Spirit: Keep The Faith Keep The Fight


Jika saya bertanya pada Anda, "Apa yang bisa membuat Anda masuk surga?" Dalam batas kemanusiaan, alias di luar jawaban pasti, "Rahmat Tuhan", Anda pasti sepakat dengan saya bahwa jawaban Anda adalah, "Keimanan". Keimanan adalah "keterikatan kuat pada tujuan". Dan itu, harus dibuktikan dengan hati, perkataan, dan perbuatan.

Bagaimanakah kita bisa mengambil model "downstream" dari konsep spiritual di atas?

Di suatu pagi buta, sekitar pukul tiga pagi, dua atau tiga tahun yang lalu, seorang teman menjemput saya ke rumah. Kami berencana menghadiri sebuah acara reuni bersama teman-teman seangkatan semasa SMA dua puluh dua tahun yang lalu. Acara reuni itu diadakan di sebuah resort pantai di propinsi Lampung.

Setengah mengantuk dan sedikit tergesa, saya bergegas melompat ke mobilnya. Kami berangkat menelusuri sisa malam yang sepi. Memasuki jalan tol Jakarta-Merak, saya segera sadar, bahwa saya hanya membawa dompet kosong. Di dalamnya hanya ada kartu ATM.

Saya katakan kepada teman saya itu, "Nanti kalo ketemu ATM, kita mampir ya, aku mau ambil duit."

Niat saya itu tak kesampaian. Karena kami berkejaran dengan waktu acara, kami terus berada di jalur tol. Dan entah karena gelap atau karena memang tidak kelihatan, kami tidak menemukan satupun mesin ATM di sepanjang jalan tol itu. Kami sampai di lokasi, dan saya tetap tidak membawa uang sepeser pun.

Di tengah acara reuni itu, seorang sahabat karib saya, wanita yang kini berprofesi sebagai seorang dokter gigi, terlihat berkelliling membawa sebuah wadah. Ia mengumpulkan uang.

Saya katakan kepada teman perjalanan saya itu, yang kebetulan sedang satu meja dengan saya, "Aku pinjam duitmu, nanti aku kembalikan."

Teman saya yang dokter gigi ini mendekati meja kami. Menyodorkan wadah, dan berkata, "Arisan. Dua bulan."

Saya menjulurkan tangan meletakkan uang pinjaman saya, seraya berkata padanya, "Nanti yang dapat aku lho!". Dia tersenyum. He...he... sok yakin saja saya. Siapa yang tak butuh fast cash seperti ini?

Sore hari, arisan itu diumumkan. Teman saya yang dokter gigi itu, memang aktivis sedari dulu. Ia jugalah yang mengumumkan hasil arisan. Ada beberapa pemenang pada putaran itu.

Ketika membacakan pemenang terakhir, ia menatap ke meja kami, dan berkata, "Ikhwan Sopa!".

Ada lebih dari delapan puluh orang di pendopo acara itu. Kebetulankah bahwa saya adalah salah satu pemenangnya? Pertimbangkan sekali lagi. Saya pribadi tidak meyakini yang namanya kebetulan. Saya lebih yakin bahwa segalanya sudah ada Yang Mengatur. Saya ambil uang itu, dan saya kembalikan hutang saya hari itu juga.

Berhari-hari sepulang acara itu, saya mencoba memodel ulang, apa yang sebenarnya berlangsung dan terjadi pada hari itu, hingga akhirnya saya bisa mendapatkan rejeki nomplok uang arisan. Berangkat tanpa uang, pulang dengan segepok lumayan.

Entah hari ke berapa, saya mendapatkan sebuah penjelasan, dan saya mencoba meng-generik-kan penjelasan itu. Saya banding-bandingkan dengan berbagai situasi, dan ternyata cukup konsisten. Saya juga membandingkannya dengan berbagai kejadian serupa yang telah terjadi berkali-kali pada diri saya. Saya beranikan diri untuk mensharenya dengan Anda hari ini.

Kunci dari fenomena "daya tarik" yang terjadi pada hari arisan itu, menurut saya adalah fenomena "feeling" yang saya kembangkan - secara tidak sengaja dalam kasus saya, terkait dengan sesuatu yang saya inginkan terjadi.

Feeling itu adalah manifestasi dari sebentuk keyakinan. Keyakinan kuat terkait dengan sebuah keinginan.

Pertanyaannya tentu saja, bagaimanakah sebuah keinginan kuat bisa teridentifikasi sebagai "cukup kuat" dan tercipta dalam bentuk feeling terkait dengan sebuah situasi?

Begini ilustrasinya.

Saya sudah lama sekali bersahabat dengan Tuan A. Pagi, siang, sore dan malam saya sering berjalan dan bercengkrama dengannya. Suatu saat, saya dan Tuan A memasuki sebuah kantin. Saya memesan siomay dan Tuan A memesan bakso.

Saya segera menghabiskan siomay di piring saya dengan nikmat. Kemudian, sembari menyeka bibir dengan tisu, saya melirik mangkok Tuan A di hadapannya. Ia sedang makan, dan di mangkoknya masih tersisa empat butir bakso. Jika saya menginginkan satu saja dari bakso itu, apa yang harus saya lakukan? Tentu saja memintanya!

Menurut Anda, jika saya benar-benar memintanya, apakah Tuan A akan menolak permintaan saya?

Setuju. Dia tak akan menolaknya. Seyakin itu pulalah saya.

Dan bahkan jika Tuan A benar-benar menolak permintaan saya, saya mungkin malah akan syok dan malu berat. Bukankah kami sudah begitu dekat, bukankah kami sudah bersahabat begitu lama, bukankah kami sudah saling percaya?

Seyakin itulah saya memintanya. Tak terbersit sedikitpun keraguan dan ketidakyakinan, bahwa Tuan A akan menolak permintaan saya. Tak sedikitpun. Sekali lagi, tidak sedikit pun ada keraguan atau ketidakyakinan.

Begitu pulalah, yang terjadi di hari arisan itu. Saya yang sudah bersahabat dua puluh dua tahun dengan teman yang dokter gigi itu, dengan sangat ringan dan penuh keyakinan bisa mengatakan, "Nanti saya yang dapat!". Sekali lagi, tak terbersit sedikitpun keraguan dan ketidakyakinan.

Feeling dari keyakinan itulah kuncinya.

Maka jika Anda sedang melakukan penjualan, dapatkanlah feeling yang sama. Tanpa keraguan dan tanpa ketidakyakinan. Bukankah ini yang diajarkan para top sales? Bukankah ini yang diajarkan oleh para guru marketing? Bukankah ini yang diajarkan oleh para pebisnis yang berhasil? Bukankah fenomena ini tampak sangat jelas dari ciri SKSD (Sok Kenal Sok Dekat) mereka?

Tips: Jika Anda berhadapan dengan seseorang, aktivasikan state ini. Termasuk jika Anda bertemu dengan orang yang baru saja Anda kenal. Cara mudahnya, adalah dengan menciptakan state sebagaimana Anda berhadapan dengan orang yang sangat Anda percaya, sangat percaya kepada Anda, dan sangat Anda yakini tak akan menolak permintaan Anda. Anda perlu membangun skill "instant rapport".

Ini jugalah yang saya kembangkan dengan berbagai status FB saya yang terkesan sok yakin dan tanpa keraguan, saat meminta, atau saat mengajukan penawaran. Di mana lagi Anda bisa menemukan orang mengantri untuk diprospek MLM? Di mana lagi Anda bisa menemukan orang mengantri untuk di tag dalam sebuah note? (Please jangan salah tangkap, dengan segala kerendahan hati, saya bukan bermaksud menyombong. Please... I'm your friend.)

So,

If you want a thing, ask!
Do not hesitate!


Lakukanlah, sepanjang Anda meyakini bahwa yang Anda lakukan adalah benar, bermanfaat bagi orang lain, dan bagi diri sendiri, dunia dan akhirat.

Tentu saja, Anda tetap harus bekerja keras dan logika Anda musti tetap berjalan. Anda tetap harus menjalani prasyarat "hati, lidah, perbuatan". Jika Anda belum berhasil, tetaplah bekerja keras, dan lakukan saja lagi dengan cara yang berbeda. Begitu seterusnya, lagi, dan lagi. Apa yang penting adalah, mempertahankan state yakin dan percaya Anda.

Semoga bermanfaat.

Btw, bagaimanakah jika Anda bisa mengembangkan keyakinan ini terhadap Yang Maha Menciptakan Anda? Akankah Ia menolak permintaan Anda?

Ikhwan Sopa
Master Trainer E.D.A.N.
http://milis-bicara.blogspot.com
http://www.facebook.com/pages/Motivasi-Komunikasi-Leadership/196571006305

Motivasi: Sedikit Narsis Itu Baik Untuk Anda

Narsis, narsisis, atau narcissist, adalah kata yang biasa diterjemahkan dengan "orang yang mencintai dirinya sendiri". Pertanyaannya, Anda tentu saja mencintai diri Anda sendiri bukan?

Narsis, sering dikonotasikan dengan keadaan mencintai diri sendiri secara berlebihan alias lebay. Di berbagai belahan dunia, narsisis digambarkan sebagai orang yang begitu mencintai dirinya sendiri, sampai menghabiskan waktu berjam-jam di depan kaca, hanya untuk mengagumi dirinya. Konon, salah satu contoh narsisis yang terkenal adalah Napoleon Bonaparte.

Anda, pasti tidak demikian. Tapi Anda, pasti mencintai diri sendiri. Bahkan, Anda wajib mencintai diri sendiri. Mengapa? Sebab, nyaris apapun yang Anda lakukan, adalah cerminan dari rasa cinta kepada diri Anda sendiri.

Anda memelihara kesehatan karena Anda mencintai diri Anda. Anda bekerja keras untuk anak, istri, suami dan keluarga Anda, itu juga cerminan dari diri Anda yang mencintai diri sendiri. Sebab tanpa anak, istri, suami, dan keluarga, atau jika terjadi hal buruk pada diri mereka, maka hal itu akan melukai Anda. Dan Anda, tentu tidak ingin itu terjadi pada diri Anda. Anda, memang cinta diri Anda.

Apa sajakah yang harus Anda cintai dari diri sendiri? Ya! Apa saja tentunya. Apa yang menjadi kelebihan dan apa yang menjadi kekurangan Anda. Kekurangan juga? Ya, kekurangan Anda adalah sesuatu yang diamanatkan kepada Anda, agar Anda mencintainya, dan dengan cinta itu Anda akan memelihara, menjaga, dan memperbaikinya, sehingga ia bisa tumbuh besar sebagai kekurangan yang bergeser menjadi kelebihan.

Artinya, Anda merasa memiliki kekurangan, maka itu bukan sesuatu yang perlu Anda buang. Apa yang perlu Anda lakukan adalah berbagai perubahan dan perbaikan, sehingga diri Anda tidak lagi merasa memiliki kekurangan. Dan setelah Anda berhasil melakukannya, maka Anda akan memahami bahwa kekurangan Anda, adalah sesuatu yang sama berharganya dengan kelebihan Anda.

Percayalah, tidak ada satu pun yang tidak berguna. Anda tentu meyakini bahwa Tuhan adalah maha adil dan maha sayang pada setiap manusia. Akankah Anda mempertanyakan kembali itu semua, manakala Anda menghadapi atau menemukan adanya kekurangan di dalam diri? Percayalah, bahwa semua kekurangan ada manfaatnya. There is no such thing as useless.

Jika Anda punya fear, itu ada manfaatnya. Jika Anda miskin, itu ada gunanya. Jika Anda sakit, itu pun berguna. Jika Anda kehilangan anggota badan, itu ada hikmahnya. Jika Anda kebetulan ber-iq rendah, itu ada alasannya. Jika Anda belum juga dikaruniai seorang anakpun sampai saat ini, itu juga ada latar belakangnya.

Apapun di balik semua fenomena yang selama ini Anda anggap sebagai kekurangan diri, adalah harta yang tidak sepantasnya Anda buang dan hilangkan. Adalah tugas Anda untuk menemukan nilai manfaatnya, dan adalah kewajiban Anda untuk menjaga dan memeliharanya, agar sejalan dengan waktu, ia tumbuh dan berkembang menjadi kelebihan.

Pernah mendengar kata ini, "gimmick"? Gimmick adalah sesuatu yang baru disadari telah berperan besar dalam merubah dunia, dan meningkatkan kesejahteraan umat manusia.

Alva Edison tidak begitu saja berhasil menemukan bohlam. Ia harus jungkir balik di dalam segala kegagalan dan kekurangan.

Kendaraan mewah yang Anda nikmati sekarang, hanya menjadi seperti sekarang di atas berbagai kekurangan. Bandingkan saja dengan kendaraan Anda lima atau sepuluh tahun yang lalu. Bandingkan saja selisih kenyamanannya. Selisih itu, adalah "kekurangan". Kekuranganlah yang membuat bisnis berjalan.

Apa yang kita kenal sebagai "post it" - kertas persegi berukuran kecil yang sering kita tempelkan di mana-mana sebagai alat bantu pengingat kita, adalah sebuah produk gagal yang menjadi berhasil.

Lihatlah Tukul Arwana yang telah berhasil, di atas "kekurangannya". Ia adalah contoh nyata, dari seseorang yang sebelumnya merasa memiliki banyak kekurangan. Dan kini, apa yang namanya kelebihan berada di tangannya.

Cintailah diri Anda, dengan segala kekurangannya. Pahamilah bahwa itu artinya, Anda punya tugas besar dan mulia untuk menjadi seseorang yang akan merubahnya menjadi keberhasilan. Itulah, yang sangat mungkin, akan menjadi sumber inspirasi bagi dunia. Dan Anda, sangat beruntung karena Andalah yang dipilih-Nya.

Ada contoh tentang sepasang suami istri, yang merasa begitu sedih karena dikaruniai seorang anak yang cacat. Dengan kecacatan itu, sang anak menuntut perlakuan istimewa. Di sela-sela kesedihannya, sepasang orang tua itu kemudian menyadari, bahwa jika anak mereka memerlukan perhatian yang istimewa, maka anak itu tentulah istimewa. Dan karena anak itu istimewa, maka mereka pun menjadi orang tua yang istimewa. Itulah yang kini diyakini keduanya, dan menjadi bekal mereka berbicara di berbagai media di penjuru dunia. Mereka menginspirasi dunia dan para orang tua yang anaknya cacat.

Anda tahu Bill Gates? Pendidikannya mungkin lebih rendah dari Anda, sebab sekolah saja tidak pernah diselesaikannya. Dan ketahuilah, daftar ini akan segera menjadi panjang jika kita memang mau meneruskannya.

Ya, cintailah diri Anda sendiri dengan segala kekurangannya. Dan untuk itu, sedikit bersikap narsis, adalah baik buat Anda. Anda sudah di Facebook, manfaatkanlah untuk sedikit narsis. Itu baik buat Anda.

Semoga bermanfaat. Selamat narsis.

Ikhwan Sopa
Master Trainer E.D.A.N.
http://milis-bicara.blogspot.com
http://www.facebook.com/pages/Motivasi-Komunikasi-Leadership/196571006305

Opportunity: Certified E.D.A.N. Trainer


Dear all,

Assalamu'alaikum wr.wb. Salam sejahtera.

Di Power Workshop E.D.A.N. 66 kemarin, saya melakukan improvisasi.

Salah satu peserta saya minta menggantikan saya mengisi materi selama 15-30 menit. Ini akan kita tradisikan.

Jika Anda adalah alumni E.D.A.N. (full version), silahkan menjajal. Kami beri kesempatan bagi Anda untuk mengisi satu sampai dua materi (15-30 menit) di Power Workshop E.D.A.N. batch-batch berikutnya. Untuk kepentingan ini Anda akan mendapat coaching terlebih dahulu.

Jika Anda berpenampilan dahsyat, kami akan menambah materi dan waktu untuk Anda. Jika kemudian Anda telah mampu menghandle seluruh rangkaian Power Workshop E.D.A.N., maka Anda bisa menjadi "Certified E.D.A.N. Trainer"!

Perlu diketahui bahwa untuk kepentingan ini, proses seleksi akan dilaksanakan.

Demikian, silahkan dipertimbangkan, ini kesempatan baik untuk Anda jika Anda ingin menjadi trainer profesional.

Sukses selalu untuk Anda!

Wassalamu'alaikum wr.wb. Salam sejahtera.

Ikhwan Sopa
Master Trainer E.D.A.N.
http://milis-bicara.blogspot.com
http://www.facebook.com/motivasi

Motivasi: Tiga Modal Memotivasi Diri

Setiap kegagalan selalu diawali dengan tanda. Tanda itu adalah turunnya motivasi. Jika Anda gagal menaikkannya, maka kegagalan akan menjadi kenyataan.

Waspadai meteran motivasi Anda. Bekerja seadanya, merasa tidak bersemangat, merasa lemas dan malas, adalah tanda-tanda paling kuat dari menurunnya motivasi Anda. Bahkan, selalu mencapai target tapi tetap sebegitu-begitu saja, bisa jadi juga merupakan tanda yang sama.

Tetap termotivasi adalah perjuangan. Sebab diri kita setiap hari didera oleh lebih dari 60.000 lintasan pikiran. Masing-masing dari lintasan pikiran itu, adalah bentuk-bentuk kenikmatan, cobaan, dan ujian. Sebagiannya, sangat mungkin negatif dan berdampak buruk pada motivasi.

Menurut Frederick Hezberg, "mesin motivasi" manusia sebenarnya terdiri dari dua lapisan, yaitu:

1. Maintenance Layer
2. Motivation Layer

Maintenance Layer adalah wilayah motivasi yang diciptakan oleh sistem eksternal Anda. Biasanya, jika sistem ini sudah disetup dengan baik dan benar, maka aspek "motivasi dasar" bisa langsung beroperasi dengan lancar.

Contoh: Jika Anda karyawan, maka kenaikan gaji bisa dipastikan akan membuat Anda makin giat bekerja. Jika tidak, Anda yang keterlaluan. Tapi, segiat apa? Sejauh mana Anda akan makin keras bekerja?

Inilah yang disebut dengan Maintenance Layer. Layer ini cenderung akan "otomatis" memotivasi Anda dari luar. Namun demikian, tidak bisa diharapkan bahwa kinerja Anda akan meningkat melebihi persyaratan (minimum), atau drastis - jarang terjadi. Sekali lagi, layer ini didisain oleh sistem eksternal Anda hanya sekedar untuk mencapai performa "standar".

Motivation Layer adalah wilayah motivasi yang sifatnya individualistik atau internal. Layer ini diciptakan oleh individu yang bersangkutan. Jika disetup dengan baik dan benar, aspek "motivasi tambahan" bisa berlangsung secara mengejutkan. Individu tertentu akan menjadi bintang performa.

Uniknya, Motivation Layer tidak akan tercipta tanpa didahului oleh terciptanya Maintenance Layer.

Contoh: Jika Anda karyawan, mencapai standar minimum pun mungkin tak akan Anda lakukan, jika gaji Anda kekecilan. Apalagi kinerja yang lebih dari itu.

Jadi tugas Anda - karyawan atau bukan, adalah membangun Maintenance Layer Anda sendiri secara internal, sebagai "mesin motivasi otomatis" Anda. Sebab, setiap motivasi pada dasarnya adalah diproduksi oleh diri sendiri. Faktor sistem eksternal hanya memotivasi "ala kadarnya".

Jika Anda bisa menciptakan mesin ini, maka Anda akan selalu termotivasi. Anda akan selalu termotivasi untuk memotivasi diri sendiri.

Ciri-ciri bahwa Anda belum memiliki "mesin motivasi otomatis" secara pribadi:

"Ah sama saja. Kerja keras atau tidak, hasilnya sama kok."
"Mengapa semuanya begini-begini saja?"
"Sekarang kok stagnan?"
"Kok kembali kayak dulu nih?"
"Alah, yang penting kerjaan gua beres!"


Sangat-sangat sering terjadi, Maintenance Layer eksternal justru menjebak Anda pada zona nyaman yang baru. (Dalam contoh karyawan: gaji Anda dinaikkan, tapi motivasi Anda tak mampu bertahan.)

Anda kelelahan karena Anda terus bekerja secara "manual" memproduksi motivasi. Anda lelah sampai akhirnya kalah. Anda bekerja langsung di layer kedua. Anda tidak membangun layer pertama.

Anda perlu membangun "mesin motivasi otomatis". Anda perlu membangun Maintenance Layer Anda sendiri secara internal. Tanpa mesin ini, Anda tidak akan mendapatkan "plus-plus".

Bagaimana caranya membangun Maintenance Layer Anda sendiri?

Kita bisa memulainya dengan memahami tiga penyebab rendahnya motivasi.

1. Tidak atau kurang percaya diri.

Jika Anda sendiri tidak percaya bahwa Anda punya peluang bisa sukses dan berhasil, maka mencoba pun Anda tak akan melakukannya. Bagaimana Anda bisa termotivasi?

2. Tidak fokus.

Jika Anda tidak tahu apa yang Anda inginkan, bagaimana Anda bisa termotivasi?

3. Tidak terarah.

Jika Anda tidak tahu apa yang harus Anda lakukan, bagaimana Anda bisa termotivasi untuk melakukannya?

"Mesin motivasi otomatis" Anda, adalah kombinasi baru dari ketiganya, dan mesin ini hanya akan "kinclong" jika Anda bisa menjaga keseimbangan di antara ketiganya. Maka apa yang menjadi syarat utama adalah:

1. Ketiganya ada.
2. Ketiganya dalam kondisi prima.
3. Ketiganya seimbang.

PERCAYA DIRI

Tidak atau kurang percaya diri, disebabkan oleh "over focus" pada cita-cita, dan melupakan apa yang sudah dimiliki.


Bagilah dengan adil fokus Anda ke berbagai hal yang sudah Anda miliki; bakat, modal, keterampilan, akses, jaringan, dan sebagainya. Inventarisirlah apa yang sudah Anda miliki. Pasti ada, dan banyak. Koleksi semua itu akan membuat Anda menjadi besar.

Dengan membagi fokus Anda kepada apa yang sudah Anda miliki, Anda akan makin percaya diri. Dan dengan mengetahui apa yang Anda miliki, Anda juga akan mulai menemukan arah.

FOKUS

Kemana fokus Anda? Kepada yang Anda inginkan, atau kepada yang tidak Anda inginkan?


Jika fokus Anda adalah apa yang tidak Anda inginkan, maka Anda tidak akan tahu apa yang Anda inginkan. Semuanya malah akan menjadi buram.

Jika Anda tidak tahu apa yang Anda inginkan, Anda akan salah arah. Dan salah arah akan membuat Anda makin tidak percaya diri. Sebab, Anda merasa tersesat.

TERARAH

Kemana arah Anda? Menuju atau menjauhi sesuatu yang Anda inginkan?


Jika Anda tidak tahu, Anda tersesat dan salah arah, dan ujungnya juga tidak jelas. Anda akan makin tidak percaya diri. Jika arah Anda menjauhi, Anda tidak akan menemukan titik fokus, dan ujungnya juga pasti.

Jika Anda berhasil membangun "mesin motivasi otomatis" Anda sendiri, maka Anda akan punya mesin yang otomatis memproduksi motivasi, setiap hari. Sebagai mesin, ia butuh bahan bakar. Bahan bakar itu, adalah kemauan Anda untuk sering-sering menengok lagi semua ini.

Semoga bermanfaat.

Ikhwan Sopa
Master Trainer E.D.A.N.
http://milis-bicara.blogspot.com
http://www.facebook.com/motivasi
http://www.facebook.com/pages/Motivasi-Komunikasi-Leadership/196571006305

Motivasi: Jadilah Manusia Dewasa!


WARNINGS:

World's support is NOT always sweet and comforting. This can be irritating! - For YOUR sake, of course!

Paragraf pertama di atas adalah copy-paste dari deskripsi yang saya berikan untuk Grup Resolution's Things. Grup itu, disediakan bagi para pemain kehidupan yang memilih jalur hardcore.

Banyak pendekatan motivasi, inspirasi, coaching, dan mentoring yang diterapkan di dalam grup itu, dibawakan dengan gaya irritational speaking a la Larry Winget.

Saya menggunakannya sekarang di dalam note ini. Jadi, jika Anda tidak siap untuk dicabik dan ditonjok, tak usah repot-repot lebih jauh membaca. Baca saja note yang lain.

Apa yang Anda inginkan terjadi di dalam hidup Anda?

Anda takut gagal?

Belumkah Anda yakin bahwa "gagal" itu tidak ada? Sebab itu sangat tergantung pada cara Anda memandangnya?

Apakah jika Anda "ingin", maka kemudian Anda menetapkan "itu harus terjadi"?

Yang terakhir itu, bukan wilayah dan hak Anda. Itu, adalah hak-NYA. Hak Anda adalah "ingin" dan kemudian "berupaya". Itu saja.

Masuklah ke wilayah petualangan hidup manusia dewasa: Anda "ingin", dan Anda "tidak tahu" apakah itu akan terjadi atau tidak akan terjadi.

Ketahuilah, bahwa jika Anda ingin dan kemudian Anda mengharuskan itu terjadi, maka kemungkinannya hanya ada dua:

1. Anda memasuki wilayah-NYA, atau
2. Anda memasuki wilayah anak-anak Anda.

Mungkin Anda bertanya begini,

"Bukankah semuanya harus dipersiapkan, direncanakan, dan dikelola dengan baik?"

Betul sekali.

Lantas, apakah Anda mau menyatakan bahwa diri Anda begitu bodoh sehingga tidak bisa belajar?

Di sebuah sesi training, ada yang protes kepada saya begini,

"Pak, kok maksa sih?"

Saya katakan kepadanya,

"Mas, Anda pilih; saya paksa Anda hari ini di ruangan ini, atau dunia nanti yang memaksa Anda di luar sana!"

GROW UP!!!

Ikhwan Sopa
Master Trainer E.D.A.N.
http://milis-bicara.blogspot.com
http://www.facebook.com/pages/Motivasi-Komunikasi-Leadership/196571006305
http://www.twitter.com/ikhwansopa

Note: Dasar Pemahaman dan Pembelajaran

Pernahkah Anda mengikuti sebuah training, di mana Anda dibuat menjadi sedih, kemudian menangis, dan lalu menjadi feeling guilty? Dengan pendekatan "irritational", Anda tidak akan cuma sedih, menangis, atau feeling guilty. Bisa jadi, Anda akan tersinggung, dan menjadi sangat-sangat marah. Apa maksudnya?

Dalam konsepsi E.D.A.N.. "E" adalah energi. Termasuk ketersinggungan dan kemarahan yang meluap-luap. Itu adalah energi yang besar sekali. Energi itu bersifat netral. Bagaimana ia berdampak pada kehidupan seseorang, sangat tergantung pada pengelolaan, pemaknaan, dan pengemasan.

Anda mungkin pernah melakukan ini,

"Awas ya! Lihat saja nanti!"

Dengan pengelolaan, pengemasan, dan pemaknaan yang tepat, maka energi netral yang terlanjur dikemas dan dimaknai secara negatif itu akan ditransformasi menjadi energi yang lebih positif. Dari energi yang destruktif, menjadi bahan bakar ber-oktan super tinggi untuk perubahan dan kemajuan di dalam kehidupan.

Sebenarnya, pendekatan ini baru akan diperkenalkan dalam E.D.A.N.-2. Namun karena tak kunjung kesampaian, saya tidak mau menunda-nundanya. Hari ini, secara berselang-seling dengan note lain yang "lemah lembut", mulai saya perkenalkan kepada Anda.

Selamat tersinggung!




Motivasi: Takut Salah? Nggak Usahlah!


Saya nyaris yakin bahwa Anda pasti bisa mengendarai sepeda. Roda dua maksud saya. Saya mengajak Anda berkelana ke masa lalu. Mari...

Anda pasti masih ingat bagaimana indahnya masa-masa itu. Masa kanak-kanak ketika kita merasa begitu bebas dan merdeka menjelajahi pelosok kampung kita, atau malah ke kampung-kampung tetangga, dengan bersepeda.

Salah satu kenangan terindah kita, berasal dari masa-masa itu. Entah Anda tinggal di perkotaan, di kompleks perumahan, di dekat pasar, atau di desa, bersepeda menyusuri pematang sawah barangkali.

Masih ingatkah Anda, tentang segala hal yang Anda alami sebelum masa-masa indah itu bisa Anda nikmati?

Maksud saya, saat kita baru belajar menaiki sepeda. Saat kita dilanda gelora emosi karena belum juga bisa mengendalikan dan menyeimbangkan posisi bersepeda. Saat itu, kita melakukan begitu banyak kesalahan. Inilah di antara kesalahan yang pernah saya buat kala itu:

1. Jatuh ke selokan.
2. Menabrak pagar rumah orang.
3. Nyelonong keluar dari gang dan menyeruduk mobil lewat.
4. Menabrak sepeda teman.
5. Terpeleset pasir.
6. Rem blong.

Anda tambahkan sendiri pengalaman Anda.

Saat itu, setahu saya, belum banyak helm pengaman di jual. Apalagi pengaman siku dan lutut seperti yang banyak beredar sekarang. Masih bagus, jika waktu itu sepeda Anda punya rem yang berfungsi dengan sangat baik.

Saya sendiri, pernah belajar dengan sepeda yang tidak punya rem. Waktu itu, cara saya menghentikan sepeda adalah dengan menekan sandal jepit saya langsung ke roda depan. Ha...ha...ha.. berhenti juga, walaupun overshoot (landing melebihi batas landasan).

Dengan segala kesalahan dan blunder yang saya lakukan itu, banyak yang terjadi pada diri saya:

1. Lecet dan keseleo.
2. Lutut memar.
3. Tulang kering luka dan terkelupas.
4. Sikut carut-marut.
5. Kadang ya benjol juga jidat.
6. Dimarahi orang, ini pasti.

Belum lagi menangis, atau berkelahi berebut sepeda, dan diomeli orang tua atau tetangga.

Lagi, Anda bisa tambahi daftar ini.

Masihkah Anda ingat bagaimana rasanya, pedal sepeda yang memantul dan menutuk ke tulang kering Anda?

Masihkah Anda ingat bagaimana rasanya, terjerembab dengan telapak tangan menggelosor di atas aspal berpasir? Masih ingatkah Anda bagaimana rasanya malam hari setelah kejadian semacam itu? Telapak tangan yang terasa begitu panas dan berdenyut semalaman? Bisa jadi, Anda merasakannya sembari berlinang air mata dan terisak-isak.

Jawab pertanyaan saya, apakah semua kesalahan dan blunder itu, membuat Anda berhenti belajar naik sepeda?

Mengapa?

Ya! Tepat sekali, Anda ingin bisa.

The power of dream!

Kekuatan impianlah yang membuat Anda tetap berjuang dan belajar keras. Sampai bisa.

Kini, hari ini, saya yakin bahwa semua kesalahan dan blunder dari masa-masa itu, justru menjadi bagian dari keindahan itu sendiri. Setuju?

Jawab lagi pertanyaan saya. Kok bisa, kekuatan impian Anda begitu besarnya?

Ini rahasianya.

Ketika Anda kecil, Anda masih polos. Anda belum banyak dicekoki dan "diracuni" oleh berbagai pengertian dan pemahaman tentang benar atau salah, dan tentang baik atau buruk.

Saat itu, Anda sangat yakin dalam menyikapi segala kesalahan dan blunder yang terjadi. Di mata Anda, semua kesalahan dan blunder adalah semata-mata "kesalahan teknis".

Sejalan dengan usia dan pendidikan Anda, Anda mulai menyusun dan mengorganisir berbagai konsep dan pemahaman tentang salah, benar, baik, dan buruk. Tentang moralitas dan idealisme kehidupan. Sampai hari ini.

Ternyata, tanpa Anda sadari, Anda mulai merumuskan sebuah konsepsi baru tentang kesalahan, yaitu "kesalahan moral". Dan yang sangat sering terjadi, adalah kekurangwaspadaan Anda dalam memisahkan dua macam kesalahan itu.

Maka mulai sekarang, camkanlah ini.

Jika Anda mau melakukan sesuatu, dan kemudian menemukan berbagai kemungkinan kesalahan dan blunder yang mungkin akan terjadi, jangan langsung berhenti. Uji dahulu semua itu dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan ini:

Apakah jika kesalahan atau blunder itu terjadi, akankah:

1. Membuat Anda berdosa?
2. Membuat Anda masuk neraka?
3. Membuat Anda masuk penjara?
4. Mencederai moralitas dan keyakinan Anda?
5. Melukai orang-orang yang Anda cintai?
6. Merugikan khalayak?

Jika Anda bisa menjawab "tidak", maka segala kesalahan itu semata-mata hanya "teknis" sifatnya. Dan "kesalahan teknis" semacam ini, selalulah merupakan pembelajaran. Penting, dan bernilai untuk Anda. Jangan berhenti.

JANGAN BERHENTI!

Coba pertimbangkan hal-hal ini.

Anda mau membuka warung kelontong di garasi Anda, dan tetangga seberang rumah Anda sudah lebih dahulu membuka warung di garasinya. Anda ingin sekali, tapi Anda membatalkannya, karena "tidak enak hati".

Di Mangga Dua sana, ratusan toko elektronik berjajar rapi menjual barang yang identik dan persis sama. Rezeki ada yang mengatur!

Anda mau mengejar cita-cita, kemudian sekitar Anda memberi masukan negatif. Anda mau berhenti? Apakah Anda mau bilang, "apa kata orang nanti?"

Sudahlah. Jika Anda mampu menjawab "tidak" untuk enam pertanyaan di atas, lakukan saja!

LAKUKAN SAJA!

Di ballroom hotel Twin Plaza kemarin, ada seorang peserta yang bertanya kepada saya, "Pak, saya kok sering merasa terdemotivasi, gimana pak?" Saya bilang, "Bukan pak, Anda hanya sedang terdiskoneksi.... - dari mimpi."

"People often think that they're being demotivated by their situations. No, they're just being disconnected from their dreams."

Semoga bermanfaat.

Ikhwan Sopa
Master Trainer E.D.A.N.
http://milis-bicara.blogspot.com
http://www.facebook.com/pages/Motivasi-Komunikasi-Leadership/196571006305
http://www.twitter.com/ikhwansopa

Mulailah Resolusi Anda Dengan Memberi Makna


"What is the meaning of life? Whatever you want it to be."
James Frey

Resolusi harus dimulai dengan memberi makna. Semakin penting dan semakin bernilai makna dari resolusi Anda, akan semakin menguatkan semangat dan stamina Anda. Apa makna resolusi Anda?

Ini makna dari resolusi saya.

Resolusi saya berjumlah tujuh buah.

Jika tercapai seluruhnya, maka itu adalah lompatan kuantum bagi hidup saya.

Jika tercapai sebagian, maka itu adalah lompatan besar bagi hidup saya.

Jika sebagian besar atau seluruhnya tidak tercapai, saya telah belajar berbagai hal yang sangat berharga, dan saya bisa tetap merasa senang dengan hanya menjadi saya yang seperti sekarang. Hidup saya akan tetap berjalan, sama menyenangkannya dengan hidup saya yang sekarang.

Saya tidak akan menjadi orang yang lebih rendah atau lebih buruk dari saya yang sekarang, sebab saya telah makin mampu memilih, memutuskan, dan mengambil tindakan.

I have nothing to lose.

"Apa yang lebih bernilai bagi saya adalah segala sesuatu yang letaknya di sebelah kiri tanda sama dengan."
Ikhwan Sopa

"What is the most important thing? Anything on the left side of the equals sign. That's where you're really working on."
Ikhwan Sopa

Dan jika saya bisa melakukan semua itu, berapa banyak lagi yang akan bisa saya lakukan?

"There was never any fear for me, no fear of failure. If I miss a shot, so what?"
Michael Jordan

Apa makna resolusi Anda?

Ikhwan Sopa
Master Trainer E.D.A.N.
http://milis-bicara.blogspot.com
http://www.facebook.com/pages/Motivasi-Komunikasi-Leadership/196571006305
http://www.twitter.com/ikhwansopa

How To Make A Breakthrough - Malu? Gengsi? Nggak Pake Ah!


Perasaan saya sebenarnya sudah ditingkat muak terkait dengan MLM. Saya sudah sangat membenci dan sangat tidak menyukai. Mengapa? Ya sederhana saja, sebab entah sudah berapa puluh jenis MLM yang saya geluti dan ternyata tak satupun pernah berhasil sampai hari ini.

Tapi, kembali menggeluti MLM justru menjadi salah satu resolusi saya tahun 2010 ini!

Sebelum menjadi coach dan trainer personal development, saya sudah menggeluti beberapa MLM. Tanpa hasil kecuali buang uang dan tenaga. Setelah menjadi coach dan trainer personal development, saya juga mengikuti beberapa MLM. Apalagi, training publik saya, sering dihadiri oleh peserta yang berasal dari dunia MLM. Ada saja peserta yang akhirnya memprospek saya.

Hasilnya sama, NIHIL. NOL BESAR.

Jadi, wajar saja jika saya belakangan ini mulai tidak menyukai MLM. Apalagi, di rumah sudah bertumpuk macam-macam starter kit dari berbagai MLM. Benci sekali melihatnya. Sampai akhirnya saya obral dan bagi-bagikan kepada teman dan keluarga. Saya sudah muak!

Lucunya, saya masih tetap merasa tertantang dan merasa penasaran. Gemas begitu. Tahu kan rasanya, belum bisa mendapatkan sesuatu, tapi samar-samar merasa masih punya peluang? Jauh di dasar hati, saya bisa merasakan bahwa ada yang masih belum optimal dari apa yang sudah saya lakukan selama ini. Maka, ketidakberhasilan itu belum memuaskan diri saya. Saya belum rela dan ikhlas untuk kalah!

Beberapa hari di awal tahun 2010 ini, saya mencari cara untuk bisa mendisain sebuah kerangka kerja berbasis E.D.A.N. (Energy, Dignity, Anticipate, Nothing To Lose). Berbasis E.D.A.N. itu sederhananya begini: Jika saya tidak berhasil saya senang, dan jika saya berhasil saya lebih senang. Alias, Nothing to lose.

Saya kelayapan mencari inspirasi. Di kepala saya hanya ada begini, ini harus dituntaskan. Tidak boleh menjadi ganjalan. Kalo iya ya iya, kalo nggak ya nggak. Bagaimana caranya?

Inspirasi pun akhirnya saya perolah dari seorang personal development coach yang sebenarnya hebat tapi lama-kelamaan jadi ngawur di mata saya. Maaf saya mensharing yang satu ini, tapi ini diperlukan untuk menjelaskan sumber inspirasi saya.

Anda tahu Steve Pavlina? Sebagai coach dan trainer pengembangan diri dia memang hebat. Hanya saja karena mengaku tidak beragama, keputusan dan tindakannya sering berada di luar jangkauan akal sehat bagi kita yang beragama dan orang timur ini.

Kali terakhir dia melakukan eksperimentasi personal development yang benar-benar gila:

1. Merombak hubungan resmi dengan pasangannya Erin, yang tadinya merupakan hubungan resmi suami-istri, menjadi hubungan yang "kawin nggak, nggak kawin juga nggak".

2. Mencoba-coba berbagai hal yang nyeleneh, di antaranya adalah menerjuni dunia BDSM!

Sinting, bener-bener sinting menurut saya.

Di luar dari eksperimentasi yang begitu najong di mata saya itu, saya menangkap inspirasinya yang unik dan menurut saya patut saya coba. Tentu saja, saya harus menyesuaikannya dengan norma, keyakinan, dan agama saya sebagai muslim dan sebagai orang timur.

Inspirasi itu adalah:

1. Pushing your self to the limit.
2. Crossing the ordinary border lines.

Saya kemudian, mencoba merumuskan kerangka kerja E.D.A.N. yang sifatnya "anti gagal".

Saya memulainya dengan mengelaborasi konsep "gagal". Saya perlu mendeskripsikan ulang konsep gagal dengan kacamata yang berbeda. Berikut ini adalah deskripsinya.

Gagal dan tidak gagal, sebenarnya ditentukan oleh cara pandang kita terhadap dua hal berikut ini:

1. Tingkat awareness kita tentang time boundary.
2. Tingkat keinginan kita terkait dengan target dan cita-cita.

Dengan kata lain, gagal atau tidak gagal itu bisa dilihat dari dua fenomena ini:

1. Seberapa yakin kita bisa mematok batas waktu dengan tegas: Time awareness.
2. Seberapa besarnya keinginan kita tentang sesuatu yang ingin kita capai: The power of will.

Jika dibuatkan matriks, gambarannya menjadi kurang lebih begini.

--------------------------------------------
Ingin\Waktu...|....Aware...|..Tidak Aware..|
--------------------------------------------
Ingin............|..Feedback..|..Plan To Fail.|
--------------------------------------------
Tidak Ingin.....|.Not Exist..|...Ignorance...|
--------------------------------------------

Artinya:

1. Jika kita ingin dan aware tentang waktu, maka ketidakberhasilan adalah umpan balik agar kita melakukannya lagi dengan cara yang lain. Ini namanya "pembelajaran". Terus begitu time to time, di dalam time frame, sampai akhirnya time's up.

2. Jika kita ingin tapi tidak aware tentang waktu, kita dianggap merencanakan kegagalan. Fail to plan, means plan to fail. Planning tidak pernah terpisah dari time schedule.

3. Jika kita tidak ingin dan aware tentang waktu, itu artinya bukan cita-cita kita, dan kita sedang berfokus pada cita-cita yang lain. It is just not what we want.

4. Jika kita tidak ingin dan tidak aware tentang waktu, maka kita sedang mengabaikan berbagai peluang dan sedang menyia-nyiakan sumber daya. Sumber daya terbaik dan paling langka adalah waktu.

Saya punya beberapa pilihan, dan beginilah saya menyikapinya.

Saya tidak ingin terjebak pada poin empat, menjadi orang yang ignorance. Ignorance terjadi karena bias pemahaman tentang rasa takut dan khawatir. Ignorance adalah tentang tipuan zona nyaman. Sebab belajar, tumbuh, makin bermanfaat bagi sesama, adalah seumur hidup - tapi jelas tak selamanya.

Saya tidak ingin terjebak pada poin tiga. Saya tidak ingin posisi saya menjadi tidak clear dan tidak aman karena gangguan dan godaan rasa penasaran, curious, dan ketidakpuasan dari berbagai sumber. Saya ingin sebanyak mungkin hal benar-benar tuntas dan tanpa penyesalan di kemudian hari. Saya ingin jalan tol ada di depan saya.

Saya tidak ingin terjebak pada poin dua. Saya tidak ingin merencanakan kegagalan karena tidak berani mematok batas waktu, atau tidak berbekal keinginan "secukupnya". Ini sudah sering terjadi, dan dalam hal-hal yang saya pilih di masa depan, ini tak boleh terjadi lagi.

Pilihan saya tinggal satu. Saya ingin menjadi pembelajar, yang melihat dan menyikapi segala bentuk kekurangberhasilan sebagai umpan balik. Saya ingin tumbuh dan menjadi lebih kuat. Saya hanya ingin berhenti ketika garis finish memang telah tercapai. Saya tak ingin berhenti kecuali sampai waktunya. Pilihan saya adalah poin ke satu.

Tapi bagaimana? Bukankah terkait dengan MLM, kondisi saya saat ini adalah begini:

1. Saya telah berulang kali mencoba dan belum berhasil?
2. Saya mulai tidak menyukai, membenci, dan muak dengannya?

Saya, bisa melupakannya begitu saja. Sayangnya, saya masih punya TAPI.

Saya masih TERGANGGU oleh rasa penasaran dan ketidakpuasan karena kegagalan, dan rasa tidak suka, benci, dan muak justru membuat saya tidak merasa nyaman. Jika ini saya abaikan, semua itu pasti akan terus menghantui saya entah sampai kapan.

Ini harus diselesaikan.

Maka saya menetapkan.

1. Mengeksekusi inspirasi "pushing my self to the limit" dan "crossing the ordinary border" dari Steve Pavlina. Dan tiba-tiba saya teringat, bahwa eksekusi ini persis seperti yang pernah saya lakukan sebelumnya, yaitu ketika saya mengkreasi E.D.A.N. tiga setengah tahun yang lalu.

2. Kegagalan berulang adalah ciri dari dilakukannya berbagai langkah yang sama berkali-kali. Maka kali ini, saya harus melakukan berbagai hal dengan cara yang berbeda, khususnya dalam menetapkan pola berpikir dan mindset. Maka saya menetapkan, bahwa TAPI saya adalah petunjuk pertama bagi saya untuk merubah cara berpikir.

3. TAPI saya di atas, saya ubah menjadi JUSTRU ITU. Rasa penasaran dan ketidakpuasan saya itu, saya elaborasikan dengan "tidak suka", "benci", dan "muak". JUSTRU karena saya masih penasaran dan tidak puas, saya harus mengubah "tidak suka", "benci", dan "muak" saya, menjadi sesutau yang baru dan berbeda. Saya menetapkan sebentuk "sweet revenge". Saya harus membalas dendam dengan cara yang manis.

4. Saya terapkan keyakinan saya tentang ENERGI di dalam E.D.A.N. di mana "tidak suka", "benci", dan "muak" adalah bentuk-bentuk ENERGI yang sifatnya NETRAL. Bagaimana kebencian, ketidaksukaan, dan kemuakan itu akan berpengaruh pada hidup saya, tergantung bagaimana saya mengolah energinya.

5. Saya kemas energi itu menjadi lebih positif dengan mendorongnya melewati batas normal. Jika tidak suka, benci, dan muak itu melewati AMBANG BATAS-nya, dia akan berbalik menjadi MUPENG. Saya mendorong diri saya sampai ke batas kemampuan saya. Total dan all out. Saya transformasi energi itu dari energi yang menjauhi, menjadi energi yang mengakomodasi. Dari energi yang menguap tanpa makna dan menggerogoti diri, menjadi bahan bakar yang mendorong.

6. "Sweet revenge" yang saya putuskan, masih berpeluang untuk gagal. Maka saya harus menciptakan sistem "anti gagal". Caranya, adalah dengan menetapkan dua hal, yaitu menggeser fokus pikiran ke fenomena "feedback" dan menetapkan batas waktu antara 1 Januari 2010 hingga 31 Desember 2010. Mungkin Anda pernah mendengar ini, "Kami tidak kalah pemilu, kami hanya kurang suara."

7. Inilah hasilnya.

a. Salah satu resolusi 2010 saya adalah "kembali ke dunia MLM". Ini adalah tambahan untuk segala aktivitas saya yang lain. Saya katakan kepada sponsor saya, "Jika kali ini saya tidak berhasil juga, saya akan lupakan dunia MLM.". Tentu saja, tidak termasuk berbicara, mengisi seminar, dan menjadi trainer atau coach bagi mereka yang berkecimpung di dunia yang satu ini. Ini mah kerjaan asli saya. Dan ingat bahwa "sambilan" tidak identik dengan tinggi atau rendahnya ethos. Kata itu hanya berarti "berbagi waktu". Saya harap saya bisa smart tentang yang satu ini.

b. Terkait resolusi itu, saya tidak mematok "menjadi kaya" melainkan "ada hasil", hasil minimal saya adalah "feedback" dan "pembelajaran".

c. Resolusi itu "anti gagal", sebab saya punya batas waktu yaitu 31 Desember 2010. Jika batas waktu itu sudah sampai, apapun yang terjadi semata-mata hanyalah "habis waktu". Saya akan tetap punya segudang panenan berharga.

d. Saya punya energi besar dalam bentuk "mupeng abis". Sebab saya mengubah energi tidak suka, benci, dan muak menjadi bahan bakar yang mendorong dengan sangat keras.

Saya telah menciptakan kerangka kerja Nothing To Lose alias E.D.A.N.

"There was never any fear for me, no fear of failure. If I miss a shot, so what?"
Michael Jordan

NB: Jika Anda punya resolusi di 2010 ini (nggak harus mengandung MLM seperti saya lho!), ada baiknya Anda bergabung di Resolution's Things.

2010 adalah tahun VIVERE PERICOLOSO.

Ikhwan Sopa
Master Trainer E.D.A.N.
http://milis-bicara.blogspot.com
http://www.facebook.com/pages/Motivasi-Komunikasi-Leadership/196571006305
http://www.twitter.com/ikhwansopa

SIM Keliling Samsat Keliling


Apa rasanya seharian menatap-natap benda besar yang satu ini?

Ini semua saya sharing dengan sengaja, sebab memang sesuatu yang istimewa buat saya. Bukan pengalaman yang begitu sering kita temui, sebab hanya lima tahun sekali.

Hari ini saya memperpanjang SIM A dan C saya di unit mobil layanan SIM keliling, yang manteng di parkiran Kebun Binatang Ragunan.

Saya datang sekitar pukul setengah sembilan pagi, dan kemudian mendapat nomor antrian 116, dari total yang dilayani hari itu sebanyak 136. Jadi, saya jelas punya banyak waktu untuk terus dengan tekun menatap dan memantau benda besar berwarna putih, merah, dan biru itu.

Berikut ini adalah beberapa kesan yang bisa saya sharing.

Sebelum saya menyambangi unit SIM keliling ini, saya sempat bertanya kepada beberapa orang teman, "berapa lama sih mengurus perpanjangan SIM?"

Rata-rata mereka menjawab sekitar 10 sampai 15 menitan. Saya senang sekali, waktu saya tidak akan banyak terbuang hari ini untuk bisa melakukan berbagai hal yang lebih egois.

Ternyata, itu tidak sepenuhnya benar. Dalam kasus saya hari ini, memang 10-15 menit itu berlaku sejak kita memasuki pintu mobil dan berfoto ria. Tapi kenyataannya, untuk bisa masuk ke pintu itu, saya tetap harus mengantri hampir seharian. Jadi tentang lamanya waktu ini, bisa dibilang sebentar, bisa juga dibilang sehari. Untuk kasus saya yang dapat nomor urut 116, jelas lama.

Kepada beberapa orang yang sudah lebih dahulu datang, saya sempat bertanya jam berapakah mereka mulai menongkrongi mobil itu. Mereka menjawab, "abis subuh!". Wataaaaww....!!! Mereka sudah nangkring di situ sebelum si mobil itu sendiri nongol.

Saat saya menerima nomor urut, saya sempat bertanya kepada petugas, "kira-kira saya giliran jam berapa pak?" Dia menjawab, "oh kalo bapak mah pasti terakhir. Bapak boleh pergi dulu, nanti sore baru kembali lagi."

Saya mulai berpikir, harus ngapain saya ya? Sedikit banyak saya merasa beruntung memilih unit yang di Ragunan ini. Beberapa orang di sekitar saya mulai kasak-kusuk untuk melewatkan waktu dengan beranjangsana kepada beberapa ekor gorilla atau komodo dan saudara-saudaranya di dalam sana.

Saya sempat tertarik juga dengan ide itu. Tapi bujug buneng, di hari kerja dan memasuki tahun baru seperti ini, saya tak habis pikir mengapa kondisi kebun binatang ini kok masih seperti hari libur besar.

Seorang tukang gado-gado, yang membuatkan pesanan saya (saya nggak tau apakah dia sedang marah atau bad mood, atau hanya karena kebiasaan saja - gado-gadonya pedas sekali), mengatakan bahwa libur sekolah masih panjang, dan rata-rata pengunjung itu berasal dari luar Jakarta.

Dari dalam atau dari luar Jakarta, yang jelas saya nggak terlalu suka kondisi yang hiruk pikuknya lebay seperti ini. Saya sendiri kebetulan pernah tinggal di dekat Ragunan sini, di jalan Haji Niih tepatnya. Saya lebih senang berwisata di hari-hari sepi pengunjung.

Dari entah berapa kali kunjungan ke kebun binatang ini, ada satu fenomena yang sampai sekarang terus membuat saya penasaran.

Di dalam kebun binatang ini, ada sederet kios cendera mata khas KB Ragunan. Anehnya, seperti juga yang sudah saya amati beberapa tahun belakangan, di bagian luar dan di parkiran yang notabene nggak beda crowdednya dengan para penghuni kandang di dalam sana, malah tidak terlihat ada sesuatu pihak yang menawarkan cendera mata khas Ragunan.

Apa belum ada yang kepikiran? Misalnya membuat t-shirt khas KB Ragunan dengan foto-foto binatang? Atau malah lebih menarik dengan tulisan di dada atau di punggungnya:

"Saya monyet, kamu siapa?"
"Saya komodo, kandang saya di sebelah beruang madu."
"Sampai jumpa lagi di habitat asli."
"Welcome home!"
- dengan sablonan gajah di dada...

Padahal, pengunjung KB ini terbilang beragam dengan variasi daya beli yang memungkinkan menjadi pasar bagus untuk produk cendera mata. Tapi sudahlah, biar yang mau garap saja yang mikirin.

Kita kembali ke soal SIM.

Setelah saya memutuskan untuk tetap memantau dan menatap benda besar itu, saya mulai memperhatikan sekitar.

Salah satu pertanyaan yang paling sering saya dengar di antara para pengantri adalah, "Bapak nomor berapa?"

Baru sejam saya di sini, HP saya tiba-tiba mati, memang sudah dari rumah low batt. Nggak bisa update status berarti. Notebook pun tidak saya bawa. Saya perlu sesuatu untuk mengisi waktu, kalo saya nggak mau jadi suntuk dan ngantuk.

Alhamdulillah, belajar ilmu komunikasi memang banyak gunanya. Dengan segera saya mendapatkan sahabat-sahabat baru yang menyenangkan.

Salah satunya adalah seorang supir truk. Saya bertanya padanya, "bapak nomor berapa?" Dia menjawab, "136". Saya terbahak, hua...ha...ha... sebab itu adalah nomor terakhir untuk hari ini.

Ada juga sahabat baru saya, seorang pekerja kontraktor, yang dengan cerianya menceritakan betapa baiknya sang bos, yang membolehkan biaya perpanjangan SIM-nya di reimburse ke kantor.

Ada lagi beberapa orang tua dan ibu-ibu serta remaja yang bergabung dalam kelompok kecil kami di bawah rindangnya pepohonan KB Ragunan.

Saya membuktikan hari ini, bahwa ilmu komunikasi memang luar biasa. Hanya dalam beberapa menit, saya memiliki sahabat yang seolah sudah bertahun-tahun saling mengenal. Kami tertawa bersama, bercanda, bertukar pikiran, dan bahkan saling curhat. Benar-benar luar biasa. Di antara kami, benar-benar tak ada pembatas. Saling goda, cekakak-cekikik seperti sesama saudara.

Alhamdulillah, setidaknya itu semua bisa menciptakan "time distortion" yang menyenangkan. Saya bisa membayangkan jika saya menyendiri di salah satu sudut. Bleeehhh.... bisa jutek saya.

Di sela-sela itu semua, suara petugas lewat speaker, juga menceriakan suasana.

Saya tidak tahu pasti, apakah sejak "disipilkan" aparat kepolisian memang sudah "menyipilkan" dirinya sehingga menjadi lebih dekat dengan warga, atau memang mereka telah belajar banyak untuk tidak menciptakan stressnya sendiri.

Tak ada bentakan, seperti yang sering saya alami bertahun-tahun lalu. Tak ada kata-kata keras yang memojokkan. Tak ada arogansi, yang membuat kita begitu gerah melihat seragam aparat.

Yang ada adalah suasana yang cukup santai dan rileks. Dan saya tahu pasti, itu semua tidak lepas dari upaya pihak aparat sendiri yang menciptakannya. Saya merasa bahwa aparat unit keliling ini, sepertinya sudah cukup menguasai ilmu komunikasi terkait dengan service excellence dan persuasi.

Beberapa di antaranya adalah yang berikut ini.

Petugas loket bertanya kepada seorang pengantri, "pak, bapak tau apa artinya P4?" Yang ditanya tidak bisa menjawab. Petugas itu kemudian meneruskan, "buat kami P4 itu adalah pantat panas pinggang pegal." Para pengantri tertawa riuh.

Petugas itu sebenarnya sedang mengatakan, "hargai kami, kami bekerja keras", dengan cara yang elegan.

Ada lagi. Suatu ketika, petugas itu bertanya lagi kepada pengantri lain di depan loket, "pak apa beda STNK dengan ibu-ibu?" Petugas itu kemudian melanjutkan, "Kalo STNK, sebelum empat puluh hari baru boleh diperpanjang. Kalo ibu-ibu..." dia tidak menyelesaikan kalimatnya. Para pengantri tertawa berderai lagi.

Petugas itu mengatakannya dalam rangka menolak perpanjangan STNK yang masih terlalu dini. Manis banget caranya. He...he...he...

Kepada seorang pengantri pria, petugas bertanya, "yang namanya Rika siapa?" Dijawab oleh si pengantri, "kakak saya." Kemudian petugas itu bertanya lagi, "nama rika siapa?" Yang ditanya bengong. Petugas mengulangi pertanyaannya lagi, "nama rika siapa?" Kemudian, petugas itu berkata, "Kalo di Purwokerto pak, rika itu artinya kamu".

Kali ini, petugas itu sedang melakukan "rapport - localization".

Demikian cairnya suasana formal ini. Menurut saya luar biasa. Sepertinya reformasi di negeri ini mulai membuahkan hasil. Paling tidak dari segi penurunan arogansi dan keangkeran aparat yang di zaman dulu benar-benar menakutkan.

Sampai-sampai, para pengantri mulai tak ragu lagi untuk bertanya.

Salah seorang pengantri bertanya kepada petugas, "pak, kalo SIM boleh nggak diwakilkan?" Petugas itu menjawab, "boleh pak. Tapi fotonya yang di kandang sana." Kerumunan pengantri riuh rendah lagi.

Rapport building lagi.

Semua bentuk kecairan hubungan yang begitu santai dan ceria itu, terjadi bersamaan dengan berlangsungnya berbagai proses formal dan administratif. Segala bentuk proses kerja tetap berlangsung dengan lancar dan tepat waktu. Luar biasa ini.

Ini yang terakhir.

Saya tidak tahu apakah memang aparat kita di unit keliling ini sudah begitu berubah, menjadi lebih menyenangkan karena sudah belajar banyak, atau hanya karena diminta oleh atasan. Apa yang pasti, mereka sudah semakin sakti dalam berkomunikasi.

Kalimat seorang petugas berikut ini, adalah sebentuk persuasi berskill tinggi. Sebuah teknik persuasi yang memang terasa sekali di dunia nyata, di mana berbagai hubungan harus ditengahi oleh keterbatasan keadaan, yaitu membludaknya antrian dan cuaca panas.

Petugas itu berkata, "bapak dan ibu sekalian, terimakasih untuk kesabarannya SATU HARI INI. Kesabaran bapak dan ibu, akan membuat bapak dan ibu lebih tenteram selama LIMA TAHUN KE DEPAN."

Luar biasa! Dahsyat!

Kalimat itu adalah sebuah implementasi teknik persuasi tingkat advance, sebagaimana yang sering disitir oleh Robert Cialdini, Kevin Hogan, Kurt Mortensen, dan Dave Lakhani! Teknik ini disebut dengan "the power of contrast".

Di situasi yang demikian panas hari ini, dengan antrian yang membludak, dan bercampur baur dengan keriuhan pengunjung kebun binatang, kalimat yang mengkontraskan dua hal di atas jelas-jelas mampu mendinginkan hati dan kepala para pengantri. Luar biasa.

Saya berharap, semoga bukan hanya hari ini, dan bukan hanya di unit ini. Saya berharap fenomena service excellence dan positive persuasion seperti ini merata di berbagai tempat dan instansi.

Bravo untuk aparat!

Satu lagi, di salah satu sisi bus keliling ini, tercantum tulisan,

"Kami memang belum sempurna. Tapi kami selalu berusaha."

Wow. Hidup Indonesia!

Ikhwan Sopa.
Master Trainer E.D.A.N.
http://milis-bicara.blogspot.com
http://www.facebook.com/pages/Motivasi-Komunikasi-Leadership/196571006305
http://www.twitter.com/ikhwansopa

Resolution's Things


WHY BOTHER TO SHARE TO OTHER YOUR RESOLUTIONS, WHO GIVES A DAMN?

This is why:

1. Social learning or modeling - Albert Bandura.
2. Modelling - NLP.
3. Social support - Psychology Science.
4. Social imitation - Psychology Science.
5. Locus of Control (LoC) - Psychology Science.
6. Subliminal influence - Hypnosis.
7. Priming - Psychology Science.
8. Social influence; identification - Psychology Science.
9. Peer pressure - Psychology Science.
10. Social structure - pyramid - circular - hybrid - Psychology Science.
11. Pygmalion effect, Rosenthal effect - Psychology Science.
12. Mastermind group - Napoleon Hill
13. etc...etc...

Here's my resolutions:

1. Getting closer and more closer to my God - daily.
2. Having more time with my family - daily.
3. Being good in English.
4. Write at least one book on personal development - deadline Dec, 31.
5. More active on Twitter.
6. Sharpening the saw: Hypnosis/Hypnotherapy.
7. Doing an MLM (whaaaaaattt ...?!!!!)

Adding up to my whole current activities.

Note:

For English, i'm looking forward for some fast method solution. How do i do this? Can anyone help me?

About the book: It's about communication, it's about...

About Twitter, i've joined Twitter about two years ago, not active since then. Few weeks ago i find a "positioning" on how should i use Twitter. I'll be more active in 2010.

Hypno things: More on 101 practicing, stage or therapy maybe. More certificate, but not priority.

MLM: MLM is a "part-like-part-don't-like" thing for me. Yet, i'm trying to keep an open mind. I've told my sponsor this, "If i can't make this one out by the end of 2010, there's no more MLM in 2011 and on for me". I'll just try something else. Except of course, speak and train before those people in this particular world. Ha... that is my job.

(This particular MLM, will officially launch soon in our country by the end of this January. It is already worldwide spread in more than 50 countries. Anyone interested? Contact me! You'll be the few guys at the top.)

So, what is your resolution?

Submit your resolution here:

http://www.facebook.com/topic.php?uid=232464308961&topic=11400

Ikhwan Sopa
Master Trainer E.D.A.N.
http://milis-bicara.blogspot.com
http://www.facebook.com/pages/Motivasi-Komunikasi-Leadership/196571006305
http://www.twitter.com/ikhwansopa

Tweet/ReTweet - My Style


Best way to learn is learning from the best.
One of the best way to learn from the best is reading their books.

The very best way to learn from them is listening to their minds.

So, Twitter it is.

I'm a motivational speaker, a personal development coach and trainer, an NLP practitioner, a hypnotist, a hypnotherapist, and simply an average person.

As an average person, i listen to what i want to listen. I hear what i want to hear.

What i mean by "my style" is that i'm tweeting and retweeting things that are aligned with and can leverage my:

- Intention
- Beliefs
- Values
- Attitude
- Knowledge
- Skills
- Habits

I do believe that there is a big chance that "my style" fits yours.

So, i simply being a filter in tweeting and retweeting - handpick.

I tweet and retweet the essentials, the wows, the yess, and the ahas of hundreds of world class gurus:

John C Maxwell
Deepak Chopra
Robin Sharma
Steve Pavlina
Jack Canfield
Anthony Robbins
Dr. Dilip A
Les Brown
Dr. Wayne Dyer
Kelley Croy
Stephen R Covey
Craig Harper
Kevin Kelly
Brad Montgomery
Brad Sugars
Darren Rowse
Ruben Gonzalez
Doug Dvorak
Andy Cohen
Peter F Drucker
Jon Petz
Jim Rohn (RIP - Quotes)
Tom Peters
William R Patterson
Dr. Drew
David Allen
Suze Orman
Marriane Williamson
Mark Victor Hansen
Tom Ziglar
Ken Blanchard
Robert Cialdini
Kurt Mortensen
Debbie Ford
Mark Zuckerberg
Paul Coelho
Leo Babauta
Dr. Annette Colby
Louise Hay
Barrack Obama
Pete Cashmore
Oprah Winfrey
Brian Tracy
Success Wallpapers
James Rivers
Dr. Jefferson Boggs
Tiny Buddha
Cliff Meyer
Hemal Radia
Motivational Quotes
Spirit Warrior
Awareness Master
Joe Vitale
Positive Team
Daily Success Quotes
CNN Breaking News
Google
Martha Stewart
Larry King Live
Spiritual Truths
Christy H
I Am That I Am
Dale Carnegie
Market Guru
Zen Moments
Dream 2 Real Coaching
Jack Armstrong
The Success Quote
Change Expert
Tanya Hay Ziegler
Psych Digest
Quote Of The Day
Paradox Library
Gratitude Journal
Confucius
Jamie Smart
John Grinder
Derren Brown
Dalai Lama
Dr. Jennifer Howard
Eckhart Tolle
Bob Burg
Happier.Com
Randy Gage
Robert Kiyosaki
Bob Proctor
James Arthur Ray
Michael B Beckwith
John Assaraf
Art Jonak
Bob Doyle
Nick Vujicic
NLP Modelling
NLP focus
NLP Connections
Paul Mc Kenna
Ronny F Ronodirdjo
Mark O'Donoghue
Guy Kawasaki
Still growing...

Follow me on Twitter:

http://twitter.com/ikhwansopa

Ikhwan Sopa
http://milis-bicara.blogspot.com
http://www.facebook.com/pages/Motivasi-Komunikasi-Leadership/196571006305

Happy New Year 2010 - Believe You CAN Change!


BELIEVE YOU CAN CHANGE!
A Note On New Year's Resolution

Three and a half years ago, i'm just as a "totally different" person. I was a registered accountant, working a fulltime job, as a financial consultant, a financial and tax auditor, a tax magazine editor, and a tax trainer. The job is known as white-collar "left headed" job. It was a fine and exciting job. I really aware that it was an honorable and great job.

Then i found my dream of "being more" and "being another", working on larger impact base, or simply cheering up others. I wanted to be a personal development trainer, coach, and motivational speaker!

At that time, i really knew that was a long shot of 180 degrees all the way down to blue-collar "right headed" things.

My dream just give me more benefits; helping me and helping others at the same time.

Then i started all over my life. I started from the scratch.

As long as i remember, there are only two things i have at that time:

1. Being brave, no hesitation.
2. A great will to learn new things.

Then i decided to be the Master Trainer of E.D.A.N. and this is what some people (including the ones who are much closer or even closest to me) said:

"Can you make it?"
"E.D.A.N.? I think you are out of your mind. I think you are really-really edan!"
"You do not know a thing!"


I've been through those horrors and nightmares, and thank God things are more easy now.

I am not a believer on that "be there then take them there".

I am a believer in this: "to be a successful person, first you must succeeded other persons and things other than you."

I choose to be "a living proof of a development", not just "a historical evidence of success story". Yes it's hard to be so. I'm trying.

I am just living in that famous "grow with your customer" - exactly - literally.

So let's go there!

And this is my new dreams:

1. Be good in english (whoaaa...!) - so that i can expand my comfort zone to a new level. Can you help me - fast?

2. Write books on personal development, to get more established in my new profession.

I know that one just can living his dream, if he just believe that he CAN change!

Happy new years 2010. Thank you very much to all: my beloved family, my friends (you!), my supporter (you!), my colleage, and even my enemies. I know without you all, i just could ended somewhere else.

Thanks to Allah for this beautiful life He gave me, Alhamdulillah.

لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

Below are some things i can share to you all.

RESOLUTION DEFINED

"A decision to do something or to behave in a certain manner."

WHERE IT'S START

The tradition of the New Year's Resolutions goes all the way back to 153 B.C. Janus, a mythical king of early Rome was placed at the head of the calendar. With two faces, Janus could look back on past events and forward to the future. The Romans named the first month of the year after Janus, the mythical god of beginnings and the guardian of doors and entrances. That month is JANUARY.

WARNINGS

"Not often enough, we MAKE them.
Too often, we BREAK them.
And rarely do we KEEP them."

Chuck Gallozzi

HERE's HOW

Answer this six year end's question carefully

01. I will start doing…
02. I will stop doing…
03. I will continue doing…
04. I will do more
05. I will do less
06. I will do differently

TIPS

00. Get more and more and more closer to The Mostgracious - The Mostmerciful.

01. Spent more time with family.

02. Have big dreams.

03. Be realistic.

04. Be specific.

05. Make it meaningful.

06. Be aware to the differences of "good ideas" vs true commitment.

07. Write it down if you have to.

08. Tell your lovers or just publicised it (go public).

09. Be brave. Believe that you CAN change.

10. Do a reflection; Why didn't you do it last year? What's the reasons?

11. Break it down into small tasks.

12. Make reminders.

13. Find alternatives; Sometimes things just doesn't work!

14. Be flexible.

15. Prepare for the worst! Yes indeed, the worst happens!

16. Take a baby steps. Start slow. Be bold.

17. Start simple, change your daily routine; your wake up time, your sleeping time, your eating habit, your route to school or office, your exercise and sport, your hanging around places, your purpose being online, your favorite theatres, your style, your fashion, your perfume, your hair cut, etc.

18. No pain no gain.

19. Give rewards to your self to small and big winnings.

20. Create your opportunities, create your market, create the demand.

21. Get into positive point of view, all the times, as much as you can.

Semoga bermanfaat.

Ikhwan Sopa
Master Trainer E.D.A.N.
http://milis-bicara.blogspot.com
http://www.facebook.com/pages/Motivasi-Komunikasi-Leadership/196571006305