Leadership: Teachable Moment



Anda adalah pemimpin. Anda pemimpin di rumah, di kantor, di kampung, di organisasi, atau setidaknya, Anda adalah pemimpin untuk diri sendiri. Sebagai pemimpin atau leader, salah satu tugas besar Anda adalah meng-coach orang-orang di sekitar Anda.

Coaching, adalah salah satu tugas utama seorang leader. Leadership tanpa coaching, sama juga bo'ong. Sebagai coach, Anda harus punya kepekaan. Untuk mendapatkan kepekaan sebagai seorang coach dan leader, Anda harus latihan.

Saya tidak akan muluk-muluk. Saya hanya mau menceritakan pengalaman saya saja. Bukan sebagai pemimpin besar di suatu kantor atau organisasi, tapi sederhana saja, sebagai pemimpin di rumah sendiri. Pengalaman saya ini, sama sekali bukan best practice. Bukan juga juklak atau manual.

Saya belumlah menjadi orang tua dan kepala rumah tangga yang ideal, tapi pengalaman saya, mungkin bermanfaat untuk Anda. Anda, bahkan bisa melatihnya untuk kepentingan leadership Anda dalam konteks apa saja.

Suatu sore, dua dari tiga anak saya, Rahma dan Riva - saat itu berusia enam dan tujuh tahun, sedang bermain game komputer. Saat itu giliran Rahma bermain, dan masih beberapa menit lagi menjelang azan maghrib.

Saya katakan kepada mereka, "Anak-anak, sudah hampir maghrib. Berhentilah bermain." Rahma yang sedang asyik bermain, merespon saya sambil menekan tombol di keyboard, "Ya ayah, Ama matiin dulu komputernya."

Secara tiba-tiba, Riva kakaknya menyentuh mouse dan langsung berkata, "Riva aja!" Rahma menolak dan berkata, "Jangan, Ama aja!" seraya berniat merebut mouse itu kembali. "Riva aja!" "Ama aja!" "Riva aja!" "Ama aja!" Pecah sudah perang dunia ketiga. Hanya karena berebutan mematikan komputer.

Bukan perkara mudah menghadapi situasi semacam ini. Apalagi di jam-jam yang peka emosi seperti menjelang maghrib. Saya pun susah payah melerai mereka, sembari menahan keras mulai pendeknya "sumbu" Saya. Jangan sampai, saya justru ikut masuk ke kancah perang dunia ini. Mereka menangis, saya tercenung.

Di titik itulah, saya melihat sebuah momen yang Anda pun mungkin sering melupakannya. Momen itu, disebut dengan teachable moment. "Teachable moment", adalah sebuah momen yang sangat berharga, karena itulah detik dan saat di mana kita sebagai leader bisa menyuntikkan berbagai materi pembelajaran dan pengetahuan.

Momen itu, jika terluput dari penanganan, entah karena emosi, entah karena larut dalam konflik, entah karena terlalu sibuk berfokus pada sesuatu, akan membuat semua pihak kehilangan kesempatan, untuk menangguk pelajaran dan materi yang sangat berharga. Ya, bisa jadi sangat-sangat berharga.

Di tengah upaya untuk tidak terpengaruh oleh hiruk dan pikuk menjelang magrib itu, saya berusaha keras untuk memahami apa yang terjadi. Menurut kacamata saya, ada kesenjangan yang muncul di antara kedua anak saya.

Rahma, memahami bahwa dirinyalah "penguasa" komputer saat itu. Kekuasaannya mencakup semua periferal seperti monitor, keyboard, dan mouse itu sendiri sebagai mediator konflik.

Riva, memahami bahwa mouse itu adalah benda bebas, yang bisa diklaim dengan "adu cepat" dan "siapa duluan itu yang dapat". Kacamata saya mengatakan bahwa Riva perlu diluruskan.

Di tengah tangis keduanya, saya mencoba menenangkan Riva. "Nak, kamu terlalu memaksa, bukankah komputernya sekarang sedang dipakai Rahma?" "Tapi Riva duluan yang mau matiin!" Setengah berteriak Riva merespon saya. Kepala saya berputar-putar, bagaimana saya harus menjelaskan hal ini?

Saya pikir, analogilah cara yang cukup akurat untuk menjelaskan semua ini. Saya pun berkata padanya, "Coba kalo Ayah yang sedang pake komputer ini, lalu mau Ayah matiin, masak Riva juga mau pake mousenya, padahal Ayah bilang jangan?" Riva masih merengek dan tampaknya belum bisa menerima.

Saya coba lagi, "Kalo Ayah sedang nyetir mobil, lalu Ayah mau berhenti, kan menginjak rem. Tapi, Riva-lah yang mau menginjak rem. Kemudian Ayah bilang jangan, tapi Riva tetap memaksa, kan bisa nabrak mobilnya?" Riva belum juga mengerti.

Saya coba sekali lagi, "Kalo Ibu sedang masak, lalu Ibu mau matiin kompor, masak Riva yang nyerobot matiin tombolnya, padahal Ibu bilang jangan?" Sepertinya, Riva mulai mengerti. Dengan sedikit penjelasan dunia pun tenang kembali.

Ya, teachable moment. Pengalaman saya mendorong saya untuk mengingatkan Anda, bahwa Anda, mungkin saja sering melupakan konsep yang satu ini. Sekali lagi, "teachable moment" adalah saat kritis, di mana Anda bisa menjadikan momen itu sebagai momen pembelajaran.

Ironisnya di saat seperti itu, Anda sangat mungkin justru sedang terokupasi oleh emosi, pikiran negatif, atau fokus dan perhatian pada hal lain. Anda bisa lupa bahwa sebenarnya, momen itu adalah momen pembelajaran. Dan jika terlewatkan, maka sebuah sesi yang memungkinkan Anda bisa memberi dan menarik pelajaran berharga, akan menguap dengan sia-sia.

"Teachable moment" datang tanpa diduga. Momen itu, bertebaran di sepanjang waktu, aktivitas, dan interaksi Anda. Momen itu, bisa muncul di sela-sela berbagai kesibukan dan rutinitas Anda. Ia bisa datang saat terjadinya konflik. Ia bisa datang di saat-saat krisis. Ia bisa datang di saat tenang.

Apa yang sering terjadi, adalah kecenderungan Anda untuk menghindari atau melewatkan momen seperti ini. Bahkan, Anda mungkin justru berusaha keras untuk men-skip detik-detik itu sesegera mungkin, hanya agar dunia bisa tenang kembali. Please, pikirkan lagi.

Waspadalah dan berhati-hatilah. Detik dan saat krisis, momen dan waktu kritis, titik-titik konflik, kesibukan teknis dan kerja, dan bahkan di waktu yang sangat nyaman sekalipun. Momen itu bisa terjadi. Itu semua adalah waktu-waktu emas Anda, untuk memetik dan mengambil hikmah.

Di sepanjang waktu itu, bertaburanlah segala bentuk "teachable moment" untuk Anda. Di situ, akan ada saat-saat tertentu, yang menjadi momen yang tepat untuk mengambil pelajaran.

Perkuatlah kepekaan Anda, latihlah kepekaan Anda untuk momen-momen seperti ini. Ia bisa datang dan muncul, di saat Anda melihatnya sebagai sebuah momen yang tidak menyenangkan dan harus dihindari. Ia juga bisa datang dan muncul di saat Anda terlena oleh kesenangan, atau oleh amannya keadaan. Ia mungkin terselip dan terbersit di celah-celah waktu Anda.

Momen itu, adalah sebuah momen yang sangat berharga bagi proses pembelajaran. Untuk Anda sebagai leader dan coach, dan untuk setiap orang di bawah leadership Anda. Marilah kita resapi, pelajari, cerminkan dan latih untuk apapun situasi leadership kita.

Saat momen itu muncul, katakan ini:

"Stop!"

hentikan keterlibatan otomatis Anda, lalu tanyakan pada diri sendiri

"What do you think?"

Note in iterkait dengan status FB "Dendam Sandal - Comberan".

Sukses selalu.

Ikhwan Sopa
Master Trainer E.D.A.N.
http://milis-bicara.blogspot.com
http://www.facebook.com/motivasi