Inspirasi: Ramadhan Fasting


FASTING TIME...

Our brain shifts it's source of energy
From 'high octane' outside source, glucose
To 'low octane' from the inside, body's fat

Our brain runs slower

But...

It becomes deeper, wider, and sharper
since our brain is actually never stops working

It becomes clearer
since our neuroglial cells starts to consume more of
sick, unhealthy, damaged neuron cells

It becomes more creative
since hunger is basically a sign for survival

Good time for introspections and insights
Perfect time to heighten awareness and consciousness

Fasting happy
Happy fasting!

http://www.facebook.com/motivasi
http://milis-bicara.blogspot.com

Marketing: Indonesia, Is It A Market To You?



INDONESIA:

- 241 million people in population,
- 17,506 islands,
- 201 million people are "above poverty line",
- 90.4% literacy rate,
- 15-64 y.o. people is 65.7% of population,
- 29 million people are university age,
- 4 million people are seeking for higher learning,
- 79 million people of work force,
- 20 million people are radio listeners,
- 250,000 people are pay-tv customers,
- 210 million people are tv watchers,
- 25 million people are internet users,
- 75.6 million people are cell phone users,
- 11 million people are newspaper readers,
- 42.4 million of SMEs.

Is it, A MARKET TO YOU?

Ikhwan Sopa
Master Trainer E.D.A.N.
http://milis-bicara.blogspot.com
http://www.facebook.com/motivasi

Life Skill: Merdeka Yang Sesungguhnya - Tiang Sangsaka Berada Tepat Di Tengah Lapangan



Menjadi merdeka, bukan hanya menjadi manusia yang menghargai sejarah kemerdekaan. Menjadi merdeka adalah menjadi terbebas dari begitu banyak hambatan dan kendala. Menjadi merdeka, tidak hanya dengan mengenangnya, tapi mengisinya dengan pikiran dan tindakan yang merdeka. Menjadi merdeka, pun juga tidak berarti berpikir atau bertindak semaunya.

INDEPENDEN

Independen berarti merdeka. Setiap kita dapat berfungsi sebagai manusia yang self-reliant alias bisa mengandalkan diri sendiri. Sebab, seluruh sumber daya yang diperlukan untuk berfungsi maksimal telah dianugerahkan-Nya ke dalam diri kita.

Dengan semua sumber daya itu, kita memberi sumbangsih kepada dunia selagi kita hidup, dan pada saat yang sama memberi sumbangsih kepada diri sendiri untuk kehidupan di akhirat nanti.

Dengan kesadaran kemerdekaan ini, kita menjadi lebih aware tentang hubungan kita dengan diri sendiri, dengan orang lain, dan dengan Tuhan yang Maha Menciptakan.

Kemerdekaan dan penerimaan kita untuk menerima tanggung jawab sebagai khalifah yang mengemban amanah untuk "to uphold the religion dan to administer the world", menciptakan batas-batas yang membantu manusia lain merespon diri kita dan mengetahui apa dan bagaimana sikap dan tindakan yang bisa kita terima.

Kemudian, otonomi ini memungkinkan kita bisa dengan aman mengekspresikan kebutuhan dan keinginan kita kepada manusia lain yang terhubung dengan kita.

INTERDEPENDEN

Interdependen adalah saling ketergantungan. Setiap kita membutuhkan orang lain. Sekalipun kita merdeka, kita tidak diciptakan untuk hidup sendiri. Setiap kita saling terhubung, dan setiap kita membutuhkan rasa dibutuhkan.

Kita punya sesuatu, dan manusia lain punya sesuatu yang lain. Dengan demikian, setiap kita menjadi makhluk yang unik. Keunikan ini, mestinya menjadi alasan terkuat bagi upaya untuk saling mendukung dan saling menghormati dalam batas-batas yang sesuai hukum moral dan nilai-nilai dari Tuhan.

Saling ketergantungan, adalah ukuran yang tepat bagi kualitas kehidupan kita. Seberapa baik kita bisa berhubungan dengan orang lain, dan seberapa nyaman orang lain berhubungan dengan kita, adalah hal penting bagi kebahagiaan hidup kita.

Setiap interaksi dan komunikasi kita dengan orang lain, berpeluang besar untuk menciptakan hasil yang luar biasa besar.

Beberapa dari kita, mungkin masih memandang bahwa membutuhkan orang lain adalah tanda kelemahan. Fenomena alamiah tentang saling ketergantungan ini, justru menunjukkan pentingnya bekerjasama atau teamwork untuk mencapai tujuan bersama. Merdeka yang lebih besar dan lebih luas. Merdeka bersama-sama.

Jadi, sikap saling tergantung adalah bentuk kekuatan, bukan kelemahan. Saling tergantung adalah pilihan yang lahir dari jati diri yang kuat dan penuh kehormatan.

Pada akhirnya, saling ketergantungan menuntut performa terbaik dari setiap orang dalam menilai, saling mempercayai, saling mendukung, DAN tetap mampu menjaga kenyamanan dan keamanan pribadi.

KO-DEPENDEN

Ko-Dependensi, memungkinkan setiap tindakan orang lain menentukan kualitas kehidupan orang lainnya. Ko-dependensi akan membuat manusia lain menentukan kualitas kehidupan kita.

Dasar dari munculnya ko-dependensi, adalah keyakinan yang membatasi diri alias self limiting beliefs dan pengambilalihan pengurusan dengan sangat sedikit memberikan penghormatan dan penghargaan. Ini, justru sama dengan penjajahan!

Setiap kita pasti ingin menyenangkan orang lain, dan dalam tingkat tertentu masuk ke ko-dependensi. Namun jika itu menjadi terlalu jauh, kita akan tenggelam dalam bayang-bayang manusia lain.

Earnie Larsen, seorang pakar terkait dengan fenomena ko-dependensi mengatakan, "Mereka yang terlanjur mengalahkan dirinya sendiri, akan belajar berperilaku dalam cara tertentu yang akan mengakibatkan turunnya kemampuan mereka untuk memulai atau melibatkan diri dalam berbagai hubungan yang bernuansa kasih dan sayang."

Ko-dependensi, pada akhirnya akan membuat kita menjadi manusia yang lebih mencintai orang lain ketimbang diri sendiri. Tuhan memang menciptakan kita untuk berbagi manfaat dan kasih sayang dengan sesama, akan tetapi Tuhan tidak menciptakan kita untuk tidak menghormati diri kita sendiri.

Merdeka yang sesungguhnya adalah memerdekakan diri sendiri, dari kepentingan egoisme pribadi yang tidak bertanggung jawab terhadap sesama, dan dari kepentingan egoisme pribadi yang tidak bertanggungjawab pada diri sendiri.

Merdeka yang sesungguhnya adalah kemerdekaan pribadi dan saling ketergantungan dengan sesama. Bukan semata-mata mementingkan kepentingan pribadi, dan juga bukan malah memperkosanya.

Tiang sangsaka, berada tepat di tengah lapangan.

Mari merdeka. Mari merdeka yang sesungguhnya. Mari saling menghormati dan saling bekerjasama. Mari saling menghargai dan bahu membahu, dan mari saling bantu menghormati diri sendiri. Mari kita jaga persatuan bersama, dan mari kita jaga kesatuan pribadi.

Merdeka!

Jakarta, 15 Agustus 2009.
Ikhwan Sopa
Master Trainer E.D.A.N.
http://milis-bicara.blogspot.com
http://www.facebook.com/motivasi
Sumber dan inspirasi: Beth Burns, Professional Life Coach.

Public Speaking: Jadi Motivational Speaker II, Mau?



Tulisan ini adalah kelanjutan dari tulisan pertama, "Jadi Motivational Speaker, Mau?" yang bisa Anda baca di sini: http://milis-bicara.blogspot.com/2009/08/jadi-motivational-speaker-mau.html atau di sini: http://bit.ly/cLeM3.

Banyak yang bertanya, "bagaimana caranya?"

Sebenarnya, sebagian besar dari jawaban atas pertanyaan "bagaimana" itu, sudah ada di dalam tulisan saya yang pertama di atas.

Siapakah yang pantas menjadi pembicara motivasional? Setiap orang. Kita harus bisa memotivasi istri kita atau suami kita. Kita harus bisa memotivasi anak-anak kita. Kita harus bisa memotivasi bawahan kita. Kita juga harus bisa memotivasi atasan kita. Kita harus bisa memotivasi teman-teman kita. Kita harus bisa memotivasi lingkungan sekitar kita.

Harus? Ya harus, sebab manusia pada dasarnya adalah makhluk komunikasi, dan setiap hubungan antar manusia memang dilakukan dengan berkomunikasi. Berkomunikasi, tentulah harus yang bermanfaat.

Dalam kerangka itu, untuk memenuhi kriteria sebagai manusia yang lebih baik, maka kita harus makin bermanfaat. Dan salah satu manfaat yang terbesar, adalah jika kita bisa membuat orang melakukan yang lebih baik dan yang terbaik.

Memotivasi orang lain adalah membuat orang lain mengambil tindakan yang diperlukan dan melakukannya dengan kemampuan terbaik.

Saya ringkaskan tulisan pertama itu sebagai berikut.

A. BASIC BELIEFS

Yaitu keyakinan-keyakinan dasar tentang bagaimana menjadi pembicara motivasional, atau keyakinan dasar yang harus menjadi pegangan untuk berbicara secara motivasional.

1. Setiap orang bisa. Dasarnya adalah uraian pengantar di atas.

2. Pendorong terbesarnya adalah keinginan membantu dan berbagi. Contoh sejarah para pembicara motivasional dalam tulisan pertama menegaskan hal ini.

3. Anda tidak perlu ideal atau sempurna. Dalam tulisan terdahulu, pada poin ini saya menyebutkan kata "justru" sebanyak tiga kali.

4. Anda bisa memulainya sekarang juga. Setiap kali kita berhubungan dengan orang lain, maka setiap kali itulah kita bisa melihat bahwa selalu ada yang perlu dimotivasi pada diri orang itu.

Pujian adalah motivasi, kritikan adalah motivasi, anjuran dan larangan adalah motivasi, bahkan cercaan atau cemoohan juga bisa dianggap motivasi. Uraian pengantar di atas juga menegaskan hal ini.

B. TEKNIS

Berbagai referensi menguraikan ratusan atau bahkan ribuan tips tentang bagaimana caranya menjadi pembicara motivasional. Tulisan saya yang pertama, mencoba meringkaskannya menjadi poin-poin yang terpenting yang lebih sederhana.

1. Anda harus senang berbicara. Sebab, Anda akan jadi pembicara. Jika Anda belum senang, inilah langkah awal untuk mendemonstrasikan motivasi kepada diri sendiri. Sebagian besar dari bicara Anda saat berbicara motivasional, adalah tentang sikap yang tepat. Dan terkait dengan sikap, secara sederhana ia berkutat pada persoalan "suka atau tidak suka".

2. Anda harus punya pesan. Nilai lebih untuk manfaat, akan bisa Anda sampaikan dalam bicara Anda, jika Anda punya pesan yang membawa nilai dan manfaat. Sekaligus, ini adalah spesialisasi Anda.

3. Mulailah bicara sesegera mungkin, tanpa langsung menuntut bayaran. Setiap kali kita terhubung dengan orang lain, hubungan itu selalu menjadi peluang bagi Anda. Ingatlah bahwa memotivasi orang lain tidak selalu sama dengan mengajari atau mengguruinya.

Percayalah, ditahap awal Anda akan cenderung menyebalkan bagi orang lain karena "banyak bicara". Sebagian dari Anda, bahkan sangat mungkin masih tetap sebal kepada saya sebagai seorang Master Trainer E.D.A.N. atau bahkan lebih subyektif dari itu hingga saat ini. Saya, harus sabar menghadapinya.

Maka, selalulah untuk mengingat yang satu ini, "speak good or be silent." Jika Anda konsisten, maka perlahan tapi pasti, mereka malah akan doyan dan kecanduan mendengarkan Anda berbicara.

4. Banyak menulis, mendengar, dan membaca. Bicara adalah bagian tak terpisahkan dari keseluruhan komponen komunikasi yang terdiri dari bicara, menulis, mendengar, dan membaca. Semua komponen ini, punya peran timbal balik dan saling melengkapi. Perannya besar untuk speaking skill Anda.

5. Walk The Talk. Jangan berbicara tentang sesuatu yang tidak Anda lakukan. Saya jarang sekali berbicara tentang kesehatan badan. Sebab, saya mulai jarang berolah raga, dan hanya untuk ber-FB-ria saja, saya sering begadang bukan hanya sampai larut tapi bahkan sampai meleleh-leleh.

Pembicara motivasional bukan malaikat melainkan manusia biasa. Ia tak perlu ideal sepenuhnya atau sempurna, sebagaimana setiap kali kita berhubungan dengan orang lain juga tak perlu ideal sepenuhnya atau sempurna. Anda hanya perlu menjadi sahabat yang bernilai dan punya manfaat.

6. Berbekallah dengan berbagai ilmu pendukung seperti ilmu komunikasi. Tugas Anda adalah menyampaikan manfaat. Sarananya adalah berkomunikasi dengan bicara dan contoh-contoh. Muara dari berbagai ilmu itu adalah kemampuan Anda dalam memahami "how the mind, body, and emotion works."

7. Belajarlah menjadi entrepreneur dan leader. Jika Anda fokus dan total, maka Anda dituntut memiliki kemampuan entrepreneurship dan leadership. Bicara selalu memakan waktu. Sepuluh detik, satu menit, satu atau dua jam, dua hari atau bahkan sampai seminggu bicara.

Secara umum Anda akan berbicara rata-rata satu atau dua jam per sesi. Waktu adalah sumber daya yang paling kritis bagi Anda.

8. Branding, Personal Branding, dan Marketing. Anda akan dituntut untuk mulai memaket diri Anda, topik Anda, dan sesi bicara Anda menjadi sebentuk "produk". Tanpa ini, Anda akan tenggelam di antara banjirnya informasi.

9. Tentukan arah perjalanan Anda. Sebagai sebuah profesi, pembicara motivasional tidak bisa lepas dari berbagai proyeksi dan perencanaan.

10. Dukungan keluarga dan kerabat. Sebagai pembicara motivasional, Anda harus sangat termotivasi. Dan secara umum keluarga dan kerabat adalah motivator besar Anda. Di atasnya, ada Tuhan dan semangat spiritual religius sebagai motivator utama Anda.

11. Review poin 1 s.d. 10 berulang-ulang, kemudian tunggulah saatnya datang.

POWERFUL MOTIVATIONAL SPEAKING MODEL

Sekarang, seperti apakah model komunikasi seorang pembicara motivasional? Contoh model di bawah ini adalah salah satu model motivational speaking yang paling powerful.

1. Pandai Bertanya.

Latihlah kemampuan Anda dalam mengajukan pertanyaan. Anda bisa belajar socratic questioning, over the head questioning, meta model, meta program, retorika, metafora, logical fallacy, dan sebagainya.

Jawaban yang baik hanya akan diperoleh dengan pertanyaan yang baik. Itu sebabnya saya membuat QA Communication, di mana Q dan A adalah, "Good Question, Better Answer."

Dengan kemampuan ini, Anda akan bisa membedakan mana yang "jawaban" dan mana yang "statement".

Untuk "jawaban", Anda bisa melanjutkan dengan pertanyaan lain sebab satu puzzle sudah Anda dapatkan, sehingga Anda dapat melanjutkan proses untuk menemukan potongan puzzle yang lain.

Untuk "statement", Anda bisa memperdalam pertanyaan sampai Anda mendapatkan potongan puzzle yang jelas dan utuh.

Tujuan akhir Anda adalah mozaik lengkap dari berbagai potongan puzzle. Jika Anda makin pandai bertanya, maka Anda akan makin pandai memberi jawaban.

Bagaimana jika sesi Anda adalah sesi yang searah? Sama. Anda perlu berkomunikasi dengan berbagai ungkapan "between the line", yaitu sesuatu yang tak terkatakan tapi bisa diidentifikasi, atau dengan sub-conscious mind, atau dengan consious mind, atau dengan perasaan, pikiran, emosi, atau bahkan bagian tubuh tertentu atau ekspresi tertentu dari audience Anda.

Dengan kemampuan ini, Anda akan bisa menciptakan efek-efek sebagaimana yang Anda inginkan. Oleh sebab itu, jangan pernah menyalahgunakan kemampuan ini dan bertanggungjawablah pada basic beliefs Anda.

Jika Anda sempat membaca atau mendengar bahwa Power Workshop E.D.A.N. punya rating tinggi dalam tingkat kepuasan trainee sebagai mana terungkap dari testimoni mereka yang rata-rata puas 100%; it is by design. It is not just happened that way.

Syukur Alhamdulillah saya bisa mengkreasinya dengan kemampuan ini. Sekali lagi Insya Allah saya melakukannya dengan penuh tanggung jawab pada basic beliefs saya. Saya tetap pada keyakinan bahwa setiap trainee yang melewati pintu keluar setelah training selesai, apa yang ada di kepala mereka adalah bukan "trainernya hebat", tapi "saya ternyata hebat".

2. Mampu Menciptakan "Yes Factor".

Yes Factor adalah elemen penting yang diperlukan oleh setiap pembicara motivasional. Yes Factor adalah jalan pintas menuju penguasaan sebuah skill yang Anda delivery-kan. Anda sebagai pembicara motivasional jelas tidak ingin membuang waktu dengan berbagai penolakan. Ukuran keberhasilan Anda adalah kemampuan Anda untuk membuat orang lain bergerak mengambil tindakan.

Anda bisa melakukannya dengan ungkapan pernyataan dan pertanyaan yang tidak bisa ditolak oleh audience. Misalnya saja fakta.

Lebih jauh, Anda bisa menggiring audience untuk me-reframing pola berpikirnya. Anda juga bisa melakukannya dengan story telling atau menyampaikan metafora. Terhadap dua hal yang terakhir ini, audience Anda jelas tidak akan mengatakan "tidak" melainkan menikmatinya saja, dan tanpa disadari berbagai konsep dan ajaran terendapkan ke dalam dirinya.

Jika Anda menemukan sesuatu di dalam tulisan ini, dan kemudian Anda masih bisa mengatakan "tidak" tentang hal itu, silahkan langsung dikomentari saja. Kita diskusikan sekalian. Kita toh sedang sama-sama belajar, bukan?

3. Mampu menciptakan "Wow Effect".

"Wow Effect" adalah nilai tambah yang ditunggu oleh audience Anda. Semakin Anda pandai mengkreasinya, semakin betah mereka mendengarkan Anda, dan semakin besar pula peluang Anda untuk makin memotivasi mereka.

Anda bisa menciptakannya dengan memberi sudut pandang yang tidak biasa atau berbeda, dengan tetap mempertahankan "Yes Factor". Fenomena ini, akan mengikat audience Anda, dan membuat mereka menunggu statement atau pertanyaan berikutnya dari Anda.

Lantas, bagaimanakah caranya menggunakan model yang powerful ini?

Secara sederhana, kita bisa menggunakan notasi sederhana berikut ini.

"S" - Statement Anda,
"Q" - Pertanyaan Anda,
"AY" - "Yes Factor" audience,
"AW" - "Wow Effect" audience,
"AS" - Audience Statement,
"AA" - Audience Answer, dan
"AQ" - Audience Question.

Contoh:

Q1-Retorik -> AS1 atau AA1 atau AQ1
Q2 atau S1-> AS2 atau AA2 atau AQ2
Q3 atau S2-> AS3 atau AA3 atau AQ3 atau AY1 atau AW1
Q4+S3 -> AW2 atau AY2
dan seterusnya.

S1 -> AW1 atau AQ1
S2+Q1 Over The Head Question -> AY1 atau AW1
Q2 -> AS1 atau AA1
Q3+S2 -> AY2 atau AW2 atau AS2 atau AQ2
dan seterusnya.

Anda bisa mengembangkan sendiri berbagai variasi model E.D.A.N. ini untuk latihan Anda.

Semoga bermanfaat.

Ikhwan Sopa
Master Trainer E.D.A.N.
http://milis-bicara.blogspot.com
http://www.facebook.com/motivasi

Public Speaking: Jadi Motivational Speaker, Mau?



Seseorang mengirim pesan kepada saya, menanyakan tentang bagaimana caranya menjadi seorang professional motivational speaker alias pembicara motivasional yang profesional.

Dari ungkapannya, dia seperti melihat bahwa profesi ini sangat menyenangkan. Mungkin baginya, pembicara motivasional itu funky dan fancy. Buat saya pribadi, ya. Buat orang lain belum tentu.

He...he...he... bingung juga menjawabnya, sebab saya seperti diingatkan kembali dan merasa seperti tiba-tiba sudah berada di sini, dalam posisi sebagai seorang pembicara motivasional profesional.

Apa yang di bawah ini, merupakan kombinasi dari opini saya pribadi dan berbagai referensi yang saya ambil dari mereka yang lebih dahulu terjun dan lebih berpengalaman dalam profesi ini. Sepanjang yang saya tahu, belum ada panduan resmi terkait dengan cara untuk menjadi pembicara motivasional.

BASIC BELIEFS

1. Setiap orang bisa menjadi pembicara motivasional.

Sejarah kehidupan setiap pembicara motivasional, tidak menunjukkan pola hidup tertentu yang bisa dipastikan sebagai jalan setapak atau peta yang presisi untuk menuju profesi sebagai pembicara motivasional.

Ada yang sejarahnya adalah keberhasilan, kemudian terdorong untuk berbagi tentang fenomena keberhasilan itu.

Ada yang sejarah hidupnya kelam, lalu menemukan pencerahan untuk bangkit memperbaiki kehidupan, dan lantas juga terdorong untuk berbagi tentang fenomena kebangkitan itu.

Ada yang terlahir dengan kekurangan, dan kemudian bisa menerima dengan besar hati, lalu mencapai tingkat kehidupan yang dirasakan nyaman dan membahagiakan, dan akhirnya terdorong untuk berbagi dengan orang lain yang juga terlahir di dalam kekurangan.

Ada yang mengalami kegagalan berulang-ulang, lalu kemudian menjadi orang yang berhasil, dan kemudian terdorong oleh semangat untuk berbagi inspirasi tentang berbagai fenomena tentang kegagalan.

Ada yang merasa bahwa kehidupannya seperti datar dan biasa-biasa saja, lalu kemudian melakukan pergeseran dan perombakan di dalam kehidupan, dan menjadi orang yang makin berfokus pada kepentingan untuk membahagiakan orang lain.

Ada yang menjalani proses kehidupan sesuai jalur keahlian dan menapaki profesi, sampai akhirnya tersadarkan bahwa apa yang ia miliki di dalam keahlian itu, akan makin bermanfaat jika tersebar makin luas.

Ada yang hidupnya biasa saja, kemudian mengalami apa yang disebut dengan PEE, Peak Emotional Experience, sebuah kejadian atau pengalaman hidup yang merupakan puncak pengalaman emosi, dan kemudian terdorong untuk berbagi dengan sesama.

Masih banyak lagi latar belakang sejarah dari para pembicara motivasional yang tak mungkin saya sebut satu-persatu di sini. Intinya, setiap orang bisa.

2. Pendorong utamanya adalah keinginan untuk membantu dan berbagi dengan orang lain.

Contoh-contoh dalam poin 1 di atas jelas sekali mempertegas hal ini. Begitu pula, setiap sejarah dari para pembicara motivasional lainnya.

3. Anda tidak perlu ideal atau sempurna.

Nyaris setiap pembicara motivasional, justru punya sejarah hidup yang mencerminkan segala hal, yang justru ingin dihindari oleh audiencenya. Bagi sebagian pembicara motivasional, penderitaan dan pengalaman buruk di dalam hidup justru merupakan salah satu syarat untuk bisa banyak bercerita.

4. Anda bisa memulainya sekarang juga.

Setiap orang pada dasarnya adalah motivator. Setiap kali seseorang berhubungan dengan orang lain, apa yang diharapkan dari orang lain itu adalah berbagai sikap, tindakan, atau cara berpikir yang perlu dimotivasi. Jika Anda memahami hal ini, kemudian berhadapan dengan keadaan atau situasi seperti yang baru saya sebutkan, maka detik itu juga adalah peluang bagi Anda untuk berbicara motivasional.

TEKNIS

1. Anda harus senang berbicara.

Namanya juga pembicara. Belum perlu pandai, senang saja dahulu. Kepandaian nanti bisa dilatih. Jika Anda senang berbicara, maka biasanya Anda senang berbagi dan lebih mudah mendapat teman atau audience. Jika Anda senang berbagi, maka Anda akan punya semangat tinggi dan selalu terjaga.

2. Anda harus punya pesan.

"Pesan" adalah sesuatu yang menjadi fokus pembicaraan Anda. Atau dengan kata lain, Anda harus punya topik utama dan andalan, yang akan menjadi identifikasi Anda. Ini biasanya terkait dengan keahlian dan spesialisasi Anda. Secara marketing, ini disebut dengan niche atau ceruk atau target audience. "Pesan" inilah yang akan menjadi nilai tambah bagi audience Anda. Lagi pula, untuk apa Anda berbicara, jika tidak punya nilai tambah bagi orang lain?

3. Mulailah dengan berbicara tanpa bayaran.

Ini adalah bentuk terbaik dari latihan Anda. Kecuali, jika Anda sudah yakin bahwa apa yang menjadi topik Anda dan bagaimana Anda menyampaikannya, memang pantas langsung dihargai.

4. Banyaklah menulis, mendengar, membaca, merenung, dan berpikir.

Berbicara adalah bagian dari perangkat komunikasi yang terdiri dari bicara, mendengar, membaca, dan menulis.

5. Walk The Talk.

Lakukan apa yang Anda bicarakan. Gampang-gampang susah. Maka, mulailah dari berbagai hal di sekitar dan apa yang terjadi pada diri Anda sendiri. Selalulah hindari, mengatakan apa yang tidak Anda lakukan.

6. Berbekallah.

Bekal utama Anda adalah ilmu komunikasi, alias ilmu menyampaikan alias ilmu berbagi. Di antara yang terpenting adalah NLP, Hypnosis, Hypnotherapy, Psikologi, Logika, Semantik, Sastra, Training, Consulting, Coaching, Mentoring, Consulting, Facilitating, Presenting (brainware dan software), persuasi, negosiasi, mind-body-emotion works, dan sebagainya. Tidak ada keharusan tentang hal ini, namun demikian semua itu bisa menjadi motor untuk menyampaikan ilmu, keahlian, atau bidang utama Anda.

7. Pelajari Entrepreneurship dan leadership.

Jika Anda serius, Anda harus fokus dan total. Dalam hal ini, Anda mau tidak mau akan menjadikan "bicara" sebagai aktivitas utama Anda sehari-hari. Itu artinya, bisa jadi seluruh kehidupan Anda akan sangat tergantung pada aktivitas "bicara" Anda. Paling tidak, sebelum Anda menjadi mampu untuk menopang kehidupan dari mekanisme lain yang cenderung berjalan otomatis dan tidak terlalu menyibukkan diri Anda sendiri. Sebab, kesibukan utama Anda adalah "berbicara". Anda harus bisa melakukan manajemen dengan baik, dalam organisasi dan kepemimpinan.

8. Branding, Personal Branding, dan Marketing.

Sejalan dengan fokus topik dan aktivitas Anda sebagai entrepreneur, cepat atau lambat Anda diharuskan untuk memaket diri Anda dan topik Anda menjadi semacam "produk". Terlebih lagi, jika Anda memutuskan untuk menjadikan pembicara motivasional sebagai profesi tunggal dan bukan sambilan atau sampingan di sepanjang sisa hidup Anda.

9. Tentukan arah perjalanan Anda.

Kemana? Mau sampai mana? Mau jadi apa? Mau menciptakan dan membuat apa? Kapan? Di mana? Bagaimana? Dengan cara apa?

10. Keluarga dan kerabat.

Yakinkan bahwa keluarga dan kerabat Anda mendukung penuh cita-cita dan keinginan Anda. Dalam banyak kasus, menjadi pembicara motivasional yang profesional adalah berganti profesi dengan tetap membawa ilmu dan keahlian terdahulu. Paling tidak, inilah awal langkah Anda, sebelum Anda mengembangkan ilmu dan keahlian baru dalam profesi yang baru.

11. Reviewlah setiap saat poin 1 s.d. 10.

Ada saatnya, di mana sebuah gong akan berbunyi di kepala Anda, sebagai tanda bagi Anda untuk menerjuni dunia baru ini secara total dan fokus. Sebelum itu, teruskanlah latihan-latihan Anda.

Semoga bermanfaat.

Ikhwan Sopa
Master Trainer E.D.A.N.
http://milis-bicara.blogspot.com
http://www.facebook.com/motivasi

Contact Form

Anda punya pertanyaan atau membutuhkan narasumber dan pembicara untuk training, seminar, atau workshop? Hubungi kami di 021-70096855 atau silahkan mengisi formulir di bawah ini.

Subject: *
E-mail Address: *
Nama *
Organisasi / Perusahaan *
Telepon /HP *
Isi Surat *

* RequiredContact form by myContactForm.com