Motivasi: Takut Salah? Nggak Usahlah!


Saya nyaris yakin bahwa Anda pasti bisa mengendarai sepeda. Roda dua maksud saya. Saya mengajak Anda berkelana ke masa lalu. Mari...

Anda pasti masih ingat bagaimana indahnya masa-masa itu. Masa kanak-kanak ketika kita merasa begitu bebas dan merdeka menjelajahi pelosok kampung kita, atau malah ke kampung-kampung tetangga, dengan bersepeda.

Salah satu kenangan terindah kita, berasal dari masa-masa itu. Entah Anda tinggal di perkotaan, di kompleks perumahan, di dekat pasar, atau di desa, bersepeda menyusuri pematang sawah barangkali.

Masih ingatkah Anda, tentang segala hal yang Anda alami sebelum masa-masa indah itu bisa Anda nikmati?

Maksud saya, saat kita baru belajar menaiki sepeda. Saat kita dilanda gelora emosi karena belum juga bisa mengendalikan dan menyeimbangkan posisi bersepeda. Saat itu, kita melakukan begitu banyak kesalahan. Inilah di antara kesalahan yang pernah saya buat kala itu:

1. Jatuh ke selokan.
2. Menabrak pagar rumah orang.
3. Nyelonong keluar dari gang dan menyeruduk mobil lewat.
4. Menabrak sepeda teman.
5. Terpeleset pasir.
6. Rem blong.

Anda tambahkan sendiri pengalaman Anda.

Saat itu, setahu saya, belum banyak helm pengaman di jual. Apalagi pengaman siku dan lutut seperti yang banyak beredar sekarang. Masih bagus, jika waktu itu sepeda Anda punya rem yang berfungsi dengan sangat baik.

Saya sendiri, pernah belajar dengan sepeda yang tidak punya rem. Waktu itu, cara saya menghentikan sepeda adalah dengan menekan sandal jepit saya langsung ke roda depan. Ha...ha...ha.. berhenti juga, walaupun overshoot (landing melebihi batas landasan).

Dengan segala kesalahan dan blunder yang saya lakukan itu, banyak yang terjadi pada diri saya:

1. Lecet dan keseleo.
2. Lutut memar.
3. Tulang kering luka dan terkelupas.
4. Sikut carut-marut.
5. Kadang ya benjol juga jidat.
6. Dimarahi orang, ini pasti.

Belum lagi menangis, atau berkelahi berebut sepeda, dan diomeli orang tua atau tetangga.

Lagi, Anda bisa tambahi daftar ini.

Masihkah Anda ingat bagaimana rasanya, pedal sepeda yang memantul dan menutuk ke tulang kering Anda?

Masihkah Anda ingat bagaimana rasanya, terjerembab dengan telapak tangan menggelosor di atas aspal berpasir? Masih ingatkah Anda bagaimana rasanya malam hari setelah kejadian semacam itu? Telapak tangan yang terasa begitu panas dan berdenyut semalaman? Bisa jadi, Anda merasakannya sembari berlinang air mata dan terisak-isak.

Jawab pertanyaan saya, apakah semua kesalahan dan blunder itu, membuat Anda berhenti belajar naik sepeda?

Mengapa?

Ya! Tepat sekali, Anda ingin bisa.

The power of dream!

Kekuatan impianlah yang membuat Anda tetap berjuang dan belajar keras. Sampai bisa.

Kini, hari ini, saya yakin bahwa semua kesalahan dan blunder dari masa-masa itu, justru menjadi bagian dari keindahan itu sendiri. Setuju?

Jawab lagi pertanyaan saya. Kok bisa, kekuatan impian Anda begitu besarnya?

Ini rahasianya.

Ketika Anda kecil, Anda masih polos. Anda belum banyak dicekoki dan "diracuni" oleh berbagai pengertian dan pemahaman tentang benar atau salah, dan tentang baik atau buruk.

Saat itu, Anda sangat yakin dalam menyikapi segala kesalahan dan blunder yang terjadi. Di mata Anda, semua kesalahan dan blunder adalah semata-mata "kesalahan teknis".

Sejalan dengan usia dan pendidikan Anda, Anda mulai menyusun dan mengorganisir berbagai konsep dan pemahaman tentang salah, benar, baik, dan buruk. Tentang moralitas dan idealisme kehidupan. Sampai hari ini.

Ternyata, tanpa Anda sadari, Anda mulai merumuskan sebuah konsepsi baru tentang kesalahan, yaitu "kesalahan moral". Dan yang sangat sering terjadi, adalah kekurangwaspadaan Anda dalam memisahkan dua macam kesalahan itu.

Maka mulai sekarang, camkanlah ini.

Jika Anda mau melakukan sesuatu, dan kemudian menemukan berbagai kemungkinan kesalahan dan blunder yang mungkin akan terjadi, jangan langsung berhenti. Uji dahulu semua itu dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan ini:

Apakah jika kesalahan atau blunder itu terjadi, akankah:

1. Membuat Anda berdosa?
2. Membuat Anda masuk neraka?
3. Membuat Anda masuk penjara?
4. Mencederai moralitas dan keyakinan Anda?
5. Melukai orang-orang yang Anda cintai?
6. Merugikan khalayak?

Jika Anda bisa menjawab "tidak", maka segala kesalahan itu semata-mata hanya "teknis" sifatnya. Dan "kesalahan teknis" semacam ini, selalulah merupakan pembelajaran. Penting, dan bernilai untuk Anda. Jangan berhenti.

JANGAN BERHENTI!

Coba pertimbangkan hal-hal ini.

Anda mau membuka warung kelontong di garasi Anda, dan tetangga seberang rumah Anda sudah lebih dahulu membuka warung di garasinya. Anda ingin sekali, tapi Anda membatalkannya, karena "tidak enak hati".

Di Mangga Dua sana, ratusan toko elektronik berjajar rapi menjual barang yang identik dan persis sama. Rezeki ada yang mengatur!

Anda mau mengejar cita-cita, kemudian sekitar Anda memberi masukan negatif. Anda mau berhenti? Apakah Anda mau bilang, "apa kata orang nanti?"

Sudahlah. Jika Anda mampu menjawab "tidak" untuk enam pertanyaan di atas, lakukan saja!

LAKUKAN SAJA!

Di ballroom hotel Twin Plaza kemarin, ada seorang peserta yang bertanya kepada saya, "Pak, saya kok sering merasa terdemotivasi, gimana pak?" Saya bilang, "Bukan pak, Anda hanya sedang terdiskoneksi.... - dari mimpi."

"People often think that they're being demotivated by their situations. No, they're just being disconnected from their dreams."

Semoga bermanfaat.

Ikhwan Sopa
Master Trainer E.D.A.N.
http://milis-bicara.blogspot.com
http://www.facebook.com/pages/Motivasi-Komunikasi-Leadership/196571006305
http://www.twitter.com/ikhwansopa