Kesepakatan Kelima Dengan Diri Sendiri


Sahabat, semoga di jalan kita menuju ke kebahagiaan dan akhir kebaikan, kita masih bisa mengingat tentang pelajaran yang pernah kita gali bersama sebelumnya, yaitu "Empat Kesepakatan Dengan Diri Sendiri".

Sahabat juga bisa membacanya sekali lagi di sini: http://bit.ly/9uB0Xl.

Ringkasan dari bahan pelajaran bersama kita itu adalah sebagai berikut.

Jiwa yang akan menangguk kebahagiaan, adalah jiwa yang telah bersepakat dengan dirinya sendiri di dalam empat substansi:

1. Untuk berhati-hati dengan kata-kata.
2. Untuk tidak menjadikan segala sesuatu menjadi terlalu pribadi.
3. Untuk tidak membuat asumsi-asumsi yang berlebihan tentang kehidupan.
4. Untuk melakukan apa yang terbaik untuk dilakukan.

Dan jika sahabat bertanya tentang empat kesepakatan itu dengan pertanyaan "mengapa?", maka inilah jawabannya.

KESEPAKATAN KELIMA

Jiwanya bersepakat dengan dirinya untuk tidak begitu saja mempercayai apa-apa yang dikatakan, diceritakan, dan dialami oleh akal, pikiran, dan panca inderanya.

Jiwanya bersepakat dengan dirinya untuk menjadikan semua yang dikatakan, diceritakan, dan dialami oleh akal, pikiran, dan panca inderanya hanya sebagai tanda-tanda yang menjadi bahan pelajaran guna menuju ke kebahagiaan dan akhir kebaikan yang sebenarnya di sisi Tuhan.

Jiwanya meyakini bahwa jika Tuhan telah berfirman "lakukan" dan "jangan lakukan", maka akal, pikiran, dan panca inderanya tidak boleh memilih selain mendengar dan kemudian berkata "ya" dan lalu membenarkannya di dalam tindakan-tindakan kebenaran dan kebaikan.

Jiwanya meyakini bahwa jika Tuhan telah berfirman "berpikirlah" atau "gunakan akal", maka akal, pikiran, dan panca inderanya adalah menjadi alat baginya untuk makin dalam mempelajari berbagai hal di setiap sudut kehidupan sebagai tanda-tanda kekuasaan-Nya, yang akan membimbingnya menemukan kebaikan dan kebenaran.

Jiwanya menyadari bahwa akal, pikiran, dan panca indera adalah terbatas sifatnya bagi segala kebenaran dan kebaikan yang sesungguhnya, hingga keterbatasan itu tidak berbalik memperalat jiwa sucinya.

Jiwanya mengerti bahwa cerita dan kata-kata akal, pikiran, dan panca indera dipenuhi dengan berbagai pengalaman, keyakinan, dan kesepakatan-kesepakatan sementara yang membangun berbagai realitas yang masih relatif sifatnya, akibat saringan-saringan keterbatasan segala bentuk distorsi, generalisasi, bias, dan asumsi-asumsi.

Jiwanya menyadari bahwa semua bentuk realitas yang diciptakan oleh akal, pikiran, dan panca inderanya, adalah sama sekali belum akurat, sampai nanti ketika jiwa itu bertemu kembali dengan Tuhannya, Yang Maha Pemurah, Yang telah memberinya petunjuk, Yang Maha Menciptakan dirinya, Yang mengajarinya pandai berbicara, berkata, dan bercerita.

Jiwanya menyadari bahwa segala kerendahan akal, pikiran, dan panca inderanya akibat segala ketidakakuratannya, diciptakan untuk belajar dan terus belajar agar menjadi pandai untuk tidak melampaui batas keadilan dan untuk tidak mendustakan segala nikmat yang telah diberikan Tuhannya.

Sahabat, semoga segala kesepakatan yang kita buat dengan diri kita sendiri, menjadikan diri kita sebagai pembelajar bagi segala tanda-tanda kekuasaan-Nya, agar kita mampu mempertahankan keadilan di mana diri kita adalah makhluk yang serba rendah, tidak akurat, dan terbatas, hingga kita terbiasa menjadi ciptaan yang paling cerdas di alam semesta, yang juga paling pandai mensyukuri segala nikmat-Nya.

Semoga kita semua menjadi jiwa-jiwa yang bersepakat untuk berakhir bahagia dengan ujung kebaikan. Aamiin. Aamiin.

Ringkasan dari "The Fifth Agreement - A Practical Guide To Self mastery" - Don Miguel Ruiz

Ikhwan Sopa
Master Trainer E.D.A.N.
http://milis-bicara.blogspot.com
http://www.facebook.com/pages/Motivasi-Komunikasi-Leadership/196571006305