How To Make A Breakthrough - Malu? Gengsi? Nggak Pake Ah!


Perasaan saya sebenarnya sudah ditingkat muak terkait dengan MLM. Saya sudah sangat membenci dan sangat tidak menyukai. Mengapa? Ya sederhana saja, sebab entah sudah berapa puluh jenis MLM yang saya geluti dan ternyata tak satupun pernah berhasil sampai hari ini.

Tapi, kembali menggeluti MLM justru menjadi salah satu resolusi saya tahun 2010 ini!

Sebelum menjadi coach dan trainer personal development, saya sudah menggeluti beberapa MLM. Tanpa hasil kecuali buang uang dan tenaga. Setelah menjadi coach dan trainer personal development, saya juga mengikuti beberapa MLM. Apalagi, training publik saya, sering dihadiri oleh peserta yang berasal dari dunia MLM. Ada saja peserta yang akhirnya memprospek saya.

Hasilnya sama, NIHIL. NOL BESAR.

Jadi, wajar saja jika saya belakangan ini mulai tidak menyukai MLM. Apalagi, di rumah sudah bertumpuk macam-macam starter kit dari berbagai MLM. Benci sekali melihatnya. Sampai akhirnya saya obral dan bagi-bagikan kepada teman dan keluarga. Saya sudah muak!

Lucunya, saya masih tetap merasa tertantang dan merasa penasaran. Gemas begitu. Tahu kan rasanya, belum bisa mendapatkan sesuatu, tapi samar-samar merasa masih punya peluang? Jauh di dasar hati, saya bisa merasakan bahwa ada yang masih belum optimal dari apa yang sudah saya lakukan selama ini. Maka, ketidakberhasilan itu belum memuaskan diri saya. Saya belum rela dan ikhlas untuk kalah!

Beberapa hari di awal tahun 2010 ini, saya mencari cara untuk bisa mendisain sebuah kerangka kerja berbasis E.D.A.N. (Energy, Dignity, Anticipate, Nothing To Lose). Berbasis E.D.A.N. itu sederhananya begini: Jika saya tidak berhasil saya senang, dan jika saya berhasil saya lebih senang. Alias, Nothing to lose.

Saya kelayapan mencari inspirasi. Di kepala saya hanya ada begini, ini harus dituntaskan. Tidak boleh menjadi ganjalan. Kalo iya ya iya, kalo nggak ya nggak. Bagaimana caranya?

Inspirasi pun akhirnya saya perolah dari seorang personal development coach yang sebenarnya hebat tapi lama-kelamaan jadi ngawur di mata saya. Maaf saya mensharing yang satu ini, tapi ini diperlukan untuk menjelaskan sumber inspirasi saya.

Anda tahu Steve Pavlina? Sebagai coach dan trainer pengembangan diri dia memang hebat. Hanya saja karena mengaku tidak beragama, keputusan dan tindakannya sering berada di luar jangkauan akal sehat bagi kita yang beragama dan orang timur ini.

Kali terakhir dia melakukan eksperimentasi personal development yang benar-benar gila:

1. Merombak hubungan resmi dengan pasangannya Erin, yang tadinya merupakan hubungan resmi suami-istri, menjadi hubungan yang "kawin nggak, nggak kawin juga nggak".

2. Mencoba-coba berbagai hal yang nyeleneh, di antaranya adalah menerjuni dunia BDSM!

Sinting, bener-bener sinting menurut saya.

Di luar dari eksperimentasi yang begitu najong di mata saya itu, saya menangkap inspirasinya yang unik dan menurut saya patut saya coba. Tentu saja, saya harus menyesuaikannya dengan norma, keyakinan, dan agama saya sebagai muslim dan sebagai orang timur.

Inspirasi itu adalah:

1. Pushing your self to the limit.
2. Crossing the ordinary border lines.

Saya kemudian, mencoba merumuskan kerangka kerja E.D.A.N. yang sifatnya "anti gagal".

Saya memulainya dengan mengelaborasi konsep "gagal". Saya perlu mendeskripsikan ulang konsep gagal dengan kacamata yang berbeda. Berikut ini adalah deskripsinya.

Gagal dan tidak gagal, sebenarnya ditentukan oleh cara pandang kita terhadap dua hal berikut ini:

1. Tingkat awareness kita tentang time boundary.
2. Tingkat keinginan kita terkait dengan target dan cita-cita.

Dengan kata lain, gagal atau tidak gagal itu bisa dilihat dari dua fenomena ini:

1. Seberapa yakin kita bisa mematok batas waktu dengan tegas: Time awareness.
2. Seberapa besarnya keinginan kita tentang sesuatu yang ingin kita capai: The power of will.

Jika dibuatkan matriks, gambarannya menjadi kurang lebih begini.

--------------------------------------------
Ingin\Waktu...|....Aware...|..Tidak Aware..|
--------------------------------------------
Ingin............|..Feedback..|..Plan To Fail.|
--------------------------------------------
Tidak Ingin.....|.Not Exist..|...Ignorance...|
--------------------------------------------

Artinya:

1. Jika kita ingin dan aware tentang waktu, maka ketidakberhasilan adalah umpan balik agar kita melakukannya lagi dengan cara yang lain. Ini namanya "pembelajaran". Terus begitu time to time, di dalam time frame, sampai akhirnya time's up.

2. Jika kita ingin tapi tidak aware tentang waktu, kita dianggap merencanakan kegagalan. Fail to plan, means plan to fail. Planning tidak pernah terpisah dari time schedule.

3. Jika kita tidak ingin dan aware tentang waktu, itu artinya bukan cita-cita kita, dan kita sedang berfokus pada cita-cita yang lain. It is just not what we want.

4. Jika kita tidak ingin dan tidak aware tentang waktu, maka kita sedang mengabaikan berbagai peluang dan sedang menyia-nyiakan sumber daya. Sumber daya terbaik dan paling langka adalah waktu.

Saya punya beberapa pilihan, dan beginilah saya menyikapinya.

Saya tidak ingin terjebak pada poin empat, menjadi orang yang ignorance. Ignorance terjadi karena bias pemahaman tentang rasa takut dan khawatir. Ignorance adalah tentang tipuan zona nyaman. Sebab belajar, tumbuh, makin bermanfaat bagi sesama, adalah seumur hidup - tapi jelas tak selamanya.

Saya tidak ingin terjebak pada poin tiga. Saya tidak ingin posisi saya menjadi tidak clear dan tidak aman karena gangguan dan godaan rasa penasaran, curious, dan ketidakpuasan dari berbagai sumber. Saya ingin sebanyak mungkin hal benar-benar tuntas dan tanpa penyesalan di kemudian hari. Saya ingin jalan tol ada di depan saya.

Saya tidak ingin terjebak pada poin dua. Saya tidak ingin merencanakan kegagalan karena tidak berani mematok batas waktu, atau tidak berbekal keinginan "secukupnya". Ini sudah sering terjadi, dan dalam hal-hal yang saya pilih di masa depan, ini tak boleh terjadi lagi.

Pilihan saya tinggal satu. Saya ingin menjadi pembelajar, yang melihat dan menyikapi segala bentuk kekurangberhasilan sebagai umpan balik. Saya ingin tumbuh dan menjadi lebih kuat. Saya hanya ingin berhenti ketika garis finish memang telah tercapai. Saya tak ingin berhenti kecuali sampai waktunya. Pilihan saya adalah poin ke satu.

Tapi bagaimana? Bukankah terkait dengan MLM, kondisi saya saat ini adalah begini:

1. Saya telah berulang kali mencoba dan belum berhasil?
2. Saya mulai tidak menyukai, membenci, dan muak dengannya?

Saya, bisa melupakannya begitu saja. Sayangnya, saya masih punya TAPI.

Saya masih TERGANGGU oleh rasa penasaran dan ketidakpuasan karena kegagalan, dan rasa tidak suka, benci, dan muak justru membuat saya tidak merasa nyaman. Jika ini saya abaikan, semua itu pasti akan terus menghantui saya entah sampai kapan.

Ini harus diselesaikan.

Maka saya menetapkan.

1. Mengeksekusi inspirasi "pushing my self to the limit" dan "crossing the ordinary border" dari Steve Pavlina. Dan tiba-tiba saya teringat, bahwa eksekusi ini persis seperti yang pernah saya lakukan sebelumnya, yaitu ketika saya mengkreasi E.D.A.N. tiga setengah tahun yang lalu.

2. Kegagalan berulang adalah ciri dari dilakukannya berbagai langkah yang sama berkali-kali. Maka kali ini, saya harus melakukan berbagai hal dengan cara yang berbeda, khususnya dalam menetapkan pola berpikir dan mindset. Maka saya menetapkan, bahwa TAPI saya adalah petunjuk pertama bagi saya untuk merubah cara berpikir.

3. TAPI saya di atas, saya ubah menjadi JUSTRU ITU. Rasa penasaran dan ketidakpuasan saya itu, saya elaborasikan dengan "tidak suka", "benci", dan "muak". JUSTRU karena saya masih penasaran dan tidak puas, saya harus mengubah "tidak suka", "benci", dan "muak" saya, menjadi sesutau yang baru dan berbeda. Saya menetapkan sebentuk "sweet revenge". Saya harus membalas dendam dengan cara yang manis.

4. Saya terapkan keyakinan saya tentang ENERGI di dalam E.D.A.N. di mana "tidak suka", "benci", dan "muak" adalah bentuk-bentuk ENERGI yang sifatnya NETRAL. Bagaimana kebencian, ketidaksukaan, dan kemuakan itu akan berpengaruh pada hidup saya, tergantung bagaimana saya mengolah energinya.

5. Saya kemas energi itu menjadi lebih positif dengan mendorongnya melewati batas normal. Jika tidak suka, benci, dan muak itu melewati AMBANG BATAS-nya, dia akan berbalik menjadi MUPENG. Saya mendorong diri saya sampai ke batas kemampuan saya. Total dan all out. Saya transformasi energi itu dari energi yang menjauhi, menjadi energi yang mengakomodasi. Dari energi yang menguap tanpa makna dan menggerogoti diri, menjadi bahan bakar yang mendorong.

6. "Sweet revenge" yang saya putuskan, masih berpeluang untuk gagal. Maka saya harus menciptakan sistem "anti gagal". Caranya, adalah dengan menetapkan dua hal, yaitu menggeser fokus pikiran ke fenomena "feedback" dan menetapkan batas waktu antara 1 Januari 2010 hingga 31 Desember 2010. Mungkin Anda pernah mendengar ini, "Kami tidak kalah pemilu, kami hanya kurang suara."

7. Inilah hasilnya.

a. Salah satu resolusi 2010 saya adalah "kembali ke dunia MLM". Ini adalah tambahan untuk segala aktivitas saya yang lain. Saya katakan kepada sponsor saya, "Jika kali ini saya tidak berhasil juga, saya akan lupakan dunia MLM.". Tentu saja, tidak termasuk berbicara, mengisi seminar, dan menjadi trainer atau coach bagi mereka yang berkecimpung di dunia yang satu ini. Ini mah kerjaan asli saya. Dan ingat bahwa "sambilan" tidak identik dengan tinggi atau rendahnya ethos. Kata itu hanya berarti "berbagi waktu". Saya harap saya bisa smart tentang yang satu ini.

b. Terkait resolusi itu, saya tidak mematok "menjadi kaya" melainkan "ada hasil", hasil minimal saya adalah "feedback" dan "pembelajaran".

c. Resolusi itu "anti gagal", sebab saya punya batas waktu yaitu 31 Desember 2010. Jika batas waktu itu sudah sampai, apapun yang terjadi semata-mata hanyalah "habis waktu". Saya akan tetap punya segudang panenan berharga.

d. Saya punya energi besar dalam bentuk "mupeng abis". Sebab saya mengubah energi tidak suka, benci, dan muak menjadi bahan bakar yang mendorong dengan sangat keras.

Saya telah menciptakan kerangka kerja Nothing To Lose alias E.D.A.N.

"There was never any fear for me, no fear of failure. If I miss a shot, so what?"
Michael Jordan

NB: Jika Anda punya resolusi di 2010 ini (nggak harus mengandung MLM seperti saya lho!), ada baiknya Anda bergabung di Resolution's Things.

2010 adalah tahun VIVERE PERICOLOSO.

Ikhwan Sopa
Master Trainer E.D.A.N.
http://milis-bicara.blogspot.com
http://www.facebook.com/pages/Motivasi-Komunikasi-Leadership/196571006305
http://www.twitter.com/ikhwansopa