Motivasi: Mendadak Rileks (Do This Now!)


Kita bisa menjadwal rutinitas relaksasi kita. Akhir minggu dan hari libur adalah pilihan yang paling umum, di mana kita merasa punya cukup waktu untuk menikmati rileks. Di luar waktu-waktu itu, kita biasanya sulit menduga-duga kapan sebenarnya kita memerlukan rileks. Ketidakpastian ini sejalan dengan ketidakpastian naik dan turunnya mood dan perasaan. Oleh sebab itu, kita memerlukan sebuah keterampilan dan kebiasaan untuk bisa merasakan rileks dalam waktu yang cukup singkat. Tepatnya, mencapai kondisi rileks dalam waktu pendek. Segera menjadi rileks.

Dari sekian banyak cara, teknik yang berikut ini ternyata termasuk yang paling powerful untuk mencapai state rileks dalam waktu secepat-cepatnya. Dengan berlatih ini, kita akan terbiasa masuk ke kondisi rileks dengan mudah. Kebiasaan ini menjadi penting di saat tugas, pekerjaan, bisnis, dan rutinitas kita menyedot banyak tenaga dan pikiran. Misalnya, saat kita tengah melakukan meeting marathon berjam-jam, saat bernegosiasi keras dengan suatu pihak, atau saat harus mengambil keputusan yang sangat berat. Teknik ini juga berlaku jika kita sekedar ingin rileks saja.

Sebelum masuk ke praktek, perlu Anda ingat tiga hal berikut ini baik-baik:

1. Baca petunjuk teknis di bawah ini sekali saja, hafalkan langkah-langkahnya (mudah), dan langsung praktekkan rileks saat ini juga.

2. Praktekkan secara dewasa dan penuh tanggung jawab untuk produktifitas kerja Anda. Saya, tidak bertanggungjawab untuk apapun dampak dari penggunaan teknik ini. Termasuk jika Anda menjadi terlalu, sangat, sangat rileks ;)

3. Teknik ini namanya "Danau Tenang Teduh Sejuk Angin Sepoi Tak Beriak Sebening Kaca". Hafalkan. Berbeda dari teknik standar, teknik ini mengakomodasi keluwesan dan kedahsyatan mata.

Siap?

1. Duduklah dengan tenang, tenang dengan punggung tegak dan tidak disandarkan ke kursi.

2. Tataplah sesuatu di hadapan Anda, yang berjarak kurang lebih 1 sampai 1,5 meter dari Anda. Tatap saja dengan santai dan tak usah memaksa.

3. Mulailah memberi perintah kepada mata dan otot-oto mata Anda. Perintahkan dalam hati, "rileeks..." rileeks..." rileeeks..." Sambil Anda mulai memperlambat siklus nafas Anda. Memperlambat tarikan, dan memperlambat keluaran. Tetaplah santai, Anda bukan sedang berolahraga. Atur nafas Anda se-rileks mungkin.

4. Sekarang, mulailah perintahkan kepada mata Anda untuk tidak memberi makna dan tidak menginterpretasi. Makin fokuslah ke mata Anda, bukan ke obyek di hadapan Anda. Kosongkan tatapan mata Anda. Teruslah memberi perintah "rileeks..." "rileeks..." rileeeks..." Biarkan mata Anda tetap terbuka dengan santai, dan jika makin berat, biarkan ia semakin berat dan mungkin mulai meredup.

5. Mulailah merasakan ketenangan dan rileeeks yang menjalar ke sekujur tubuh Anda. Mulailah rasakan bagaimana tubuh dan diri Anda menjadi kurang responsif terhadap stimulus dari luar. Nikmati. Rasakan. Bukan pikirkan.

Rasakan juga bagaimana diri Anda bahkan tidak mau dan tidak mampu merespon pikiran berontak Anda, "Ah... ini tidak berfungsi. Aku tidak suka ini." Rasakan bagaimana pikiran tenang Anda bahkan malas menjawabnya.

6. Seraya merasakan sensasi rileeeks di sekujur tubuh Anda, mulailah berhitung dari satu sampai sepuluh, sambil menyebut nama teknik ini, "Danau Tenang Teduh Sejuk Angin Sepoi Tak Beriak Sebening Kaca". Jika Anda tertukar menyebut kata-kata setelah "danau", it's ok biarkan saja dan teruslah nikmati rileeeks Anda. Setelah hitungan ke sepuluh, biarkan rileeeks Anda di isi ketenangan dan kesunyian.

7. Berhentilah, jika Anda sudah merasa cukup. Kembalikan diri Anda ke dunia ini, dengan perlahan-lahan membuka mata Anda (jika sudah tertutup) dengan tetap membawa sensasi rileeeks itu.

Terimakasih. Sekarang Anda tahu apa itu "kekuatan mata".

Semoga bermanfaat.

Ikhwan Sopa
http://milis-bicara.blogspot.com
http://www.facebook.com/motivasi

Motivasi: Ceria Di Tempat Kerja


Bekerja tak selamanya menyenangkan. Ada saatnya Anda akan merasakan kerja sebagai beban. Saat mood semacam itu datang, bekerja bahkan seperti sebuah perbudakan. Maka yang Anda perlukan, adalah sebuah strategi agar bisa selalu bergembira dan ceria di tempat kerja.

Adalah tanggung jawab pribadi Anda, untuk menjadikan kantor dan pekerjaan sebagai dua hal yang membahagiakan. Sebab setengah dari usia Anda, mungkin akan Anda habiskan di sana.

Berikut ini adalah tips untuk cerah ceria dan bergembira di tempat kerja, dari Susan M. Heatfield, seorang pakar HRD.

1. Pilihlah Untuk Bergembira

Bagian terbesar dari rasa bahagia dan senang, diciptakan oleh pilihan-pilihan. Maka, tetapkanlah pilihan untuk bergembira di tempat kerja. Galilah sisi positif dari tempat kerja dan pekerjaan Anda. Kabar baiknya, jika Anda mau sedikit mengalahkan ego Anda, maka Anda pasti bisa menemukan keceriaan dan kegembiraan.

2. Lakukan Apa Yang Anda Sukai

Lakukan apa yang Anda sukai dan senangi, setiap hari. Temukan apa yang Anda sukai dan senangi di tempat kerja Anda, pasti ada. Anda tidak akan mungkin merengut full time di sepanjang karir Anda. Anda pasti pernah tersenyum atau bahkan tertawa. Temukan itu kembali dan lakukan tanpa mengganggu produktifitas Anda. Apa yang Anda cari bukan pelarian melainkan esensi.

3. Ambil Alih Tanggung Jawab Self Development

Ingat selalu bahwa Anda adalah orang yang paling bertanggung jawab untuk pengembangan diri Anda. Sebab, Anda sendirilah manusia yang paling tertarik dengan diri Anda. Selain dengan belajar dan membaca, pola pengembangan diri yang terbaik untuk Anda adalah berinteraksi dan berkolaborasi dengan rekan kerja, atasan, bawahan, klien, dan kustomer Anda.

4. Ambil Alih Tanggung Jawab Informasi Situasi

Jangan menunggu informasi yang masuk tentang apa yang sedang berlangsung di tempat kerja. Setiap orang sibuk untuk mengurusi dan memberi informasi kepada Anda. Ambil alih tanggung jawab itu dengan aktif menggali informasi. Aktifkan saluran komunikasi Anda, agar Anda bisa mengakses berbagai informasi yang bisa mempermudah pekerjaan Anda dan agar Anda bisa merencanakan dan mengatur produktifitas kerja Anda.

5. Aktif Meminta Masukan

Mintalah masukan kepada boss Anda. Pujian darinya tentang hasil kerja Anda adalah motivasi. Mintalah masukan kepada rekan kerja Anda, dan komentar mereka bisa menjadi pengakuan. Mintalah masukan dari kustomer Anda. Apa yang mereka katakan, bisa menjadi afirmasi. Jika Anda cermati, apa yang diungkapkan di sini sangat jelas menggambarkan bagaimana Anda patutnya bekerja.

6. Komitmen Hanya Pada Yang Disanggupi

Hati-hati mengatakan "ya". Penyebab paling serius dari stress dan ketidakceriaan di tempat kerja adalah kegagalan memenuhi komitmen. Tips 1 sampai dengan tips 5 di atas, sangat membantu Anda untuk bisa makin sering mengatakan "ya".

7. Hindari Negatif

Pembicaraan negatif, gosip negatif, orang negatif, manusia negatif, dan bahkan alat kantor negatif. Anda bisa stress dan frustrasi di buatnya. Negatif dan positif, adalah dua hal yang paling mudah menular.

8. Latih Keberanian Profesional

Pahami tuntutan keberanian di dalam profesi Anda. Latihlah diri Anda dalam menguasainya. Public speaking, meeting, organizing, dan bahkan berdebat atau berkompetisi secara sehat. Latihlah untuk segala hal di dalam dan di tempat kerja Anda. Termasuk jika hanya untuk futsal bersama, naik sepeda bareng, arisan, buka bersama, atau upacara.

9. Make Friends

Jawab ini,

"Do you have a best friend at work?"

Jika Anda telah memiliki satu saja teman baik di tempat kerja, itu sudah cukup untuk menceriakan Anda. Jika Anda belum punya, cari.

10. Jika Semua Itu Gagal

Jika Anda masih belum bisa ceria juga, evaluasi ulang kantor Anda, profesi Anda, dan keseluruhan karir Anda. Bisa jadi, Anda harus pergi. Maka, mulailah mencari. Dan pencarian ini, sudah cukup menggembirakan Anda. Sebab hidup dan kebahagiaan, adalah identik dengan harapan.

Semoga bermanfaat.

Ikhwan Sopa
Master Trainer E.D.A.N.
http://milis-bicara.blogspot.com
http://www.facebook.com/motivasi

Leadership: Mengelola Masalah

"Makin besar masalah yang Anda hadapi, makin besar peluang yang Anda miliki."
Matthias Schmelz - Penulis buku termahal di dunia, di Amazon bukunya (450 halaman) dijual seharga $995.

Di dalam kata "problem" ada suku kata "pro". Dalam bahasa latin, "pro" berarti "positif" atau "berpihak". Jika kita punya masalah, maka ia sebenarnya positif dan berpihak kepada kita. Ingatlah lagi berbagai masalah dan persoalan yang berhasil kita selesaikan, pasti selalu berdampak positif dan makin membesarkan kita.

Apa yang sering terjadi, adalah sikap otomatis kita yang cenderung menjadikan masalah atau problem sebagai sesuatu yang "kontra" terhadap diri kita sendiri. Maka menghadapi masalah, sebenarnya adalah tentang bagaimana menjadikannya sebagai sekutu yang makin menguatkan kita.

Untuk bisa menyelesaikan masalah, hal pertama yang perlu kita lakukan adalah merubah proses berpikir dan berpersepsi. Sebab, inti setiap masalah adalah tentang cara berpikir dan cara memandang. Kemudian, cara berpikir dan cara memandang itulah yang akan membentuk cara kita membangun perasaan. Artinya, perasaan tidak datang dan diterpakan begitu saja kepada kita. Ia adalah sesuatu yang kita bangun sendiri. Di sinilah letaknya, apa yang sesungguhnya menjadi persoalan kita.

Jika kita bisa merubah proses berpikir dan bercara pandang, dan kemudian kita bisa membangun perasaan yang lebih berpihak atau "pro" kepada diri sendiri, maka kita akan menjadi lebih kreatif. Dan kreatifitas, akan bermuara pada berbagai pilihan. Dan kekayaan pilihan, adalah peluang untuk berbagai keputusan dan tindakan yang akan menciptakan solusi.

== ALBERT EINSTEIN ==
Fisikawan, Outstanding Problem Solver.

Albert Einstein pernah mengatakan bahwa jika dia diberi waktu satu jam untuk menyelesaikan suatu masalah, maka ia akan menggunakan 55 menit untuk mendefinisikan masalah dan 5 menit untuk menemukan solusi.

Cara problem solving a la Einstein telah terbukti juga ampuh untuk menyelesaikan berbagai persoalan kehidupan pada umumnya. Einstein mengungkapkan sembilan langkah penting yang perlu ditempuh untuk menyelesaikan masalah.

1. Rephrase the problem

Ketika seorang eksekutif di Toyota bertanya kepada para karyawan, "bagaimanakah caranya menaikkan produktifitas kalian?", maka respon yang diperoleh adalah wajah-wajah bengong. Kemudian, eksekutif itu merubah pertanyaannya menjadi, "bagaimanakah caranya agar pekerjaan kalian menjadi lebih mudah?" Kita tahu, sisanya adalah sejarah besar Toyota.

Me-rephrase persoalan akan membuat pola berpikir menjadi lebih akurat dan berdayaguna.

2. Expose and challenge assumptions

Setiap persoalan, selalu dilatarbelakangi oleh setumpuk asumsi. Asumsi-asumsi itu, bisa jadi tidak akurat atau mengakibatkan bias. Hal pertama yang perlu dilakukan adalah membuatnya eksplisit, dan kemudian mengujinya dengan berbagai pertanyaan yang menantang.

"Benarkah bahwa...?"

Menguji asumsi akan membuat pola berpikir menjadi lebih jernih dan terarah.

3. Chunk up

Setiap persoalan, adalah bagian dari persoalan yang lebih besar. Maka, apa yang perlu dilakukan adalah menelusuri persoalan ke atas, sehingga bisa diketahui dengan jelas bagaimana dan seberapa besar pengaruhnya pada berbagai target yang lebih besar.

"Bagian dari persoalan apakah, persoalan yang satu ini?"

Chunking up akan membuat persoalan menjadi jelas duduk perkaranya.

4. Chunk down

Setiap persoalan, terdiri dari berbagai persoalan yang lebih kecil. Maka, apa yang perlu dilakukan adalah menelusuri persoalan ke bawah, sehingga bisa diketahui dengan jelas detil-detil dari persoalan.

"Persoalan-persoalan apa yang membangun persoalan yang satu ini?"

Chunking down akan membuat persoalan menjadi lebih spesifik dan pada saat yang sama akan membuat diri kita bisa merasa lebih besar dari persoalan.

5. Find multiple perspectives

Setiap persoalan, terkait dengan berbagai sudut pandang berbagai pihak. Persoalan dan penyelesaiannya, akan berpengaruh terhadap hubungan-hubungan dengan berbagai pihak ini. Dalam NLP, cara ini erat hubungannya dengan konsep ekologis.

"Bagaimanakah persoalan ini dari sudut atau dari kacamata...?"

Mengambil multi persepsi akan membuat persoalan menjadi lebih terfokus dan pada saat yang sama akan sangat membantu agar berbagai kemungkinan solusi tidak berdampak menciptakan persoalan baru atau memperberat suatu persoalan yang lain.

6. Use effective language constructs

Aspek pilihan bahasa dan kata-kata sangat berpengaruh terhadap bagaimana suatu persoalan akan ditindaklanjuti dan dikelola. Lebih jauh lagi, aspek bahasa dan kata-kata sangat berpengaruh pada tinggi rendahnya tingkat stamina kita dalam menindaklanjuti dan mengelola persoalan.

"Besar atau hanya sering?"

7. Make it engaging

Buatlah persoalan menjadi menarik, karena kita akan menghabiskan sejumlah energi dan waktu dalam menghadapi persoalan. Jika persoalan menarik, maka energi dan waktu yang digunakan akan tergantikan dengan efisien dan menguatkan.

"Persoalan, atau tantangan?"

8. Reverse the problem

Salah satu trik untuk keluar dari persoalan dengan segera, adalah dengan menjungkirbalikkan persoalan.

Jika kita ingin menang, cari tahu apa yang akan membuat kita kalah. Jika kita ingin besar, temukan apa yang membuat kita kecil. Jika kita ingin berhasil, selidiki apa yang akan membuat kita gagal.

9. Kumpulkan fakta-fakta

Persoalan harus jelas dan detil. Jangan sampai, sesuatu yang bukan persoalan malah kita anggap persoalan, atau suatu persoalan muncul dengan kabur dan samar-samar.

== MATTHIAS SCHMELZ ==
Penulis buku termahal di dunia, "The Millionaire Maker".

Proses berpikir, cara pandang, perasaan, dan kreatifitas, selalu berhubungan dengan berbagai makna. Dan makna, selalu lekat dengan kata-kata dan bahasa.

Kata-kata memiliki kekuatan, sebab pikiran kita bekerja dengan bahasa. Jika kita ingin merubah proses berpikir dan berpersepsi, kita bisa memulainya dengan mengubah kata-kata yang kita gunakan. Mulailah dengan memaknai ulang kata "masalah", "persoalan", dan "problema". Kita perlu melakukan ini sesegera mungkin saat kita merasa ketiga hal itu datang.

Pilihan 1 - "Situasi"

Jika kita memaknainya sebagai situasi, maka hal ini akan membuat kita lebih tenang. Sebab, apa yang disebut dengan situasi bersifat netral, dan dia tidak hanya terekspos kepada diri kita secara pribadi, melainkan "sedang terjadi" pada dunia yang kita hidup di dalamnya. Entah apakah situasi itu baik atau buruk, setiap situasi punya karakter khas, yaitu bisa dianalisis.

Dalam kacamata ini, masalah, persoalan, dan problema, adalah "obyek pembelajaran". Dan belajar, tidak pernah merugikan.

Pilihan 2 - "Tantangan"

Jika kita memaknainya sebagai tantangan, maka hal ini akan memicu ambisi kita untuk dua hal sekaligus, yaitu menerima dan menuntaskan. Rata-rata kita menyukai tantangan. Hidup kita cenderung membosankan tanpa tantangan.

Dalam kacamata ini, masalah, persoalan, dan problema, adalah sesuatu yang membuat "hidup menjadi lebih hidup".

Pilihan 3 - "Kesempatan"

Jika kita memaknainya sebagai kesempatan, maka hal ini akan merubah sikap dan pendekatan kita. Jika kita benar-benar bisa memaknainya, maka kita tidak memilih kalimat, "Kok bisa sih, gue ngalamin yang beginian?" melainkan, "Apa yang bisa aq lakukan untuk keluar dari hal ini?" atau, "Apa dari hal ini yang akan menguntungkan saya?"

Pilihan 4 - "Kesenjangan Keputusan"

Jika kita memaknainya sebagai kesenjangan keputusan, maka hal ini akan langsung mendorong kita untuk menuju solusi. Dengan dorongan ini, kita tidak lagi berputar-putar di sekitar persoalan dan terlalu lama berkutat dengannya, melainkan mulai memikirkan berbagai keputusan yang harus kita ambil sebagai penyelesaian.

Kabar baiknya, berbagai persoalan, biasanya hanyalah tentang kesenjangan keputusan. Nyaris setiap persoalan bisa diselesaikan dengan mengambil keputusan.

== STEVEN GILLMAN ==
Brain Power Enhancer.

Teknik Un-Bonding - "Bagaimana jika...?"

Setiap persoalan melekat pada suatu pihak. Persoalan kita melekat pada diri kita. Persoalan juga bisa melekat pada sesuatu yang tidak bermasalah. Untuk bisa menghadapi persoalan, kita harus bisa memisahkan persoalan atau mengisolirnya dari berbagai hal yang tidak relevan. Salah satu caranya adalah dengan membuat persoalan menjadi "semakin berat".

Kita menjalankan bisnis di rumah. Kemudian muncul persoalan, yaitu bahwa kita menganggap rumah kita sudah mulai sumpek.

"Bagaimana jika... rumah ini lebih kecil lagi?"
"Apa yang bisa kita lakukan?"


Menjawab pertanyaan di atas, akan cenderung mendorong kita memisahkan bisnis kita dari rumah kita. Kita bisa berpikir untuk menempatkan bisnis kita di salah satu pojok rumah kita.

Jika kita melupakan pertanyaan ini, apa yang kita anggap solusi mungkin saja adalah membesarkan rumah atau menyewa ruangan kantor di luar rumah. Untuk bisnis kita itu adalah solusi, tapi bisa memunculkan persoalan baru, yaitu biaya.

== MINDTOOLS ==
Career Skills Expert.

Teknik Mencecar - "Mengapa...?"

"Mengapa pelanggan kita, Tuan A tidak puas?"
Sebab kita tidak melayaninya sebagaimana yang kita janjikan.

"Mengapa kita tidak melayaninya sebagaimana yang kita janjikan?"
Sebab kita terlalu sibuk dengan pelanggan lain dan berbagai pekerjaan.

"Mengapa kita terlalu sibuk dengan pelanggan lain dan berbagai pekerjaan?"
Sebab kita tidak pernah mengira pelanggan menjadi begitu banyak dan pekerjaan menumpuk dalam waktu singkat.

"Mengapa sampai kita tidak bisa memproyeksikan hal ini?"
Sebab kita selalu sibuk mengejar penjualan.

"Mengapa penjualan kita menjadi sesuatu yang harus dikejar?"
Sebab kita butuh cash flow yang terjamin.

Oh begitu. Kita perlu berhemat lebih jauh lagi, agar cash flow tetap terjamin dan kita bisa menyisihkan sebagian darinya untuk membiayai karyawan kita mengikuti pelatihan "service excellence" bersama Pak Sopa, sehingga walaupun sibuk berjualan mereka tetap bisa melayani pelanggan dengan baik. Nanti saya minta beliau mengisi pelatihan di luar jam kerja. ;)

Teknik Apresiasi - "Terus kenapa kalo gitu...?"

Teknik ini biasa digunakan di dunia militer. Tujuannya adalah memperkaya informasi terkait dengan fakta-fakta masalah. Teknik ini bisa dilakukan dengan mengajukan pertanyaan "Terus kenapa kalo gitu...?" secara bertubi-tubi.

"Terus kenapa kalo gitu...?"
Ya...

"Terus kenapa kalo gitu...?"
Ya... terus ...

"Terus kenapa kalo gitu...?"
Terus...

"Terus kenapa kalo gitu...?"
Jadinya...

Pertanyaan yang bertubi-tubi dan diajukan dengan kepala dingin, akan membuat persoalan menjadi semakin jelas arah dan juntrungannya. Semakin pasti dampak dan akibatnya. Semakin kuat pengaruh dan perannya.

== CHUCK GALLOZZI ==
Personal Development Expert, Motivator.

Jika kita menghadapi masalah, sebenarnya kita sedang memiliki "sesuatu yang perlu berubah".

Langkah 1 - Menjawab Masalah

"Apa yang saya inginkan sekarang?"

Pertanyaan ini terdiri dari sub-sub pertanyaan;

"Apa yang saya ingin miliki?"
"Ingin menjadi manusia yang bagaimanakah saya ini?"
"Apa yang akan saya lakukan dalam posisi itu?"
"Apa yang saya akan bagi bersama orang lain?"


Menjawab pertanyaan ini adalah tentang tujuan, arah, orientasi, makna hidup, dan alasan keberadaan diri.

Langkah 2 - Merespon Masalah

"Apa yang menghalangi saya dari mendapatkannya?"
"Apa yang akan saya lakukan tentang itu?"


Menjawab pertanyaan yang pertama adalah sebuah pengakuan tentang keberadaan masalah. Tindak lanjut dari jawabannya adalah persiapan-persiapan. Menjawab pertanyaan berikutnya adalah memproduksi peta jalan (roadmap) dan rencana tindakan (action plan).

Langkah kedua ini adalah tahap pertama menuju solusi. Tahap pertama menuju solusi selalu merupakan tahap yang diwarnai dengan berbagai keragu-raguan. Ketahuilah bahwa fenomena ini adalah normal. Kuncinya adalah berani dan percaya diri.

Langkah 3 - Implementasi

Lakukan apa yang telah menjadi rencana tindakan.

Langkah 4 - Maintenance

Lakukan monitor untuk progres dan kemajuan, dan lakukan langkah perbaikan jika dipandang perlu.

Langkah 5 - Relapse

Kita mungkin tidak langsung berhasil. Maka yang perlu kita lakukan adalah mengulangi kembali langkah 1 sampai langkah 5. Lagi... lagi... dan lagi.

"Gagal hanya ada jika kita berhenti."

Semoga bermanfaat.

Ikhwan Sopa
Master Trainer E.D.A.N.
http://milis-bicara.blogspot.com
http://www.facebook.com/motivasi

Motivasi: For All Of My Teacher



TODAY

Years ago, when I started my day,
This day seemed so far-far away.

Now I'm here,
And youre still there standing proud.

It's not only you - it is me
Always proud of you.

I was born without wings.
You're the one who makes me fly.


-- me --

WHEN YOU THOUGHT I WASN'T LOOKING

When you thought I wasn’t looking, you displayed my first report, and I wanted to do another.

When you thought I wasn’t looking, you fed a stray cat, and I thought it was good to be kind to animals.

When you thought I wasn’t looking, you gave me a sticker, and I knew that little things were special things.

When you thought I wasn’t looking, you put your arm around me, and I felt loved.

When you thought I wasn’t looking, I saw tears come from your eyes, and I learned that sometimes things hurt--but that it’s all right to cry.

When you thought I wasn’t looking, you smiled, and it made me want to look that pretty too.

When you thought I wasn’t looking, you cared, and I wanted to be everything I could be.

When you thought I wasn’t looking--I looked...and wanted to say thanks for all those things you did when you thought I wasn’t looking.


-- Mary Rita Schilke Korzan --

WHO'S CHILD IS THIS?

"Whose child is this?" I asked one day
Seeing a little one out at play
"Mine", said the parent with a tender smile
"Mine to keep a little while
To bathe his hands and comb his hair
To tell him what he is to wear
To prepare him that he may always be good
And each day do the things he should"

"Whose child is this?" I asked again
As the door opened and someone came in
"Mine", said the teacher with the same tender smile
"Mine, to keep just for a little while
To teach him how to be gentle and kind
To train and direct his dear little mind
To help him live by every rule
And get the best he can from school"

"Whose child is this?" I ask once more
Just as the little one entered the door
"Ours" said the parent and the teacher as they smiled
And each took the hand of the little child
"Ours to love and train together
Ours this blessed task forever."


I AM A TEACHER

I am a counselor and psychologist to a problem-filled child,
I am a police officer that controls a child gone wild.
I am a travel agent scheduling our trips for the year,
I am a confidante that wipes a crying child's tear.
I am a banker collecting money for a ton of different things,
I am a librarian showing adventures that a storybook brings.
I am a custodian that has to clean certain little messes,
I am a psychic that learns to know all that everybody only guesses.
I am a photographer keeping pictures of a child's yearly growth,
When mother and father are gone for the day, I become both.
I am a doctor that detects when a child is feeling sick,
I am a politician that must know the laws and recognize a trick.
I am a party planner for holidays to celebrate with all,
I am a decorator of a room, filling every wall.
I am a news reporter updating on our nation's current events,
I am a detective solving small mysteries and ending all suspense.
I am a clown and comedian that makes the children laugh,
I am a dietician assuring they have lunch or from mine I give them half.
When we seem to stray from values, I become a preacher,
But I'm proud to have to be these people because ...
I'm proud to say, "I am a teacher."


-- Staci Bonino --

IF COULD TEACH YOU

If I could teach you, teacher,

I’d teach you how much more you have accomplished than you think you have.

I’d show you the seeds you planted years agothat are now coming into bloom.

I’d reveal to you the young mindsthat have expanded under your care, the hearts that are serving others because they had you as a role model.

If I could teach you, teacher,

I’d show you the positive effect you have had on me and my life.

Your homework is to know your value to the world, to acknowledge it, to believe it.

Thank you, teacher.


-- Joanna Fuchs --

Yes, definitely I'll give you an A+ !!!

HARI INI

Bertahun-tahun yang lalu, ketika aku memulai hariku,
Hari ini terasa begitu jauh.

Hari ini aku di sini,
Dan kau tetap di sana, berdiri dengan bangga.

Bukan hanya engkau - tapi aku juga
Selalu bangga padamu.

Aku lahir tanpa sayap,
Kau yang bisa membuatku terbang dan melayang.

-- me --

KETIKA KAU MENGIRA AKU TAK MELIHAT

Ketika kau mengira aku tak melihat, kau tunjukkan raport pertamaku, dan aku lebih ingin melakukan yang lain.

Ketika kau mengira aku tak melihat, kau beri makan kucing kampung, dan kupikir adalah mulia bersikap baik pada hewan.

Ketika kau mengira aku tak melihat, kau beri aku stiker, dan aku tahu benda kecil itu begitu berharga.

Ketika kau mengira aku tak melihat, kau peluk aku, dan aku merasa dicintai.

Ketika kau mengira aku tak melihat, kulihat kau menangis, dan kupelajari bahwa sesuatu bisa menyakitkan, tapi tak apa untuk menangis.

Ketika kau mengira aku tak melihat, kau tersenyum, dan itu membuatku ingin manis sepertimu.

Ketika kau mengira aku tak melihat, kau penuh perhatian, dan aku ingin menjadi apapun yang aku bisa.

Ketika kau mengira aku tak melihat--aku melihat... dan aku ingin mengatakan terimakasih untuk semua hal yang telah engkau lakukan ketika kau mengira aku tak melihat.


-- Mary Rita Schilke Korzan --

ANAK SIAPA INI?

"Anak siapa ini?" Aku bertanya suatu hari
Ketika kullihat seorang anak sedang bermain
"Anakku", kata orang tuanya dengan senyum yang ramah
"Anakku, yang akan kujaga untuk sementara
Untuk membasuh tangannya dan menyisir rambutnya
Untuk memberitahu apa yang perlu dipakainya
Untuk menyiapkannya agar ia selalu bersikap baik
Dan setiap hari melakukan apa yang mestinya ia lakukan"

"Anak siapa ini?" Aku bertanya lagi
Ketika kulihat pintu terbuka dan seorang anak muncul dari baliknya
"Anakku", kata guru dengan senyum yang sama ramahnya
"Anakku, yang akan kujaga untuk sementara
Untuk mengajarinya bagaimana bersikap baik dan lemah lembut
Untuk melatih dan mengarahkan pikiran jernihnya
Untuk membantunya hidup dengan segala aturan
Dan memberinya yang terbaik dari sekolah"

"Anak siapa ini?" Aku bertanya sekali lagi
Seorang anak baru saja memasuki ruangan
"Anak kami" kata guru dan orang tua sembari tersenyum
Keduanya meraih tangan anak itu
"Anak kami untuk kami cintai dan latih bersama
Anugerah untuk kami yang abadi."


SAYA SEORANG GURU

Saya adalah konselor dan psikolog untuk urusan dan masalah anak-anak,
Saya adalah petugas polisi yang mengontrol anak nakal.
Saya adalah travel agent yang menjadwal perjalanan setiap tahun,
Saya adalah pendamping yang mengusap airmata mereka.
Saya adalah bankir yang menampung dana mereka untuk berton-ton keperluan,
Saya adalah pustakawan yang membawa mereka dalam petualangan dari kisah-kisah di buku.
Saya adalah petugas pembersih untuk membereskan berantakan yang mereka buat.
Saya adalah cenayang ketika mereka baru mampu menebak-nebak.
Saya adalah fotografer yang menjaga album pertumbuhan mereka,
Ketika ayah dan ibu mereka pergi untuk sehari, saya menjadi keduanya.
Saya adalah dokter yang mendeteksi jika mereka merasa tidak sehat,
Saya adalah politikus yang harus tahu hukum dan memahami trik-trik mereka.
Saya adalah perencana pesta untuk liburan dan perayaan mereka,
Saya adalah dekorator, yang mengisi semua dinding agar indah dipandang.
Saya adalah reporter yang mengupdate informasi tentang apa yang tengah terjadi pada negeri,
Saya adalah detektif yang menyelesaikan misteri kecil dan mengakhirinya dengan kejutan.
Saya adalah badut dan pelawak yang membuat mereka tertawa,
Saya adalah ahli diet yang meyakinkan mereka bahwa sarapan itu baik.
Ketika segalanya melenceng dari nilai, saya adalah penceramah,
Tapi, saya bangga menjadi bagian dari mereka sebab...

Saya bangga mengatakan ini, "Saya seorang guru."


-- Staci Bonino --

JIKA AKU BOLEH MENJADI GURUMU

Jika aku boleh mengajarimu, guru,

Aku kan mengajarmu tentang banyaknya yang telah engkau capai lebih dari apa yang kau kira.

Kan kutunjukkan bagaimana bibit-bibit yang tlah kau tanam bertahun lalu kini telah mekar dan berkembang.

Kan kuungkapkan padamu pikiran-pikiran muda yang telah kau luaskan dengan pedulimu, hati-hati yang melayani orang lain, karena suri tauladanmu.

Jika aku boleh mengajarimu, guru,

Kan kuperlihatkan dampak positifmu padaku dan pada hidupku.

PR untukmu adalah mengetahui nilaimu untuk dunia, untuk mengakuinya, untuk mempercayainya.

Terimakasih, guru.


-- Joanna Fuchs --

Ya, pasti kau kuberi nilai A+ !!!


I was born without wings.
You're the one who makes me fly.


Selamat Hari Guru. Terimakasih dan salam hormat untuk semua guruku dan semua guru.

Ikhwan Sopa
Master Trainer E.D.A.N.
http://milis-bicara.blogspot.com
http://www.facebook.com/motivasi

Leadership: Teachable Moment



Anda adalah pemimpin. Anda pemimpin di rumah, di kantor, di kampung, di organisasi, atau setidaknya, Anda adalah pemimpin untuk diri sendiri. Sebagai pemimpin atau leader, salah satu tugas besar Anda adalah meng-coach orang-orang di sekitar Anda.

Coaching, adalah salah satu tugas utama seorang leader. Leadership tanpa coaching, sama juga bo'ong. Sebagai coach, Anda harus punya kepekaan. Untuk mendapatkan kepekaan sebagai seorang coach dan leader, Anda harus latihan.

Saya tidak akan muluk-muluk. Saya hanya mau menceritakan pengalaman saya saja. Bukan sebagai pemimpin besar di suatu kantor atau organisasi, tapi sederhana saja, sebagai pemimpin di rumah sendiri. Pengalaman saya ini, sama sekali bukan best practice. Bukan juga juklak atau manual.

Saya belumlah menjadi orang tua dan kepala rumah tangga yang ideal, tapi pengalaman saya, mungkin bermanfaat untuk Anda. Anda, bahkan bisa melatihnya untuk kepentingan leadership Anda dalam konteks apa saja.

Suatu sore, dua dari tiga anak saya, Rahma dan Riva - saat itu berusia enam dan tujuh tahun, sedang bermain game komputer. Saat itu giliran Rahma bermain, dan masih beberapa menit lagi menjelang azan maghrib.

Saya katakan kepada mereka, "Anak-anak, sudah hampir maghrib. Berhentilah bermain." Rahma yang sedang asyik bermain, merespon saya sambil menekan tombol di keyboard, "Ya ayah, Ama matiin dulu komputernya."

Secara tiba-tiba, Riva kakaknya menyentuh mouse dan langsung berkata, "Riva aja!" Rahma menolak dan berkata, "Jangan, Ama aja!" seraya berniat merebut mouse itu kembali. "Riva aja!" "Ama aja!" "Riva aja!" "Ama aja!" Pecah sudah perang dunia ketiga. Hanya karena berebutan mematikan komputer.

Bukan perkara mudah menghadapi situasi semacam ini. Apalagi di jam-jam yang peka emosi seperti menjelang maghrib. Saya pun susah payah melerai mereka, sembari menahan keras mulai pendeknya "sumbu" Saya. Jangan sampai, saya justru ikut masuk ke kancah perang dunia ini. Mereka menangis, saya tercenung.

Di titik itulah, saya melihat sebuah momen yang Anda pun mungkin sering melupakannya. Momen itu, disebut dengan teachable moment. "Teachable moment", adalah sebuah momen yang sangat berharga, karena itulah detik dan saat di mana kita sebagai leader bisa menyuntikkan berbagai materi pembelajaran dan pengetahuan.

Momen itu, jika terluput dari penanganan, entah karena emosi, entah karena larut dalam konflik, entah karena terlalu sibuk berfokus pada sesuatu, akan membuat semua pihak kehilangan kesempatan, untuk menangguk pelajaran dan materi yang sangat berharga. Ya, bisa jadi sangat-sangat berharga.

Di tengah upaya untuk tidak terpengaruh oleh hiruk dan pikuk menjelang magrib itu, saya berusaha keras untuk memahami apa yang terjadi. Menurut kacamata saya, ada kesenjangan yang muncul di antara kedua anak saya.

Rahma, memahami bahwa dirinyalah "penguasa" komputer saat itu. Kekuasaannya mencakup semua periferal seperti monitor, keyboard, dan mouse itu sendiri sebagai mediator konflik.

Riva, memahami bahwa mouse itu adalah benda bebas, yang bisa diklaim dengan "adu cepat" dan "siapa duluan itu yang dapat". Kacamata saya mengatakan bahwa Riva perlu diluruskan.

Di tengah tangis keduanya, saya mencoba menenangkan Riva. "Nak, kamu terlalu memaksa, bukankah komputernya sekarang sedang dipakai Rahma?" "Tapi Riva duluan yang mau matiin!" Setengah berteriak Riva merespon saya. Kepala saya berputar-putar, bagaimana saya harus menjelaskan hal ini?

Saya pikir, analogilah cara yang cukup akurat untuk menjelaskan semua ini. Saya pun berkata padanya, "Coba kalo Ayah yang sedang pake komputer ini, lalu mau Ayah matiin, masak Riva juga mau pake mousenya, padahal Ayah bilang jangan?" Riva masih merengek dan tampaknya belum bisa menerima.

Saya coba lagi, "Kalo Ayah sedang nyetir mobil, lalu Ayah mau berhenti, kan menginjak rem. Tapi, Riva-lah yang mau menginjak rem. Kemudian Ayah bilang jangan, tapi Riva tetap memaksa, kan bisa nabrak mobilnya?" Riva belum juga mengerti.

Saya coba sekali lagi, "Kalo Ibu sedang masak, lalu Ibu mau matiin kompor, masak Riva yang nyerobot matiin tombolnya, padahal Ibu bilang jangan?" Sepertinya, Riva mulai mengerti. Dengan sedikit penjelasan dunia pun tenang kembali.

Ya, teachable moment. Pengalaman saya mendorong saya untuk mengingatkan Anda, bahwa Anda, mungkin saja sering melupakan konsep yang satu ini. Sekali lagi, "teachable moment" adalah saat kritis, di mana Anda bisa menjadikan momen itu sebagai momen pembelajaran.

Ironisnya di saat seperti itu, Anda sangat mungkin justru sedang terokupasi oleh emosi, pikiran negatif, atau fokus dan perhatian pada hal lain. Anda bisa lupa bahwa sebenarnya, momen itu adalah momen pembelajaran. Dan jika terlewatkan, maka sebuah sesi yang memungkinkan Anda bisa memberi dan menarik pelajaran berharga, akan menguap dengan sia-sia.

"Teachable moment" datang tanpa diduga. Momen itu, bertebaran di sepanjang waktu, aktivitas, dan interaksi Anda. Momen itu, bisa muncul di sela-sela berbagai kesibukan dan rutinitas Anda. Ia bisa datang saat terjadinya konflik. Ia bisa datang di saat-saat krisis. Ia bisa datang di saat tenang.

Apa yang sering terjadi, adalah kecenderungan Anda untuk menghindari atau melewatkan momen seperti ini. Bahkan, Anda mungkin justru berusaha keras untuk men-skip detik-detik itu sesegera mungkin, hanya agar dunia bisa tenang kembali. Please, pikirkan lagi.

Waspadalah dan berhati-hatilah. Detik dan saat krisis, momen dan waktu kritis, titik-titik konflik, kesibukan teknis dan kerja, dan bahkan di waktu yang sangat nyaman sekalipun. Momen itu bisa terjadi. Itu semua adalah waktu-waktu emas Anda, untuk memetik dan mengambil hikmah.

Di sepanjang waktu itu, bertaburanlah segala bentuk "teachable moment" untuk Anda. Di situ, akan ada saat-saat tertentu, yang menjadi momen yang tepat untuk mengambil pelajaran.

Perkuatlah kepekaan Anda, latihlah kepekaan Anda untuk momen-momen seperti ini. Ia bisa datang dan muncul, di saat Anda melihatnya sebagai sebuah momen yang tidak menyenangkan dan harus dihindari. Ia juga bisa datang dan muncul di saat Anda terlena oleh kesenangan, atau oleh amannya keadaan. Ia mungkin terselip dan terbersit di celah-celah waktu Anda.

Momen itu, adalah sebuah momen yang sangat berharga bagi proses pembelajaran. Untuk Anda sebagai leader dan coach, dan untuk setiap orang di bawah leadership Anda. Marilah kita resapi, pelajari, cerminkan dan latih untuk apapun situasi leadership kita.

Saat momen itu muncul, katakan ini:

"Stop!"

hentikan keterlibatan otomatis Anda, lalu tanyakan pada diri sendiri

"What do you think?"

Note in iterkait dengan status FB "Dendam Sandal - Comberan".

Sukses selalu.

Ikhwan Sopa
Master Trainer E.D.A.N.
http://milis-bicara.blogspot.com
http://www.facebook.com/motivasi

Motivasi: Menghadapi Masalah Hidup



Simak judulnya. "Menghadapi Masalah Hidup". Bukan "Menjalani Masalah Hidup". Lebih berat bagi kita untuk keluar dari persoalan kehidupan, jika kita masih terbenam dan tenggelam di dalamnya. Seketika kita meniatkan untuk "menghadapi", sadarilah bahwa kita sebenarnya sudah "keluar" dari persoalan.

Apa yang penting bagi kita adalah menjawab pertanyaan, "what's next?". Ketiadaan jawaban atas pertanyaan ini, akan membuat kita kembali "masuk" ke dalam persoalan. Ya, memang, magnet dari setiap persoalan cenderung sangat besar. Tak bisa kita pungkiri ini adalah persoalan seni hidup yang butuh pembelajaran. Jika perlu seumur hidup. Mari kita pelajari bersama.

1. SADARI

Maka, upaya terbaik kita yang pertama adalah sebuah kesadaran tentang keberadaan persoalan itu dan tentang pemahaman bagaimana memisahkan "diri" dari "masalah". Sebagian besar dari apa yang tertulis di sini adalah seni tentang itu.

“It isn't that they can't see the solution. It's that they can't see the problem.”
G. K. Chesterton

2. TERIMA

Jangan tolak keberadaan masalah. Jika ia memang ada dan nyata, terima dulu. Pisahkan dua hal ini; "ada masalah" dan "saya ada masalah". Ketika kita merasa frustrasi, maka kita sebenarnya sedang dalam kesulitan untuk memisahkan dua cara pandang ini. Be aware.

“You won't find a solution by saying there is no problem.”
William Rotsler

3. SOLUSI ADA DI DALAMNYA

Setiap persoalan, dipastikan selalu membawa bibit penyelesaian. Dan yang namanya bibit, sifat alamiahnya adalah pantas untuk tumbuh. Maka persoalan atau masalah, adalah tentang bagaimana Tuhan sebenarnya sedang menumbuhkan dan mendewasakan kita.

Kita bisa menyelami lagi maksud dari Surat Al-Syarh (Alam Nasyrah) dalam kitab suci kita.

"Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan."
(QS.94:6)

"If you don't have any problems, you don't get any seeds."
Norman Vincent Peale

4. SELESAIKAN

Masalah hanya akan berlalu jika diselesaikan.

"The best way to escape from your problem is to solve it"
Dr. Robert Anthony

"The best way out is always through."
Helen Keller

Belajarlah tentang cara dan pola yang sistematis dalam menyelesaikan masalah. Belajarlah auditing untuk berbagai persoalan.

5. NAIKKAN LEVEL BERPIKIR

Masalah kita muncul pada sebuah tingkat atau cara berpikir. Masalah itu akan bisa diselesaikan hanya jika kita menaikkan tingkat berpikir kita. Ini bisa dilakukan dengan mempelajari seluk beluk persoalan dan dengan melatih pola berpikir problem solving.

Cara yang paling mudah: Turunkan tingkat kepentingan dari masalah. Ini bisa dilakukan dengan mengajukan berbagai pertanyaan yang menguji tingkat kepentingan masalah.

Latihan ini akan membiasakan himmah (kecenderungan, hasrat, niat, tekad, kehendak, semangat, sikap menyukai atau menyenangi, kecintaan) hati dan pola pikir kita, ke hal-hal lain yang jauh lebih baik untuk diri kita.

"Apakah masalah ini memang benar-benar masalah?"
"Apakah 'ini masalah' adalah hanya cara pandang saya saja?"
"Adakah sesuatu yang lebih baik dari apa yang menjadi masalah itu?"


Banyak sekali hal yang kita anggap masalah, sebenarnya hanya persoalan remeh. "Masalah" semacam ini bisa selesai justru dengan tidak menganggapnya sebagai masalah.

Hadapilah hanya yang memang benar-benar masalah.

"Problems cannot be solved at the same level of awareness that created them."
Albert Einstein

6. JIKA PERLU: TULIS

Jika kita anggap perlu, tuliskanlah masalah yang kita hadapi. Berikan semua rincian yang bisa kita pikirkan. Dengan melakukan ini, kita akan bisa mulai mengorganisir, memilih, dan memilah pokok-pokok permasalahan yang kita hadapi.

7. CARI SOLUSI

Kita tak akan menemukan, jika kita tidak mencari.

Selalulah berupaya untuk mencari solusi. Ketahuilah, jika kita mencari kita pasti akan menemukan. Kita mungkin tidak tahu kapan, tapi pasti, pasti kita temukan. Teruslah mencari.

Sabar, tidak putus asa, dan pantang menyerah.

8. GUNAKAN WAKTU DENGAN BIJAK

Isilah waktu kita dengan mencari, menemukan, dan mengembangkan solusi. Jadilah manusia yang berorientasi pada solusi. Berhentilah mempertanyakan, dan mulailah bertanya. Mempertanyakan adalah tanda belum menerima, dan bertanya adalah sebaliknya.

Gunakan hanya sedikit waktu untuk masalah, dan segeralah bergerak mencari solusi.

9. PROPORSIONAL

Jangan biarkan masalah kita menjadi lebih besar dari pada diri kita sendiri. Ingatlah bahwa "sering", belum tentu sama dengan "besar".

Setiap masalah akan menjadi aturable (bisa di-manage), manakala masalah itu bisa diterjemahkan menjadi pecahan-pecahan kecil dari langkah-langkah yang perlu kita ambil.

10. BERSIKAPLAH BENAR

Kembangkan dan latih sikap yang tepat untuk setiap masalah. Berlatihlah untuk terampil menerapkan Prinsip 10/90 dari Stephen Covey. 10% adalah fakta, 90% adalah sikap.

Jika sudah terbiasa, maka yang biasa kita sebut dengan "masalah" akan menjadi "pengalaman belajar" dan "kesempatan".

"10% of life is made up of what happens to you. 90% of life is decided by how you react."
Stephen Covey

11. JANGAN LIHAT MASALAH YANG TAK ADA

Gunakan kekuatan imajinasi kita untuk mencari solusi. Jangan gunakan untuk membayang-bayangkan masalah yang tidak ada.

Semoga bermanfaat.

"Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan."
(QS.94:6)

Bahkan, bersama satu kesulitan, ada dua (at least) kemudahan. Kemudahan pertama adalah ketika kita "menghadapi" dan bukan "menjalani". Kemudahan kedua adalah ketika kita menggeser fokus kepada yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Bukankah kita telah diperintah-Nya untuk menegakkan dua hal berat dengan khusu' yang akan menjadi keringanan yang menolong?

Sabar dan solat.

Wallahua'lam.

Dari materi oleh Chuck Gallozzi dengan komentar dan tambahan semampu saya.

Ikhwan Sopa
Master Trainer E.D.A.N.
http://milis-bicara.blogspot.com
http://www.facebook.com/motivasi

Motivasi: Kenalilah Tanda-Tanda Kenaikan Kelas Anda



Pernahkan Anda mengalami ujian yang bertubi-tubi? Masalah dan cobaan datang silih berganti dan tanpa henti? Ketahuilah, itu adalah tanda-tanda kenaikan kelas Anda; di dalam sekolah kehidupan.

Sekolah kehidupan seperti sekolah lainnya, akan ada pelajaran, akan ada ujian, dan akan ada kenaikan kelas. Di dalam hidup Anda, Anda pasti akan mengalaminya, sebab Anda juga pasti akan memastikan kenaikan kelas Anda. Bagaimanakah mengenali tanda-tanda kenaikan kelas Anda?

Berikut ini saya sharing kisah seorang sahabat dekat saya. Saya sharing karena kebetulan saya menjadi figuran di dalam skenario kehidupannya.

Seorang alumni Power Workshop E.D.A.N. memberanikan diri untuk menjadi EO Power Workshop E.D.A.N. di Jombang, Jawa Timur. Namanya Mas Slamet. Dalam kisah ini, di tahun 2007, Mas Slamet masih berposisi sebagai staf HRD di sebuah perusahaan besar Korea. Kini, ia telah menjalani kehidupan mandiri sebagai pengusaha, sekaligus EO dan trainer yang handal untuk berbagai training indoor dan outdoor.

Dengan semangat yang menyala-nyala, Mas Slamet mengupayakan terselenggaranya Power Workshop E.D.A.N. di daerahnya. Sedianya, workshop ini akan dilaksanakan di bulan Mei 2007.

Sebelum pelaksanaan workshop itu, Mas Slamet berencana mengundang saya untuk menjadi pembicara dalam sebuah motivation hour di kantor perusahaannya. Pelaksanaannya direncanakan berselisih dua hari mendahului Power Workshop E.D.A.N.

Mas Slamet belum pernah ber-EO ria. Ia juga belum pernah menjadi trainer profesional. Kala itu ia hanya punya semangat yang berkobar menyala-nyala. Dan di tengah semangat yang menyala-nyala itu, muncullah berbagai tanda tentang kenaikan kelas bagi kami. Kenaikan kelas buat Mas Slamet, dan kenaikan kelas buat saya.

Ujian Pertama

Saya jatuh sakit. Setelah beberapa hari menimbang-nimbang kesehatan saya, saya memutuskan untuk membatalkan motivation hour yang telah direncanakannya. Karena keadaan, pembatalan itu saya beritahukan kepadanya hanya kurang satu hari dari hari H. Saya sendiri sebenarnya sudah membeli tiket pesawat open date ke Surabaya.

Saya menghubungi Mas Slamet via telepon memberitahukan pembatalan yang sulit dielakkan itu. Ia shock menerima kabar dari saya. Namun dengan sedikit bicara, semangat Mas Slamet tetap bisa menyala. Dalam pembicaraan itu, saya bahkan tidak mereferensikan pembicara pengganti. Saya hanya mengatakan bahwa ia pasti bisa mencari pengganti saya.

Mas Slamet kemudian meluncur ke Surabaya mencari pembicara pengganti. Ia berhasil mendapatkannya. Ia, sempat berkenalan dengan beberapa trainer profesional di Surabaya. Merekalah orang-orang yang akan menjadi inspirasi dan gurunya di kemudian hari.

Satu babak ujian selesai dilalui Mas Slamet, dan motivation hour itu tetap terlaksana dengan sukses.

Ujian Kedua

Beberapa hari kemudian, saat Mas Slamet menjalankan tugas untuk mensukseskan Power Workshop E.D.A.N., ia mengalami kecelakaan. Mas Slamet menabrak seorang kakek yang mendadak menyeberang jalan. Kakek itu masuk ke rumah sakit, dan Mas Slamet harus mengganti biaya berobatnya sampai beberapa juta rupiah. Mas Slamet sendiri, mengalami luka terbuka di beberapa bagian tubuhnya.

Ia menghubungi saya di Jakarta, menceritakan kejadian yang dialaminya dengan perasaan yang compang-camping. Saya berusaha menyemangatinya, di tengah sakitnya seluruh tubuh saya sendiri. Mas Slamet tetap bersemangat.

Ia menyelesaikan urusannya dengan keluarga si kakek malang, mengeluarkan kendaraannya dari kantor polisi, dan membawanya ke bengkel.

Satu babak lagi ujian ia jalani.

Ujian Ketiga

Beberapa hari kemudian, saya menghubungi Mas Slamet. Saya menginformasikan bahwa Power Workshop E.D.A.N. yang dicita-citakannya harus tertunda. Sakit saya ternyata diperpanjang, dan saya harus beristirahat sampai lebih dari dua puluh hari.

Sekali lagi, Mas Slamet harus mengalami guncangan ujian. Ia harus menanggung galaunya berbagai perasaan saat harus mengumumkan penundaan workshop itu. Saya hanya mengatakan, bahwa penundaan adalah pilihan terbaik untuk saat itu. Saya juga tidak ingin jatuh pingsan di tengah workshop. Saya meyakinkan Mas Slamet, bahwa dengan niat yang baik dan tulus, Insya Allah para peserta akan bisa menerima. Semangat Mas Slamet tetap bertahan.

Dengan tekun dan penuh percaya diri, dihubunginya setiap peserta yang telah mendaftar workshop untuk menginformasikan tentang penundaan pelaksanaannya. Power Workshop E.D.A.N. akhirnya ditunda sampai bulan Juni 2007.

Ujian babak berikutnya telah dilewati oleh Mas Slamet dengan tetap bersemangat.

Ujian Keempat

Tiga hari menjelang pelaksanaan workshop, saya berangkat ke Jombang naik kereta api. Pagi harinya, ia menjemput saya di stasiun kereta api. Mas Slamet menjemput saya dengan becak.

Di atas becak, Mas Slamet bercerita pada saya, "Mas, aku ini menjemput Mas langsung dari rumah sakit." Rupanya, ia melarikan diri dari rumah sakit, setelah diopname selama lima hari!

Mas Slamet rupanya jatuh sakit, demam tinggi, dan harus masuk rumah sakit selama lima hari. Tapi Mas Slamet tetap bersemangat. Saya bisa melihat, kondisinya masih lemah, tubuhnya panas, dan mulutnya kering kerontang penuh dengan sariawan. Tapi ia tidak mau menyerah. Tekadnya sudah bulat.

Ujian Kelima

Malam hari sebelum Power Workshop E.D.A.N. dilaksanakan, Mas Slamet begadang bersama saya, menyiapkan berbagai kebutuhan untuk workshop esok hari. Di tengah kesibukan itu, telepon Mas Slamet berdering. Kini, ujian Mas Slamet mencapai puncaknya.

Keluarga Mas Slamet memberitahukan bahwa neneknya terkena serangan jantung dan dirawat di sebuah rumah sakit di Malang. Neneknya berada dalam kondisi kritis di ruang ICU.

Mas Slamet pernah bercerita pada saya, bahwa sejak kecil ia tidak hidup bersama orang tuanya. Ia hidup bersama neneknya, yang kini terbaring kritis di rumah sakit. Neneknya, adalah orang yang sangat berarti di dalam hidupnya.

Kali ini saya menyerah. Saya tak lagi tega untuk terus menyemangatinya. Saya katakan pada Mas Slamet, bahwa ia boleh meninggalkan semua ini. Saya akan menghandlenya sendiri.

Mas Slamet menolak usulan saya. Ia mengerti bahwa neneknya dalam keadaan tidak sadar. Artinya, tidak banyak yang bisa ia lakukan jika pun ia berada di sisinya. Dan Mas Slamet tahu, keluarganya sudah ada yang menunggui. Ia hanya bisa pasrah dan berdoa. Tapi semangatnya, tetap menyala-nyala.

Mas Slamet Naik Kelas

Esok harinya, Power Workshop E.D.A.N. terlaksana. Mas Slamet telah berhasil melaksanakan apa yang telah ditargetkan dan dicita-citakannya. Dengan penuh semangat dan pantang menyerah, ia berhasil merealisasikannya.

Kini, Mas Slamet telah menjadi penghuni di kelas baru yang lebih tinggi, di dalam sekolah kehidupan. Ia telah bertransformasi. Ia menggeser diri ke tempat yang lebih tinggi, dengan cita-cita menjadi seorang trainer handal.

Mas Slamet, sudah naik kelas.

Hari berikutnya, sebelum menjenguk neneknya, Mas Slamet sempat mengisi sebuah sesi motivasi di hadapan ratusan kader PKS Kabupatan Jombang bersama saya. Mas Slamet tetap penuh semangat.

Mas Slamet, Insya Allah benar-benar naik kelas.

Sore itu juga, Mas Slamet mengantar saya ke stasiun kereta. Dia sendiri juga segera meluncur ke Malang menjumpai neneknya yang sedang sakit keras.

Buatmu Mas Slamet, selamat atas semangat ente yang luar biasa. Kamu sudah naik kelas, dan kamu pasti bisa merasakannya. Selamat menempuh lembaran baru kehidupan, yang penuh dengan berbagai kemungkinan dan pilihan.

Kini, Mas Slamet telah belajar banyak dari para trainer profesional yang dikenalnya saat mencari pengganti saya. Ia juga mulai belajar banyak tentang EO, training, NLP, dan bahkan hypnosis. Saya mempercayainya, untuk memegang kendali Power Workshop E.D.A.N. di seluruh wilayah Jawa Timur. Mas Slamet, mulai dikenal sebagai EO andalan berbagai narasumber dan pembicara tingkat nasional. Terakhir yang saya ketahui, Mas Slamet bahkan sudah menjadi trainer inbound dan outbond yang kreatif dan handal.

Teman-teman sekalian, kenalilah tanda-tanda kenaikan kelasmu di dalam sekolah kehidupan. Seperti sekolah yang selama ini engkau kenal, untuk setiap kenaikan kelas, akan berarti ujian dan cobaan.

Apa yang tercermin dari kisah di atas adalah pattern atau pola-pola yang sangat umum kita kenal, tentang bagaimana Tuhan menaikkan kelas setiap orang.

Kurang lebih, seperti inilah tanda-tanda tentang kenaikan kelas yang akan terjadi pada diri kita.

1. Jika kita mulai memasuki, mendalami, dan melakukan hal-hal yang baru di dalam hidup kita, maka:

2. Akan datang berbagai cobaan dan ujian. Cobaan dan ujian itu, sangat mungkin akan datang bertubi-tubi dan silih berganti seolah tak ada habisnya. Satu dilalui, datang lagi yang berikutnya. Fenomena ini bisa berlangsung beberapa minggu, bahkan sampai beberapa bulan.

Jika engkau, kini atau nanti, mengalami berbagai ujian dan cobaan yang bertubi-tubi, masalah dan kesulitan yang datang silih berganti, maka terimalah semuanya dengan sabar dan ikhlas.

Percayalah dan yakinlah bahwa itu semua adalah tanda-tanda kenaikan kelasmu. Tak perlu terlalu bersedih hati, tetaplah bersemangat dan pantang menyerah.

Jika engkau berhasil melaluinya, maka engkau akan benar-benar naik kelas ke jenjang kehidupan yang lebih tinggi. Itu berarti, satu langkah lagi berhasil engkau lalui, untuk menuju cita-cita keberhasilanmu.

Ingatlah bahwa setiap kegagalan juga ada tandanya, tanda itu adalah turunnya semangat dan motivasi. Jika tidak kita pertahankan, maka gagal itu pasti.

Semoga bermanfaat.

Ikhwan Sopa
Master Trainer E.D.A.N.
http://milis-bicara.blogspot.com
http://www.facebook.com/motivasi

Motivasi: Menjawab "Why?"



Tidak bertindak karena mengkhawatirkan risiko, juga punya risiko. Diam bukan karena risiko awal, tapi karena risiko terburuk; yang berkembang lewat pikiran dan perasaaan. Be fair with your self.

"To do" or "not to do", there are always risks. It's a fair share for both. It is an equally mind games. "Not to do" can simply means hindering short term risk with the cost of long term risks. Be careful and be fair with your mind. "To do" or "not to do", there are always risks. Fair and square.

Take no action, then you'll have nothing to learn. Because by definition, learning is "acquiring". That is something can be done, only by doing.

Kalo kamu selalu bilang, "Gimana kalo...?" Sadari saja bahwa itu baru separo'. Selalu ada separo' lagih "Gimana kalo...?" di sisi seberangnya bukan? Ingat, kamu baru meramal. Meramal diri sendiri harus fair. Be fair with your self. Jangan dholim sama diri sendiri.

"Jangan saya ah, dia aja. Dia lebih baik dari saya." That's what we call "hidden care". So, why don't you instead, if you really care?

Kamu yang ideal bukanlah kamu yang saat ini. Kamu perlu perubahan. Jika kamu diam, yang akan kamu dapat cuma uban. Segala sesuatu lebih berat di kepala daripada di pundak. Who looks outside, dreams; who looks inside, awakens; who looks both ways, has the courage. Sudahlah, lakukan saja!

God's promises are like the stars; the darker the night the brighter they shine.

Kabut dingin apa menyelimuti hatimu hingga beku, dan tak jua terpanggil pada waktunya?

Bukankah cahaya itu telah menghangatkan dadamu?

Note: Cetak besar-besar dan tempelkan di tempat di mana kamu selalu melihatnya.

Ikhwan Sopa
Master Trainer E.D.A.N.
http://milis-bicara.blogspot.com
http://www.facebook.com/motivasi

Motivasi: Meramal Sukses



Ada PR menarik yang ditawarkan Leslie Fieger dalam buku "The DELFIN Knowledge System Trilogy: The Initiation, The Journey, dan The Quest". PR ini berbicara tentang bagaimana Anda bisa meramalkan apakah Anda akan berhasil atau tidak terkait dengan berbagai tujuan dan impian Anda.

Note:

1. Leslie Fieger adalah praktisi spiritual a la new age. Maka sesuaikan apapun yang tertulis di sini dengan sistem keyakinan Anda. Dan jika bertentangan, tolaklah.

2. Gunakan ukuran sukses Anda sendiri. Jangan gunakan ukuran sukses orang lain, dan jangan paksakan ukuran sukses Anda pada orang lain.


Menurut Leslie, ada petunjuk-petunjuk penting yang menentukan kesuksesan, sebagaimana yang berikut ini.

1. SIKAP

Ada sikap orang yang menang dan ada sikap orang yang kalah. Sebagian besar dari kita memiliki sikap campuran.

Sikap pemenang ditandai oleh: self esteem yang tinggi, cara pandang yang positif terhadap kehidupan, penuh rasa bersyukur, peka akan arah hidup, memiliki kemauan keras untuk belajar dan melakukan apa yang perlu dilakukan.

Sikap orang yang kalah ditandai oleh: self esteem yang rendah, cara pandang yang negatif tentang hidup, tidak pandai bersyukur, mempercayai nasib buruk dan kesialan, tidak mau belajar, keras kepala tentang berbagai hal yang dianggap sudah diketahuinya, memiliki kemauan yang rendah dan disiplin pribadi yang buruk.

2. NIAT

Berbagai hal yang dikerjakan dengan niat, akan bermuara pada hasil yang diniatkan. Berbagai hal yang dikerjakan tanpa niat, akan berakhir dengan hasil yang tidak diniatkan. Niat adalah bagian tak terpisahkan dari proses penciptaan. Anda bisa mengklarifikasi soal niat ini, dengan menjawab tiga pertanyaan berikut:

"Apa niat saya dalam mempertahankan suatu keyakinan?"
"Apa niat saya dalam mengambil pola pikir tertentu?"
"Apa niat saya dalam melakukan sesuatu?"


Kebanyakan orang akan sulit menjawabnya dan hanya pemenang yang bisa. Seorang pemenang akan melanjutkan jawabannya dengan pertanyaan berikut ini:

"Apa hasil yang saya niatkan dengan keyakinan ini, berpikir seperti ini, bertindak begini, dan membawa diri dengan cara ini?"

3. TUJUAN

Tujuanlah yang memberi arti. Hidup tanpa tujuan adalah hidup yang tidak berarti.

Pemenang punya tujuan dan orang yang kalah tidak. Seorang pemenang hidup dengan dan di dalam tujuan. Orang yang kalah hidup sebagai korban keadaan. Mereka tidak menciptakan keadaan.

Tuliskanlah sesegera mungkin tujuan hidup Anda, dan gunakan standar Anda sendiri. Anda boleh sangat egois untuk yang satu ini. Tapi ketahuilah, bahwasanya tujuan itu telah dituliskan di dalam kitab suci Anda.

4. SEMANGAT

Semangat adalah bahan bakar Anda. Bahan bakar itulah yang akan menarik orang lain dan sumber daya yang diperlukan sehingga makin mendekati Anda. Semangat itu magnet. Orang yang bersemangat akan menarik orang lain dan sumber daya ke arahnya.

Pemenang adalah orang yang sangat bersemangat.

5. RENCANA

Anda pernah mendengar ini. Anda sudah membacanya berulang kali. Hidup Anda perlu rencana dan Anda harus membuatnya. Seorang pemenang memiliki rencana permainan. Orang yang kalah hanyalah penonton atau pemain cadangan.

Tulislah rencana Anda dengan spesifik dan sedetil mungkin.

6. PERSISTENSI

Sikap pantang menyerah akan melahirkan pemenang. Sikap ini akan meroketkannya sampai ke puncak.

Di tengah perjalanan, Anda pasti akan menemukan kendala dan hambatan. Orang yang kalah akan segera menyerah, dan seorang pemenang justru menjadikannya kekuatan dan alat belajar untuk mencari solusi.

7. TANGGUNGJAWAB

Jawablah pertanyaan ini,

"Mengapakah saya belum juga menjadi sebagaimana yang saya harapkan?"

Jika jawaban Anda menyalahkan kondisi, keadaan, kejadian, atau orang lain, maka Anda adalah orang yang kalah. Sebab, seorang pemenang adalah ia yang mau mengambil tanggungjawab, dan orang yang kalah akan menyalahkan segala sesuatu selain dirinya sendiri.

Naiklah ke panggung kehidupan dan terimalah tanggungjawabnya. Maka Anda akan menjadi pemenang di setiap detak jantung Anda. Jika Anda memilih bertanggungjawab untuk setiap kesulitan dan kegagalan, maka Anda juga akan bertanggungjawab untuk setiap kesuksesan. Saat Anda sukses, Anda bahkan tidak perlu lagi berkata, "saya hoki." Anda bisa mengatakan, "Alhamdulillah, saya berhasil melakukannya."

8. KATA-KATA

Kata-kata yang Anda ucapkan dan cara Anda mengucapkannya, menunjukkan banyak hal tentang Anda. Kata-kata Anda akan mengungkapkan keyakinan Anda, pemikiran Anda, dari mana Anda berasal, dengan siapa Anda bergaul, dan kemana Anda akan berakhir.

Orang biasa berbicara tentang orang lain; orang rata-rata berbicara tentang kejadian dan keadaan; orang hebat dan pemenang berbicara tentang ide dan idealisme-nya sendiri.

9. TINDAKAN

Tindakan berbicara lebih keras dari kata-kata. Apa yang Anda lakukan adalah cerminan dari karakter Anda.

Kebanyakan orang hanya melakukan apa yang dilakukan orang lain. Jika Anda mau menjadi pemenang, lakukanlah apa yang menjadi idealisme Anda sendiri. Ketahuilah, bahwa tindakan akan membawa hasil. Dengan bertindak sesuai idealisme Anda sendiri, hasilnya adalah Anda yang ideal.

Lakukanlah apa yang Anda sukai, lakukanlah apa yang Anda inginkan. Bertanggungjawab dan rasakanlah konsekuensinya.

10. SILATURAHIM

Jika Anda ingin menjadi pemenang, bergaullah dengan pemenang. Ciptakanlah kelompok mastermind Anda sendiri. Cobalah untuk terlibat dengan orang yang lebih dahulu sukses daripada Anda, dengan orang yang lebih pintar daripada Anda, dan dengan orang yang punya aspirasi lebih baik daripada Anda.

Bergaullah dalam keseharian dengan mereka, atau bacalah buku-buku dan biografi mereka. Kunjungilah situs atau blog mereka.

Orang yang kalah bergaul dengan orang yang kalah. Bukan hanya karena merasa senasib sepenanggungan saja, tapi juga karena merasa tidak terancam self esteem-nya, saat mereka membandingkan diri dengan orang lain.

Cintailah diri Anda apa adanya saat ini. Terimalah diri sebagaimana adanya kini. Dengan begitu, Anda akan dapat menaikkan self esteem Anda. Dan kemudian, Anda tidak lagi perlu merasa terancam atau membanding-bandingkan diri dengan orang lain.

Pemenang itu percaya diri, dan orang yang kalah percaya dunia di sekitarnya.

Itulah petunjuk-petunjuk paling penting yang menjadi penentu kesuksesan Anda. Kemudian, bagaimanakah caranya, agar Anda bisa menggunakan semua petunjuk itu untuk meramalkan masa depan kesuksesan Anda?

Luangkan waktu dua puluh menit, dan cari tahulah tentang hal-hal berikut ini:

Dengan siapa Anda bergaul,
Apa yang Anda lakukan dari hari ke hari,
Bagaimana cara Anda berbicara dan apa yang Anda katakan,
Apakah Anda bertanggungjawab atau menyalahkan,
Apakah Anda pantang menyerah,
Apakah Anda punya rencana,
Apakah Anda punya semangat untuk hidup dan menjalani rencana,
Apakah Anda bertindak dengan sengaja atau reaksional, dan
Bagaimana Anda menyikapi dan menjalani hidup ini


Dua puluh menit kemudian, Anda akan mengetahui apakah Anda akan sukses atau tidak. Anda, juga bisa meramalkan sukses atau tidaknya orang lain dengan perangkat ini. Teman Anda, keluarga Anda, suami atau istri Anda, anak-anak Anda, boss Anda, siapa saja.

Berita baiknya, untuk Anda sendiri, Anda tidak perlu memiliki semua karakteristik seorang pemenang sejati. Anda hanya perlu merubah diri dan mencoba mendekatinya semampu Anda.

Bagaimana dengan saya? Saya mah baru belajar meramal nasib saja.

Ikhwan Sopa
Master Trainer E.D.A.N.
http://milis-bicara.blogspot.com
http://www.facebook.com/motivasi

Self Confidence: Seven Habits Of Highly Confident People



Status yang lebih baik dalam rasa percaya diri, bisa diperoleh dengan mencapai rasa percaya diri yang lebih baik dalam berkomunikasi. Mengapa? Karena Anda adalah makhluk komunikasi.

1. Anda berkomunikasi secara eksternal dengan orang lain, untuk bekerja sama dan saling mendukung guna mencapai kesuksesan. Efektifitas Anda, tergantung pada bagaimana Anda mengkomunikasikan segalanya.

2. Anda berkomunikasi secara internal untuk melakukan pembenahan dalam beliefs sistem, self esteem, self affirmation, self aspirations, self tuning up, dan mind setup, sehingga Anda bisa mendapatkan mind setting yang tepat. Mind setting yang tepat adalah kunci stamina Anda. Mind setting adalah bekal mutlak Anda.

Jika Anda berhasil menggapainya, maka Anda akan mencapai tingkat percaya diri yang lebih baik dalam keseluruhan hidup Anda.

Berikut ini adalah tujuh kebiasaan, yang menjadi karakteristik dari orang-orang yang percaya diri dalam berkomunikasi.

KEBIASAAN 1: SELALU BENAR-BENAR MERASAKAN RASA PERCAYA DIRI

Sesuai istilahnya, rasa percaya diri adalah tentang perasaan Anda terhadap keseluruhan diri Anda. Anda bisa merasakan emosi Anda, pikiran Anda, perkataan Anda, perbuatan Anda dan gejala fisik pada diri Anda. Rasa percaya diri adalah sebuah fenomena yang holistik dan integral. Kondisi ini, akan dicapai sejalan dengan makin efektifnya seseorang berkomunikasi secara internal. Berkomunikasi dengan dirinya sendiri.

Anda merasa percaya diri, dan orang lain akan merasakan bahwa Anda percaya diri. Efeknya, Anda akan membuat orang lain menjadi ikut percaya diri. Rasa percaya diri, adalah salah satu "penyakit" yang paling menular. Dengan percaya diri yang terstruktur dan tersistematis, Anda akan menebar aura rasa percaya diri ke sekitar Anda.

Cobalah Anda mengeluh kepada orang-orang di sekitar Anda, dan tunjukkan bagaimana Anda tidak percaya diri menghadapi masa depan perusahaan. Lalu, lihatlah efeknya pada performa semua orang di sekitar Anda. Buruk.

KEBIASAAN 2: SELALU MAMPU MENURUNKAN TINGKAT FEAR DAN ANXIETY SECARA DRASTIS

Bagi diri Anda sendiri, rasa percaya diri yang lebih baik akan memudahkan perjalanan Anda yang penuh dengan kendala dan hambatan. Dengan rasa percaya diri yang lebih baik, Anda akan dengan mudah menurunkan tingkat keragu-raguan ke titik minimum.

Ibarat pelumas, rasa percaya diri akan membuat perjalanan Anda mulus, smooth dan enjoyable. Anda tenang, Anda senang dan Anda bisa menikmati perjalanan menuju sasaran Anda. Anda, bisa tetap berjalan dengan tingkat kekhawatiran yang rendah. Berbagai risiko Anda, juga akan semakin rendah. Sebab, sebagian besar dari risiko yang akan Anda hadapi, tidak lebih dan tidak kurang hanyalah persoalan persepsi. Dan resep terbaik untuk salah persepsi, hanyalah rasa percaya diri.

Bagi orang lain, Anda yang penuh rasa percaya diri akan menjadi oase penyegar jiwa yang tak akan ada habisnya. Andalah contoh stamina. Andalah yang akan menjadi tempat mereka untuk mengadu. Kepada Andalah, mereka akan mencari solusi. Kepada Anda mereka akan meminta nasehat. Andalah pemimpin yang menjadi obat. Andalah teman yang menjadi penyelamat. Anda akan menjadi inspirator dan motivator.

Saat orang-orang di sekitar Anda merasa was-was, apa yang perlu mereka lakukan untuk menghilangkan itu semua, hanyalah menatap wajah Anda, mendengarkan bicara Anda, dan melihat bagaimana Anda bekerja. Mereka akan segera berbaris rapi di belakang Anda. Andalah jawaban dari setiap keragu-raguan. Andalah kamus berjalan untuk segala referensi menghadapi kekhawatiran. Andalah sang pemimpin yang punya kharisma.

Jika Anda memang pemimpin, maka salah satu tugas terpenting Anda, adalah menularkan semua keahlian dan pengalaman Anda, agar orang di sekitar Anda bisa meneruskan jejak langkah Anda. Anda hanya bisa menjalankan tugas sebesar itu, jika Anda telah sampai pada tingkatan, yang mampu menghadapi segala bentuk fear dan anxiety. Jika Anda feared, orang Anda akan lebih feared. Jika Anda anxious, maka orang Anda akan lebih anxious.

KEBIASAAN 3: SELALU MAMPU MENGATUR DAN MERUBAH PARADIGMA

Jika Anda lebih percaya diri, maka Anda akan lebih mudah memperbaiki dan meluruskan berbagai paradigma di dalam diri Anda. Anda akan lebih mudah menjadi orang yang sebagaimana yang Anda inginkan. Sebab, Anda punya kekayaan paradigma.

Paradigma Anda yang mendasar adalah paradigma tentang berkomunikasi dengan dan menjalani hidup. Jika Anda percaya diri, maka Anda akan lebih bisa menerima pelurusan dan perbaikan paradigma, yang sebenarnya selalu datang kepada Anda dengan sangat setia.

Dengan kekayaan paradigma, Anda akan lebih mudah dalam meng-encoding dan men-decoding berbagai pesan dari lingkungan bisnis, sosial, dan pribadi Anda. Ingatlah bahwa segala hal, adalah tentang memberi dan menerima. Dan ketahuilah, keduanya adalah fenomena khas dalam berkomunikasi.

Dengan fleksibilitas yang lebih baik saat menunggangi paradigma, dan Anda akan lebih reseptif, dan Anda akan open minded.

Dengan fleksibilitas semacam itu, Anda akan lebih efisien dengan umur Anda. Dengan open minded, Anda akan pandai dalam mengambil hikmah dari berbagai peristiwa dan fenomena. Anda akan bergerak dengan sangat cepat, tanpa ketinggalan memetik berbagai hikmat dan manfaat. Anda akan lebih mudah menerima segala sesuatu, apa adanya.

Jika rasa percaya diri Anda telah menjadi sebuah paradigma, maka apa yang ada pada Anda, bukanlah rasa percaya diri yang semata-mata alamiah, bukan pula rasa percaya diri yang tradisional. Bukan rasa percaya diri yang hanya tumbuh dengan mendompleng bertambahnya kekayaan dan kekuasaan.

Rasa percaya diri sebagai paradigma, adalah rasa percaya diri yang telah menjadi conceptual framework bagi Anda. Rasa percaya diri yang telah jauh di depan, yang lebih dekat lagi pada kenyataan kesuksesan. Jauh lebih dekat daripada jarak antara fisik Anda dan target Anda. Rasa percaya diri Anda sudah menjelma menjadi skill.

Itu sebabnya, Stephen Covey di dalam Seven Habits mengatakan, "communication is the most important skill in life."

Dengannya, Anda juga akan menikmati kemudahan dalam menularkan berbagai paradigma, kepada orang-orang di sekitar Anda. Sebab, Anda tidak lagi berkacamata kuda. Anda telah terbuka dalam memberi dan menerima. Bukankah itu, yang menjadi kenyamanan paling berharga bagi mereka?

KEBIASAAN 4: SELALU MAMPU MENCAPAI "I CAN DO" ATTITUDE DAN "I'M THE BEST" ATTITUDE

Dengan rasa percaya diri yang lebih baik, Anda akan selalu bisa mengatakan dua hal penting di sepanjang perjalanan Anda:

a. I can do it.
b. I'm the best to do it.

Bagi diri Anda sendiri, Anda akan mampu melakukan apapun yang Anda inginkan. Hanya satu hal yang Anda pahami, yaitu bahwa batasannya hanyalah kemanusiaan dan pilihan Anda. Anda akan selalu bisa mengatakan "Saya bisa!", dengan akurasi yang tepat dalam mengkomunikasikannya ke dalam jiwa. Jika otak Anda penuh dengan keraguan, jiwa Anda juga akan meragukan. Akibatnya, diri Anda sendiri pun tak lagi percaya pada Anda. Inilah, yang disebut dengan "rasa tidak percaya diri". Diri yang tak percaya pada diri sendiri.

Dengan rasa percaya diri yang lebih baik, Anda bisa menjadikan dua sikap positif itu, sebagai "penyakit" yang paling menular. Seperti semangat yang juga sama menularnya, dua sikap ini adalah sikap mendasar yang perlu Anda tularkan kepada siapapun orang di sekitar Anda.

KEBIASAAN 5: SELALU MAMPU MEMAHAMI DAN MEMANAGE KENDALA DAN HAMBATAN

Dengan rasa percaya diri yang lebih baik, untuk setiap kendala dan hambatan yang muncul di hadapan Anda, Anda akan dapat memahami dan memanage-nya dengan lebih baik. Anda tidak larut pada kekhawatiran, Anda juga tidak akan surut dalam perjalanan, dan Anda tidak akan tenggelam dalam kesulitan.

Keberadaan semua kendala, hambatan dan kesulitan, akan menjadi bagian hidup yang dapat Anda terima dengan lapang dada. Dengan kelapangan itu, pikiran Anda lebih jernih. Maka Anda, akan lebih kreatif.

Anda akan bisa menstrukturkan berbagai hal yang menjadi kendala, hambatan dan kesulitan. Anda akan memahaminya dengan pemahaman yang berorientasi pada solusi. Anda tidak akan mencampuradukkan berbagai isu. Anda tidak akan menumbuhkan berbagai kontradiksi. Anda sistematis, dan Anda terstruktur. Anda pandai memilah, dan Anda pandai memilih. Anda akhirnya, akan menemukan jalan.

KEBIASAAN 6: SELALU MANDIRI DAN SELF SUSTAIN DALAM MEMELIHARA SISTEM NILAI

Dengan kekayaan dalam wawasan dan cara pandang, dengan fleksibilitas yang tinggi dalam memegang paradigma, yang lahir dari rasa percaya diri yang lebih baik, Anda akan menjadi orang yang lebih mampu dalam menjaga orientasi dan sasaran. Anda menjadi manusia "turn around".

Anda akan punya banyak cara untuk tetap fokus pada tujuan. Anda tidak akan melenceng dari rel. Anda akan awas terhadap berbagai penyimpangan. Anda akan selalu aware terhadap potensi threats dan weaknesses. Anda tahu bagaimana menghindari atau menghadapinya. Anda paham, bagaimana memanfaatkannya. Anda, akan menjadi orang yang mandiri.

KEBIASAAN 7: SELALU MEMILIKI DUKUNGAN MORAL YANG LEBIH BAIK

Jika Anda terbiasa mendapatkan dukungan moral dari orang-orang di sekitar Anda, maka dengan rasa percaya diri yang lebih baik, Anda akan mendapatkan dukungan moral dalam bentuk yang paling baik. Yaitu, dukungan moral dari dalam diri sendiri. Apa lagi, yang bisa melebihi dukungan moral semacam itu?

KESIMPULAN

Ada banyak gambaran fakta, yang menunjukkan betapa dekatnya Anda dengan tujuan Anda, jika Anda bisa meningkatkan rasa percaya diri Anda ke tingkatan yang lebih baik. Dari rasa percaya diri yang tradisional, alamiah atau bahkan primitif, atau sambil lalu, menjadi rasa percaya diri yang integral dan holistik. Menjadi rasa percaya diri yang telah menjadi bagian dari keseluruhan diri Anda. Menjadi rasa percaya diri yang telah menjadi conceptual framework dan skill bagi Anda. Menjadi rasa percaya diri sebagai paradigma.

Semoga bermanfaat.

Ikhwan Sopa
Master Trainer E.D.A.N.
http://milis-bicara.blogspot.com
http://www.facebook.com/motivasi

Self Confidence: Mengapa Harus Percaya Diri Berkomunikasi



Jika Anda merasa belum percaya diri, maka Anda bisa menjadi percaya diri. Jika Anda sudah merasa percaya diri, maka Anda bisa menjadi lebih percaya diri. Percaya diri itu dinamis, ia bisa naik dan turun, berubah dan berkembang. Sangat ditentukan oleh dinamika posisi, kondisi, dan situasi Anda setiap saat. Berubah dan berkembang dari waktu ke waktu sejalan dengan proses dan pejalanan Anda. Apa yang perlu Anda lakukan, adalah menjaganya agar tetap berada di tingkat yang optimal dan sehat. Di tingkat yang setara dengan posisi, situasi, dan kondisi Anda sendiri.

Berikut ini adalah pintu gerbang terbaik untuk mencapai tingkat yang lebih baik di dalam rasa percaya diri, yaitu menjadi lebih percaya diri di dalam berkomunikasi. Ingatlah bahwa jika Anda naik jabatan, bertambah kekayaan, atau makin berkuasa, apa yang Anda hadapi dan jalani bukan hanya yang enak dan nyaman. Ingatlah bahwa tantangan, hambatan, persoalan, dan kendala juga ikut membesar dan berkembang.

UNTUK APAPUN, ANDA HARUS BERBICARA

Dalam aktivitas apapun yang Anda lakukan, Anda akan melakukan tiga hal berikut ini:

1. Memimpin.
2. Menjual.
3. Berpresentasi.

Dalam faktanya, Anda bahkan mungkin melakukan ketiganya sekaligus.

Jika Anda sedang memimpin, maka Anda pasti sedang menjual sesuatu agar "dibeli" oleh orang-orang yang Anda pimpin. Dan dalam melakukannya, Anda akan menyajikan atau mempresentasikan berbagai hal yang relevan.

Jika Anda sedang menjual sesuatu, Anda sedang mengupayakan posisi memimpin, agar prospek Anda mau mengambil keputusan sesuai dengan yang Anda inginkan. Dan sekali lagi, Anda pasti mempresentasikan berbagai hal yang relevan.

Jika Anda sedang berpresentasi, maka Anda bisa dipastikan sedang menjual sesuatu. Dan karena Anda sedang berusaha menjual sesuatu, maka Anda pasti berupaya untuk memimpin audience, agar mendengarkan Anda, agar menyimak presentasi Anda, agar memahami maksud dan tujuan Anda, dan agar teryakinkan sesuai tujuan presentasi Anda.

Dalam melakukan semua aktivitas di atas, media paling umum yang akan Anda gunakan adalah komunikasi verbal alias berbicara. Dan sebelum sampai ke persoalan teknis seperti struktur bicara, intonasi, gaya bahasa atau bahkan pilihan kata dan kalimat, aspek mendasar dari kualitas komunikasi Anda sangat ditentukan oleh tingkat percaya diri Anda saat melakukannya. Anda harus memiliki "auranya".

Berikut ini adalah kompilasi berbagai alasan untuk percaya diri dalam berkomunikasi, yang dikumpulkan dari para pakar manajemen, kepemimpinan, komunikasi dan motivasi.

PERCAYA DIRI BERARTI TAHAN BANTING

Jika Anda percaya diri, maka Anda akan lebih tahan terhadap berbagai tekanan, karena punya tempat berpijak dan cara berpikir yang kokoh dan kuat.

Jika Anda percaya diri, maka Anda akan lebih mampu menghadapi variasi dari situasi pribadi, sosial dan bisnis yang makin ketat dan makin keras belakangan ini.

Jika Anda percaya diri, maka Anda akan lebih tahan untuk berhadapan dengan orang lain yang makin hari makin kritis. Ingatlah bahwa tekanan yang makin kuat tidak hanya dialami oleh diri Anda sendiri, melainkan juga oleh setiap orang lain yang berhubungan dengan Anda di dunia ini.

Jika Anda percaya diri, maka Anda akan lebih mampu menghadapi orang lain yang makin hari makin keras dan bukan tidak mungkin makin menyebalkan.

Jika Anda percaya diri, maka Anda akan lebih mampu menghadapi berbagai apresiasi yang realistik dan objektif.

Pada akhirnya, jika Anda percaya diri, maka Anda akan lebih memiliki kontrol terhadap berbagai situasi dan keadaan yang penting untuk apapun kepentingan Anda.

Untuk semua itu, Anda harus berkomunikasi.

PERCAYA DIRI BERARTI MAMPU MENGONTROL

Percaya diri Anda dibangun dengan berlatih untuk mengontrol berbagai aspek dari kehidupan Anda. Dengan mampu mengontrol berbagai aspek diri pribadi Anda, Anda akan lebih jernih dalam melihat dan mengatur tujuan dan sasaran pribadi Anda. Dengan kejelasan dalam tujuan dan sasaran Anda, maka Anda akan lebih mampu dalam mengarahkan perilaku Anda menuju kepada keberhasilan Anda.

Untuk semua itu, Anda harus berkomunikasi.

PERCAYA DIRI BERARTI TAHU KAPASITAS DIRI

Dengan percaya diri, Anda akan memahami seluk beluk dan tingkat kapasitas yang Anda miliki. Dengan mengetahui kapasitas diri, Anda akan mampu melakukan analisis SWOT untuk diri pribadi Anda. Dengan memahami aspek SWOT diri Anda sendiri, maka Anda akan tahu persis dari mana harus memulai dan kemana akan berakhir.

Untuk semua itu, Anda harus berkomunikasi.

PERCAYA DIRI BERARTI SUCCESS ORIENTED

Dengan percaya diri, Anda menggeser fokus diri dari jebakan ketakutan akan kegagalan dan kerugian, ke cara pandang yang optimis tentang berbagai kesempatan dan keberhasilan. Anda akan menjadi orang yang success oriented.

Dengan percaya diri, Anda tidak akan merasa cukup hanya dengan 'positive thinking', tapi lebih dari itu, Anda akan menuntut 'positive knowing'.

Dengan 'positive knowing', Anda akan menjadi orang yang mengerti di bidangnya.

Kemudian, Anda tidak akan merasa cukup dengan 'positive knowing', Anda akan menuntut 'positive doing'.

Dengan 'positive doing', Anda akan berjalan pasti menuju ke keberhasilan Anda.

Untuk semua itu, Anda harus berkomunikasi.

PERCAYA DIRI BERARTI PERBAIKAN KUALITAS NETWORKING

Dengan percaya diri, Anda akan meningkatkan kualitas personality Anda. Dengan kenaikan personality Anda, maka Anda juga akan menaikkan kualitas 'relationship' Anda.

Seorang pemimpin atau pengusaha atau pejabat yang memulai dari bawah, kemudian terus naik sampai ke tingkatan tertentu di bidangnya, tidak hanya berhubungan dengan orang-orang di bawahnya. Lebih dari itu, ia juga akan meningkatkan kualitas networkingnya ke tingkat yang lebih tinggi dan lebih luas.

Ia akan terlibat dengan orang-orang yang juga lebih tinggi kualitasnya, lebih tinggi keahliannya, dan lebih baik tingkat percaya dirinya. Dengan itu, percaya dirinya akan makin meningkat. Dan dengan itu semua, peluang keberhasilannya juga akan meningkat.

Dengan percaya diri, Anda akan bertemu dengan orang yang lebih menyenangkan, orang yang lebih baik kualitasnya, orang yang lebih terdidik, orang yang lebih memberi kesempatan dan peluang, orang yang lebih menarik, dan orang yang lebih nikmat bagi Anda untuk berhubungan dengan mereka.

Untuk semua itu, Anda harus berkomunikasi.

PERCAYA DIRI BERARTI KONTROL TEMPERAMEN YANG LEBIH BAIK

Di dalam ilmu sosial, ada istilah 'hukum korespondensi', yang mengatakan bahwa 'dunia luar' di luar diri Anda, adalah sebuah cermin sempurna dari 'dunia dalam' di dalam diri Anda.

Percaya diri Anda harus dimulai dari dalam. Dan jika Anda berhasil memperbaiki kualitas 'dunia dalam' Anda, maka 'dunia luar' akan mengikutinya.

Jika Anda sukses dengan berhasil meraih percaya diri, maka kesuksesan juga akan terjadi pada 'dunia luar' Anda. Jika Anda berhasil meraih percaya diri, maka Anda berpeluang besar untuk meraih keberhasilan dalam kehidupan diri pribadi, kehidupan sosial, kehidupan pendidikan, dunia karir dan dunia bisnis Anda.

Keberhasilan meraih percaya diri, berarti keberhasilan meraih kontrol terhadap temperamen pribadi. Itu berarti, Anda juga punya peluang besar untuk mengontrol temperamen 'dunia luar' Anda.

Jika Anda punya kontrol terhadap temperan diri, maka Anda pantas mengontrol temperamen dunia dan seisinya. Ramah atau tidaknya dunia ini pada Anda, Anda sendiri yang menentukannya.

Dan untuk mencapainya, mulailah dengan mempercayai diri Anda sendiri. Tuhan telah menciptakan Anda dengan sempurna, dan Ia menginginkan Anda mempercayai hal itu.

Untuk semua itu, Anda harus berkomunikasi.

PERCAYA DIRI BERARTI MAMPU MENGHAMBAT UPAYA SABOTASE DIRI

Percayalah bahwa setiap hambatan, hampir bisa dipastikan datang dari dalam diri sendiri. Setiap hambatan akan men-sabotase dengan mencegah diri Anda dari mengambil tindakan.

Tindakan adalah segala aktivitas yang membuat hidup Anda menjadi lebih baik. Resep keberhasilan adalah tindakan, dan untuk bisa bertindak, Anda perlu percaya diri.

Untuk semua itu, Anda harus berkomunikasi.

PERCAYA DIRI BERARTI HIDUP SISTEMATIS

Sistematis berarti efisien dan efektif. Dengan percaya diri, Anda akan bertindak. Dan bertindak atas dasar percaya diri, akan membuat Anda mampu mengambil keputusan dan menentukan pilihan di jenjang berikutnya. Dengan kemampuan itu, tindakan Anda akan tepat, akurat, efisien dan efektif.

Untuk semua itu, Anda harus berkomunikasi.

PERCAYA DIRI BERARTI PENINGKATAN KEMAMPUAN BELAJAR

Hidup Anda adalah sekolah Anda. Cara belajar Anda mengikuti dua pola, yaitu shaping alias pembentukan dan modelling alias meneladani. Percaya diri akan membuat Anda menjadi orang yang lebih mampu dalam melakukan self development, pengembangan dan perbaikan, dan lebih mampu dalam mengambil suri tauladan serta melakukan berbagai inovasi sebagai kelanjutannya.

Untuk semua itu, Anda harus berkomunikasi.

PERCAYA DIRI BERARTI YAKIN AKAN FUNGSI DIRI

Dengan percaya diri, Anda akan lebih yakin bahwa keseluruhan diri Anda akan berfungsi dengan baik. Dengan percaya diri Anda akan mampu mendorong diri Anda untuk total, maksimal dan optimal. Dengan semua itu, Anda akan mencapai kemandirian dan kemerdekaan.

Untuk semua itu, Anda harus berkomunikasi.

PERCAYA DIRI BERARTI FOKUS PADA DUNIA LUAR

Tidak percaya diri disebabkan oleh kesibukan dalam mengkhawatirkan diri sendiri. Dengan percaya diri, Anda akan disibukkan oleh dunia luar. Dengan percaya diri Anda akan menjadi orang yang lebih melayani, lebih bermanfaat, dan lebih memberi nilai kepada dunia luar.

Untuk semua itu, Anda harus berkomunikasi.

PERCAYA DIRI BERARTI HIDUP YANG LEBIH NYAMAN DAN MENYENANGKAN

Dengan percaya diri Anda akan lebih menikmati diri sendiri, lebih menikmati dunia luar. Hidup Anda akan penuh dengan kegembiraan, dengan hanya sedikit kekhawatiran. Dunia Anda akan lebih nyaman dan menyenangkan. Dengan percaya diri, Anda bisa membuat 'hidup lebih hidup'.

Untuk semua itu, Anda harus berkomunikasi.

PERCAYA DIRI BERARTI PESAN POSITIF

Dengan percaya diri, Anda akan mengkomunikasikannya kepada dunia di luar Anda. Dengan percaya diri, Anda akan membuat orang lain menjadi percaya diri. Dengan percaya diri, Anda akan lebih meyakinkan. Percaya diri adalah pesan. Pesan yang amat penting untuk dikomunikasikan kepada orang yang terlibat dengan Anda.

Untuk semua itu, Anda harus berkomunikasi.

PERCAYA DIRI BERARTI PELUANG UNTUK MENUMBUHKAN KHARISMA

Dengan percaya diri, Anda berpeluang besar untuk menumbuhkan tingkat maksimal dari percaya diri, yaitu kharisma. Dengan percaya diri, Anda akan menciptakan jalan untuk menjadi orang yang selalu didengar kata dan perintahnya.

Untuk semua itu, Anda harus berkomunikasi. Bahkan di dalam diam.

DARI MANA DATANGNYA PERCAYA DIRI?

Percaya diri datang dari kemampuan berkomunikasi secara verbal, dengan berbicara.

Dengan berbicara, Anda akan berbicara pada diri sendiri dan berbicara pada orang lain.

Berbicara kepada diri sendiri akan menjalankan proses manajemen diri. Andalah orang yang paling tahu harus mengatakan apa pada diri sendiri.

"Saya bisa" atau "Saya tidak bisa".
"Saya akan berhasil" atau "Saya akan gagal".
"Saya harus melakukan ini" atau "Saya memang menginginkan ini".
"Saya yang menentukan" atau "Bukan saya yang menentukan".
"Saya yang memilih" atau "Orang lain yang memilih".
"Terserah saya" atau "Terserah orang lain".


Berbicara kepada orang lain akan menjalankan proses manajemen diri orang lain.

"Anda harus begini atau harus begitu".
"Saya meminta Anda melakukan ini atau itu".
"Saya ingin hasilnya begini atau begitu".
"Saya yang menentukan, bukan Anda yang menentukan".
"Saya yang memerintah Anda yang mengikuti".
"Saya yang menjual dan Anda yang membeli".
"Jika Anda ingin berhasil, ikuti saran saya".


Untuk semua itu, Anda harus berkomunikasi. Dengan penuh percaya diri.

Semoga bermanfaat.

Ikhwan Sopa
Master Trainer E.D.A.N.
http://milis-bicara.blogspot.com
http://www.facebook.com/motivasi

Attitude: Jangan Remehkan Hal Kecil



Seorang jenderal, berkuda di depan memimpin pasukannya memasuki sebuah kota. Ia dan pasukannya, baru saja menaklukkan kota itu. Parade kemenangan mereka langsung mulai dirayakan saat mereka memasuki kota taklukan dengan gagah dan berani. Dagu sang jenderal terangkat jumawa saat memasuki gerbang kota. Kudanya pun melangkah dengan gagah. Begitu pula pasukannya.

Di sepanjang jalan utama, di kiri dan kanan jalan setiap orang duduk bersimpuh. Merendahkan diri sebagai bangsa yang telah takluk. Mengangkat kepala pun mereka tidak berani. Dipancung nanti. Begitulah sang jenderal dan pasukannya, derap demi derap menyusuri jalan utama kota.

Di suatu belokan, sang jenderal melihat seorang pengemis tua terbungkuk-bungkuk, tertatih melangkah perlahan menyeberangi jalan. Sang jenderal tersinggung melihatnya. Ia yang merasa sebagai penakluk, harus terhalang jalan oleh seorang pengemis tua renta yang kumuh dan baunya tercium kemana-mana. Ditegurnya pak tua itu dengan keras,

"Hei tua renta! Tahukah engkau siapa aku? Akulah penguasa kota ini sekarang!"

Pak tua itu mengangkat kepalanya perlahan, memandang sang jenderal sebentar, dan kemudian tanpa acuh meneruskan langkahnya menyeberangi jalan. Perlahan dan menggemaskan. Sang jenderal pun naik pitam. Jika saja kakek tua itu tidak bungkuk dan renta, ia sudah menghunus dan menebaskan pedang ke lehernya. Ia sekali lagi menghardik,

"Hai kau tua renta, engkau pikir dirimu siapa! Minggirlah sebelum kupancung kepala busukmu itu!"

Sekali lagi, pak tua berhenti dan mengangkat kepalanya, dan sekarang ia mengangkat tangannya, menegakkan jari telunjuknya, memberi isyarat tanda memanggil. Bukan kepalang kemarahan sang jenderal. Sesak dadanya dan mendidih kepalanya. Sama sekali ia tak menyangka masih ada manusia yang berani terhadap dirinya di kota itu. Seorang tua renta dan kumuh pula!

Tanpa sadar, ia menggiring kudanya mendekati pak tua renta. Dipelototinya pak tua itu tanpa bisa berkata apa-apa. Kemarahannya benar-benar sudah sampai ke ubun-ubun.

Pak tua, terus saja menggerakkan telunjuknya. Kurang dekat, mungkin itu maksudnya. Rupanya ia ingin mengatakan sesuatu.

Di atas kuda, sang jenderal sudah tertelan oleh kemarahannya atas "keremehan" pak tua. Tapi saking tak tahu harus bagaimana, ia malah menjulurkan kepalanya untuk bisa mendengar bisikan pak tua.

Setelah begitu dekat telinga jenderal sang penakluk ke mulut pak tua renta, pak tua itu membisikinya dengan desahan lirih yang nyaris tak terdengar.

"Saya Izroil..."

Jenderal itu melorot dari kudanya dan langsung mati.

Jangan pernah meremehkan "hal kecil". Itu bisa merubah hidup Anda.

Note: Izroil adalah malaikat pencabut nyawa.

Ikhwan Sopa
Master Trainer E.D.A.N.
http://milis-bicara.blogspot.com
http://www.facebook.com/motivasi