Di Manakah Letaknya Masalah?


Sahabat,

Status dahsyat Pak Mario Teguh pagi ini: "Orang yang BERHENTI di hadapan masalah, menjadikannya sebagai PENGHALANG. Orang yang MENGUPAYAKAN CARA untuk melampaui masalahnya, menjadikannya sebagai PIJAKAN NAIK."

Mohon ijin Pak Mario yang super, saya pake untuk sesi "Awareness" di "Training For Trainers" pagi ini.

What is "awareness"? - It is when you confirmed that something "IS" there.

Setelah engkau menemukan bahwa "penghalang" atau "pijakan naik" itu memang "ada", mulailah bertanya, "adakah dua hal itu yang memang menjadi masalah, atau-kah beban masa lalu Anda dan kekhawatiran Anda tentang masa depan-lah yang menjadi masalah sesungguhnya?"

Tetap semangat!

Ikhwan Sopa
http://milis-bicara.blogspot.com

Free Ramadhan Sharing


Assalamu'alaikum wr.wb.

Sahabat,

Bismillah. Terhitung hari ini, beredar di luar rumah selama dua minggu, setelah itu Ramadhan Sharing (Free Seminar): "Pengaruh Puasa Pada Otak dan Pikiran" dan "Islamic NLP" - "Islamic Law Of Attraction" - http://www.facebook.com/note.php?note_id=119138007065 dan http://bit.ly/3ItNYC - Gratis khusus di bulan puasa, mau? First book first serve.

Tetap semangat!

Wassalamu'alaikum wr.wb.

Ikhwan Sopa
Master Trainer E.D.A.N.
http://milis-bicara.blogspot.com

Hidup Ini Indah Dan Cantik


Sahabat,

Dia Yang Maha Menciptakan, sungguh Maha Mengetahui tentang segala sesuatu, termasuk tentang inginnya kita hidup berbahagia - di mana bahagia yang sesungguhnya, cuma ada "di sana".

Dia telah berfirman bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau; agar kita bersabar dan bersyukur; agar kita bercermin tentang akhirat ke atas dan bercermin tentang dunia ke bawah; agar kita tak terlalu bersedih tentang apa-apa yang luput dan tak terlalu bergembira tentang apa-apa yang didapat.

Setiap permainan, mestinya dimainkan dengan indah dan cantik.

Maka sudah semestinya, hidup ini indah dan cantik bukan?

Tetap semangaaat !!!

Ikhwan Sopa
http://milis-bicara.blogspot.com

Menerima Diri


Sahabat, penerimaan akan memampukan.

Setiap potensi akan teridentifikasi dan terbangkitkan ketika kita bisa menerima diri "sebagaimana adanya".

Hanya itulah titik awal yang paling tepat untuk mulai mengejar dan mencapai diri "sebagaimana yang seharusnya".

Tanpa itu, yang ada hanyalah hidup yang sibuk di dalam penghindaran dan penolakan.

Hanya dengan menerima diri, kita akan bisa memberi untuk orang lain.

Tetap semangat !!!

Ikhwan Sopa
http://milis-bicara.blogspot.com

Idealisme


1. Jika keadaan diri pribadi, keluarga, masyarakat, dan bangsa ini belumlah se-ideal yang kita inginkan, bukankah itu justru mempertegas bahwa "idealisme"-lah yang sesungguhnya memang kita butuhkan?

2. Lawan dari "idealisme" adalah "materialisme". Lucunya, mereka yang secara materi pas-pasan, malah cenderung memiliki kekayaan "idealisme" yang berlimpah. Dan ketika sebagian orang berkata, "justru karena bersikap ideal itulah mereka menjadi pas-pasan," mereka yang berkata ini justru sedang terjebak mempertentangkan "idealisme" dan "realisme".

3. Maka ada baiknya, mari kita lihat secara "realistik" apa yang sedang terjadi pada bangsa ini; kejatuhan.

4. Dari sudut olah rasa dan olah pikir, dari kacamata neurological level, bangsa ini sedang beroperasi di dua tingkat yang paling rendah, yaitu "lingkungan" dan "perilaku" - Menyedihkan, menyedihkan.

5. Dan jika saya sok ngomong gede tentang bangsa, ketimbang sibuk dengan urusan pribadi, saya hanya meyakini ini: "Kita tidak bisa mencapai segala cita-cita dengan sendirian."

6. Bukankah bangsa ini adalah sebuah "teamwork" besar yang mestinya "bekerjasama" dan bukan cuma "bekerja sama-sama" atau "sama-sama bekerja"? - Apa yang perlu diyakini dan dipegang, adalah apa yang lebih besar dari kepentingan pribadi dan golongan. Sekali lagi; idealisme.

He...he...he... ada yang komen, "borongan neh Pak?". Thanks sahabat, ini cuma cerminan betapa semua ini sudah begitu memprihatinkan. Masih untung saya belum sampai ke tingkat "speechless". Jika kita sudah sampai di tingkat terakhir ini, dijamin saya juga bakal masuk ke "ignorance".

Ikhwan Sopa
http://milis-bicara.blogspot.com

Pesan Kebijaksanaan Dari Kota Mati


"Keep in mind that neither success nor failure is ever final. Property may be destroyed and money may lose its purchasing power; but, character, health, knowledge and good judgement will always be in demand under all conditions."
Roger Babson

Sahabat, kita sering sekali lupa akan berbagai pesan kebijaksanaan yang meninggikan dan memuliakan, ketika kita disibukkan oleh rutinitas yang menyedot habis tenaga dan pikiran. Terlebih lagi, bukan tidak mungkin kita bahkan dengan sengaja melupakan panggilan-panggilannya. Melupakannya begitu rupa, hingga menjadi pengabaian yang justru kontradiktif; dengan impian dan dengan cita-cita.

Ketika kita jatuh terlentang, atau terengah-engah menggeletak kelelahan, atau terlena dalam lamunan kekecewaan, kita mungkin sedang membawa beban terlalu berat di pundak, atau terlalu kuat terikat pada penyesalan di masa lalu yang sepertinya benar-benar tak mau membebaskan.

Saat itulah, apa yang bisa kita lihat hanyalah ketinggian langit dan awan; yang sebentar cerah menggembirakan, sebentar gelap dan berhujan, dan sebentar pula terik menyengat.

Saat itulah sahabat, kita sebenarnya sedang diingatkan, untuk selalu kembali menyelami pesan-pesan kebijaksanaan yang meninggikan dan memuliakan.

Ketika kita jatuh terjerembab, atau sulit bernafas dengan kepala tenggelam di dalam lumpur, atau tengkurap meratap-ratap memeluki bumi, kita mungkin sedang membawa beban terlalu berat di dada, atau terlalu kuat terikat pada keinginan di masa depan yang sepertinya benar-benar tak mau meninggalkan.

Saat itulah, apa yang bisa kita lihat hanyalah kerendahan yang gelap dari tanah dan lumpur; yang sebentar begitu subur dan membahagiakan, sebentar becek dan berlumpur, dan sebentar pula retak-retak merekah kering kerontang.

Saat itulah sahabat, kita sebenarnya sedang diingatkan, untuk selalu menyelami kembali pesan-pesan yang meninggikan dan memuliakan.

Pesan-pesan yang meninggikan dan memuliakan itu datang dari kesunyian dan kehampaan, ketika kita terjengkang terlentang atau ketika kita terjerembab tengkurap.

Pertanyaannya sahabat, kepada apakah hati, pikiran, perasaan, tubuh, dada, dan kepala kita akan terbanting dan menghunjam? Apakah kepada batu-batu yang keras dan mematikan? Kepada karang-karang tajam yang begitu mudah merobek-robek harapan? Atau ke hamparan rumput hijau segar yang melegakan? Atau ke lumpur lembut yang harumnya begitu membumi? Atau ke kesunyian hati, pikiran, dan perasaan yang segera bisa memantulkan diri untuk bangkit kembali?

Tersebutlah seorang Roger Ward Babson (6 Juli 1875 – 5 Maret 1967), seorang ekonom lulusan MIT, yang dengan presisi di tanggal 5 September 1929 meramalkan kehancuran pasar saham Amerika Serikat yang berujung pada sejarah ekonomi terburuk di negeri itu.

Tersebutlah sebuah kota bernama Dogtown di negara bagian Massachusetts Amerika Serikat, yang tanahnya begitu keras berbatu dan sama sekali dianggap tidak cocok untuk pertanian, yang penghuninya adalah orang-orang yang dihormati yang mulai datang ke sana sejak tahun 1693, yang kemudian mencapai puncak populasinya sekitar tahun 1750, dan yang akhirnya menjadi kota mati yang ditinggalkan penghuni kecuali seorang Cornelius "Black Neil" Finson yang ditemukan hampir beku kedinginan di musim salju.

Di kota itulah, di titik terendah dalam sejarah kehidupan sebuah bangsa, di kesunyian Dogtown sebagai kota mati, Roger Babson meninggalkan pesan-pesan ketinggian, yang dengan keluasan hatinya, telah membangkitkan harapan para pemahat yang hampir tak punya apa-apa lagi karena menganggur terlalu lama, agar bisa bangkit kembali dengan tetap memegang kuat-kuat segala impian.

Babson membayar mereka untuk mengukirkan pesan-pesan ketinggian pada batu dan karang di berbagai sudut kota itu, yang sekalipun kini telah terjerembab dan tengkurap menjadi hutan semak belukar yang begitu sunyi, namun penuh dijejali pesan-pesan kebijaksanaan yang meninggikan dan memuliakan.

Sahabat, pesan-pesan yang meninggikan dan memuliakan memang sering kali datang di tengah kesunyian hati dan perasaan, di tengah terhentinya kesibukan tubuh dan pikiran, ketika kita sedang jatuh terlentang dan tersuruk terjerembab.

Dan sahabat, jika engkau jatuh, sesungguhnyalah engkau bisa memilih untuk tidak jatuh dengan keras ke batu-batu dan karang-karang. Sesungguhnyalah, engkau bisa memilih untuk jatuh dengan lembut hingga memantul, kepada pesan-pesan kebijaksanaan yang terukir abadi di atasnya.























Tetap semangaaaaaat !!!

Ikhwan Sopa
Master Trainer E.D.A.N.
http://milis-bicara.blogspot.com

Aku Adalah Hamba


Sahabat,

Aku sering lupa, bahwa ketika keningku kuletakkan begitu rendah ketika aku bersujud, adalah cerminan, dari suara jiwaku yang menyatakan kepatuhan dan ketaatan kepada-Nya, dari cara yang diterima-Nya dalam meletakkan pemahaman dan pendapatku tentang segala sesuatu, dan dari harusnya aku menaklukkan kekerasan hati hanya untuk tunduk pada perintah dan larangan-Nya. Aku sering lupa, bagaimana seharusnya aku menghamba.

Tetaplah menghamba hanya kepada-Nya!

Ikhwan Sopa
http://milis-bicara.blogspot.com