tubuh orang yang dewasa?

Bisakah Anda bayangkan, seseorang, sebuah negara, sebuah organisasi, sebuah kehidupan rumah tangga, sebuah perusahaan, sebuah peradaban, yang berjalan dengan drive "perasaan"? Perasaan - yang dalam ajaran spiritual bahkan bisa bergeser menjadi "hawa nafsu"? Adakah kita masih manusia itu, adakah kita bangsa dan negara itu? Adakah kita, peradaban itu? Sampai kapan, dan mau kemana dengan segala kekanak-kanakan?

Kapankah, kita ingin membalik dominasi, memenangkan pikiran dewasa di atas segala rasa kekanak-kanakan?

Ketika kecil kita hidup dengan "pola rasa" yang mendefinisikan keseluruhan hidup kita. Ketika kita dewasa, sudah sepantasnya kita hidup dengan "pola pikiran" yang mendefinisikan "pola rasa". Dengan ini, kita benar-benar hidup sebagai manusia dewasa, yang menciptakan kehidupan yang bermakna. Sebab, "value" adanya di pikiran.

Mereka bilang, "ingin berbahagia, berbahagialah hari ini juga."
Mereka berkata, "setiap kita mengkreasi kehidupan kita sendiri."
Kitab suci menyebutkan, "tidakkah engkau berpikir?"
Kitab itu juga berkata, "bagi mereka yang berakal".

Kapankah, kita ingin membalik dominasi, menjadikan diri sebagai pemilik kehidupan dan peradaban?

Mari kita maknai gambar berikut ini. Mari kita pahami dan renungkan kedua persepsi ini. Sadarilah, mungkin kita belum pernah secara sadar, melakukan sesuatu di "turning point". Tak ada kata terlambat, sekarang adalah waktu yang tepat, untuk menjadi pemilik yang sesungguhnya dari pikiran dan perasaan. Kita perlu berhenti, dari destruktifnya segala kekanak-kanakan yang terbungkus baju kedewasaan. Kita pantas berhenti dari merengek, mengeluh, mengamuk, menyakiti karena tersakiti, kecewa hanya karena tak terpenuhinya keinginan, memaksakan kehendak, atau dari kesimpangsiuran ingin, perlu, dan butuh. Kita perlu belajar sekali lagi, hanya untuk sekedar berhenti menjadi anak kecil. Mari kita kembali, dari persepsi A ke persepsi B. Orang tua kita, mungkin belum melakukannya untuk kita. Tapi, ini hidup kita! Kitalah yang harus melakukannya.


Mari, kita bangkitkan kembali, ketinggian peradaban!

Semoga bermanfaat.

Ikhwan Sopa
Master Trainer E.D.A.N.
Penulis buku "Manajemen Pikiran Dan Perasaan"

Daftar Isi Buku:

Kata Pengantar
1. Mau Kemana? Mau Apa?
2. Cita-Cita Pribadi dan Cita-Cita Organisasi
3. Tentang Pola Pikir
4. Fisik Mengejar, Pikiran Menarik
5. Hanya Ada Dua Isi Kepala Kita
6. Definisi Bahagia
7. Kemampuan Memilih dan Kekuatan Pilihan
8. Manusia Paling Berpengaruh di Muka Bumi
9. Cara Aman Mengendalikan Kehidupan
10. Tak Ada Stabilitas Tanpa Fleksibilitas
11. Memaknai Masalah, Konflik, Keterbatasan, Kelemahan, dan Ancaman
12. Kita yang Ideal Bukan Kita Saat Ini
13. Sebab Perubahan Adalah Perasaan
14. Ilusi Zona Nyaman
15. Memahami Risiko
16. Memaknai Kesempurnaan
17. Bagaimana Jika ...
18. Mengapa Tindakan Dibutuhkan
19. Segala Sesuatu Diciptakan Dua Kali
20. Segala Sesuatu Telah Diciptakan
21. Kita Sudah Sukses Detik Ini Juga
22. Sukseskan Dulu Sesuatu di Luar Diri Kita
23. Kita Adalah Para Juara
24. Kita Selalu Siap Tempur
25. Jika Kita Butuh Maka Kita Mampu
26. Sesuatu yang Paling Menular Sedunia
27. Sabar, Syukur, dan Menerima Adalah Stamina
28. Hidup Adalah Belajar
29. Tak Ada yang Salah, yang Ada Pelajaran
30. Tak Ada Gagal, yang Ada Umpan Balik
31. Memuliakan dan Menghormati Waktu
32. Kredibilitas
33. Nilai dan Keterlibatan
34. Percaya kepada Orang Lain
35. Kepemimpinan
Penutup
Latihan Manajemen Pikiran dan Perasaan
Daftar Pustaka
Tentang Penulis

Manajemen Pikiran Dan Perasaan

Segera terbit. Mohon doa restu. Insya Allah pertengahan Mei 2011.


 


Semoga bermanfaat.

How To Be A Mental-Preneur

Note ini terkait dengan status Facebook saya,

"Rencana nulis note "Menerjuni Dunia Mental-Preneur". Mo sharing pembelajaran dan observasi ane di sisi "entry strategy" dan "exit strategy"-nya. Cukup banyak yang terjun tapi lupa rencana "exit", akhirnya terkunci di spesialisasi, di positioning, atau tetap tinggal sebagai karyawan orang lain, dan tak segera full entrepreneur."

(Status di atas bukan sekedar provokasi atau intimidasi, melainkan - setulus mungkin - lebih mendorong setiap kita untuk memberdayakan pilihan. Artinya, mendalami dunia "mental-preneur" tetaplah pilihan. Dan saya meyakini, bahwa setiap orang memilih pilihan terbaik bagi dirinya.

Pertanyaannya adalah, jika Anda sebenarnya menyukai dunia "mental-preneur", TAPI, Anda menjadikannya sebagai sesuatu yang "sambilan". Sebenarnya, siapa sih yang Anda "sambili"? Jika Anda menganggap ini sebagai profesi "nomor dua" - siapa pula yang Anda nomor dua-kan? He...he...he... nothing personal. No offense. Gak usah tersungging, siapa tahu, dengan terjun total, Anda malah makin bahagia dan membahagiakan. Siapa tahu, Anda jadi "korban" saya berikutnya.

Buat Anda yang tetap memilih "sambilan", that's fine. Saya sungguh tetap menghargai dan mendukung Anda sepenuhnya. Saya tetap menghargai dan menghormati pilihan dan profesi Anda. Saya pasti akan banyak belajar dari Anda. Tulisan ini, kebetulan saja dipandang dari sudut entrepreneurship. Ini pun, hanya dengan kacamata saya saja. Peace!

Dengan kata lain, tulisan ini cocok untuk Anda - JIKA - Anda berminat terjun ke dunia "mental-preneur" secara total.)

Kata "entrepreneur" dan "entrepreneurship", berasal dari dua kata. Salah satunya, kurang lebih berarti "enter" atau "memasuki". Dalam konteks ini, "apa yang dimasuki" adalah sebuah wilayah "baru". Wilayah baru itu sering diacu sebagai "bidang", "lahan", "bisnis", "enterprise", atau "usaha". Dari situlah, entrepreneur dan entrepreneurship sering dipersamakan dengan "wirausaha" atau "kewirausahaan". Menjadi enterpreneur, kurang lebih adalah menjadi pengusaha di sebuah bidang dengan menjalankan sebentuk usaha atau perusahaan.

Belakangan, bermunculan berbagai istilah yang diberi akhiran "preneur". Biasanya, fenomena ini berkaitan dengan dua kelompok besar jenis usaha, yaitu "barang" atau "jasa". Termasuk pula "mental-preneur" yang bisnisnya adalah mental dan mentalitas manusia.

Sebagai sesuatu yang "baru", wilayah garapan seorang pengusaha bisa merupakan wilayah yang sebenarnya "lama" tapi menjadi baru karena orang itu baru pertama kali menjadi pengusaha dalam wilayah itu, misalnya perkebunan, pertanian, konsultan dan sebagainya. Atau, ia memang benar-benar merupakan wilayah baru yang diciptakan dengan kreatifitas dan antisipasi terhadap kebutuhan pasar, sehingga selain bahwa ia adalah pengusaha yang baru, wilayah itu sendiripun adalah wilayah baru.

Terkait dengan sesuatu yang "baru" inilah, biasanya entrepreneur atau entrepreneurship, sangat berhubungan dengan faktor risiko. Ibarat sebuah arena kolaborasi, kerjasama, saling mengisi, permainan, pertandingan, atau bahkan peperangan dan apapun yang dapat kita sebut tentang wilayah baru ini, apapun yang terjadi di dalam arena ini adalah fenomena proses untuk tampil sebagai yang pertama, terbaik, atau berbeda.

Pemanasan untuk note ini ada di sini: Bagaimana Menerjuni Dunia Entrepreneur - "Non-Mental-Preneur" - http://goo.gl/oNfVH.

Tidak dapat tidak, "pertama", "terbaik", atau "berbeda", jelas akan melibatkan kompetisi (dalam cara yang baik atau dalam cara yang buruk). Dengan kata lain, faktor risiko di dalam dunia bisnis adalah tentang bagaimana menjadi "pemenang" di arena. Itu artinya, akan ada peluang untuk menang atau kalah, berhasil atau gagal, timbul atau tenggelam, dan seterusnya. Dalam konteks inilah, faktor risiko pengusaha menjadi erat kaitannya dengan "entry strategy" dan "exit strategy".

Siapapun pengusaha, tak ingin menjadi kalah, gagal, atau tenggelam dan kemudian "mati" di arena. Risiko terburuk ini, bisa dikurangi dengan memperhitungkan dua hal, yaitu "entry strategy" dan "exit strategy".

"Entry strategy" diperlukan agar seseorang dapat masuk ke dunia barunya dengan mulus, mudah diterima pasar, atau bahkan secepat mungkin mencapai tingkat penetrasi sampai ke lapisan target pasarnya. Target pasar atau pilihan konsumen ini memang selalu dianggap penting, sebab akan sangat membantu growth atau percepatan, pemantapan positioning, dan efisiensi biaya demi efektif mencapai "pertama", "terbaik", atau "berbeda".

"Exit strategy" diperlukan agar seseorang dapat keluar dari dunia lamanya dengan mulus, mudah diterima pasar (apakah pasar itu akan ditinggalkan atau bahkan dibawa ke dunia barunya), dan secepat mungkin mencapai tingkat penetrasi sampai ke lapisan pasar berikutnya atau lapisan pasar baru yang dibidiknya, atau bahkan secara ekstrem bidang usaha baru yang hendak ditekuninya.

"Entry strategy" yang tidak tepat, akan berisiko melambatkan dan memboroskan perjalanan. Jika sumber daya yang ada padanya tidak mendukung sampai batas kuantitas dan jangka waktu tertentu, pelakunya akan "mati di arena". Begitu pula, "exit strategy" yang tidak tepat akan berisiko "kematian di arena" pula, karena di suatu titik, pelaku semestinya sudah bisa "keluar" dari sana dengan sisa-sisa kekuatannya, hingga sisa kekuatan itu bisa ia gunakan untuk membangun bisnis baru, tapi itu tidak bisa dilakukannya. Kedua risiko ini adalah risiko terburuk para pengusaha. Padahal, filosofi dasar seorang pengusaha adalah "going concern" alias maju terus pantang mundur. Sekali pengusaha, tetap pengusaha.

Bagaimana kedua strategy di atas bisa diutilisasi di dalam dunia "mental-preneur"?

ENTRY STRATEGY

Seorang pengusaha "non-mental", dapat berbagi keahlian dan pengalaman entrepreneurshipnya, dengan berbagai bentuk seminar dan pelatihan. Terlebih lagi, jika bisnisnya saat ini terbilang unik, menarik, dan dibutuhkan produknya oleh masyarakat banyak. Gelaran ini, dapat dimulai dengan gratis atau berbiaya. Dari sini, ia sebagai seorang pengusaha dapat memposisikan diri sebagai sekedar "infopreneur" (pembicara, inspirator, atau motivator), "social-preneur" dengan melibatkan masyarakat luas ke dalam bisnis tertentu yang ia kuasai, atau bahkan menjadi "franchise-preneur" untuk bisnisnya yang dianggap pantas diduplikasi seluas mungkin.

Seseorang bisa mengasah keahliannya di dalam profesi yang ia jalani, dengan terus belajar dan berlatih, sampai suatu saat ia merasa cukup pantas untuk menjadi pengusaha yang mandiri. Ia bisa membagi waktu kerjanya untuk mulai "bertelur di keranjang yang lain" dengan menyambi pekerjaan yang akan mengarahkannya menjadi seorang entrepreneur. Seorang profesional, bisa menjadi nara sumber, pembicara, trainer sesuai bidangnya di berbagai tempat di luar organisasi atau perusahaan di mana ia bekerja. Ia bisa melakukannya di luar jam kerja atau ia bisa melakukannya dengan membuat kesepakatan dengan atasan dan organisasi atau perusahaannya. Sambil berjalan, ia dapat mengembangkan networking dan memupuk sumber daya.

Seseorang yang profesional, dapat pula memulai upayanya dengan menelurkan produk-produk khusus yang mulai di-"branding" atas nama diri atau "perusahaan masa depan"-nya. Produk khusus ini dapat berbentuk event, produk jasa, sebuah buku, semata acara di radio atau televisi, atau rangkaian tulisan di media massa. Produk-produk ini akan menarik perhatian pasar yang menjadi targetnya. Sambil berjalan, ia juga dapat mengembangkan networking dan memupuk sumber daya.

Seorang pengangguran, bahkan dapat memulainya dengan belajar sebanyak dan sedalam mungkin tentang sesuatu dari guru atau mentor yang diinginkannya. Ia dapat memulai dengan menjadi asisten, dengan menjadi associate, atau menjadi trainee. Ketika ia merasa telah menguasai skill yang diinginkannya, ia dapat mulai bergeser menjadi entrepreneur sepenuhnya. Bagaimana dengan sumber dayanya untuk bertahan hidup? Jika ia mahasiswa, ia pasti masih disupport oleh orang tuanya. Bagaimana jika ia adalah seorang pengangguran tanpa ada yang menunjang kehidupannya? Ada seribu satu cara untuk bertahan hidup, dan pada saat yang sama berjalan mengupayakan pergeseran diri menjadi seorang entrepreneur.

Begitulah, ada banyak sekali "entry strategy" yang secara teknis dapat ditempuh seseorang untuk memasuki dunia "mental-preneur". Apa yang penting dari "entry stategy" dalam hal "mental-preneur" adalah faktor keberanian, rasa percaya diri, dan keyakinan. Dengan kata lain, ini berhubungan dengan passion dan misi kehidupan. Dengan kata lain, sedikit berbeda dari "non-mental-preneur" yang modal dasarnya adalah "hard" (uang, keahlian teknis, penguasaan pasar, produk, kantor, dan sebagainya), modal dasar untuk menerjuni dunia "mental-preneur" adalah "mental" itu sendiri. Di sinilah, perbedaan keduanya muncul, di antaranya dalam dua hal ini:

1. "Grow with your customer" adalah sesuatu yang real. Pelaku "mental-preneur" benar-benar tumbuh bersama dengan customernya. Ia memulainya dari diri yang masih kecil, dengan bisnis yang kecil, dengan pasar yang kecil, dan kemudian sama-sama mengarah ke besar sejalan dengan waktu. "Mental-preneur" tidak tumbuh berdasarkan skala ekonomis-nya melainkan mengikuti pertumbuhan ratingnya (rate fee-nya). Ia tidak tumbuh dengan membesarkan "potongan kue"-nya di pasar, melainkan dengan menaikkan level target pasarnya. Kecuali, yang bersangkutan sendiri lebih memilih menjadi "mental-preneur" yang non premium alias "industrial".

2. "Demand" dalam "mental-preneur" adalah sesuatu yang perlu ditumbuhkan. Bahkan, faktor inilah yang sedari awal memunculkan fenomena "mental-preneur" menjadi sebentuk industri. Dan jika perlu, seorang "mental-preneur" justru harus menciptakan dan kemudian membesarkan demand itu di pasar yang menjadi targetnya. Dalam hal inilah, dikatakan bahwa modal dasar "mental-preneur" adalah keberanian, rasa percaya diri, keyakinan, dan misi hidup.

EXIT STRATEGY

"Exit strategy" dalam "mental-preneur" idealnya adalah kelanjutan dari proses mental sang "mental-preneur" itu sendiri. Ia "keluar" dari wilayah lamanya dalam rangka "melanjutkan" dan "melengkapi" pengalaman atau keahliannya dengan faktor "passion". Ini sedikit berbeda dari "non-mental-preneur" yang cenderung "keluar" - untuk masuk - ke wilayah "baru" berbasis "demand" yang teridentifikasi di pasar yang menjadi targetnya.

Dalam hal inilah, seorang pelaku "mental-preneur" yang tidak berorientasi pada "grow with your customer" dan "demand creation" di atas, akan cenderung terkunci di posisinya yang sekarang. Syukur, jika ia telah mencapai level "pertama", "terbaik", atau "berbeda". Jika tidak, ia akan terjebak di dalam industri yang mulai "merah dan berdarah-darah".

Orientasi pada "grow with your customer" dan "demand creation", akan mendorong seorang "mental-preneur" memaksa dirinya untuk terus belajar memahami, mendalami, dan menciptakan pasarnya sendiri. Dengan demikian, ia akan tetap berada di track untuk menjadi yang "pertama", yang "terbaik", atau yang "berbeda".

Dalam hal seorang "mental-preneur" masih berada di wilayah lama yang "non-preneur" dan belum menjadi entrepreneur (masih karyawan orang lain atau masih bekerja untuk orang lain), apa yang dapat dilakukannya adalah terus mengembangkan "mental-skill"-nya sampai skill itu dapat diarahkan untuk menumbuhkan atau menciptakan demand. Artinya, ia perlu "menemukan" sesuatu, "memperbaiki" sesuatu, atau "membedakan" sesuatu.

Note: Masih banyak sekali yang ingin saya sharing di note ini, dan masih banyak sekali yang dapat kita diskusikan. Berhubung masih acak-acakan di kepala saya, monggo, dikomentari dan didiskusikan.

Semoga bermanfaat.

Ikhwan Sopa
Master Trainer E.D.A.N.
Penulis buku "Manajemen Pikiran Dan Perasaan"

Core Competency - Keahlian Utama


"Begitulah, setiap hari kita jalani dengan orientasi menguatkan keyakinan. Sebab, perjalanan kita pasti menanjak; cita-cita itu di atas, bukan di bawah. Maka, bagaimana mungkin kita berjalan, dengan ketidakyakinan akan kemampuan?"
Ikhwan Sopa

"Jika engkau merasa lelah mendongak ke atas melihat orang lain, engkau sedang berlebihan merendahkan diri sendiri."
Ikhwan Sopa

"The road to success is always under construction."
Lily Tomlin

Core Competency atau Keterampilan Utama

Sahabat, sadari ini,
Ada sesuatu di dalam dirimu,
Yang membuat engkau tetap hidup dan bertahan hingga hari ini.
Apapun itu, ia telah berperan besar dalam memberhasilkanmu, selama ini.

Mungkin senyummu yang tulus, mungkin hatimu yang ikhlas,
Mungkin kerjamu yang rapi dan telaten, mungkin keamanahanmu yang terjaga,
Mungkin kemampuanmu dalam bekerjasama, atau kemahiranmu memengaruhi orang lain,
Mungkin, salah satu dari seribu lagi kebaikan dalam dirimu.
Itulah keterampilan terbaikmu, yang sumbernya dari dalam.

Itulah yang juga sahabatku, akan menjadi bekalmu menapaki masa depan.
Peliharalah, perkuatlah, siapkan dan sigapkanlah ia.

Ketika kendala, masalah, hambatan, tantangan, dan peluang atau bahkan ujian  didatangkan kepadamu sebagai pelajaran,
Ketika engkau rasa engkau tak lagi memiliki apa-apa, ketika engkau merasa kalah oleh dunia.

Percayalah, semua itu lebih ditargetkan untuk menguji kekuatan utamamu itu.

http://www.facebook.com/motivasi/posts/10150167711009145
http://www.facebook.com/motivasi/posts/10150167820094145
http://www.facebook.com/motivasi/posts/10150167741094145

Semoga mengispirasimu, bahwa sejauh ini engkau masih tetap di-track menuju cita-cita dan tujuan. Semoga menginspirasimu, bahwa engkau mungkin perlu melakukan pemeliharaan jalan.

Temukanlah kembali, dan utamakan keutamaanmu.

Dari sahabatmu,

Ikhwan Sopa
Master Trainer E.D.A.N.
Penulis buku "Manajemen Pikiran Dan Perasaan"

Intuisi - Apaan Tuh?

"Untuk mempertajam intuisi harus dengan sentuhan lembut."
Dodie Magis

"Menindaklanjuti intuisi, adalah bertindak tanpa keragu-raguan."
Ikhwan Sopa

Diskusi di status FB ini terlalu menarik untuk tidak di-note-kan. Terlebih lagi, setelah kemalasan itu mulai menjadi malas mengganggu saya malam ini.

Diskusi ini masih berlanjut di sini:

http://www.facebook.com/motivasi/posts/10150163093509145

- - - - Mohon bersabar, di bawah banyak foto - - - -























Semoga bermanfaat.

Ikhwan Sopa
Master Trainer E.D.A.N.
Penulis Buku "Manajemen Pikiran Dan Perasaan"